
Damian meraih ponselnya yang berbunyi, pria itu memeriksa si penelpon yang ternyata adalah anak buahnya.
" Markas FBI kosong sekarang boss hanya ada beberapa dari mereka yang masih berada disini"
" Dimana sisa pasukan?"
" Kita sudah bersiap untuk menyerang"
" Tunggu aku, aku akan langsung ke kota sekarang"
" Baik"
Damian mematikan sambungan teleponnya, dan menatap Tabitha yang masih memeluk erat Leonardo.
" Well, kita lihat. Seberapa cepat suamimu menyelamatkan dunia setelah aku mendapatkan disk itu" Ucap Damian dengan nada sombongnya.
" Sebelum kau mendapatkan disk itu, Arthur terlebih dahulu membunuhmu Damian!"
" Ucapanmu sangat pedas, dengar kau hanyalah wanita kecil yang tak tau apapun tentang dunia. Jadi jangan pernah mencoba untuk menghinaku"
" Aku sudah terlebih dahulu menghinamu Damian!!"
" And uncle lebih baik kau pergi sebelum Daddy datang dan membunuhmu!!" Ucap Leonardo lantang bahkan anak itu mengangkat wajahnya menatap Damian tanpa ada rasa takut sedikit pun dimatanya.
" Well, kalian akan lihat bagaimana kematian Arthur" Damian menjalankan kakinya keluar dari ruangan itu melirik kesamping dimana Arthur tengah berjibaku dengan anak buahnya.
" Selamatkan istri dan anakmu Arthur, tapi kau tak akan bisa menyelamatkan dunia" Damian tersenyum miring meremehkan. Ia memang tak ingin bersusah payah menyerang Arthur, yang jadi tujuannya sekarang adalah disk di markas FBI dan ia harus segera mendapatkannya.
Damian keluar dari gedung lewat pintu belakang sementara Arthur yang sudah selesai dengan anak buah Damian pun akhirnya sedikit menghembuskan napasnya kasar. Pria itu berjalan memasuki ruangan tempat Tabitha dan Leo disekap. Pria itu mendobrak pintu dengan kakinya dan ia melihat beberapa anak buah Damian yang siap dengan ancang-ancang menembaknya.
Arthur tersenyum simpul dan ia pun dengan cepat memborbardir anak buah Damian. Saat Arthur hendak melepaskan pelurunya ke salah satu anak buah Damian yang tersisa, sasaran Arthur malah menarik tangan Tabitha mencekal leher wanita itu. Arthur langsung menggeram dan siap melepaskan pelurunya namun musuhnya menjadikan Tabitha sebagai tamengnya.
" MOMMY!" Teriak Leonardo histeris saat kepala Tabitha ditodong dengan pistol oleh musuh.
" Lepaskan istriku!!"
" Tidak, karena boss sudah bersusah payah menahan istrimu jadi aku tak mungkin menyerahkan istrimu dengan mudah!!"
" Well, kau yang meminta"
" A-Arthur..." Tabitha melirih ia sedikit kesusahan karena lengan pria dibelakangnya mencekik batang lehernya.
" Tenanglah"
" Kau pasti akan kalah Arthur!" Pria berpakaian serba hitam itu semakin mencekik Tabitha hal itu semakin membuat Arthur geram.
" Hitungan ketiga hentakkan tubuhmu kesamping" Ucap Arthur ambigu.
" A-apa maksudmu?"
" Ikuti saja ucapanku"
" Apa lagi yang kau rencanakan De Lavega!" Tantang pria itu.
" Satu..."
" Dua..."
" Tiga..."
Hitungan ketiga, Tabitha benar-benar melakukan perintah Arthur wanita itu menghentakkan tubuhnya kesamping hingga tubuhnya sedikit bergerak dan tak menutupi pria dibelakangnya. Dan tepat setelah itu.
Dorr!
Arthur melepaskan pelurunya tepat keperut pria dibelakang Tabitha nyaris saja jika Tabitha tak menuruti perintah Arthur sudah pasti tubuhnya yang menjadi sasaran dari peluru Arthur.
Arthur tersenyum simpul sementara sebagian tubuh Tabitha sudah dipenuhi dengan bercak darah pria yang menahannya. Tabitha langsung berlari kearah Arthur saat pria dibelakangnya limbung.
" Arthur" Tabitha menempatkan kepalanya di dada bidang Arthur wanita itu sesekali menumpahkan tangisanya hingga membasahi pakaian Arthur.
" Kau tak apa?" Tanya Arthur memastikan dan mengangkat wajah Tabitha memperjelas pandangannya.
" Ya, aku tak apa"
" Daddy!" Leonardo memeluk paha Arthur dan mendongakan kepalanya menatap Arthur dan Tabitha silih berganti.
Tabitha sontak melepaskan pelukanya dan menatap Leonardo sementara Arthur sudah mendudukan tubuhnya dan menatap lekat pada putranya. Leonardo langsung memeluk Daddy nya erat.
