MY HUSBAND CEO IS MAFIA

MY HUSBAND CEO IS MAFIA
MHM 2.6: STILL MISSION


__ADS_3

Arthur memasuki mansion keluarga besarnya. Pria itu mengambil langkah yang lebar agar cepat sampai ke kamarnya. Setelah sampai ke kamarnya Arthur segera memasuki kamar mandi dan membersihkan tubuhnya dari debu yang menempel ke tubuh tegapnya.


Setelah selesai dengan acara bersih-bersihnya. Arthur berjalan kearah walk in closet untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian santai. Pria itu masih menjalankan otaknya untuk menerka siapa pembunuh Jack Pattison. Ditengah lamunannya ponsel milik Arthur berdering menandakan pesan masuk.


Arthur meraih ponselnya, tersenyum simpul saat mengetahui siapa si pengirim pesan. Arthur membuka pesannya yang ternyata sebuah gambar.



Malam ku tanpamu...


Tulis Tabitha, Arthur hanya tersenyum menanggapi. Ia pun segera menelpon Istrinya.


" Ya?"


" Maksudmu mengirim gambar itu?"


" Hanya mengungkapkan perasaanku"


" Kau sangat manja"


" Salah jika manja pada suami sendiri?"


" Tidak"


" Sedang apa?"


" Bicara dengan mu"


" Jangan bodoh"


" Baiklah maaf"


" Kapan kau pulang?"


" Secepatnya"


" Aku akan menunggumu"


" Terimakasih"


" Apa kau mencari kesenangan lain disana?"


" Tidak, jangan bodoh! Aku tak pernah bermain dengan wanita"


" Serius? Seorang Arthur De Lavega tak pernah bermain wanita?"


" Ya"


" Kenapa aku curiga"


" Aku lebih memilih merusak tubuhku dengan mabuk bukan dengan bermain wanita Tabitha"


" Baiklah, aku percaya"


" Bagus"


" Arthur" sapa Brian dibalik pintu.


" Brian sudah memanggil, aku harus sudahi ini."


" Baiklah"


" Okey, nice dream wife"


" Thanks husband"


Arthur mematikan sambungan teleponnya. Dan bergegas membuka pintu yang menghalanginya dengan Brian, ajudannya.


" Apa?"


" Mr. Walker datang kesini"


" Untuk?"


" Aku tak tau"


" Bawa dia keruanganku"


" Baik" Brian pergi meninggalkan Arthur. Pria itu berpikir sebentar mengenai kedatangan James Walker ke mansionnya.


Akhirnya Arthur bergegas untuk keruangan kerjanya. Arthur membuka knop pintu yang didalamnya sudah ada Brian dan James Walker.


" Mr. Walker"


" Ya, Mr.De Lavega"


" Ada apa ini?"


" Mr. Anders sudah mengutusku untuk menemuimu sekaligus untuk menguburkan Jack Pattison secara terhormat."


" Baiklah, apa yang ingin kau ketahui?"


" Tidak ada sebenarnya Mr. De Lavega"


" Lalu?"


" Aku hanya diminta untuk menanyaimu tentang Jack Pattison, dan disk itu"


" Maksudmu?"


" Mr. Vice President bertanya kapan kau akan menyelesaikan misi ini?"


" Kami sudah ditengah jalan"


" Bagus"


" Apa lagi yang ingin kau tau?"


" Mr.Vice President bertanya apa tujuanmu meminta lokasi lab Alessandro?"


" Katakan pada Mr. Anders, aku tidak akan membocorkan siasatku dalam menjalankan sebuah misi. Jadi kuharap Mr. Anders mau mengerti kalau aku punya cara tersendiri untuk menyelesaikan misi ini. Jadi yang perlu dilakukan oleh kubu Amerika adalah mengirimkan lokasi Lab Alessandro, hanya itu" ujar Arthur dengan nada datar.


" Lagi pula kurasa Mr. Anders sudah menyetujuinya!" Desis Arthur tajam.


