
Arthur membuka matanya perlahan, ia mengerjabkan pelan matanya menyesuaikan dengan terangnya cahaya dari luar, ia mendudukan tubuhnya dan bersender dikepala ranjang, matanya menangkap sosok sang istri yang tengah duduk di balkon dengan majalah ditangan nya.
Arthur mengedarkan pandangannya melihat ranjangnya sudah lumayan bersih namun masih ada bekas bedak bayi di atas ranjangnya. Ia pun tak menemukan Brian didalam sana, akhirnya Arthur menurunkan kakinya dan berjalan mendekati sang istri.
" Sudah bangun?" Tanya Tabitha masih membaca majalahnya.
" Iya"
" Puas mainnya?"
" Maksudmu?"
Arthur segera duduk disamping Tabitha dan menatap wajah Tabitha lekat.
" Seluruh isi kamar berantakan saat aku pulang dan ranjang juga dipenuhi bedak Artha"
" Maaf, aku tadi_"
Tabitha memotong ucapan Arthur dengan menutup majalahnya serta menatap lekat manik Arthur.
" Tak apa"
" Kau tak marah?"
" Tidak, hanya aku mungkin tak akan meninggalkan Artha padamu tanpa ada Madam Rose"
" Kenapa?"
" Ini baru kamar mungkin lain kali mansion akan berantakan karena ulah kalian"
" Sekali lagi maafkan aku"
" Ya, tak apa"
" Persiapannya sudah selesai?"
" Sudah semuanya"
" Bagus"
" Apa Artha begitu merepotkan tadi sampai kamar berantakan?"
" Sebenarnya itu karena aku dan Brian berdebat tentang bedak bayi Artha"
" Ya Tuhan, hanya itu?"
" Iya"
" Kalian sudah tua tapi berkelakuan seperti anak kecil"
" Aku hanya tak terima Brian meremehkanku"
" Baiklah terserah"
Tabitha memiringkan tubuhnya dan mendekap Arthur dari samping. Pria itu pun ikut membalas dekapan hangat sang istri sesekali ia menghadihi Tabitha dengan kecupan singkat di pipi dan keningnya.
🔫🔫🔫
Wedding Day's
Tabitha memandang Diana dari atas sampai bawah, wanita itu sesekali berdecak takjub karena sahabatnya tampak cantik dengan balutan dress putihnya. Tabitha dan kedua sahabatnya akan menjadi bridesmaid untuk Diana, saat dirasa acara akan dimulai Tabitha langsung pamit untuk mencari Arthur.
Matanya menangkap sosok Arthur tengah memegang gelas dan berkumpul dengan Brian, pria itu tampak gagah dengan balutan blezer mahalnya. Tabitha berjalan seraya menggendong Artha dan mendekati Arthur.
" Arthur" Panggil Tabitha membuat ketiga orang yang bersama dengan Arthur ikut menolehkan kepalanya.
" Ya?"
" Tolong bawa Artha dulu"
" Memangnya kau mau kemana?"
" Aku kan jadi bridesmaid jadi aku harus mengantarkan Diana di altar pernikahan. Jadi kau jaga Artha dulu ya" Ucapnya dengan memelas.
" Tapi_"
" Tak mungkin kan aku membawa Artha di altar pernikahan?"
" Iya"
" Jadi kau mau kan menjaga Artha sebentar?"
" Baiklah" Ucap Arthur pasrah.
Arthur merebut Artha dengan perlahan dari gendongan Tabitha, Arthur langsung bermain dengan Artha sedangkan ketiga pria yang bersama Arthur pun mulai bermain juga dengan Artha.
" Kau yakin mereka aman?" Bisik Tabitha khawatir.
" Ya Tuhan, mereka teman-teman ku. Bagaimana bisa kau berpikir mereka berniat mencelakai Artha?"
" Aku hanya takut"
" Tak apa, pergilah"
Tabitha menganggukan kepalanya setuju, ia pun mencium Artha dan kembali untuk melihat Diana.
