
Tabitha terbangun dari tidurnya, wanita itu menyibakkan selimut yang menghangatkannya semalam, ia duduk ditepi ranjang dan melirik kearah sebelah yang ternyata kosong. Tabitha mengedarkan pandangannya mencari Arthur namun batang hidung pria itu tak ia temukan. Tabitha mengambil ponsel diatas nakas namun matanya melihat sebuah note, Tabitha meraih dan membacanya dalam diam, ia mengulas senyum simpul membaca tulisan tangan Arthur yang rapih.
Tabitha turun dari kamarnya dan berakhir didepan sofa, ia menonton TV namun ponselnya berdering. Tabitha mengangkat nomer tak dikenal itu.
" Dengar, jika kau masih ingin melihat suamimu hidup, datanglah kesebuah rumah dipinggir kota, akan ada mobil didepan mansion mu."
" Siapa kau?"
" Suamimu ada pada kami Tabitha, cepatlah jika tidak kau akan melihat jasad suamimu sore ini"
Sambungan terputus, Tabitha menelan salivanya kasar, ia khawatir dengan keadaan Arthur. Tabitha menghubungi Arthur berkali-kali, menghubungi Brian dan kantor Arthur namun ponsel Brian tidak aktif sedangkan kantor, Arthur belum kesana sejak pagi.
Tabitha ingin mengabaikan ancaman itu, namun sebuah foto Arthur yang sedang berjalan disebuah gedung membuat Tabitha kalut. Bergegas wanita itu mengambil tas slempang nya, ia berjalan cepat keluar dari mansion.
" Kalian, ikut aku"
" Baik nyonya"
Tabitha memasuki mobilnya dan mobil itu pun melaju dikawal oleh dua mobil bodyguard Arthur namun saat ditengah jalan sebuah mobil mencegatnya. Tabitha ingin keluar namun bodyguardnya melarang.
" Kami akan melihatnya nyonya"
Tabitha mengganggukan kepalanya membalas sang bodyguard walaupun dalam hatinya ia ketakutan.
Tak lama terjadi adu jotos antara orang yang mencegat mobil Tabitha dan bodyguard Arthur, Tabitha mencoba menghubungi ponsel Arthur tapi ponsel suaminya tak aktif, ia memutar otak namun terlambat. Pintu mobil dibuka paksa oleh orang bertopeng hitam yang mencegatnya.
Tabitha menangis ia ketakutan dan wanita itu memeluk perutnya berusaha melindungi bayinya. Hingga ia ditarik paksa keluar oleh dua orang bertopeng dan membawanya kedalam mobil mereka dengan gerakan sedikit kasar.
" LEPASKAN AKU!!"
" Diam atau anakmu akan terluka!"
" Jangan sakiti kami, aku mohon" tangis Tabitha pecah, ia begitu ketakutan.
" Jika kau diam, kau akan selamat tapi jika kau banyak bicara kau akan aku sakiti!" Ancam pria itu.
Tabitha hanya diam, tapi tanganya berusaha mengetikkan pesan pada Diana, berusaha meminta bantuan.
" Apa yang kau lakukan?" Tabitha membeku saat mendapat pertanyaan itu dari pria bertopeng didepanya.
" Tidak"
" Periksa dia" salah satu pria bertopeng itu memeriksa Tabitha dengan teliti, mereka pun menemukan ponsel wanita itu.
" Dia berusaha mengirim pesan pada seseorang tuan"
" Kau mencoba untuk bermain-main denganku Wanita!" Desis pria itu dan dengan cepat mulut Tabitha dibekap dengan sapu tangan. Perlahan kesadaran wanita itu pun menghilang.
🔫🔫🔫
Arthur menatap nyalang pada Dominic yang dengan tenang duduk dibangku yang tadi diduduki oleh Laura. Pria itu malah memainkan pistol ditanganya tanpa ada rasa takut sedikitpun dihadapan Arthur.
Arthur menggeram, ia mengepalkan tangannya melihat bagaimana keadaan Tabitha dengan rambut yang sedikit berantakan, dan mata sembab karena menangis. Arthur sangat marah melihat Tabitha diperlakukan seperti itu namun ia harus tetap berpikir jernih.
" LEPASKAN ISTRIKU BODOH!!"
" Tenanglah Kak"
" Jangan sebut aku kakak ********!"
" Kau sangat garang, asal kau tau istrimu itu telah menangis semenjak tadi pagi"
" Kau_"
" Sst, Arthur tolong jangan potong ucapanku" ucap Dominic lembut namun penuh penghinaan.
" Lepaskan dia Dominic!"
