MY HUSBAND CEO IS MAFIA

MY HUSBAND CEO IS MAFIA
MHM 5.6: GRADUATION


__ADS_3

4 tahun kemudian...


Terlihat seorang wanita dengan seragam kelulusan dari Harvard Univercity terus mengulas senyum seraya menanggapi uluran selamat dari teman seangkatanya.


" Mommy!" Teriak seorang anak berusia 5 tahun berlari kearah wanita itu.


Ya, dia adalah Tabitha. Wanita itu sudah memutuskan untuk memulai jenjang pendidikanya lagi empat tahun yang lalu karena sedikit paksaan dari Arthur suaminya. Tabitha langsung membalikkan tubuhnya keasal suara, ia langsung tersenyum manis melihat buah hatinya yang terlihat berlari kearahnya. Tabitha langsung mendudukan tubuhnya dan menyambut pelukan Artha sampai tubuhnya sedikit terdorong kebelakang.


" Sorry i late mom" Ujar Artha dengan memberikan sebuket bunga pada Tabitha.


" Tak apa"


" Happy graduation for you mom" Ucap Artha seraya mengecup pipi kanan Tabitha.


" Thank you so much little boy" Ujar Tabitha mengacak-acak rambut anaknya gemas.


" Dimana Daddy?"


" Dibelakang" Unjuk Artha dibelakang tubuhnya dan benar saja disana sudah ada Arthur yang berjalan dengan gagah kearah anak dan ibu itu.


Tabitha segera bangkit dan berdiri menatap lekat pada suaminya. Arthur berjalan dan mendekati sang istri, setelah tepat dihadapannya Arthur memberikan satu kecupan singkat di pipi kiri Tabitha.


" Happy graduation wife"


" Thank you husband"


Arthur mengulas senyum singkat menanggapi senyum yang ditunjukkan sang istri untuknya. Arthur memeluk Tabitha dari samping dan Artha memeluk kaki Arthur kode agar Daddy nya mau menggendongnya.


Arthur yang merasakan kakinya dipeluk pun langsung menatap kearah bawah menatap putranya yang terlihat mengerucutkan bibirnya.


" Gendong" Rengek anak itu dan Arthur dengan sigap menggendong anaknya.


Mereka bertiga berpelukan dan Arthur mencium Tabitha lalu mencium Artha.


" Jadi kau peringkat berapa?"


" Sure aku jadi lulusan terbaik" Ungkap Tabitha sombong dengan mengangakat satu alisnya.


" Serius?"


" Tanyakan saja pada Mr. Deandels jika kau tak percaya"


" Oke" Arthur menurunkan tubuh Artha dan ia menatap Tabitha lalu melenggang mencari pemilik Harvard Univercity.


Cukup lama Tabitha dan Artha berdiri menunggu Arthur dan tak lama pria itu datang bersama dengan seorang pria yang rambutnya sudah memutih dan berkacamata bulat berjalan kearah Tabitha.


" Jadi aku ingin bertanya padamu Mr. Deandels"


" Katakan Mr. De Lavega"


" Benarkah istriku jadi lulusan terbaik tahun ini?"


" Ya, istri anda sangat cerdas Mr. De Lavega"


Arthur tersenyum simpul dan melirk kearah Tabitha yang mengeluarkan senyum meremehkannya. Arthur kembali menatap pria tua disampingnya dan ia pun memberikan senyum yang sangat tipis.


" Terimakasih sudah menjaga istriku"


" Tentu, terimakasih juga atas beberapa kasus yang kau selesaikan untuk universitas ini"


" Ya"


" Kalau begitu aku pamit"


" Silahkan, maaf mengganggu" Ujar Tabitha.


" Ya, tak apa. Sekali lagi happy graduation Ms. De Lavega"


" Terimakasih Prof"


" Ya"


Pria itu pergi melenggang dari hadapan keluarga itu, Arthur langsung menatap Tabitha dengan tatapan bangga sekaligus cinta. Begitupun Tabitha yang terlihat merona karena tingkah Arthur.


