MY HUSBAND CEO IS MAFIA

MY HUSBAND CEO IS MAFIA
MHM 6.0: VILLA


__ADS_3

Arthur membuka matanya perlahan saat cahaya matahari menyilaukan matanya. Pria itu melirik kearah kiri dimana Tabitha tertidur dengan selimut yang menutup tubuhnya yang telanjang. Arthur mengecup mata sang istri lembut lalu mengecup bibirnya singkat. Arthur menurunkan kakinya dan meraih bathrobe lalu menjalankan kakinya memasuki kamar mandi.


Setelah selesai ia pun keluar dan mengganti kain bathrobe dengan kaos hitam miliknya dan celana kain putihnya. Arthur keluar dari walk in closet. Pria itu menjalankan kakinya lalu duduk disamping Tabitha membelai lembut surainya.


" Bangun"


" Egh..."


Tabitha mengerjabkan matanya mencari kesadaran. Ia pun mengulas senyum tipis kala menatap Arthur yang tersenyum padanya.


" Mommy! Daddy!" Panggil seseorang dengan teriakkan yang menggelegar dari luar.


" Leo" Tabitha membulatkan matanya sedangkan Arthur hanya mengangkat satu alisnya.


" Buka kan pintunya Arthur" Suruh Tabitha dengan mendorong tubuh Arthur tapi tubuh itu tak bergerak sedikit pun.


" Kau saja"


" Shit! Im *****!"


" Terserah"


" Arthur!" Sentak Tabitha tajam.


" Iya"


Arthur menjalankan kakinya membuka pintu kamar, sedangkan Tabitha mengeratkan selimut yang membalut tubuhnya dan bergegas ke kamar mandi.


" Ada apa Boy?"


" Mana Mommy?"


" Mommy sedang mandi"


" Oh"


" Ada apa?"


" Madam Rose sudah memanggil tapi Dad dan Mom tidak datang-datang. Jadi Leo kemari untuk memanggil kalian dan ternyata kalian baru bangun."


" Maafkan Daddy"


" Leo lapar cepat Dad turun"


" Iya"


Leo menarik tangan Daddy nya menuruni tangga dan berakhir di meja makan yang sudah siap dengan berbagai hidangan. Leo duduk dan langsung menatap hidangan itu dengan mata yang berbinar.


Maid mengambil nasi dan meletakkanya di piring Leo yang kosong, anak itu memainkan garpu dan sendok di tangan kanan dan kirinya. Arthur hanya tersenyum singkat melihat tingkah laku putranya yang sangat menggemaskan.


Tak lama Tabitha keluar dengan rambut yang masih setengah basah dan ia pun duduk disamping Leo.


" Mommy akhirnya turun"


" Maaf terlambat honey"


" Tak apa" Ucap anak itu memasukkan makanan dalam mulutnya.


Tak lama seorang bodyguard berjalan dengan tegap mendekati Arthur. Ia pun membisikkan sesuatu di telinga Arthur. Mimik wajah Arthur langsung berubah. Ia menghentikan acara makannya dan meletakkan garpu dan sendoknya dengan sedikit kasar. Tabitha yang paham pun langsung meletakkan tangan kanannya di paha kiri Arthur.


" Ada apa Arthur?"


" Tak apa" Arthur menganggukan kepalanya pelan dan ia pun berjalan menjauhi meja makan.


Leo menatap Tabitha dengan tatapan penuh tanya.


" Daddy kenapa Mom?"


" Tidak papa"


Tak lama terdengar suara keributan di ruang tamu. Tabitha langsung menghetikkan acara makannya dan langsung bergegas kearah ruang tamu.


" Hentikan" Titah Arthur menghentikam kelima bodyguardnya yang tengah memukuli seorang pria.


Arthur berjalan dan mendekati pria yang sudah babak belur didepannya.


" Kenapa kau membawa kabur uang itu?" Tanya Arthur dingin namun mampu membangkitkan bulu kuduk pria itu.


" A-Aku minta maaf tuan"


Arthur langsung memberi bogeman mentah tepat di pipi pria itu sampai pria itu tersungkur diatas lantai. Tentunya dengan darah yang sudah keluar dari sudut bibir dan hidungnya.


" Sekarang pilih, kau ingin aku tembak disini" Arthur menunjuk kepala pria itu dan tersenyum penuh arti.


" Atau kau mau aku keluarkan pisau ku dan menusukmu disini" Ujar Arthur lagi dengan menunjuk tepat di jantung pria itu.


" Aku mohon maaf tuan, aku akan mengganti uang itu"


" Kau yakin?"


" Iya tuan"


" Baiklah, 24 jam waktumu untuk mengembalikan uangku"


" Tuan itu tak mungkin. Aku tak mungkin mengumpulkan uang 10 juta dollar dalam waktu 24 jam"


" Aku tak mau tau, itu urusanmu" Ujar Arthur tak perduli.


