MY HUSBAND CEO IS MAFIA

MY HUSBAND CEO IS MAFIA
MHM 2.1: BIRTHDAY


__ADS_3

Matahari menyinari pagi yang sejuk menerobos masuk menyilaukan penglihatan Arthur, pria itu melenguh dari tidurnya mendudukan dirinya dan menyenderkan tubuhnya ke kepala ranjang. Pria itu melirik kearah samping dimana Tabitha masih tertidur menyampingkan tubuhnya berhadapan dengan dirinya. Pria itu membelai lembut pipi istrinya menyingkirkan anak rambut yang menghalangi pandangannya. Namun setelah itu manik indah kesukaannya tampak mengerjabkan matanya menyesuaikan dengan sinar mentari pagi.


" Kau sudah bangun?"


" Iya"


" Kenapa tidak membangunkanku?"


" Aku sedang menikmati wajah cantik istriku"


" Perayu, sudahlah aku ingin mandi" ucap Tabitha lalu menurunkan kakinya dari ranjang berjalan kearah kamar mandi.


Sesaat setelah Tabitha memasuki kamar mandi, ponsel wanita itu berdering menandakan ada pesan masuk, Arthur melihat kearah nakas tempat ponsel itu berada dan ia mengukurkan tanganya mengambil ponsel itu membuka pesan masuk dan membancanya. Ia menarik ujung bibirnya kala mendapati pesan itu.


" Ada yang menelpon?" Ucap Tabitha disambut gelengan Arthur, setelah selesai dengan mandinya, ia keluar hanya menggunakan bathrobe dan ia pun menjajahkan kakinya menuju walk in closet. Berganti pakaian dan menyiapkan pakaian Arthur. Saat ia keluar Arthur tampak menyunggikan senyum aneh.


" Ini kemeja dan celana mu, dasinya juga sudah kusiapkan"


Arthur berjalan kearah Tabitha dan ia menundukan tubuhnya lebih dekat dengan wanita itu.


" Happy Birthday my wife" bisik Arthur pelan lalu mencium lembut pipi kanan Tabitha. Wanita itu mengerjabkan matanya, pipinya merona sekarang. Dari mana Arthur tau dia hari ini ulang tahun?


" Daddy mu mengirim pesan untuk mengucapkan selamat ulang tahun untuk mu yang ke 19 tahun" ucap Arthur seakan mengerti yang menjadi pertanyaan istrinya.


" Pantas kau tersenyum seperti itu"


" Kita akan pergi berdua hari ini"


" Kemana?"


" Kau akan tau sweetheart"


Arthur menekan nomor Brian di ponselnya.


" Siapkan helikopterku sekarang"


"..."


" Dan siapkan semuanya Brian"


"..."


" Bagus" Pria itu menutup teleponnya dan menghadap istrinya yang masih merona.


" Kau ingin menyiapkan apa?"


" Ada saja" ucap Arthur memasuki kamar mandi.


" Aish, mafia itu kenapa selalu membuatku penasaran" gerutu Tabitha lalu keluar dari kamar.


🔫🔫🔫


Arthur memakai kemeja hitam dipadukan dengan jas navy miliknya ditambah celana kain hitamnya, tak lupa kacamata hitam yang bertengger di hidungnya. Pria itu tampak berkharisma pagi ini lain hal nya dengan Tabitha, wanita itu memakai celana jeans dipadukan dengan baju hitam yang memperlihatkan kedua bahu putihnya.


Saat turun dari kamarnya terdengar suara bising helikopter miliknya,  Arthur mendekati istrinya yang tengah duduk menatap layar TV dihadapannya.


" Ayo pergi"


" Sebenarnya apa yang kau rencanakan?" Ucap Tabitha berdiri dan mengapit lengan Arthur.


" Tidak akan jadi kejutan saat aku mengucapkannya" ujar Arthur melangkahkan kakinya.


Saat mereka telah sampai di tempat helipad milik Arthur pria itu melepas kacamatanya dan mendekati Brian. Mereka berbicara Tabitha mendekati suaminya. Arthur menarik lengan Tabitha pelan membawanya untuk memasuki helikopter miliknya. Wanita itu duduk dengan tenang di dalam helikopter itu. Arthur mengendarai helikopter itu sendiri. Tabitha hanya terdiam mengamati ketelitian Arthur menyalakan berbagai mesin itu dengan cepat. Arthur memakai kembali kacamatanya dan setelah itu helikopter pun mengudara.