Artha melirik silih berganti pada kedua orang tuanya yang tak berhenti saling bersitatap, ia kesal dan akhirnya menarik celana kain milik Daddy nya hingga membuat kepala Arthur menunduk seketika.


" Kau butuh sesuatu boy?"


" Ya"


" Katakan"


" Aku ingin makan seafood"


" Tak boleh, kau alergi udang" Tolak Arthur mentah-mentah.


" Aku tak mau tau Dad"


" Artha jangan nakal"


" Pokoknya aku ingin makan seafood sekarang" Ucap anak itu seraya mengerucutkan bibirnya.


" Kenapa?"


" Aku ingin merayakan kelulusan mommy"


" Kita bisa makan ditempat lain, kau bebas memakan coklat ataupun ice cream tapi jangan makan udang" Peringat Arthur berusaha meluluhkan kekeras kepalaan dari putra kecilnya itu.

__ADS_1


" Aku tak mau!" Ujar Artha mendekap kedua tanganya didepan dada.


" Artha"


" Daddy aku minta seafood"


" Tak boleh!"


" Harus boleh!"


" Artha!"


" Daddy!"


" Ya Tuhan sekali ini saja menurutlah pada Daddy"


" Tak mau"


Anak itu mendekap erat paha mommy nya yang sedari tadi sudah menahan senyum akibat pertengkaran tak bermutu dari anak dan ayah itu.


" Mommy" Rengek Artha pelan.


" Ya?"


" Aku mohon"


" Daddy mu benar, nanti kulitmu memerah dan tenggorokan mu tercekat kau akan sulit bernapas jika makan udang"


" Makanan seafood selain udang banyak mom"


" Artha" Peringat Arthur lagi.


" Daddy"


" Artha"


" Daddy"


" Artha"


Mereka terus mengulang kata-kata itu, Tabitha memutar bola matanya malas meladeni pertengkaran dua orang didepannya ini. Ia segera berdiri ditengah Arthur dan Artha menatap mereka bergantian.


" Stop!"


Arthur menghentikan ucapannya begitupun dengan Artha, mereka diam jika Tabitha sudah turun tangan.


" Kalian sama-sama keras kepala"


Artha menundukkan kepalanya jika sudah begini, ia paling lemah jika mommy nya sudah turun tangan.


" Kita akan makan seafood sekarang" Ujar Tabitha yang langsung mencetak senyum lebar di bibir mungil Artha.


Tabitha sadar dengan tatapan Arthur, ia segera mengaitkan lengannya pada lengan Arthur.


" Itu tak akan terulang lagi"


" Tapi_"


" Kondisinya berbeda Arthur, dulu kita tidak tau kalau Artha punya alergi sekarang kan kita sudah tau. Jadi kita bisa mengawasinya."


" Baiklah" Arthur akhirnya menganggukan kepalanya lemah dan berjalan dengan mengapit lengan sang istri, sementara Tabitha mengeratkan genggaman tangan kiri nya pada Artha yang sudah mengembangkan senyumnya lebar.


🔫🔫🔫


Keluarga kecil itu berjalan dengan beriringan, Tabitha sudah menggantikan seragamnya dengan blouse biru laut dipadukan dengan sedikit riasan dipinggangnya. Wanita itu tampak sangat elegan, ditambah dengan penampilan Artha yang sudah bisa dibilang fashionable walaupun usianya baru menginjak 5 tahun.


Tabitha tersenyum hangat saat Arthur membukakan pintu restorant seafood bintang lima yang mereka kunjungi, Artha langsung menghambur memasuki restoran itu dengan semangat yang tinggi, tubuh Tabitha sempat tertarik karena Artha yang berlari kedalam.


