MY HUSBAND CEO IS MAFIA

MY HUSBAND CEO IS MAFIA
MHM 1.7 PARTY (Part 2)


__ADS_3

"... Clark" lirih Tabitha.


" Boleh duduk?" Ucap Clark disambut anggukan Tabitha.


" Lo disini? Tapi kok bisa?" Tanya Tabitha.


" Papa pembisnis Ta"


" Oh ya siapa?"


" Rekan kerja suami lo, itu yang lagi ngobrol sama suami lo. David Adderson"


" Lo anaknya David Adderson?"


" Ya"


" Gue kira lo__"


" Udahlah jangan dibahas" sela Clark.


" Lo mau lanjut kuliah disini?"


" Mungkin iya, papa pengen gue belajar bisnis mulai sekarang. Makanya gue disuruh sekolah disini. Lo sendiri?" Ucap Clark melirik ke arah Tabitha.


" Nggak tau, gue rasa lebih enak jadi ibu rumah tangga biasa. Ya walaupun terdengar kuno tapi dibalik itu seenggaknya gue bisa bantu bantu suami gue di dunia bisnis, gue bisa belajar dari dia"


" Kenapa?"


" Nggak tau, gue percaya sama Arthur"


" Lo udah cinta sama dia?" Ucap Clark spontan, membuat Tabitha menelan salivanya. Pasalnya ia pun bingung dengan apa yang dia rasakan.


" Gue bakal tinggal disini. Kita bisa aja jalanin hubungan kayak dulu Ta" ucap Clark menggenggam tangan Tabitha erat.


" Clark jangan mulai"


" Apa?"


" Ekhm..." Tabitha menolehkam kepalanya saat mendengar deheman dari seseorang. Ia sedikit gugup saat Arthur memandangnya dengan tatapan selidik.


" Arthur ini tidak seperti yang kau lihat" sanggah Tabitha namun Arthur hanya menatap nya datar dan menaikan satu alisnya.


Tabitha dibawa oleh Arthur meninggalkan Clark yang memandangnya tak suka dan berjalan dengan angkuh kearah kerumunan pebisnis yang sedang berunding dan mengapit lengan istrinya erat seakan enggan melepaskan istrinya itu. Arthur menuntun Tabitha untuk duduk disalah satu meja besar yang sudah diisi oleh beberapa orang.


Arthur melirik kearah Clark yang kembali duduk disebelah Tabitha, sial dia lupa bangku disebelah kanan Tabitha kosong. Dengan wajah datar Arthur meletakkan tangannya ke paha Tabitha yang dibalut long dress berbahan satin. Itu pun tak luput dari penglihatan Clark.


" Ck" Clark berdecak dan mengalihkan pandangan nya kearah lain.


Arthur menyesap vodka yang sudah disiapkan di meja jamuan sedangkan Tabitha ia merasa terganggu dengan telapak tangan Arthur yang menggerayangi pahanya. Seakan mengetahui apa yang dirasakan istrinya Arthur melirik kearah Tabitha.


" Ada apa?" Tanya nya kontras dengan apa yang dilakukan tangannya.


" Bisa kau hentikan gerakan tangan mu?" Bisik Tabitha.


" Ada apa Mrs. De Lavega?"


" Tidak apa Mr. Xavier istriku hanya sedikit terganggu dengan kehadiran seseorang" ucap Arthur tenang.


" Benarkah? Tapi yang didekatnya hanya ada kau dan Clark"


" Ntah lah" ucap Arthur penuh penekanan.


Tabitha menautkan alisnya mendengar penuturan Arthur, yang benar saja pria ini berusaha menyindir Clark.


" Mr. Adderson ada beberapa hal yang harus kubicarakan padamu" Ucap Arthur pada David Adderson yang duduk tepat dihadapannya.


" Sure" ucap Pria paruh baya itu.


Selepas kepergian Arthur, Tabitha hanya menatap kosong makanan yang ada dihadapanya ia bingung dan merasa tidak enak pada Clark atas sindiran dari Arthur.


