MY HUSBAND CEO IS MAFIA

MY HUSBAND CEO IS MAFIA
MHM 5.3: CITY PARK


__ADS_3

3 bulan kemudian...


Tabitha dan Arthur berjalan beriringan dengan tangan pria kokohnya yang mendorong baby stroller Artha. Mereka memutuskan untuk rehat sejenak dari aktifitas mereka dan berakhir ditaman kota.


Sebenarnya Tabitha yang merengek untuk pergi ke taman kota hari ini, dan jika sudah begini Arthur akan memutuskan seluruh pekerjaannya dan fokus untuk menghabiskan harinya dengan keluarga kecil mereka.


" Ayo duduk" ajak Tabitha menunjuk kursi panjang ditengah taman.


Arthur hanya menjawab dengan senyum tipis seraya mendorong baby stroller Artha ketempat itu. Tabitha langsung mendudukan tubuhnya sementara Arthur meraih Artha terlebih dahulu membawanya dan mendudukannya tepat dipangkuan pria itu.


" Arthur aku ingin bicara, penting" Ucap Tabitha memecah keheningan.


" Katakan"


" Ini masalah Clark"


" Kenapa kau masih membahas pria sialan itu?"


" Ini bukan masalahnya, hanya saja aku tak tega melihat Fitry"


" Apa hubungannya Clark dengan Fitry"


" Tiga bulan yang lalu dia bicara padaku dan memintaku untuk bicara padamu tentang karier Clark"


" Lalu?"


" Kau sudah mematikan karier nya selama lebih dari setahun Arthur, ku kira itu sudah cukup lagi pula dia juga sudah dibenci oleh ayahnya"


" Itu semua tidak akan cukup atas apa yang sudah dia perbuat pada kita" ujar Arthur dengan tatapan tegasnya.


" Jika kau pikir aku memaafkannya, kau salah. Aku juga belum sepenuhnya memaafkan Clark"


" Lalu kenapa kau membicarakan dia?"


" Fitry"


" Ada apa dengan Fitry?"


" Dia mencintai Clark, sudah lama sebelum aku menyukai Clark" Ujar Tabitha menyenderkan tubuhnya.


" Apa?" Arthur kini menyampingkan tubuhnya menatap lekat pada istrinya.


" Ya, dia tak tega melihat Clark seperti itu jadi dia memintaku untuk membujukmu agar kau memulihkan kembali karier Clark"


" Aku tak bisa"


" Kenapa? Karena kau masih membencinya?" Tuduh Tabitha menatap tajam manik Arthur.


" Ta, perlu kau tau. Sekali aku membenci seseorang maka akan selamanya begitu"


" Maka jangan lakukan demi Clark, lakukan demi Fitry"


" Maksudmu?"


" Wanita itu sangat setia jika sudah mencintai seseorang Arthur, dia sama sekali tidak marah saat aku bilang aku menyukai Clark dia malah mendukungku seratus persen, lalu apa salahnya jika kita berbuat sedikit untuk kebahagiaannya"


" Aku tak bisa"


" Aku tau kau keras Arthur, tapi semua sudah berakhir, lagi pula kita sudah bahagia sekarang"


" Ta_"


" Ku mohon"


" Aku..."


" Fitry adalah yang paling bijak diantara kami, dan aku merasa bodoh karena menyukai pria yang sama dengan yang dia sukai, dan parahnya dia memendamnya hanya untukku Arthur"


" Baiklah." Ucap Arthur dengan menghela napasnya lembut.


" Terimakasih Arthur"


" Iya, pegang Artha dulu"


Tabitha menyambut Artha dengan perlahan dia pun mendudukan Artha dengan memainkan tangan kecilnya. Sedangkan Arthur meraih ponselnya dan menghubungi seseorang, seraya menunggu panggilannya terjawab pria itu sempat membelai wajah Artha pelan.


" Ya"


" Ada apa tuan?"


" Pulihkan kembali karier Clark Adderson"


" Tapi bukanya anda?"


" Turuti saja perintahku"


" Baik tuan"


Panggilan terputus, lebih tepatnya Arthur yang memutusnya. Ia menyimpan kembali ponsel disaku celananya dan menatap Tabitha yang tersenyum manis.


" Sudah"


" Aku tau, terimakasih"


" Tapi ingat jika pria sialan itu berusaha untuk merecoki rumah tangga kita lagi, aku sendiri yang akan melepas peluruku dengan kepalanya yang jadi sasaran"


" Iya, kau bisa lakukan apapun"


Arthur mengacak-acak rambut sang istri sedangkan Tabitha mencabikkan bibirnya kesal, yang benar saja dia sudah merapikan rambutnya lama tadi dan suaminya merusaknya, hole! Ini tidak adil.


