MY HUSBAND CEO IS MAFIA

MY HUSBAND CEO IS MAFIA
MHM 4.4: THE KING


__ADS_3

Arthur terbangun dari tidurnya, pria itu melirik kearah sang istrinya yang masih tertidur pulas disampingnya, Arthur mengulurkan tangannya untuk membelai lembut wajah wanita yang dicintainya, ia mengecup pelan pelipis Tabitha, lalu beralih mengecup perut Tabitha yang sudah menggunung.


" Daddy akan pergi, jaga mommy mu" ucap Arthur dengan suara kecil dan membelai pelan disana.


Arthur menyingkap selimutnya, ia langsung memasuki kamar mandi dan bersiap. Setelah selesai ia memakai jaket kulit hitam beserta celana kain hitam miliknya, Arthur keluar dari walk in closet dan mengambil kertas note diatas nakas.


"Maaf aku tak pamit padamu, aku tak tega membangunkanmu. Aku tak tau kapan aku pulang, tapi aku akan berusaha tetap menghubungimu.


Ingat, jangan keluar tanpa penjagaan dari bodyguard.


Aku mencintaimu..."


-Arthur-


Arthur melirik kearah Tabitha yang masih menutup matanya, pria itu menyelipkan note nya dibawah gelas air putih. Arthur mencium kening sang istri lembut, Tabitha sedikit menggeliat. Arthur langsung menenangkannya bak menenangkan bayi kecil, dan ternyata berhasil. Tabitha kembali tertidur.


  Arthur keluar dari kamarnya, dihalaman mansion sudah berkumpul Brian, Alexander dan Matthew. Brian segera memasuki jet pribadi milik Arthur, mereka pun memasuki jet itu dan tak lama jet itu pun mengudara.


Didalam jet itu hanya ada keheningan diantara Arthur, Brian, Alexander dan juga Matthew hingga akhirnya Brian memecah keheningan.


" Arthur, kita sudah mengetahui The King berada di Vegas. Tapi Vegas luas Arthur, kita lupa menanyakannya dengan jelas pada Layla"


" Aku sudah berbicara pada salah satu orang kita di Vegas, dan ternyata mereka melihat Layla 3 hari yang lalu disebuah gedung yang diberhentikan pembangunannya." Jelas Alexander.


Arthur hanya diam sambil memainkan jarinya di atas meja. Tanpa kata pria dengan dagu terbelah itu meraih sebuah ponsel dari dalam jaket kulitnya.


" Ini ponsel Layla, dan ada nomer The King disana kita tak bisa menghubunginya tanpa persiapan."


" Maksudmu?"


" Jika kita menghubungi The King, kita harus menemuinya dengan begitu kita bisa menangkapnya"


" Tapi bagaimana Arthur?" tanya Brian pada Arthur yang hanya memberikan tatapan datarnya.


" Layla sudah mati, tapi kita bisa meniru wajahnya"


" Aku tak mengerti"


" Matthew jelaskan"


Matthew mengganggukan kepalanya mengerti, ia pun membuka laptop miliknya dan membeberkan pekerjaanya.


" Ini adalah wajah Layla, boss memintaku untuk membuat topeng yang persis dengan wajah Layla sama seperti saat Boss pergi ke Italy untuk menjalankan misi"


" Tapi jika memang begitu siapa yang akan menemuinya? Tak mungkin kan kita berempat yang menemuinya?"


" Laura" ucap Arthur tenang dengan menyesap vodka ditangan kanan nya.


" Laura? Tapi rambutnya hitam sedangkan Layla coklat Arthur"


" Urusan rambut dan penampilan aku yakin Laura bisa mengurusnya"


" Lalu jika semua sudah terjadi?"


" Kita yang akan bergerak"


Brian hanya menganggukan kepalanya, ia mulai mengerti maksud dari boss nya itu.