" Nikmati saja dulu Arthur"
Arthur tak menjawab ucapan Dominic matanya terus menatap manik hazel sang istri yang terlihat tak berhenti mengeluarkan air mata, hal itu membuat Arthur nyeri. Ia tak bisa melihat wanita yang dicintainya menangis dihadapannya, dan Arthur mengerti tatapan itu, tatapan ketakutan dan ia tak suka melihat itu dimata sang istri.
Dominic hanya terkekeh geli melihat Arthur yang tak berkutik menatap istrinya yang berdiri dengan lelehan air mata.
" Lepaskan dia Dominic!" Arthur mendesis tajam saat baru menyadari mulut Tabitha yang ditutup sebuah kain tipis, dan tanganya yang diikat. Arthur benci melihat istrinya diperlakukan seperti itu.
" Aku akan membebaskanmu, kau tenanglah"
Tabitha yang mendengar ucapan Arthur semakin deras mengalirkan air matanya. Tubuhnya menggigil ia tak perduli jika seseorang menyakitinya tapi ia takut jika terjadi sesuatu pada calon bayi nya. Tabitha menatap Arthur dengan tatapan mengiba meminta pertolongan dan Arthur semakin menggeram andai saja ia tidak membawa seluruh anak buahnya dan meminta salah satu diantara mereka menjaga Tabitha mungkin wanita itu tidak disini sekarang.
" Kau dan bayi kita akan selamat, aku jamin itu" ucap Arthur menyakinkan dan Tabitha mengganggukan kepalanya.
" Sungguh dramatis sekali Arthur" kekeh Dominic seraya menyesap sepuntung rokok yang terselip dijari tengah dan telunjuknya.
" LEPASKAN DIA!!"
" Calm down, akan ku lepaskan dia tapi biarkan aku menceritakan sesuatu padamu"
" Cukup lepaskan saja istriku bedebah!"
" Dengar biarkan aku memulainya Arthur" Dominic menggerakkan telunjuknya dan ia pun tertawa pelan sedangkan Arthur tak tertarik untuk membalas ucapan Dominic ia hanya fokus mencari cara untuk menyelamatkan Tabitha.
" Jangan mencoba untuk berpikir Arthur, keselamatan istrimu berada ditanganmu"
" Apa maksudmu?"
" Dengar, kau pikir aku bodoh?"
" Apa?"
" Sebenarnya disini aku yang menjebakmu Arthur!"
" Katakan dengan jelas Sialan!!"
" Kau melakukan kesalahan dengan membiarkan Layla sekarat tanpa pengawasan"
Dominic mengangkat satu kakinya dan menyesap kembali rokoknya.
" Saat kau pergi meninggalkan Layla yang sekarat dia sempat menghubungiku sebelum ajal benar-benar menghampirinya."
" Itu tidak mungkin, ponselnya aku bawa!"
" Siapa bilang dia menggunakan ponsel?"
" Maksudnya?" Tanya Brian.
" Aku memasangkan sebuah penghubung komunikasi antara aku dan Layla yang aku pasang di ibu jarinya. Jadi jika dia menghubungiku dia cukup menjentikkan jarinya dan otomatis tersambung padaku"
" Artinya, Layla memberitahu rencana kami?" Tanya Brian.
" Tentu saja, gadis itu membongkar rencana kalian padaku. Dan asal kalian tau, aku sengaja melakukan drama itu, dan aku memancingmu untuk datang kesini agar aku bisa mengambil apa yang memang menjadi hak ku!"
__ADS_1
" Katakan apa yang kau inginkan!" Sentak Arthur tak tahan.
" Bukankah aku sudah mengatakannya?"
" Kau ingin Regnarok?" Tanya Arthur.
" Ya"
" Arthur, jangan berikan Regnarok padanya. Ingat kekuasaan Regnarok sepenuhnya hak mu! Bukan miliknya!" Ucap Brian.
" Aku juga tak ingin menyerahkannya Brian!!"
" Lalu?"
" Aku tak bisa membiarkan istriku dan calon anakku terancam"
" Arthur_"
" Brian, kau bisa memilih mundur jika memang tidak ingin dikepalai oleh Dominic"
" Arthur!"
" Aku akan menyerahkan Regnarok padamu!" Ucap Arthur lantang.
" Pilihan bagus"
" Sekarang lepaskan istriku!"
" Arthur, aku tidak bodoh"
" Apalagi yang kau inginkan sialan!" Desis Arthur tajam.
" Kumpulkan pasukanmu dan umumkan bahwa aku lah pemimpin Regnarok yang baru!"
Arthur menggelengkan kepalanya, ia tak bisa melihat pasukan yang selama ini ia asuh jatuh ketangan Dominic tapi ia juga tak bisa melihat sang istri dengan kondisi berantakan seperti itu, dan mengingat kenyataan bahwa Tabitha membawa bagian dari dirinya membuat Arthur menghela napas dan mulai menghubungi Alexander.
" Alex?"
