
Tiga hari terhitung sejak Layla bekerja di Mansion De Lavega, tak ada hal mencurigakan yang dilakukan gadis itu, malah sebaliknya ia bertingkah sangat sopan dan baik. Arthur yang tadinya curiga perlahan mulai mempercayai Layla. Ia bahkan sudah meminta Alexander dan Brian untuk menghentikan mereka mencari tau identitas Layla.
Sekarang Arthur berada didalam mobilnya menuju Mansion, ia sangat lelah setelah seharian mengurusi berbagai pekerjaan di Kantor, setelah sampai di pekarangan Mansion Arthur keluar dari mobilnya. Ia tidak langsung berjalan menuju kamar tapi dia kepantry dulu untuk mengambil whiskey miliknya dilemari pendingin.
Saat Arthur mengambil sebotol whiskey dan meneguknya. Matanya menemukan sebuah bekas obat di tempat sampah kering di pantry, Arthur yang curiga pun akhirnya mengambil bekas obat itu. Ia mengerutkan keningnya, ia tidak tau jenis obat apa itu. Akhirnya ia pun menghubungi Dokter Ryan.
" Hallo Ryan"
" Ya, Arthur"
" Aku menemukan bekas obat"
" Lalu?"
" Aku asing dengan nama obat nya Ryan"
" Katakan, obat apa itu?"
" Ciprofloxacin and Levofloxacin"
" Ya Tuhan Arthur, jauhkan obat itu dari Tabitha" ujar Ryan terdengar panik.
" Mamangnya ini obat apa?"
" Obat itu sangat berbahaya jika dikonsumsi oleh ibu hamil"
" Maksudmu?"
" Obat itu bisa membuat pendaraham hebat dan keguguran jika dikonsumsi oleh ibu hamil"
Arthur melebarkan matanya, ia langsung mematikan sambungan teleponya dan ia semakin kalut melihat obat itu sudah tidak ada dan hanya meninggalkan bekas saja. Arthur segera memeriksa cctv dan terlihatlah Layla yang terakhir memasuki pantry.
Arthur berlari menaiki tangga mencari Layla dan tak lama suara Brian pun terdengar.
" Arthur ada apa?"
" Madam Rose" Arthur mengabaikan pertanyaan Brian, dia malah menghampiri ibu angkatnya.
" Dimana Layla?"
" Dia sedang mengantarkan susu untuk Tabitha"
" SHIT!" Arthur semakin panik ia menaiki tangga dengan berlari.
Arthur membuka pintu kamarnya cenderung mendobrak. Ia langsung melebarkan matanya saat melihat Tabitha hampir meneguk susu itu.
" TABITHA NO!!" Arthur menangkis gelas yang dipegang istrinya sampai gelas itu jatuh kelantai dengan mengenaskan.
Tabitha kaget bukan main, Arthur melirik kearah Istrinya, dan ia baru sadar susu itu masih berada di mulut Tabitha.
Arthur segera mencium istrinya memindah kan susu itu ke mulutnya dan meneguknya sampai tandas. Ia membersihkan susu itu dari mulut sang istri. Sedangkan Tabitha ia masih belum mengerti apa yang terjadi, pun saat Arthur tiba-tiba menciumnya. Tapi ia tau pasti Arthur sedang marah.
Setelah dirasa semua susu sudah berpindah ke Arthur, pria itu melepas ciumannya.
" Cepat berkumur!" Titah Arthur tak terbantahkan.
" Tapi_"
" CEPAT BERKUMUR TABITHA!!"
Tabitha segera memasuki kamar mandi dan ia pun berkumur. Saat ia keluar dari kamar mandi ia langsung melebarkan matanya melihat Arthur mencekik Layla.
" BERANI SEKALI KAU!"
" T-tuan"
" BERANI SEKALI KAU MENCOBA UNTUK MEMBUNUH ANAKKU!!"
Tabitha yang mendengar teriakan Arthur langsung menutup mulutnya. Tak lama Brian datang memisahkan Arthur dan Layla.
" Arthur ada apa ini!"
" BOCAH INI BERUSAHA UNTUK MEMBUNUH ANAKKU BRIAN!"
" Apa!"
Tabitha mendekati Arthur ia langsung memeluk suaminya.
" Arthur" ucap Tabitha bergetar dan menumpahkan air matanya.
" Tenanglah, tidak papa"
" Apa benar yang dikatakan Arthur?" Tanya Brian.
" JAWAB *****!!" Arthur mengepalkan tangannya, jika saja disini tidak ada istrinya mungkin Layla akan mati bersimbah darah.
