
Pukul tujuh malam keluarga itu berkumpul untuk makan malam, Leonardo selalu mengoceh disaat makan, anak itu terus membahas agendanya selama dia disini. Sementara Tabitha, wanita itu memilih untuk diam. Ia hanya menikmati hidangan yang ada didepannya hal itu pun tak luput dari perhatian Arthur. Arthur pun menggenggam tangan kanan sang istri lalu tersenyum simpul.
" Ada apa?"
" Tidak"
" Kenapa kau tampak tak berselera?"
" Tidak, aku menikmatinya"
" Serius?" Tanya Arthur memastikan.
" Iya, aku tak apa Arthur." Ujarnya lagi.
Pukul delapan malam Arthur memasuki kamar Leo untuk menemani anak itu tidur, seperti biasa Arthur akan membacakan cerita yang ingin didengar oleh putranya sedangkan sang istri sudah lebih dahulu memasuki kamar.
Setelah lima belas menit menemani Leonardo tidur, Arthur pun akhirnya keluar untuk menemui sang istri. Saat Arthur membuka pintu tampaklah Tabitha tengah memainkan ponselnya diatas ranjang. Wanita itu belum menyadari kehadiran Arthur didalam kamar. Arthur yang paham akan keadaan pun akhirnya mendekati Tabitha,menepuk pelan pundak wanita itu dan Tabitha pun akhirnya mendongakkan kepalanya menatap manik mata Arthur.
" Sedang apa?" Tanya Arthur lembut.
" Aku sedang melihat berita"
" Hentikan"
" Kenapa?"
" Sudahlah, ayo ikut aku" Ujar Arthur lalu menarik tangan kanan Tabitha dan menuntunnya keluar kamar.
Arthur mengeluarkan sebuah kain tipis dari saku celananya, ia pun lalu menutup mata Tabitha dengan kain itu.
" Kenapa mataku ditutup?" Tanya Tabitha penasaran.
" Ini kejutan"
" Kejutan apa?"
" Sudahlah" Arthur pun menggandeng tangan kanan Tabitha dan membimbing wanita itu kehalaman villanya.
Setelah berdiri tepat ditengah halaman luas dengan rumput hijau itu pun Arthur membuka penutup mata sang istri. Saat kain itu terbuka sepenuhnya manik mata Tabitha pun mengerjab menyesuaikan dengan cahaya yang masuk kedalam matanya. Setelah penglihatannya sudah jelas ia pun sedikit menganga akibat melihat pemandangan didepanya.
Halaman villa itu sudah disulap menjadi seperti garden party. Banyak lampion disisi kanan dan kiri serta balon berbentuk love yang dibiarkan berserakan namun hal itu malah memperindah pemandangannya. Tabitha semakin dibuat menganga saat melihat dua kursi dan satu meja yang sudah dihias dengan sangat indah dengan bunga dan satu lilin ditengah meja itu.
Arthur menggenggam tangan Tabitha lalu menuntunya mendekati meja tersebut. Mata Tabitha pun ikut berbinar saat melihat lilin yang berbaris rapih disisi kanan dan kiri jalan menuju meja itu. Setelah sampai dimeja Arthur pun mendudukan tubuh sang istri pelan kekursi. Dan ia pun ikut duduk didepan Tabitha.
" Maaf melupakan hari yang spesial untuk kita" Ucap Arthur pelan.
" Kau yang menyiapkan semua ini?"
" Bukan, aku hanya menyuruh"
" Of course, pasti. Kau mana mau menyiapkan semua ini"
" Maaf, tapi aku sudah berusaha menjadi pria romantis dan menyiapkan semua ini walaupun Paul membantuku"
" Ya, tak apa begini saja aku sudah bahagia"
" Aku tau"
Arthur tersenyum lembut dan ia pun meraih sebuket bunga disamping meja lalu memberikan bunga itu pada Tabitha.
" Happy aniversary love, sorry i forget our aniversary, but you have to know you're my sunshine. And because you i can happy anytime. Because you i have a smart son like Leonardo. But deep in my heart your my love, my first love" Ujar Arthur sedangkan Tabitha sudah tak bisa lagi membendung tangisnya.
" I know, happy aniversary too" Ujar Tabitha lalu mencium pipi Arthur lembut.
