
Tiga hari sudah terhitung semenjak sadarnya Tabitha, semua orang berkumpul untuk melihat Artha, disaat itu datanglah Ryan dengan senyum yang mengembang diwajahnya.
" Arthur"
Arthur yang merasa namanya dipanggil pun menegakkan tubuhnya dan berjalan kearah Ryan.
" Ada apa?"
" Ada berita bagus untukmu"
" Katakan"
" Tabitha dan Artha bisa pulang hari ini"
" Kau yakin?"
" Ya"
" Baiklah terimakasih"
" Sama-sama, kalau begitu aku akan urus keperluan kalian"
" Oke"
Ryan melenggang menjahui Arthur, sedangkan pria itu meraih ponsel di saku celananya dan menghubungi Alexander.
" Alex"
" Ya boss?"
" Kirimkam jet pribadiku"
" Boss akan pulang?"
" Ya"
" Baik, segera saya siapkan"
" Bagus"
Arthur langsung mematikan sambungan teleponnya dan kembali duduk disamping sang istri seraya membelai pelan pipi Artha.
" Ada apa?" Tanya Tabitha pelan sembari menyerahkan Artha pada Renata.
Arthur mengulas senyum dan meraih tangan kanan Tabitha.
" Kita akan pulang"
" Sekarang?"
" Ya, kita tunggu Jet milikku terlebih dahulu"
" Akhirnya aku bisa keluar dari sini"
" Ya"
" Kalian ikut dulu kan sama Tata?"
" Pasti dong kan kita mau main-main dulu sama Artha, iya kan sayang?" Ucap Jonathan semangat dengan senyum yang mengembang.
" Bagus, tidak papa kan orangtuaku ikut?" Bisik Tabitha pelan.
" Sure, tenang saja"
" Terimakasih"
" Your welcome honey"
" Brian bantu siapkan aku membereskan semuanya" titah Arthur tak terbantahkan.
" Sure"
Arthur dan Brian membereskan semua barang-barang Tabitha termasuk dengan barang Artha, beberapa jam kemudian semuanya sudah siap, Tabitha pun sudah berganti pakaian.
Kedua orang tua Tabitha pun ikut tersenyum dengan keadaan putrinya yang terlihat bahagia dengan hidupnya bersama Arthur, walaupun awalnya mereka pikir Tabitha akan tersiksa hidup bersama dengan Arthur tapi nyatanya putrinya terlihat menyunggingkan senyum manis dibibirnya saat bersama dengan Arthur.
Tak lama suara derap kaki seseorang mendekati ruangan Tabitha dan seketika pintu terbuka menampilkan Alexander.
" Boss"
Arthur bangkit dari duduknya dan mendekati Alexander.
" Sudah sampai?"
" Ya boss"
Arthur membalikkan tubuhnya menghadap Tabitha dan orangtuanya bergantian.
" Jet nya sudah datang" lapor Arthur.
Mereka pun bersiap lalu keluar bersama menaiki mobil terlebih dahulu dan mobil itu pun melaju ke tempat jet itu berada yakni di tempat Thomas.
Setelah mobil sampai, Arthur menuntun Tabitha menuruni mobil dan memapah tubuh sang istri menaiki jet pribadinya sedangkan Artha masih didalam gendongan Grandma nya.
" Aku ingin bicara dulu pada temanku diluar"
" Lama?"
" Tidak, sebentar"
" Oke"
Arthur membalikkan tubuhnya menghadap Brian.
" Siapkan mesin jet nya"
" Aku yang jadi pilotnya?"
" Ya"
" What!!"
" Diamlah"
Brian mengerucutkan bibirnya kesal sedangkan Tabitha hanya terkekeh geli melihat dua sahabat itu.
Arthur turun terlebih dahulu dan menghampiri Thomas. Setelah sampai dihadapan Thomas, Arthur mengulurkan tangannya disambut cepat oleh Thomas.
