MY HUSBAND CEO IS MAFIA

MY HUSBAND CEO IS MAFIA
MHM 3.6: SORRY


__ADS_3

" Arthur" lirih Tabitha, wanita itu masih tidak percaya bahwa suaminya ada dihadapannya sekarang.


" Ya?"


" Pergi!" Ucap Tabitha dingin.


" Aku ingin bicara padamu Ta"


" Pergi!"


" Ku mohon"


" Kubilang pergi Arthur" ucap Tabitha berusaha menutup pintu namun kaki kanan Arthur menghalangi pintu itu untuk tertutup rapat.


" Aku ingin bicara berdua denganmu"


" Aku tak ingin! Pergilah atau kakimu akan terluka!" Ancam Tabitha namun tak ada rasa takut sedikitpun yang tergambar dari wajah tampan Arthur.


" Silahkan jika kau tega"


" Tentu" Tabitha mulai menggerakkan pintunya namun ia urungkan, sial sekali lagi Arthur menang.


" Kubilang pergi Arthur kalau tidak_"


" Kalau tidak apa?"


" Aku akan berteriak kalau kau akan melecehkanku!"


" Kau istriku apa salah jika aku melecehkanmu?"


" DIAM!"


" Biarkan aku masuk, kita akan bicara baik-baik"


" Tidak!"


" Tabitha"


" PERGI ARTHUR!"


" Dengar aku tidak akan pergi"


" Baiklah aku akan menelpon polisi"


" Kau melupakan kalau suami mu ini adalah orang berpengaruh Tabitha"


" Ya, tapi tidak disini Arthur"


" Maksudmu?"


" Kekuasaanmu tidak berlaku sedikitpun disini tanpa campur tangan seorang Damian Ford"


" Begitukah?"


" Ini bukan New York dan Italy, ini bukan daerah kekuasaanmu jadi semua kekuasaanmu di Macau tidak ada artinya sama sekali"


" Lalu?"


" Dan itu adalah senjataku!"


" Baiklah apa yang akan kau lakukan?"


" Aku akan berteriak!"


" Silahkan"


" Oke"


Tabitha menengok kekanan dan kirinya, kosong tidak ada orang. Lalu bagaimana caranya lolos dari Arthur?


" TOLONG!! PRIA INI INGIN MELECEHKANKU" teriak Tabitha saat melihat seorang pegawai hotel datang dari sisi kiri.


" Apa yang kau lakukan!" Desis Arthur ia tak percaya Tabitha benar-benar mewujudkan ancamannya.


" TOLONG! TOLONG AKU! PRIA INI_ AAA" Teriakan Tabitha terpotong karena dengan gerakan cepat Arthur menggendong tubuh Tabitha ala bridal style.


" TURUNKAN AKU! LEPAS ARTHUR!"


" Jangan banyak bergerak, nanti kau jatuh!"


" BIARKAN, LEPASKAN AKU KAPARAT!"


" Jangan mengumpat terus Tabitha!"


" TURUNKAN AKU!" Tabitha berusaha melepaskan diri hingga membuat Arthur sedikit kehilangan keseimbangannya.


" Kubilang jangan bergerak! Bagaimana jika terjadi apa-apa pada anak kita nanti?"


Tabitha menatap wajah tegas Arthur, benarkah yang tadi dia dengar? Arthur menyebut bayi nya dengan sebutan 'anak kita' apa itu artinya Brian sudah memberitahu semuanya pada Arthur.


Arthur menurunkan tubuh Tabitha disisi ranjang tanpa memberi jarak antara dirinya dan istrinya yang terlihat masih shock.


" Mau apa kau?"


" Katanya kau dilecehkan?"


" Apa maksudmu?"


" Kau berteriak dilecehkan lalu sekarang aku mewujudkannya"


" Jangan gila kau!"


" Lagi pula aku sudah dua minggu berpuasa Ta"


" DIAM!"


" Kau menginginkannya juga kan?"


" Tidak"


" Lalu bagaimana bisa kau memakai jas milikku?"


Tabitha segera mengalihkan pandangannya kebawah, sial ia belum melepaskan jas milik Arthur.


" Ini bukan milikmu!"


" Kau yakin?"


" Ya!"


" Lalu apa ini?" Arthur mengambil sesuatu didalam saku jas itu yang ternyata sebuah sapu tangan berlambang De Lavega disana.


