MY HUSBAND CEO IS MAFIA

MY HUSBAND CEO IS MAFIA
MHM 5.8: RUTINITAS


__ADS_3

Arthur memasuki kamarnya yang sudah ada Tabitha didalamnya, pria itu tau istrinya masih kesal akibat kejadian tadi di ruang keluarga. Arthur mendekati Tabitha yang terlihat sedang mengotak-atik ponselnya dan ia pun meraih ponsel itu lalu duduk tepat di depan wanita itu.


" Kembalikan ponselku" Ujarnya dingin mencoba meraih ponsel di dalam genggaman Arthur.


" Maafkan aku"


" Aku sudah memaafkanmu, dan jangan bahas lagi"


" Aku tau kau masih kesal"


" Aku tak merasa apapun Arthur, sudahlah kembalikan ponselku"


" Jika kau memang tak marah, kenapa nada bicaramu dingin sekali?"


" Salah jika aku berbicara seperti ini?" Tanya Tabitha dengan mengangkat satu alisnya.


" Ku mohon maafkan aku"


" Ya, baiklah kau minta maaf. Aku maafkan. Sekarang kembalikan ponselku"


" Oke tapi cium dulu" Tawar Arthur dengan memajukan pipinya di hadapan wajah Tabitha.


" Tidak"


" Baiklah, ponsel ini akan tetap bersamaku"


" Arthur!"


Arthur berdiri dan merebahkan tubuhnya diranjang dengan membawa ponsel Tabitha dalam dekapannya. Tabitha yang kesal pun bertambah kesal, wanita itu berjalan dengan cepat dan menarik-narik tangan Arthur untuk meraih ponselnya. Namun Arthur malah menarik tangan mungilnya, alhasil tubuh wanita itu terjatuh diatas tubuh Arthur.


" Maaf" Ujar Arthur tulus.


Tabitha gugup dalam posisi sedekat ini dengan Arthur, tak bisa dipungkiri ia masih sangat gugup jika berdekatan dengan Arthur walaupun ia sudah tinggal bersama dengan pria itu selama lima tahun.


" Ya"


" Kiss?"


Tabitha langsung mengecup dahi Arthur dan ia dengan cepat meraih ponselnya. Wanita itu kembali merebahkan tubuhnya di sofa dan mulai memejamkan matanya.


Arthur tau istrinya itu masih kesal dan sekarang istrinya memilih untuk tidur di sofa, memang sekali keras kepala akan selalu begitu. Arthur menurunkan kakinya dari ranjang melangkah mendekati Tabitha menyelipkan tanganya di kaki dan batang leher Tabitha lalu membawanya ala bridal style kearah ranjang.


Arthur dengan perlahan merebahkan tubuh itu menyelimutinya dan mengecup singkat dahinya. Pria itu membelai pelan surai Tabitha lalu memutari ranjang dan merebahkan tubuhnya kembali.


🔫🔫🔫


Pagi yang cerah memaksa dua mata Tabitha terbangun, wanita itu melirik kearah jam diatas nakas yang menunjukkan pukul delapan pagi, ia mengedarkan pandanganya mencari keberadaan Arthur namun sosok itu sama sekali tak ia temukan.


Tabitha menurunkan kakinya dari atas ranjang dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Ia memeriksa kamar Leo dan kosong mungkin Arthur dan Leo sedang bermain sekarang.


Tabitha menuruni tangga dan melihat Madam Rose yang sedang sibuk mengatur para maid untuk membersihkan mansion.


" Madam"


" Ya? Kau butuh sesuatu?"


" Tidak"


" Lalu?"


" Kau tau dimana Arthur?"


" Ah, mereka tadi ada di pantry"


" Pantry?"


" Ya"


" Mereka sedang apa?"


" Entahlah, tapi yang pasti suami mu itu tidak mengizinkan satu maid pun untuk memasuki pantry sebelum ia keluar dari sana"


" Ya Tuhan apa lagi ini" Tabitha menggelengkan kepalanya.