" Leo tau Daddy akan datang dan menyalamatkan Mommy dan Leo"
" Ya, mana mungkin Daddy membiarkan sesuatu terjadi pada kalian"
" Leo sayang Daddy"
" Daddy juga" Arthur mencium lembut kepala Leonardo dan menatap lekat gurat wajah putranya.
" Terimakasih sudah mejaga Mommy selama Daddy tak ada"
" Iya, Daddy tenang saja. Leo pasti akan menjaga Mommy selama Daddy tak ada"
" Good boy"
Tabitha ikut mendudukan tubuhnya dan memeluk kedua jiwanya. Mencium pipi Arthur dan mencium pelipis Leonardo.
" Arthur kau harus segera menghentikan Damian" Ucap Tabitha mulai serius.
" Apa maksudmu? Bukanya Damian ada disini?"
" Ya, dia memang disini tadi. Tapi sekarang dia menuju kota untuk menyerang markas FBI dan mengambil alih disk itu"
" Sialan!!"
Arthur langsung berdiri dan menekan sesuatu di telinganya.
" Matthew kau bisa menyerang sekarang"
" Baik boss, lima menit kami akan datang"
" Dengar aku akan mengejar Damian. Kau dan Laura harus menjaga keselamatan Tabitha dan putraku"
" Sesuai perintahmu Boss"
" Bagus"
Arthur memutus sambungan teleponya dan menatap Tabitha.
" Dengar, jangan keluar sebelum Matthew menjemput kalian."
" Daddy mau kemana?" Tanya Leonardo polos.
" Daddy harus mengejar seseorang"
" Hati-hati Arthur"
" Ya" Arthur mensejajarkan tubuhnya dan menatap Leonardo.
" Berjanjilah kau akan terus menjaga Mommy"
" Ya Dad, Leo janji"
" Bagus"
Arthur kembali menegakkan tubuhnya dan mencium pelipis Tabitha lembut.
" Jangan keluar"
" Ya"
Arthur memutar haluan, pria itu berlari keluar dari gedung dan berusaha mengejar yacht yang membawa Damian menuju markas FBI. Arthur menghentikan larinya dan melepaskan pelurunya kearah yacht tapi sayang sasaranya meleset. Arthur mengedarkan pandanganya mencari petunjuk lalu senyumnya terbit saat melihat boat milik FBI yang berada tepat disamping kanan yang dekat denganya. Arthur langsung menaiki boat itu dan bergegas mengejar Damian.
Disisi lain Brian mengawasi gedung dari atas, dia mengawasi setiap pergerakan FBI dan anak buah Damian yang masih sibuk berperang. Tak lama Regnarok datang dengan jumlah yang besar pula. Ada beberapa helikopter yang mendarat di depan gedung.
" REGNAROK BANTU FBI DAN BUNUH SEMAMPU KALIAN!!" Seru Matthew penuh semangat.
Regnarok mulai memborbardir pasukan Damian dibantu dengan FBI yang juga tengah melacak nuklir pertama. Matthew dan Laura langsung berjalan dengan langkah lebar memasuki gedung mencari Tabitha dan Leonardo.
Saat Matthew membuka pintu ruangan disudut gedung. Ia langsung menemukan Tabitha yang sedang memeluk Leonardo dengan erat disudut ruangan.
" Nyonya kau tak apa?"
" Ya, aku baik Matt"
" Mari saya antar"
" Kemana?"
" Anda akan langsung dibawa pulang"
" Baiklah"
Matthew menuntun Tabitha dan Leonardo dengan mengawalnya dari belakang semantara Laura dari depan. Sesekali Matthew melepaskan pelurunya mengenai kepala musuh dengan tepat.
Saat telah sampai di tengah gedung Matthew sedikit tersentak kerena pasukan Damian yang baru saja datang dan menyerang mereka. Matthew langsung menatap Laura.
" Pimpin pasukan, aku akan mengantarkan nyonya ke helikopter"
" Situasi tak memungkinkan untuk kalian pergi ke helikopter. Pasukan Damian mengepung kita. Sebaiknya nyonya dan tuan muda bersembunyi saja dulu disini"
" Kau benar, baiklah kau serang mereka dulu aku akan disini"
" Baiklah"
Laura keluar dari gedung dan memborbardir tanpa ampun anak buah Damian. Sementara Tabitha dan Leonardo bersembunyi dibawah meja yang cukup besar di ujung ruangan.
" Mommy kapan kita pulang"
" Kita akan segera pulang honey"
" Tapi kapan Mom?"
Dorr! Dorr! Dorr!
Tabitha terhentak dan semakin mempererat pelukanya pada Leonardo. Ia sedikit takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan.
Matthew membombardir pasukan Damian yang hendak memasuki gedung. Hingga ia pun menekan earphone nya dan terhubung dengan Laura.
" Ada apa?"
" Pasukan kita menipis"
" Apa maksudmu?"
