MY HUSBAND CEO IS MAFIA

MY HUSBAND CEO IS MAFIA
MHM 2.4: ANGER


__ADS_3

Tabitha masih menatap kearah pintu keluar berharap suaminya datang. Namun sudah hampir beberapa jam tapi Arthur belum juga kembali. Akhirnya ia berpikir untuk kembali ke kamarnya namun suara bariton menghentikannya.


" Kau tak apa?" Tabitha mendengar suara itu langsung membalikkan tubuhnya berhadapan dengan sosok di depannya. Wanita itu segera menghambur ke pelukan Arthur.


" Aku tak apa"


" Syukurlah" ucap Arthur menghela napas lega.


" Sekarang kau masuklah dulu ke kamar aku harus bicara pada Brian"


" Oke"


Tabitha menaiki lift menuju kamarnya lalu memasuki kamar itu dengan tenang.


Sementara Arthur, pria itu mengepalkan tanganya. Ia sudah diambang kemarahan.


" Brian!" Sentak Arthur.


" Iya"


" Kumpulkan semua anak buah kita ke Markas."


" Ta_"


" Lakukan saja perintahku Brian"


" Baik"


Brian hanya bisa diam saat Arthur dalam mode kejam nya. Arthur segera memasuki mobilnya menjalankan nya dengan kecepatan penuh. Membelah jalanan New york lalu berakhir di Markas Regnarok.


Arthur tidak memasuki tempat itu, namun di pelataran Markas sudah berkumpul beberapa anak buah dan juga Alexander.


Arthur mematikan mesin mobilnya lalu keluar dari mobil itu. Berjalan dengan angkuh menuju anak buahnya. Arthur hanya berdiri di hadapan anak buahnya. Matanya nyalang menyiratkan api kemarahan.


" Atas perintah siapa kau meninggalkan mansion Alexander?" Ucap Arthur lembut namun diiringi seribu asassin di dalamnya.


" Maafkan aku boss, aku tertipu"


" Maksudmu?"


" Sebelum mansion diserang, ada seseorang menelpon ku, dia bilang Markas di bobol orang tidak di kenal"


" Aku langsung pergi menuju Markas, meninggalkan beberapa orang di mansion. Lalu setelah sampai di Markas semuanya tampak normal." Lanjut Alexander


" Tentu saja, itu mereka mengecohmu bodoh!"


" Arthur sudahlah mereka juga panik" lerai Brian.


" Panik? Istriku hampir mati di mansion dan para bedebah ini meninggalkan mya sendirian! Bagaimana aku tidak marah"sentak Arthur.


" Aku mengerti"


"Dimana tawanan?"


" Ada di ruang penyekapan"


Arthur tak membalas ucapan Alexander. Pria itu berjalan dengan mengepalkan tangannya serta mengeraskan rahangnya.


Setelah sampai di ruang penyekapan. Arthur berdiri menjulang dihadapan orang yang sudah pingsan dihadapannya.


Arthur dengan kejamnya, melepaskan tembakan tepat di betis pria itu. Sontak saja, pria itu terbangun dari pingsan nya dan meringis kesakitan.


" Katakan siapa yang menyuruhmu?"


" Sampai kau menyiksaku aku tak akan pernah mengatakannya padamu bedebah!"


Arthur menggeram tertahan, pria itu dengan cepat melangkahkan kakinya mencengkram erat rahang pria yang terduduk tak berdaya.


" Dengarkan aku bodoh! Siapa pun yang menyuruhmu, aku akan menangkapnya dan kau. Kau akan mati sekarang juga"


" Jadi lebih baik kau katakan sekarang!" Desis Arthur tajam menusuk.


" Aku tak akan mengatakanya!" Ucap si pria penuh penekanan disetiap kaliamatnya.


" Brian!"


" Ya" ucap Brian setengah berlari agar cepat sampai dihadapan Arthur.


" Siapkan ruang penyiksaan"


" Baik"


Arthur berjalan terlebih dahulu keruang yang berisi sebuah kursi yang bisa menghantarkan listrik. Arthur terdiam mendudukan tubuhnya di bangku dihadapan kursi listrik itu dan tak lama Brian datang bersama pria yang siap disiksa Arthur.


" Duduk kan dia"


" Arthur jangan macam- macam"


" Duduk kan dia Brian!"


" Oke, tenanglah" ucap Brian mendudukan si pria.


" Aku tak mengulangi pertanyaanku lagi sialan, katakan siapa yang menyuruhmu menyerang mansionku!"