" Lo lihat mulut tajam laki lo nyindir gue barusan."


" Maaf" lirih Tabitha.


" Lo tersiksa kan hidup sama dia" bisik Clark dihadiahi tatapan membunuh dari Tabitha.


" Lo bisa nelpon gue Ta, nomer gue masih aktif" ucap Clark meletakkan tanganya kepunggung terbuka Tabitha.


Di lain tempat Arthur mengeratkan genggaman nya kala melihat tangan Clark dengan lancang meraba punggung terbuka Tabitha. Arthur menatap David dengan tatapan yang sulit diartikan.


" Ku harap kau bisa memberi pelajaraan caranya menjaga tangan dengan baik pada putramu itu Mr.Adderson" ucap Arthur dingin.


" Maafkan putraku Mr. De Lavega"


" Jika putramu masih berusaha untuk mengganggu istriku lagi, akan kupastikan masa depan nya hancur ditanganku. Dan jangan lupakan proyek hotel kita juga akan terancam batal Mr. Adderson" peringat Arthur dingin namun menusuk. Arthur melangkahkan kakinya dan mendudukan dirinya di meja jamuan.


Tak berapa lama David pun ikut bergabung namun ia langsung meminta Clark segera pulang. Arthur menyunggingkan senyum miringnya melihat tatapan kebencian Clark padanya.


" Apa yang terjadi" ucap Tabitha.


" Hanya sebuah peringatan"


" Maksudmu?"


" Lupakan"


" Tapi__"

__ADS_1


" Nikmati saja pestanya. Dan yah.." ujar Arthur menjeda dan meletakkan tanganya ke punggung Tabitha, bahkan merabanya pelan.


" Lupakan sentuhan pria itu. Ingat saja sentuhanku" bisik Arthur tepat di telinga kiri Tabitha bahkan Arthur mengecupnya pelan.


" Kau tergoda?" Ucap Arthur melihat wajah merah Tabitha. Ia mengeluarkan smirk nya dan berbisik lagi namun lebih pelan.


" Tunggu sampai selesai honey"


  Tabitha hanya menelan salivanya mendengar penuturan Arthur, benar tabakan pria itu. Ia tergoda dengan perlakuan Arthur, Tabitha pun memikirkan ide jahilnya. Ia meletakkan tanganya ke paha Arthur dan mengelusnya pelan.


" Ta__" ucap Arthur memperingati.


" Berusaha balas dendam"


" Well, kita memang pasangan yang serasi" ucap Arthur menaikkan satu alisnya.


Dengan cepat Arthur berdiri dan membenahi jas nya.


" Mr. Xavier terimakasih pesta nya sangat menyenangkan, tapi saya harus pergi istri saya membutuhkan sesuatu" ucap Arthur melirik Tabitha.


" Wah, sayang sekali mengapa sangat singkat Mr.De Lavega."


" Urgent" ucap Arthur dengan senyuman tipis Tabitha.


" Baiklah hati-hati dijalan Mr dan Mrs. De Lavega"


" Tentu" ucap Arthur menyalami Pria didepannya.


Arthur menggenggam erat tangan Tabitha, ia menariknya pelan dan mereka pun langsung memasuki mobil mewah Arthur yang sudah siap membelah jalanan New York. Arthur hanya menatap wajah Tabitha lekat.


" Ada apa? apa riasanku rusak?"


" Tidak"


" Lalu?"


" Kau cantik"


" Kau juga"


" Cantik?"


" Bukan, maksudku tampan"


" Aku tau"


" Menyebalkan"


" Kau juga"


Hening Arthur masih betah menatap wajah Tabitha sedangkan yang ditatap hanya menunduk pipinya merona ditatap seperti itu oleh Arthur.


" Untukku?"


" KAU PIKIR AKU MENGATAKANYA UNTUK SUPIR BEGITU!" teriak Tabitha kesal karena pria didepanya begitu tidak peka.


