
Tabitha sibuk menyiapkan makanan untuk Arthur. Ia membuat makanan yang konon kesukaan dari suaminya itu. Setelah dirasa semua sudah siap Tabitha pun membawa makanan itu ke meja makan dan kembali kedapur untuk mengambil minuman. Namun saat ia menuangkan minum dari kulkas ia sedikit terkejut mendapati lengan besar memeluk perutnya posesif dan ia sudah paham betul siapa pelukanya.
" Mengapa kau sangat menyukai lavender?"
" Ntahlah, kurasa aku suka wanginya"
" Baiklah kalau begitu aku menyukainya juga" ujar pria itu.
" Lepaskan kau bilang lapar kan ayo kita makan" pinta Tabitha melepaskan pelukan Arthur.
Arthur berjalan mengekori Tabitha dan mendudukan dirinya di kursi meja makan. Ia sedikit menarik sudut bibirnya melihat hasil makanan dari istrinya itu.
" Kau memasak lasagna?" Tanya Arthur
" Iya, Madam rose bilang kau menyukainya jadi aku belajar padanya tadi siang" ucap Tabitha dengan senyuman menghiasi wajahnya.
" Interasting"
Tabitha mendukan badanya dan berhadapan dengan Arthur yang tengah mencoba masakannya.
" Enak?" Tanya Tabitha.
" Enak, kau berbakat" ucap Arthur.
" Terimakasih"
" Kau mau makan?" Tanya Arthur disambut gelengan Tabitha.
Tabitha merasa kantuk menyerangnya ia pun merebahkan kepalannya ke meja makan
Arthur baru menyadari istrinya mulai tertidur ia pun membereskan bekas makannya dan mengangkat tubuh Tabitha ke kamarnya dan merebahkan tubuh istrinya dengan pelan takut mengganggu tidurnya kembali. Arthur pun ikut berbaring disisi ranjang sebelah kanan ia pun tertidur.
🔫🔫🔫
Tabitha bangun terlebih dahulu dari Arthur, ia tersenyum manis saat memandang wajah damai Arthur, ia pun bergegas untuk mandi dan setelah itu menyiapkan segala keperluan untuk Arthur mulai dari kemeja, jas, sepatu dan dasi. Setelah semua dirasa siap ia pun membangunkan Arthur.
" Bangunlah sudah pagi kau harus berangkat kerja"
" Baiklah lima menit" ucap Arthur.
" Baiklah aku yang akan pergi kalau begitu" ancam Tabitha.
" Baiklah, baiklah aku bangun" ucap Arthur berjalan ke kamar mandi.
Setelah Arthur masuk ke kamar mandi Tabitha turun kelantai dasar untuk memeriksa sarapan.
" Sarapan sudah siap?" Tanya Tabitha pada salah satu maid di pantry.
" Sudah nyonya" ujar maid tersebut.
Tabitha pun kembali menaiki lift dan berakhir di kamarnya. Didalam kamar ia melihat Arthur tengah memakai jas mewahnya. Tabitha berjalan mendekati Arthur dan membantu pria itu menggunakan dasinya.
" Haruskah aku jadi tinggi dulu untuk melayani mu?" Tanya Tabitha, seakan mengerti yang dikatakan Tabitha, pria itu membungkukkan badanya dan membiarkan istrinya memasangkan dasinya.
" Kau sendiri yang terlalu pendek" ejek Arthur.
" Terserah" ucap Tabitha.
" Akan ku jemput jam 6 malam"
" Baiklah"
" Aku pergi dulu" ucap Arthur mengecup pipi kanan Tabitha singkat.
Tabitha mengantarkan Arthur mebuju garasi mobilnya dan melepas kepergian suaminya itu. Setelah itu Tabitha kembali memasuki mansion dan membunuh rasa bosanya dengan menonton acara di TV.
🔫🔫🔫
De Lavega Group's 04.00 PM
Arthur dan Brian berjalan keruang rahasia didalam ruang kerja Arthur. Arthur membuka password dari ruangan itu dan ruangan yang tadinya berbentuk lemari itu terbuka menampilkan sebuah pintu baja. Arthur membukanya dan berjalan kearah proyektor disalah satu sudut ruangan itu Arthur duduk disofa berhadapan dengan proyektor tersebut, Brian duduk disamping Arthur. Ia membuka map coklat besar yang berisikan sebuah buku.
