MY HUSBAND CEO IS MAFIA

MY HUSBAND CEO IS MAFIA
MHM 5.0: BACK


__ADS_3

Setelah jet mendarat tepat di pekarangan mansion, Arthur segera menuntun perlahan tubuh sang istri menuruni tangga jet nya, hal yang sama pun dilakukan oleh Jonathan pada Renata.


Tabitha menyunggingkan senyum dibibirnya seraya mendekap Artha dalam pelukannya. Tabitha dan Arthur berjalan didepan sedangkan Jonathan dan Renata serta Brian dan Alexander berjalan dibelakang.


Mereka disambut oleh bodyguard yang berbaris rapih disamping kanan dan kiri pelataran menuju pintu utama, Tabitha agak bingung sebab bodyguard yang biasanya hanya menampakkan wajah serius kini terlihat mengulas senyum hangat menyambutnya.


" Mansion ini seperti kerajaan" bisik Renata.


" Dia seorang milyader jika kau lupa"


" Tentu aku tak melupakanya"


" Dad, Mom sudah jangan bicara lagi" peringat Tabitha, wanita itu sedikit kesal karena orang tuanya seperti mengagung- agungkan suaminya.


" Hei, kau dengar kami?"


" Terdengar lebih tepatnya mom" balas Tabitha sedikit cuek.


" Pendengarannya sangat tajam" bisik Jonathan.


Arthur sebenarnya mendengar setiap bisikan yang keluar dari mulut sang mertua, ia hanya menampilkan wajah datar seakan tuli dan tak perduli dengan keadaan.


Bodyguard itu menundukkan tubuhnya kala Arthur dan Tabitha melewatinya, mereka turut bahagia menyambut tuan muda nya.


Salah satu bodyguard milik Arthur membuka pintu mansion dan tiba-tiba.


" SURPRISE!!" Teriak Diana kencang.


Tabitha sedikit tersentak dengan teriakan Diana, reflek ia sedikit mendekap erat Artha takut bayi itu terbangun dari tidurnya. Dan benar saja bayi mungil itu menggeliat pelan di dalam dekapannya.


" Diana" peringat Tabitha dan sahabatnya itu hanya tersenyum dengan tatapan memohon maaf.


" Arthur" Ucap Madam Rose mendekati Arthur dan memeluk putra angkatnya sayang.


" Madam"


" Selamat nak" Arthur hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban, mata tua madam Rose beralih menatap Tabitha dan bayi dalam gendongannya.


" Cucuku" madam Rose lantas segera melihat bayi mungil yang sedang tertidur.


" Kau baik nak?" Tanya Madam Rose menatap Tabitha dengan tatapan khawatir.


" Aku baik Madam, ini semua berkat do'a kalian"


" Syukurlah" Madam Rose sedikit mengintip seorang pria dan wanita yang berada dibelakang tubuh besar Arthur.


" Arthur mereka siapa?"


Arthur mengesampingkan tubuhnya dan menatap mertuanya.


" Ini Jonathan dan Renata Smith, mereka orang tua Tabitha"


" Oh hai, maaf aku tak mengenali kalian" ucap Madam Rose memohon maaf.


" Tak apa, lagi pula wajar anda tak mengenal kami. Kami baru pertama kali kesini"


" Dad, ini ibu asuhku. Madam Rose" ucap Arthur memperkenalkan madam Rose.


" Senang bertemu denganmu" ujar Renata mengulurkan tangannya dan disambut hangat oleh Madam Rose dengan senyum yang terulas dibibirnya.


" Senang juga bertemu kalian, semoga kalian senang tinggal disini" ujar Madam Rose tulus.


" Tentu"


" Diana, udah lama disini?" Tanya Tabitha lembut dengan melangkahkan kakinya memasuki mansion.


" Sebenernya sih udah dari kemaren sejak Brian bilang kamu Koma"


" Jadi Brian juga baru bilang?"


