
Arthur menuruni tangga mansionnya berakhir di meja makan, disana sudah ada madam Rose namun matanya tak menemukan Tabitha disana.
" Dimana wanita itu?" Tanya Arthur sembari mendudukan tubuhnya.
" Wanita mana yang kau maksud? Aku wanita dan para maid juga wanita" ucap Madam Rose memancing.
" Tabitha"
" Oh, Tabitha tadi pamit"
" Dia pergi kemana!" Sentak Arthur meletakkan kembali tanganya yang hendak menyuapinya makan.
" Dia berbelanja"
" Bukannya itu tugasmu madam?"
" Dia bilang ia bosan. Jadi dia memaksa untuk pergi berbelanja tanpa ditemani Alexander"
" Oh"
" Kau tak perduli?"
" Ya"
" Bagaimana kalau ini hanya siasat nya untuk bertemu kekasihnya itu?" Ujar Madam Rose sembari mengelap piring diatas meja makan.
Madam Rose tau Tabitha seperti apa dan ia juga mengerti sifat putranya, oleh karena itu ia memancing Arthur agar pria itu mau menyusul Tabitha. Terbukti sekarang Arthur menghentikan acara makan-makan nya. Pria itu dengan cepat meneguk habis air minumnya lalu pergi menuju kamar, dan kembali dengan jas dan celana kainnya.
" Aku pergi"
" Kau mau kemana? Ini terlalu pagi untuk ke kantor nak"
" Aku ada urusan" ucap Arthur remang terdengar karena ia sudah keluar dari mansion.
" Semoga kalian segera menemukan titik temu dan kembali seperti sebelumnya." Ucap Madam Rose.
Arthur mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia harus segera menemukan Tabitha. Hingga saat ia menuju area parkir sebuah mall ia menangkap sesosok wanita bertubuh mungil yang sangat ia kenal. Arthur menggeram karena Tabitha terlihat sedang asik menikmati ice cream dengan seorang bocah.
Arthur cemburu, ya ia memang cemburu pada bocah itu entah mengapa seharusnya ia lah yang bersama wanita itu. Arthur dengan cepat memakai kacamatanya dan segera membuka mobilnya lalu berjalan cepat mengikis jarak dengan sang istri.
" Ayo pulang" ucap Arthur bersedekap.
" Arthur"
" Ya, ayo pulang. Sudah cukup bermain-main nya"
" Tapi"
" Aunty kau akan pergi?" Ucap bocah lelaki yang mungkin berumur 4 tahun.
" Ya, dia akan pergi"
" Tapi mommy belum ketemu" ujar bocah itu polos.
" Aku mohon, biarkan aku mencari mommy nya dulu" ucap Tabitha diiringi puppy eyes nya.
" Tidak"
" Uncle, ku mohon. Biarkan aunty menemani ku"
Tabitha berdiri dari duduknya dan menarik tangan Arthur menjahui bocah itu.
" Aku tau kau sebenarnya masih memiliki hati, jadi ku mohon biarkan aku mencari mommy nya."
" Tidak kita pulang sekarang" ucap Arthur penuh penekanan.
" Arthur, bisakah kau lupakan dulu masalah diantara kita? Ku mohon"
" Jika ku katakan tidak bagaimana?"
" Aku percaya kau bukan orang seperti itu"
" Baiklah lima menit, jika dalam lima menit kita tidak menemukan mommy bocah itu kita pulang"
" Terimakasih"
Tabitha tersenyum lalu mendekati bocah itu berbicara dan mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh pendek bocah itu. Arthur tanpa sadar mengulas senyum tipis kala mendapati pemandangan itu, ia berjalan kearah mereka dan berdiri disamping Tabitha.
Tanpa aba-aba bocah itu memeluk kaki Arthur, pria itu menahan napasnya sesaat saat mendapat perlakuan manis dari bocah yang bahkan ia saja tidak mengenalnya.