" Ya boss?"
" Bagaimana keadaan diluar"
" Kita menang boss, walaupun ada beberapa anggota kita yang mati tapi kita berhasil mengalahkan anak buah The King"
" Bagus, sekarang masuklah kedalam gedung, aku menunggumu"
" Tapi ada apa boss?"
" Masuk saja Alexander"
" Baik boss"
Arthur menutup matanya, ia masih tidak ikhlas jika menyerahkan kekuasaan yang sudah ia pegang sedari umur 16 tahun diserahkan pada anak haram Daddy nya sendiri.
Tak lama gerombolan Regnarok yang dipimpin Alexander dan Laura berjalan beriringan memasuki gedung. Dominic tertawa kencang ia menang, sedangkan Arthur masih berusaha memperbaiki keadaan.
" Umumkan pada mereka Arthur!"
" Umumkan saja sendiri!"
" Baiklah, lempar wanita itu!" Perintah Dominic pada dua anak buahnya yang memegang Tabitha.
" Baiklah, sekarang lakukan!"
Arthur berdecak kesal, Tabitha merasa bersalah. Karenanya Arthur harus melepas Regnarok dan menyerahkannya pada orang biadab seperti Dominic.
" DENGAR, MULAI DETIK INI AKU BUKAN LAGI PEMIMPIN KALIAN!"
Arthur menjeda kalimatnya, ia menarik napasnya untuk menetralkan rasa sesak didadanya. Begitupun dengan anak buah Regnarok yang saling pandang mencari jawaban atas apa yang terjadi pada kepala mafia nya.
" MULAI SEKARANG REGNAROK AKAN DIPIMPIN OLEH DOMINIC"
Arthur mengigit bibir bawahnya, pria itu ingin sekali menembak Dominic tapi ia sadar istrinya dalam bahaya jika dia tetap melakukan itu.
" Boss, ada apa?" Tanya Alexander.
" Aku bukan lagi boss mu Alex"
Laura menarik Alexander menghadapkannya pada Tabitha yang terikat dengan mulut yang tertutup kain. Alexander mulai mengerti keadaanya.
Dominic berdiri dari duduknya, pria itu membuang rokoknya kelantai gedung dan menginjaknya. Ia melipat tanganya didepan dada dan menatap satu persatu anggota Regnarok.
" Aku Dominic akan memimpin kalian"
" Dan aku minta kalian sekarang memanggilku Tuan Dominic"
Satu persatu anggota Regnarok saling melirik, namun Dominic menendang kursi dan kembali menatap anggota Regnarok.
" KATAKAN!" Sentakkan Dominic membuat mereka tersentak dan akhirnya.
" TUAN DOMINIC" ucap mereka satu persatu termasuk Alexander dan Laura.
Sementara itu Brian masih bungkam, ia menatap Arthur dengan tatapan bertanya sedangkan Arthur masih sibuk menenangkan Tabitha dengan tatapan matanya.
" Kau! Kenapa tidak menyebutku tuanmu!" Sentak Dominic menunjuk Brian.
" Maaf, aku disini bukan sebagai anggota Regnarok dan aku berdiri disini sebagai sahabat Arthur De Lavega! Jadi kau tak ada hak untuk menjadikanku budakmu!" Desis Brian tajam.
Arthur melirik kearah Brian, pria itu mengulas senyum terimakasih pada sahabatnya.
" Baik! Terserah!"
" Kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan! Sekarang lepaskan istriku!"
" Baik, tapi aku meminta satu hal lagi"
" SIALAN KAU!!" Arthur menyerang Dominic dan mengunci pergerakan adik haramnya itu, Arthur mencekik Dominic dengan lengannya, namun Dominic malah terkekeh.
" Kau ingin aku perintahkan anak buahku untuk mendorong istrimu kebawah?"
Arthur langsung menolehkan matanya menuju Tabitha yang memang berada diatas tangga. Ia pun melepas cekikannya dari leher Dominic.
" Nice"
" Katakan apa yang kau inginkan!"
" Lucuti senjatamu dihadapanku!"
Arthur menatap Dominic dengan tatapan kebencian, ia mengutuk adik haramnya itu setengah mati. Dan ia bersumpah akan membunuhnya jika ada kesempatan.
" Dan kau juga 'sahabat' Arthur" ucap Dominic menunjuk Brian dengan menekan kata 'sahabat'.
__ADS_1
Brian segera melepas senapan yang tadi ditenteng olehnya, melepas dua granat diikat pinggannya. Dan melepas satu pisau lipat dari saku celananya.
Arthur perlahan mulai menuruti perintah Dominic, ia melepas granat dan menurunkan dua pistolnya, menjatuhkan pelurunya dan melempar pisau lipat dengan kasar.