" Thanks kau sudah menolongku"
" Tidak masalah Arthur"
" Sekali lagi aku sangat berterimakasih"
" Itu tidak seberapa dibanding pertolonganmu padaku selama ini Arthur"
" Baiklah, aku pamit"
" Ya, hati-hati dan selamat atas kelahiran putramu"
Arthur menyunggingkan senyum tipis dibibirnya dan kembali mengulurkan tangannya lalu disambut oleh Thomas.
Setelah itu Arthur kembali kedalam jet pribadinya, sebelum keruang pribadi Arthur terlebih dahulu melihat kearah kemudi.
" Sudah?"
" Ya" jawab Alexander dan Brian bersama.
" Bagus"
Arthur membalikkan tubuhnya dan berjalan kebagian tengah jet itu yang berbentuk sebuah ruangan dengan beberapa kursi mewah dan meja yang tersedia disana, dan dibelakang adalah tempat istirahat untuk Arthur, didalam sana sudah ada ranjang queen size dengan berbagai keperluan Arthur termasuk walk in closet mini.
Arthur menjalankan kakinya kearah ruang tengah mendapati kedua orang tua Tabitha yang tengah menikmati hidangan yang disipkan oleh bodyguard Arthur.
" Dimana Tabitha?" Tanya Arthur dengan memasukkan satu tangannya, terlihat angkuh.
" Dia ada diruang pribadimu, katanya ingin menidurkan Artha sebentar" jawab Jonathan seraya menggigit satu buah apel.
" Baiklah, kalian nikmati saja dulu perjalanannya"
" Tentu"
Arthur menganggukan kepalanya dan berjalan menuju ruang pribadinya.
" Dia terlihat sangat angkuh" lapor Renata.
" Wajar, dia seorang milyader ternama"
" Tapi tak perlu bertingkah seperti itu"
" Kurasa dia tak akan bertingkah begitu jika didepan putri kita"
" Maksudmu?"
" Putri kita adalah kelemahannya"
" Ya, semoga apa yang kau bicarakan benar"
Jonathan menatap istrinya yang terlihat khawatir, ia pun menggenggam tangan kanan Renata.
" Dengar, aku yakin Tata bahagia bersama Arthur. Kau lihat kan tadi di rumah sakit Tata selalu tersenyum"
" Ya kurasa begitu" Renata berucap lemas dan menghela napasnya.
" Sudah jangan pikirkan, nikmati saja hidangannya"
Renata mengangguk lemah dan ia pun mulai menikmati hidangan yang disiapkan pria dengan jas hitam dan tubuh kekar yang berdiri tak jauh dari duduknya.
Ditempat lain Arthur membuka ruang pribadinya sedikit pelan, takut mengganggu Artha yang sedang tidur.
__ADS_1
Saat Arthur sudah membuka pintu ruangan itu, terlihatlah sang istri yang sedang membaringkan tubuh Artha perlahan diatas ranjang queen size didalamnya. Arthur menggerakkan kakinya mendekati Tabitha.
" Dia sudah tidur?"
" Ya, baru saja"
" Bagus"
" Memangnya kenapa?"
" Tidak"
Arthur membaringkan perlahan tubuhnya mendekati Artha yang masih tenang di alam tidurnya.
" Apa dia merepotkanmu?"
" Aku sama sekali tak merasa direpotkan Arthur."
Pria itu mendudukan tubuhnya dan menuntun tubuh Tabitha untuk duduk disampingnya.
" Aku bersyukur kau kembali padaku"
" Aku juga"
Arthur menatap lekat wajah Tabitha sedangkan wanita itu terlihat merona dengan tatapan Arthur yang tajam.
" Em, Arthur aku ingin bertanya" cicit Tabitha.
" Katakan"
" Bagaimana Regnarok?"
" Sudah kembali padaku"
" Serius?"
" Alexander disini, kau mengerti kan maksudku?"