Jam menunjukkan pukul 10 pagi, Tabitha berjalan beriringan dengan Fitry dan Amel dibelakang Diana yang berjalan dengan kedua orang tuanya. Mereka mengantarkan wanita itu berjalan di altar pernikahan untuk bersama dengan Brian diujung altar. Setelah sampai Brian langsung menyambut tangan Diana lembut, untuk pertama kalinya Brian mengulas senyum manis yang mampu membuat kaum hawa terpukau, selama ini Brian hanya menunjukkan sifat halusnya pada Arthur namun mulai hari ini hal yang sama juga harus ia lakukan pada Diana.
Setelah mengucap janji pernikahan, akhirnya Brian dan Diana resmi menjadi sepasang suami istri, sementara Tabitha meraih tangan Arthur dan menggenggamnya erat.
" Aku bahagia akhirnya mereka bersama" Ujar Tabitha dengan mengulas senyum tipis dibibirnya.
" Iya, aku juga"
Tabitha melirik kearah Artha yang berada dipangkuan Arthur, wanita itu mengulurkan tangannya untuk membelai pipi Artha.
" Akhirnya mereka nikah juga" Ujar Amel tenang.
" Iya" Timpal Fitry.
Setelah selesai, acara pun dilanjut dengan resepsi pernikahan. Tabitha berjalan kearah meja dimana Arthur dan Artha sudah menunggunya. Tabitha berjalan dengan membawa cupcake ditangannya, namun saat ditengah jalan tangannya dicekal oleh seseorang.
" Ta?"
Tabitha mengenal suara itu, suara yang sudah lama ia benci, suara yang begitu sangat memuakan Tabitha. Wanita itu membalikkan tubuhnya dan menatap dari atas sampai bawah sosok yang mencekal tanganya tadi.
" Clark?"
" Ya, maafkan aku"
Tabitha menghentakkan cukup kencang lengannya hingga membuat tangan Clark terlepas dan melayang diudara.
" Aku sudah melupakannya" Ucap Tabitha tegas dan membalikkan tubuhnya hendak melanjutkan perjalanannya namun tangan Clark kembali mencekal lengannya.
" Biarkan aku bicara dulu Ta"
" Lepaskan aku!"
" Ta" Clark semakin mempererat cekalan tangannya hingga.
" Lepaskan tangan istriku!" Sentak Arthur dibelakang tubuh Clark.
Pria itu berjan dengan tegas seraya menggendong Artha dan langsung menghentakkan tangan Clark kencang.
" Jauhkan tangan kotormu dari istriku sialan!" Desis Arthur tajam dan memberikan Artha pada Tabitha.
" Arthur aku hanya ingin minta maaf"
" Sudah, lupakan itu pergilah"
" Tapi Tabitha belum membalas permintaan maafku"
" Pergi!" Sentak Arthur tertahan, karena seluruh tamu undangan mulai melihat mereka.
" Clark?" Fitry berjalan tergesa dan menghampiri pria itu.
" Fitry?"
" Lihat dia! Dia mencintaimu pergilah!" Perintah Arthur yang membuat kedua bola mata Clark membola.
" Kau mencintaiku?" Tanya Clark dengan tatapan tak percaya sedangkan Fitry hanya merunduk.
Tabitha berjalan dan berdiri tepat disamping Arthur.
" Dan asal kau tau Clark, Fitry adalah alasan mengapa karier mu kembali sekarang" Ucap Tabitha menyadarkan Clark yang masih setia menatap Fitry.
" Apa maksudmu?"
" Dia tulus mencintaimu, dan karena dia lah aku dan Arthur memaafkanmu"
" Tapi_"
" Pergilah" Titah Arthur tajam.
Tak lama Brian dan Diana datang bersamaan dengan Amel dan Ryan.
" Arthur?"
__ADS_1
" Tak apa Brian"
 Tabitha melirik Arthur, pria itu menegaskan rahangnya. Tabitha tau suaminya tengah berada diambang kemarahan sekarang, ia pun meraih tangan sang suami dan menggenggam erat.
