MY HUSBAND CEO IS MAFIA

MY HUSBAND CEO IS MAFIA
MHM 4.1: HE OR SHE?


__ADS_3

Arthur menggeliat dari tidurnya, pria itu menajamkan pendengarannya saat mendengar suara isakan seseorang. Arthur bangun dan bersender di kepala ranjang, pria itu menoleh ke kiri tepat dimana Tabitha tertidur dengan posisi membelakanginya. Arthur semakin panik saat melihat tubuh Tabitha yang bergetar.


" Hai, kau kenapa?" Arthur menyentuh bahu sang istri dan Tabitha pun melirik kearah Arthur.


" Kau bangun?"


" Ya, aku mendengar isakanmu, Ada apa?"


" Arthur" Tabitha bangun dan langsung memeluk pria disampingnya.


" Ada apa?" Arthur memang sudah terbiasa selama lima bulan kebelakang ini. Istrinya terkadang suka bangun malam hanya untuk meminta sesuatu, pernah sekali Arthur diminta untuk menjadi seorang pelayan di restoran milik France, dan jujur saja Arthur ingin sekali menolak. Hell, dia ketua mafia dan dia diminta untuk jadi seorang pelayan? Wtf!!


Tapi Arthur tak bisa menolaknya karena jika ia menolak Tabitha akan berubah sangat dingin padanya bahkan wanita itu tidak ingin melihat Arthur walau hanya bayangannya sekalipun.


" Arthur, aku menginginkan sesuatu"


Deg! Arthur gugup sekarang, ia menelan salivanya, dan berdoa semoga Tabitha tidak meminta macam-macam padanya.


" Katakan" ucap Arthur lembut seraya membelai pelan surai Tabitha.


" Aku ingin melihat kembang api"


" Apa?"


" Kembang api"


" Sekarang?"


" Ya"


" Tapi ini pukul 2 pagi"


" Memangnya tidak boleh?"


Arthur semakin gugup, otaknya ia paksa untuk berpikir bagaimana caranya mendapat kembang api pukul 2 pagi.


" Arthur, kau tidak mau menurutinya?"


" Tidak aku mau"


" Terimakasih"


" Oke, aku ganti baju dulu"


Arthur turun dari ranjang menyambar ponselnya diatas nakas dan memasuki walk in closet. Pria itu menekan sebuah nomor dan tak lama Arthur pun tersambung.


" Dimana kau?"


" Aku di apartemen ku" ucap Brian dengan suara khas bangun tidur.


" Cepat kemansion, aku ada perlu denganmu"


" Shit! Kau mengganggu tidurku!"


" Cepat kemari Brian!"


" Katakan saja ada apa?"


" Tabitha"


" God! Dia meminta sesuatu lagi?"


" Ya"


" Apa? Jangan bilang dia minta kau untuk membunuhku"


" Jangan banyak bicara!"


" Baiklah katakan, dia minta apa?"


" Dia minta kembang api"


" WHAT THE HELL! TIDAK ADA YANG MENJUAL KEMBANG API PUKUL 2 PAGI ARTHUR!"


" Aku tau, makanya aku mengajakmu untuk mencarinya."


" Aku belum menikah, dan mungkin aku harus memikirkan nya 20 kali jika melihat rumah tanggamu Arthur"


" Jangan banyak bicara Brian! Kemari dalam sepuluh menit jika tidak"


" Apa! kau ingin mengancamku apa!"


" Akan kupecat kekasihmu itu!"


" Jangan kau berani mengusik pekerjaan Diana Arthur!"


" Baiklah, kutunggu lima menit"


" Gila! Tadi kau bilang sepuluh!"


" Kan tadi sekarang lima"


" Sialan kau Arthur!"


Arthur hanya mengeluarkan smirk nya, pria itu tidak menjawab ucapan Brian dia langsung mematikan sambungan teleponnya. Arthur menyimpan ponselnya di saku celana dan ia mengambil coat hitam miliknya.


Arthur keluar dari kamar dan melihat Tabitha yang terduduk diranjang dengan tatapan penuh harap. Arthur mendekati istrinya dan mengecup pelan pipi kiri Tabitha.


" Aku akan membawakannya untukmu"


" Terimakasih"


Arthur hanya menganggukan kepalanya, ia segera menuruni tangga mansion dan langsung menyambar kunci mobil nya ia pun memasuki garasi. Pria itu memasuki mobil Lamborghini Veneno miliknya. Ia melajukan mobil itu dengan kecepatan sedang.


Arthur menghubungi Brian.