" Maafkan aku Mr. De Lavega"


" Baiklah, jika memang tak ada lagi yang harus kita bicarakan. Aku mengantuk, biarkan aku istirahat" ucap Arthur mengusir James dengan lembut.


" Baiklah Mr. De Lavega maaf telah mengganggu waktu istirahatmu"


" Ya"


James hanya menghela napas menghadapi sikap Arthur yang terlampau dingin dihadapanya. Pria itu pergi dengan langkah cepat menjauhi Arthur.

__ADS_1


" Kita akan pergi ke Amerika malam ini?"


" Tidak, besok saja"


" Baiklah, akhirnya aku bisa bertemu ketenangan"


" Maksudmu?"


" Tidak, maksudku berdiam di kamar berbaring dengan tenang. Ya, hanya itu"


" Terserah" ucap Arthur acuh meninggalkan Brian.


🔫🔫🔫


Arthur sudah siap dengan pakaian formalnya sama hal nya dengan Brian, mereka menunggu kedatangan Jet pribadi milik Arthur yang akan membawa mereka ke Amerika.


Tak lama yang ditunggu pun datang, Jet Pribadi Arthur sudah siap dihadapan Arthur dan Brian, mereka segera memasuki Jet itu. Arthur membuka kancing jas nya lalu mendudukan tubuhnya berhadapan dengan Brian.


" Sudah kau terima lokasinya?"


" Sudah"


" Dimana?"


" Seattle"


" Kau yakin?"


" James mengirim lokasinya kemarin malam" ucap Brian disambut anggukan Arthur.


Pria dengan dagu terbelah itu dengan tenang menyesap whiskey di tanganya, berbeda dengan Brian yang hanya menyesap wine. Hingga mereka pun akhirnya tiba di Seattle, Amerika Serikat.


" Silahkan Tuan" ucap bodyguard Arthur di pintu jet milik Arthur.


" Terimakasih" balas Arthur.


Arthur tersenyum ramah pada beberapa bodyguardnya, Arthur dan Brian memasuki mobil yang sudah disipkan oleh salah satu anak buah Arthur.


" Berapa lama lagi Brian?"


" Mungkin 10 menit boss"


" Baiklah"


Setelah beberapa menit perjalanan mereka, akhirnya mereka pun tiba di tempat tujuan yaitu Lab Alessandro.


Arthur menyimpan pistol dan satu buah pisau lipat di balik jas mewahnya, pria itu hanya tersenyum simpul saat Brian meliriknya. Arthur segera menginjakkan kakinya ketempat itu. Arthur membenahi jasnya dan berjalan mendekati pintu masuk lab yang terlihat besar. Pria itu mendorong pintu baja lab Alessandro dan memasuki lab itu.


Arthur sedikit terkagum dengan hal yang dilihatnya, begitu banyak bahan peledak yang tersusun rapih di lab Alessandro, dan juga beberapa granat yang belun terselesaikan. Arthur hanya berjalan sambil mengedarkan pandanganya mencari celah dimana Alessandro menyimpan disk itu.


" Arthur lihat itu" tunjuk Brian pada sebuah pintu yang berwarna merah terang.


" Cukup aneh, seluruh ruangan didominasi warna silver dan pintu itu berwarna merah sendiri" lanjut Brian menjelaskan.


Arthur tidak menjawab ucapan Brian, ia langsung berjalan mendekati pintu itu. Dan saat tepat dihadapan pintu itu ia segera membuka pintu itu. Sebuah ruangan seperti tempat baju, tapi Arthur merasa ada keanehan karena bagaimana bisa didalam sebuah lab ada etalase yang isinya pakaian?


Arthur berjalan memutari ruangan itu bersama Brian, Brian membuka etalase itu dan menyibakkan beberapa pakaian disana, hingga saat matanya menangkap sebuah tombol disana. Brian berusaha menelitinya.


" Arthur, tombol apa in?" Ucap Brian, lalu Arthur menghampiri Brian.


" Ini seperti_"


" Tunggu Arthur, ini bisa dibuka" ucap Brian lalu membuka tombol itu dan ternyata isinya adalah sebuah lubang yang sangat kecil.