" Syukurlah, lalu bagaimana dengan Dominic?"
Arthur menghela napasnya saat Tabitha menyinggung masalah Dominic.
" Dia sudah mati"
" Jadi suara tembakan itu?"
" Ya, itu aku yang menembaknya"
" Tapi bukanya senjatamu sudah dilucuti?"
" Aku menyimpan pistol disepatuku"
" Jadi?"
" Setelah Dominic menyuruh anak buahnya untuk mendorongmu aku langsung melepas peluruku"
" Dan itu mengenainya?"
" Ya"
Tabitha kembali menghela napasnya.
" Apa kau jujur pada orang tuaku tentang kecelakaan yang menimpaku?"
" Tidak, aku hanya bilang kau jatuh dari tangga"
" Bagus, satu hal lagi Arthur"
" Apa?"
" Sejak kapan kau tau Dominic adalah adikmu?"
" Kau ingat saat aku mengatakan orang tuaku yang dibunuh?"
" Ya"
" Ibu dan paman Dominic lah pelakunya"
" Apa!"
" Ya, mereka pelakunya."
" Tapi kau yang membunuhnya?"
" Pamanku membawaku dan memperkenalkan ku pada Regnarok, dia membeberkan bahwa ibu Dominic lah yang membunuh orang tuaku. Sebab itu aku membunuh mereka"
" Aku tau, tapi kenapa? Apa yang terjadi sampai ibu Dominic membunuh orang tuamu?"
" Dendam"
" Dendam?"
" Ya, Daddy ku melakukan kebodohan dengan menjalin hubungan dengan wanita ****** hingga menghadirkan Dominic. Tapi saat ibu Dominic meminta tanggung jawab Daddy mengabaikannya dan hanya memberi fasilitas saja"
" Lalu?"
" Anak itu adalah Dominic?"
" Ya, aku membencinya! Karena dia adalah aib dari Daddy ku, aku megerahkan seluruh pasukanku untuk melacaknya tapi hasilnya nihil"
" Dominic menghilang?"
" Ya, dan sebenarnya aku sedikit menyesal atas apa yang kulakukan. Seharusnya aku tak membencinya, jadi aku mencarinya untuk menjalin hubungan lagi walaupun aku tau itu sedikit mustahil"
" Dan benar, dia datang hanya untuk mengambil alih Regnarok" lanjut Arthur dengan menggenggam tangannya sendiri.
" Jadi dia_"
" Dia terobsesi pada Reganarok dan aku menolaknya dan ternyata dia menyamar sebagai The King untuk merencanakan semua ini"
Tabitha memeluk Arthur berusaha menenangkan pria nya.
" Aku tau, selama ini kau hidup dalam penderitaan Arthur. Sekarang tidak lagi"
" Ya, karena ada kau"
Cukup lama mereka berpelukan, akhirnya Tabitha melepaskan pelukannya dan menatap Arthur.
" Sudah"
" Apa?"
" Sekarang kita harus singkirkan dulu bulu-bulu itu"
" Jadi kau masih mengingatnya?"
" Ya, buang wajah masam mu, ikut aku" titah Tabitha.
" Kemana?"
" Diamlah"
Tabitha menarik pelan tubuh Arthur memasuki kamar mandi dan mendudukan tubuh itu ke closet duduk. Tabitha mendekati tempat sabun dan memeriksa satu persatu sabun disana.
" Dimana krim nya?"
" Disamping shampo" ujar Arthur menunjuk botol krim.
Tabitha mengulas senyum, ia mengambil krim dan alat cukur. Setelah dapat ia kembali menghadap Arthur. Wanita itu duduk dipangkuan Arthur dan menatap krim dan alat cukurnya silih berganti dengan tatapan bingung.
" Ada apa?" Tanya Arthur yang mengerti dengan tatapan Tabitha.
" Bagaimana caranya?"
" Apa!"