" Aku sudah dijalan bersiap lah"


" Sial, tadi kau bilang aku yang kesana! Sekarang aku sudah ada dijalan juga menuju mansion"


" Sudah jauh?"


" Belum"


" Putar balik, aku yang kesana"


" Okey, dasar pengatur!"


" Terserah"


Arthur mematikan sambungan teleponnya. Dan akhirnya ia pun berada tepat didepan apartemen Brian. Arthur membunyikan klaksonnya tiga kali. Dia tak perduli jika ada orang yang terbangun karena aksinya.


" Apa-apaan kau!" Sentak Brian setelah memasuki mobil Arthur.


" Apa?" Ujar Arthur tanpa rasa bersalah sedikitpun.


" Bagaimana jika orang bangun tadi!"


" Brian, aku hanya menyalakan klakson. Jika aku menyalakan bom baru akan mengganggu. Kau berlebihan!"


" Terserah aku tak perduli!"


" Brian turunlah"


" Apa lagi sekarang Arthur!"


" Turun kubilang!"


" Oke!!" Sentak Brian kesal.


Brian turun tapi pria itu mengangkat alisnya saat melihat Arthur juga ikut turun pria itu memutari mobil dan memasuki kursi penumpang didepan.


" Kau memang sialan Arthur!" Umpat Brian setelah menyadari apa yang terjadi.

__ADS_1


Brian memasuki tempat kemudi ia pun menyalakan mobilnya.


" Kau menyuruh orang yang baru bangun tidur menyetir, jangan salahkan aku jika terjadi apa-apa!"


" Ini mobilku, jadi terserah aku ingin menyuruh siapa!"


" Aku tak perduli!"


" Bagaimana hubunganmu dengan Diana?"


" Baik"


" Hanya itu?"


" Ya, lalu harus kukatakan bagaimana?"


" Kau ada rencana untuk menikahinya?"


" Nanti, aku memberi dia waktu untuk menggapai memipinya dulu"


" Bagus, ternyata kau juga akhirnya mengikuti jalanku dengan menikahi gadis kecil Brian"


" Ya, kurasa menjengkelkan jika menjalin hubungan dengan seorang gadis kecil tapi ternyata itu malah menyenangkan"


"  Akan lebih menyenangkan jika kau benar-benar menikahinya"


" Akan kupertimbangkan"


" Baiklah, sekarang dimana kita bisa mendapat kembang api?"


" Aku tak tau, tapi kita akan coba mencari di toko mainan? Atau mall?"


" Terserah jalankan saja mobilnya, ikuti saja kemana mobil ini pergi"


" Pemikiran yang bodoh" rutuk Brian, Arthur tersenyum saat mendengar semua ucapan pedas dari asistennya itu. Ia kebal dengan semua ucapan tak mengenakan dari Brian, Brian memang bijak ia teliti dalam segala hal, dingin, dan bermulut tajam tapi Arthur senang menjadi teman Brian karena sahabatnya itu adalah sosok pria yang setia.


Lebih dari satu jam Arthur dan Brian menyisir jalanan untuk mencari penjual kembang api. Akhirnya Arthur menelpon seseorang.


" Toko mu menjual kembang api?"


" Ya, tuan. Maaf tapi ada apa?"


" Kau sudah tutup?"


" Kami tutup dari jam 8 malam "


" Rumahmu dekat dengan tokomu?"


" Rumah dan toko ku menjadi satu tuan"


" Bagus, aku menuju kesana."


" Tapi untuk apa ?"


" Membeli kembang api, dan aku akan bayar dengan harga yang tinggi jika kau mau melayaniku"


" Baik tuan"


Arthur menutup teleponnya dan melirik kearah Brian yang terlihat sedang bergumam.


" Kau mengomentariku?"


" Kau baru saja mengancam orang lain Arthur? Bagus sekali"


" Tak apa, lagi pula akan kubayar berapapun untuk mendapatkan apa yang istriku inginkan"


" Baiklah"


Kurang lebih lima belas menit Brian menyetir mobil Arthur dan mereka pun sampai disebuah toko mainan kecil dipinggir jalan New York dan terlihat Toko itu buka. Arthur segera turun dan berjalan menuju toko itu meninggalkan Brian didalam mobil. Brian berdecak ia kesal dengan tingkah Arthur.


" Berikan aku satu"


" B-baik Tuan" pria yang berumur kurang lebih 30-an itu langsung masuk kedalam dan keluar membawa sebuah kembang api besar.


" Berapa harganya?" Tanya Arthur.


" Kau menghinaku?"