" Ehm, itu_"


" Kau merindukan ku kan?"


" Tidak!"


" Aku tidak percaya!"


" Pergi!"


" Baiklah tunggu"


Arthur menundukkan tubuhnya hingga wajahnya sejajar dengan perut Tabitha.


Arthur membelai pelan disana, Tabitha merasa nyaman saat Arthur membelai perutnya lembut, apakah ini yang dirasakan anaknya sekarang?


" Maaf, maafkan daddy karena meragukanmu. Maaf karena daddy berupaya untuk membunuhmu, maaf kan Daddy"


Tabitha membeku ditempatnya saat mendengar kata demi kata yang dilontarkan Arthur.


" Kau tau, Daddy sangat bahagia kau bisa menjaga mommy mu dengan menyakiti daddy"


" Apa maksudmu!"


" Brian bilang mual dan muntah yang kurasakan mungkin karena bayi ini ingin memberi hukuman padaku. Tapi tak apa aku menerimanya."


" Jadi kau tidak ikhlas begitu? Kau menginginkan aku tersiksa sama sepertimu?"


" Tidak, aku bersyukur kalau kau tak merasakannya Ta"

__ADS_1


" Bagus berarti kau sadar"


" Maaf sekali lagi"


" Aku butuh waktu, dan kau tak usah menghiburku dengan menyebut bayi ini adalah milikmu, ini hanyalah bayiku"


" Tabitha aku ayahnya"


" Kau yakin? Bukanya kau meragukannya?"


" Aku sudah mengetahui segalanya"


" Terserah sekarang aku tak ingin kau menyebut dirimu daddy lagi sebelum aku mengizinkannya"


" Tapi_"


" Jika kau keberatan silahkan pergi"


" Baiklah"


Arthur merengut, pria itu berjalan menjauhi Tabitha lalu memasuki kamar mandi, bahkan pria itu masih mengumpat disana.


Arthur menggeram saat mendapat penolakan dari Tabitha, ia salah. Ia terlalu gegabah dalam bertindak dia tau tapi entahlah, ia sakit saat Tabitha menolaknya. Jika istrinya saja tidak bisa memaafkannya bagaimana dengan bayi nya. Arthur meremas rambutnya ia menggeram tertahan. Pria itu meninju tembok dihadapanya.


" KAU BRENGSEK ARTHUR! KAU BIADAB! BODOH! GEGABAH! AROGAN! KAU TERLALU PERCAYA PADA EGO MU SENDIRI!!"


Tabitha mendengar teriakan Arthur, ia sebenarnya sudah berusaha melupakan kesalahan suaminya tapi jika makian Arthur kembali terngiang hatinya kembali terluka.


" Apa yang kulakukan Tuhan, bagaimana bisa aku sebodoh ini!" Rutuk Arthur meninju kembali tembok itu hingga tangannya terluka. Tabitha nyeri saat mendengar semua kata-kata yang Arthur lontarkan untuk dirinya sendiri. Tabitha menghela napasnya lembut.


" Aku mencoba melupakan semuanya Arthur, tapi jika kau meminta ijin dariku untuk bayi ini. Aku butuh waktu" ujar Tabitha namun masih bisa didengar Arthur.


" Bagaimana bisa kau tidak membiarkan aku menyebut diriku sendiri daddy untuk anak itu. Itu adalah anakku"


Tabitha hanya menggeleng menanggapi tingkah Arthur, ia membelai perutnya dan berbisik pelan.


" Mom tau Daddy mu melakukan kesalahan tapi semoga kau mau memaafkanya, Daddy mu itu memang pemarah suka mengumpat dan menyebalkan tapi kau akan bangga mendapatkan daddy sepertinya. Dia akan menjaga kita, tapi untuk sekarang, mom ingin memberi pelajaran dulu pada si tua pemarah itu!"


" Maafkan mom karena mendinginkan daddy mu" guman Tabitha.


" Aku ikut andil dalam proses pembuatannya! Dan kau melarangku? Ini tidak adil!"


Tabitha membelalakan matanya, bagaimana bisa suaminya berbicara seperti itu.


" Aku yang menabur benihnya! Aku yang mengalami morning sickness dan kau melarangku! Ini benar-benar tidak adil, aku tau kesalahanku tapi ini sungguh tidak adil untukku Tabitha"


" JANGAN BERBICARA VULGAR! AKU TAK INGIN ANAKKU MENDENGAR UMPATAN TAK BERMUTU DARI MU!! DAN ANGGAP SAJA ITU ADALAH BALASAN DARIKU ATAS SIKAPMU!!" teriak Tabitha.