" Pasukan kita semakin lama semakin berkurang sementara pasukan Damian semakin besar. Kita kalah jumlah. Jika saja Alexander ada mungkin kita akan sedikit terbantu. Dia sniper yang handal kita butuh sniper"
" Dimana Brian?"
" Dia memborbardir dari atas"
" Jadi?"
" Aku tak yakin kita bertahan cukup lama"
" Lakukan semaksimal mungkin Laura"
" Baik"
Matthew berlari mendekati Tabitha dan menatapnya dengan cemas.
" Nyonya pasukan kita menipis"
" Apa yang harus kita lakukan?"
" Jujur jika Alexander ada kita akan tertolong"
" Apa maksudmu?"
" Alexander sniper handal dan sayanganya dia tak bisa ikut. Andai kita punya sniper lain selain Alex dan Brian"
" Dimana Brian?"
" Brian memborbardir dari atas" Matthew menjeda kalimatnya dan menatap Tabitha.
" Nyonya, anda sebaiknya jangan keluar, aku akan keluar membantu Laura"
" Matt?"
" Ku harap kau menuruti saranku nyonya"
Matthew berlari keluar dari gedung dan mulai membantu Laura yang sibuk berjibaku dengan pasukan Damian meninggalkan Tabitha dengan kebingungan yang menguasai pikirannya.
" Sniper handal" Tabitha bergumam dan ia menundukan kepalanya menatap Leonardo.
" Dengar Leo Mommy akan pergi. Leo janji jangan keluar sebelum Mommy menjemput okey"
" Tapi Mommy kenapa Leo tak ikut?"
" Ini berbahaya honey"
" Leo tak bisa meninggalkan Mommy sendiri"
" Leo, Mommy tau Leo sangat menyayangi Mommy tapi kali ini dengarkan Mommy"
" Baiklah"
Tabitha mengecup lama kening putranya dengan tangan yang sudah mengepal, ia yakin dengan keputusannya kali ini dan ia akan berjuang untuknya dan tentunya untuk Arthur, suaminya.
__ADS_1
Tabitha menegakkan tubuhnya dan berjalan menjauhi Leonardo dengan langkah yang tegap, wanita itu sedikit menolehkan kepalanya kebelakang dimana Leonardo tampak sedikit ketakutan.
" Mommy akan berusaha melindungimu" Gumam Tabitha dan menganggukan kepalanya melanjutkan kembali jalanya mendekati Matthew yang masih sibuk berkutat memborbardir anak buah Damian.
" Matt?"
" Nyonya? Kenapa kau keluar?"
" Kau membawa senapan?"
" Ya, tapi untuk apa?"
" Bawakan aku satu" Perintah Tabitha tak terbantahkan seraya menatap tepat kearah depan dimana Regnarok membantu FBI yang berjibaku melawan pasukan Damian.
" Tapi boss akan marah"
" Kau mau kita semua mati konyol disini?!" Tanya Tabitha seraya berdecak.
" Tapi nyonya anda_"
" Kita tak punya waktu Matt, ambilkan aku senapan atau kita semua akan mati! Kau tak lihat pasukan Damian terus menerus datang"
Matthew menatap manik mata Tabitha mencari keraguan, namun yang ia dapatkan adalah keyakinan penuh dari istri boss nya itu. Matthew memikirkan keadaan Regnarok yang semakin mengkhawatirkan, apalagi pasukan Regnarok yang lain masih dibilang jauh dari area pulau ini. Akhirnya Matthew mengangguk pasti dan menatap Tabitha.
" Baiklah nyonya, seperti perintahmu" Matthew berucap formal yang dibalas anggukan yakin dari Tabitha.
Matthew berlari kearah helikopternya dengan sedikit bersembunyi takut ada peluru yang melesat menembus tubuhnya. Matthew membawa senapan Heckler & Koch HK416 yang kemampuan akurasinya tidak diragukan lagi. Senapan ini dapat melesatkan 900 peluru per menit dan memang senapan ini cukup mematikan jika dalam situasi seperti ini.
Matthew berlari dan memberikan senapan itu kepada Tabitha, wanita itu tersenyum miring ia melirik kearah Matthew.
" Kita berpencar, aku dari sini. Kau kanan dan Laura sebelah kiri. Tempatkan beberapa sniper lain diarah yang berhadapan denganku."
" Kau yakin dengan ini nyonya?"
" Apa perintahku seperti mainan Matt?"
" Tidak"
" Dan apa startegiku kau rasa tak benar?"
" Bukan hanya saja_"
" Jika kita terus bergerumbul disini, kita akan kesusahan. Dan bisa saja kita malah memperlambat kemenangan. Kita harus berpencar"
" Kurasa apa yang dikatakan oleh nyonya benar Matt" Kali ini Laura menimpali dengan keyakinan yang penuh pula.
" Lihatlah kesana" Laura menunjuk kearah satu helikopter yang baru saja mendarat di tepi pantai, dan Matthew tau itu adalah helikopter milik Damian.