" Tidak, aku tak bermaksud"


" Katakan, berapa harganya?"


" Itu 5 dollar"


Arthur mengeluarkan uangnya dari saku dan memberikan setumpuk pada si penjual.


" Tuan, ini terlalu banyak"


" Simpanlah, dan terimakasih"


" Aku juga berterimakasih tuan"


Arthur memasuki mobil dan meletakkan kembang api itu di belakang mobil.


" Dapat?"


" Kau buta?"


" Okey, maaf"


Brin segera menjalankan mobil itu menuju mansion Arthur. Setelah sampai. Brian langsung meninggalkan Arthur, pria itu langsung memasuki kamar tamu dan tidur disana tanpa melepas jas nya. Ia terlalu mengantuk dan tak memperdulikan apa yang akan Arthur katakan.


Disisi lain, Arthur berjalan dengan santai menaiki tangga dan membuka knop pintu disana sudah ada Tabitha yang sedang menonton TV.


" Aku sudah mendapatkannya"


Mendengar suara Arthur, Tabitha langsung menolehkan kepalanya dan berdiri ia sedikit kesusahan untuk berdiri karena perutnya yang semakin besar tapi ia bahagia dan menikmati semua prosesnya.


" Kita nyalakan sekarang?"


" Ya"


" Oke"


Arthur menuntun Tabitha perlahan menuju lift dan setelah sampai di halaman Mansion, Arthur memanggil salah satu bodyguardnya dan mereka pun duduk dirumput hijau dihalaman mansion. Tak lama suara debuman dari kembang api membuat senyum Tabitha mengembang ia senang. Dan Tabitha pun menyenderkan kepalanya kedada bidang Arthur.


" Maaf telah merepotkanmu"


" Tidak papa"


" Aku tau kau sangat kesusahan menuruti ngidamku"


" Aku bahagia menuruti semua kemauanmu"


" Sekali lagi terimakasih Arthur."


Disisi lain Brian berdecak ia menutup telinganya dengan bantal namun suara debuman kembang api tetap menghampiri indra pendengaranya.


" Shit! Aku tak bisa hidup tenang!"


Brian menyumpal telinganya dengan earphone dan menyalakan musik, ia berusaha menulikan pendengaranya untuk tidak mendengar suara debuman kembang api.


🔫🔫🔫


  Jam menunjuk pukul 8 pagi, Tabitha hampir menangis saat menonton drama Korea diruang keluarga. Arthur panik saat mendengar tangisan sang istri, namun saat melihat wajah Tabitha, ia pun mengalihkan tatapannya pada tontonan yang ditonton istrinya. Arthur menghela napasnya dan mendudukan dirinya disamping Tabitha.


" Kenapa kau menangis?"


" Pria itu bodoh sekali menduakan istrinya! Padahal istrinya sangat baik" rutuk Tabitha sambil menghapus air matanya.


" Hanya karna itu kau menangis?"


" Ya, awas kalau kau berusaha untuk menduakanku!" Desis tajam dari Tabitha.

__ADS_1


" Aku tak pernah berfikir begitu"


" Bagus" ujar Tabitha menghapus air matanya.


" Baiklah, dari pada kau tumpahkan air matamu disini, lebih baik kita periksa dulu"


" Periksa?"


" Kau melupakan jadwalmu?"


" Ah, iya aku lupa"


" Jadi ayo"


" Ryan sudah datang?"


" Ya, dia sudah menunggu kita"


Tabitha berdiri namun ia cukup kesusahan, Arthur yang paham dengan keadaan sang istri pun langsung membawa tubuh wanita itu kedalam gendonganya.


" Aku jadi lemah"


" Tidak, ini waktuku memanjakanmu lagi pula kau begini karna anakku jadi akan kulakukan apapun untuk kalian"


" Terimakasih Daddy"


Arthur hanya tersenyum simpul menanggapi ucapan Tabitha dengan nada manja nya.


Arthur membawa tubuh Tabitha dan membaringkannya di kasur Queen Size miliknya. Pria itu menatap sendu pada Tabitha, andai ia bisa menahan perasaanya pasti Tabitha tengah sibuk bahagia dengan dunianya menjadi seorang mahasiswa. Namun Arthur merenggut masa muda Tabitha.


Tabitha melirik kearah Arthur, wanita itu paham Arthur tengah memikirkan sesuatu. Tabitha mengenggam tangan Arthur dan tersenyum manis.


