MY HUSBAND CEO IS MAFIA

MY HUSBAND CEO IS MAFIA
MHM 4.6: CHOICE


__ADS_3

Arthur berlari kecil memasuki salah satu rumah sakit di Vegas, ia sudah menghubungi Dokter Ryan.


" TOLONG!" Arthur berteriak kencang membuat beberapa perawat langsung membawa brangkar untuk Tabitha.


Arthur merebahkan tubuh istrinya dengan hati-hati diatas brangkar itu.  Mereka mendorongnya sampai ke tempat penanganan pertama. Ia pun duduk dikursi tunggu tak lama suara seseorang membuyarkan lamunan Arthur.


" Arthur!" Pria yang dipanggil namanya pun membalikkan tubuhnya menemukan Ryan sudah mengenakan jas kedokterannya.


" Dimana Tabitha?"


" Dia didalam, selamatkan mereka" pinta Arthur.


" Aku akan berusaha" Ryan menepuk pelan bahu Arthur menguatkan.


Tak lama Brian datang, Arthur memang tidak menunggu Brian tadi, ia terlalu kalap melihat Tabitha seperti itu.


" Arthur" panggil Brian.


" Aku tak bisa tenang" Arthur berdiri dan berjalan mondar mandir didepan pintu.


" Tenanglah Arthur"


" Aku tak bisa tenang melihat istriku seperti itu Brian!!"


" Ya, aku mengerti"


Tak lama pintu ruangan itu terbuka menampilkan Ryan dengan tatapan sayu nya.


" Ryan, bagaimana?"


" Arthur_"


" Apa dia baik-baik saja? Istriku tidak papa kan? Bayi kami juga kan? Ryan!" Arthur kesal karena Ryan hanya diam tak berniat menjawab satu pun pertanyaannya.


" Arthur, Tabitha mengalami pendarahan hebat. Ia kekurangan darah dan tubuhnya semakin melemah. Kau harus memilih"


" Maksudmu!"


" Kau harus memilih menyelamatkan bayi nya atau ibunya Arthur" ucap Ryan tertunduk.


Kaki Arthur melemah, ia seakan lupa jika sedang berdiri. Tubuh besarnya oleng hingga akhirnya Brian menangkapnya dan mendudukan Arthur kekursi tunggu.


" Arthur aku tau ini sangat sulit untukmu, tapi kita harus cepat mengambil tindakan"


" Arthur_"


" Aku tak bisa memilih diantara mereka Brian" ujar Arthur dengan nada bicara yang bergetar.


" Kau bisa Arthur"


Ingatan saat Tabitha menitipkan bayi nya memenuhi pikiran Arthur, ia harus menyelamatkan bayi nya. Tapi saat Tabitha mengingatkannya pada saat-saat pertama mereka menikah hati Arthur malah semakin nyeri.


" Ryan..."


" Selamatkan istriku" ucap Arthur dengan tatapan memohon.


" Baik"


Dokter Ryan memasuki ruangan itu dan mulai menjalankan operasi. Arthur hanya diam dengan tatapan kedepan yang sangat kosong, Brian miris melihat sahabatnya begitu terpukul atas kejadian ini. Dan jujur ia baru melihat Arthur seperti ini.


" Arthur"


Arthur tak menjawab ia hanya diam tatapannya begitu kosong memandang kedepan tidak memperdulikan Brian disampingnya.


" Dia pasti kuat, dia wanita yang kuat Arthur"


" Arthur gantilah bajumu dulu, bajumu penuh dengan darah"


Arthur melirik kearah bajunya, benar baju Arthur penuh dengan darah sang istri dan itu malah membuat Arthur semakin nyeri. Ia memang sering berurusan dengan darah, tapi entah mengapa untuk kali ini ia begitu sangat sesak menyadari darah itu.


Arthur menangkup wajahnya dengan kedua telapak tanganya, memori otaknya memutar kembali kejadian tak mengenakan itu, andai ia tak mengejar Dominic istrinya pasti akan selamat. Dan Arthur begitu sangat membenci Dominic.


" Apa bedebah itu sudah mati?" Tanya Arthur dingin.


" Ya, aku sudah memastikanya Arthur"


Arthur menghela napasnya, ia gugup dan semoga istrinya tidak papa. Arthur mengingat semua kenangan manisnya dengan sang istri dan tentunya saat mengetahui kabar kehamilan Tabitha, mungkinkah ini adalah karma atas apa yang telah dia katakan pada anaknya sendiri.