" Kita pergi"
Arthur menolehkan kepalanya dan melihat tatapan khawatir yang terpancar di mata istrinya, Arthur menghela napasnya untuk menetralisir emosinya.
" Kita pergi Arthur" Pinta Tabitha lagi.
Arthur menganggukan kepalanya dan menarik perlahan tubuh Tabitha, mereka berjalan menjauhi kerumunan itu dan duduk di meja yang tadi mereka duduki.
Arthur masih setia mengetatkan rahangnya, Tabitha membelai perlahan pipi kanan Arthur dan mendaratkan kecupan singkat dirahang pria itu.
" Tenanglah Arthur" Pinta Tabitha seraya menggenggam erat tangan kanan Arthur.
" Aku hanya kesal padanya!"
" Aku tau"
Tabitha tersenyum dan menunjukkan lengannya yang tadi disentuh Clark tepat didepan wajah Arthur.
" Apa?"
" Tangaku disentuh Clark" Adu Tabitha dengan wajah merengek.
" Lalu?"
" Bersihkan dengan sentuhanmu"
" Kau?"
" Aku tak mau ada jejak pria lain ditubuhku" Ujar Tabitha berusaha mengalihkan perhatian Arthur.
Arthur dengan perlahan meraih lengan Tabitha membelainya lembut dan terakhir mencium nadinya.
" Aku mencintaimu" Ujar Tabitha dengan wajah merona.
" Aku tau"
Tabitha menjatuhkan dirinya disamping dan bersender dibahu Arthur, pria itu mengusap lembut puncak kepala sang istri dan membelai pelan pipi Artha.
Acara berlanjut dengan dansa, Diana dan Brian sudah berdansa untuk memulainya, begitupun dengan Amel dan Ryan, sementara Clark dan Fitry terlihat masih berbincang. Tabitha? Wanita itu mengerucutkan bibirnya kesal, pasalnya Arthur tidak peka sama sekali, padahal ia sudah menitipkan Artha pada Madam Rose agar ia dan suaminya itu bisa berdansa tapi sekarang, Arthur terlihat sibuk dengan ponselnya.
" Apa perlu aku buang ponsel itu agar kau bisa memperhatikanku?" Ujar Tabitha dengan melipat tangannya didepan dada.
" Tunggu dulu"
" Lihat mereka Arthur, mereka semua berdansa dan kita? Kita diam disini bahkan kau mengabaikanku dan malah sibuk dengan ponsel mu"
" Tunggu dulu aku harus meyelesaikannya"
" Regnarok?"
" Bukan, kantor"
" Arthur!"
" Tunggu dulu sebentar Ta"
" Baik, lebih baik aku berdansa dengan pria lain, mungkin bisa jadi yang lebih tua dari mu"
" Kau yakin?" Tanya Arthur dengan nada mengejek namun tetap fokus dengan ponselnya.
" Iya" Jawab Tabitha pasti, wanita itu berdiri dan melenggang dari hadapan Arthur.
Arthur sedikit mengawasi istrinya yang berjalan menuju seorang pria yang lebih tua darinya dan dengan langkah tegas Tabitha berjalan kearah pria itu bahkan sudah berdiri tepat dibelakangnya.
Arthur masih meragukan ucapan sang istri, namun saat Tabitha menepuk bahu pria itu dan mulai berbincang, Arthur tau istrinya sedikit gila karena mewujudkan ancamannya.
Disisi lain Tabitha menelan salivanya kasar, ia gugup bagaimana bisa Arthur hanya diam mendengar ancamannya, ia pun dengan langkah tegas yang dibuat-buat mendekati seorang pria yang cukup tua dan menepuk bahu pria itu pelan.
" Em, maaf Tuan bisa aku minta tolong"
" Katakan nak"
" Sebenarnya aku ingin ke kamar mandi tapi aku tak tau dimana arahnya, apa kau tau?" Tanya Tabitha melirik Arthur yang sudah mengetatkan rahangnya. Rasakan itu! Rutuk Tabitha dalam batinnya.