" Iya"


" Aku sibuk mengurusi urusan suamimu" ujar Brian dingin membela diri seraya berjalan melewati kedua sahabat itu.


" Dia sangat membosankan" rutuk Diana.


" Tapi kau menyukainya?"


" Ya, kurasa"


" Kau mau istirahat dulu?" Tanya Arthur.


" Ya, badanku lemas"


" Oke"


" Aku naik dulu Di"


" Ya, istirahat yang cukup okey. Dan jangan lupakan ada perayaan untuk kalian nanti malam. Aku sudah menelpon Jady untuk kesini" ujar Diana.


" Apa?"


" Brian dan aku yang menyiapkannya" ucap Diana dengan kekehan geli.


" Aku hanya menyambut ponakan kecilku" ujar Brian tanpa ekspresi diwajahnya benar-benar datar.


" Bisa kah kau tersenyum sedikit Brian?" Tanya Diana kesal karena kekasihnya itu selalu menampilkan wajah datar nya.


" Kurasa tidak" balas Brian acuh.


" Terserah" Diana membalas dengan mencabikkan bibirnya menahan kesal.


Sedangkan disisi lain Tabitha terkekeh geli melihat sahabat dan orang kepercayaannya bertindak seperti itu, padahal mereka kan sepasang kekasih.


Arthur menaiki lift dengan sedikit menuntun sang istri. Setelah lift sampai dan pintu lift terbuka mereka pun berjalan beriringan. Saat tepat didepan pintu, Arthur dengan sigap membukakanya untuk Tabitha.


" Thanks" ujar wanita itu dengan senyum manisnya.


Arthur hanya membalas dengan senyum tipis seraya menganggukkan kepalanya pelan.


Mereka memasuki kamar itu dan Tabitha lalu membaringkan tubuh Artha perlahan diatas ranjang. Setelah Artha sudah nyaman dengan posisinya, Tabitha pun mendudukan tubuhnya ditepi ranjang sedangkan Arthu masih berdiri tepat dihadapan sang istri.


" Ada apa?" Tanya Tabitha saat melihat raut wajah cemas Arthur.


" Tidak ada"


" Kau bisa menyembunyikan sesuatu didepan semua orang tapi tidak didepanku Arthur" ucap Tabitha seraya berjalan mendekati pria tegap didepannya.


" Aku hanya berpikir untuk menyambung kembali jenjang pendidikanmu"


" Aku tak berpikir lagi masalah itu"


" Kenapa?"


" Aku sudah cukup bahagia bersama denganmu ditambah sekarang ada Artha diantara kita jadi ku pikir aku tak membutuhkannya lagi"


" Tapi kau harus tetap kuliah Ta"


" Aku tak memikirkannya, sungguh Arthur"

__ADS_1


" Kau harus"


" Kenapa? Apa kau merasa bersalah atas semua yang terjadi padaku sekarang?" Tanya Tabitha dengan menaikkan satu alisnya.


" Aku..."


" Kau tak salah Arthur, sudah jangan pikirkan lagi"


" Tapi_"


" Artha tak bisa ditinggal sendirian"


" Nanti kalau Artha sudah lebih dari 5 bulan kurasa" ucap Arthur masih dengan pendiriannya.


" Kau ternyata sangat keras kepala Arthur"


" Ini demi masa depanmu"


" Masa depanku adalah kau" ujar Tabitha dan wanita itu pun duduk kembali ke tepi ranjang.


" Jadi kau menolaknya?"


" Baiklah tapi nanti jika Artha sudah lebih besar"


" Bagus" Arthur duduk disamping sang istri dan menatap Artha yang masih tertidur.


Tabitha pun mengikuti arah tatapan mata Arthur dan ia pun langsung menghambur ke pelukan Arthur.


" Hidupku sudah sempurna sekarang Arthur"


" Sama"


" Tapi aku takut"


" Kenapa?"


" Bagaimana jika nanti Artha jadi incaran musuh-musuhmu?"