" Arthur ini buku" ucap Brian.
" Bukalah buku itu Brian" suruh Arthur.
__ADS_1
Ketika buku itu dibuka terpampanglah sebuah mini proyektor dan Arthur menekan sebuah tombol disana dan sebuah vidio pun berputar.
" Di ketahui Proyek dari Nuklir ini dimulai pada tahun 2001 dan berhenti pada tahun 2009 hal tersebut dikarenakan kematian dari Alessandro Roberto sang pemilik gagasan dan pembuat Nuklir tersebut. Beberapa ilmuwan ikut dalam proyek nuklir ini diantaranya Sean Alberto dati Spanyol, Henry Fideo dari Inggris, dan Jack Pattison dari Italy. Mereka melakukan proyek ini untuk mewujudkan impian Amerika untuk memiliki senjata termutakhir didunia. Namun dikarenakan kematian Alessandro, perselisihan mulai terjadi disaat Henry dan Sean berusaha memperebutkan data proyek nuklir tersebut. Hingga membuat Jack merasa bahwa proyek ini membelah dunia. Akhirnya Jack mengcopy seluruh data dari proyek tersebut dan memindahkannya disebuah disk. Serta menghapus seluruh data yang disimpan Alessandro. Pada tahun 2010 Jack Pattison dikabarkan meninggal dunia dikarenakan pembunuhan namun sampai sekarang belum ada kejelasan mengenai pembunuh dari Jack Pattison." Suara dari proyektor itu pun terhenti namun tergantikan dengan wajah Anders Vucherlein wakil presiden Amerika.
" Kami meminta bantuanmu Mr. De Lavega untuk memecahkan misteri dimana tempat disk itu disimpan dan kita bisa menyelamatkan negara kita karna aku yakin James sudah mengatakanya padamu."
" Tentu Mr. Vice President"
" Terimakasih kau sudah tertarik dengan misi ini Mr. De Lavega apapun yang kau butuhkan kami akan memberikannya senjata, bom, granat, helikopter apapun itu kau hanya perlu meminta"
" Kapan aku menjalankan misi ini?"
" Kami akan memberitahukan padamu saat semuanya sudah siap, yang perlu kau lakukan adalah analisa apa saja kemungkinan yang akan terjadi dalam misi ini dan persiapkan dirimu Mr. De Lavega."
" Baiklah"
" Baiklah jika sudah tidak ada pertanyaan pesan ini akan hancur dalam 10 detik"
Dan benar saja dalam hitungan detik buku itu meledak namun ledakan nya tidak terlalu besar.
" Kurasa yang membunuh Jack ada kaitanya dengan Sean dan Henry" ucap Brian.
" Aku juga berpikir begitu, mungkin mereka terobsesi untuk membuat nuklir itu hingga mereka pun saling menyerang"
" Itu sebabnya Jack menghapus data-data nya" Ucap Brian menimpali.
🔫🔫🔫
Mansion De Lavega 05.00 PM
Tabitha sedikit terganggu dengan Fashion stylist sekaligus make up Artis yang Arthur undang untuk mendadani dirinya pasalnya yang Arthur undang adalah seorang pria yang cerewet.
" Baiklah nyonya De Lavega yang cantik kau ingin memilih yang mana? Yang hitam atau yang pearl pink" ucap Pria itu menunjukkan koleksi busana nya.
" Aku memilih yang pearl pink saja Jade" ucap Tabitha.
" No way Mrs. Don't call me like that just call me Jady okey"
" Mrs. De Lavega mengapa kau keras kepala. Aku tak ingin dipanggil Jade aku hanya ingin dipanggil Jady"
" Baiklah Jady, aku memilih yang Pearl Pink kurasa itu cukup panjang sedangkan yang hitam terlalu pendek" ujar Tabitha.
" Padahal kau akan tampak lebih sexy saat memakai dress hitam itu Mrs. De Lavega" ucap Jade dengan gemulai.
" Sepertinya yang Pearl Pink juga cukup sexy lihatlah punggung nya hampir terbuka semua"
" Baiklah biar kubantu kau ganti baju"
" No!" Sentak Tabitha.
" Mengapa?"
" Aku bisa sendiri lagi pula kau seorang pria"
" Ayolah nyonya aku tak akan tertarik padamu. Kecuali jika aku melihat tubuh sexy suamimu Mr. Arthur mungkin aku tak bisa menahannya"
" Shit!" Umpat Tabitha.
