
7 bulan kemudian...
Arthur menatap Tabitha yang tengah memakan snack ditangan kanannya seraya menonton acara reality show di TV. Wanita itu terlihat sangat berbeda dari kehamilan pertamanya, ia tak mengalami morning sickness begitupun dengan dirinya. Bahkan Tabitha tak meminta apapun ditengah kehamilannya. Hal itu sedikit mengganggu pikiran Arthur, Apa kehamilan istrinya normal? Batin Arthur.
" Ta?"
" Iya?"
" Apa kau tak menginginkan sesuatu?"
" Tidak" Jawabnya dingin, dan ya. Selama kehamilan Tabitha wanita itu sangat irit bicara bahkan terkesan dingin. Ia hanya berbicara panjang saat ia berhadapan dengan Leo sementara dihadapannya? Tabitha tampak sangat cuek.
" Bukanya wanita hamil akan mengidam?"
" Memangnya jika aku tak mengidam kenapa?"
" Tidak aku hanya sedikit merasa aneh"
" Oh, jadi kehamilanku aneh?"
" Bukan begitu maksudku"
" Baiklah aku sedang ingin..." Tabitha mengetukkan jarinya didagu seolah berpikir keras lalu.
" Ya!"
" Apa?" Tanya Arthur tak kalah semangat.
" Aku ingin kau memakai piama malam ini"
" APA!" Arthur langsung melebarkan matanya saat permintaan itu keluar dari bibir Tabitha.
" Kenapa?"
" Aku tak bisa memakainya"
" Bukanya kau sendiri yang memintaku mengidam? Sekarang aku sedang mengidam" Ujarnya acuh bahkan sekarang ia kembali menyambung acara makanya.
" Tapi kenapa harus piama? Kenapa tidak makanan?"
" Aku maunya piama jadi bagaimana?" Balasnya lagi namun kali ini ia menatap Arthur dengan tatapan yang sangat dingin.
" Baiklah, tapi aku tak punya"
" Kenapa?"
" Kau tau kan, aku selalu tidur dengan kaos. Dan aku memang tak suka pakai piama jadi aku tak punya piama"
" Satu pun?"
" Iya, tak ada satu pun"
" Kau bisa meminjam punyaku" Ujar wanita itu tanpa pikir panjang.
" Bagaimana bisa? Itu pasti kekecilan"
" Tubuhmu yang besar menyalahkan piama" Balas Tabitha pedas, dan memang wanita itu selalu berkata pedas jika diajak bicara serius, sangat menguji kesabaran Arthur.
" Lalu sekarang bagaimana?" Arthur kali ini berusaha memendam emosimya dalam-dalam, ia harus sabar menghadapi sikap dingin sang istri.
" Beli" Balasnya singkat, padat dan jelas.
" Ini jam 10"
" Kau tak mampu membangunkan pemilik Mall?"
" Ya Tuhan, baiklah" Arthur menggelengkan kepalanya menghadapi sikap Tabitha yang terlampau keras kepala, sekarang keluarganya dipenuhi dengan orang-orang yang keras kepala.
Arthur menjauhi Tabitha sebentar, meraih ponsel disaku celananya dan menghubungi seseorang.
" Ya? Ada apa boss?"
" Dimana kau?"
" Jalan pulang"
" Berhenti di Mall dulu, belikan piama"
" Piama? Untuk siapa? Ah! Tentu saja pasti untuk Tabitha atau ponakanku kan?" Ucapnya menebak dengan bangga namun hasilnya adalah, salah!
" Bukan"
" Lalu? Baiklah, ukuran siapa?"
" Aku"
" APA!" Brian berteriak kaget diseberang sana, hal itu membuat Arthur sedikit menjauhkan ponselnya dari telinganya.
" Diamlah"
" ARTHUR, WARNA MERAH MUDA!!" Teriak Tabitha menggelegar yang langsung membuat Brian diujung telepon tertawa terbahak-bahak.
Arthur membalikkan tubuhnya menatap Tabitha dengan tatapan tak percaya, bagaimana bisa ia memakai piama berwarna terkutuk itu! Hell dia kepala mafia jika kalian lupa!!