" Oke, oke calm down im sorry" ucap Arthur mengalihkan pandangan nya kearah kaca.


" Kau tidak membalasnya?"


"..."


" Kau mendengarku?" Tanya Tabitha.


" ..."


" Menyebalkan!" Gerutu Tabitha namun matanya melebar karena Arthur dengan tiba-tiba mencium pipi kanan nya.


" Itu balasanya"


" Aku tak mengerti" ujar Tabitha polos.


" Kau memang bodoh" ucap Arthur diikuti kekehannya.


" Hei, kau yang tidak peka dan kau mengatakanku bodoh yang benar saja"


" Kau juga tidak peka honey, aku bilang itu balasanku."


" Artinya kau juga memiliki rasa yang sama?"


Arthur hanya diam, namun Arthur hanya mengangkat satu alisnya dan tersenyum tipis. Dengan gerakan cepat Tabitha memeluk pria nya dengan erat. Dan Arthur pun mengecupi puncak kepala Tabitha. Hingga mereka pun sampai di mansion Arthur. Dengan cepat Arthur menggendong Tabitha ala bridal menuju kamarnya.


🔫🔫🔫


Tabitha terbangun dari tidurnya , ia menatap sekeliling kamar dan tak menemukan Arthur disana. Tabitha memanggil nama suaminya itu namun tetap tidak ada jawaban. Ia turun dari ranjang king sizenya dan memakai panties serta kemeja putih Arthur yang digunakan di pesta tadi yang hanya mampu menutupi setengah pahanya dibalik tubuh telanjangnya.


Ia sedikit kebingungan saat nendengar suara piano dengan nada yang sangat menyedihkan, sepertinya sang pemain tengah kehilangan sesuatu. Dengan cepat ia mendekati suara piano itu dan membawanya ke sebuah kamar yang luas dengan piano disebelah sudut kiri di kamar itu. Tabitha melangkahkan kakinya dan mendapati Arthur memainkan piano itu dengan mata terpejam. Dahinya mengkerut menandakan ia tengah merasakan sesuatu. Tabitha melipat tanganya didepan dada dan menatap wajah Arthur yang serius bermain piano sesekali Arthur bergumam seperti tengah bernyanyi namun sangat kecil suaranya.


Setelah permainan Arthur selesai Tabitha memberikan senyum yang merekah pada suaminya itu, ia pun mendudukan tubuhnya di pangkuan Arthur.


" Mengapa nadanya begitu menyedihkan?" Tanya Tabitha sambil mengalungkan lengan kanannya ke leher Arthur.


" Aku hanya mengingat orang tuaku"


" Jadi setiap kau mengingatnya kau akan bermain piano begitu?"


" Tidak juga, hanya saat ingin saja. Sebenarnya aku juga membenci nada itu, entah kenapa daddy mengajari nada itu kala ia akan meninggal beberapa jam kemudian" ucap Arthur.

__ADS_1


" Apa yang terjadi?"


" Aku berumur 6 tahun waktu itu, tak mengerti apapun. Daddy mengajariku nada itu setelahnya aku pun berlatih namun sial, aku mendengar suara gaduh dari lantai bawah. Aku berlari untuk melihat apa yang terjadi. Aku menangis saat mendapati kedua orang tuaku sudah tak bernyawa dengan tenbakan tepat di jantung mereka. Aku ditarik oleh salah satu bodyguard Daddy dan mereka membawaku ke New York" ucap Arthur dengan semburat kesedihan di matanya Tabitha yang merasakan itu langsung menggenggam erat tangan Arthur.


" Lanjutkan" ucap Tabitha menguatkan.


" Mereka mebawaku ke mansion ini dan aku dirawat madam Rose, dia menjadi ibu sambungku dan aku bersyukur memilikinya, namun aku benci Daddy ku yang memerintahkan bodyguard kepercayaan nya untuk merahasiakan kematian Daddy dan Mommy pada publik. Menyesakkan bahkan aku tak hadir dipemakaman mereka."