Arthur menyenderkan tubuhnya kedinding dingin rumah sakit, ia tidak mempercayai dokter disana oleh sebab itu dia menghubungi Ryan.


" Arthur?"


Arthur tak menjawab ucapan Brian, Brian kesal karena Arthur mengabaikanya, ia pun mendorong pelan tubuh Arthur tapi tubuh itu dengan mudahnya oleng. Brian melebarkan matanya kaget dan dengan cepat menarik kembali tubuh Arthur.


" Arthur!"


Tak ada jawaban yang Brian dapatkan dari Arthur, pria itu hanya diam dan seakan asik dengan dunianya sendiri. Ia tak memperdulikan sekitarnya, ia begitu sangat nyaman dengan posisi diamnya.


Arthur menutup matanya, pria itu menengadahkan kepalanya menatap langit putih rumah sakit.


" Seumur hidup aku tak pernah berdoa padamu Tuhan, aku selalu percaya bahwa aku bisa melalui semua masalah atas diriku sendiri bukan karena mu, aku tau aku terlalu sombong dengan kekuatanku dan mungkin sekarang kau menghukumku. Tapi bolehkah aku meminta satu hal padamu Tuhan... Aku ingin istriku kembali seperti semula, dia adalah jiwaku dan aku tak bisa hidup tanpanya. Kau telah mengambil orang tuaku lalu bisakah kau kembalikan istriku?" Batin Arthur memohon.


" Arthur?"


Arthur menolehkan kepalanya menatap Brian dengan tatapan sayu nya. Pria itu seakan lupa ia adalah seorang kepala Mafia, Arthur sekarang adalah seorang suami yang khawatir dengan keadaan istrinya, sangat miris Brian melihatnya.


" Dia akan selamat"


Arthur hanya diam, ia tak memperdulikan Brian. Pria itu mengingat masa-masa kehamilan istrinya, masa indahnya dengan sang istri dan masa diawal pernikahan mereka.


Tak lama Dokter Ryan keluar, Arthur langsung menghampiri dokter itu.


" Bagaimana?"


" Ada kabar baik dan kabar buruk Arthur"


" Katakan kabar baiknya"


" Bayi nya selamat, walaupun dia lahir prematur karena belum waktunya tapi dia sehat, istrimu pandai menjaganya. Kita hanya perlu menempatkannya di incubator beberapa waktu kedepan"


Arthur yang mendengarnya langsung mengulas senyum, bayi nya sehat dan ia bahagia. Brian langsung memeluk sahabatnya erat.


" Selamat Arthur kau seorang ayah sekarang"


" Thanks Brian"


Arthur melepas pelukannya, ia langsung menghadap Dokter Ryan.


" Kabar buruknya?"


" Tabitha"


" Bagaimana dengannya?"


" Kondisinya memburuk Arthur, dia drop dan sayangnya ia kritis akibat kekurangan darah, tapi kami akan mencoba untuk melakukan yang terbaik"


" Kenapa tidak transfusi darah?"


" Kami sudah mencobanya Arthur, sekarang kita berharap agar Tabitha cepat pulih"


Tiba-tiba seorang perawat datang dengan tergesa dari dalam ruang perawatan Tabitha.


" Dokter, kondisi pasien memburuk"

__ADS_1


Wajah Arthur seketika berubah, pria itu langsung menunjukkan raut wajah khawatirnya.


" Ryan!"


" Tenanglah, aku akan periksa dulu"


Dokter Ryan langsung bergegas memasuki ruangan itu, sementara Arthur tak bisa berdiri dengan tenang. Pria itu berjalan mondar mandir memasukkan satu tanganya dan bersedekap.


" Dia akan baik percayalah Arthur"


" Tapi kapan Brian!"


" Tenanglah"


Tak lama Dokter Ryan keluar dari dalam ruangan, pria berjas putih itu menatap Arthur dengan tatapan penyesalan.


" Ryan bagaiman?" Tanya Arthur tegas.


" Kondisinya memburuk Arthur"


" Apa!"


" Dan sekarang dia koma"


" Shit!"


Arthur membalikkan tubuhnya menghadap dinding dan memukul dinding itu bertubi-tubi.