" Itu tidak akan terjadi"


" Tapi_"


" Jangan berpikir hal negatif lagi, aku tak akan membiarkan satu orang pun menyakiti kalian"


" Aku percaya padamu Arthur" ujar Tabitha mengeratkan pelukannya.


Tak lama ponsel Arthur berdering, pria itu pun melepas pelukan Tabitha dan meraih ponselnya di saku celananya.


" Brian" gumam Arthur lalu menempatkan ponselnya di telinga kanan nya, seakan mengerti keadaan Arthur pun sedikit menjauhi Tabitha yang terlihat penasaran ditepi ranjang.


" Ya Brian ada apa?"


" Arthur segeralah ke markas sekarang"


" Ada apa?"


" Sisa anak buah Dominic menyerang markas, dan parahnya salah satu diantara mereka menembak Matthew" lapor Brian dengan nada cemas di ujung sambungan telepon.


" Apa!"


" Ya, aku kira semua sudah berakhir tapi ternyata kita salah Arthur ini masih berlanjut mereka mungkin dendam karena ketuanya mati ditanganmu, mereka datang pasti karena ingin membalas perbutanmu"


" Cegah, jangan sampai polisi tau masalah ini. Aku tak ingin Regnarok berurusan lagi dengan pemerintah"


" Baik"


" Tangkap mereka, aku akan bicara dengan mereka"


" Sudah kau bawa kerumah sakit?"


" Alexander yang membawanya"


" Bagus, aku akan kesana. Dan ingat Brian, jangan terpancing untuk menggunakan senjata kita. Lawan saja dengan tenaga mu, aku tak ingin masalah ini tercium polisi"


" Pasti"


Arthur mematikan sambungan teleponnya, dan ia pun membalikkan tubuhnya melihat raut wajah cemas Tabitha.


" Ada apa Arthur?"


" Markas diserang"


" Apa! Tapi siapa?"


" Anak buah Dominic"


" Bukanya kau bilang Dominic sudah mati?"


" Dia memang sudah mati, tapi anak buahnya belum semua mati. Mungkin mereka datang untuk membalas dendam atas kematian tuan nya"


" Jadi kau akan ke markas sekarang?"


" Ya, aku harus mengurusnya. Karena Matthew juga tertembak karena hal ini"


" Apa! Matthew tertembak?"


" Ya"


" Kau akan lama?"


" Aku lihat keadaan Ta, semoga tidak terlalu buruk"


" Tapi Diana mengadakan pesta otomatis kau dan Brian harus ada disini, jika tidak orang tuaku akan curiga"


Arthur mengerti kekhawatiran sang istri, ia pun berjalan mendekati Tabitha dan duduk disampingnya lalu meraih tangan kanan wanita itu dan digenggam erat oleh tangan Arthur.


" Dengar, aku jamin mereka tak akan berpikir macam-macam tentangku"


" Tapi_"


" Aku akan kembali sebelum malam hari, sekarang kau harus bertindak seolah tak terjadi apa-apa, alihkan perhatian kedua orang tuamu"


" Baiklah" ucap Tabitha lemas.


Arthur melepas pelukannya dan menegakkan tubuhnya, pria itu sedikit merangkak di atas ranjang membelai pelan Artha dan menciumnya lembut.


" Daddy pergi dulu" pamitnya.


Setelah itu Arthur berdiri menyambar coat miliknya dan bergegeas keluar dari kamar menuju pintu belakang agar tak diketahui oleh orang tua Tabitha.


Arthur langsung memasuki mobil yang sudah disipkan disana, ia pun menyalakan mesinnya dan mobil itu pun melaju membelah jalanan dengan kecepatan tinggi.


Lima belas menit kemudian Arthur sudah sampai di markas Regnarok disana keadaannya sudah kacau. Arthur keluar dari mobilnya dan tanpa takut berjalan dengan angkuh menuju kerumunan yang sedang adu jotos antara Regnarok dengan anak buah Dominic.


