
Tabitha membelai pelan perutnya yang sudah membesar, wanita itu tersenyum bahagia saat merasakan pergerakan dari bayi nya yang semakin aktif. Ia bahkan bisa meletakkan cemilan diatas perutnya itu. Tabitha tak sabar untuk segera bertemu dan menggendong bayi nya.
Arthur membuka pintu kamarnya, pria itu mengulas senyum tipis saat mendapti istrinya yang terlihat bahagia dengan kehamilannya. Arthur duduk disofa tepat dibelakang sang istri. Tabitha sedikit tersentak karena gerakan Arthur namun dia hanya memegang dadanya.
" Maaf mengagetkanmu"
" Ya, tak apa"
Arthur meraih laptop diatas meja didepannya, ia memangku laptop itu dan memakai kacamata anti radiasinya, ia pun terfokus pada pekerjaan nya. Memang perusahaannya ada sedikit masalah karena salah satu manager nya membawa uang perusahaan tapi Arthur berusaha untuk memulihkan kembali keuangan perusahaanya.
" Sst..." Tabitha berdesis.
" Hai ada apa?" Arthur panik saat mendengar desisan Tabitha. Ia segera menutup laptopnya dan berpindah duduk berlutut di depan Tabitha.
" Bayi nya"
" Ada apa dengan bayi nya?" Tanya Arthur seraya meletakkan satu tanganya diperut buncit sang istri.
" Dia menendang"
" Really?" Arthur mengangkat kedua alisnya, entahlah ia merasa jantungnya berdetak dua kali lebih kencang. Tabitha hanya membalas pertanyaan Arthur dengan anggukan pelan.
Arthur mendekatkan telinganya keperut Tabitha. Ia mendengar pergerakan didalam sana, Arthur membeku ia sangat bahagia sekarang seketika permasalahannya hilang yang ada dipikirannya hanya kebanggaan dan sebuah rasa yang tidak bisa diungkapkan. Tabitha membelai surai Arthur, wanita itu tersenyum lembut.
" Dia sangat aktif"
" Ah ya?"
" Ya"
" Tentu, dia putraku"
" Dia juga putraku"
" Dia putra kita" ucap Arthur dengan senyum menawannya.
" Arthur, aku ingin berbelanja untuk keperluannya"
Arthur berdiri dan mendudukan tubuhnya kembali disamping sang istri dan menatapnya lekat.
" Kau bisa berbelanja dulu dengan Alexander, aku sedang sedikit ada masalah. Tapi aku berjanji setelah masalah ini selesai aku akan mengantarkanmu berbelanja sepuasnya"
" Huft, baiklah tapi kau janji yah"
" Aku janji"
Arthur mengacak-acak rambut Tabitha gemas. Ia kembali memeriksa dokumen-dokumen hingga dering ponsel Arthur membuat Arthur berdecak.
" Angkat dulu, siapa tau penting"
" Aku sedang sibuk"
" Arthur, kasian dia"
" Oke"
Arthur meraih ponsel disaku jas nya dan terpampanglah nama sang asisten.
" Ya Brian?"
" Arthur klien kita ingin mengadakan meeting penting, sepertinya mereka mengetahui masalah kita"
" Kau tak bisa menanganinya?"
" Aku sudah mencoba, tapi mereka tetap meminta untuk bertemu denganmu"
" Tunggu, 15 menit aku sampai"
" Baiklah"
Arthur mematikan sambungan teleponnya, ia menatap sang istri dan melepas kacamatanya.
" Aku harus pergi"
" Kemana?"
" Kantor"
" Ada masalah?"
" Sedikit tapi aku bisa menanganinya"
" Baiklah, jangan lama-lama kami menunggu mu" ujar Tabitha dengan mengelus perutnya.
" Tentu" Arthur menjawab dengan senyum yang mengembang.
Ia membungkuk kan tubuhnya untuk mencium perut sang istri, dan terakhir ia mengecup pipi kanan Tabitha.
" Aku pergi"
" Hati-hati"
Arthur menganggukan kepalanya dan ia pun melenggang keluar dari kamar.
🔫🔫🔫
Tabitha berjalan dengan santai, ia dan Diana sedang mencari keperluan untuk calon bayi nya.
" Kita mau kemana dulu Ta?"
" Kita ke baby stroller dulu"
" Oke"
Diana dan Tabitha berjalan dengan senyum yang mengembang, mereka memilih baby stroller untuk calon anak Tabitha.
" Ini bagus" ujar Diana menunjuk baby stroller berwarna navy.
" Warnanya aku tak suka"
" Oke, bagaimana dengan ini?" Diana kembali memberi pilihan dengan menunjuk baby stroller berwarna hitam.
" Bagus, aku pilih itu"
" Apa Brian sudah melamarmu?" Tanya Tabitha.
" Aku yang belum mau"
" Kenapa?"