Mereka memilih private side dengan satu meja bundar yang lumayan besar, dan dengan kursi yang berjejer melingkarinya. Tabitha mendudukan tubuhnya menghadap Arthur dan Artha memilih duduk disamping Daddy nya.


Seorang pelayan datang dengan membawa daftar menu, Artha langsung melihatnya dan ia menunjuk-nunjuk menu yang ada didalamnya. Ia langsung menatap Daddy nya saat menu yang ingin ia makan sudah ia dapatkan.


" Daddy aku ingin cumi"


" Kau yakin?"


" Ya"


Arthur menganggukan kepalanya dan menatap Tabitha lalu wanita itu pun mengalihkan tatapannya dari daftar menu dan menatap Arthur.


" Kau?"


" Aku lobster lemon butter sauce"


" Baiklah" Arthur menjeda dan menatap pelayan itu. "Dua lobster lemon butter sauce dan satu cumi goreng"


" Baiklah, mohon tunggu sebentar" Ujar pelayan itu dan melenggang pergi sedangkan Arthur hanya menatap lekat pada putranya.


" Daddy, mengapa cumi mengeluarkan tinta hitam?" Tanya Artha penuh keingin tahuan.


" Mereka mengeluarkannya sebagai perlindungan jika terancam"


" Lalu kenapa manusia tidak melakukan yang sama?"


" Artha, cumi dan manusia itu dua mahluk yang berbeda" Terang Arthur berusaha sabar menanggapi pertanyaan konyol yang terucap dari bibir tipis putranya. Sedangkan Tabitha mengulas senyum seraya mengusap pelan puncak kepala Artha.


" Kenapa berbeda? Bukanya mereka sama-sama mahluk hidup?"

__ADS_1


" Mahluk hidup berbeda jenisnya Artha" Ucap Arthur masih berusaha menahan emosinya yang sudah berada diujung-ujung karena pertanyaan konyol dari putra kecilnya.


" Kenapa harus berbeda? Kenapa tidak menjadi satu saja? Kenapa manusia lebih ribut saat ingin melindungi diri? Kenapa tidak seperti cumi yang hanya mengeluarkan tintanya lalu pergi?"


" Artha, Daddy tak tau harus menjawabmu bagaimana" Ujar Arthur melemah dengan pertanyaan tak masuk akal dari putranya.


" Daddy jangan bingung, kenapa Daddy tidak jelaskan secara garis besar padaku mengenai ini" Tanya Artha dengan menatap Daddy nya lekat.


" Maksud Artha apa?" Kali ini Tabitha ikut dalam pembicaraan itu.


" Cumi itu mengeluarkan tinta saat dia ingin melarikan diri dari predator yang hendak memangsanya, ia menyemburkan gumpalan tinta hitam itu agar ia bisa bebas dari ancaman predator" Ujar Artha menjeda yang sukses membuat kedua orang tuanya membelalak kaget.


" Dan, kenapa Daddy tak menjawab saja kalau manusia tidak memiliki kelenjar tinta sama seperti cumi oleh karena itu mereka berbeda. Kelenjar tinta akan selalu memproduksi secara terus menerus tinta itu, lalu disalurkan kedalam kantung tinta. Nah, saat dia merasa terancam maka dia akan mengeluarkan tinta itu" Ujar Artha dengan menatap hidangan yang sudah tersaji beberap detik yang lalu.


Tabitha dan Arthur hanya menganga dengan penjelasan yang baru saja putra mereka utarakan. Yang benar saja bagaimana bisa anak berumur 5 tahun mengerti hal seperti itu! Batin Tabitha tak percaya.


Sementara Arthur berusaha meraih kesadarannya setelah ucapannya dipotong telak oleh Artha, ia menelan salivanya kasar. Putranya cerdas dan ia jadi sedikit mengingat masa kecilnya memang ia bisa dibilang cerdas plus licik tapi ia mendapatkan itu semua saat umurnya 9 tahun saat kematian orang tuannya. Dan sekarang putranya Artha bisa menjelaskan sedetail itu padanya pada saat umurnya baru berusia 5 tahun.