" Jaketmu juga Arthur"
Arthur menghela napas kasar, ia pun melepas jaketnya yang memang disana Arthur menempatkan satu buah pisau lipat. Sekarang Arthur berdiri dengan kaos putih yang membungkus tubuh atletisnya, ia benar-benar akan membunuh Dominic jika Tuhan mengizinkannya.
Dominic tertawa puas, ia begitu bahagia dengan apa yang ia lakukan. Ia tak menyangka impiannya untuk mengalahkan seorang Arthur De Lavega bisa terkabul.
" Aku sudah menuruti maumu, dan sekarang lepaskan istriku"
" Tentu, dan kalian ikuti aku!" Perintah Dominic pada Regnarok.
Dominic mulai melenggang pergi, Arthur berlari menghampiri Tabitha. Pria itu segera melepas ikatan ditangan Tabitha dan melepas kain yang menutup mulut Tabitha. Setelah semuanya terlepas Arthur langsung memeluk sang istri erat.
" Kau tak apa?"
" Arhur, aku takut"
" Sst, tenanglah"
Tabitha memberi jarak dan menatap Arthur lekat.
" Dengar, kejarlah Dominic. Bawa kembali apa yang menjadi hakmu"
" Aku tak perduli!"
" Arthur! Regnarok adalah milikmu sepenuhya! Kau yang memimpin mereka! Dan jangan lupakan Daddy mu yang memilihmu untuk mengurusnya!"
" Tabitha"
" Arthur, jika kau tak membawa Regnarok kembali, aku akan hidup dalam penyesalan karena membiarkanmu melepas apa yang seharusnya menjadi hakmu!"
" Aku_"
" Pergilah, ambil kembali milikmu. Aku sudah aman"
" Arthur, aku setuju dengan Tabitha kali ini" ucap Brian.
" Baiklah, kau diam disini dulu. Matthew akan membawamu pulang"
" Oke"
Arthur dan Brian berjalan beriringan mengambil langkah lebar menyusul Dominic namun.
" DROP IT NOW!!"
Arthur mencari keasal suara yang ternyata suara Dominic dihadapanya.
" Aaa!!"
Suara teriakan menggelegar dipenjuru gedung, Arthur dengan cepat menolehkan kepalanya melihat kesumber suara yang ternyata sang istri. Tubuh itu terjatuh dari tangga atas sampai keanak tangga bawah, Arthur seakan berhenti bernapas, ia langsung melebarkan matanya dan dengan cepat mengambil pistol di sepatunya melepaskan dua pelurunya mengenai kepala dan jantung Dominic sedangkan Brian masih membeku melihat Tabitha yang sudah berada dianak tangga terakhir dengan bersimbah darah.
" TABITHA!!" Arthur berteriak kencang, pria itu dengan cepat berlari ketubuh sang istri.
Arthur langsung membawa kepala Tabitha kepangkuannya.
" BRIAN SIAPKAN MOBIL!"
" Mobil kita sudah hancur terkena tembakan Arthur!"
" Shit!"
" SIAPKAN HELIKOPTER SEKARANG!"
" Baik" Brian berlari cepat menghubungi Thomas meminta bantuan pria itu.
Arthur semakin panik melihat Tabitha yang terlihat lemas dengan darah dimana-mana.
" Sst, A-Arthur sakit..." Lirih Tabitha.
" Aku tau, tahan sebentar okey helikopternya akan datang."
" BRIAN DIMANA HELIKOPTERNYA!"
Arthur berteriak histeris ia sangat ketakutan bahkan jantungnya seakan berhenti berdetak melihat sang istri yang sangat memprihatinkan.
" A-Arthur..." Tabitha mengangkat tangannya dan membelai rahang tegas pria-nya walaupun tangan itu penuh dengan darah.
Arthur menangkap tangan sang istri dan menciumnya.
" Ya, tunggu sebentar, BRIAN!!"
Brian berlari kearah Arthur.
" Mereka akan sampai"
" A-Arthur dengar apapun yang terjadi setelah ini, jangan salahkan dirimu."
" Apapun yang terjadi... Selamatkan bayi kita Arthur" lirih Tabitha dengan nafas yang tersenggal-senggal.
" Jaga bicaramu! Tidak akan terjadi apapun padamu."
Tak lama suara gaduh helikopeter terdengar. Arthur dengan cepat membawa tubuh sang istri kedalam gendongannya.
" A-Arthur..."
" Jangan banyak bicara Ta"
" Tata sayang sama Om Arthur, T-Tata cinta sama Om Arthur"
Arthur menghentikan langkah kakinya saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut sang istri.
" Love you husband" lirih Tabitha dan ia pun menutup matanya.
" Ta, Tabitha!"
" TABITHA!"
To Be Continue...
Vote Please...
Tabitha De Lavega
Arthur De Lavega
__ADS_1