Arthur meregangkan tubuhnya, menggerakkan kepalanya dan mulai mengambil ancang-ancang untuk menyerang.


" Let's play the game" gumam Arthur meremehkan.


Arthur berlari dan segera menghadiahi satu bogeman pada salah satu anak buah The King, langsung saja orang itu terjerembab diatas tanah sedangkan Arthur hanya mengeluarkan smirk nya. Beberapa anak buah The King tampak terkejut dengan kedatangan Arthur. Mereka yang berjumlah 20 orang pun mulai menerjang Arthur.

__ADS_1


Brian dan Regnarok pun dengan sigap membantu sang ketua, mereka terlibat adu jotos, Arthur menahan satu kaki dari anak buah The King dan melemparkan si empunya kearah kawanannya. Arthur dengan sigap mencekal satu bogeman yang hendak mengenai wajahnya, pria itu membalik situasi dan menghadiahi lawannya dengan tendangan diperutnya.


Arthur mencengkram kemeja satu diantara mereka, mengunci pergerakkannya dan mencekik orang itu lalu kakinya dengan kuat menendang orang lain yang berusaha menyerangnya. Brian pun berusaha melindungi Arthur dengan memukul anak buah Dominic membabi buta.


Arthur melirik dari ujung matanya dan menangkap sosok anak buah Dominic yang sudah memegang pistol dengan dirinyalah yang menjadi sasaran. Arthur dengan tanggap memukul cepat lawan yang masih dihadapinya hingga lawan itu limbung, lalu ia berlari kesosok itu dan segera mencengkram lengannya dan ia melakukan salto lalu mengarahkan pistol itu keatas, pistol itu pun melepas pelurunya di atas.


Arthur menggeram ia segera menggunakan kakinya untuk mengunci sosok itu dan ia pun meraih pistol kedap suara dari dalam saku coat nya dan langsung menodongkannya tepat di dada sosok itu lalu melepas pelurunya dengan apik tepat sasaran.


" Stupid!" Rutuk Arthur dan sedetik kemudian sosok itu limbung.


Brian yang mendengar suara tembakan langsung menolehkan kepalanya kearah Arthur yang terlihat menatap anak buah Dominic yang mati didepannya. Brian tersenyum tipis melihat tindakan Arthur.


" Sekali iblis tetap iblis" gumam Brian.


Arthur berjalan mendekati Brian yang juga sudah selesai dengan musuhnya. Anak buah Dominic terkapar tak berdaya di halaman markas, Arthur berdiri disamping Brian dan memasukkan satu tangannya disaku celana bahannya.


" Periksa, jika masih ada yang hidup bawa keruang penyiksaan"


" Kau masih tetap ingin menyiksa mereka?"


" Tergantung bagaimana mereka memperlakukanku"


" Apa maksudmu?"


Arthur tak menanggapi ucapan Brian, pria dengan dagu terbelah itu malah tertarik untuk melihat jam nya, pukul 5 lebih, ia masih punya waktu membereskan masalahnya disini.


" Aku tunggu di dalam Brian"


" Baiklah"


Arthur memasuki markas Regnarok seraya melepaskan coat dari tubuhnya, pria itu berjalan dengan perlahan namun tampak menyeramkan, memang Arthur sedikit dalam mode kejamnya, maklum ia belum mendapat kesenangan semenjak Tabitha koma, jadi wajarkan jika dia bertindak kejam sekarang?


Arthur mendudukan tubuhnya dikursi kebesarannya dengan mengangkat kaki kanannya dan melipat tangannya didepan dada, pria itu menghidupkan cerutunya dan mulai menikmatinya.


Tak lama Brian dan beberapa Regnarok datang dengan memapah delapan anak buah Dominic yang terlihat lemas.


" Dudukan mereka" Perintah Arthur tak terbantahkan.