" Kenapa harus merah muda?" Tanya Arthur berbisik seraya menutup ponselnya dengan telapak tanganya.
" Kenapa? Salah?"
" Tidak, tapi itu tak pantas dipakai olehku"
" Itu pasti sangat lucu"
" Ta"
" Aku tak mau tau!" Ucapnya tak terbantahkan.
" Baiklah" Arthur mengalah ia pun kembali menempelkan ponsel itu ditelinganya.
" Brian?"
" Ya?"
" Belikan satu"
" Apa?" Ucapnya pura-pura bodoh.
" Aku tau kau sudah mendengarnya tadi Brian!"
" Come on dude, aku tak tau. Coba katakan sekali lagi"
" Belikan aku piama merah muda cepat!"
" Baiklah" Ujarnya dengan kekehan diakhir katanya.
Arthur menutup sambungan teleponnya dan kembali duduk disamping Tabitha dengan wajah yang masam.
" Kau tak ikhlas?" Tuding Tabitha saat melihat ekpresi wajah Arthur.
" Tidak, aku ikhlas"
" Wajar, aku meminta yang berwarna merah muda. Kan bayi kita perempuan" Ucapnya dengan lembut.
" Ya, aku paham"
Setelah tiga puluh menit berlalu bel mansion berbunyi, Arthur langsung melangkahkan kakinya keluar kamar dan segera menuruni tangga, berjalan kearah pintu utama dan mendapati Brian sudah berada didepan sana.
" Brian?"
" Arthur" Sapanya dengan nada yang sangat membuat Arthur benci.
" Kemarikan"
" Sepertinya kau tampak tak bersemangat"
" Diamlah!"
" Kau pasti akan sangat lucu memakai piama ini"
" Kau!"
" Maafkan aku, tapi sepertinya sekarang kau menjadi kepala mafia yang tak ada harga dirinya di depan istrimu" Ucap Brian dengan tertawa geli sedangkan Arthur sudah ingin sekali memukul Brian tapi ia pikir itu hanya sia-sia.
" Kemarikan Brian"
__ADS_1
" Oke, tenanglah" Brian memberikan bingkisan yang berisi piama itu ketangan Arthur.
Arthur dengan cepat menutup pintu namun suara Brian kembali membuat emosinya mendidih.
" Kalau bisa foto dan kirimkan padaku saat kau memakai piama itu, pasti akan sangat menyenangkan melihatmu dengan balutan pakaian semanis itu Arthur"
" Kau bicara lagi akan kupenggal kepalamu!"
" Wow, baiklah aku pergi"
Brian akhirnya melenggangkan kakinya menjauhi mansion sedangkan Arthur ia menaiki tangga dengan perasaan yang berkecamuk haruskah dia berbohong dengan mengatakan kalau piama nya tidak ada atau haruskah ia jujur dan berjalan lalu memakai piama dengan warna terkutuk itu.
Arthur merasa pening di kepalanya, pria itu akhirnya mengambil keputusan ia akan jujur. Arthur mengambil langkah lebar dan berhenti sebentar di depan kamarnya. Pria itu terlihat sedikit gugup, dan akhinya ia pun menghembuskan napasnya untuk menetralkan rasa gugup yang melandanya.
" Ta?"
" Iya" Tabitha berdiri dan menatap Arthur wanita itu menerbitkan senyumnya saat melihat bingkisan yang ditenteng Arthur di tangan kananya.
" Ini" Ucap Arthur menunjukkan bingkisannya didepan Tabitha.
" Ayo pakai"
" Kau yakin?"
" Sangat"
" Baiklah" Arthur melirih ia pun menjalankan kakinya kearah walk in closet. Pria itu terlihat menelan salivanya beberapa kali lalu menghembuskan napasnya kasar. Ini pertama kalinya dalam hidupnya memakai warna yang begitu ia benci, Merah muda!!
Arthur dengan tidak bersemangat mengganti bajunya dengan piama itu, pria itu sesekali berdecak saat berkaca dan melihat pantulan dirinya yang membuat dia sendiri benci melihatnya.
" Kau sangat malang Arthur" Gumam pria itu kecil sebelum keluar dari walk in closet.
