MY HUSBAND CEO IS MAFIA

MY HUSBAND CEO IS MAFIA
MHM 1.9: MEET AGAIN


__ADS_3

Tabitha menonton film diruang bioskop pribadi milik pria itu. Ia pun kaget saat Arthur membawanya ke tempat itu, namun ia mengembangkan senyuman dibibirnya saat Arthur memutar film Fifty Shades Darker ia tau itu film seperti apa, Namun ia slalu saja tersenyum melihat bagaimana akting Jamie Dornan dan Dakota Johnson yang romantis.


Arthur mengecup pelan kepala Tabitha ia pun menengadahkan kepalanya menatap pria itu. Tabitha memeluk Arthur erat seakan tak ingin kehilangan pria itu, Suaminya pun membalasnya.


" Kau tau, aku sangat ingin adegan saat Anastasia mengendalikan perahu bersama Christian terjadi padaku."


" Kenapa?"


" Entahlah, mereka sangat romantis. Aku sangat ingin suatu saat bersamamu mengendalikan sebuah perahu seperti dalam film ini" ucap Tabitha bersembunyi di dada bidang Arthur.


" Kau akan mendapatkannya" gumam Arthur tak terdengar.


" Kau bilang apa?" Tanya Tabitha karena tak mendengar apa yang dikatakan oleh Arthur dengan jelas.


" Tidak"


" Katakan" ucap Tabitha memberi jarak antara dirinya dan Arthur.


" Tidak"


" Kau!" Sentak Tabitha.


" Diamlah, dan nikmati film nya"


" Aku sudah tak mood menonton film ini"


" Lalu kau ingin film apa?"


" Spongebob"


" Tabitha itu tontonan anak kecil. Bagaimana bisa aku menonton film seperti itu"


" Baiklah tak apa" ucap Tabitha mengerucutkan bibirnya.


" Baiklah"


" PUTAR FILM YANG DIINGINKAN ISTRIKU" teriak Arthur.


" Kenapa teriak? Tidak ada orang disini Arthur ka_" ucap Tabitha terpotong karena layar bioskop telah berganti dengan film Spongebob seperti yang dia inginkan.


" Bagaimana ini terjadi?"


" Sebenarnya aku memasang alat perintah di dekat proyektor. Jadi aku memerintahkan anak buahku untuk mengganti filmnya secara otomatis"


" Apa itu artinya mereka mendengar apa yang kita bicarakan?"


" Tidak, aku akan menekan tombol ini lalu bicara, jika aku tak menekannya mereka tak akan dengar." Ujar Arthur memperlihatkan sebuah tombol kecil di dekat kursi yang didudukinya.


" Mengapa kau begitu menyukai kartun ini?"


" Aku tak tau" ucap Tabitha tak memperdulikan Arthur dan lebih memperhatikan layar Bioskop.


" Apa disini kurang menarik hingga kau terpaku pada kartun itu?"


"Owh, seriously? Kau cemburu? Kemarilah" ucap Tabitha merentangkan tanganya. Namun Arthur hanya diam.


" Baiklah aku yang akan berlabuh kepelukanmu" ucap Tabitha memeluk Arthur.


" Seharusnya begitu"


  Mereka masih asik berpelukan namun suara bell mengganggu pendengaran mereka.


" Siapa yang bertamu pukul 1 malam?"


" Ayo kita lihat" ajak Tabitha.


" Tidak biarkan Maid saja yang membukakan pintunya."


" Aku tak mau" tolak Arthur mentah-mentah.


" Ayo sudahi menonton kali ini. Sekarang kita lihat siapa yang bertamu malam-malam begini" ucap Tabitha menarik Arthur dan berjalan beriringan menuju ruang tengah. Arthur memilih duduk di sofa sedangkan Tabitha berjalan kearah pintu Mansion.


" Ya" ucap Tabitha.


" Kau belum tidur?"


" Brian, masuk lah."


" Aku membawa seseorang untukmu"


" Siapa?" Ucap Tabitha penasaran.