" Aku tak akan memberitahu kau apapun" 


Arthur segera menekan tombol di tanganya, dan pria itu dengan sekejab tersengat aliran listrik, Arthur sesekali menanyakan hal yang sama tapi si pria tetap tidak mengatakan satu hal pun. Hal itu membuat Arthur geram, dengan kejam Arthur menambah daya sengat listrik itu hingga keluar darah dari hidung si pria.


" Hentikan Arthur!"


" APA!" teriak Arthur tertahan.


" Jika kau membunuhnya kita tidak akan tau siapa yang menyerang mansion"


" Ck, sialan!" Desis Arthur mematikan tombol nya.


Arthur membalikkan tubuhnya dan segera berjalan kearah komputernya menghubungi seseorang.


" Hallo Arthur"

__ADS_1


" Katakan apa kau menyerang mansionku?"


" Tunggu dulu, apa yang ada diotakmu. Tiba-tiba menuduhku menyerang mansion mu?"


" Katakan saja bedebah!"


" Calm down Arthur, sungguh aku tak pernah menyerang keluargamu bukan?"


" Ya, tapi pasti kau yang menyerangnya?"


" Untuk?"


" Damian, pasti kau yang sudah menyerang mansionku"


" Dengarkan Arthur, aku tidak menyerang mansion mu. Kau tau kan selama kita menjadi rival aku tak pernah menyerang mansion ataupun keluargamu"


" Sialan! Jika bukan kau lalu siapa?"


" Wow, sepertinya aku akan memiliki partner untuk mengalahkanmu Arthur"


" Diam sialan!!"


Arthur dengan cepat menutup komputernya lalu tak lama Brian datang.


" Arthur dengar, aku yakin The King pelakunya"


" Kenapa?"


" Karena ku yakin yang Damian katakan benar"


" Kau menguping pembicaraanku?"


" Hanya terdengar Arthur"


" Lalu, jika memang The King apa motifnya?"


" Entahlah, tapi yang jelas bukan kau sasarannya"


" Maksudmu?"


" Arthur, istrimu yang menjadi sasaran The King. Jika kau yang jadi sasaranya pasti The King sudah menyerangmu di Italy. The King mengira istrimu tak bisa berbuat apa-apa. Mungkin The King mengira Tabitha adalah wanita biasa, oleh karena itu dia menjadikan istrimu menjadi sasaran untuk melukaimu"


" Tapi kenapa harus Tabitha"


" Jelas, karena dia ingin membuatmu mati perlahan Arthur, kau adalah pria yang kuat. Tapi kelemahanmu adalah istrimu, Tabitha"


" Jadi?"


" Ya Tuhan, kau bodoh sekali!"


" Apa maksudmu!"


" Begini, jika memang The King mengincar Tabitha yang perlu kau lakukan adalah melindunginya. Mengutus anak buahmu untuk selalu menjaga istrimu, seperti Alexander dan juga beberapa sniper handal disekitar mansion"


" Siapkan itu semua"


" Oke"


Setelah sampai di mansion Arthur segera memasuki kamarnya ia ingin menenangkan dirinya dengan menatap Tabitha, istrinya.


Arthur membuka knop pintu dengan sedikit pelan, takut jika istrinya sudah tertidur dan ia malah mengganggunya.


" Kau sudah pulang?" Suara lembut istrinya terdengar di telinga Arthur.


" Kau belum tidur?"


" Aku menunggumu"


" Maaf" cicit Arthur mendekati Tabitha dan mendudukan tubuhnya berhadapan dengan istrinya yang tengah membaca buku.


" Untuk?"


" Karena aku, kau hampir saja terluka"


" Aku tak apa"


" Aku akan slalu melindungimu"


" Aku percaya" ucap Tabitha menutup bukunya menyimpan kacamata bacanya ke atas nakas dan menatap Arthur.


" Dengarkan aku, kau tidak perlu merasa bersalah karena telah membawaku ke dalam duniamu. Justru aku bahagia karena kau berterus terang padaku. Sungguh aku menerimamu itu artinya aku harus siap menerima apapun yang ada dalam hidupmu, termasuk mempertaruhkan keselamatanku" ujar Tabitha membelai lembut rahang tegas pria dihadapannya.


" Terimakasih"


" Sudah, sekarang bersihkan tubuhmu lalu kita tidur" ucap Tabitha diikuti anggukan Arthur.


Arthur berdiri mengecup pelan kepala Tabitha dan berjalan memasuki kamar mandi.