Tabitha menunggu Arthur seraya memakan snacknya, wanita itu terus memandang walk in closet menunggu pri-nya keluar dari sana dan benar saja saat Arthur keluar senyum wanita itu langsung mengembang.
" Kau sangat lucu" Pujinya lalu beridiri mendekati Arthur.
" Iya" Jawab Arthur lemas.
" Tunngu dulu" Tabitha berbalik haluan ia mendekati nakas meraih ponselnya dan kembali mendekati Arthur.
" Mau apa?" Tanya Arthur mulai merasa tak enak dengan apa yang dilakukan Tabitha.
" Kita foto" Ujar wanita itu tanpa dosa.
" Apa!"
" Kenapa? Kau tak mau?"
" Aku mau" Jawab Arthur cepat dan pria itu akhirnya hanya diam saat Tabitha mulai berselfi didepannya.
" Senyum Arthur"
Arthur dengan segan tersenyum palsu lalu ia kembali menegakkan tubuhnya saat Tabitha memeriksa hasil jepretannya.
" Apa aku sudah boleh mengganti pakaianku?"
" Tidak, kau harus memakainya sampai tidur"
" Apa?"
" Kau boleh menggantinya besok pagi"
" Ta?"
" Kau tak mau?"
" Aku mau"
" Bagus"
Tabitha mendekati tempat tidur, ia pun membaringkan tubuhnya ke sisi kanan namun ia masih menatap Arthur.
" Tidur Arthur sudah malam"
" Iya"
Arthur perlahan berjalan kearah ranjang dan membaringkan tubuhnya disisi kanan lalu memunggungi Tabitha.
" Kau tak ikhlas?"
" Apa?"
" Aku..."
" Kau tak ikhlas?" Tabitha mengulang pertanyaanya namun kali ini nada suara wanita itu bergetar ia langsung menangis dan Arthur dengan cepat membalikkan tubuhnya mendekap tubuh Tabitha memasukkan kepala wanita itu ke dalam dada bidangnya lalu mencium puncak kepalanya.
" Aku ikhlas honey"
" Serius?"
" Iya" Ujar pria itu lagi dengan nada yang melembut ia pun kembali mencium puncak kepala sang istri.
Dan tak lama nafas wanita itu perlahan mulai teratur dan Arthur tau istrinya sudah tertidur. Arthur pun akhirnya ikut memejamkan matanya menggapai alam mimpinya.
🔫🔫🔫
Dua bulan kemudian...
Tepat dua bulan setelah kejadian piama sekarang kandungan Tabitha sudah menginjak usia sembilan bulan dan Arthur dan Tabitha pun tengah menunggu waktu kelahiran putrinya.
Arthur sengaja tidak bekerja di kantor sebulan ini ia ingin jadi suami yang siaga agar kejadian seperti dulu tak terulang lagi. Sedangkan kantor sudah di handle oleh Brian, pria itu akhirnya terbebas dari Diana yang terikat dengan proyek modelnya. Proyek model Diana sudah rampung sejak empat bulan yang lalu. Jadi Brian bisa kembali bekerja seperti semula tanpa khawatir dengan keadaan Reoxane.
Tabitha menaiki lift untuk kelantai dasar, wanita itu merasa sangat haus ia pun berjalan kearah pantry, wanita itu membuka lemari pendingin dan ia pun mengambil gelas lalu menuangkan air dingin kedalamnya. Tabitha meneguk air itu cepat lalu tiba-tiba ia merasa sangat sakit diperutnya. Wanita itu meringis bahkan ia melupakan tangannya yang memegang gelas, dan.
Prang!
Gelas terjatuh dan berceceran dilantai pantry, Tabitha sedikit tersentak namun sakit di perutnya semakin menjadi-jadi.
" Arthur!!" Tabitha berusaha teriak namun suaranya seakan tenggelam dilaut kesakitan hingga hanya memunculkan bunyi yang sangat kecil.
Tabitha perlahan melangkahkan kakinya seraya menghindari pecahan kaca wanita itu menumpukan tubuhnya di dinding. Saat berada tepat di tangga ia berpegangan pada besi tangga dan menatap ruang kerja Arthur dengan air mata yang sudah mengalir dari matanya.