" Jika kita bergerumbul kita akan memperlambat kemenangan, kita ikuti strategi dari nyonya" Ucap Laura tak terbantahkan.
" Baiklah, kita lakukan" Matthew mengangguk patuh, dan ia dengan sigap menempati posisi yang persis seperti yang diarahkan Tabitha.
Tabitha menghembuskan napasnya kasar, ia masih sedikit takut jika berhadapan dengan benda yang tak lagi ia pegang dari lima tahun yang lalu.
" Kau bisa Ta, ini demi keselamatan Leo dan orang-orang tak berdosa itu" Gumam Tabitha dan bersiap menarik pelatuknya dengan sasaran anak buah Damian.
Tabitha kembali memfokuskan matanya pada sasaran ia menarik pelatuknya dan hitungan detik peluru-peluru itu melesat dengan apik dari senapan Tabitha. Wanita itu memborbardir anak buah Damian tanpa ampun, ia menatap keatasnya yang dimana terdapat satu helikopter Damian yang bersiap mendarat tapi dengan cepat Tabitha menghujaninya dengan peluru hingga helikopter itu meledak diudara dan tenggelam di laut.
" Kurasa aku masih bisa menggunakannya" Tabitha yang tadinya merunduk kini menegakkan tubuhnya dan mulai memborbardir anak buah Damian dengan posisi berdiri.
Tabitha terus menembaki anak buah Damian hingga ia merasa peluru didalam senapannya mulai habis, wanita itu berdecak dan langsung memeriksa. Benar, peluru didalam senapannya habis, Tabitha langsung mengedarkan pandangannya kearah Matthew melambaikan tanganya pelan dan kode itu langsung dipahami Matthew. Tabitha menunjuk tempat senapannya yang kosong tanpa peluru Matthew mengangguk mengerti ia pun berlari kearah helikopter dan kembali mengambil sebuah senapan Holland & Holland Royal Deluxe.
Matthew berlari kearah Tabitha menyerahkan senapannya cepat dan menatap Tabitha.
" Aku tak tau kemampuanmu sehebat itu nyonya"
" Kau lupa aku istri boss mu?"
" Ya, tentu saja aku tak akan lupa. Dan ini adalah senapan favorite boss, ini senapan yang paling mahal"
" Aku tak butuh mahal atau tidak, yang aku butuhkan adalah senapan yang bisa membunuh musuh, hanya itu Matthew" Balas Tabitha pedas.
" Baiklah ini" Matthew sedikit mengerucutkan bibirnya kesal dengan jawaban Tabitha. Ternyata apa yang ia dengar dari Alexander benar, nyonya nya memiliki mood yang buruk. Kadang berkata lembut namun setelah itu ucapanya bagai petir disiang bolong.
" Kembalilah keposisimu"
" Baiklah"
Tabitha kembali bersiap menembakan peluru didalam senapan yang konon harganya paling mahal itu, dan memang benar jika diperhatikan senapanya sangat indah dihiasi dengan ukiran yang sangat detil dan Tabitha berdecak kesal.
" Seindah-indahnya senapan jika digunakan untuk membunuh tetap saja berbahaya!" Rutuk Tabitha.
Dor! Dor! Dor!
Matthew menekan sesuatu ditelinganya dan langsung terhubung dengan Laura.
" Bagaimanapun kita tetap mengawasi nyonya, jika terjadi sesuatu padanya aku yakin kepala kita akan dipenggal oleh boss tanpa kata"
" Aku tau, jadi fokus saja Matthew"
" Baiklah"
" Kurasa, kecerobohanmu tak berulah sekarang? Apa kau merasa tersisih melihat kehebatan nyonya kita?"
" Aku hanya sedikit kaget ternyata ia bisa menggunakan senjata" Ucap Matthew setelah memborbardir musuh dihadapannya dengan senapan CheyTac M200.
" Terlalu banyak masalah sampai kita tak sadar sehebat itu nyonya kita, jangan iri pada kemampuannya Matt, kurasa dia masih dibawah Brian" Laura menembaki musuhnya dengan revolver di genggamannya yang berjenis Smith & Wesson 500 Magnum.
" Ya, jika masalah Brian tidak diragukan lagi, urusan sniper dia yang paling handal diantara kita"
" Sudahlah, fokus Matthew" Sambungan terputus dan mereka pun kembali menghujani musuh dengan peluru dari senjata mereka masing- masing.
Tak disadari diambang pintu gedung seorang anak dengan mata bulat menyaksikan hal asing bagi dirinya selama menganal Mommy nya, Ya. Dia adalah Leonardo.
Anak itu terperanjat saat mendengar ledakan keras dari luar gedung, ia menggigit bibir bawahnya dan akhirnya memutuskan untuk mengintip dari balik pintu gedung. Terlihat diluar sana Mommy nya yang lembut kini terlihat sangat menakutkan. Mommy nya terlihat sangat hebat dan ia bangga melihat Mommy tercinta nya melindunginya. Leonardo tersenyum senang ia terus memperhatikan Tabitha.