" Tuan kasihanilah aku."


Tabitha ingin sekali menghentikan Arthur, tapi wanita itu sadar suaminya diambang kemarahan dan ia tak ingin menambah kemarahan Arthur. Tak lama sebuah tangan kecil meraih tangan kananya. Tabitha langsung mengalihkan tatapannya kebawah disana ada Leonardo dengan wajah ketakutan.


" Mom kenapa Daddy memukul uncle itu?"


" Tidak papa, ayo kita masuk ke kamar Leo"


" Leo tak mau"


" Leo ayo masuk"


" Leo tak mau Mom"


Sementara Arthur menarik pria itu dengan kasar dan membawanya tepat didepan Exter yang sudah menggeram. Singa itu bahkan sudah terlihat sangat ingin menerkam pria malang yang ditarik Arthur.


" Aku tanya sekali lagi, kau kembalikan uangku dalam 24 jam atau kau akan berakhir diperut kedua singaku"


" Jangan tuan, kumohon"


" Permohonanmu tak berpengaruh padaku"


" Tuan" Pria itu bersujud di kaki Arthur tapi dengan kejamnya Arthur menendang tubuh pria itu.


" Daddy!" Leonardo berlari kearah Arthur dan berdiri tepat disamping pria itu.


" Alex" Arthur langsung melempar pria dibawahnya kepada Alexander dan ia pun menutup mata Leonardo.


" Daddy, kenapa mata Leo ditutup?" Tanya anak itu polos.


" Arthur..." Tabitha yang baru saja berlari pun berusaha mengatur napasnya.


" Bawa Leo masuk" Titah Arthur telak.


" Leo ayo masuk"


" Leo tak mau, Leo mau tanya dulu pada Daddy"


" Leo nanti saja tanya nya. Sekarang Leo masuk dulu"


" Daddy"


" Bereskan dia" Perintah Arthur yang langsung diangguki anak buahnya termasuk Alexander.


Arthur paham dengan sifat anaknya yang keras kepala alhasil ia pun membawa tubuh Leo dipundaknya sementara Leo tetap meraung ingin melihat pria yang tadi dihajar habis-habisan oleh Daddy nya.

__ADS_1


" Dad lepaskan aku!"


" Diam Leo"


" Kenapa uncle Alex memukul uncle itu Dad? Daddy jawab aku?!" Leo terus meraung tapi Arthur hanya diam menanggapi. Tabitha berjalan dibelakang Arthur.


Setelah sampai dikamar Leo, Arthur langsung menurunkan tubuh kecil Leo di ranjang dan menatap Tabitha.


" Tenangkan dia"


Tabitha menganggukan kepalanya dan Arthur pun berjalan keluar kamar tak lupa tangan kekarnya bergerak mengunci pintu kamar Leo.


Arthur dengan cepat menuruni tangga dan melihat anak buahnya yang memukul pria malang itu dengan membabi buta.


" Cukup" Suara Arthur menghentikan pukulan yang akan melayang pada tubuh pria malang itu.


" Kau sudah salah dengan bermain-main dengan seorang De Lavega!"


" Maafkan aku" Lirihnya pelan.


Tanpa kata Arthur mengeluarkan pistolnya dan menembak orang itu tepat di jantungnya.


" Urus dia" Perintah Arthur dan pria itu pun meninggalkan anak buahnya di taman yang berisikan Exter dan Exie.


Sementara di kamar Leo, anak itu mendekap Mommy nya takut kala mendengar suara pistol dari bawah mansion. Tubuhnya bergetar dan Tabitha paham siapa pelaku yang mengelurkan peluru dari sarangnya itu.


" Sst, tidak papa"


" Mommy siapa yang menembak di dalam mansion kita?"


" Bukan siapa-siapa"


Tabitha membelai pelan puncak kepala putranya berusaha menenangkan anak itu yang terlihat bergetar.


Sementara Arthur dengan tenang nya menyesap whiskey di pantry. Ia senang bisa membunuh orang yang memanipulasi keuangan perusahaannya dan ia pun akhirnya bisa bernapas lega.


Arthur meraih ponselnya lalu menghubungi Brian. Tak lama terdengar suara sahabatnya itu.


" Brian"


" Ya, ada apa Arthur?"


" Dimana kau?"


" Aku ada di kantor, hari ini Diana tidak sedang photoshoot. Jadi aku bisa ke kantor hari ini"


" Baiklah, aku sudah menemukan pelakunya bahkan aku yang membunuhnya. Lalu sekarang bisakah kau atur pertemuan dengan para klien untuk menjelaskan apa yang terjadi dan mengembalikan image perusahaan seperti dulu"


" Baik aku akan siapkan jadwal siang ini"


" Oke, tapi kau yang memimpin rapat itu Brian"


" Kenapa Arthur?"