" Baiklah, izinkan aku"


" Aku butuh waktu" ujar Tabitha.


" Kau menyebalkan Ta"


" Kau menghinaku! Aku tak ingin anakku memiliki ayah yang menghina ibunya sendiri"


" Tidak bukan seperti itu"


" Terserah!" Tabitha melengoskan wajahnya.


Arthur keluar dari kamar mandi, ia keluar hanya menggunakan bathrobe. Pria itu mendekati Tabitha dan mendudukan dirinya di tepi ranjang. Ia memegang erat tangan Tabitha.


" Aku hanya ingin kau mengizinkan ku"


" Aku bilang aku butuh waktu!"


" Tapi_"


" Aku masih mengingat kelakuanmu Arthur"


" Aku minta maaf"


" Aku akan memikirkannya"


" Jangan egois Ta"


"  Kau yang egois" ucap Tabitha memutar bola matanya malas


" Kau!"


" Maaf"


   Pria itu berdiri dan berjalan cepat meraih ponselnya dan menelpon Brian.


" Belikan aku satu set pakaian"


" Sekarang?"


" Ya!"


" Tapi ini jam 12 malam Arthur"


" Aku tak mau tau! Belikan!"


" Baiklah"


Arthur mematikan sambungan telepon nya dan ia pun mendudukan tubuhnya ke sofa kecil didalam kamar itu. Ia mengotak-atik ponselnya dan terlihat sedang menelpon.


" Alex, hentikan pencarian Tabitha aku sudah menemukannya"


" Nyonya sudah ditemukan boss?"


" Kau tuli? Aku sudah bilang tadi!" Ketus Arthur.


" Maaf boss"


" Kembali bekerja seperti semula!"


" Baiklah"


Tabitha tau Arthur sedang kesal, tapi wanita itu malah nembelai pelan perutnya dan melihat Arthur yang sedang memijit pelipisnya.


" Kau jangan seperti daddy mu yang pemarah itu ya, nanti kasian pasanganmu" gumam Tabitha.


Tak lama seseorang mengetuk pintu, Arthur berdiri dan berjalan cepat menuju pintu yang sudah ada Brian disana.


" Ini" ujar Brian memberikan sebuah tas belanjaan yang isinya bebera set pakaian santai.


" Oke"


" Kau sudah berbaikan dengannya?"


" Belum, dia membuatku kesal"


" Hei, jangan begitu mungkin itu karena hormon kehamilannya bukan?"


" Ya semoga"


" Baiklah selamat berkesal ria Arthur" Brian terkekeh puas melihat penderitaan Arthur.


Arthur mengunci pintu kamar dan ia pun bergegas berganti pakaian di kamar mandi. Setelah selesai ia keluar dan melihat Tabitha tengah memegang sebuah ponsel.


" Bukanya ponselmu tidak aktif?"


" Ponsel itu aku matikan sejak dua hari yang lalu"


" Lalu itu ponsel siapa?"


" Ponsel ku"


" Dari mana kau dapat uang untuk membeli ponsel itu"


" Ini Brian yang membelikanya, dia bilang kau bisa melacak ku jika aku masih menggunakan ponsel itu"


" Jadi kalian sekomplotan?"


" Iya"


" Bagus aku seperti orang bodoh disini"


" Bukanya memang begitu?"

__ADS_1


" Maksudmu?"


" Jika kau tak bodoh, mana mungkin kau percaya pada foto itu dan meragukan kesetianku?"


" Baiklah maaf"


Arthur berjalan kearah sofa dan mulai memejamkan matanya. Ia sedikit meringis saat menyadari punggung tangannya terluka. Tabitha yang mendengar itu pun langsung mengalihkan pandanganya kearah Arthur. Tabitha berdiri dan mengambil air untuk mengompres luka Arthur.


" Bodoh!"


" Apa maksudmu?"


Tabitha tidak menjawab pertanyaan Arthur, ia hanya mengompres luka di punggung tangan pria itu.


" Kenapa kau masih memperdulikanku?"


" Sebiadab-biadabnya kau, kau tetap suamiku."


" Lalu?"