" Ah, kau tinggal jalan beberapa langkah kearah kiri, disana ada toilet"
" Terimakasih tuan"
" Ya sama-sama"
Tak lama tubuh Tabitha melayang karena diangkat oleh Arthur, Tabitha sontak mengalungkan lengannya pada leher pria itu, Arthur masih mengetatkan rahangnya kesal sementara Tabitha berusaha menahan senyumnya.
" Diam"
" Bukanya kau tak memperdulikanku?"
" Diam, Ta"
" Bukanya kau lebih perduli dengan pekerjaanmu?"
" Ta, aku bilang diam" Peringat Arthur dengan menatap Tabitha lekat.
" Kenapa? Kenapa menatapku begitu?"
" Kenapa kau sangat gila?"
" Apanya?"
" Kau ingin berdansa dengan pria itu?"
" Kau tak mau kan? Jadi apa salahnya?"
" Tapi kenapa harus dengan pria yang tidak kau kenal?"
" Percuma aku kenal bahkan punya suami kalau suamiku hanya sibuk dengan pekerjaannya" Ujar Tabitha mengerucutkan bibirnya.
" Baiklah maafkan aku"
" Terserah"
Arthur menurunkan tubuh Tabitha perlahan dilantai dansa, pria itu mendekap tubuh Tabitha erat seakan tak membiarkan istrinya pergi dari jangkauannya, sementara Tabitha pun memeluk Arthur dan mulai menggerakkan tubuhnya berdansa.
" Kau aku bohongi" Ujar Tabitha masih memeluk Arthur.
" Maksudmu?"
Arthur memutar tubuh Tabitha hingga wanita itu membelakanginya namun kaki mereka tetap bergerak seirama, Arthur mendekap Tabitha dari belakang dengan erat.
" Aku tak mengajak pria itu berdansa"
" Lalu?"
" Aku hanya berpura-pura meminta ditunjukkan toilet"
" Kau memang nakal"
" Aku tau"
Arthur menumpukkan dagunya dibahu Tabitha.
" Maaf"
" Kenapa?"
" Sudah mengabaikanmu"
" Tak apa"
" Kau yakin tak marah?"
" Tidak, kan kau sudah mengajakku berdansa sekarang"
" Dimana Artha?"
" Dia bersama Madam Rose"
" Sejak kapan?"
" Sejak Diana dan Brian berdansa" Aku Tabitha diiringi dengan kekehan gelinya.
" Kenapa?"
" Aku memang ingin berdansa denganmu tapi kau sama sekali tak peka dengan keadaan"
" Maafkan aku honey"
Tabitha ikut memeluk dirinya dengan meletakkan tanganya diatas tangan Arthur, gerakan mereka perlahan seakan menikmati alunan musik dansa.
" Aku mencintaimu"
" Aku tau"
Arthur kembali membalikkan tubuh sang istri dan menatapnya lekat, lalu Tabitha melabuhkan kepalanya di dada bidang Arthur, wanita itu memeluk Arthur erat dan dibalas oleh Arthur.
__ADS_1
Setelah berdansa suami istri itu terlihat sedang memakan hidangan yang sudah disiapkan, Arthur menyesap wine ditanganya, sedangkan Tabitha berbincang dengan Amel dan Fitry.
Tak lama Brian datang bersama dengan Diana mereka ikut bergabung dan duduk di meja itu, tak lama ponsel Arthur berdering, Arthur melihat si penelpon dan ternyata Alexander yang menghubunginya.
" Ya?" Tanya Arthur setelah menggeser tombol hijau diponselnya.
" Boss, kami melihat orang mengawasi di luar gedung"
 Arthur meletakkan gelas wine yang tadi dipegangnya diatas meja, mimik wajahnya langsung berubah jadi serius, Tabitha melirik kearah Arthur dan ia menyadari perubahan wajah Arthur.
" Arthur ada apa?" Arthur hanya menjawab dengan gelengan kepala ia pun beranjak dari sana.
" Katakan lebih jelas"
" Kami melihat orang hilir mudik di luar gedung sekarang"
" Kau sudah menangkapnya?"