" Aku akan pergi"


" Kemana?"


" Villa"


" Baiklah, hati-hati"


" Ya"


Arthur menutup sambungan telepon nya dengan Brian. Lalu dengan cepat pria itu pun membalikkan tubuhnya menatap Alexander.


" Siapkan jet pribadiku sekarang"


" Boss mau kemana?"


" Aku akan ke Siberia"


" Sekarang boss?"


" Baik"


Alexander langsung pergi dari hadapan Arthur. Sedangkan Arthur bergegas menaiki tangga membuka kunci kamar Leonardo dan ia pun langsung mendorong pintu itu. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah Tabitha yang tengah mendekap tubuh Leo. Arthur mendekati ibu dan anak itu ia pun mendudukan tubuhnya tepat disamping Tabitha.


" Dia tidur?" Tanya Arthur pelan.


" Iya, dia sedikit shock saat mendengar suara tembakan tadi"


" Maaf"


" Aku tau siapa pelakunya Arthur" Ujar Tabitha tenang.


" Maksudmu"


" Seharusnya kau berpikir sebelum melepaskan pelurumu tadi, kau seharusnya berpikir sekarang mansion ini sudah ada anak kecil" Ucap Tabitha sedikit menyalahkan Arthur.


" Sekali lagi maafkan aku"


" Iya tak apa"


" Kita akan pergi ke Siberia sekarang" Ucap Arthur tenang namun berdampak pada Tabitha yang melebarkan matanya kaget.


" Kenapa mendadak Arthur?"


" Aku hanya ingin menenangkan pikiranku setelah sibuk dengan pekerjaan akhir-akhir ini"


" Baiklah, tapi Leo tidur"


" Biarkan jadi kejutan untuknya"


Tabitha mengulas senyum tipis menanggapi Arthur, wanita itu menatap Leo sekilas lalu beranjak dari ranjang putranya dan menyiapkan segala keperluan mereka.


Setelah beberapa saat mereka menyiapkan segala keperluan di Siberia nanti mereka pun menunggu jet pribadi mereka dan tak lama suara gaduh terdengar di pelataran mansion. Arthur segera berdiri dan menatap Alexander lekat.


" Apa kau sudah mengabari Paul kalau aku akan berkunjung kesana?"


" Sudah boss"


" Bagus"


Arthur pun berjalan memasuki mansion. Ia langsung bergegas menaiki tangga dan berakhir di kamar Leo, pria itu dengan cepat menggendong tubuh kecil putranya dalam dekapanya. Setelah itu Arthur memasuki kamarnya dan melihat Tabitha tengah mengganti bajunya dengan dress biru setengah paha.


" Sudah siap?" Tanya Arthur pelan.


" Sudah" Ucap wanita itu seraya berkaca di dalam walk in closet.



" Apa ini terlihat cocok dipakai olehku Arthur?" Tanya wanita itu saat menghadap tepat didepan Arthur.


" Kau cantik" Sontak saja ungkapan Arthur itu membuat kedua pipi Tabitha merona.


" Kita pergi sekarang?" Tanya Arthur yang diikuti anggukan dari wanita itu.


" Ayo"


Keluarga kecil itupun menuruni tangga dan berakhir dihalaman mansion. Arthur menuntun sang istri menaiki tangga jet itu dan ia pun akhirnya ikut masuk kedalam jet dengan Leo yang masih asik tertidur didalam dekapanya.


" Arthur apa ini akan lama?"


" Iya, kita akan terbang ke Rusia tapi lebih tepatnya ke Siberia"


" Baiklah"


Tabitha berjalan memasuki private room dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang queen size meninggalkan Arthur yang masih menggendong Leonardo. Biarlah pria itu menjaga putranya sebentar Tabitha hanya ingin sedikit beristirahat menghadapi kedua ayah dan anak yang sifatnya sama angkuhnya itu.


🔫🔫🔫


Siberia, Rusia

__ADS_1


Setalah memakan waktu yang cukup panjang akhirnya mereka pun tiba di Siberia, Arthur menuruni jet pribadinya dengan menggandeng tangan kanan Leonardo sementara Tabitha mengekori langkah kaki Arthur.



" Ini villa ku" Ujar Arthur berdiri menatap bangunan megah yang berada tepat dihadapan mereka.


" Arthur ini sangat luas"


" Daddy, disini sangat indah"


" Tentu, Daddy juga menyiapkan kejutan untukmu"


" Apa Dad?" Tanya anak itu semangat.


" Nanti Daddy tunjukkan" Ucap Arthur yang disambut senyuman gembira dibibir tipis Leonardo.