Setelah beberapa jam akhirnya mereka pun sampai di Vegas, Arthur menuruni jet pribadinya dan langsung disambut sebuah mobil Lamborghini hitam. Arthur hanya memberi senyum kecil pada anak buahnya dan mereka berempat pun memasuki mobil itu dengan Alexander yang menyetir.


" Apa pasukan dan Laura sudah sampai?"


" Mereka sudah sampai dihotel"


" Bagus"


Tak lama mereka pun sampai didepan hotel yang dimaksud, hotel itu terlihat bukan hotel bintang lima. Arthur memang memilih hotel itu yang Arthur kenali pemiliknya. Saat mobil berhenti pintu mobil pun segera dibuka oleh staf hotel, Arthur melepas jaketnya dan menitipkannya pada Matthew.


" Dimana Thomas?" Tanya Arthur pada staf itu.


" Tuan sudah menunggu anda di lobby"


" Oke" jawab Brian.


Arthur tanpa kata melenggang pergi dari sana dan memasuki lobby dengan Brian, Alexander dan Matthew mengekori langkah kaki Arthur.


Arthur berdiri dihadapan Thomas dan mengulurkan tangannya langsung disambut oleh Thomas.


" Arthur akhirnya kau mau datang kehotelku ini"


" Aku ada urusan penting disini, jadi aku butuh bantuanmu"


" Katakan apa Arthur?"


" Aku menginginkan tempat rahasia dari sini"


" Hanya itu?"


" Aku tau kau memilikinya Thomas"


" Ya, karena kau dan aku yang membangunnya Arthur"


" Kau mengingatnya?"


" Bagaimana mungkin aku melupakannya"


Thomas tertawa sedangkan Arthur hanya menampilkan senyum kecil dibibirnya. Thomas menggiring Arthur ke sebuah tangga bawah tanah. Sedangkan ketiga orang dibelakang Arthur hanya saling pandang tak mengerti.


Thomas membuka sebuah pintu dengan menggunakan kode di samping pintunya dan terlihatlah sebuah ruangan dengan berbagai senjata dan alat peledak.


" Kau bisa gunakan ruangan ini Arthur"


" Thanks "


" Aku harus pergi"


" Ya, sekali lagi terimakasih"


" Jika kau butuh sesuatu lagi kau bisa memanggilku, kode nya juga kau tau kan Arthur?"


" Sure"


Thomas keluar dari ruangan gelap itu, Arthur membuka saklar listrik dan sebuah lampu besar ditengah-tengah ruangan itu menerangi tempat itu.


" Bagaimana bisa seorang pemilik hotel kecil bisa memiliki ruangan senjata sebesar ini Arthur?" Tanya Brian.


Arthur duduk dan menghidupkan cerutunya.


" Dia adalah penyelundup senjata ulung di Vegas, dan aku membantunya. Hotel ini hanya kamuflasenya."


" WHAT!"


" Matthew keluarkan lapotopmu dan mulailah membuat topeng Layla"


" Baik"


Matthew mengeluarkan laptop dan alat-alatnya, ia langsung mengerjakan pekerjaannya sedangkan Alexander dan Brian hanya saling pandang mereka tak tau apa yang akan mereka lakukan.


Tak lama pintu terbuka menampilkan Laura disana.


" Boss"


" Duduklah Laura"


Laura menuruti perintah Arthur ia duduk berhadapan dengan Arthur.


" Kau akan menemui The King"


" Aku? Tapi bagaimana bisa?"


" Kau akan menggunakan topeng wajah Layla"


" Lalu?"


" Kau akan menyamar sebagai Layla kau akan menggunakan earphone yang tersambung denganku. Jika kau benar-benar sudah menemui The King aku akan bergerak mengepungnya"


" Baiklah"


" Dan satu lagi Laura, Layla memiliki rambut coklat, kau bisa mensiasatinya bukan?"