" Kemarilah"


Tabitha masih diam namun saat seseorang mendekat kearahnya ia membelakakan matanya saat melihat si tamu.


" DIANA!!" teriak Tabitha spontan dan memeluk sahabatnya.


" TATA" ucap Diana dengan senyum mengembang.


" Ada apa ini kenapa teriak-teriak" ucap Arthur karena teriakan istrinya membuat dia sedikut terganggu.


" Lo kok bisa di sini?"


" Gue kabur"


" Maksudnya?"


" Kita bicara didalam" suruh Arthur. Tabitha dengan cepat menarik lengan Diana dan membawanya kesofa. Ia baru sadar penampilan Diana sangat memprihatinkan baju kusut, dan rambut berantakan dan jangan lupakan Diana tidak menggunakan alas kaki.


" Apa yang terjadi?" Tanya Tabitha panik.


" Diana hampir dirampok oleh penjahat di sekitar bandara. Tapi aku melihatnya jadi aku menolongnya" ucap Brian.


" Astaga Diana, kau tak apa-apa" tanya Tabitha panik membolak balik pipi Diana.


" Gue kabur dari Indonesia Ta"


" Kenapa?"


" Papa maksa gue buat sekolah di Jerman ngambil jurusan arsitek, tapi gue nggak mau. Lo tau kan gue paling suka sama modelling"


" Ya gue tau"


" Papa selalu maksa gue akhirnya, gue mutusin buat pergi ke New York karena yang ada dipikiran gue cuma lo Ta. Dan gue yakin, gue bisa ngerintis karir modelling gue disini"


" Terus sekarang kamu mau tinggal dimana?" Tanya Arthur mulai angkat bicara.


" Nggak tau"


Tabitha mendekati Arthur dan mendudukan dirinya disamping suaminya itu.


" Diana tinggal disini aja yah, temenin Tata"


" Tapi_"


" Tata mohon" Arthur tak bisa berkutik saat Tabitha mengeluarkan nada manjanya. Ia pun mengganggukan kepalanya lalu sedetik kemudian istrinya memeluknya erat.


" Makasih" Tabitha melenggang pergi menarik Diana kesalah satu kamar tamu di Mansion.

__ADS_1


" Kau tidur disini okey"


" Apa lo bilang barusan? Kau? Kenapa omongan lo jadi beda?"


" Kebiasaan" ucap Tabitha.


" Nggak papa juga sih pake aku-kau" ujar Diana.


" Serius?"


" Iya Tata"


" Okey Lo, tidur disini yah. Anggep aja rumah sendiri"


" Ta, Makasih yah. Lo baik banget sama gue"


" Sama-sama Dian, lagian apa sih yang nggak buat sahabat" ucap Tabitha dan mereka pun berpelukan.


" Yaudah gue mau keluar dulu ya"


" Oke"


" Lo udah makan?" Tanya Tabitha di ambang pintu.


" Belum"


" Kalo udah, lo turun abis itu lo makan"


" Kalo butuh apa-apa tinggal minta aja sama maid disini okey" ucap Tabitha tersenyum lebar.


" Iya Istrinya boss" ucap Diana sedikit menyindir.


" Apa sih lo" Tabitha pun melenggang pergi menuju kamarnya.


Ia berjalan cepat kearah kamarnya lalu membuka pintu kamar, tampaklah Arthur tertidur disofa. Tabitha menarik sedikit ujung bibirnya lalu ia berjalan kearah sofa dan mengelus pelan pipi Arthur. Tabitha menekan tombol diujung sofa dan dan sandaran sofa itu pun bergerak hingga posisinya seperti kasur kecil. Tabitha merebahkan tubuhnya menyamping memeluk Arthur, dan ia pun mencoba memejamkan matanya.


" Ku kira kau akan tidur dengan sahabatmu" ucap Arthur mengagetkan Tabitha, namun pria itu masih tetap memejamkan matanya.