Tabitha hanya terdiam membisu  mengagumi suaminya itu, Arthur pandai dalam berbagai hal, wanita itu begitu mencintai suaminya. Tabitha tersenyum hangat. Wanita itu merasa sangat bosan hingga ia pun tertidur di dalam helikopter itu.


Arthur sadar, Tabitha terus mengawasinya pria itu hanya tersenyum samar dan sesaat setelah itu istrinya nampak menutup matanya tertidur.


🔫🔫🔫


Tabitha terbangun saat Arthur menggendong tubuhnya ala bridal style. Wanita itu menatap Arthur dari bawah, dan rahang tegas Arthur matanya yang berwarna biru cerah, dan hidungnya yang mancung. Begitu sangat dikagumi wanita itu.


" Ku tau kau sudah bangun"


" Memangnya mengapa?"


" Jangan terlalu mengagumi suamimu"


" Kenapa?"


" Aku malu"


" Oh God, kau yakin?"


" Ya"


" Aku semakin mencintaimu"


" Mau turun dan jalan sendiri_"


" Tidak aku masih ingin dalam gendongan mu" sela Tabitha disambut senyuman Arthur.


Arthur membawa istrinya kedalam mobil menurunkannya dan kembali bersikap datar. Mobil mereka berjalan membelah jalanan padat.


" Di mana kita?"


"Roma, Italy"


" What!!"


" Kenapa?"


" Tidak papa"


" Tuan kita sudah sampai"


Arthur hanya menganggukan kepalanya, ia turun dan begitu pun Tabitha, wanita itu sedikit menghela napasnya saat berdiri tepat didepan mansion mewah Arthur.


" Ini mansion keluargaku. Aku tinggal disini sebelum Daddy dan Mommy meninggal"


" Berarti ini tempat tinggal Arthur kecil?"


" Ya"


" Kita masuk" lanjut Arthur.


Tabitha hanya menganggukan kepalanya antusias, saat pintu mansion terbuka Tabitha hanya mampu menatap takjub isi mansion itu sangat mewah dan elegan.


" Kau masuk ke kamar saja dulu, nanti aku akan menyusul"


" Oke"


Tabitha menuruti pria itu, ia memasuki kamar yang ditunjukkan Arthur. Wanita itu tersenyum saat mendapati beberapa foto masa kecil Arthur, sangat lucu.


Tak lama seorang maid datang.


" Nyonya, anda dipanggil tuan di luar"


Tabitha tersenyum menebak apa lagi yang akan dilakukan Arthur. Ia keluar dari kamarnya dengan senyum yang mengembang, ia sangat bahagia hari ini. Saat membuka pintu mansion ia memeluk pria-nya dengan erat.


" Ayo, ada hal lain yang ingin aku tunjukkan"


" Apa?"


" Ikut saja"


Arthur membawa Tabitha dengan menggunakan mobil sport mewahnya kearah pelabuhan di roma. Pria itu menuntun Tabitha kearah sebuah yacht mewah miliknya. Sebuah yacht terpampang apik di depanya ia tau itu jenis Yacht apa History Suprame Tabitha tidak bodoh. Ia tau harga yacht itu.


" Ini gila! Kau memiliki yacth jenis ini?"

__ADS_1


" Ya, ini milikku"


" Tapi ini sangat mahal"


" Biarkan asal aku puas."


Arthur mendekap Tabitha dan berjalan memasuki yacht itu. Tabitha terkagum-kagum dengan isinya. Ia berdecak.


" Ikuti aku"


" Ha! Kemana?"


" Mewujudkan mimpi mu"


" Ha?"


" Ayo ikut saja" Arthur menggenggam tangan istrinya menuntunnya kearah ruang kendali. Pria itu membawa tubuh istrinya tepat di depan kemudi kapal itu. Arthur berdiri dibelakang tubuh kaku Tabitha. Wanita itu masih membatu dengan perlakuan Arthur.


" Kau ingin mengemudikan nya?"


" A-aku takut"


" Apa yang kau takutkan?"