Mereka memasuki area villa Itu dengan cukup lelah bayangkan mereka harus berjalan sejauh itu dari halaman sampai pintu utama. Setelah sampai didepan pintu, Arthur mengeluarkan sebuah kunci dari saku jas nya dan ia pun membuka pintu itu dengan kuncinya. Setelah pintu sudah dipastikan terbuka Arthur sedikit mendorongnya dan terlihatlah isi dari villa itu yang sudah diisi dengan barang-barang yang lumayan antik namun cukup elegan, sudah dipastikan harganya tidak main-main.


Arthur menatap Tabitha yang terlihat masih terkagum-kagum.


" Sudah?" Tanya Arthur memastikan.


" Em, ini sangat indah"


" Aku tau, selera Daddy memang sangat berkelas"


" Ini milik Daddy mu?"


" Bukan, ini milikku tapi seluruh desain dan interiornya semua Daddy yang mengaturnya"


" Daddy mu arsitek?"


" Bukan hanya saja dia menyukai barang-barang antik"


Leonardo sudah berlari menaiki tangga mencari bahkan mengelilingi villa itu. Tabitha hanya tersenyum melihat perilaku putranya yang memiliki tingkat keingintahuan yang tinggi.


Tabitha berjan kearah ruang keluarga, matanya menangkap beberap figura yang didalamnya ada foto seorang pria yang sangat ia kenali. Foto Arthur saat masih muda. Tabitha meraihnya dan meneliti foto itu.



" Kenapa kau membuka kemejamu?" Tanya Tabitha membalikkan tubuhnya dan menatap Arthur dengan tatapan yang sulit diartikan.


" Entahlah aku sedang ingin"


" Sialan! Berapa banyak tamu kedua orang tuamu yang datang kemari dan menonton fotomu ini!" Ujar wanita itu sewot.


" Hei, kenapa?"


" Aku hanya tak suka! Simpan jangan dilihatkan diruang tamu!"


" Kenapa? Bukanya ini bagus"


" Sangat jelek!" Ujar wanita itu lalu membawa foto Arthur ditanganya.


" Kau cemburu?" Tanya Arthur menggoda sang istri.


" Tidak!"


" Lalu kenapa kau membawa foto itu?"


" Aku hanya tak ingin ada orang lain yang menikmati tubuhmu"


" Astaga itu tak mungkin"


" Diamlah!" Tabitha memilih meninggalkan Arthur dan menaiki undakan tangga satu persatu.


Matanya tertuju pada dinding tangga yang memperlihatkan figura foto-foto Arthur, wanita itu menelitinya. Ia sedikit tersenyum melihat ekpresi wajah Arthur yang terlihat masih sangat menggemaskan menurut wanita itu.


" Ada apa?"


" Apa ekpresimu memang seperti itu Arthur?"


" Maksudmu?"


" Apa kau selalu menampilkan wajah datarmu?"


" Tidak"


" Serius?"


Arthur sedikit menarik Tabitha keanak tangga yang lebih keatas, pria itu menunjukkan fotonya saat sedang tersenyum.


" Lihat, aku bisa tersenyum kan?"


" Iya kau benar, senyum mu manis sekali" Puji Tabitha lembut seraya membelai figura itu pelan.


" Tapi senyum itu adalah senyum terakhir setelah aku mengetahui penyebab kematian orang tuaku. Aku melupakan caranya tersenyum"


" Maksudmu? Kau jadi orang yang dingin sejak itu?"


"Iya, tapi setelah bertemu denganmu, sedikit demi sedikit senyum itu kembali" Ujar Arthur yang langsung membuat Tabitha merona.


" Tentu" Tabitha yang merasa mulai tidak enak pun langsung menaiki anak tangga lagi menatap foto Arthur yang tengah merebah namun menggunakan setelan kantor.


" Kalau ini kau sedang apa?" Tanya Tabitha menunjukkan foto Arthur.


" Itu adalah foto saat pertama kali aku menjadi CEO menggantikan Daddy"


" Berapa umurmu?"


" 19 tahun"


" Gila! 19 tahun kau jadi CEO, lalu kuliahmu?"


" Aku menyelesaikannya dengan cepat"


" Bagus kau sangat cerdas"


" Sure" Ujar pria itu sombong.


" Aku bangga menjadi istrimu"


" Aku juga bangga menjadi suamimu" Ucap Arthur seraya memeluk tubuh Tabitha dari samping dan mencium lembut pipinya.


To Be Continue...


Vote Please...



(Senyum terakhir sebelum jadi iblis)



(When jadi Devil)



(Pertama jadi CEO)



(Pertama masuk Regnarok)


Young Arthur De Lavega



Tabitha De Lavega



*Artha Leon**ardo De Lavega*

__ADS_1


__ADS_2