" Tidak, aku tidak mungkin meninggalkanmu sendiri" Tabitha menatap wajah Arthur. Pria itulun menarik sedikit bibirnya.


" Benarkah?"


" Lupakan, ada masalah penting yang harus kubicarakan" ucap Tabitha terbangun dan mendudukan dirinya.


" Apa" Arthur bangun dan menyerukkan wajahnya ke leher Tabitha.


" Kau punya perusahaan yang bergerak ke bidang Modelling kan?"


" Ya"


" Bisa kau bantu aku?"


" Apa?"


" Buat Diana jadi model dari perusahaanmu"


" Itu mudah"


" Baiklah"


" Diana tertekan orang tuanya?" Tanya Arthur.


" Ya, dia diminta sekolah di Jerman untuk jadi Arsitek oleh papa nya"


" Kau tak ingin melanjutkan kuliahmu?"


" Aku tak berpikir kesitu Arthur, sekarang yang aku mau ada menikmati hari-hariku denganmu"


" Tapi kau janji akan membuat karir Diana berkembang bukan?"


" Brian akan berusaha"


" Kenapa Brian?" Ucap Tabitha membalikkan tubuhnya menghadap Arthur.


" Brian yang mengurus semua masalah di bidang Modelling karena jujur saja aku sedikit tak tertarik dengan bidang ini. Tapi Brian memintaku untuk membangun perusahaan di bidang Modelling karena dirasa cukup berpeluang besar"


" Tapi aku tak yakin Brian ak_"


" Aku yakin, lagi pula kurasa telah terjadi sesuatu pada Brian" sela Arthur.


" Apa?"


" Sepertinya Brian menyukai Diana"


" What? Kenapa kau bisa bicara seperti itu?"


" Aku sudah lama hidup bersama Brian, selama ini hidup Brian begutu monoton, selalu saja menuruti perintahku. Oleh sebab itu aku senang saat ia menjalin hubungan dengan Clarissa"


" Tapi sayang wanita itu justru meninggalkan Brian karena dia tertarik pada pria lain" lanjut Arthur.


" Bianca?"


" Sebenarnya Bianca adalah cinta pertama Brian di Senior High School tapi sayang Bianca dijodohkan dengan pria lain lalu mereka menikah, Bianca disiksa lalu mereka bercerai dan Bianca dicampakkan oleh keluarga mertuanya. Setelah itu keluarga satu-satunya Bianca, ibunya meninggal karena serangan jantung akibat mendengar kabar atas kehancuran rumah tangga putrinya."


" Itu bagus, jadi Brian bisa mendekati Bianca lagi"


" Sayangnya tidak semudah itu, Brian tak berani mengungkapkan apa yang dirasakannya pada Bianca. Bodoh memang, tapi dia adalah sahabat sejatiku"


" Kalau begini terus Brian nggak nikah-nikah dong" ujar Tabitha disambut kekehan Arthur.


" Ya, oleh karena itu aku berniat menjodohkan Diana dan Brian"


" Tap_"


" Kita lihat apa yang akan kulakukan untuk mendekatkan mereka honey"


" Terserah, sudahlah aku mengantuk. Ingin tidur" ucap Tabitha melenggang kearah ranjang. Dan menidurkan dirinya.


Arthur bangun dan mendekati ranjang, ia pun menyampingkan tubuhnya memeluk wanita itu dengan hangat. Tabitha pun mengelus pelan lengan Arthur diperutnya. Mereka pun terbawa mimpi masing-masing.


🔫🔫🔫


Pagi hari yang cerah dengan sinar matahari menyilaukan mata mengganggu tidur nyenyak Arthur. Pria itu menggeliat mengumpulkan kesadaranya, melirik keberbagai arah mencari istri tercintanya. Ia melihat jam diatas nakas mengucek metanya pelan dan menajamkan penglihatanya.


" Shit! Jam 8 pagi" Arthur berdecak kesal. Dimana Tabitha hingga tak membangunkan tudurnya. Lagi ponselnya berdering.