" Ini terlalu mahal, kalau aku tidak bisa mengendalikan nya bagaimana? Kalau kapal ini menabrak bagaimana?"


" Diam lah, dan ikuti petunjukku"


Arthur menggenggam tangan Tabitha meletakkan nya ke kemudi kapal itu. Arthur memberi petunjuk dengan pelan dan jelas. Wanita itu hanya mengganggukan kepalanya mengerti akan petunjuk yang diberikan Arthur, dengan perlahan Arthur melepaskan tanganya. Tabitha sedikit bersorak gembira mimpinya jadi nyata. Ia seperti dalam film Fifty Shades Darker ia dan Arthur sama seperti Anastasya dan Christian.


Pria itu tersenyum bahagia melihat senyum lebar istrinya Tabitha masih terlalu senang dengan kejutan yang diberikan Arthur. Wanita itu sesekali melirik kearah Arthur, pria itu juga tersenyum simpul saat manik matanya bertemu dengan manik hazelnut milik Tabitha.


Tabitha masih sibuk dengan kesenangannya mengemudikan yacht milik pria itu, sedangkan Arthur memeluk perut Tabitha pelan.


" Sudah puas dengan kesenanganmu?"


" Sudah"


" Oke, kita keluar dari sini, lalu makan"


" Oke"


" Kau!" Panggil Arthur pada seorang pria yang berdiri tidak jauh dari keberadaan mereka.


" Saya tuan"


" Kendalikan kapal ini"


" Baik" ucap pria itu mengemudikan kepalnya. Arthur memasuki kapal itu mendudukan istrinya ke kursi  yang sudah dipersiapkan. Arthur duduk dihadapan Tabitha.


Mereka makan dengan mode saling diam. Hanya ada suara dentingan alat makan yang beradu.


" Terimakasih"


" Untuk"


" Karena kau sudah mewujudkan mimpiku"


" Ini adalah hari ulang tahun mu, aku dengan senang hati membuatmu bahagia"


" Jadi maksudmu aku hanya bahagia hari ini saja begitu?"


" Bukan, maksud ku hari ini akan kubuat setiap impianmu jadi nyata"


" Kau sangat manis, aku mencintaimu"


Arthur hanya diam, tak menanggapi ucapan Tabitha, setelah selesai makan mereka berdua duduk di depan yacht menikmati pemandangan disana. Lalu tak lama kapal mereka menepi kesebuah kota yang sangat indah.


" Kita ada di kota Porto Venere"


" Sangat indah"


" Kemarilah kita turun lalu kesebuah tempat lagi"


" Jangan banyak bicara honey"


  Arthur mendatangi beberapa orang dengan jas hitam dan berbadan kingkong. Tabitha tau mereka adalah bodyguard Arthur. Pria itu memasuki mobil disusul dengan Tabitha. Mobil mereka melaju menuju sebuah bangunan besar, mansion.


" Mansion siapa lagi ini?"


" Milikku"


" Sebenarnya berapa banyak mansion yang kau miliki?"


" Banyak tak terhitung"


" Tidak, jiwa sombong mu datang lagi"


" Maaf"


" Ayo masuk" ajak Arthur dan Tabitha pun memasuki mansion itu.


Mereka memasuki mansion itu, dan Arthur membawa wanita itu ke lantai 3 mansion itu. Dan mereka masuk kesebuah kamar yang Tabitha yakini adalah kamar utama. Arthur berjalan kearah balkon dan berdiri disana, menikmati keindahan lautan didepannya.


" Mengapa membawaku kemari?"


" Ini adalah masa depan"


" Maksudmu?" Ujar Tabitha mendekati Arthur dan menghadap tubuh tegap didepannya.


" Kita akan tinggal disini nanti"


" Kapan?"


" Di hari tua kita, hanya ada kebahagiaan, kita akan menjauhi masalah. Masalah itu akan dibereskan oleh anak-anak kita di New York"


" Maksudmu kita akan meninggalkan anak-anak kita di New York sendiri?"


" Mereka akan hidup mandiri Tabitha, aku ingin hari tua kita disini. Bahagia berdua. Dan sesekali menengok mereka di New York"


" Kenapa memilih di Porto venere? Kenapa tidak di Roma, di mansion keluargamu?"