" Aku ingin mengejar karir ku dulu"
" Baiklah, aku hanya memberi saran. Brian pria baik dia pasti bisa membuatmu bahagia"
" Tentu, aku ingin bayar dulu. Kau disini saja ya, kalau ada apa-apa panggil aku"
" Oke"
Diana mendudukan Tabitha disebuah kursi pengunjung, Diana pun melenggang pergi sedangkan Tabitha ia memilih untuk memainkan ponselnya. Tak lama seseorang mengambil ponsel dari genggaman wanita itu. Tabitha ingin mengejar namun ia ingat keadaannya sekarang.
" Tolong! Pencuri!!" Teriak Tabitha.
Diana yang mendengar teriakan sahabatnya langsung menghampiri Tabitha. Sedangkan pengunjung lain berupaya untuk menangkap si pencuri.
" Ta, ada apa?"
" Ponsel ku dicuri"
" Apa!"
" Bagaimana ini?"
" Kita hubungi pihak keamanan"
" Ayo kesana"
Diana menggiring Tabitha namun suara deheman seseorang menghentikan mereka. Tabitha membalikkan tubuhnya begitupun dengan Diana.
" Maaf nyonya, kau yang tadi dicuri ponselnya?" Ucap seorang gadis yang terlihat dengan dandanan yang sangat miris.
" Ya, kau menangkapnya?"
" Ya"
" Terimakasih banyak"
" Dimana sekarang pencuri nya?" Tanya Diana.
" Dia, sudah diamankan oleh pihak keamanan nyonya"
" Sekali lagi terimakasih"
" Baiklah, saya pergi dulu"
" Tunggu" Tabitha menghentikan langkah gadis itu. Ia mendekati gadis itu.
" Kau sendirian?"
" Ya"
" Maaf sebelumnya, tapi kalau boleh saya tau mengapa dandananmu begini?"
" Saya sedang mencari pekerjaan dari tadi pagi, oleh karena itu dandananku berantakan."
" Kau mencari pekerjaan?"
__ADS_1
" Ya"
" Kalau begitu datanglah ke mansion De Lavega"
" Maksud anda?"
" Apa kau mau bekerja apapun?"
" Ya, saya sangat membutuhkan pekerjaan untuk kelangsungan hidup adik-adik saya"
" Memangnya dimana orang tuamu?"
" Orang tua saya sudah tiada sejak saya berumur 12 tahun"
" Jika kau jadi Maid apa kau bersedia?"
" Tentu nyonya"
" Baiklah siapa namamu?"
" Aku Layla"
" Baiklah Layla, aku Tabitha"
" Ya Tuhan, kau istri Arthur De Lavega?" Tanya Layla bersemangat dan dibalas anggukan dari Tabitha.
" Ya, dan kau bisa datang kesana"
" Pasti nyonya, aku akan datang kesana sekali lagi terimakasih"
" Baiklah, aku pergi dulu"
Tabitha melenggang mendekati Diana dan mereka pun pulang ke mansion.
🔫🔫🔫
Tabitha turun dari mobil Diana, ia langsung berjalan perlahan memasuki pekarangan mansion, dari sana banyak bodyguard yang menundukkan tubuhnya tanda hormat pada nyonya besar De Lavega. Tabitha hanya membalas dengan senyum manis, wanita itu memasuki mansion dan mendudukan tubuhnya disofa tak lama beberapa bodyguard membawa barang belanjaan nya masuk.
Tak lama Arthur datang, ia mengedarkan pandangannya mencari sosok Tabitha. Ia menemukan wanita yang dicintainya tengah menonton Tv di ruang keluarga, Arthur segera menghampiri wanita itu dan langsung menghadiahi nya dengan kecupan lembut dipipi kanan nya.
" Arthur!" Peringat Tabitha dengan memukul pelan lengan Arthur.
" Maaf"
Arthur memutari sofa seraya melepas jas nya dan menggulung lengan kemeja nya sampai siku. Ia pun duduk disamping Tabitha.
" Bagaimana belanja nya?"
" Baik, hanya saja tadi ponsel ku hampir dicuri"
" Apa!"
" Ya, tapi untunglah ada seorang gadis yang mengembalikan ponselku"
" Tapi kau tak apa kan?" Tanya Arthur dengan nada khawatir.
" Aku tak apa"
" Bagus"
" Tapi Arthur, aku kasihan padanya jadi aku memberikannya pekerjaan untuk menjadi maid disini"
" Lalu?"
" Kau setuju kan?"
" Ya, terserah apapun mau mu. Asalkan gadis itu memang baik"
" Dia sepertinya baik"
" Baiklah"
" Bagaimana dengan urusan kantor?"
" Sudah kuselesaikan"
" Bagus"
" Yasudah aku ingin mandi"
" Perlu ku siapkan air hangat?"