" Tentu boss"


" Baiklah, Matthew aktifkan pemancar"


" Baik"

__ADS_1


Topeng yang akan digunakan Layla sudah rampung dikerjakan, sekarang Matthew mengaktifkan pemancar sesuai perintah Arthur.


" Kau gunakan ponsel ini dan bicaralah pada The King"


" Tapi suaraku dan Layla berbeda boss"


" Matthew bisa melakukanya"


Laura melirik kearah Matthew dan pria itu pun mengganggukan kepalanya.


Layla meraih ponsel ditangan Arthur, ia pun menekan nomer The King tak lama suara seseorang pun terdengar.


" Layla, akhirnya aku bisa berbicara denganmu"


" Ya, maaf terlambat menghubungimu"


" It's okey, sekarang kau dimana?"


Arthur mengucap Bandara tanpa ada suara dan Laura pun mengerti.


" Bandara"


" Baiklah, akan ada yang menjemputmu"


" Baik"


Sambungan telepon terputus, Arthur mengeluarkan smirk nya.


" Kenapa kau mengatakan Laura berada di bandara Arthur?" Tanya Brian.


" Jika kita bicara Laura berada disini, aku yakin The King akan mengepung tempat ini dan jika kita bilang Bandara, mereka yang akan menuntun kita untuk bertemu The King"


" Oke aku mengerti"


" Laura siapkan dirimu"


" Baik" Laura menganggukan kepalanya dan mulai bersiap.


" Alexander, periksa pasukan"


" Baik"


" Matthew, kurasa kau harus menggunakan keahlianmu yang lain untuk kali ini"


" Tentu boss"


Matthew tersenyum, akhirnya Arthur membiarkannya untuk turun tangan. Keahliannya bukan hanya sebagai seorang hacker ia adalah seorang sniper yang cukup handal namun memang sedikit ceroboh.


" Brian kau ikut aku"


" Oke"


Brian mengikuti Arthur, mereka menyiapkan berbagai senjata. Arthur menyelipkan pistol disepatunya yang bisa menyimpan sebuah pistol dan pisau lipat.


" Kau akan menggunakan apa?" Tanya Brian serius.


" Apapun yang berguna"


Arthur mengambil dua granat dan memasangkannya diikat pinggangnya.


" Kau?"


" Aku gunakan senapan dan pisau lipat"


" Oke"


Arthur menyiapkan banyak peluru disaku celananya. Ia hanya tersenyum kecil.


" Kurasa aku butuh granat"


" Ambilah"


" Tapi ini milik Thomas, Arthur"


" Kau bisa mengambil apapun dari sini. Ini juga milikku"


" Maksudmu?"


" Sebagian senjata disini adalah milikku"


" Kau yakin?"


Brian mendegus, ia pun mengambil dua granat dan menyimpannya di ikat pinggang.


Arthur dan Brian berbalik melihat kearah Matthew.


" Dimana jaketku?"


" Ini" Matthew memberi Jaket kulit milik Arthur. Arthur pun langsung memakainya.


" Kau siap Matt?"


" Selalu boss"


Arthur memberikan Brian, dan Matthew earphone ia pun memasangkannya ditelinganya.


" Dengar, kita akan berkomunikasi lewat earphone jadi pastikan earphone itu tetap terpasang ditelinga kalian"


" Baik" ucap Brian dan Matthew bersamaan.


Tak lama terdengar suara dari earphone milik Arthur.


" Ya"


" Aku sudah sampai, sebuah gedung yang dihentikan pembangunannya disebuah pulau kecil dekat kota"


" Oke"


Arthur langsung mematikan earphone nya, ia segera mengambil langkah lebar dan kembali memasuki mobil.


" Hubungi Alexander"


" Baik" Brian segera menghubungi Alexander.


" Ya?"


" Bagaimana pasukan?"


" Semua sudah siap, kita sedang dijalan menuju tempat yang Laura sampaikan"


" Bagus"


Brian kembali menolehkan kepalanya kebelakang mobil dimana Arthur duduk dengan tenang.