" Sabarlah, mungkin suamimu itu sedang menyiapkan sesuatu"


" Sesuatu apa?"


" Entahlah"


" Baiklah aku ke pantry dulu" Pamit Tabitha diikuti anggukan dari Madam Rose.


Tabitha menjalankan kakinya menuju pantry dan tak lama terdengar suara benda jatuh, Tabitha semakin kalut ia segera melangkah dengan tergesa memasuki pantry.


Pemandangan yang pertama ia lihat adalah Arthur terlihat kacau dengan tepung di kaosnya, sedangkan putranya terlihat duduk diatas meja dengan tubuh yang juga kacau dipenuhi dengan tepung.


" Apa yang sedang kalian lakukan?!" Ucapan Tabitha seketika menghentikan kegiatan ayah dan anak itu.


Arthur dan Leo langsung melirik kearah Tabitha dan tersenyum misterius.


" Hallo mommy" Sapa Leo.


" Hallo mommy" Sapa Arthur dengan mengukti gaya bicara Leo.


" Apa yang kalian lakukan kenapa pantry sangat berantakan?"


" Kami sedang_"


" Membuat kejutan" Potong Arthur saat putranya hendak membocorkan aktifitas mereka.


" Kejutan apa?"


" Kau akan lihat sendiri"


Ting!


Terdengar bunyi oven, Arthur langsung berbalik memeriksa oven itu memakai sarung tangan dan mengeluarkan sebuah kue yang bentuknya sulit untuk dijelaskan.


" Kuenya sudah matang Dad?" Tanya Leo polos.


" Sudah" Arthur meletakkan kue itu diatas meja.


" Kalian membuat kue?"


" Ya, sebagai permintaan maaf" Balas Arthur pelan.


" Atas kejadian kemarin?"


" Iya"


" Tapi berhubung kau sudah mengetahuinya kita tak usah menghias kue nya tidak papa kan?"


" Maksudmu?" Tanya Tabitha tak mengerti.


" Iya kita makan saja langsung kue nya"


" Ya Tuhan kau payah sekali" Ujar Tabitha sedangkan Leo terkekeh geli seraya menggerakan kedua kakinya yang menggantung di samping meja.


" Minggir" Usir Tabitha menyingkirkan Arthur.


" Kasar sekali" Ujar Arthur pelan.


" Aku mendengarmu" Tabitha mendengus ia pun mengedarkan matanya mencari krim untuk kue nya dan ia pun menemukannya.


Tabitha meraih krim itu meratakanya di atas kuenya menghiasnya rapih.


" Mom" Panggil Leo.


Tabitha menolehkan kepalanya namun hidungnya tertabrak dengan jari Leo yang sudah dihiasi dengan krim kuenya. Sontak saja wanita itu melebarkan matanya karena tingkah usil dari putra kecilnya itu.


" Ta"


Tabitha menolehkan kepalanya ke kanan dimana Arthur berada, dan ternyata jari pria itu menunjuk pipi kanan Tabitha, habis sudah wajah wanita itu terkotori dengan krim kue.


" Kalian!" Tabitha menggeram ia pun menangkap Leo menggelitiki perut anak itu.


" Mommy! Ampun hahaha" Leo tertawa terbahak-bahak sedangkan Arthur mencoba menolong putranya dengan menarik tangan kiri Leo.


" Daddy help me!"


Arthur mendekap tubuh sang istri dari belakang, pria itu mencolek krim kue dan memolesnya di wajah Tabitha.


" Arthur!" Tabitha meraih krim kue nya dan mengoleskan krim itu di pipi Arthur.


" Daddy wajahmu kotor" Ujar Leo dengan kekehan geli.

__ADS_1


" Rasakan!" Rutuk Tabitha.


Arthur menangkap lengan Tabitha namun wanita itu berlari dengan menarik tubuh Leo memutari meja di tengah pantry.


" Kejarlah Dad" Ujar anak itu dengan tertawa.


