
" Kau baru mengetahuinya?"
" Jadi_"
" Baiklah, selamat kalau begitu. Kau akan jadi seorang ayah, akan ada yang memanggilmu Daddy" ujar Ryan dengan nada gembira berbanding terbalik dengan ekpresi Arthur ia terkejut bahkan cenderung tidak percaya. Ia bahagia sekarang namun kilasan mengenai istrinya dan Clark membuat kebahagiaannya sirna begitu saja.
" Berapa usia kandungannya?"
" Dua minggu Arthur"
" Baiklah" ujar Arthur tertahan bahkan tanganya sudah mengepal sempurna.
" Usia kandungannya masih sangat rentan, kau harus menjaganya." Ucap Ryan dibalas anggukan oleh Arthur.
" Baiklah aku pergi dulu"
" Terimakasih"
" Jaga dia baik-baik"
" Tentu" ujar Arthur tersenyum manis walau tersembunyi sesuatu yang besar dalam dirinya yang akan keluar sebentar lagi.
Setelah Ryan keluar dari mansion, Arthur dengan cepat memasuki kamar tamu yang sudah ada Tabitha disana. Ia membuka pintunya dan terlihatlah istrinya yang sedang membelai lembut perutnya dan juga Brian yang berdiri dihadapannya.
" Keluarlah Brian" ujar Arthur dengan suara yang sangat menyeramkan.
" Kau mau apa?"
" Jangan banyak bicara keluarlah Brian!" Sentak Arthur.
" Brian aku takut" lirih Tabitha saat mendengar sentak kan Arthur.
" Jangan takut, aku ada di luar kamar" ujar Brian mendekati Tabitha berharap wanita itu kuat menghadapi sisi lain Arthur, Brian paham dengan tatapan Arthur kali ini, tatapan kekejaman pria itu yang selalu ia gunakan saat melihat musuh-musuhnya kini terlihat sedang menatap istrinya sendiri.
" Jangan sakiti dia Arthur!" Peringat Brian saat sudah berhadapan dengan Arthur.
Setelah Brian keluar dari kamar, Arthur dengan cepat mengunci kamar itu. Ia mendekati Tabitha yang memeluk erat perutnya seakan melindungi bayinya.
" Kau hamil?"
" Kau sudah mengetahuinya" ujar Tabitha dengan nada bergetar.
" Anak siapa?" Tabitha mendongakan kepalanya saat mendengar pertanyaan Arthur.
" Apa maksudmu?"
" Aku bertanya anak siapa itu?"
" Ini anakmu!"
" Ck"
" Kau meragukannya?"
" Pasti, setelah apa yang kau lakukan dengan bedebah itu."
" Arthur ini anakmu!"
" Kita tes DNA"
" Tidak! Itu akan membahayakannya"
" Kau hamil anak siapa Tabitha!"
" Arthur ini anakmu!"
" Kau menyebut anak sialan itu adalah milikku?"
Tabitha melebarkan matanya ia tak terima saat bayinya disebut sebagai anak sialan. Ia berdiri dari duduknya dan menampar Arthur.
" Kau brengsek Arthur!"
" Kau menamparku? Seharusnya aku yang melakukan itu!"
" Terserah kau mau lakukan apa! Terserah kau menghinaku seperti apa! Tapi tidak jika kau menghina bayiku Arthur!" Sentak Tabitha berapi-api dengan air mata yang kembali tumpah ruah.
" Bayi itu_"
" Jangan berbicara hal buruk lagi tentang anakku!" Sela Tabitha.
" Aku bersumpah, satu-satunya pria yang menyentuhku selama hidupku hanya kau Arthur suamiku sendiri!"
" Jangan bermain-main dengan sumpah Tabitha!"
" Terserah! Kau melampaui batasmu Arthur!"
" Kau sendiri yang membuatku begini! Jika saja kau tidak bersama bedebah itu aku akan sangat bahagia dan suka rela mendengar kabar ini. Tapi tidak sekarang!"
" Terserah kau mau bicara apa Arthur aku tidak peduli"
" Memang yang kau pedulikan hanya kekasih gelapmu saja bukan?" Tabitha mendudukan dirinya di tepi ranjang, ia lelah berdebat seperti ini dengan Arthur.
" Dokter Ryan bilang usianya dua minggu, dan scandal yang kau buat dengan bedebah itu juga dua minggu yang lalu! Jadi haruskah aku percaya itu anakku?"
" ARTHUR HENTIKAN!"
" Kau menyakitiku Tabitha!"
" ARTHUR!"
__ADS_1
" Sekarang pilihannya hanya satu"
" Apa?"
" Gugurkan bayi itu!" Tabitha menggelengkan kepalanya, suaminya kah yang mengatakan akan membunuh anaknya sendiri.