Dengan cepat Arthur menekan tombol hijau dan meletakkan ponselnya di telinganya.


" Katakan!" Sentak Arthur.


" Arthur santai, ini masih pagi. Maaf mengganggu mu, jadi begini tadi pagi istrimu memintaku mengantarkan nya dengan Diana ke Mall"


" Apa! JADI TABITHA PERGI DENGANMU BRIAN!" Teriak Arthur berapi-api.


" Boss, santai saja sebenarnya aku sudah membujuk istrimu untuk pergi dengan mu tapi dia malah bilang kalau dia tak mau diantar olehmu dengan mobil sport mu, lalu harus tertekan dengan wajah datarmu yang akan mengganggu acara belanja nya" ujar Brian panjang lebar dengan menirukan gaya bica Tabitha saat berbicara padanya.


" Dimana kau sekarang?"


" Aku ada di Mall dekat dengan mansion kenapa?"

__ADS_1


" Baiklah"


" Oh God, jangan bilang kau akan menyusul kami?"


"Ya"


" Arthur Tabitha akan membunuhku, jangan kau susul yah. Lagi pula kau harus mendengar alasan istrimu yang cukup menggelikan" ucap Brian dengan penekanan diujung kalimatnya.


" Apa?"


" Dia bilang dia tak mau memperlihatkan wajah tampanmu hahaha" ucap Brian dengan disertai kekehannya.


" Baiklah" ucap Arthur dengan senyuman miring di bibirnya.


Setelah menutup sambungan telepon dari Brian, Arthur menekan salah satu nomor di ponselnya.


" Halo"


"..."


" Ya, temui aku di Mall dekat Mansion"


"..."


Arthur tanpa menunggu jawaban ai penelpon langsung mematikan sambungan teleponnya dan bergegas ke kamar mandi dan bersiap. Setelah sudah rapi dengan pakaian kasual nya, Arthur segera mengeluarkan mobik sport miliknya Lykan Hypersport ia menyupirnya sendiri melaju ke tempat istrinya berada. Arthur dengan tenang menunggu seseorang yang ditelponnya tadi dengan menyenderkan tubuhnya ke depan mobilnya.


" Ayo ikut aku" ucap Arthur saat yang ditunggu datang. Seorang wanita dengan rambut pirang tinggi semampai.


" Kemana?"


" Sudah ikuti saja apa yang kuperintahkan"


" Tap_"


" Mana tanganmu?"


" Untuk"


" Ulurkan saja" perintah Arthur yang diikuti wanita itu. Dengan cepat Arthur menggenggam tangan wanita itu erat.


" Jika bukan untuk tujuanku, aku tak ingin bersentuhan dengan wanita lain selain dirinya." Gumam Arthur melirik kearah genggaman tanganya dan memutar bola matanya malas.


" Maaf, tapi kita mau kemana?" Cicit wanita itu.


" Pakaian wanita"


" Apa?"


" Sudah jangan banyak bicara" ucap Arthur menarik pelan tangan wanita itu.


   🔫🔫🔫


Tabitha memilih baju-baju yang dia inginkan, namun saat ia tengah sibuk memilih baju itu tak sengaja matanya menangkap sosok yang sangat ia kenal. Pria tinggi tegap dengan dagu terbelah itu nampak tengah berbelanja dan jangan lupakan tangannya yang erat menggenggam tangan seorang wanita disampingnya. Sudah dipastikan matanya panas sekarang dan hampir berkaca-kaca benarkah itu pria yang dicintainya. Sial, jika benar dia orangnya.


" Tabitha?" Tanya Diana saat melihat ekpresi wajah sahabatnya yang mengetat.


" Gue harus kesana dulu penting" tutup Tabitha meninggalkan Diana lalu Brian pun datang.


" Ada apa Diana? Mana Tabitha?" Diana yang kaget hanya menunjuk kearah dimana Tabitha berjalan cepat dan tergesa-gesa kearah seorang pria dan wanita.