" Kena kalian" Arthur mendekap erat tubuh Tabitha mencium pipi kanan Tabitha yang terdapat krim.


" Manis" Ujar Arthur langsung membuat Tabitha mencubit perut pria itu.


" Daddy ayo kita coba kue nya"


Leo menarik tangan Arthur dan Tabitha, mereka duduk. Arthur mendudukan tubuh Leo di pangkuannya. Tabitha memotong kue itu dan meletakkannya di piring kecil lalu menyerahkannya pada Arthur dan Leo.


" Jangan, kau saja dulu yang mencobanya kan aku dan Leo membuatnya untukmu" Ucap Arthur diikuti anggukan dari Tabitha.


Arthur meraih sendok dan memotong kue dipiringnya, setelah itu ia pun menyuapi Tabitha. Wanita itu menerimanya Tabitha mengunyah kue itu dan merasakannya.


" Bagaimana?"


" Enak"


" Yes" Leo dan Arthur menyatukan tangan mereka bangga.


" Tapi terlalu manis" Cicit Tabitha membuat senyum Leo dan Arthur memudar seketika.


" Tapi enak kan?"


" Iya lumayan"


Arthur dan Leo membuka mulutnya memberi kode supaya Tabitha menyuapinya. Tabitha yang paham pun langsung menyuapi ayah dan anak itu.


" Ini manis sekali Dad" Ujar Leo berbisik.


" Iya tapi enak"


" Tentu ini kan buatanku" Leo menangkat dagunya bangga.


Tabitha yang gemas pun memajukan wajahnya hal yang sama pun dilakukan Arthur mereka berniat mencium Leo tapi sialnya anak itu malah memundurkan kepalanya hingga membuat Arthur mendaratkan kecupanya tepat di bibir Tabitha.


Tabitha melebarkan matanya, dan Arthur mengangkat satu alisnya. Anak mereka itu sangat usil tapi entah mengapa Arthur menyukainya. Tabitha memundurkan wajahnya pipinya bersemu merah.


" So sweet" Leo bertepuk tangan dan tersenyum bahagia.


Arthur mengangkat telapak tangannya dan Leo langsung menyatukan telapak tangan kecilnya dengan Arthur. Mereka tersenyum puas sedangkan Tabitha pipinya sudah memerah menahan malu.


" Kalian memang sama saja"


" Mommy so cute, you're blushing" Leo tertawa geli.


" Leo!" Peringat Tabitha dan menatap Arthur lekat.


" Jangan marah-marah lagi" Ucap Leo penuh harap.


Tabitha mencium puncak kepala Leo sayang dan ia pun menggenggam jemari Arthur.


" Mommy dan Daddy tidak akan bertengkar" Janji Tabitha pada anak itu.


" Janji" Timpal Arthur mencium gemas putra kecilnya.


🔫🔫🔫


Arthur dan Tabitha sekarang sudah berada di ruang tengah, mereka menonton acara di TV, sementara Leo sudah tertidur tiga puluh menit yang lalu. Arthur merangkul pundak istrinya lembut sedangkan Tabitha menyenderkan tubuhnya di dada bidang Arthur. Sesekali Arthur menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik Tabitha.


" Apa Brian masih bekerja?"


" Ya, masih"


" Kenapa dia jarang datang kesini?"


" Dia sudah punya anak, wajar jika dia pulang ke panthouse miliknya sendiri"


" Ya kau benar"


Tak lama seorang maid datang menghampiri Arthur dan Tabitha.


" Maaf tuan, nyonya"


" Ada apa?" Tanya Arthur dingin.


" Ada nona Diana di luar"


" Iya"


" Kenapa tidak disuruh masuk?" Tabitha langsung berdiri dan melangkahkan kakinya menuju pintu mansion.


Wanita itu membuka pintu mansion dan terlihatlah Diana membawa Reoxane anaknya yang berusia empat tahun.


" Diana"


" Tata" Mereka memeluk satu sama lain.


" Ayo masuk"


Diana menganggukan kepalanya dan menuntun putranya memasuki mansion Tabitha.