" Mereka sedang dijalan"


Arthur tak menjawab, ia hanya terdiam memikirkan apa yang akan terjadi.


Arthur rombongannya keluar dari mobil dan kembali memasuki jet milik Arthur, Setelah beberapa menit berada didalam jet dan perjalanan mereka pun berakhir.


Setelah mereka sampai di gedung itu, Arthur segera menenteng pistol kesayanganya, yaitu Desert Eagle. Pun dengan Brian yang menenteng senapan Heckler & Koch HK416. Sedangkan Matthew dia membawa senapan FN FAL ditangannya. Mereka berjalan memasuki gedung itu.


Tak lama earphone Arthur tersambung dengan Laura.


" Aku sudah menemukanya, dia tepat ditengah gedung Arthur"


" Oke"


Sambungan mati, Arthur segera memasuki gedung itu hingga Matthew menimbulkan suara karena menjatuhkan beberapa balok kayu. Arthur berdecak akibat kebodohan anak buahnya itu.


Benar saja, tak lama orang-orang menggunakan pakaian serba hitam datang dari arah kiri, Brian segera memborbardir mereka dengan peluru. Hal itu menimbulkan keributan dipenjuru gedung akhirnya dari arah kanan pun muncul musuh. Matthew pun melepas pelurunya.


Keadaan semakin panas, dan Arthur tau semakin lama anak buah The King semakin banyak ia pun dengan cepat melempar granat kesebelah kiri dan terdengarlah bunyi ledakan yang cukup membekakan telinga. Hal itu membuat beberapa anak buah The King bertambah, Arthur berdecak ia mengarahkan satu pistol kekanan dan pistol lainnya di kiri dan ia pun melepas pelurunya hal yang sama pun dilakukan oleh Brian dan Matthew.


Setelah dirasa sudah sedikit mereda, mereka bertiga memasuki gedung sedangkan diluar gedung sudah diramaikan dengan suara tembakan pertempuran antara Regnarok dan anak buah The King.


Saat mereka sampai ditengah gedung, mereka berjalan dan bersembunyi dibalik tembok disana. Arthur mengintip ditengah gedung dan terlihat Laura terikat disana. Arthur melebarkan matanya ia kaget saat melihat Laura tertangkap, Arthur segera menghubungi Alexander.


" Bagaimana keadaan di luar"


" Kami cukup unggul boss"


" Bagus"


" Arthur bagaimana?" Tanya Brian mulai serius.

__ADS_1


" Laura tertangkap boss"


" Arthur jawab!" Desis Brian sebab Arthur hanya diam.


" SHUT UP!" Teriak Arthur tertahan.


Dor! Dor! Dor!


Mereka bertiga sedikit tersentak saat mendengar suara tembakan yang tampaknya diarahkan keatas oleh si pelaku. Arthur mengintip dan terlihatlah seorang pria dengan topeng wajah yang hanya menutupi sebelah mata dan setengah wajahnya saja.


" ARTHUR DE LAVEGA! AKU TAU KAU ADA DISINI!!" Teriak pria itu menggema dipenjuru gedung.


" KELUARLAH ATAU ANAK BUAHMU AKAN MATI!"


Arthur tetap diam namun dahinya mengkerut menandakan ia sedang berpikir.


" Arthur kita harus keluar, kita harus selamatkan Laura" saran Brian.


" Tapi bagaimana jika kita tertangkap?" Tanya Matthew.


" Kita akan keluar" ucap Brian tertahan, bagaimanapun Brian paling solid diantara mereka ia tak bisa jika salah satu diantara mereka sedang dalan bahaya dan ia membiarkannya.


" ARTHUR! AKU HITUNG SAMPAI TIGA JIKA KAU TAK KELUAR AKU AKAN MELESATKAN PELURUKU TEPAT DIOTAK WANITA INI!!"


