MY HUSBAND CEO IS MAFIA

MY HUSBAND CEO IS MAFIA
MHM 3.4: IM GONE


__ADS_3

Arthur mengemudikan mobilnya menuju kantor namun ditengah perjalanan ia memikirkan keadaan Tabitha, tak bisa dibohongi ia khawatir dengan keadaan istrinya saat ini, bergegas pria itu memutar arah dan menuju mansion.


Setelah sampai di mansion, ia ragu untuk bertemu Tabitha. Akhirnya ia mendudukan tubuhnya ke meja makan untuk sarapan, ia tak pergi ke kantor hari ini, pikirannya terlalu kalut jika ditambah dengan persoalan kantor.


" Nak, kau sudah pulang?" Tanya Madam Rose.


" Ya"


" Kau bertengkar dengan istrimu?"


" Sedikit"


" Tidak, kau berbohong. Jika sedikit Tabitha tidak mungkin meninggikan suaranya"


" Ya kau benar"


" Apa yang terjadi?"


" Aku tak bisa mengatakannya madam"


" Baiklah tak apa"


" Maaf"


" Ya, kau ingin sarapan?"


" Tidak"


Lalu ditengah perbincangan mereka Karin datang membawa makanan, Arthur kira makanan itu untuknya tapi Karin malah berjalan melewatinya.


" Karin tunggu"


" Ya tuan?"


" Untuk siapa kau membawa makanan itu?"


" Ini untuk nyonya"


" Tabitha?"


" Istrimu tidak keluar dari tadi pagi sampai sekarang Arthur, ia juga tidak sama sekali menyentuh makanan pagi ini. Jadi aku menyuruh Karin untuk mengantarkan nya makanan sekalian memeriksa apakah Tabitha memakan makanannya atau tidak" ujar Madam Rose.


" Kemarikan, biar aku saja"


" Tapi tuan"


" Biarkan Karin" ucap Madam Rose, dan Karin pun menuruti kemauan ibunya.


Arthur mengambil alih makanan itu dan ia membawanya ke kamar utama. Pria itu mengetuk pintu namun tidak ada jawaban, akhirnya ia membuka pintu itu dan terlihat lah istrinya sedang duduk dengan tatapan kosong menghadap jalanan padat New York dari balkon. Arthur menaruh ponsel dan makanan itu ke nakas.


" Tabitha"


Tabitha yang merasa namanya dipanggil pun membalikkan tubuhnya berhadapan dengan Arthur.


" Kau belum makan dari pagi?"


" Apa pedulimu?"


" Jawab saja"


" Ya!"


" Makanlah"


" Aku tidak lapar, dan lebih baik kau pergi dari sini sekarang!"


" Jangan egois"


" Terserah" ucap Tabitha kembali membelakangi Arthur.


" Jangan egois, jangan pikirkan kemarahanmu, pikirkan kesehatan bayi itu dia juga butuh nutrisi Tabitha"


" Wow, setelah kau menghinanya semalam, sekarang kau peduli padanya?"


" Aku tak ingin berdebat pagi ini"


" Terserah"


" Kau terlalu banyak bicara" ujar Arthur dan tanpa bicara pria itu meggendong tubuh mungil Tabitha lalu mendudukannya di tepi ranjang.


" Apa-apaan kau!"


" Aku tak ingin jadi manusia yang kejam, karena membiarkan mu mati kelaparan bersama bayi mu itu"


" Pergilah!"


" Diam Tabitha"


" A_" ucapan Tabitha terpotong karena mulutnya segera disumpal oleh Arthur dengan makanan.


" Kunyah dan telan, begitu saja apa sulitnya!"


Tabitha hanya menuruti ucapan pria itu, ia mengunyah perlahan makanannya lalu menelannya. Ia butuh minum tapi ia gengsi untuk meminta pada Arthur.


" Kau ingin minum?" Tanya Arthur dibalas anggukan dari Tabitha.


Arthur mengambil gelas yang berisikan air diatas nakas dan memberikannya pada Tabitha. Wanita itu pun meminum nya.


" Aku bisa sendiri" ujar Tabitha lalu mengambil makanan di tangan Arthur.

__ADS_1


Arthur menggelengkan kepalanya, dan ia pun mengalihkan pandangannya kearah wajah cantik Tabitha namun suara dering ponsel mengganggunya.


" Ya?"


"..."


" Aku sedang dirumah"


" ..."


" Bisa kau undurkan jadwal meetingnya?"