" Kenapa?"


" Aku berdandan lama tadi, dan kau merusak rambutku"


" Baiklah maaf"


" Iya"


" Ingin ice cream?"


" Boleh"


" Baiklah tunggu"


Setelah mendapat anggukan dari Tabitha, Arthur berjalan mendekati penjual ice cream yang berada tepat disekitar mereka, pria itu memesan dua ice cream vanila untuknya dan sang istri.


Setelah mendapat apa yang menjadi tujuannya, Arthur pun kembali duduk disamping sang istri dan memberikan satu ice cream padanya.

__ADS_1


" Thanks"


Arthur hanya tersenyum menanggapi Tabitha, mereka pun menikmati ice cream nya.


Arthur melirik kearah Artha yang terlihat membinarkan matanya melihat ice cream, ia pun akhirnya memberikan ice creamnya didepan bayi itu, dan bayi itu pun mencobanya. Ekpresinya sangat lucu dia memejamkan matanya mungkin karena sensasi dingin yang dirasakan di lidahnya.


Arthur dan Tabitha yang melihat hal itu pun langsung tertawa sedangkan Arthur hanya terkekeh geli.


" Ekpresinya sangat menggemaskan" puji Arthur dan bayi itu malah tertawa.


" Tentu dia putraku" ucap Tabitha lalu membalik posisi Artha hingga berhadapan denganya dan langsung dihadiahi ciuman diwajahnya oleh Tabitha.


Tak lama terdengar suara ledakan dari arah parkiran, Arthur segera menolehkan kepalanya untuk melihat apa yang terjadi.


" Arthur?"


" Tenanglah"


" Tapi"


" Sudah ayo" Arthur menarik pelan tangan Tabitha menuju mobil nya dan ternyata mobil mereka lah yang hancur terbakar.


" Shit apa lagi ini!" Rutuk Arthur berdecak.


" Arthur, jadi bagaimana?"


Tak lama terdengar suara rentetan senjata, Tabitha sontak mempererat pelukanya pada Artha dan mencari perlindungan ditubuh pria disampingnya. Arthur segera memasang badan dan merengkuh tubuh sang istri dari depan dengan punggung kekarnya. Mereka berpelukan erat berusaha menghindari peluru itu.


" Arthur, aku mau pulang" Cicit Tabitha dengan nada suara yang  bergetar ketakutan.


" Kita pulang sekarang"


Arthur menekan sesuatu di telinga kanan nya.


" Aku diserang, selesaikan"


" Baik Boss"


Arthur langsung meembawa tubuh Artha dan menarik Tabitha menjauhi kawasan city park, mereka berlari dan berakhir dibahu jalan menunggu mobil bodyguard Arthur, setelah mobil itu sampai Arthur segera menyuruh Tabitha memasukinya.


" Tapi kau?"


" Aku tak apa, pergilah jaga Artha"


" Arthur"


" Aku tak apa"


Tabitha pun menerima Artha dan pintu langsung ditutup oleh Arthur, pria itu melihat kearah bodyguardnya.


" Cepat bawa, jangan sampai terjadi apapun pada mereka"


" Baik Boss"


Setelah itu Arthur langsung mengambil pistol dari dalam saku jasnya, pria itu percaya dengan bodyguardnya karena mobil yang ditumpangi sang istri terbuat dari baja yang keras dan mampu menahan peluru serta kacanya terbuat dari kaca anti peluru. Arthur memang sudah bersiap jika hal ini terjadi, bagaimana pun ia memiliki banyak musuh jadi jika ia sudah keluar dari daerah teritorialnya sudah pasti banyak orang yang berusaha membunuhnya. Oleh karena itu ia bersiap dengan membawa mobil anti pelurunya jika terjadi sesuatu.


Arthur berjalan dan tak lama Alexander datang.


" Cari asal si penembak Alex"


" Baik boss"


Sasaran nya untuk dibunuh ada disamping kanannya sendiri, Arthur berada tepat disamping kanan nya dengan menodongkan pistol juga dikepalanya. Arthur mengeluarkan senyuman iblisnya dan menatap lapar pada pria disampingnya.


" Katakan siapa yang menyuruhmu?"


" A-Aku"


" Jawab pertanyaanya!" Desis Alexander.