" Kami ingin menangkapnya, tapi kami takut itu malah tamu undangan"
" Aku akan kesana, awasi saja dulu"
" Baik boss"
" Dimana kalian?"
" Tepat didepan gedung"
Arthur mematikan sambungan teleponnya dan menyimpan ponsel itu disaku celananya namun tepukan dibahunya membuat Arthur terpaksa menolehkan kepalanya.
" Ada apa Arthur?" Tanya Brian.
" Tak apa, hanya urusan pekerjaan"
" Kau yakin?"
" Ya, kenapa aku rasa kau berbohong?"
" Aku tak bohong Brian, ini urusan pekerjaan"
" Jika itu urusan pekerjaan kenapa kau menghindar saat menerima panggilan itu?"
" Tak apa, aku pergi dulu sebentar" Arthur melenggang meninggalkan Brian dengan seribu pertanyaan yang menghantui pikiran nya.
Arthur keluar dari gedung dan mendekati Alexander.
" Dimana?"
" Itu boss" Tunjuk Alexander pada seseorang yang sedang berdiri tepat di samping air mancur.
" Kita dekati?" Tanya Alexander.
" Jangan"
" Lalu?"
" Minta pasukan mengepung dia"
" Baik"
Alexander bergegas berjalan mendekati bodyguard Arthur dan langsung berjalan mendekati pria yang berdiri di samping air mancur.
Arthur berjalan dengan perlahan mendekati pria itu dan menyenderkan tubuhnya ditepi air mancur.
Arthur memilih menghidupkan cerutunya dan menyesapnya.
" Mr. De Lavega?"
" Ya?"
" Anda keluar?"
" Ya, anak buahku memberi laporan ada seorang yang misterius diluar gedung jadi aku memeriksanya."
" Anda mendapatkannya?"
" Ya"
" Apa orang itu adalah aku?"
" Ya kurasa"
" Anda salah, aku hanya ingin menunggu anda keluar, dan ternyata anda keluar sekarang"
" Apa mau mu?"
" Kontrak kerja sama melawan Mr. Xavier"
" Aku tak ingin mengambilnya"
" Kenapa?"
" Aku dan Xavier sudah lama berteman dan aku tak ingin merusaknya"
" Begitu?"
" Ya"
" Lalu bagaimana jika satu pulau pribadi untuk anda"
" Kau sangat membenci Xavier?"
" Ya"
" Apapun yang kau tawarkan aku tak perduli"
" Bagaimana jika ditambah dengan dua jet pribadi"
" Aku sudah banyak memiliki jet jika kau lupa" Ujar Arthur sombong.
" Panthouse?"
" Aku memilikinya diberbagai negara" Ujar Arthur dengan datar.
" Anda sangat keras kepala"
" Ya, ada masalah"
Pria itu menodongkan pistolnya didada Arthur tapi Arthur malah menanggapinya dengan senyum tipis dibibirnya.
" Ikuti kerja sama ini Arthur!"
" Aku sudah bilang, aku tak mau!"
" Kau harus!"
Arthur membalik pistol itu dan dengan cepat menodongkan pistol kedap suara miliknya serta melepas pelurunya tepat dijantung pria itu, Arthur mengeluarkan smirk saat pria didepannya limbung. Alexander dan beberapa bodyguard Arthur menghampiri pria itu.
" Kau tak apa boss?"
" Ya, bereskan"
" Baik"
Arthur kembali memasuki gedung dan mendudukan tubuhnya disamping Tabitha.
" Apa yang baru saja kau lakukan?"
" Menolak tawaran kerja sama"
" Hanya itu?"
" Ya"
" Ada apa Arthur?" Tanya Brian.
" Tak apa, jangan pikirkan"
" Tapi_"
" Tak apa" Arthur menepuk pelan bahu Brian dan Arthur menuangkan wine kedalam gelas dan menyesapnya.
To Be Continue...
Vote Please...
Artha Leonardo De Lavega
Tabitha De Lavega
Arthur De Lavega
__ADS_1