" SATU..."


" DUA..."


Arhur berdecak dan ia pun menghela napasnya kasar.


" AKU DISINI" Arthur menampakkan dirinya begitupun dengan Brian dan Matthew.


" Hahaha, akhirnya kau keluar Arthur"


" Kau pergilah dan selamatkan pasukan, begabunglah dengan Alexander" bisik Arthur pada Matthew.


Matthew langsung berlari keluar dari gedung dan mulai membantu Alexander. Arthur membuang Matthew karena ia takut hacker nya itu akan mengacaukan keadaan LAGI!


Tinggalah Arthur, Brian, The King dan Laura yang terikat diantara mereka.


" Siapa kau!" Tanya Arthur dengan nada kejamnya.


" Kau yakin tak mengenalku?"


" JAWAB SAJA!"


" Calm down" balas The King dengan terkekeh.


The King membuka topeng wajahnya. Saat topeng itu benar-benar terlepas, Arthur membeku ditempatnya. Wajah itu, wajah itu adalah wajah yang pernah ada dan muncul saat umurnya 16 tahun. Wajah yang selama ini Arthur doakan untuk tidak pernah lagi menampakkan diri dihadapannya kini berdiri tepat didepan mata Arthur.


Arthur menelan salivanya, ia berharap ini adalah khayalannya saja tapi tetap pria itu berdiri dengan senyum miring di bibirnya. Brian yang melihat perubahan wajah Arthur menggerakkan sedikit lengan Arthur.


" Kau!" Desis Arthur tertahan.


" Ya! Kau ingat aku Arthur?"


" Arthur, kau mengenalnya? Siapa dia?" Tanya Brian.


The King berjalan mendekati Arthur, ia menyilangkan tanganya didepan dada.


" Kau tidak mengenalku?"


Brian mengalihkan pandangan nya dari Arthur kesumber suara yaitu The King.


" Siapa kau?" Tanya Brian, sedangkan Arthur masih berada dalam lamunannya.


" Baik, rupanya kau memang tidak mengenalku. Jadi akan kuperkenalkan diriku"


The King semakin mendekati Arthur dan Brian, pria itu hanya berjarak satu meter dari Brian dan Arthur.


" Aku Dominic De Lavega"


" De Lavega?"


" Ya, aku adalah adik dari seorang Arthur De Lavega"


Arthur mengepalkan tangannya sempurna saat mendengar Dominic berkata itu. Ya, The King adalah Dominic yang ternyata adalah adik Arthur.


" Aku tau Arthur selama ini kau berusaha mencari ku dan membunuhku oleh karena itu aku menyamar sebagai The King dan berpindah dari satu tempat ketempat lain"


" Arthur, apa benar dia adikmu?" Tanya Brian.


" Kau harus memberitahu asistenmu Kak" ucap Dominic dengan menekan kata 'Kak' diujung kalimatnya.


" Jawab aku Arthur!"


" Jawab lah Kak Arthur! Kurasa aku menyukai pangggilan itu, aku akan memanggilmu dengan sebutan kakak" desis Dominic.


Arthur langsung menyerang Dominic dan menghadiahinya bogeman mentah di pipi dan menaikkan satu kakinya hingga mengenai perut Dominic.


" JANGAN PERNAH KAU SEBUT AKU SEBAGAI KAKAKMU!!" teriak Arthur berapi-api.


" KAU BUKAN ADIKKU!!" Arthur memukuli Dominic dan melemparkan tubuh itu kedinding dan kembali memukul Dominic yang sudah mengeluarkan darah segar dari mulut dan hidungnya.


Brian segera memisahkan Arthur yang memukul Dominic tanpa henti. Namun tenaga nya tidak sebanding dengan Arthur dan Dominic yang semakin kuat, sepertinya keluarga De Lavega memang keluarga dengan kekuatan yang gila! Batin Brian.