" Terimakasih uncle, Evan sangat berterimakasih" ucap anak bernama Evan itu. Arthur menbungkukan tubuhnya menatap manik mata meneduhkan milik bocah itu.
" Kita akan mencarinya bersama"
" Yeay, terimakasih uncle" lalu Evan mengulurkan tanganya meminta gendongan Arthur, pria itu dengan sigap menggendong tubuh mungil dihadapanya.
" Kita pergi sekarang?" Tanya Arthur pada Evan.
" Ya, ayo aunty" Tabitha mengulas senyum nya ia bahagia melihat Arthur kembali seperti dulu. Dengan senyum tipis menawanya, ia melupakan sejenak masalahnya.
Mereka berjalan beriringan dengan Arthur yang menggendong Evan, mereka tampak seperti keluarga bahagia. Arthur sibuk bermain dan tertawa bersama Evan, Tabitha tersenyum simpul menanggapi.
Hingga saat ia memasuki area keamanan mall itu terdengar suara seseorang memanggil Evan.
" Mom" ucap Evan dan wanita itu pun segera merebut Evan dari gendongan Arthur. Arthur sedikit merasa kehilangan saat Evan kembali bersama mommy nya.
Evan turun dari gendongan ibunya, ia menatap Tabitha dengan sigap wanita itu memperpendek dirinya agar sejajar dengan tubuh pendek Evan. Tanpa aba-aba Evan mengecup pipi kanan Tabitha, hal itu membuat Arthur sedikit cemburu, sial ia saja selama seminggu ini belum mencium istrinya. Dan bocah itu sudah mencurinya. Batin Arthur.
" Kau sangat manis" ujar Tabitha mengacak-acak rambut Evan.
" Terimakasih sudah menemukan anakku bahkan menjaganya" ucap si Ibu mengulurkan tangannya agar bersalaman dengan Tabitha, Tabitha pun menyambut uluran tangan itu.
" Sama-sama, putramu sangat menggemaskan"
__ADS_1
" Terinakasih"
Di sisi lain Evan menarik-narik celana kain Arthur, pria itu melihat kebawah dan menjongkokkan tubuhnya agar bisa melihat Evan dengan jelas.
" Uncle jangan menyankiti aunty yah, tadi saat aku bertemu dia sedang menangis oleh karna itu aku mengajaknya makan ice cream"
" Kata siapa uncle yang membuat aunty menangis?"
" Kata Daddy, kalau mommy menangis itu artinya mommy dan daddy sedang ada masalah, jadi mungkin sekarang uncle dan aunty juga ada masalah"
" Jangan sok tau"
" Kalau saja Evan sudah besar, pasti sekarang Evan akan menyayangi aunty dia sangat baik"
" Tidak boleh, dia milikku"
" Baiklah tapi uncle tidak boleh menyakitinya lagi, nanti Evan rebut aunty nya" ujar Evan dengan cengiran kudanya.
" Ayo kita pergi" ajak ibu Evan.
" Oke" ujar Evan dan mengecup singkat pipi Arthur.
" Thanks uncle"
Arthur tersenyum miring ia melambaikan tangannya melepas kepergian Evan, baru kali ini Arthur merasa sangat senang bertemu anak kecil, sangat menggemaskan.
" Ayo pulang" ujar Arthur kembali datar dan menarik lengan Tabitha sedikit kasar.
" Sakit Arthur" adu Tabitha namun tak di dengar pria itu.
" Menangis lagi" ujar Arthur saat melihat Tabitha meneteskan air matanya.
" Hapus lalu kita pulang" ujar Arthur meninggalkan Tabitha.
" Kenapa perubahanya cepat sekali Tuhan, kenapa dihadapanku dia sangat dingin?" Lirih Tabitha lalu suara klakson mobil membuyarkan lamunannya.
Tabitha menaiki mobil Arthur lalu Arthur melirik Tabitha, wanita itu terlihat kesusahan memasang seat belt nya. Arthur mencodongkan badan nya meraih seat belt itu dan memasangkan nya pada Tabitha saat selesai manik mata mereka bertemu.