" Sst, Arthur..."
Tabitha berusaha mengumpulkan suaranya dan " ARTHUR!!!" Tabitha berteriak namun setelah itu tubuhnya melemah ia segera mendudukan tubuhnya di anak tangga terbawah.
Arthur yang mendengar teriakan Tabitha pun segera keluar dari ruang kerjanya meninggalkan berkas-berkas yang tadi sedang ia periksa. Jantungnya seakan memompa lebih kencang pria itu langsung berlari dan matanya melebar saat melihat Tabitha dengan ekpresi yang sangat menyedihkan.
" TABITHA!!" Arthur langsung menghampiri sang istri dan menatapnya cemas.
" Apa sekarang?" Tanya Arthur memastikan waktu kelahiran bayinya.
" Sepertinya iya, perutku sangat sakit Arthur" Tabitha melirih seraya menggenggam tangan Arthur erat.
" Tunggu, Madam Rose!!" Arthur berteriak dan tak lama wanita paruh baya itu pun mendekati Arthur dan Tabitha.
" Arthur"
" Madam tolong awasi Leo, dia sedang tidur"
" Baiklah"
" Aku akan bawa Tabitha ke rumah sakit"
" Hati-hati"
" Iya" Arthur dengan cepat membawa Tabitha ala bridal syle ia pun langsung bergerak dan memasukan tubuh Tabitha ke dalam mobil.
Arthur melajukan mobilnya dengan cepat membelah jalanan New York yang sedikit padat.
" Shit! Kenapa sangat macet!" Arthur memukul stir mobilnya dua kali lalu menatap Tabitha disampingnya.
" Sst, Arthur sakit..."
" Tunggu sebentar" Arthur mengelus pelan surai Tabitha lalu ide gilanya muncul.
Arthur langsung memutar kemudinya melewati jalanan yang lumayan kecil namun masih bisa dimasuki oleh satu mobil. Ia dengan cepat memasuki gang itu dan membelokkan mobilnya dengan tajam saat sampai di jalan raya. Arthur langsung menginjak pedal gas dan ia pun melaju ke rumah sakit.
" Kau berniat membunuhku!" Sentak Tabitha tajam.
" Tidak, aku hanya mencari jalan pintas" Ucap Arthur tanpa dosa.
" Awh, dasar!!' Tabitha kembali meringis namun setelah itu ia kembali merutuki Arthur terus begitu sampai akhinya mereka sampai di rumah sakit.
__ADS_1
Arthur langsung membawa tubuh Tabitha kedalam gendongannya dan membawanya memasuki rumah sakit. Ia dengan cepat menurunkan tubuh sang istri ke brangkar dan mereka pun langsung bergerak ke unit penanganan pertama.
" Kau disini saja" Ucap dokter Ryan, memang Ryan bekerja di rumah sakit itu jadi dia langsung bergerak cepat saat melihat mobil Arthur di parkiran.
" Baiklah" Ryan memasuki ruangan itu sementara Arthur bergerak tak tenang, kadang pria itu duduk lalu berdiri lagi selalu begitu hingga terdengar teriakan yang begitu sangat ia kenali dari luar yang mendekat karahnya.
" Daddy!" Leonardo langsung menubrukan tubuhnya pada Arthur, anak itu memeluk Daddy nya erat.
" Mommy kenapa?" Tanya nya dengan air mata yang sudah berurai.
" Mommy tidak papa, sekarang adik bayi nya mau keluar" Ucap Arthur menghapus air mata Leonardo.
" Benarkah Dad?"
" Iya"
" Leo boleh masuk?"
" Jangan, Leo dan Daddy disini saja"
" Arthur" Ucap Madam Rose dengan nafas yang bersahutan, pasti ibu asuhnya mengejar Leo yang berlari tadi sampai nafasnya tersenggal seperti ini.
Tak lama Diana dan Brian dengan menggandeng Reoxane mendekati mereka.
" Arthur bagaimana Tabitha?" Tanya Brian cemas.
" Masih didalam."
" Adik Leo mau keluar" Sombong anak itu pada Reoxane.