" Aku tak tau!"
" SIALAN KAU!!" Arthur melepas pelukan Tabitha, ia mencengkram rahang Layla dan ia pun memperlihatkan cctv mansion.
" Lihat! Kau masih mengelak!"
" A-aku"
" Kau menyampurkan susu Tabitha dengan obat Ciprofloxacin and Levofloxacin bukan!!"
" A-aku_"
" Sialan kau!"
" Arthur tenanglah"
" Bagaimana aku bisa tenang! Wanita ini berusaha membunuh bayi ku Brian!"
" Kita dengar dulu penjelasannya"
Ditengah perdebatan Arthur dan Brian. Tabitha berjalan kearah Layla dan.
Plak
Tabitha melayangkan tangan nya menampar pipi kanan Layla.
" Aku sudah memberimu pekerjaan, memperlakukanmu dengan baik tapi kau malah berniat membunuh anakku!"
" N-nyonya maafkan aku"
" KAU SANGAT KETERLALUAN LAYLA!!"
Arthur segera menarik tubuh Tabitha dan mendekapnya erat. Menenangkan istrinya yang menangis sesegukan.
" Dia berusaha membunuh anakku Arthur"
" Sst..."
" Bawa dia Brian" titah Arthur.
Brian pun menuruti kemauan Arthur, dia membawa Layla menuju ruang pribadi Arthur.
" Bagaimana jika kau terlambat tadi"
" Jangan pikirkan, intinya kau baik-baik saja"
" Lalu, kau yang meminum susu itu, bagaimana denganmu?"
Arthur membingkai wajah sang istri. Dan menghapus air matanya.
" Aku tidak hamil, jadi tak berpengaruh padaku"
" Terimakasih Arthur"
__ADS_1
" Untuk apa?"
" Karena kau menyelamatkan bayi nya"
" Dia juga anakku, akan aku lakukan apapun untuk melindunginya"
" Aku tau"
Arthur menuntun sang istri ketepi ranjang dan mendudukan tubuhnya disana, Tabitha masih sedikit menangis ia hanya takut terjadi sesuatu pada anaknya.
Arthur terus menenangkan sang istri, sampai akhirnya ia sadar Tabitha sudah tertidur, Arthur membaringkan tubuh Tabitha ke ranjang, dan menyelimuti tubuh wanita itu. Setelah selesai Arthur berjalan dengan kemarahan yang membuncah ia bahkan sudah mengepalkan tangannya dan mengetatkan rahangnya.
Arthur membuka ruang pribadinya dengan kasar. Didalam sudah ada Brian dan Layla dengan tangan yang terikat kebelakang. Arthur duduk didepan Layla ia menatap gadis itu dengan kilatan kemarahan dimatanya.
" Jawab aku, siapa yang menyuruhmu?" Tanya Arthur lembut namun terdengar menakutkan.
" Aku tidak akan pernah mengatakannya padamu!"
Arthut menggeram, ia bangkit dari duduknya dan mencengkram erat rahang Layla seakan meremukkan tulang-tulangnya.
" Dengar jika kau tidak mengatakannya, aku akan membunuhmu sekarang"
" BUNUH SAJA AKU!!"
" Arthur cukup, bagaimana pun dia wanita. Kau lupa prinsip kita?"
Setelah mendengar ucapan Brian, Arthur mundur dan kembali duduk. Ia menghidupkan cerutu lalu menghisapnya untuk sedikit menurunkan kemarahannya.
" Baik, jadi kau ingin disiksa?"
" Silahkan tapi aku tak akan mengatakan siapa yang menyuruhku!"
" Arthur kau tak boleh menyiksanya! Kalian tak sebanding!!" Sentak Brian.
Arthur hanya mengangkat satu alisnya dan menghembuskan cerutunya.
" Siapa bilang aku yang menyiksannya"
" Apa maksudmu?" Tanya Brian tidak paham.
" Masuklah" titah Arthur.
Tak lama pintu terbuka menampilkan seorang wanita dengan pakaian hitam dan kacamata yang bertengger rapih dihidungnya. Dengan bibir merah merona dan jalannya yang aggun, siapa sangka dia adalah kaki tangan Arthur dari Korea.
" Laura" ucap Brian tertahan setelah wanita itu membuka kacamatanya.
" Hai Brian"
" Aku ingin kau siksa dia sampai dia mengaku siapa yang menyuruhnya!"