" Jangan menangis"
" Aku hanya bahagia, dan tak menyangka kau sampai membuat kejutan seperti ini"
" Ini tak seberapa"
Arthur berdiri lalu mengulurkan tangan kananya pada Tabitha.
" Apa?" Tanya wanita itu tidak mengerti.
" Dansa" Ujar Arthur dengan senyum yang mengembang.
Tabitha pun menerima uluran tangan Arthur dan mereka pun berdiri saling berhadapan dengan Arthur yang menatap wajah Tabitha, sedangkan wanita itu terlihat murung.
" Ada apa?"
" Aku pendek" Ujarnya dengan nada memelas.
" Astaga, ku kira apa"
" Kau sangat tinggi, ini tak adil" Ujarnya pelan.
" Baiklah, injak kakiku"
" Apa?" Ujar Tabitha memastikan pendengarannya.
" Injak kakiku Ta"
" Kau yakin?"
" Iya"
Tabitha pun dengan perlahan menumpukan kakinya di kaki Arthur namun tiba-tiba.
" Argh!"
" Ada apa?" Tanya Tabitha khawatir melihat ekpresi wajah Arthur yang kesakitan.
" Setidaknya lepaskan dulu sendalmu"
" Ini hanya heels"
" Entahlah apapun itu namanya aku tak perduli, tapi sendal itu ada hak nya! Sakit kau tau?" Adu Arthur dengan tampang yang menyedihkan.
" Baiklah maaf" Tabitha pun melepaskan heels yang melekat dikakinya lalu kembali menumpukan kakinya di kaki Arthur.
" Begini lebih baik"
" Aku yang jadi lebih pendek"
" Tidak papa"
Tabitha pun menempelkan kepalanya di dada bidang Arthur dan Arthur pun meletakkan tangan nya dipinggang Tabitha seraya memeluk wanita itu erat.
Arthur mengecup kening Tabitha dan kaki mereka pun sedikit demi sedikit bergerak diiringi dengan lagu perfect dari Ed Sheeran.
" Dari mana suara itu?"
" Kau tak perlu tau, yang jelas sekarang kita nikmati saja malam ini"
" Baiklah" Tabitha pun kembali meletakkan kepalanya di dada Arthur.
Arthur melangkahkan kakinya sedikit demi sedikit mendekati meja dengan perlahan menjaga agar tubuh Tabitha tetap seimbang. Dan setelah mereka sudah didekat meja. Arthur pun meraih sebuah kotak dan menyodorkannya pada Tabitha.
" Apa ini?"
" Terima saja dulu"
Tabitha pun menuruti ucapan Arthur, ia pun menerima kotak itu dan membukanya, matanya melebar seakan hendak keluar dari sarangnya
__ADS_1
saat melihat isi dari kotak itu.
Terdapat dua kalung berlian didalam kotak itu, Arthur tersenyum tipis sedangkan Tabitha masih tidak percaya ia mendapatkan kalung itu dari suaminya.
" Arthur ini pasti sangat mahal"
" Itu tidak penting, pilihlah mana yang kau sukai, atau kau bisa memilih dua-duanya"
" Arthur aku..."
" Apa kalungnya jelek?"
" Tidak, ini sangat indah. Hanya saja aku rasa aku tak pantas memakainya"
" Kenapa?"
" Kalung ini sangat indah dan pasti harganya tidak main-main. Aku rasa aku tak pantas memakai kalung seperti ini Arthur"
Arthur pun mendongakkan kepala Tabitha lalu menatap manik wanita itu lekat.
" Dengar, kau lebih berharga dari kalung itu, kau adalah istriku. Kau cintaku apapun akan aku berikan bahkan jika kau meminta nyawaku pun aku akan dengan senang hati memberikannya untukmu"
" Arthur aku..."
" Terimalah Ta, kurasa ini adalah pertama kalinya aku memberimu hadiah seperti ini"
" Tapi ini_"
" Jangan menolaknya"
" Lalu kenapa kau membawa dua?" Kali ini Tabitha bertanya sedangkan Arthur menggaruk tengkuknya yang tak gatal, pria itu gugup menjawab sang istri.