" Brian, dimana kunci itu?"


Dan tak lama lantai ruangan itu bergeser menampilkan sebuah ruang bawah tanah plus tangga yang menjulang dibawahnya. Arthur segera menuruni tangga itu dan mengeluarkan ponselnya menyalakan senter dan mencari saklar listrik. Setelah itu keadaan yang tadinya gelap berubah menjadi terang.


Arthur melihat sebuah kotak yang dilapisi kaca anti peluru kecil di tengah-tengah ruangan itu. Namun ucapan Brian menghentikannya.


" Arthur tunggu"


" Apa?"


" Jangan berjalan mendekati kotak itu"


" Kenapa?"


" Lihat ini" ucap Brian lalu mengambil kayu didekat sana, menjulurkannya tepat satu langkah melebihi Arthur. Dan kayu itu pun terbakar.


" Ruangan ini mengandung listrik"


" Apa!"


" Mungkin ini maksud dari ruangan yang tersandi kata Jack"


" Tapi dari mana kau tau ini mengalirkan listrik"


" Lihat itu" ucap Brian menunjuk sebuah percikan listrik di sudut ruangan.


" Apa yang harus kita lakukan?"


" Meretas kembali mungkin" usul Brian. Dan Arthur pun langsung menghubungi Matthew.


" Matt"


" Ya, ada apa boss?"


" Kau tau sistem penjagaan lab Alessandro?"


" Akan kucari tau sekarang boss"


" Bagus"


" Boss, didalam sistem keamanan Lab Alessandro terdapat satu ruangan yang tersandi, ruangan itu pun dialiri listrik. Jika ada orang yang bisa berhasil masuk, ia hanya punya waktu 3 menit untuk keluar kembali jika tidak maka aliran listrik akan kembali mengalir."


" Bisa kau retas sistemnya Matthew?"


" Tentu boss"


Arthur menunggu beberapa saat memberi waktu untuk Matthew. Dan akhirnya Matthew memberi kabar bahwa ia berhasil meretas sandinya. Brian kembali menjulurkan kayu untuk memastikan aliran listrik itu sudah tidak ada. Dan akhirnya Brian memasuki kawasan itu, dan berdiri tepat di depan kotak yang dilapisi kaca anti peluru.


Arthur berjalan mendekati kotak itu dan saat Brian akan menyentuhnya kaca itu berubah menampilkan sebuah cahaya berupa password.


" Sial, ini juga ada passwordnya"


" Arthur waktu kita tinggal 1 menit lagi"


" Diamlah Brian!"


" Kita bisa keluar dulu lalu masuk lagi"


" Diamlah!"

__ADS_1


" Aku tak bisa diam Arthur!"


" STOP!" bentak Arthur keras.


Arthur memperhatikan kotak itu dan ia teringat dengan penuturan Jack Pattison.


"Tapi Alessandro hanya mengatakan bahwa yang berhak lah kuncinya."


" Yang berhak lah kuncinya" gumam Arthur.


" Apa yang kau lakukan!"


" Hanya yang berhak"


Arthur menelan salivanya, menghela nafasnya pelan lalu mulai menekan beberapa digit huruf disana. Dan tak lama kaca pada kotak itu pun terbuka. Arthur bisa melihat dengan jelas isi kotak itu. Sebuah disk, disk yang selama ini ia cari.


Arthur menolehkan kepalanya berhadapan dengan Brian, pria itu menatap Brian, dan Arthur segera mengambil disk itu lalu segera keluar dari ruangan itu.


" Aku tak percaya kau bisa berpikir sejauh itu Arthur"


" Terkadang ucapan adalah jawaban terpasti yang ingin kita dengar Brian"


" Bagus"


Arthur terkekeh begitupun Brian, akhirnya ia berhasil mengambil disk itu dan tak lama James Walker datang.


" Mr. De Lavega sudahkah kau mengambil disk itu?"


" Ya"


" Baiklah, biarkan aku membawanya untuk kubawa ke Mr. Anders"


" Kenapa sangat terburu-buru Mr. Walker?" Tanya Brian mendekati James.