" Aku akan melupakan masalah kita jika kau terluka, tapi tetap aku masih harus memikirkan semuanya" ujar Tabitha tanpa menatap Arthur ia hanya sibuk membersihkan darah di punggung tangan suaminya.


" Terimakasih" ucap Arthur saat Tabitha selesai membersihkan luka nya.


Tabitha tidak menanggapi ucapan Arthur, ia membawa kembali air kepantry dan ia pun mendudukan tubuhnya diranjang ia membaca buku dan sesekali melirik kearah Arthur yang sibuk mencari posisi untuk tidur.


" Kau mau apa?"


" Tidur"


" Di sofa?"


" Kau mau kita tidur seranjang?"


" Em_"


" Aku memberimu waktu Ta"


" Baiklah terserah"


Tabitha membaringkan tubuhnya membelakangi Arthur, wanita itu sesekali menengok kebelakang dimana Arthur terlihat sekali tidak nyaman tertidur di sofa kecil seperti itu.


Tabitha menyibakkan selimutnya, menurunkan kakinya dan berjalan mendekati Arthur. Bagaimana pun ia tidak tega melihat Arthur tersiksa dengan posisi tidur seperti itu.


Tabitha menggerakkan pelan lengan Arthur berharap pria itu membuka matanya.


" Arthur"


" Emh"


" Kau jangan tidur disini"


" Maksudmu aku tidur dikamar Brian begitu?"


" Bukan"


" Lalu, aku menyewa satu kamar lagi disini?"


" Ish, bukaaannn"


" Lalu apa?"


" Aku ingin kau tidur seranjang denganku" ucap Tabitha nyaris tak terdengar, tapi pendengaran Arthur masih berfungsi dengan baik, pria itu langsung membuka matanya dan menatap wajah sendu Tabitha.


" Aku tak ingin memaksamu"


" Aku tak merasa dipaksa"


" Aku akan memberikanmu waktu"


" Kubilang aku sendiri yang menginginkanmu tidur seranjang denganku"


" Baiklah, kalau kau memaksa"


Arthur bangkit dari tidurnya, ia berjalan mendekati ranjang membaringkan tubuhnya menghadap kiri sedangkan Tabitha menghadap kanan. Mereka saling membelakangi namun Tabitha menginginkan sesuatu.


" Arthur"


" ..."


" Kau sudah tidur?" Ucap Tabitha tanpa melihat kearah Arthur.


" Kau menginginkan sesuatu?" Arthur membalikkan tubuhnya menatap punggung Tabitha.


" Ya"


" Katakan"


" Bisakah aku meminta sesuatu dari mu Arthur?"


" Katakan"


" Bisakah kau peluk aku?"


" Kau yakin?" Arthur mengulas senyum tipis di bibirnya ia bahagia Tabitha nya yang manja telah kembali.


" Ya"


" Baiklah" Arthur memeluk tubuh mungil Tabitha dari belakang.


" Bayinya juga ingin dipeluk" ujar Tabitha nyaris seperti merengek.


" Kalian memang manja, tapi aku suka"


Arthur tanpa kata meletakkan satu tangannya keperut sang istri. Ia membelai pelan dan berharap waktu berhenti untuk beberapa saat, pria itu begitu merindukan istri kecilnya yang ternyata sedang membawa bagian dari dirinya dalam tubuh wanita itu.


" Jangan kepedean"


" Maksudmu?"


" Ini keinginan bayinya bukan aku"


" Kalau begitu aku berterimakasih pada bayi kita karena mengerti keadaan kita sekarang"


" Jangan banyak bicara, aku mengantuk"


" Tidurlah"


Arthur mengecup pelan kepala Tabitha.


" Kau belum mendapat izin mencium dariku Mr. De Lavega!"


" Oh Ya Tuhan apa lagi ini?"


" Aku butuh proses untuk memberikanmu izin atas segala kehidupanku setelah kau memperlakukanku seperti seorang ja_"


" Tolong jangan ingatkan lagi, aku sangat menyesal Ta. Sungguh" sela Arthur cepat.


" Bagus kalau begitu!"


" Jadi apa boleh aku menciummu lagi?"


" Tidak!"


" Kau jahat sekali!"


" Diamlah!"


Arthur mendengus lalu ia berusaha memejamkan matanya untuk menggapai alam bawah sadarnya bersama sang istri.


To Be Continue...


Vote Please...



Arthur De Lavega



Tabitha De Lavega

__ADS_1


__ADS_2