" Sebenarnya aku tak tau seleramu dengan perhiasan. Dan aku bingung, jadi aku hanya meminta Jady untuk memilihkan berlian yang paling indah untukmu"
" Lalu?"
" Jady membawa dua kalung ini"
" Arthur, aku tau harga kalung-kalung ini pasti sangat mahal"
" Apa kau meragukan kekayaanku Ms. De Lavega?"
" Tidak bukan begitu"
" Baiklah aku ralat, kau tak usah memilih itu semua untukmu"
" Apa!"
" Iya itu untukmu, kau tak usah memilih"
" Arthur ini_"
" Anggap itu sebagai hadiah ulang tahun kita"
" Arthur ini berlebihan"
" Tidak untuk ibu dari anakku"
" Arthur" Tabitha sedikit mengulas senyum tipisnya.
Arthur pun membalas senyum itu, ia lalu menurunkan tubuh Tabitha dan memutari tubuh wanita itu lalu memasangkan kalung yang dihiasi dengan bentuk kupu-kupu di leher Tabitha. Setelah kalung itu benar-benar terpakai oleh Tabitha wanita itu hanya tersenyum dengan lelehan air mata yang kembali turun.
" Kau menangis lagi?"
" Aku tak tau kau bisa semanis ini"
" Maaf"
" Tidak papa"
" Ada dikamar"
" Ambilah"
Tabitha pun menganggukan kepalanya lalu berjalan memasuki villa. Wanita itu meraih sebuah kotak kecil dari dalam kopernya ia menggenggam erat lalu tersenyum simpul.
Arthur menunggu Tabitha dengan mendudukan tubuhnya dikursi lalu menyesap wine di atas meja itu. Tak lama matanya menangkap sosok wanita yang begitu ia cintai. Arthur pun meneggakkan tubuhnya menanti kehadiran sang istri di hadapannya.
" Mana?" Ucap Arthur memberi telapak tanganya didepan sang istri.
Tabitha tersenyum manis lalu memberikan kotak itu, Arthur memandang kotak itu dengan tatapan tanya.
" Apa ini?"
" Buka saja"
" Tunggu, apa ini cincin?" Tanya Arthur menduga.
" Memangnya kenapa jika itu cincin?"
" Ta, kau tau kan aku tak bisa memakai cincin"
" Apa! Lalu dimana cincin pernikahan kita sekarang?"
" Em, itu kusimpan"
" Apa!"
" Maaf"
" Dimana?"
" Di mansion"
" Jadi selama ini kau tidak memakai cincin itu?"
" Aku pakai tapi jika ada keperluan bisnis saja"
" Gila! Aku bahkan tak sadar akan hal itu!" Rutuk Tabitha tajam.
" Maaf, aku hanya tak nyaman memakai benda itu"
" Baiklah lupakan, tapi kau harus janji setelah ini kau harus memakai cincin itu selalu."
" Tabitha itu_"
" Jika aku tak melihat cincin itu di jari manismu. Aku akan pergi dan tak akan memaafkanmu"
" Hei, jangan begitu. Baiklah aku akan memakainya"
" Bagus"
" Kita buka?" Tanya Arthur menunjukkan kotak lumayan kecil berwarna biru dongker diantara mereka.
" Silahkan"
Arthur tersenyum simpul lalu tanganya pun membuka kotak itu, pandanganya penuh tanda tanya saat melihat sebuah benda kecil berbentuk panjang berwarna putih didalam kotak itu. Arthur mengambilnya dan ia pun mengangkat benda itu lalu menatap Tabitha dengan tatapan penuh tanda tanya, ia tak tau benda apa yang ada ditanganya sekarang.
" Apa ini?" Tanya Arthur polos.
" Kau tak tau ini apa?"
" Mamangnya ini apa?" Tanya Arthur lagi.
__ADS_1
" Ini testpack"
" Apa itu?" Tanya Arthur lagi dengan tatapan polosnya.
" Ya Tuhan, kau sama sekali tak tau?"
" Aku pernah melihatnya tapi tak tau namanya"
" Ini testpack Arthur" Ujar Tabitha penuh kesabaran.
" Lalu gunanya?"
" Kau tak tau kegunaan benda ini?" Tanya Tabitha kesal.
" Iya"
" Ya Tuhan kepala mafia macam apa kau!"