" Ku ulangi, siapa yang menyuruhmu!" Tanya Arthur lagi namun kali ini pria itu menekan lebih dalam ujung pistolnya ke kepala pria disampingnya.


Arthur melirik kearah bawah dan mendapati pria itu berusaha untuk mengaktifkan sebuah granat, Arthur tersenyum miring dan dengan pelan mengambil granat itu dari tangan pria sialan yang berusaha membunuhnya.


" Kau berusaha untuk meledakkan kita bertiga?" Tanya Arthur dengan nada suara dingin tapi cukup membuat bulu kuduk pria disampingnya meremang.


" Tidak"


Alexander yang belum mengerti pun melihat kearah tangan Arthur, dan granat sudah berada didalam genggaman bosnya.


" Sialan kau!" Desis Alexander.


" Siapa yang menyuruhmu bedebah!!"


" Antony"


" Siapa Antony?" Tanya Alexander.


" Antony? Pengusaha yang aku tolak ajakannya?" Tanya Arthur dengan mengangkat satu alisnya.


" Ya, dia dendam padamu dan membayarku untuk membunuhmu"


Arthur menghela napasnya lalu dia menarik pelatuk yang ada ditanganya.


" Kalau begitu akan kuhadiahkan Antony dengan kepalamu sialan!" Desis Arthur tajam dan.


Dor!


Arthur melepas pelurunya tepat diotak kanan pria malang itu, dan pria itu pun limbung.


Arthur kembali menyimpan pistolnya ke dalam saku jas mahalnya, pria itu pun berdiri lalu memasukan satu tanganya kedalam saku celana dan ia melanggang pergi dari sana dengan mobil salah satu bodyguardnya. Arthur melaju menuju mansion untuk menenangkan istrinya, ia tau pasti Tabitha akan tertekan sekarang.


🔫🔫🔫


Antony berjalan dengan senyum mengembang saat rencana nya untuk membunuh Arthur berjalan dengan lancar, ia yakin Arthur tak akan selamat dari rentetan senjata yang sudah ia rencanakan, pasti Arthur sudah terkapar tanpa nyawa sekarang.


Pria itu membuka pintu cafe masih dengan kekehan geli karena berhasil membalas kesombongan Arthur dan ia bahagia atas kematian pria itu. Ia mendudukan tubuhnya dan memesan kopi lalu ia pun mengeluarkan sepuntung rokok dari jas mewahnya. Ia menyalakan ujungnya dengan api, dan menghisap rokok itu perlahan seakan menikmati setiap hembusan dan sesapannya atas barang itu, hingga saat pesanannya datang ia pun segera meminumnya. Namun saat ia menurunkan cangkir kopinya ia tersentak saat kursi didepannya terisi oleh seseorang bertubuh tegap dengan setelan jas yang mahal, Arthur.


Arthur menjentikkan jari dan tak lama pelayan disana mendatangi Arthur.


" Ingin pesan tuan?"


" Disini ada wine?"


" Ada tuan"


" Berikan aku satu"

__ADS_1


" Baik"


Pelayan itu meninggalkan Arthur dan Antony dalam keheningan tapi dapat dipastikan tubuh Antony menegang kaku, ia tak sedang berhalusinasi dengan melihat roh Arthur, kan?


Tak lama pelayan itu datang dengan membawa wine berserta dengan gelasnya, pelayan itu pun membuka tutup wine menuangkannya pada gelas kecil namun elegan, mereka tau Arthur adalah tamu yang benar-benar harus dihormati. Arthur memberi senyum tipis saat pelayan itu pergi, tangan kokohnya meraih gelas wine dan meneguknya tandas.


" A-Arthur?"


Arthur meletakkan bekas gelasnya diatas meja dan menatap Antony dengan tatapan menghina.


" Ya?"


" Kau baik?" Tanya Antony dengan nada tak percaya.


" Ya, memangnya aku kenapa?" Tanya Arthur tenang kontras dengan jari tangan nya yang sudah mengepal sempurna.


" Ah tidak"


" Kau melihat berita pagi ini?" Arthur kembali bertanya namun kali ini dibuat dengan nada bicara tak tau apa-apa.


" Memangnya ada apa?"


" Jadi kau sama sekali tidak tau apa yang terjadi?"


" Ya" Jawab Antony gugup.


" Serius? Seluruh stasiun televisi sedang membicarakanya, sebuah penyerangan pada CEO perusahan raksasa New York" ujar Arthur seraya meneguk wine yang baru saja ia tuangkan dari botol ke gelasnya.


" Aku tak tau" Dusta Antony.