Tabitha berjalan menuju walk in closet dan memakai dress yang sudah dipilihnya. Setelah selesai ia pun keluar dari walk in closet dan mulai di make up oleh Jade. Setelah selesai jam menunjukkan pukul 6 malam itu artinya Arthur akan pulang. Benar saja saat ia sudah selesai dengan make up nya ia pun diantarkan turun oleh Jade dan berakhir diruang tengah. Disana sudah ada Arthur yang memakai pakaian mewahnya. Arthur menarik sedikit ujung bibirnya.
" Lihatlah suamimu sangat tampan, Oh God, tolong tahan aku" bisik Jade.
" Kau mendekatinya akan kupastikan kau lenyap ditanganku Jady"
" Wow, Mrs. De Lavega nampaknya kau sangat garang"
" Diamlah"
Mereka pun tepat berdiri dihadapan Arthur. Tabitha melirik sekilas pada pria gemulai disebelahnya.
" Jangan macam-macam Jady" ancam Tabitha.
" Aku tak yakin bisa mengendalikan diriku" ujar pria itu berbisik.
" Terimakasih atas pelayananmu Jady" ucap Arthur.
__ADS_1
" Sure Mr. Sexy" ucap Jady dengan cengiran kudanya yang hanya ditanggapi senyuman tipis dibibir Arthur.
" Tabitha kita berangkat sekarang?" Ucap Arthur.
" Iya, aku tak suka berlama-lama dengan seorang nyamuk disini" ujar Tabitha melenggang pergi dari hadapan Arthur dan Jade yang membisu.
" Maafkan istriku dia hanya sedikit cemburu padamu Jady" ucap Arthur.
" Ayolah Mr.De Lavega jika aku di posisi nya hal serupa pun akan terjadi"
" Kau akan diantar pulang oleh supirku"
" Baiklah Mr. De Lavega aku pamit dulu" ujar Jady menepuk lengan kanan Arthur dengan gemulai.
Setelah kepergian Jady Arthur berjalan kearah mobil sport miliknya yang didalamnya sudah ada Tabitha. Ia duduk disamping istrinya itu. Dan mobil sport itupun mulai bergerak menelusuri jalanan New York menuju salah satu ballroom termewah di New York.
" Kau cantik"
" Kau ingin memuji kemampuan pria itu?" Ucap Tabitha sinis.
" Sungguh aku tak bermaksud begitu Tabitha"
" Terserah"
Arthur mengangkat ponselnya yang berdering.
" Ya Brian"
" Boss aku tepat dibelakangmu dengan beberapa bodyguard lainya"
" Sudah kau pastikan tempat itu aman?"
" Tentu boss"
" Baiklah jangan terlalu jauh Brian"
" Sure"
Arthur mematikan sambungan teleponnya. Dan tanpa disadari Arthur, Tabitha mendengar semua percakapanya dengan Brian. Tabitha menolehkan kepalanya kebelakang dan mendapati 5 mobil yang ia yakini bodyguard Arthur.
" Datang kesebuah pesta dengan membawa gerombolan bodyguard. Kurasa itu berlebihan Arthur"
" Hanya antisipasi"
" Slalu menjengkelkan"
" Tuan kita sudah sampai"
Arthur keluar dari mobilnya yang dibukakan pintunya oleh bodyguard nya pun dengan Tabitha. Arthur berjalan dengan mengapit lengan Tabitha. Ia melewati red carpet dengan sesekali tersenyum pada rekan bisnis yang menyapanya.
" Mr. De Lavega senang melihatmu disini"
" Tentu Mr. Xavier"
" Kau membawa istrimu?"
" Iya"
" Maaf aku tak bisa datang saat dipernikahanmu"
" Tak apa"
" Mari kita kesana ada beberapa rekan bisnis yang sepertinya harus kita sapa"
" Tentu"
" Kau duduk saja dulu disini okey, aku akan kembali"
" Jangan terlalu lama" ujar Tabitha yang diikuti anggukan Arthur.
Tabitha duduk disalah satu meja jamuan yang disediakan ia meminum wine disana dan memaksa untuk menikmati pestanya.
" Kau sendirian?"
" Lo__
To Be Continue...
Vote Pleaseeee.....
Tabitha De Lavega
__ADS_1
Arthur De Lavega