" Dengar, aku tak pernah menyesal menikah denganmu. Jadi jangan salahkan dirimu. Aku bahagia karna kau membuatku menjadi seperti ini. Mewarnai kehidupanku yang monoton dan memberikan ku banyak sekali kisah indah selama ini. Jadi jangan pernah berpikir kau memaksaku untuk jadi dewasa Arthur" ujar Tabitha.


" Apa kau seorang Cenayang?"


" Maksudmu?"


" Bagaimana bisa kau mengetahui pikiranku?"


" Entahlah"


Arthur mendudukan tubuhnya disamping Tabitha yang juga menatapnya lekat.


" Kau merubah dunia gelapku dengan warna Ta"


" Kau juga"


Tabitha bangun dan mendudukan dirinya berhadapan dengan Arthur. Ia membelai pelan rahang Arthur dan mengecup kening pria itu.


" Aku bahagia bertemu denganmu, bahkan Tuhan mengizinkanku untuk menjadi istrimu dan aku tengah membawa bagian darimu Arthur"


Arthur tersenyum, ia bahagia saat Tabitha mengucapkan hal itu. Perlahan Arthur mendekatkan wajahnya bahkan nafas lembut Tabitha terasa diwajah pria itu Tabitha memejamkan matanya.


" Ekhm"


Arthur segera menjauhkan wajahnya dan melirik keasal suara, sedangkan Tabitha wajahnya sudah merah padam. Tapi sialnya Arthur hanya menampilkan wajah datarnya dan pria itu pun berdiri.


" Ryan"


" Ya, maaf mengganggu kalian."


" Ya, tak apa"


Tabitha kembali merebahkan tubuhnya. Dokter Ryan menyibakkan sedikit kaos yang dikenakan Tabitha. Dan jujur saja Arthur sedikit tidak terima tapi ia berusaha menahannya. Dokter Ryan mengoleskan sebuah gel di perut Tabitha yang mulai membuncit, Dokter Ryan pun memulai proses USG nya.


" Ini bayi nya, dia sehat dan kondisi ibunya juga stabil. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku akan memberikan vitamin untuk ibu dan bayi nya" jelas Dokter Ryan yang didengar Arthur seksama.


" Kalian ingin mendengar detak jantungnya?"


" Ya" ucap Tabitha bersemangat.


Dokter Ryan mengotak-atik alat USG dan tak lama terdengar suara detak jantung bayi. Tabitha sangat terharu ia masih tidak percaya akan menjadi seorang ibu bahkan matanya sudah berkaca-kaca. Sedangkan Arthur tersenyum simpul, ada sesuatu dalam dadanya sebuah rasa bangga hanya karena mendengar suara detak jantung anaknya apalagi jika sudah melihatnya, dan ia sudah tak sabar.


" Apa jenis kelaminnya sudah bisa diketahui?" Tanya Tabitha.


" Sudah"


" Bisakah kau beri tahu?"


" Tentu"


Dokter Ryan menatap layar USG.


" Jadi dia?"


Dokter Ryan menghadap Arthur ia tersenyum pada pria itu.


" Dia seorang putra Arthur"


" Putra?"


" Ya, dia laki-laki"


Arthur semakin bahagia, ia bisa melepaskan anaknya dari ancaman Damian, begitupun Tabitha. Wanita itu tidak berhenti tersenyum.


" Baiklah, aku harus pergi"


" Sekali lagi terimakasih"


" Ya, kalau begitu aku pamit"


" Sekali lagi terimakasih Ryan"


" Tentu jaga dia Ta"


Tabitha mengganggukam kepalanya tanda setuju, dan Dokter Ryan pun keluar menyisahkan Tabitha yang membelai pelan perutnya.


" Dia laki-laki"


" Kita terbebas dari Damian"


" Ya, kau benar"


" Aku sangat-sangat bahagia Arhur"


Arthur tersenyum menanggapi, ia pun membelai pelan surai Tabitha dan meletakkan tangan kanannya keperut sang istri.


" Dia akan jadi penerusku, seorang pemimpin yang pemberani dan akan kuajarkan dia jadi pemenang"


" Maksudmu, kau akan menyeret putraku pada dunia gelapmu?"


" Ya, dia akan jadi pemimpin Regnarok"


" Aku tak setuju"


" Kau mengandung anak seorang kepala mafia Ta, jadi terima saja"


" Shit!"


Tabitha merengut dan mengalihkan tatapannya ke samping kanan. Sedangkan Arthur terkekeh melihat tingkah laku istrinya.


To Be Continue...


Vote Please...



Arthur De Lavega



Tabitha De Lavega

__ADS_1



Dr. Ryander Colins


__ADS_2