" Sial, Boss!" Brian mengumpat sejadi-jadinya melihat Arthur dengan tenang menggenggam tangan wanita lain. Brian berlari menghampiri Tabitha.


Terlambat wanita itu sudah tepat berdiri dibelakang Arthur. Saat Brian dan Diana berdiri disamping dua orang yang tengah memilih baju Tabitha mengepalkan tanganya erat. Dengan sekali hentak Tabitha menarik lengan pria itu hingga berhadapan dengannya, sedetik air matanya luluh tak terbendung, namun sedetik setelah air matanya menetas.


Plak


Arthur memegang pipi kananya yang panas, akibat tamparan yang diberikan Tabitha. Ia tersenyum kecil dan wanita disamping Arthur tertunduk malu.


" KAU! BERANI SEKALI KAU KESINI DENGAN SELINGKUHAN MU YANG NAMPAK TAK SEBANDING DENGANKU ARTHUR! ASAL KAU TAU AKU KESINI UNTUK MELAKUKAN RENCANA KITA TAPI KAU DENGAN SENANG HATI MEMBAWA WANITA INI!!" Teriak Tabitha berapi-api.


" Ta_"


" DENGARKAN AKU BIAR AKU BICARA, AKU TIDAK MEMBAWAMU KEMARI KARENA AKU TIDAK INGIN KAU DIPANDANG WANITA LAIN, KAU TAU AKU CEMBURU SAAT MELIHAT TATAPAN MENDAMBA DARI WANITA-WANITA ITU!!"


" Maaf" Arthur membalasnya dengan menaikkan satu alisnya.


" DAN KAU! WANITA MACAM APA KAU BERANI BERBELANJA DENGAN SUAMI ORANG" teriak Tabitha menggelegar. Bahkan beberapa pengunjung menghentikan aktifitasnya.


" Dengar aku dulu" ujar Arthur dengan kekehannya.


" APA!" sekali lagi Tabitha menepis tangan Arthur yang berusaha menggapainya.


" Dia buka selingkuhanku, dia sekertarisku Lisa kau ingat?" Tanya Arthur memelankan nada bicaranya.


" Apa?" Tabitha masih belum mengerti apa yang dilakukan pria didepannya ini.


" Aku mengerjaimu lagi" ucap Arthur pelan.


" Jadi ini semua_"


" Ya, kau sendiri yang membuatku marah pagi-pagi dengan tidak mengajakku berbelanja. Padahal kau tau aku sangat ingin berbelanja denganmu"


" Maaf nyonya, apa yang dikatakan boss benar. Tadi pagi aku diminta kesini untuk memanas-manasi mu" ujar Lisa


" Astaga Arthur!" Tabitha menghembuskan nafasnya menetralkan kemarahanya. Ia menangkup wajahnya dengan telapak tanganya.


" Arthur kau keterlaluan. Kau tau dengan tindakanmu ini media bisa saja meliput kita" ucap Brian.


" Terserah" jawab Arthur acuh dan merengkuh tubuh kecil istrinya


" Dan kau Lisa. Terimakasih pergilah kekantor mungkin aku akan bekerja dirumah hari ini"


" Baik boss" ucap Lisa melenggang pergi.


" Bisa kita lanjutkan acara belanja ini?" Tanya Brian.


" Ya, aku setuju" ucap Diana.


Tabitha membuka jarak dan melepaskan pelukanya ia menatap Diana.


" Lo sama Brian, gue sama Arthur"


" Apa?" Ujar diana gugup.


" Brian kau tau ucapan istriku adalah perintah.


" Ya boss" ucap Brian malas.


" Kita pergi?" Tanya Arthur dengan dibalas anggukan dari Tabitha. Mereka pun melenggang pergi menjauhi Brian dan Diana yang membeku ditempat masing-masing.


To Be Continue...


Vote Please..


Chap ini emang dibuat untuk untuk masa sweet pasangan Artha



Tabitha De Lavega

__ADS_1



Arthur De Lavega


__ADS_2