" ..."


" Baiklah aku kesana"


Arthur mematikan ponselnya, meletakkanya disamping dirinya lalu menatap Tabitha dan wanita itu pun membalasnya, ia memutus kontak mata mereka dan Arthur pun pergi meninggalkan Tabitha.


" Maafkan aku karena akan pergi darimu Arthur" lirih Tabitha dan air matanya pun kembali menetes.


Deru mobil menandakan kepergian Arthur membuat Tabitha merasa kehilangan, namun ia bisa apa?


Tak lama Brian datang.


" Kau harus pergi sekarang juga Ta, waktumu pergi dari sini mungkin 30 menit cepatlah."


" Tapi bodyguard Arthur?"


" Aku sudah membereskan itu, dan asal kau tau rencana kita hampir berantakan karena Arthur tidak bekerja hari ini jadi aku bergerak cepat dengan membayar klien penting Arthur untuk segera mengadakan meeting sekarang dan pria itu pergi"


" Jadi ini semua ulahmu?"


" Ya, dan kau sekarang pergilah ke belakang mansion, kau lewat dari sana aku sudah menyiapkan taksi untukmu menuju bandara"


" Terimakasih Brian"


" Cepatlah"


Tabitha akhirnya membuka walk in closet mengambil koper yang sudah ia siapkan dan berjalan kebelakang mansion, benar apa yang dikatakan Brian, semua bodyguard dan para maid tidak terlihat di sudut belakang mansion entah apa yang sudah dilakukan pria itu.


Di lain tempat, Arthur menyenderkan tubuhnya lalu ia ingin menelpon istrinya, entah mengapa perasaannya tak enak. Namun ia tak mendapati ponsel itu disakunya.


" Putar arah, ponselku tertinggal"


" Baik tuan"


Kedatangan mobil Lykan Hypersport  milik Arthur bersamaan dengan keberangkatan taksi yang dinaiki Tabitha membuat Brian sesak napas, bagaimana bisa Arthur kembali secepat itu. Brian segera keluar dari kamar Tabitha dan berusaha menghentikan Arthur.


" Arthur!"


" Brian kau disini?"


" Ya"


" Arthur kau mau kemana?"


" Kamar, ponsel ku tertinggal"


Deg! Brian semakin menahan napasnya. Jika Arthur memasuki kamar itu pasti dia akan sadar Tabitha sudah tidak ada lagi di dalam sana.


" Arthur biar aku saja"


" Tidak usah"


" Arthur"


" Brian, ada meeting pagi ini aku harus cepat"


" Arthur"


" Tunggu lah"


Arthur berjalan dengan angkuh menaiki tangga lalu berakhir di kamarnya, pria itu memutar knop pintu dan membukanya.


Ia berjalan menuju ranjang mengambil ponselnya namun ia tak melihat Tabitha, pria itu berjalan kearah kamar mandi mencari istrinya lalu kearah walk in closet. Jantungnya berdebar, kemana Tabitha? Batin Arthur. Pria itu semakin kalut ia segera memeriksa walk in closet dan ternyata setengah baju istrinya sudah tidak ada. Arthur menggeram bagaimana bisa ia kecolongan.


" TABITHA!" teriak Arthur menuruni tangga.


" Arthur ada apa?"


" Brian Tabitha pergi"


" Apa!"


" Ya, aku harus bagaimana?"


" Aku juga bingung Arthur"


" CCTV" gumam Arthur dan pria itu pun segera mengotak atik ponselnya untuk memeriksa rekaman cctv namun rekaman cctv itu sudah tak ada mungkinkah cctv nya eror?


Arthur menggeram bahkan ia sudah mengepalkan tanganya sempurna. Pria itu segera menelpon Alexander.


" Alexander!"


" Ya boss?"


" Dimana kau?"


" Aku ada di markas, bukanya boss sendiri yang memintaku untuk mengurus anak buah kita yang terluka?"

__ADS_1


" Shit! Sudahi itu lalu pergi kerahkan sisa pasukan untuk mencari istriku di seluruh tempat di New York kalau bisa sisir semua tempat di Amerika!"


" Baik boss"


Arthur mematikan sambungan teleponnya ia khawatir sekarang entah mengapa jantungnya seakan berhenti berdetak saat mengetahui istrinya tak lagi bersama dengannya.


" Jika dia pergi tak mungkin didekat sini, pasti dia pergi ke bandara" gumam Arthur sedangkan Brian, pria itu sudah berdiri dengan wajah yang pucat pasi.