" Tidak"
" Oke"
🔫🔫🔫
Esok paginya seseorang mengetuk pintu kamar Tabitha, Wanita itu membuka matanya dan melirik kearah Arthur yang masih terlelap. Ia mendudukan tubuhnya dan menyingkap pelan selimutnya.
" Ada apa?" Tanya Tabitha saat membuka pintu dan mendapati seorang maid disana.
" Maaf nyonya, tapi ada seseorang yang mencarimu"
" Siapa?"
" Dia bilang namanya Layla"
" Owh Layla, minta dia menungguku"
" Baik"
Tabitha kembali menutup pintu dan ia pun bergegas mandi. Saat ia selesai mandi terlihat Arthur sudah bangun namun ia tetap membaringkan tubuhnya.
" Bangunlah, ini sudah pagi kau harus bekerja"
" Iya, aku sudah bangun. Tapi aku malas untuk mandi"
" Terserah"
" Bagaimana kalau mandi bersama?"
" Sayang sekali, aku sudah mandi"
Arthur merengut mendengar ucapan Tabitha, sedangkan istrinya hanya terkekeh geli.
" Aku turun dulu, Layla sudah menungguku"
" Gadis yang kau bilang kemarin menolongmu?"
" Iya"
" Baiklah"
" Cepat mandi Arthur"
" Iya"
Tabitha tak menjawab ucapan Arthur, ia bergegas keluar dari kamarnya dan memasuki lift dan ia pun sampai dilantai dasar. Ia segera menghampiri sofa dan mendapati Layla sedang duduk sembari menautkan jari nya gugup.
" Maaf membuatmu menunggu" ujar Tabitha.
" Ah, tidak papa nyonya maaf aku datang sangat pagi"
" Tidak papa"
" Baiklah jadi kau bekerja mulai hari ini"
" Baik nyonya"
" Madam Rose" panggil Tabitha dan tak lama Madam Rose pun datang.
" Ya nak kau perlu sesuatu"
" Ini Layla, dan Layla ini Madan Rose" ujar Tabitha mengenalkan Layla pada Madam Rose dan sebaliknya.
" Hai"
" Selamat pagi" sapa Madam Rose.
" Madam Rose dia akan bekerja disini bisa kau ajari dia apa saja yang harus dia kerjakan disini?"
" Tentu" balas Madam Rose.
" Baiklah aku naik dulu"
" Mari saya tunjukan pekerjaan kamu" ajak Madam Rose.
" Tentu"
Layla mengikuti langkah Madam Rose memasuki Pantry, sedangkan Tabitha menaiki lift dan berakhir di depan pintu kamarnya. Ia pun memutar knop pintu dan sedikit mendorongnya.
" Arthur"
" Ya"
" Kau sedang mandi?"
" Ya"
Tabitha hanya menganggukan kepalanya, ia memasuki walk in closet dan menyiapkan keperluan Arthur, setelah selesai ia meletakkan jas, kemeja, dan dasi Arthur di ranjang.
" Kau sudah menyiapkannya?"
" Ya"
__ADS_1
" Terimakasih" ucap Arthur.
" Sama-sama"
Arthur memakai kemeja dan celana kainnya, ia pun mendekati sang istri dan menundukkan tubuhnya dengan tangan kanan yang memegang dasi. Tabitha yang paham langsung memasangkan dasi pada suaminya, ini rutinitas mereka setiap pagi. Setelah Tabitha selesai memakaikan dasi Pada Arthur, pria itu pun memakai jas nya. Tabitha keluar untuk memeriksa sarapan.
Wanita yang berbadan dua itu pun berjalan dan mendudukan dirinya di kursi makan mengambil sepotong roti dan mengoleskan slai coklat disana, ia pun mulai memakannya. Tak lama tiba-tiba seseorang mengecup pipi kanannya.
" Maaf" ujar Arthur saat mendapat tatapan horor dari Tabitha.
Arthur duduk dan mengambil koran di atas meja yang sudah disiapkan. Tak lama Layla datang membawa kopi untuk Arthur.
" Ini Kopi nya tuan"
" Terimakasih"
Arthur memperhatikan Layla, entah mengapa feeling nya mengatakan Layla bukan gadis yang baik. Layla kembali ke pantry sedangkan Arthur mengirim sebuah pesan pada Alexander.
Aku mencurigai Layla, maid baru di mansion. Perhatikan gerak-geriknya.
Arthur mengklik send dan pesan itu pun terkirim.
" Arthur kau sudah selesai?"
" Ya"
" Kalau begitu cepatlah kau harus kekantor"
" Baiklah"
Tabitha berdiri begitupun Arthur, mereka berjalan berdampingan saat sampai diambang pintu mansion Arthur merundukkan tubuhnya dan mengecup pelan perut Tabitha ia pun tak lupa membelai nya.