Brian dengan sigap menurunkan tubuh orang yang dipapahnya dikursi yang berhadapan langsung dengan Arthur, hal yang sama pun dilakukan oleh anak buah Arthur.


Setelah delapan orang itu duduk dengan tenang dihadapan Arthur, pria itu mematikan cerutunya dan berjalan mendekati delapan orang mangsanya.


" Siapa yang mengumpulkan kalian dan berupaya menyerangku?" Tanya Arthur menatap kejam pada kedelapan anak buah Dominic.


" JAWAB AKU SIALAN!!" Teriak Arthur menggelegar.


" J-Joseph" ucap salah satu diantara mereka dengan nada bicara yang bergetar ketakutan.


" Dimana dia?" Tanya Brian pelan namun diiringi dengan serat kekejaman.


" Dia sudah kau tembak tadi" ungkap nya lagi.


" Jadi dia yang menjadi pemimpin kalian?"


" Iya"


" Lalu siapa yang menembak Matthew?" Tanya Brian lagi.


" Joseph pelakunya" terang salah satu diantara mereka tanpa berani menatap manik kejam Brian ataupun Arthur.


" Bodoh! Kalian hanya dimanfaatkan oleh bedebah itu" Desis Arthur tajam.


" Maksudmu?"


" Dia ingin membangun perkumpulan lagi untuk menggantikan Dominic, dengan begitu dia lah yang jadi ketua dan kalian akan jadi babu nya" cetus Arthur tepat sasaran.


" Tapi dia bilang, dia akan menghidupkan kelompok kami lagi"


" Persetan dengan itu semua, intinya kalian dibodohi"


" Kami..."


" Dengar aku akan berikan dua pilihan pada kalian" ujar Arthur sembari membalikkan tubuhnya dan duduk kembali dikursinya.


" Apa?"


" Pertama kau akan bergabung dengan Regnarok dan bekerja disini"


" Kami tidak sudi!"


" Dengar dulu bedebah!"


Mereka tak menjawab setelah sentakan Arthur.


" Atau nasib kalian akan sama seperti tuan kalian Dominic dan si bedebah Joseph"


" Apa!"


" Sudahlah, jika aku jadi kalian. Aku akan memilih opsi pertama"


Mereka menatap ke kiri dan kanan mencari jawaban hingga akhirnya orang yang duduk ditengah menegadahkan wajahnya bertemu dengan wajah Arthur.


" Kami memilih opsi pertama"


" Great"


" Arthur tapi bagaimana jika mereka mengkhianati kita?" Tanya Brian tapi Arthur malah berdiri dan diam tepat didepan orang yang tadi duduk ditengah.


Pria itu meraih pistolnya dan mengarahkannya tepat di otak pria malang itu.


" Jika kalian berkhianat, satu atau semua maka saat itu juga akan jadi hari terakhir kalian menghirup udara, dan tentu saja bukan hanya kalian yang mati tapi keluarga kalian juga" Desis Arthur menakutkan.


" K-Kami janji tuan"


" Bagus"


" Arthur?"


" Biar mereka menunjukkan kerja mereka dulu Brian"


Setelah mengucapkan itu Arthur meraih kembali coat miliknya dan berjalan keluar dari ruang itu dengan Brian yang mengekori nya.


Tangan Arthur menyambar sebotol vodka dari atas meja bar mini disana, dan langsung meneguknya. Pria itu pun duduk diikuti dengan Brian yang mengambil wine disana.


" Arthur jangan mabuk, kau lupa ada perayaan untuk Artha sekarang"


" God!" Arthur yang baru sadar langsung melihat jam dan sial! Pukul tujuh malam.


Arthur bangkit dari duduknya dan memasuki ruang pribadinya didalam markas, ia pun bersiap disana. Begitupun dengan Brian, pria itu mengikuti Arthur dan mereka pun bersiap disana.


To Be Continue...


Vote Please...



Tabitha De Lavega


__ADS_1


Arthur De Lavega


__ADS_2