Tabitha kembali merundukan tubuhnya dan tetap menghujani anak buah Damian dengan senapannya, namun tanpa disadari seseorang dari balik rerumputan tengah menjadikannya sasaran empuk, dan Tabitha sama sekali tak menyadari hal itu. Lain hal nya dengan mata kecil Leonardo yang terus memperhatikan seseorang dibalik rumput, ia tak bodoh dan ia paham orang itu tengah menjadikan Mommy nya sebagai sasaran.
Dan benar satu detik setelah itu pelatuknya ditarik, Leonardo berlari sekencang yang ia bisa berdiri menjadi tameng untuk Mommy nya.
" MOMMY!!" Bersamaan dengan teriakan Leonardo sebuah peluru sudah lepas dari sarangnya.
Dor!!
Tabitha melirikan matanya kesamping, tangan wanita itu melemah saat melihat punggung Leonardo yang telah merembaskan darah segar, dan tak lama tubuh kecil putranya ambruk. Tabitha dengan cepat melepas senapannya dan menumpukan kepala putranya pada pahanya.
" MATTHEW!! LAURA!!" Tabitha berteriak histeris dan matanya pun sudah tak lagi menahan airnya.
" Leo Mommy mohon jangan tutup matamu"
" M-Mommy hebat, Leo bangga" Ucapnya tersenggal-senggal.
" Leo, kau pemenang kan? Maka jangan tutup matamu. Uncle Matt akan membawamu kerumah sakit"
" Leo sayang Mommy" Lirihnya pelan bahkan suaranya terdengar sangat kecil.
" Ya Tuhan" Tabitha menempatkan kepala Leonardo diceruk lehernya wanita itu terus memeluk putranya, tentunya dengan tangisan yang semakin keras.
" Kita harus segera membawanya" Saran Laura cepat dan mengelus pelan bahu Tabitha menguatkan.
" Ya, ayo cepat!" Matthew dengam sigap membawa tubuh Leonardo yang sudah lunglai kearah helikopternya.
Tabitha masih terus memeluk putranya, ia sangat takut bahkan sedari tadi tangannya terus bergetar air matanya tak henti keluar dari kedua matanya, ia takut. Sangat takut, terjadi sesuatu pada putranya dan apa yang akan dia katakan pada Arthur.
🔫🔫🔫
Ditempat lain Arthur masih berusaha mengejar Damian dengan boat nya. Arthur menekan telunjuknya di telinga dan langsung tersambung dengan Brian.
" Brian!"
" Ya?"
" Bagaimana keadaan disana?"
" Kelompok Damian sedikit memimpin tapi lima menit lagi pasukan yang lain datang ditambah dengan anak buah Thomas, kurasa kita akan menang"
" Bagus, kau lihat keadaan Tabitha?"
" Aku tak terlalu memperhatikan mereka, tapi sepertinya semuanya baik. Bukanya itu tugas Matthew dan Laura?"
" Ya, baiklah sekarang susul aku. Aku akan berusaha menghentikan Damian"
" Dimana?"
" Laut, munuju kota"
" Baiklah Arthur, aku segera kesana"
" Baiklah"
Arthur melepaskan telunjuknya dan kembali fokus mengikuti yacht milik Damian. Tak lama tanpa diduga Arthur langsung dihujani oleh peluru yang dilesatkan dari yacht milik Damian, ia yakin musuh bebuyutannya itu telah menyadari bahwa sedari tadi sudah diikuti oleh Arthur.
Arthur melihat yacht itu berhenti dan semakin menghujani Arthur dengan peluru dan beberapa granat. Arthur langsung berpura-pura terkena tembakan dan menenggelamkan dirinya di laut.
Anak buah Damian mendekati Damian yang tengah menyesap vodka di dalam yacht.
" Sudah kau bereskan bedebah itu?" Tanya Damian dingin.
" Dia sudah tumbang dan jatuh ke laut"
" Kau yakin dia sudah mati?"
" Iya tuan"
" Bagus, sekarang jalankan lagi"
Yacht itu mulai kembali berjalan namun tidak diketahui oleh Damian sudah ada seseorang yang menyusup dari belakang yacht.
Arthur tersenyum penuh kemenangan, ia melirik kearah kanan dimana anak buah Damian tengah berdiri dengan mengangkat ponselnya. Arthur yang paham pun langsung mengeluarkan pisau lipatnya dan tanpa aba-aba pria itu langsung menusuk leher anak buah Damian dengan pisaunya, Arthur menahan tubuh anak buah Damian agar tak memancing keributan setelah itu ia melucuti pakaian anak buah Damian termasuk penutup wajah yang hanya menyisakan mata dan hidungnya.
Arthur dengan cepat berpenampilan layaknya anak buah Damian dan dengan cepat melempar tubuh itu kedalam laut. Dan hal itu menimbulkan suara yang agak besar dan benar saja beberapa anak buah Damian lainya mendekatinya.