Mereka duduk diruang tamu, Arthur berdiri dari sofa dan mendekati Tabitha dan Diana.


" Dimana Brian?" Tanya Arthur dingin.


" Masih diluar"


Arthur mengangguk, ia pun menjalankan kakinya kearah pintu mencari keberadaan Brian, dan terlihatlah sahabatnya yang tengah berdiri seraya menyesap cerutunya.


" Mr. Aldhiano?" Ujar Arthur menepuk bahu Brian.


Brian membalikkan tubuhnya dan menatap Arthur lekat.


" Ya Mr. De Lavega?" Balas Brian dengan mengangkat kedua alisnya.


" Duduk dulu" Arthur mendudukan tubuhnya di kursi depan mansion berhadapan dengan bodyguard yang berbaris rapih disudut kanan dan kiri halaman mansion.


" Ya" Brian ikut mendudukan tubuhnya disamping Arthur.


" Kenapa tak masuk?" Tanya Arthur pelan.


" Aku tak boleh mendekati Reo jika sedang merokok"


" Diana yang melarangmu?"


" Iya"


" Sama aku juga"


" Kita memang senasib"


" Kau benar"


Arthur memberi kode pada salah satu bodyguard dan bodyguard itu pun mendekat kearah Arthur.


" Iya boss?"


" Ambilkan wine"


" Baik"


Bodyguard itu memasuki mansion dan Arthur menolehkan kepalanya menatap Brian.


" Tak apa kan jika wine?"


" Ya, kurasa"


Tak lama bodyguard itu datang membawa dua gelas kecil dan sebotol wine. Pria berbadan kingkong itu menuangkan wine ke gelas dengan perlahan melayani boss nya. Setelah selesai bodyguard itu kembali ketempatnya semula.


Arthur meraih gelas itu dan menyesap wine nya. Hal yang sama pun dilakukam oleh Brian.


" Hubungan kalian baik?" Tanya Arthur melihat raut wajah Brian yang terlihat tertekan.


" Aku hanya bingung"


" Apa?"


" Diana ingin kembali ke dunia modelling"


" Masalahnya?"

__ADS_1


" Arthur jika Diana kembali ke modelling siapa yang akan menjaga Reo?"


" Kalian bisa bergantian"


" Arthur kau lupa keadaan kantor sedang tidak kondusif sekarang"


" Apa yang terjadi?"


" Ada seseorang di dalam perusahaan yang memanipulasi data keuangan kita Arthur"


" Bagaimana bisa?" Tanya pria mulai cemas.


" Aku juga tak mengerti, beberapa bulan ini perusahaan memang mengeluarkan banyak dana, kurasa itu sudah atas persetujuanmu oleh karena itu aku tak curiga. Tapi setelah aku periksa ulang. Aku baru sadar itu bukan tanda tanganmu Arthur"


" Sial, tanda tanganku dipalsukan?"


" Ya, aku hanya berpikir mungkin si pelaku orang yang cerdas ,karena tanda tanganmu sulit untuk di tiru tapi dia berhasil menirunya."


" Kau benar"


" Oleh karena itu aku bingung, kurasa untuk saat ini Diana tak bisa terjun kembali ke dalam dunia permodelan"


" Kau benar, tapi apa istrimu akan mengerti"


" Aku sudah bicara padanya dan dia malah merajuk"


" Brian jujur aku juga bingung jika begini kondisinya"


" Ntahlah Arthur" Brian menyesap wine didalam gelas yang dipegang tangan kanannya.


" Brian, kau bisa mengurus kantor dari rumah"


" Maksudmu?"


" Ya kau bisa bekerja lewat rumah saat Diana ada jadwal photoshoot aku yang akan turun tangan"


" Tapi Arthur kau_"


" Aku tak apa, lagi pula kurasa sudah saatnya aku kembali bekerja seperti biasa"


" Kau yakin?"


" Iya"


" Terimakasih Arthur"


" Kau tenanglah"


" Iya"


Sementara di ruang tamu Diana terlihat menatap Tabitha penuh harap.