" M-mau tidak mau, ikhlas tidak ikhlas kau tetap kakakku Arthur!"


Arthur kembali hendak memberi satu pukulan lagi namun tangannya segera ditahan Brian.


" Apa yang sebenarnya terjadi Arthur? Kenapa aku baru tau kau memiliki seorang adik?"


" DIA BUKAN ADIKKU BRIAN!! DIA ADALAH ANAK HARAM DARI DADDY KU DAN JALANGNYA!!"


Brian melebarkan matanya mendengar teriakan Arthur sementara itu Dominic yang mendengar nama ibunya dijelekkan langsung memberi bogeman pada Arthur dan mencengkram erat jaket kulit yang dipakai oleh Arthur.


" NYATANYA AYAH KITA SAMA WALAUPUN KITA LAHIR DARI DUA RAHIM YANG BERBEDA! AKU TAU KAU MEMBENCI AKU DAN IBU KU TAPI SUDAH CUKUP KAU MENGHINA IBUKU"  teriak Dominic memukul Arthur membabi buta.


Arthur menahan tangan Dominic yang hendak memukulnya, pria itu dengan sigap membalik pukulannya hingga Dominic meringis kesakitan.


" IBUMU YANG BODOH ITU MELENYAPKAN MOM DAN DAD KU!!"


Arthur kembali melayangkan tinjuannya ke wajah Dominic yang sebagian sudah memar.


Brian tak ingin masalah semakin panjang, ia pun langsung membebaskan Laura meminta wanita itu keluar dari dalam gedung. Setelah Laura keluar Brian berusaha memisahkan Arthur dan Dominic tenaga mereka cukup kuat hingga Brian menyerah dan membiarkan sahabatnya menyelesaikan masalahnya sendiri, toh ternyata ini adalah urusan keluarga bukan?


" KAU JUGA MELENYAPKAN PAMAN DAN IBUKU SIALAN!!" Dominic menjatuhkan tubuh Arthur dan mendudukinya ia langsung memukuli Arthur.


Arthur seakan tidak merasa sakit, pria itu justru tersenyum senang, memang benar ia yang membunuh ibu Dominic dan pamannya karena mereka lah yang membunuh orang tua Arthur. Jadi wajarkan jika hutang nyawa dibalas dengan nyawa? Batin Arthur.


Arthur membalik posisi dan akhirnya ia pun memukuli Dominic dengan tenaga yang besar hingga Dominic kewalahan dan mulai melemah.


Setelah puas memukuli adik haramnya, Arthur bangkit dan hendak membalikkan tubuhnya namun suara Dominic menghentikan pergerakannya.


" A-Arthur! Kau tidak bisa pergi dari sini sebelum menyerahkan kekuasaan Regnarok padaku!"


Arthur tak bergeming ia tetap melanjutkan jalannya tanpa memperdulikan ucapan Dominic.


" Arthur berhenti! Jika tidak kau akan melihat seseorang mati dihadapanmu!!"


" I don't care!!"


" Oke!"


" BAWA DIA!!" Lanjut Dominic dengan teriakan tegasnya.


Tak lama seseorang terlihat menarik paksa orang lain dan berdiri di atas tangga.


" Arthur balikkan badanmu! Jika tidak kau akan menyesal!"


Brian yang mulai termakan ancaman Dominic pun membalikkan tubuhnya, ia membeku ditempat saat melihat seseorang yang dimaksud Dominic. Brian memutar paksa tubuh Arthur. Seketika Arthur melihat seseorang itu, ia langsung membatu, lidahnya keluh ia tak bisa berpikir jernih. Dadanya bergemuruh ia takut saat melihat wajah tak bersalah itu, wajah yang begitu ia cintai.


" Tabitha" lirih Arthur.


To Be Continue...


*Vote Pleas**e*



Tabitha De Lavega



Dominic De Lavega

__ADS_1



Arthur De Lavega


__ADS_2