Jarak mereka sangat dekat, sampai hembusan nafas Arthur lembut menerpa kulit wajah Tabitha. Arthur menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah cantik istrinya.
" Lain kali, jangan menangis di tempat umum seperti tadi"
" Kau mengetahuinya?"
" Bocah itu memberitahuku" ujar Arthur lalu menarik tubuhnya menjauhi Tabitha dan mulai menjalankan mobilnya.
Hanya ada keheningan di dalam mobil, sesekali Tabitha melirik kearah Arthur yang sedang fokus menyetir mobil entah mengapa ia menjadi sangat senang melihat Arthur dengan kefokusan seperti itu.
" Mengapa?"
" Ha?"
" Mengapa kau melihatku seperti itu?"
" Tidak"
" Aku tidak bohong"
" Terserah"
Tabitha merasa kesal sekarang, haruskah Arthur bicara seketus itu padanya. Akhirnya ia membuang wajahnya kearah jalanan yang padat namun ia merasa sangat ngantuk jadi ia pun tertidur.
Arthur menghentikan mobilnya setelah sampai dihalaman mansion, pria itu melirik kesampingnya. Tampak Tabitha tertidur cukup pulas. Arthur tak tega untuk membangunkannya akhirnya Arthur mengangkat tubuh istrinya lalu membawanya kedalam mansion.
Setelah menurunkan tubuh istrinya Arthur tersenyum miris, haruskah ia percayai egonya dalam bertindak?
" Jika semua ini tentang Clark, kau salah paham Arthur" lirih Tabitha. Ya, Wanita itu sudah bangun sejak Arthur membawa tubuhnya dalam gendongan pria itu.
" Tidak"
" Apa Alexander mengatakan sesuatu tentangku padamu?"
" Tidak"
" Tolong jawab aku dengan benar"
" Harus kujawab bagaimana?"
" Arthur"
" Tidurlah, aku akan bekerja"
" Bisakah kau hentikan semua ini? Aku sudah tidak tahan dengan sikapmu"
" Begitupun aku"
" Maksudmu?"
" Sudahi ini, jika tidak kita akan berdebat lagi"
" Terserah" ujar Tabitha pasrah.
Arthur membalikkan tubuhnya berjalan dengan tenang keluar dari kamarnya. Ia memasuki ruang kerjanya dan menghubungi Brian, asistennya itu tidak terlihat selama seminggu ini.
" Halo Arthur"
" Dimana kau?"
" Aku sedang ada urusan, mungkin dalam waktu yang lama"
" Kenapa tak memberitahuku?"
" Aku lupa"
__ADS_1
" Kapan kau pulang?"
" Kan sudah ku katakan aku tak tau"
" Lalu bagaimana dengan urusan kantor?"
" Akan kuselesaikan dari sini, kau tinggal tau beres"
" Lalu bagaimana dengan meeting?"
" Akan kusuruh Alexander yang melakukannya?"
" Sebenarnya disini siapa bossnya?"
" Kau"
" Lalu mengapa kau bertindak seolah-olah kau boss nya?"
" Lho, bukanya kau sendiri yang tidak ingin diganggu. Dan memilih untuk pergi bersenang-senang dengan jalangmu?"
" Maksudmu?"
" Aku membebaskanmu dari pekerjaan Arthur, kau bisa dengan mudah bermain wanita itu"
" Kau lancang Brian!"
" Tidak, ini nyata Arthur. Bukanya kau sendiri yang bilang pada istrimu untuk tidak mengganggu kesenanganmu dengan wanita-wanita itu?"
" Jadi, sebagai asisten yang baik. Aku mempermudah kesenanganmu Arthur" lanjut Brian lalu mematikan sambungan teleponnya. Arthur menggeram baru kali ini Brian bertindak diluar batasannya.