" Aku tak ingin terbayang kematian orang tuaku, aku ingin hidup tenang"


" Maka kau akan mendapatkannya" ujar Tabitha seraya memeluk Arthur.


" Bersiaplah nanti malam, akan ada pesta ulang tahun mu disini"


" Apa!!"


" Hentikan wajah bodohmu itu honey" ujar Arthur melenggang pergi meninggalkan istrinya yang masih membatu.


🔫🔫🔫


Malam tiba, pria itu benar-benar menyiapkan sebuah pesta untuknya. Lantai dasar mansion besarnya diubah menjadi sebuah ballroom hotel bintang lima. Tabitha hanya terkagum membisu.


" Nyonya, ada seseorang yang ingin menemuimu"


" Siapa?" Balas Tabitha.


" Tuan yang mengirimkannya"


" Aku akan mendatanginya" Tabitha baru saja akan keluar dari kamarnya namun tiba-tiba ada suara membengkakan telinganya.


" Mrs. De Lavega! Miss me?"


" Jady!!"


" Yes, i am"

__ADS_1


" Kau disini?"


" Iya, suamimu yang sexy itu mengirimkanku untuk mendatangimu. Ku dengar kau sedang berulang tahun"


" Iya benar"


" So, happy birthday for you mrs. Sexy"


" Thanks Jady"


" Sudah siap?" Tanya seseorang diambang pintu.


" Oh, hai Mr. Saxy, aku sudah menyiapkan pakaianmu untuk malam ini"


" Tunjukkan"


" Sure Mr.handsome" ucap Jade dengan dihadiahi tatapan membunuh dari Tabitha. Pria setengah gemulai itu berjalan pelan menghampiri kedua anak buahnya dan menunjukkan busana yang ia bawa untuk Arthur dan Tabitha.



" Ku bawakan setelan jas ini untukmu Mr.De Lavega sengaja kupilihkan yang berwarna Navy karena kupikir kau akan sangat tampan dengan menggunakan setelan ini"


" Dan ini untukmu Mrs.De Lavega" ucap Jady menunjukkan gaun miliknya.



" Ini akan sangat cantik dipadukan dengan kulit putih pucat milikmu itu Mrs.De Lavega"


" Aku menyukainya, seperti princess" ucap Tabitha mendekati gaun itu.


" Biar aku membantumu Mr. De Lavega" ucap Jady menawarkan diri.


" Ten_"


" Tidak! Kau disini saja aku akan memakai gaun bersama dengan Arthur memakai jas nya" sela Tabitha cepat.


  Wanita itu berjalan cepat membawa gaun nya saat sampai disebelah Jady, wanita itu memberikan tatapan seribu anak panah pada pria setengah gemulai itu.


" Jangan curi-curi kesempatan kau Jady" bisik Tabitha tajam.


Arthur hanya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku istrinya. Mereka pun akhirnya memasuki walk in closet berganti pakaian disana. Setelah selesai Arthur hanya dipakaikan pomade di rambutnya agar rapih lalu memakai parfume yang tentu nya tidak sembarangan. Tak lupa pria itu melingkarkan jam tangan Rolex di tangan kanannya.


Setelah Arthur siap dia keluar terlebih dahulu dari Tabitha, wanita itu di dandani oleh Jady, rambutnya disanggul rapih menyisakan sedikit rambut disisi kanan dan kiri wajahnya menambah kecantikan wanita itu. Tabitha tersenyum melihat hasil karya pria gemulai disampingnya, ia sangat cantik malam ini.


" Kau sangat cantik nyonya" ucap Jady menjeda lalu menundukan kepalanya berucap dengan nada rendah.


"Dan jangan lupakan suami mu yang berdandan dihadapan ku, oh God aku tak bisa menahan ini semua"


Tabitha langsung melirik pria disebelahnya. "Sinting!!" Rutuknya tajam.


" Maaf, baiklah kau sudah sangat cantik mari kita keluar pasti suamimu tengah menyambut tamu undangan"


Tabitha hanya menganggukan kepalanya setuju, wanita itu berjalan dengan pelan lalu menuruni tangga dan Arthur melihat wanita-nya sangat kagum, istrinya sangat cantik dibalik balutan gaun itu, dia sangat menyukainya. Arthur menghampiri Tabitha mengapit lengan Tabitha memperkenalkan nya pada para kolega bisnisnya.