Tabitha merasa mengantuk saat menunggu Arthur akhirnya wanita itu pun tertidur dengan menyenderkan tubuhnya ke kepala ranjang. Arthur keluar dan berjalan menuju walk in closet mengganti bajunya lalu tersenyum tipis saat mendapati Tabitha sudah tertidur. Arthur membenahi tubuh Tabitha pelan dan merebahkan dirinya bersama istrinya ke ranjang.


🔫🔫🔫


Arthur terbangun lebih dulu, pria itu melirik kearah samping kanannya mendapati istrinya tertidur dengan berbantalkan lengannya. Arthur memindahkan kepala istrinya ke bantal namun hal itu mengganggu tidur Tabitha.


" Enghh..."


" Maaf, mengganggumu"


" Tidak"


" Jam berapa?"


" Jam 6 pagi"


" Kau akan bekerja?" Tanya Tabitha pelan.


" Ya"


" Baiklah akan kusiapkan keperluanmu"

__ADS_1


" Ta" ucap Arthur mencekal lengan istrinya. "Jangan pergi sebelum mendapat izin dariku"


" Kenapa?"


" Aku takut"


" Apa?"


" Aku takut tak bisa menjagamu"lirih Arthur.


Tabitha menatap manik biru Arthur tersenyum lembut sebagai jawaban.


" Akan kuturuti" ucap Tabitha disusul ciuman di pipi Arthur.


Arthur melihat ponselnya yang bergetar menandakan ada panggilan masuk. Pria itu menggeser tombol hijau dan langsung tersambung dengan si penelpon.


" Ya?"


" Maaf mengganggumu pagi-pagi Mr.De Lavega"


" Tak apa, ada apa Mr. Vice presiden?"


" Kabar baik Mr.De Lavega kami sudah menemukan dimana tempat tinggal Jack Pattison. Tapi kami tidak bisa melacak dimana keberadaan disk itu. Jadi bisakah kau mencari tau dimana Jack menyembunyikan disk itu."


" Itu artinya misi dimulai?"


" Ya, kau benar kami menginginkan misi ini dimulai"


" Jika aku sudah mendapatkan disk itu lalu apakah akan kuserahkan padamu?"


" Ya, Mr. De Lavega dan tentunya kami akan melacak dimana nuklir kedua disimpan jadi negaramu tetap aman"


" Baiklah aku akan pergi hari ini, kirimkan saja dimana tempatnya"


" Baik, dan sebagai pertahanan untukmu kami mengirimkan 50 anggota kami yang terlatih untuk menemanimu menjalankan misi ini"


" Kurasa itu berlebihan Mr. Vice Presiden, apa anda lupa bahwa saya juga memiliki banyak anggota?"


" Tentu tidak ada yang melupakan kekuasaanmu"


" Kalau begitu biarkan aku menjalankan misi ini sesuai dengan jalan ku"


" Baiklah jika itu memang mau mu"


" Tapi bisakah kau memberiku sesuatu?"


" Katakan Mr. De Lavega apapun yang kau perlukan"


" Istriku sedang dalam bahaya sekarang, jadi bisakah kau mengamankan mansionku dan menjaga istriku agar dia tetap aman selama aku menjalankan misi ini?"


" Sure"


" Terimakasih"


" Baiklah, Mr. De Lavega akan ku kirimkan alamatnya lewat email"


" Baik"


" Sekali lagi terimakasih"


" Ya" Arthur menutup sambungan teleponnya. Dan ia menghubungi Brian.


" Brian"


" Ya, Boss?"


"Dengar kita jalankan misi kita hari ini, kau siapkan segala keperluannya kita bertemu di markas lalu segera terbang ke Italy"


"Tunggu dulu, atas perintah siapa kau mengatakan itu boss?"


" Kau meragukanku?"


" Sial, jika kau sudah mengatakan senjatamu itu aku bisa apa"


" Siapkan segalanya"


" Oke"


Arthur menutup ponselnya dan tak lama Tabitha datang.


" Mengapa wajahmu tegang begitu?"


Arthur tak menjawab pertanyaan Tabitha, ia lebih memilih menarik tubuh mungil istrinya dan mendudukannya di pangkuan pria itu.


" Dengar, aku akan pergi mungkin cukup lama, tapi aku akan terus menghubungimu"


" Kemana? Dan kenapa mendadak?"


" Italy, urusan bisnis"


" Berapa lama?"


" Aku tak tau"


" Jaga diri baik-baik" titah Tabitha pelan.


" Kau juga, jangan keluar sebelum mendapat izin dariku"


" Bailklah"


" Aku mencintaimu" ucap Arthur memeluk Tabitha erat.


To Be Continue...


Vote Please...



Arthur De Lavega

__ADS_1



Tabitha De Lavega


__ADS_2