" CUKUP ARTHUR KAU KETERLALUAN!"
" Mak_"
" Biarkan aku bicara dulu" sela Tabitha.
" Kau tak menginginkan anak ini bukan? Baiklah itu pilihanmu tapi jangan minta aku untuk mengugurkan anak ini"
" Dia hanya anak ku, kau tidak mengakuinya bukan? Baiklah jadi kau tidak berhak mengatur seluruh pilihan yang aku buat untuk anak ini!" Sentak Tabitha sedangkan Arthur hanya diam sebagai tanggapannya.
" Aku lelah, selama dua minggu ini kau perlakukan aku seolah-olah aku adalah seorang ******"
" Meman_"
" DIAM DULU!"
" Selama itu aku berusaha untuk memperbaiki hubungan kita, tapi kau malah seenaknya membawa jalangmu kesini! Kau gila Arthur!"
" Ya memang dan itu karena mu!"
Tabitha mendongakkan kepalanya menatap manik biru terang Arthur, wanita itu menggeram ia tak bisa diam saja seperti ini. Tabitha berjalan mendekati Arthur lalu ia kembali menatap wajah suaminya.
" Kita sudahi saja semua ini"
" Apa maksudmu?"
" Segeralah urus perpisahan kita!"
Arthur membeku ditempatnya, ia sungguh tak percaya Tabitha akan berbicara itu padanya.
" Kau tidak bisa berpisah dariku dengan keadaan hamil Tabitha"
" Bukankah kau sendiri yang bilang kalau ini bukan bayimu? Maka aku akan pergi menjauhkanmu dari bayi ini"
" Biarkan dia tidak mengetahui ayahnya, dari pada dia memiliki ayah yang kejam seperti dirimu Arthur!"
" Tabitha jaga ucapanmu!"
" ITU KENYATAANYA! KAU KEJAM! AYAH MANA YANG TEGA BERNIAT MEMBUNUH ANAKNYA SENDIRI!" Teriak Tabitha.
" Kau!"
" Apa? Kau ingin menamparku? Bunuh saja aku beserta bayi ini agar kau puas Arthur."
" TABITHA!"
" Pergilah bersenang-senang lah dengan jalangmu! Aku akan berjuang sendiri demi bayi ini."
" KAU YANG KELEWAT BATAS ARTHUR! AKU MEMBENCIMU" teriak Tabitha dengan tangis yang meraung. Ia menutup wajahnya dengan telapak tanganya, ia tak sanggup jika terus tersiksa begini dengan Arthur.
" Aku ingin sekali menyakitimu Tabitha, tapi aku tak bisa. Aku terlalu mencintaimu! Dan itulah kebodohanku" ujar Arthur lalu membuka kunci pintu dan keluar.
Tabitha kembali menangis sesegukan, ia merenungi nasibnya. Ia tak ingin kehilangan bayinya dan itu hanya bisa ia lakukan saat ia berjauhan dengan Arthur.
🔫🔫🔫
Arthur mengemudikan mobilnya dengan sangat cepat, ia sesekali memukul stir mobil. Tujuannya adalah menumpahkan semua kemarahanya dan itu hanya ia dapat di markas.
Setelah sampai pria itu dengan cepat keluar dari mobilnya lalu berjalan dengan aura kegelapan menyertainya. Saat memasuki markas Arthur bertemu Alexander.
" Minta semua anak buah menemuiku di halaman"
" Baik tuan"
Alexander segera meminta semua anggota Regnarok untuk menemui tuan nya. Ia tau Arthur sedang diliputi kemarahan dan jika tebakannya benar maka anak buahnya lah yang akan jadi pelampiasan kemarahan pria itu.
" MAJU LAWAN AKU" teriak Arthur sedangkan anak buahnya hanya diam ditempat, yang benar saja melawan Arthur sama saja dengan berjalan menuju kematian.
" AYO SERANG AKU!" Tak ada jawaban. Semua orang membeku disana.
" Serang aku jika tidak akulah yang menyerang kalian!" Desis Arthur bahkan pria itu sudah melepas jas nya hanya menyisakkan celana kain dan kemeja yang sudah digulung sampai siku.
" Turuti kemauan boss" perintah Alexander.
Dengan segan anak buah Arthur yang berjumlah 30 orang menyerang Arthur dengan membabi buta. Pria itu terlihat sangat gesit, memukul menendang bahkan sesekali menghadiahi anak buahnya bogeman mentah di wajah atau perut mereka.
Arthur menahan kaki salah satu anak buahnya yang hendak menendangnya, pria itu dengan cepat menarik kaki itu lalu melayangkan tubuh si empunya ke arah anak buahnya sampai anak buahnya terjatuh tersungkur menahan sakit.