" Sial! Sialan kau Dominic!! Membusuklah di neraka!"


" Arthur tenanglah" Brian menahan tangan Arthur yang kembali melayang ke dinding meskipun tangan itu sudah berdarah.


" Dia harus sadar Brian! Dia harus sadar!" Teriak Arthur histeris.


" Arthur! Dia juga berjuang antara hidup dan mati didalam! Kuatkan dirimu! Kau harus yakin Tabitha kuat melewati masa kritisnya!"


" Lalu bagaimana denganku! Bagaimana dengan bayinya!"


" Arthur!"


" Dia tak bisa meninggalkanku Brian! Tidak bisa!" Tubuh Arthur meluruh dilantai dingin rumah sakit.


Arthur terduduk lemas pria itu memeluk kedua lututnya dan menangkup wajahnya disana.


" Dia harus sadar secepatnya!" Gumam Arthur.


" Arthur, Tabitha harus segera dipindahkan"


" Siapkan saja ruang VVIP disini" ujar Brian


" Baik"


Brian berusaha menenangkan Arthur, tapi pria itu masih dalam posisi yang sama.


Tak lama brangkar Tabitha dipindahkan menuju ruang VVIP dirumah sakit itu. Pun dengan bayinya, bayi Tabitha dipindahkan keruang incubator disana.


" Mereka sudah dipindahkan, ayo kita lihat Arthur"


Arthur hanya diam, Brian pun memapah tubuh Arthur dan berjalan beriringan menuju ruangan Tabitha.


Brian membuka ruangan itu dan Arthur secara perlahan mendekati brangkar Tabitha. Wanita itu terlihat pucat dengan berbagai alat medis yang terpasang ditubuhnya. Arthur semakin nyeri melihat itu semua. Ia mendudukan tubuhnya disamping brangkar sang istri, membelai lembut surai nya lalu turun membelai wajah pucat sang istri.


" Hai"


" Bangunlah, kau tidak merindukanku?"


" Ta, aku disini menunggumu membuka mata seperti kebiasaan kita saat pagi"


" Ku mohon bukalah matamu honey"


" Aku mencintaimu, bukalah matamu Ta. Kau harus bangun, ingatlah janjimu"


" Kau tak bisa meninggalkanku!"


Brian yang melihat sahabatnya yang kuat kini rapuh pun ikut sedih dengan takdir Arthur, baru beberapa bulan mereka bahagia atas kehamilan Tabitha. Kini haruskah Arthur sesakit ini?


🔫🔫🔫


2 minggu kemudian...


Sudah dua minggu Tabitha terbaring dibrangkar rumah sakit, wanita itu seakan enggan untuk membuka matanya walaupun hanya untuk menatap sekelilingnya. Sementara Arthur, pria itu seakan tak terurus bahkan tumbuh bulu halus disekitar rahang tegasnya, selama ini Arthur selalu merawat tubuhnya tapi sekarang pria itu seakan melupakan semuanya.


Arthur masih saja duduk disamping brangkar Tabitha menatap wanita itu berharap dia lah orang pertama yang dilihat sang istri setelah dia sadar. Arthur bahkan enggan untuk meninggalkan kursinya.


Sementara ditempat lain, Brian baru sampai setelah 2 minggu dia mengurus keperluan Regnarok setelah kejadian dengan Dominic , ia pergi meninggalkan Arthur dan menitipkan sahabatnya itu pada Ryan. Brian yakin lambat laun Arthur akan segera sadar.


Brian memasuki ruang incubator untuk menengok ponakan kecilnya. Disana ia melihat Dokter Ryan yang sedang memeriksa kondisi ponakannya.


" Bagaimana keadaannya Ryan?"


" Dia baik, tapi sayang selama dua minggu ini dia belum sama sekali ditengok ayahnya" ucap Ryan menunduk.


" Apa!"


" Kau pikir keadaan Arthur akan membaik dengan sendirinya?"


" Memangnya Arthur?"


" Dia semakin memburuk Brian, dia hanya minum tidak makan. Aku memberikannya buah tapi dia hanya memakannya sedikit lalu sudah. Dan asal kau tau, pria itu telah berubah. Lihatlah keadaanya sekarang dia sangat miris dia hanya fokus pada Tabitha."