Arthur tersenyum miring, ia mengetukkan tanganya pada gelas yang dipegannya hingga menimbulkan bunyi, dan entah mengapa Antony takut mendengar dentingan gelas itu.


" Ada apa Antony?"


" Tidak"


" Ada yang kau pikirkan?"


" Aku tak memikirkan apapun"


" Kebetulan sekali kita bertemu disini kan?"


" Iya"


" Sebenarnya aku sedang berada di City park pagi ini, dan sejarah City park belum ada penyerangan yang terjadi, aku tak tau mengapa tapi waktunya bertepatan sekali dengan ku dan keluargaku yang berada disana pagi ini" ujar Arthur masih dengan wajah yang datar.


" Mungkin itu faktor kebetulan"


" Ya, kebetulan yang sangat mencurigakan"


" Arthur_"


" Anehnya, aku rasa akulah CEO dari perusahaan raksasa yang dimaksudkan di TV"


" Kau_"


" Aku hanya berasumsi" ujar Arthur melirik kearah Antony.


" Jika itu benar, kau dan keluargamu tak apa kan?" Ujar Antony peduli tapi Arthur tau isinya adalah zonk! Itu hanya pencitraan semata.


" Ya, jika terjadi sesuatu padaku mana mungkin aku berada didepan mu sekarang"


" Ya, kau benar"


" Kau tau, dua bulan yang lalu aku diajak kerja sama oleh seseorang lalu aku menolaknya"


Antony mengerti arah pembicaraan Arthur akan kemana, dia tau Arthur sedang berusaha menyindirnya. Tapi ia harus bersikap tenang agar kedoknya tak terbongkar sekarang.


" Lalu tiba-tiba penyerangan itu terjadi, tapi syukurlah aku berhasil menyelamatkan keluargaku"


" Syukurlah kalau begitu Arthur"


" Ya, dan kau tau setelah mengantar istri dan anakku, aku kembali ketempat itu mencari si pelaku dan, aku menemukan nya" ujar Arthur dengan menekan kalimat terakhirnya.


" Jadi?"


" Dia bilang kalau pengusaha yang dua bulan lalu aku tolak penawarannya adalah dalang dari penyerangan itu, pengusaha itu membayar seorang sniper untuk mengirim salah satu pelurunya tepat keotakku tapi yang terjadi malah sebaliknya" Ujar Arthur dingin membuat Antony melebarkan matanya. Apa maksud perkataan Arthur tadi! Batin Antony.


" Maksudmu?"


" Aku tau semua tentangmu Antony" Desis Arthur tertahan.


" Aku tak mengerti"


" Aku tak akan menjelaskan apapun, karena aku tau sebenarnya kau mengerti akan semua hal yang aku sampaikan tadi"


" Arthur"


Pria itu malah menegakkan tubuhnya meraih dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang lalu menyelipkan uang itu dibawah botol wine yang tadi ia pesan.


" Pergilah kemobil mu Antony, ada salam untukmu" Putus Arthur, lalu pria itu pun melenggang pergi dari hadapan Antony.


Antony mengernyitkan dahinya bingung, apa maksud Arthur dengan salam? Akhirnya ia pun membayar pesanannya dan bergegas keluar memasuki mobilnya.


Saat berada di dalam mobil miliknya Antony mencium bau anyir yang cukup kuat, ia mencari kemana asal bau itu dan terlihatlah sebuah tas lumayan besar dengan bagian bawahnya yang basah, tapi Antony yakin itu bukan air.


Antony meneguk ludahnya kasar ia dengan perlahan membuka tas itu dan tubuhnya melemah saat melihat kepala sniper yang ia bayar untuk membunuh Arthur De Lavega teronggok di dalam tas itu. Ia segera membuang tas itu kebagian belakang mobil namun baru beberapa detik ia mengatur napasnya.


Boom!


Mobil Antony meledak, dan sudah dipastikan Antony terbakar didalam sana. Tanpa sepengetahuan orang lain, seseorang mengeluarkan smirk nya melihat kobaran api yang dengan cepat melahap mobil Antony beserta isinya. Arthur, pria itu memandang penuh kemenangan mobil terbakar itu, ia duduk didalam mobil miliknya tepat disamping cafe dibelakang mobil Antony.


" Kau mencari lawan yang salah bodoh!" Gumam Arthur dengan seringaian menakutkan dari bibirnya.


To Be Continue...


Vote Please...



Artha Leonardo De Lavega



Tabitha De Lavega


__ADS_1


Arthur De Lavega


__ADS_2