Arthur keluar dari ruang kerjanya dan berjalan kearah pantry meraih sebotol whiskey dari sana. Dan meneguknya habis, pria itu duduk dengan kemarahan masih diubun-ubun ia mencengkram botol whiskey yang kosong itu hingga terpecah bahkan melukai tanganya.
Tabitha yang dengan santai berjalan kearah ruang tengah sembari menguncir rambutnya terkejut saat melihat sebuah tangan yang meneteskan darah. Dengan cepat Tabitha berlari dan melihat siapa pemilik tangan itu, Arthur.
" Apa yang kau lakukan!" Sentak Tabitha lalu berlari kearah laci dan mengambil kotak obat disana.
" Kemari" pinta Tabitha meminta tangan Arthur.
" Tidak, biarkan saja"
" Dasar keras kepala!" Rutuk Tabitha lalu meraih tangan Arthur kasar, membuat pria itu sedikit meringis kesakitan.
" Maaf" lirih Tabitha saat mendengar ringisan Arthur.
" Kau sangat bodoh! Bagaimana bisa tanganmu terluka tapi kau tak merasakannya?" Ujar Tabitha semari membersihakan darah Arthur.
" Darahnya sangat banyak"
" Rasa sakitnya tak sesakit hatiku" gumam Arthur.
" Kau bicara sesuatu?"
" Tidak"
" Ceroboh!"
" Apa?"
" Kau ceroboh, bagaimana bisa botol pecah masih kau pegang, dasar bodoh!" Rutuk Tabitha sembari memberikan antiseptic di tangan Arthur lalu menutupnya dengan kapas dan perban.
" Kau khawatir?"
" Pertanyaan macam apa itu?" Ucap Tabitha seraya membereskan kotak obat.
" Setelah apa yang ku lakukan kau masih tetap peduli padaku?"
" Jangan bodoh!"
" Kau pikir dengan kau memperdulikanku, aku akan melupakan kesalahanmu? Jawabanya TIDAK" Ucap Arthur menekan kalimat terakhirnya.
" Terserah!" Ujar Tabitha berusaha mengabaikan ucapan Arthur.
" Mengapa kau tidak menemui kekasihmu?"
" Lalu berbincang mengenai aku, lalu jika bisa kau bongkar saja siapa diriku sebenarnya" lanjut Arthur. Tabitha berusaha menulikan pendengarannya walaupun tanganya sudah mengepal sempurna.
Tabitha menaruh kotak obat itu kedalam laci lalu hendak menaiki tangga menuju kamarnya namun.
" Jangan kau pikir aku ingin berterimakasih dengan wanita murahan seperti mu"
Tabitha menggeram, ia berbalik dan mengahadap Arthur.
" Jika bukan karena cinta, aku akan menembak kepalamu sekarang juga Arthur!"
" Jika bukan karena kau suamiku, akan kutambah darah itu bukan malah mengobatinya! Terserah kau ingin berterimakasih atau tidak aku sama sekali tidak mengharapkan kalimat itu terucap dari mulutmu!"
" Kau melupakan siapa yang mengajarimu menembak?"
" Tidak! Dan sudah ku tanyakan apa masalahnya tapi kau tak pernah menjawabkan? Itu artinya kau sendiri tak ingin masalah ini terselesaikan! Kau itu lebih dewasa dariku seharusnya kau lebih bijaksana menyikapi masalah ini! Kau terlalu percaya pada ego mu sendiri Arthur!" Ujar Tabitha lalu melenggang pergi meninggalkan Arthur menuju kamarnya menumpahkan tangisanya kembali ditepi ranjang.
Sedangkan Arthur masih mencerna setiap kata demi kata yang diucapkan istrinya. Benarkah semua tuduhan Tabitha terhadap dirinya?
To Be Continue...
Vote Please...
Tabitha De Lavega
Arthur De Lavega
__ADS_1
note: makasih sarannya yh, tapi author wujudin permintaan readers untuk Tabitha pergi di klimaks masalahnya... tapi kalo ada saran lagi silahkan...