" Jadi selama dua minggu ini dia sama sekali belum menengok anaknya sendiri?"


" Ya"


" Dasar bodoh!"


" Lalu bagaimana keadaan Tabitha?"


" Dia mulai memberikan respon atas pengobatan yang kita berikan tapi dia tetap dalam keadaan koma"


" Aku akan lihat Arthur terlebih dahulu"


" Ya, sadarkan dia Brian. Dia tampak seperti orang bodoh yang hanya terdiam menatap Tabitha dengan tatapan kosongnya"


" Ya aku akan sadarkan dia tapi tunggu dulu"


Brian berlutut dan menatap bayi mungil dihadapanya.


" Hai, ini uncle Brian. Dan aku akan membuat daddy mu yang bodoh itu sadar"


" Percayalah baby boy"


Brian bangkit dan ia pun berjalan dengan tegas keruangan Tabitha. Brian berdiri dengan memegang ragu knop pintu ruangan Tabitha, ia berusaha menguatkan dirinya sendiri. Bagaimana pun Brian sudah menganggap Tabitha sebagai adiknya sendiri dan jujur ia pun ikut terluka dengan keadaan Tabitha sekarang. Dan bagaimana dengan Arthur? Brian mengerti. Tapi pria itu tak seharusnya mengacuhkan anaknya sendiri bukan?


Brian menghela napasnya kasar, ia pun memutar knop pintu dan terlihatlah Arthur dengan tatapan sayu nya menatap Tabitha dengan tatapan kosong terasa mati didalam matanya. Brian menelan salivanya saat menyadari perubahan Arthur. Pria itu benar-benar tak terurus, dua kancing atas kemejanya terbuka, rambut berantakan, bulu halus dirahangnya dan tak lupa lingkaran hitam dimatanya.


Brian mendekati Arthur yang seakan diam tak memperdulikan siapapun yang hadir ataupun pergi dari ruangan itu. Sahabatnya yang tegas sekarang terlihat seperti orang bodoh yang tinggal dipinggiran jalan. Arthur seperti orang yang frustasi dan hampir gila. Brian meletakkan tangan kanannya dibahu Arthur berusaha menyadarkan pria itu namun hasilnya tetap nihil.


" Arthur"


Tak ada jawaban, Arthur hanya diam tak menoleh sedikitpun kearah Brian.


" Dia akan segera sadar Arthur, percayalah"

__ADS_1


Arthur lagi-lagi diam, pria itu hanya fokus menatap wajah pucat Tabitha yang terlihat sangat damai dimasa koma nya.


" Dia akan segera bangun, menyapamu seperti biasanya Arthur. Yakin kan pada hatimu dia pasti akan kembali"


" Kembali?" Lirih Arthur.


Brian langsung menolehkan kepalanya saat menyadari Arthur membalas ucapannya.


" Ya, dia akan kembali padamu Arthur"


" Kapan?" Tanya Arthur tetap menatap Tabitha lekat.


" Secepatnya"


" Secepatnya?"


" Ya"


Arthur terkekeh geli, dia seperti menertawai nasibnya sendiri, tawanya seakan mengejek ucapan Brian, dan Brian pun mengerutkan dahinya saat mendapat respon seperti itu dari Arthur.


" Kenapa kau tertawa Arthur?"


" Dua minggu"


" Maksudmu?"


" Dua minggu, aku duduk disini. Menanti mata itu terbuka lalu menatapku seperti biasa"


Brian diam, dia membiarkan Arthur mengungkapkan perasaannya.


" Tapi dia hanya diam Brian! Dia hanya diam" desis Arthur tajam.


" Tapi dia mendengarmu Arthur"


" Mendengar saja tidak ada gunanya Brian, yang aku inginkan adalah dia" lirih Arthur.


" Lalu bagaimana dengan bayi mu?"


" Aku tak bisa menemuinya"


" Kenapa?"


" Jika aku menemuinya aku akan merasa bersalah atas apa yang terjadi dengan mereka"


" Tapi dia anakmu Arthur!"


" Aku tau, tapi aku ingin menunggu Tabitha terlebih dahulu"


" Arthur! Bayi mu juga perlu daddy nya!"


" Lalu bagaimana denganku Brian!" Aku juga butuh Tabitha!"