" Ada apa?" Tanya nya menatap Arthur.
" Bukan apa-apa, ku kira itu musuh"
" Lalu?"
" Bukan apa-apa, lupakan saja"
" Ah, baiklah. Tuan menunggu kita di dalam"
" Baiklah" Arthur mengangguk patuh ia pun mengekori langkah kaki anak buah Damian dan yang pasti Arthur tengah menghitung anak buah Damian, semuanya ada dua belas. Ia harus memikirkan bagaimana cara mengenyahkan mereka tanpa sepengetahuan Damian.
" Arthur dengan cepat membekap pria didepannya dan langsung menusuk pria malang itu lalu menempatkannya di sebuah toilet yang baru saja ia lewati.
Arthur keluar dari toilet dengan tenang dan ada tiga orang mendatanginya.
" Dimana Felix?"
" Aku tak tau"
" Baiklah ayo kedalam" Ajaknya pada Arthur namun salah satu dari ketiga orang itu mencekal pergelangan tangan Arthur.
" Tunggu, kenapa kau tampak berbeda?"
" Apanya?"
" Kau berbeda, suaramu juga berubah"
" Kurasa kau salah" Ucap Arthur berusaha bersikap normal dan tanpa kata orang itu melepas penutup wajah Arthur.
" PENYUSUP!" Arthur langsung menusuk pria yang berteriak sementara tangan kananya membekap pria lain dan ia langsung melepaskan pria yang sudah ditusuknya lalu kembali menusuk pria kedua lalu ketiga. Semuanya berlangsung sangat cepat kurang dari lima menit Arthur berhasil membunuh ketiga orang sialan itu.
Arthur berjalan dan mendekati orang yang mati didepannya, menyimpan pisau lipatnya di saku celana dan meraih pistol dari tangan anak buah Damian yang sudah mati.
Arthur berjalan memasuki yacht dengan hati-hati, ia melihat ke kanan dan kiri tidak ada orang sama sekali namun tiba-tiba ada suara tembakan yang mendekatinya Arthur paham, bisa saja ia sudah ketahuan.
" KELUAR KAU!!" Arthur mengintip dari balik pintu dan ia melihat tujuh orang tengah berada ditengah yacht.
" Itu dia!!" Setelah seruan itu tempat Arthur langsung dihujani peluru. Dan Arthur dengan cepat melindungi diri tapi sedetik kemudian giliranya yang melepaskan peluru hal itu langsung membuat lawan-lawannya tumbang.
Arthur berjalan lagi lebih dalam hingga pintu yacht tertutup dengan sendirinya, ia yakin itu pasti dikontrol oleh seseorang dan benar saja tawa sumbang pun tak lama terdengar.
" Arthur? Kau kemari?"
" Hentikan semua ini Damian!"
" Kau pikir aku berhenti setelah aku sampai dipuncak kemenangan?"
" Damian_"
" Aku tak takut padamu!" Damian langsung menerjang Arthur dengan melayangkan satu bogeman di wajah pria itu. Sementara Arthur terkurung dibawah Damian.
Bugh! Bugh! Bugh!
Damian terus memukul Arthur namun dengan cepat Arthur membalik situasi dan langsung menyerang Damian, meninju wajah dan perutnya. Wajah mereka sudah dihiasi dengan darahnya masing-masing. Tapi Arthur masih tetap terlihat kuat.
" Kau bodoh!" Hina Arthur dan mencengkram erat Jas Damian menghentakkan tubuh pria itu ke dinding yacht dan kembali memukulnya.
" Kau yang bodoh!" Damian membalik posisi hingga Arthur lah yang terkurung di dinding dengan tinjuan Damian.
" Kau pantas mati!" Sedetik setelah itu Damian mengeluarkan pisaunya dan menusukkan nya tepat diperut Arthur.
Arthur meringis merasakan perih di perutnya namun ia malah tersenyum miring dan membalik posisi kemudian mencabut pisau lipat yang masih menancap diperutnya dan langsung menancapkanya ketubuh Damian.
__ADS_1
" KAU SUDAH BERANI MENYENTUH ANAK DAN ISTRIKU! AKAN KU BUAT KAU MENDERITA DAMIAN!!" Arthur memukul Damian yang sudah terlihat melemah karena kekurangan darah.
Arthur memberi jarak dan pria itu mengeluarkan granat dari ikat pinggang nya dan menempatkannya di tubuh Damian yang sudah melemah.
" Argh!" Arthur meringis ia menatap tanganya yang berlumur darah. Pria itu dengan cepat membuka jasnya merobeknya dan melilitkannya di perutnya yang tertusuk.
" Arthur! Kau pasti akan mati!"
" Kita akan lihat! Siapa yang akan mati!!" Arthur kembali mengangkat tubuh Damian dan ia meninju tubuh Damian dengan membabi buta, Arthur tak perduli jika Damian sudah sekarat ia sangat marah jika mengingat luka disudut bibir Tabitha.