" Sesuai perintahmu Boss"
Brian mendekati Arthur, sedangkan Laura berjalan mendekati Layla dengan tatapan bak singa yang siap mencabik-cabik mangsanya.
" Bagaimana bisa dia datang kesini?"
" Akan kujelaskan, kita tunggu Matthew"
" Matthew? Kau berupaya mengumpulkan kaki tanganmu?"
" Ya"
" Sebenarnya apa yang sedang kau rencanakan Arthur?"
" Nanti kau juga akan tau"
Sementara itu, Laura mulai menampari Layla, namun gadis itu tetap bungkam. Laura menggoreskan sedikit luka di leher Layla untuk menambah penyiksaan buruan boss nya itu.
" Katakan! Atau aku langsung merobek kulitmu sekarang!"
" A-aku tidak akan mengatakannya!!"
Wanita berambut hitam pekat itu membuka mulut Layla paksa dan menelankannya sebuah cairan.
" Apa yang Laura masukkan dalam tubuh Layla Arthur?"
" Toxic"
" Apa!"
" Kau lupa dia seorang perancang obat yang gila Brian"
" Ya Tuhan, aku baru sadar mengapa dia terlihat sangat menakutkan dan sedikit psikopat"
" Diamlah!"
Layla mulai merasa panas, tenggorokannya seperti terbakar. Dan jangan lupakan pernapasanya yang semakin pendek.
" Jawab! Jika kau menjawabnya aku akan berikan penawarnya!"
" Oke! Berikan dulu penawarnya!"
" JAWAB SAJA DULU!!"
" T-The King"
" Maksudmu"
" The King yang menyuruhku!"
Arthur menggenggam erat kedua telapak tanggannya, ia semakin marah saat mengetahui ternyata The King yang melakukan semua ini.
Arthur langsung berdiri dan berhenti dihadapan Layla yang semakin tersiksa.
" Katakan! Apa pencurian itu adalah konspirasimu?"
" Ya, semua itu sudah dirancang oleh The King" jawab Layla dengan nafas yang tersenggal-senggal.
" Katakan! Dimana aku bisa bertemu dengan tuanmu itu?" Tanya Arthur lembut, jika saja tatapan mata bisa melayangkan anak panah, mungkin Layla akan mati sekarang juga.
" V-Vegas kau bisa menemuinya disana"
" Apa kita akan berbuat sesuatu boss?" Tanya Laura.
" Percuma, kalian akan kalah. The King sangat licik, dan dia pasti bisa mengalahkanmu Arthur!!'
" Sialan kau!" Arthut berdesis dan menghadiahi Layla dengan tamparan kuat hingga membuat ujung bibir gadis itu mengeluarkan darah segar.
Arthut membalikkan badanya dan berjalan dengan angkuh.
" Bagaimana dengannya boss?"
" Biarkan, kau ikuti aku Laura"
" Baik"
Laura meninggalkan Layla yang sekarat, dan ia pun bersama Brian mengikuti langkah kaki Boss nya. Arthur memasuki mobil Bugatti La Voiture Noire miliknya. Tak lama Brian dan Layla pun ikut memasuki mobil itu dan duduk dibagian depan mobil sedangkan Arthur dibelakang dengan kemarahan yang belum sepenuhnya surut.
" Kita mau kemana Arthur?"
" Markas"
" Baik"
Suasana didalam mobil sangat hening, Arthur masih mengetatkan rahangnya hingga suara ponsel berbunyi. Ia tak ingin mengangkat panggilan itu namun saat melihat siapa si penelpon Arthur langsung mengangkatnya.
" Ya"
" Kau dimana?"
__ADS_1
" Jalan"
" Ke?"
" Markas"
" Malam-malam begini ke Markas? Ada urusan apa?"
" Jangan pikirkan, ada apa?"
" Aku bangun dan kau tak ada disampingku. Jadi aku menelpon mu"
" Tidur saja dulu, mungkin aku akan sedikit lama di markas"
" Tapi bagaimana dengan Layla? Aku takut dia datang lagi"
" Aku sudah menempatkan dua bodyguard didepan kamar, tidak akan ada siapapun yang bisa memasuki kamar itu kecuali aku. Dan gadis sialan itu mungkin sudah mati"
" Kau yang membunuhnya?"
" Bukan"
" Syukurlah, ku kira kau yang menbunuhnya"
" Tidurlah, ini sudah malam"
" Oke"
Arthur menyimpan kembali ponselnya, kemarahannya mulai reda setelah mendengar suara lembut dari istrinya.