" Aku yang tadinya slalu ceria pelan-pelan mulai berubah aku mulai belajar pistol, granat, bahkan mulai mempelajari bagaimana caranya mengemudi helikopter pada saat umur 6 tahun. Gila memang tapi ada sesuatu yang membuat ku ingin melakukan itu__"


" Dan itu karena kau ingin tau siapa pembunuh kedua orang tuamu?" Tebak Tabitha.


" Ya, hanya mereka yang membuatku merasa harus bangkit dari keterpurukan. Dan sial nya asal kau tau suamimu ini dulu dibully karena tertarik dengan hal-hal yang seharusnya tidak dikenal oleh anak berusia 12 tahun."


" Dan kau memukuli mereka?" Tanya Tabitha.


" Brian sudah cerita?" Ucap Arthur disambut anggukan dari Tabitha sambil tersenyum.


" Aku slalu dibilang oleh guru-guru ku sebagai siswa yang dewasa tidak pada umurnya tapi aku menerima nya. Aku hanya membuktikan bahwa aku bisa menjadi seseorang dimasa depan."


" Aku slalu bertindak mengikuti egoku, tanpa melihat perasaanku. Aku hanya percaya pada bukti bukan ucapan. Itu prinsipku"


" Tapi kau mengubah salah satunya Ta"lanjut Arthur.


" Apa?"


"Kau mengubah poin pertama. Ntah mengapa setiap berhadapan denganmu egoku runtuh, dan sial nya aku menggunakan perasaanku"


"Aku tersanjung" ucap Tabitha mengecup pipi Arthur lembut.


" Kau membuatku gila"


" Biarkan" ujar Tabitha.


Arthur menatap lekat mata hazelnut istrinya dan beberapa detik setelahnya seseorang menelpon Arthur, pria itu mengabaikannya namun Tabitha segera memeriksa siapa pelaku yang merusak suasana nya.


" Brian"


" Biarkan dia pengganggu"


" Baiklah aku yang angkat" ucap Tabitha.


"Boss"


" Aku bukan boss mu"


" Oh hai Ta, bisa aku bicara pada pemilik ponsel ini penting"


" Dia tak mau bicara"


" Ku mohon"


" Okey" ucap Tabitha memberikan ponsel itu pada Arthur dengan mengangkat satu alisnya. Arthur merebut ponsel itu dengan kasar.


" Kau mengganggu ku!" Desis Arthur.


" Maaf boss aku hanya ingin mengatakan. Ada yang menyabotase struktur pembangunan hotel kita di Chicago"


" Apa yang terjadi?"


" Kecelakaan pekerja bos, Gedung yang 68% itu runtuh, dan memakan 23 pekerja"


" Aku akan kesana besok. Dan kau cari tau siapa pelakunya"


" Tentu Boss"


" Singkirkan apapun yang menghalangi jalanku Brian" desis Arthur mematikan sambungan teleponnya.


" Kita tidur? besok sepertinya hari yang melelahkan" tawar Tabitha.


" Kau mendengarnya?"


" Sedikit"


" Aku tak bisa bangun jika kau masih tetap duduk di pangkuanku" ucap Arthur.


" Ku rasa dengan tubuh sebesar ini kau bisa mengangkat ku sampai kamar Mr.De Lavega." Ucap Tabitha menyubit lengan Arthur pelan.


" Kau memang nakal wife"


" Aku belajar dari mu"


" Sure"


Arthur menggendong Tabitha sedangkan wanita itu melingkarkan kedua kakinya di pinggang Arthur. Arthur menggendong Tabitha sampai ke kamar mereka. Dan mereka pun akhirnya tertidur dengan posisi saling memeluk.


To Be Continueeee...


Vote Please....


Nggak susah ko, tinggal pencet like dibawah aja nih...



Arthur De Lavega


__ADS_1


Tabitha De Lavega


__ADS_2