" Daddy berangkat, jaga mommy mu"
" Okey daddy" balas Tabitha dengan suara dibuat-buat.
" Aku pergi"
Arthur membalikkan tubuhnya namun Tabitha mencekal lengan Arthur.
" Ada apa?"
" Kau melupakan sesuatu"
" Apa?"
Tabitha merengut, Arthur yang baru menyadari langsung menepuk jidatnya.
" Ah iya aku lupa maaf"
Dengan cepat Arthur mengecup kening Tabitha lembut.
" Maaf"
" Ya, tidak papa. Arthur merunduk"
" Kenapa?"
" Merunduk saja"
" Okey"
Arthur menuruti Tabitha, pria itu pun merundukkan tubuhnya lalu dengan cepat Tabitha menghadiahi Arthur ciuman lembut dikeningnya.
" Pergilah"
" Terimakasih morning kiss nya walaupun bukan ditempat yang seharusnya"
" Arthur!" Tabitha memukul pelan lengan Arthur mendengar ucapan suaminya itu.
Arthur mengancingkan kembali kemeja nya dan ia pun melenggang memasuki mobilnya. Dan tak lama mobil itu pun bergerak menjahui mansion.
Selepas kepergian Arthur, Tabitha memasuki mansion dan memilih untuk membaca majalah dengan ditemani secangkir teh hangat, tak lama Madam Rose datang.
" Ta, kau sedang apa?"
" Aku sedang membaca Madam, ada apa?"
" Tak apa, aku hanya ingin mengatakan kalau Layla bekerja baik. Dia sangat cepat menanggapi semua yang aku ajarkan"
" Bagus kalau begitu Madam, jujur aku sangat kasihan padanya jadi aku memberi nya pekerjaan"
" Tapi kau tetap harus berhati-hati Ta, ingat suami mu itu bukan orang sembarangan. Banyak yang berusaha menjatuhkannya, dan mengingat kenyataan kau mengandung anak nya itu malah semakin membahayakan mu. Jadi kau harus benar-benar waspada"
" Tentu Madam, terimakasih"
" Ya, kalau begitu aku pergi dulu"
Sementara di kantor De Lavega, Arthur menaikan satu kaki nya dan bersedekap menatap Alexander dan Brian bergantian.
" Kau sudah mendapat informasi mengenai Layla?"
" Sudah boss, orang tua nya sudah meninggal sejak dia berumur 12 tahun dan dia sekarang tinggal bersama dengan adiknya"
" Siapa nama orang tuanya?"
" Maaf boss, mengenai itu saya kurang tau karena identitas Layla seperti ditutupi. Tetangga nya tidak ada yang tau nama orang tua gadis itu, mereka hanya bilang kalau Layla pindah saat umur nya 15 tahun"
" Jadi dia warga baru di New York?"
" Ya boss"
" Brian, tetap awasi Layla"
" Baik"
" Alexander kau kembalilah ke mansion"
" Baik boss"
Alexander melenggang pergi menyisahkan Arthur dan Brian di ruangan itu.
" Kenapa kau sangat mencurigai Layla Arthur?'
" Aku tak tau, hanya saja tatapannya beda Brian. Sepertinya dia tidak sepolos yang kita kira"
" Kau yakin?"
" Aku hanya menduga tapi kita akan tetap mencari identitasnya"
" Aku jadi tak sabar untuk melihat gadis itu"
" Maka datanglah ke mansion"
" Sure"
" Bagaimana keuangan kita?"
" Semuanya berjalan lancar Arthur, sejak kau mengajak perusahaan Mr. Xavier untuk bekerja sama. Kita sudah terbebas dari masa kritis"
" Bagus"
" Lalu bagaimana dengan pembangunan hotel kita di Chicago?"
" Sudah hampir rampung Arthur"
" Tetap awasi"
" Baik"
Tak lama ponsel Arthur berdering, ia pun meraih ponsel itu dan mengangkat teleponnya.
" Ya"
" Hai Arthur"
" Damian"
" Ya, syukurlah kau masih mengingatku"
" Diam kau"
" Aku hanya ingin mengucapkan selamat karena anak mu selamat dari genggaman ku"
" ..."
" Andai dia perempuan, pasti akan sangat cantik dan aku pasti akan sangat beruntung memilikinya"
" Jangan berkhayal bodoh!"
" Aku sebenarnya sudah memikirkan kehidupan kami setelah menikah, mengurus anak dan aku akan sangat bahagia memanggilmu 'Daddy'."
" Dasar bodoh!"
Arthur mematikan sambungan teleponnya, ia sangat kesal dengan ucapan Damian. Tapi disisi lain ia bersyukur karena nyatanya anak pertamanya adalah laki-laki.
To Be Continue...
Vote Please...
Arthur De Lavega
__ADS_1
Tabitha De Lavega