" Iyakah?"
" Iya, Daddy yang bilang"
" Paman, apa adik bayinya akan keluar?" Tanya Reoxane dengan nada polosnya yang langsung diangguki oleh Arthur.
" Leo punya adik, Reo kapan?" Ujar anak itu yang langsung membuat Brian melirik kearah Diana yang tengah merona sekarang.
" Leo jangan begitu" Peringat Arthur yang paham dengan keadaan.
" Maaf Dad"
Cukup lama mereka munggu dibayangi dengan perasaan cemas berbeda dengan Leonardo dan Reoxane yang sibuk bermain mengadukan agendanya dengan bayi baru nanti.
Arthur menggigit bibir dalamnya ia khawatir bukan main hingga akhirnya terdengar suara tangisan bayi yang membuat Arthur langsung berdiri dari duduknya dan mendekati pintu ruangan itu.
Tak lama Dokter Ryan datang dengan senyum yang mengembang lebar.
" Ibu dan bayinnya sehat Arthur"
" Syukurlah" Arthur menghela napasnya lega saat mendengar kabar Tabitha dan bayi mereka yang sehat.
" Apa aku boleh masuk?"
" Tentu"
Arthur langsung menggendong Leonardo dan ia pun memasuki ruangan Tabitha, terlihat wanita itu tengah menyusui bayi kecilnya. Arthur yang paham pun memutar tubuhnya dan menatap Brian.
" Maaf, kau tak boleh masuk"
" Kenapa?" Tanya pria itu dengan mengangkat satu alisnya.
" Tabitha sedang menyusui bayinya jadi kau tak boleh masuk"
" Astaga! Ku kira apa!"
" Jadi diam disini Brian!" Peringat Arthur tegas tak terbantahkan.
" Sudahlah, Arthur benar kita masuk setelah Tabitha selesai menyusui bayinya" Lerai Diana yang melihat kilatan kekesalan dimata Brian.
" Baiklah" Brian akhirnya kembali duduk dan ia pun memangku Reoxane.
" Terimakasih sudah mengerti" Ucap Arthur dengan dibalas senyuman tipis dari Diana.
Arthur kembali melangkahkan kakinya mendekati brangkar sang istri. Arthur berdiri disamping Tabitha mereka saling menatap untuk beberapa detik sampai suara Leonardo membuyarkannya.
" Adikku cantik" Puji anak itu polos.
" Iya, dia cantik sepertimu" Ucap Arthur dengan mengecup dahi Tabitha pelan.
" Akhirnya aku bisa melahirkan dengan normal"
" Ya, aku cukup bahagia mendengarnya"
" Mommy, boleh Leo gendong?"
" Nanti ya, kalau sudah lebih besar"
" Yah, kenapa tidak sekarang?" Ucapnya melemah dan hal itu langsung membuat Tabitha mencubit pelan hidung Leonardo.
" Nanti Kak Leo juga bakal gendong"
" Janji ya Mom"
" Iya"
" Jadi siapa namanya?" Tanya Arthur pelan.
" Aku sudah mencari nama"
" Siapa?"
" Fiorella, kurasa itu terdengar manis"
" Nama yang bagus"
" Mommy nama Fransisca juga bagus" Usul Leo yang langsung membuat Tabitha tersenyum manis.
" Kau benar boy" Ucap Arthur mengacak-acak rambut Leo gemas.
" Baiklah, namanya Fiorella Fransisca De Lavega" Ujar Arthur bangga.
" Welcome to the world Fiorella Fransisca De Lavega" Ucap Tabitha dengan mencium bayinya lembut.
" Leo juga mau cium" Ucapnya dengan nada yang menggemaskan.
Tabitha pun mendekatkan tubuh Leo dan Leo dengan lembut memberi kecupan singkat di dahi adiknya.
" Welcome Fio" Sapa Leo senang dengan senyum yang mengambang.
To Be Continue...
Vote Please...
Arthur De Lavega
Tabitha De Lavega
*Artha Leonardo De Lave**ga*
Fiorella Fransisca De Lavega
Fransisca Diana
__ADS_1
Brian Aldhiano