" Boss, kita sudah sampai"
Arthur segera keluar dari mobilnya dan memasuki markas Regnarok. Arthur langsung memasuki ruangan dengan meja besar disana dan kursi yang berjejer rapih disampingnya. Kursi-kursi itu pun sebagian sudah diisi. Saat Arthur datang dan mendudukan dirinya, anak buahnya berdiri sebagai tanda penghormatan, Arthur hanya mengganggukan kepalanya dan mereka pun kembali duduk.
Disana sudah ada Alexander, Matthew, Brian, Laura, dan beberapa orang kepercayaan Arthur termasuk tiga sniper handal.
" Kita akan menyerang The King"
" Jadi ini maksudmu?"
" Ya, dan aku ingin kalian bersiap karena mungkin The King tak bisa dianggap remeh."
" Baik" jawab mereka serentak.
" Kapan kita berangkat boss?" Tanya Matthew.
" Besok pagi. Sebagian kalian akan ikut aku dengan jet pribadiku. Sebagian lagi menggunakan pesawat biasa"
" Kenapa begitu boss?"
" Jika Layla sudah berada disini, artinya anak buah The King juga masih berada disini. Kita meminimalisir kemungkinan mereka curiga."
" Maksudmu kita berusaha untuk menyerangnya diam-diam"
" Lebih tepatnya kita menjaga supaya The King tidak berpindah lagi. Selama ini dia selalu berpindah-pindah. Jika kaki tanganya ada yang melaporkan kita bergerombol dan pergi dengan jet pribadi mungkin saja mereka akan menebak bahwa kita akan meyerang tuannya. Ditambah kenyataan kita membunuh Layla. Tapi jika sebagian dari kita menggunkan pesawat biasa mereka mungkin akan mengira kita hanya pergi biasa tidak untuk menyerang. "
" Aku setuju padamu Arthur"
" Siapkan senjata andalan kalian, kita akan berkumpul lagi pagi ini"
" Kenapa tidak sekarang saja boss?" Tanya Laura.
" Kita atur siasat dulu"
" Baik"
" Matt, kau akan bekerja dengan komputermu"
" Tentu boss"
" Dan aku, Brian, dan Matthew akan berada dibelakang tapi kami akan berpindah jika sudah menemukan keberadaan The King. Sedangkan Laura dan beberapa sniper berada di tengah. Dan pasukan kita akan berada didepan."
" Dimengerti boss"
" Untuk sekarang, kalian kembali kepekerjaan masing-masing"
" Baik"
Satu persatu dari mereka pergi meninggalkan ruang itu menyisahkan Brian dan Arthur.
" Aku akan diam jika dia hanya menyakitiku Brian, aku tak terima jika dia berupaya untuk menyakiti anak dan istriku."
" Aku mengerti, tapi lebih baik kita pulang. Besok kita akan menghabiskan banyak tenaga."
" Ya"
Arthur bangkit dan membalikkan tubuhnya, ia keluar dari Markas Regnarok dan mendudukan tubuhnya kembali didalam mobil.
Setelah beberapa saat ia pun sampai di Mansion. Arthur memasuki mansion, lalu menaiki tangga berakhir didepan kamarnya ia pun memberi kode untuk para bodyguardnya, mereka pun pergi. Arthur langsung memasuki kamarnya dan menemukan Tabitha bergelung diatas ranjang.
Arthur berjalan menuju walk in closet, mengganti bajunya dengan t-shirt dan celana training miliknya. Ia pun duduk ditepi ranjang membelai pelan sang istri.
" Arthur" Tabitha terbangun dan ia pun menajamkan penglihatannya.
" Maaf"
" Untuk?"
" Mengganggu tidurmu"
" Tidak papa"
Arthur membaringkan tubuhnya disamping sang istri dan memeluknya erat.
" Tak akan aku biarkan siapapun menyakiti kalian" gumam Arthur dan mencium lembut kepala Tabitha.
" Aku tau"
" Besok aku akan pergi, tapi kau tak usah khawatir aku tak akan lama"
" Kemana?"
" Vegas"
" Urusan bisnis?"
" Ya"
" Baiklah, aku menunggu. Lagi pula kau masih ada janji untuk menemaniku berbelanja"
" Tentu honey"
Arthut kembali mencium Tabitha dan memeluk erat tubuh itu, sedangkan Tabitha dengan tenang memeluk Arthur tepat didada pria itu.
To Be Continue...
Vote Please...
Tabitha De Lavega
Arthur De Lavega
Laura Vingerton
__ADS_1