Arthur segera menghubungi seseorang.


" Ya, apa istriku mendatangi bandara hari ini?"


" Biar aku periksa dulu Mr. De Lavega"


" Baiklah"


" Ya, catatan istri anda membeli dua tiket untuk keberangkatan pagi ini"


" Dimana tujuannya?"


"  Inggris dan Korea"


" Inggris dan Korea?"


" Ya Mr. De Lavega"


" Kapan pesawatnya berangakat"


" Tujuan Inggris sudah berangkat 10 menit yang lalu dan Korea sudah berangkat 5 menit yang lalu Mr. De Lavega"


" Sial!"


Arthur menutup Teleponnya ia menggeram, pria itu menyimpan kemarahan yang bersatu dengan rasa takut.


" Arthur bagaimana?"


" Pihak bandara bilang Tabitha membeli dua tiket pagi ini, dia pasti sudah merencanakan dengan matang kepergiannya"


" Kau tak bisa menuduh begitu Arthur"


  Apa yang dikatakan Brian benar kan? Tabitha memang tidak merencanakannya ia memang tidak tau apa-apa Brian lah yang merencanakan kepergian Tabitha bahkan ia sudah membayar pihak bandara untuk berbohong pada Arthur dan menutupi kenyataan bahwa Tabitha pergi ke Macau.


" Sudahlah, kau bisa meminta pasukanmu di Inggris dan Korea untuk melacak Tabitha kan?" Saran Brian.


" Lakukan itu Brian"


" Baiklah"


Brian menelpon kepercayaan  Regnarok di Inggris dan Korea. Tapi percuma karena Tabitha memang tidak berada disana.


" Arthur semua sudah kuhubungi"


" Terimakasih"


Brian sebenarnya tidak tega melakukan ini pada Arthur, tapi sahabatnya perlu ditampar dengan kenyataan bahwa semua tuduhan  yang dia tuduhkan atas Tabitha itu salah.


" Matthew" gumam Arthur


Pria itu segera menekan nomor Matthew di ponselnya dan tak lama suara Matthew pun terdengar.


" Ya Boss?"


" Lacak keberadaan istriku melalui ponselnya"


" Baik"


Brian menelan salivannya, ia lupa bahwa Arthur bisa meminta Matthew untuk melacak Tabitha. Sekarang semuanya bergantung pada ponsel Tabitha, semoga ponselnya dalam keadaan mati.


" Bagaimana Matt?"


" Ponselnya terkahir aktif 5 menit yang lalu boss"


" Sial"


Arthur mematikan sambungan teleponya ia memijit pelipisnya, pria itu berdecak tapi segera ia memasuki kamarnya dan mencari petunjuk disana, namun hasilnya nihil.


Arthur membalikkan badannya menatap pantulan tubuhnya di cermin pria itu menggeram tertahan, ia mencengkram rambutnya kasar dan menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Arthur melemparkan vas bunga dari nakas kearah cermin itu dan ia pun meluruhkan tubuhnya ke dinding.


" Kau ingin pergi dariku kan? Maka pergilah kita lihat seberapa kuat kau hidup tanpaku!" gumam Arthur.


Sedangkan Brian, pria itu bernapas lega karena harapan nya menjadi nyata, ponsel Tabitha mati dan Arthur kesulitan untuk mencari Tabitha. Ia berharap semoga Tabitha bisa menyesuaikan keadaan di Macau.


Disisi lain seorang wanita terlihat mengusap air matanya di dalam sebuah pesawat dengan tujuan Macau, ia berat meninggalkan suaminya dan kehidupannya di New York. Tapi ia tak bisa egois jika sekarang ia berada di dekat Arthur bisa saja pria itu menyakiti bayi nya kan?


Tabitha mengelus pelan perutnya, ia kembali meratapi nasibnya yang begitu rumit, ia tahu kesalahannya tapi haruskah Arthur menimpakannya pada bayi yang bahkan tidak bersalah?


" Maafkan Mommy karena menjauhkanmu dari Daddy mu, tapi Mommy janji akan menjagamu sekuat tenaga Mommy"


Tabitha kembali menumpahkan tangisannya ia sakit memikirkan bagaimana Arthur menghinanya dan janin yang ada di kandungan wanita itu.


" Daddy mu harus diberi pelajaran" gumam Tabitha.


To Be Continue...


Vote Please...



Arthur De Lavega

__ADS_1



Tabitha De Lavega


__ADS_2