" Kau pikir hanya kau yang membutuhkan wanita ini!" Unjuk Brian pada Tabitha dan menatap Arthur dengan tatapan tegasnya.


" BAYI ITU LEBIH MEMBUTUHKAN MOMMY NYA ARTHUR!!"


" Ini semua salahku Brian, andai aku tak mengejar Damian. Ini semua tak akan terjadi" lirih Arthur.


Brian semakin kesal dengan ungkapan tak bermutu dari Arthur. Pria itu dengan cepat menarik kerah kemeja Arthur dan menyentakkan tubuh besar sahabatnya di dinding rumah sakit.


" SADAR ARTHUR! INI BUKAN SALAHMU! INI TAKDIR!"


" Takdir?"


" Ya!"


" Takdir sangat kejam Brian, aku baru sebentar bahagia dengannya dan sekarang dia diujung kematian tanpaku"


" Bodoh kau Arthur!"


" Iya aku memang bodoh Brian"


Brian berdecak ia langsung melayangkan bogeman mentah pada Arthur sedangkan Arthur langsung terduduk dilantai rumah sakit. Brian mencengkram erat kerah kemeja Arthur.


" JIKA KAU TAU DIA DIUJUNG KEMATIAN SEHARUSNYA KAU TAK SEPERTI ORANG BODOH YANG HANYA DIAM MENUNGGU KESADARANNYA!"


" Lalu aku harus apa?"


" CK, PERGILAH? LIHAT BAYI MU, ITU ADALAH BUKTI BAHWA TABITHA RELA BERKORBAN UNTUK KAU DAN ANAKNYA! DAN KAU MALAH DIAM DISINI MERATAPI KEADAAN WANITA ITU!"


" Brian"


" JADILAH ARTHUR YANG KUKENAL! JADILAH ARTHUR YANG KUAT DAN TAK PANTANG MENYERAH! SUDAH CUKUP KAU TERLIHAT BODOH DUA MINGGU INI ARTHUR!"


Arthur hanya diam mendengar semua teriakan Brian, ia tak berniat menjawab sedikitpun ucapan Brian.


" Dengar, Tabitha sudah berjuang selama ini untuk kelahiran bayi nya, dan setelah bayi itu lahir kau mengacuhkannya?"


" KAU TELAH MENGHINA PENGORBANAN ISTRIMU SENDIRI ARTHUR!" Teriak Brian lagi karena Arthur sama sekali tak merespon ucapannya.


" JIKA AKU TAU INI AKAN TERJADI, AKU MENYESAL MEMBERITAHUMU DIMANA TABITHA WAKTU ITU!"


" BRIAN!!"


" Pergilah gunakan kakimu itu, lihatlah putramu Arthur"


" Tapi bagaimana dengan Tabitha Brian? Aku tak bisa meninggalkannya"


" Dia tak akan mati, Dokter Ryan bilang kondisinya semakin baik. Jadi kau pergilah dan beritahu putramu bahwa dia tak sendirian didunia ini"


Brian menegakkan tubuh Arthur dan menepuk pundak sahabatnya pelan.


" Pergilah, aku akan menjaga Tabitha. Dan asal kau tau, putramu sangat menggemaskan"


Arthur sedikit mengulas senyum dibibirnya. Ia sadar semua yang dia lakukan selama dua minggu ini sia-sia dan apa yang dikatakan Brian benar, ia seharusnya bisa menghargai pengorbanan Istrinya itu.


Arthur mengangguk setuju, ia pun menepuk pelan bahu Brian.


" Thanks sudah menyadarkanku"


" Itu sudah menjadi tugasku"


" Aku akan menemuinya"


" Ya, dan jika kau bicara macam-macam padanya! Aku jamin aku akan membawanya pergi!"


" Dia putraku Brian"


" Ya dan aku tau, daddy nya sangat bodoh"


Arthur hanya tersenyum menganggapi, dan ia pun membalikkan badanya keluar dari ruangan Tabitha namun.


" Setelah itu ganti bajumu Arthur! Tak pantas seorang Arthur De Lavega memakai pakaian miris seperti itu"


Arthur membalikkan tubuhnya mengulas senyum pada Brian dan terakhir menatap Tabitha lekat. Ia pun membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju ruang inkubator


To Be Continue...


Vote Please...



Tabitha De Lavega

__ADS_1



Arthur De Lavega


__ADS_2