Arthur memukuli anak buahnya dengan membabi buta. Satu lawan tiga puluh, tapi Arthur dengan mudah menyelesaikannya, ia memang dalam mode kejamnya dan ia berharap semoga itu cepat selesai karena jika diteruskan lebih lama lagi mungkin anak buahnya akan mati mengenaskan.
Arthur memukul satu diantara mereka dan yang lainnya berusaha memukuli badan tegap Arthur, tapi Arthur tak bergeming setelah selesai memukul mangsanya yang tak berdaya, Arthur kembali menenggakkan badanya meninju beberapa anak buahnya sampai terjatuh meringis kesakitan. Setelah itu semua selesai Arthur memejamkan matanya menetralisir kemarahannya agar reda. Saat ia membuka mata hal pertama yang ia lihat adalah seluruh anak buahnya terkapar tak berdaya.
" Bawa mereka kerumah sakit, beri kompensasi" ujar Arthur dingin pada Alexander.
" Baik boss"
Arthur berjalan memasuki kamar pribadinya di Markas, pria itu memang sudah meredam kemarahannya namun ia tak bisa menemui Tabitha langsung dengan keadaan seperti sekarang, ia takut kelepasan. Akhirnya ia memutuskan untuk menginap semalam di markasnya.
🔫🔫🔫
Tabitha bergegas mencari Brian, dan ia pun menemukan pria itu duduk di sofa ruang tengah.
" Brian tolong aku"
__ADS_1
" Tabitha, duduklah ada apa?"
" Bawa aku pergi dari sini Brian"
" Tapi Tabitha itu bukan keputusan yang bijak, kau tidak bisa lari dari masalahmu"
" Arthur ingin membunuh bayi ini"
" Apa!"
" Kumohon selamatkan kami Brian, jauhkan aku dari Arthur saat ini"
" Baiklah, kau ingin kemana sekarang?"
" Aku tak tau"
" Kau ingin pulang ke Indonesia?"
" Jangan, kalau aku disana Arthur pasti akan berbuat macam-macam pada keluargaku, lagi pula aku tak ingin masalahku didengar orang tuaku"
" Baiklah"
" Bagaimana kalau di mansion Arthur di Porto Venere?"
" Disana juga ada anak buah Arthur Ta, mereka pasti akan memberitahu Arthur keberadaanmu"
" Kita bisa membungkam mulut mereka dengan uang"
" Percuma, mereka setia pada Arthur Tabitha"
" Lalu aku harus kemana? Aku tak bisa diam saja disini Brian. "
" Hanya satu tempat yang paling Arthur benci dan ia paling tidak suka mendatanginya"
" Dimana?"
" Macau"
" Macau? Tapi kenapa di Macau?"
" Arthur membenci musuhnya termasuk Damian jadi dimana pun musuhnya berada Arthur paling anti menginjakan kakinya ke negara dimana musuhnya juga ada disana"
" Baiklah aku setuju"
" Tapi kita harus pergi diam-diam"
" Ya"
" Apa kau yakin ini keputusan yang tepat Ta?"
" Aku hanya berusaha melindungi bayiku"
" Baiklah"
" Terimakasih Brian"
" Sama-sama"
" Kapan kita akan berangkat?"
" Mungkin siang ini, setelah Arthur pergi ke kantor"
" Kenapa tidak malam ini?"
" Arthur pergi ke Markas dan ia menginap disana, Alexander yang memberitahuku. Otomatis ia sudah mengawasi mansion ini Tabitha"
" Apa?"
" Jika kau tidak percaya lihatlah keluar kau akan menemukan bodyguard Arthur di pagar mansion"
" Apa dia berniat mengurungku?"
" Sepertinya begitu"
" Lalu bagaimana dengan kepergianku besok?"
" Akan kusiapkan, aku akan mengecoh Arthur dan Alexander sehingga mereka tidak mengetahui kepergianmu"
" Terimakasih banyak Brian"
" Tudurlah, ini sudah malam. Ingat kau tidak lagi sendiri"
" Iya, sekali lagi terimakasih"
" Sama-sama"
Tabitha melenggang pergi meninggalkan Brian, wanita itu berjalan dengan lunglai menuju kamarnya. Berat rasanya meninggalkan Arthur disini. Tapi jika dia tetap disini keselamatan bayinya menjadi taruhannya.
Ia menghela napasnya lalu merebahkan tubuhnya keranjang dan mulai menggapai mimpi.
" Good night husband" gumam Tabitha diikuti tetesan air matanya.
To Be Continue...
Vote Please...
Arthur De Lavega
__ADS_1
Tabitha De Lavega