Terdengar sesuatu dari telinganya. Arthur langsung menekan telingnya dengan telunjuknya dan langsung tersambung dengan Brian. Arthur mundur beberapa langkah dengan tetap menatap Damian yang tengah bersimpuh dibawahnya menahan sakit.
" Arthur! Kau mengaktifkan granatnya?"
" Apa?"
" Kau aktifkan granat dari Thomas?"
" Ya, kurasa" Arthur mengingat ia memang mengaktifkan granat sebelum meninju habis wajah Damian sampai tak berbentuk.
" Keluar sekarang juga!"
" Apa maksudmu?"
" Sial! Granat itu dimodifikasi dan dilakukan uji coba gila!"
" Apa maksudmu Brian!!" Hentak Arthur kuat seraya menekan luka diperutnya.
" Granat itu akan meledak semenit setelah diaktifkan"
" Apa!"
" Sial! Keluar SEKARANG! WAKTUMU LIMA BELAS DETIK LAGI!!" Brian berteriak kencang memang granat itu sudah dimodifikasi oleh Thomas dan perkembangannya bisa dipantau oleh satu jaringan dan Brian pun mengikuti perkembanganya jadi ia bisa tau Arthur mengaktifkan granat itu atau tidak.
" Apa!!" Arthur menggeram tertahan ia sedikit tertatih keluar dari yacht namun kakinya dicekal oleh Damian.
" K-kita akan mati bersama!"
" Aku tak sudi!" Arthur dengan cepat menendang wajah Damian dan ia pun kembali menjalankan kakinya.
ENAM
LIMA
EMPAT
TIGA
Arthur langsung melompat kelaut dan tak lama.
Boom!!
Ledakkan besar tak terelakan sampai menyebabkan Arthur kehilangan kesadaranya, pria itu masih berusaha menjaga kesadaranya namun akhirnya ia benar-benar menutup matanya.
🔫🔫🔫
Arthur membuka matanya perlahan saat cahaya menyilaukan matanya, pria itu berusaha bangkit namun suara lembut yang ia rindukan terdengar lembut ditelinganya.
" Jangan dulu, tetaplah berbaring" Tabitha lalu kembali membaringkan tubuh Arthur.
" Bagaimana kabarmu?" Tanya Arthur pelan.
" Aku yag seharusnya menanyakan itu, kau baik kan?"
" Aku baik, jika kau baik" Ucap Arthur membelai perlahan pipi Tabitha.
" Aku ingin duduk" Ucapnya lagi namun kali ini langsung dibalas gelengan keras dari Tabitha.
" Jangan berbaringlah dulu" Tabitha kali ini membelai pelan surai Arthur mengecup singkat dahinya.
" Dimana Leo?" Deg! Tabitha langsung membeku mendapat pertanyaan itu dari Arthur, ia menatap manik mata Arthur dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
" Kenapa kau menangis?" Tanya Arthur yang melihat perubahan wajah Tabitha.
" Leo..."
" Ya, Leo dimana? Dia baik kan?"
" Dia ter-tembak" Tabitha berucap dengan terbata-bata sementara air matanya kembali menurun.
Arthur yang mendengar ucapan Tabitha langsung bangkit dari baringannya, ia tak perduli dengan luka tusuk ataupun lebam di wajahnya. Hatinya serasa dihantam batu besar saat mendengar kabar Leo, ia takut sangat takut. Kejadian itu terulang!
Arthur tanpa kata melepas infus yang tertancap di tanganya dan ia dengan kaki yang tegap sudah berdiri, pria itu seakan sehat dan tak sakit sama sekali padahal Ryan bilang tusukan diperutnya cukup dalam.
" Dimana dia sekarang?" Tanya Arthur dingin.
" A-Arthur ini salahku, maafkan aku" Tabitha hendak berlutut namun dengan cepat Arthur menariknya dalam dekapan pria itu.
" Sst, katakan dimana putra kita?"
" Dia di sebelah ruanganmu"
" Kita lihat"
Arthur menarik perlahan tangan kanan Tabitha memasuki ruangan Leo, terlihat putra kecilnya dipenuhi dengan selang-selang medis disamping kanan dan kirinya.
" Arthur..." Tabitha melirih saat melihat tatapan nanar yang diberikan Arthur untuk Leo.
" Bagaimana bisa terjadi?"
" Dia menyelamatkanku" Tabitha mendudukan tubuhnya disofa lalu menumpahkan tangisan yang selama ini ia pendam.
" Maksudmu?" Tanya Arthur seraya mengerutkan keningnya.
" Aku yang sebenarnya menjadi sasaran. Aku turun untuk membantu Matthew dan Regnarok tapi orang itu mengincarku"
" Lalu?"
" Leo datang dan menjadikannya sasaran" Tabitha kembali meraung dengan tangisanya. Arthur langsung mendekap erat tubuh lemah Tabitha, Arthur tau ia tak bisa menyalahkan Tabitha karena tak ada satu pun ibu yang berniat membahayakan anaknya.