" Jadi Brian menolaknya?"


" Iya"


" Dia memberi tahumu alasan mengapa dia menolak keinginanmu?"


" Tidak"


" Di, kurasa jika aku jadi Brian mungkin aku akan melakukan hal yang sama"


" Maksudmu?"


" Di, Reo masih terlalu kecil untuk ditinggal. Dia baru berusia empat tahun jika memang kau dan Brian pergi lalu Reo dengan siapa?"


" Aku tau tapi ini adalah kesempatan emas Ta, kau tau jika aku bisa mendapatkan kontrak modelling ini aku akan mendapat banyak keuntungan. Lagi pula kau tau kan ini adalah cita-citaku"


" Lalu kau mau nya bagaimana?"


" Aku ingin mendapat kontrak modelling ini lalu jika aku sudah selesai aku akan berhenti mengejar mimpiku."


" Jadi kau akan menghentikan kariermu setelah proyek ini?"


" Iya, ini adalah puncak proyek yang aku inginkan"


" Jadi kau ingin Brian yang menjaga Reo?"


" Bukan begitu, sebenarnya aku sudah meminta untuk membayar baby sitter tapi Brian menolak"


" Kenapa?"


" Dia bilang dia ingin melihat setiap perkembangan Reo sendiri tanpa bantuan orang lain"


" Aku setuju"


" Aku harus bagaimana Ta?"


" Di, aku bingung"


" Jangan pikirkan" Suara bariton milik Arthur menghentikan pikiran Tabitha.


Arthur duduk disamping Tabitha sedangkan Brian duduk disamping Diana seraya mendudukan Reo dipangkuannya.


" Brian akan bekerja di rumah selama kau menjalani proyek itu" Ujar Arthur tanpa ekpresi.


Diana sontak melirik kearah Brian mencari jawaban namun senyum pria itu seakan menjadi jawaban atas apa yang ia tanyakan.


" Kau yakin Brian?" Tanya Diana mengenggam tangan Brian.


" Iya, aku hanya ingin kau mencapai mimpimu"


" Terimakasih, aku janji setelah proyek ini selesai aku akan berhenti jadi model"


" Aku percaya" Diana memeluk Brian erat dan pria itu pun membalas pelukan Diana.


Tak lama terdengar tangisan dari kamar Leo, Tabitha langsung menatap pintu kamar Leo dan mengalihkan tatapannya kearah Arthur.


" Apa?"


" Coba lihat"


" Iya"


Arthur berdiri dan melangkahkan kakinya menaiki tangga lalu membuka pintu kamar Leo. Benar anak itu menangis.


" Hei, ada apa boy?"


" Daddy" Leo menghambur kepelukan Daddy nya.


" Sst, ada apa?"


" Aku mencari Daddy"


" Maaf meninggalkanmu" Arthur mengusap punggung Leo sayang.


Memang Leo sangat dekat dengan Arthur, anak itu setiap malam harus dibacakan cerita oleh Arthur dan jika ia bangun tak menemukan Arthur maka inilah yang terjadi, Leo akan menangis mencari Daddy nya.


" Tenanglah, Daddy disini"


Arthur menggendong Leo seperti koala, membawa tubuh putranya menuruni tangga.


" Leo lihatlah ada Reo disana" Arthur menunjuk kearah Reo yang terlihat bermain dengan Brian.


Leo melihat kearah yang Daddy nya tunjukkan senyum anak itu langsung terbit melihat temannya.


" Dad turun" Arthur langsung menurunkan tubuh Leo, dan anak itu pun berlari mendekati Reo.


" Reo!" Panggil Leo kencang.


" Leo" Brian melepaskan anaknya untuk bermain dengan putra boss nya.


Kedua anak itu pun bermain dengan berbagai mainan milik Leo.


To Be Continue...


Vote Please...



Tabitha De Lavega



Artha Leonardo De Lavega

__ADS_1



Arthur De Lavega


__ADS_2