" Hei, Regnarok sama sekali tak menggunakan benda itu" Ucap Arthur berkelit.
" Dasar kepala mafia bodoh!" Rutuk Tabitha lagi.
" Baiklah ini kegunaannya apa?"
" Ini tes kehamilan"
" Lalu?"
" Lihatlah ini menunjukkan dua garis artinya positif"
" Positif apa?" Tanya Arthur lagi namun kali ini terdengar seperti pertanyaan bodoh.
" Astaga! Positif hamil!"
" Oh, tinggal katakan saja"
" Jadi?"
" Jadi apa?" Ucap Arthur mengulang pertanyaan Tabitha.
" Ya Tuhan Arthur dua garis artinya hamil"
" Iya kau sudah bilang tadi, memangnya siapa yang hamil?" Tanya Arthur masih dengan wajah polosnya mungkin kali ini sedikit terlihat bodoh.
" Aku hamil Arthur! Ini milikku!" Ujar Tabitha gemas dengan kebodohan suaminya itu.
" Apa?"
" Aku hamil" Ungkap Tabitha yang langsung membuat Arthur membeku.
" Kau hamil?"
" Iya" Tabitha tersenyum senang seraya membelai pelan sisi rahang Arthur.
Arthur kembali teringat saat kejadian yang hampir saja merenggut nyawa sang istri, pria itu terlihat masih menyimpan ketakutan jika mengingat hal itu, ia menatap Tabitha dengan tatapan khawatir.
" Arthur?" Panggil Tabitha saat melihat tatapan kosong yang diberikan pria itu terhadapnya.
" Arthur?" Kali ini Tabitha menepuk pelan lengan Arthur yang langsung tersentak.
" Apa?"
" Kau tak senang dengan berita ini?" Tanya Tabitha dengan nada suara yang pelan.
" Aku senang, hanya saja... Aku takut" Ucap Arthur dengan nada suara yang sedikit bergetar.
" Kau takut hal itu akan terulang?"
" Iya, aku hanya tak bisa melihatmu seperti itu"
" Arthur, tak akan terjadi apapun padaku. Selama kau bersamaku aku yakin kau dapat melindungiku"
" Tapi Ta_"
" Sekarang hanya ada kau, aku, Leo dan calon bayi kita tak ada lagi Dominic jadi hal itu tak akan terulang kembali."
" Kau benar"
" Jadi jangan khawatirkan hal itu lagi Arthur"
" Iya" Arthur akhirnya tersenyum simpul pria itu memeluk erat wanita didepannya. Sesekali pria itu menghadiahi ciuman singkat dipipi Tabitha.
" Aku berharap dia perempuan"
" Aku malah ingin dia laki-laki" Ucap Arthur tenang.
" Kenapa?"
" Aku hanya takut dia akan terancam dengan duniaku sekarang"
" Kau bisa melindungiku, artinya kau juga bisa melindunginya Arthur"
" Aku takut dia akan terbawa dengan dunia hitamku"
" Semua akan baik-baik saja percayalah"
" Ya"
Arthur melirik kearah jam tangan yang melingkar tepat dipergelangan tangan kanannya. Jam menunjuk pukul 10 malam.
" Kita istirahat sekarang"
" Ya kau benar" Ucap Tabitha setuju.
" Besok akan ada hadiah lagi untuk mu tapi lebih tepatnya untuk Leo"
" Apa?"
" Nanti kau akan lihat"
" Baiklah ayo kita masuk"
Tabitha menganggukan kepalanya setuju dengan ucapan Arthur. Pria itu pun menuntun tangan Tabitha lalu menggiringnya memasuki villa dan menaiki tangga dengan tangan yang masih saling terpaut satu sama lain. Arthur membuka pintu kamar dan mereka pun akhirnya merebahkan tubuhnya masing-masing, pria itu menatap Tabitha disamping kanan nya hal yang sama pun dilakukan wanita itu, Tabitha meraih tangan Arthur dan Arthur dengan lembut memberi kecupan singkat ditangan Tabitha hingga akhirnya mereka memejamkan matanya meraih mimpi mereka masing-masing.
To Be Continue..
Vote Please...
Tabitha De Lavega
Arthur De Lavega
__ADS_1
Artha Leonardo De Lavega