" Em, sebenarnya aku tak pernah melihat orang mencukur kumisnya jadi aku tak tau" ucap Tabitha dengan senyum yang mengembang.
" Serius kau tak tau cara kerjanya?" Tanya Arthur masih tak percaya diikuti anggukan pelan dari Tabitha.
" Baiklah sini" Arthur meraih krim dan alat cukur itu dari tangan Tabitha, lalu ia membasahi dulu rahangnya.
" Pertama, kau harus basahi dulu rahang atau bagian atas bibirmu"
" Lalu?" Tanya Tabitha bersemangat.
" Kau oleskan krim nya"
" Biar aku saja" ucap Tabitha merebut krim itu dari tangan Arthur.
Arthur hanya tersenyum simpul dan membirkan istrinya mengoleskan krim itu dirahang tegasnya.
Jari Tabitha bergerak lembut meratakan krim itu sedangkan Arthur, entahlah pria itu merasa biadab karena dengan sendirinya tubuhnya panas hanya karena sentuhan Tabitha.
" Kendalikan dirimu Mr. De Lavega" ucap Tabitha dengan nada menggoda.
" Kendalikan juga jarimu
Ms. De Lavega"
" Sure" Tabitha terkekeh geli dengan wajah Arthur yang merah padam.
" Kau sangat nakal wife"
" Diam! Lalu sekarang bagaimana?"
" Tinggal kau cukur saja"
" Serius ini mudah"
__ADS_1
" Maka dari itu aku bingung kau tak tau cara memakainya, bukanya kau juga pernah memakai alat ini?" Tanya Arthur menaik turunkan alisnya silih berganti, Tabitha yang paham maksud Arthur langsung memukul bahu pria dihadapannya.
" Pervert!"
Arthur hanya terkekeh dengan tindakan istrinya, dan jangan lupakan kedua pipinya yang mulai merona.
Tabitha mulai membersihkan bulu dirahang Arthur, sedangkan Arthur hanya diam menatap wajah Tabitha.
" Jaga matamu Mr. De Lavega"
" Kenapa?" Tanya Arthur terdengar tak jelas karena ia berusaha tidak menggerakkan bibirnya.
" Kau!"
Arthur mengulas senyum tipis, Tabitha pun melakukan hal yang sama, hingga seperempat krim sudah hilang terdengar tangisan bayi, Tabitha sontak menghentikan tangannya dan menatap kearah pintu kamar mandi.
" Artha bangun"
" Jadi?"
" Aku harus pergi" Tabitha bangkit dari duduknya dan mendekati wastafel, mencuci tangannya sedangkan Arthur masih menatapnya dengan tatapan tak percaya.
" Kau akan meninggalkanku?"
" Dia bangun Arthur"
" Tapi aku belum selesai"
" Kau bisa melakukannya sendiri"
" Tapi kau yang tadi ingin membersihkannya"
" Ya, tapi itu tadi sebelum Artha bangun" ujar Tabitha seraya melap tangan nya.
" Aku harus menenangkannya" ujar Tabitha lalu mencium kening Arthur.
" Maafkan aku honey" ujar Tabitha lagi lalu melenggang pergi dari hadapan Arthur.
Arthur berdecak sedikit kesal, namun dia akhirnya mulai sadar, Tabitha menyebutnya honey?
Damn! Arthur mengulas senyum manis, pasalnya ini pertama kalinya Tabitha memanggil panggilan semanis itu padanya, sial pipinya memanas.
Arthur melanjutkan aktifitasnya dengan senyum yang masih mengembang jika mengingat ucapan Tabitha tadi.
Setelah selesai Arthur keluar dari kamar mandi dengan tampilan yang lebih segar dan tentunya menambah kharisma pria itu.
" Sudah selesai?"
" Ya" ucap Arthur singkat.
" Kau tampak lebih tampan"
" Aku tau"
Arthur berjalan mendekati Tabitha merebahkan tubuh nya disamping sang istri yang sedang menyusui Artha.