" So, goodnight everyone. I'm very happy because i can stand in here. In the party of De Lavega Family. And happy birthday for you Mrs. De Lavega i hope you always happy in your life" ucap pengisi acara di panggung, lalu suara tepukan tangan menggema Tabitha hanya menarik bibirnya tersenyum manis kala beberapa orang bersalaman dan memberikan ucapan selamat ulang tahun padanya padahal Tabitha sendiri tidak terlalu mengenal mereka.


" Thank you" ucap Tabitha dengan senyuman dipaksakan.


" Senyum yang tulus Ta" ucap Arthur mengeratkan tanganya pada pinggul wanita itu.


" Aku tak mengenal mereka" bisik Tabitha tapi pria itu hanya tertawa menanggapinya.


" So, Mrs. De Lavega this is for you" ucap si pengisi acara. Lalu tirai terbuka menunjukkan tiga orang wanita menggunakan topeng lalu menyanyikan lagu ulang tahun untuknya.


" Happy Birthday to you" setelah selesai memyanyikannya tiga orang itu berjalan perlahan kearah Tabitha, wanita itu bingung hatinya berdebar ia mengenali suara mereka tapi tidak mungkin mereka ada disini. Dan saat telah sampai dihadapanya tiga orang itu membuka topengnya dan.


" TATA!!" pekik mereka bertiga sedangkan Tabitha hanya bisa menganga terkejut hatinya sangat gembira saat mendapati ketiga sahabatnya ada didepannya.


" FITRY, AMEL, DIANA!" Tabitha ikut terpekik dan akhirnya mereka pun berpelukan. Arthur hanya mampu menggelengkan kepalanya. Sekali anak kecil tetap anak kecil, batin Arthur.


" Lo cantik banget" puji Amel.


" kok kalian bisa ada disini?"


" Laki lo tiba-tiba ngirim helikopter buat jemput gue sama Amel" ujar Fitry.


" Dan lo Di?" Tanya Tabitha.


" Brian yang jemput gue tadi"


" Acie... PDKT nih ceritanya" kekeh Tabitha.


" Kalian lanjutkan dulu bicaranya saya akan kesana" ujar Arthur menghentikan tawa mereka berempat. Tabitha hanya mengangguk sebagai balasan lalu pria itu pun pergi.


" Gila, ultah lo kayak pesta putri raja tau nggak" ujar Fitry.


" Maklum lah, Tata kita kan udah jadi istrinya triliuner" ujar Diana.


" Apaan sih" ujar Tabitha merona.


" Laper gue" ujar Amel.


" Ayok kita makan dulu" ajak Tabitha mereka pun duduk di salah satu meja yang sudah disiapkan dan memakan jamuan yang sudah dihidangkan.


" Gue denger ini mansion laki lo ya?"


" Iya" balas Tabitha akan pertanyaan Diana.


" Sebenernya punya berapa mansion sih laki lo?"


" Nggak tau"


" Dih elu yang istrinya nggak tau gimana sih" ucap Fitry menoel lengan terbuka Tabitha.


" Gimana laki lo?" Tanya Amel.


" Gimana apanya?"


" Sifatnya?"


" Ya, gitu kadang datar, kadang dingin, kadang juga sweet"


" Kyaaa, gue mau nikah juga" ujar Amel.


" Ya tinggal nikah aja"


" Seneng gue lihat lo bahagia" ujar Diana.


" Katanya Amel mau ke Seoul ya?" Tanya Diana


" Ya, gue mau ketemu oppa Korea" ujar Amel terkekeh.


" Mau ngapain, ditanyain bener" ujar Tabitha.


" Nggak, gue mau sekolah disana"


" Owh"


" Kalo lo Fi?"


" Gue sih niatnya mau ke NY soalnya kan gue mau sekolah bisnis"


" Widih berarti kita bertiga di NY dong, berarti lo sendirian di Korea Mel" ejek Tabitha.


" Biarin"


Obrolan mereka terus berlanjut begitupun dengan pesta. Pesta itu berjalan dengan baik dan itu membuat Tabitha amat bahagia. Setelah pesta selesai Tabitha menaiki tangga menuju kamarnya dan tertidur.


To Be Continue...

__ADS_1


Vote Pleasee..


maaf baru up...


__ADS_2