" Sst, kau tak salah"
" Tapi jika aku tak datang dan membantu Matthew ini tak akan terjadi"
" Semua sudah berlalu"
" Arthur, aku takut terjadi sesuatu dengan Leo" Ucapnya menatap Arthur dalam
" Tak akan terjadi apapun"
Mereka kembali berpelukan, Arthur terus mencium sang istri, percayalah jika boleh ia menangis. Ia akan menangis melihat keadaan putra kecilnya yang sedang berjuang hidup dan mati dibrangkar itu. Namun ia paham jika ia harus kuat untuk menguatkan Tabitha.
🔫🔫🔫
Lima hari setelah kejadian itu Leonardo belum juga sadarkan diri, Tabitha masih menggenggam tangan putra kecilnya mencium sayang dan kemudian membelai pelan pipi Leonardo.
" Bangunlah, apa kau tak rindu pada Mommy? Apa kau tak mau mendengar Daddy bercerita setiap malam?"
" Ku mohon nak, bangunlah Mommy siap menggantikanmu" Tabitha semakin terisak.
Arthur diam-diam mengintip dari pintu dan ia memutuskan mendekati Tabitha dengan Fiorella digendongan Madam Rose.
" Ta?"
" Arthur"
Tabitha langsung menghambur kepelukan Arthur menumpahkan tangisanya didada bidang suaminya. Tak lama dari ambang pintu terlihat ketiga sahabatnya, Madam Rose dengan putrinya Fio, kedua orang tuanya, Alexander, Matthew, Laura dan juga Brian
" Mereka datang?"
" Ingin menjenguk Leo" Arthur memeluk Tabitha erat.
" M-mom, D-dad" Tabitha dan Arthur langsung menolehkan kepalannya kearah Leo, anak itu sudah membuka matanya. Tabitha langsung menciumi gurat wajah putranya memeluknya hal yang sama pun dilakukan Arthur.
" Daddy? Mommy?"
" Ya honey?" Tanya Tabitha lembut.
Tak lama orang-orang yang diluar pun ikut masuk.
" Leo?" Ucao mereka satu persatu.
" Grandma, Grandpa? Uncle dan Aunty juga ada disini? Reo mana?" Anak itu mulai cerewet.
" Reo menunggu Leo pulang. Oleh karena itu Leo cepat sembuh" Ucap Diana tersenyum.
" Iya, Reo menunggu Leo pulang" Timpal Brian pelan.
Arthur memeluk Tabitha dari samping. Ia tersenyum hangat akhirnya mata putranya kembali terbuka. Bahkan ia sudah menunjukkan sifatnya.
" Aku lega Arthur" Bisik Tabitha.
" Ya, aku juga. Akhirnya dia sadar"
" Ya, dan aku tenang musuhmu telah mati" Ucap Tabitha pedas.
" Daddy?"
" Ya, boy?"
" Kodenya?" Ucap anak itu menaik turunkan alisnya.
" Oke, who are you?"
" I'm Leo like Ekter, and im the winner" Ucapnya bangga dan Tabitha dengan gemas menciumi wajah putranya.
Tabitha kemudian memeluk Arthur, pria itu membalasnya, mereka saling berpelukan erat, Tabitha mencium singkat pipi Arthur.
" Tata cinta banget sama Om Arthur"
" Saya juga cinta sama kamu" Ungkap pria itu gamblang dan memungut Tabitha tanpa malu, dan jangan lupakan anak mereka yang tengah menutup matanya.
" Kau sudah mewarnai kehidupanku yang gelap dengan duniamu, kau menghadirkan dua malaikat kecil untukku, dan aku tak tau harus membalasmu bagaimana" Ungkap Arthur lagi dengan bersungguh-sungguh.
" Cukup cintai aku sepanjang hidupmu, maka itu sudah cukup" Tabitha tersenyum bahagia, ia tak menyangka kesalahannya dengan mendatangi kantor Daddy nya waktu itu mempertemukannya dengan pria dingin tak tersentuh seperti Arthur yang hidup dengan seribu rahasia didalamnya. Dan ia bahagia karena tak menyesal dengan kesalahanya waktu itu. Ia akan selalu mencintai Arthur selamanya, sepanjang hidupnya dan ini bukan akhir, ini adalah awal yang baru. Mereka akan menuliskan kisah lain dihalaman yang baru dibagian lain kehidupanya.
The End.
Note: Makasih banyak untuk orang-orang yang selama ini dukung author dalam berkarya, akhirnya cerita ini bisa author tamatin. Author sangat-sangat berterimakasih pada readers yang sudah mengikuti dari awal...
Part ini panjang banget sampe 4470 kata, semoga puas dengan endingnya.
Arthur De Lavega
Tabitha De Lavega
Artha Leonardo De Lavega
Fiorella De Lavega
Brian Aldhiano
Fransisca Diana
Fitry Caroline
Clark Adderson
Amelia Callista
__ADS_1
Dr. Ryander Collins