" Dari mana kau mengetahui semua itu?" Tanya Tabitha seraya menatap penuh pertanyaan pada Artha yang sudah memakan cumi goreng ditangan kanannya.


" Aku dengar dari TV kemarin" Celetuk Artha kembali membuat Tabitha membelalakan matanya.


" Tapi bagaimana bisa kau mengingatnya sedetail itu Artha?" Tanya Arthur lembut.


" Em, Artha tadi hanya de...ngar seben...tar" Ucapnya terbata karena mulutnya penuh dengan cumi goreng.


" Telan dulu" Titah Tabitha dan memberikan jus apel untuk Artha.


Setelah meminum jus itu, Artha menyipitkan kedua matanya.


" Asam Mom" Ujarnya membuat Tabitha gemas, ia langsung mencium hidung putranya.


" Dia sangat cerdas" Puji Arthur.


" Tentu, dia putraku" Ujar Tabitha sombong.


" Ya tapi aku yang membuahinya" Ujar Arthur tanpa sadar yang langsung mengalir di telinga Artha.


Tabitha langsung memelototi Arthur dan beralih menatap Artha, dan benar saja anak itu menatap Daddy dan Mommy nya silih berganti.


" Membuahi apa mom?" Tanya Artha telak membuat Tabitha gugup seketika.


" Em..." Tabitha sibuk berpikir sedangkan Arthur tanpa dosanya mulai melahap lobsternya.


" Membuahimu" Celetuk Arthur langsung membuat Tabitha memukul lengan suaminya gemas.


" Apa-apaan kau!" Desis Tabitha tajam sedangkan Arthur malah mengangkat satu alisnya.


" Mommy? Apa maksud Daddy?" Tanya Artha polos.


Percayalah, jika Artha sudah menanyai satu hal dan ia belum puas dengan jawabanya, maka ia tak akan berhenti menanyakan hal itu.


" Em, buah apel maksudnya sayang, kau manis seperti buah apel"


" Tapi tadi jus apelnya asam"


Arthur sedikit terkekeh dengan jawaban yang disampaikan Tabitha.


" Itu karena tadi buahnya kurang gula, tapi kau sudah manis tanpa gula sayang" Ucap Tabitha mengecup gemas pipi putranya.


" Oh, jadi Artha manis ya mom?"


" Kau manis dan tampan" Puji Tabitha lagi membuat senyum Artha mengembang seketika.


" Pantas saja Gia selalu mendekatiku" Ujarnya sombong.


" Uhuk!" Arthur langsung tersedak setelah mendengar ucapan putra kecilnya. Hell! Siapa Gia? Batin Arthur menggila.


" Siapa Gia?" Tanya Arthur.


" Dia teman sekolahku"


" Apa?!"


" Gia bilang aku tampan"


" Ya Tuhan, jauhi dia" Ujar Arthur tertahan. Bagaimana bisa putranya sudah berperilaku seperti ini! Rutuk Arthur dalam hatinya.


Arthur menggelengkan kepalanya dan menatap Tabitha.


" Awasi dia, aku takut dia dewasa tidak pada umurnya" Bisik Arthur pelan.


" Iya" Tabitha menahan tawanya, wanita itu tau Gia adalah teman sekelas Artha, mereka memang dekat dan Artha memang suka bergaul, tak ayal dia banyak disukai oleh banyak temannya termasuk Gia. Jadi dia tak kaget saat Artha berkata itu. Tabitha mengulas senyum tipisnya melihat wajah merah padam milik Arthur, pria itu menatap Artha dan kemudian meminum orange jus nya.


To Be Continue...


Vote Please...




Artha Leonardo De Lavega



Tabitha De Lavega

__ADS_1



Arthur De Lavega


__ADS_2