" Dia tidur lagi?"
" Ya"
" Sepertinya dia memang sengaja mengganggu kita" ucap Arthur lalu meletakkan lengan kanannya sebagai bantal.
" Diam" peringat Tabitha tajam.
" Oke, maaf"
Tabitha bangkit dan merapihkan bajunya lalu memutari ranjang dan duduk disamping Arthur menggenggam tangan besar pria itu.
" Dengar, ada ataupun tidak ada Artha, kau tetap akan menjadi orang yang kucintai"
" Terbagi dengan Artha"
" Astaga, kau cemburu?" Dengan nada bicara mengejek.
" Sedikit" balas Arthur sedikit merajuk.
" Arthur kau sadar kan? Dia putramu"
" Ya, aku tau"
Arthur duduk dan menatap sang istri.
" Aku hanya takut kau tak memperhatikanku lagi"
" Tak akan terjadi Arthur"
" Serius?"
" Aku tak akan melupakanmu"
Arthur membimbing tubuh sang istri dan membawanya kedalam dekapan hangatnya.
" Aku mencintaimu" ucap Tabitha.
" Aku tau"
" Kau memberitahu Diana?"
" Tidak, tapi mungkin Brian sudah"
" Ah iya, mungkin"
Arthur membelai pelan surai sang istri lembut lalu ia pun melepaskan pelukannya.
" Kapan kita sampai?"
" Agak lama"
" Bagus, aku ingin tidur" ujar Tabitha lalu memutari ranjang dan merebahkan tubuhnya miring menelingkupi Artha lalu memejamkan matanya.
" Kau akan bangun lagi kan?" Tanya Arthur dengan raut khawatir.
" Aku pasti bangun, jangan khawatir begitu" ujar Tabitha tanpa membuka matanya.
" Aku hanya_"
" Takut?" Sela Tabitha cepat.
" Ya"
" Kau terlalu mencintaiku?"
" Kau dan Artha adalah harta terakhir yang aku miliki sekarang, jadi wajar kan jika aku takut kehilanganmu"
Arthur ikut membaringkan tubuhnya menatap Tabitha dengan posisi yang sama.
" Kau tau, saat aku koma. Aku mendengar teriakanmu"
" Serius?"
" Ya, dan aku juga dengar kau menagih janjimu"
" Lalu kenapa kau tak bangun?"
" Aku bingung, tempat itu indah dan jujur aku tak ingin pergi dari sana."
" Jadi kau memang berniat meninggalkanku?"
" Bukan begitu, tapi ada seorang anak kecil. Sangat tampan mendatangiku, memanggilku dengan sebutan Mommy lalu menangis mencegahku pergi"
" Kau_"
" Aku menurutinya dan akhirnya aku sadar"
" Artinya kau memang mendengar apa yang terjadi selama kau koma?"
" Iya"
" Ryan benar, kau masih mendengar walaupun matamu terpejam"
" Aku bersyukur bisa bersamamu kembali Arthur"
" Aku juga"
" Aku sangat bahagia" Tabitha mengulas senyum dibibirnya begitupun Arthur.
" Saat Brian bilang kau sudah tiada, aku tak bisa bernapas Ta"
" Dadaku sesak dan aku serasa mati disana, aku takut. Sangat takut kau akan pergi sama seperti orang tuaku, oleh karena itu aku menangis saat itu" tutur Arthur pelan.
" Sudahlah, sekarang kan aku disini"
" Ya, dan kau tidak akan pergi lagi" Ujar Arthur menggapai tangan sang istri, menggenggamnya erat meletakkannya ditengah tepat diatas kepala Artha.
" Kalian adalah duniaku"
" Kau dan Artha" lanjut Arthur perlahan.
To Be Continue...
Vote Please...
Arthur De Lavega
Tabitha De Lavega
__ADS_1
Artha Leonardo De Lavega