" Mr. De Lavega cepat beri aku disk itu! Ini perintah langung dari wakil presiden!" Desis James.


Arthur menatap Brian seakan memberi sebuah intruksi. Arthur pun akhirnya memberikan disk itu kepada James. Dan James tanpa kata meninggalkan Brian dan Arthur.


Arthur segera menghubungi Anders Vucherlein, wakil presiden Amerika.


" Hallo Mr. Vice President"


" Hai, Mr. De Lavega, ada berita apa kau menghubungiku?"


" Apakah kau menyuruh James Walker untuk mengambil disk dari tanganku?"


" Apa? Jadi kau sudah menemukan disk itu?"


" Kau sama sekali tidak mengetahui masalah ini?"


" Ya"


" Jadi kau tidak menyuruh James untuk mengambil disk itu?"


" Mr. De Lavega aku mempercayai mu dan saat kau mengatakan akan mengerjakan misi ini dengan caramu aku sama sekali tidak menyuruh James untuk menemuimu. Memang aku menyuruhnya untuk ke Italy tapi itu hanya untuk mengurus pemakaman Jack Pattison"


" Baiklah, aku mengerti sekarang. Akan kubawakan disk itu padamu Mr. Vice President"


" Akan kutunggu Mr. De Lavega"


Arthur mematikan sambungan teleponnya, ia tersenyum penuh arti pada Brian, Brian segera mengotak-atik ponselnya dan tak lama ponsel itu menunjukkan sebuah titik merah yang tak jauh dari mereka.


Ya, Brian memasang pelacak berukuran kecil di belakang kerah James, saat Arthur menatapnya dengan tatapan menyuruh Brian sudah paham ia harus melakukan apa.


Brian segera melajukan mobilnya bersama Arthur, pria itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, hingga akhirnya Brian memepet mobil James, dan menggiringnya kesebuah jalanan sepi di Seattle. Arthur melepas pelurunya tepat ke ban belakang mobil James dan tak lama mobil itu pun berhenti mendadak, Arthur tersenyum simpul.


Arthur dan Brian mendekati mobil itu dan membuka pintunya.


" Sean"


Arthur bergumam lirih saat melihat seorang pria yang tak lagi muda duduk tepat disamping kanan James. Dan Arthur melirik kepergelangan tangan Sean, ia melihat jam tangan Sean sama persis dengan jam tangan yang ia temukan di peti mati Jack Pattison.


" Brian urusi James!" Seru Arthur, Brian segera menarik keluar James dan menghajarnya sampai babak belur.


" Kau yang membunuh Jack Pattison?" Desis Arthur tajam menusuk.


" Aku tak mengerti maksudmu"


" Jangan pura-pura bodoh! Aku menemukan jam tangan yang sama persis dengan milikmu sialan!"


" Jika aku berkata ya, kau ingin apa?"


" Kembalikan disk nya Sean!"


" Jika ku berkata tidak bagaimana?"


" Kau akan menyesal!" Umpat Arthur melepas pelurunya tepat kearah jantung Sean. Dan pria itu pun limbung jatuh ketanah.


Arthur segera mengambil disk nya dari saku jas Sean, lalu menghubungi Anders.


" Mr. Vucherlein aku sudah mendapatkan disknya"


" Kapan kau akan memberikannya Mr. De Lavega?"


" Besok, temui aku di New york"


" Baiklah"


" Dan ya, aku sudah menemukan pembunuh Jack pattison"


" Siapa?"


" Sean dan kaki tanganmu James Walker adalah seorang penghianat, ia berusaha mengambil disk itu dariku dan memberikannya pada Sean"


" Baiklah, terimakasih banyak atas kerjasama ini Mr. De Lavega"


" Tentu"


" Aku akan menunggumu di New York besok"


" Baiklah"


To Be Continue...


Vote Please...


1 part menuju kesedihan Tabitha...


Terus pantengin yah..



Arthur De Lavega

__ADS_1



Tabitha De Lavega


__ADS_2