MY HUSBAND CEO IS MAFIA

MY HUSBAND CEO IS MAFIA
MHM 1.5: OFFER


__ADS_3

  Tabitha menengadahkan kepalanya bertemu dengan manik mata Arthur, ia tersenyum manis Arthur pun membalasnya.


" Kau menyebalkan" rutuk Tabitha.


" Kau tak kalah menyebalkannya Mrs.De Lavega" ujar Arthur.


Tok... Tok..


Arthur dan Tabitha menolehkan kepalanya ke arah pintu yang diketuk oleh seseorang diluar sana, Arthur melepaskan pelukanya dan berjalan kearah pintu, tampaklah asistenya Brian membawa sebuah dokumen yang dilapisi amplop coklat berukuran besar.


" Ada apa?" Tanya Arthur.


" Ada tamu yang ingin menemui mu"


" Siapa?"


" Dia dari pemerintah Amerika Arthur, dan mereka pun ingin bertemu di markas."


" Aku akan kesana kau siapkan segalanya Brian"


  Ujar Arthur menutup pintu kamarnya tanpa memperdulikan jawaban Brian, Arthur berjalan keatah Tabitha yang duduk di tepi ranjang.


" Kau akan pergi lagi?"


" Ya, kau tak usah menungguku" ucap Arthur berjalan kearah walk in closet dan keluar dengan menggunakan pakaian formalnya.


" Ke kantor?" Tanya Tabitha.


" Ada meeting penting aku harus menghadirinya kau tidur saja dulu" ujar Arthur mengecup kening Tabitha dan pergi.


  Tabitha hanya berdiam saat Arthur meninggalkannya sendirian ia pun membuka laptop milik Arthur dan melakukan panggilan vidio dengan ketiga sahabatnya. Tak berapa lama wajah Tabitha berseri karena melihat ketiga sahabatnya lagi walaulun hanya dalam panggilan vidio.


" Hai guys, miss me?" Tanya Tabitha.


" Tata! Lo kemana aja sih? " Sentak Diana.


" Iya lo tau nggak semenjak prom night lo nggak bisa dihubungi dan mansion laki lo juga kosong" lanjut Fitry.


" Lo dimana sekarang? Gue kira lo mati tau nggak sih Ta, soalnya kan malam itu ada penyerangan di rooftop hotel" ujar Amel.


" bahkan gue terlibat didalamnya Mel" batin Tabitha.


" Oke guys, Sorry banget bikin kalian cemas tapi kalian tenang aja oke, soalnya gue baik-baik aja dan sekarang ada di Mansion Arthur di New York"


" Apa! Lo ke New York tapi kapan?"


" Pas malem prom night" ujar Tabitha.


" Sekarang laki lo mana?" Tanya Diana.


" Kerja"


" Sukurin ditinggal sendirian kan? Makanya lo pulang lagi aja ke Indo biar ketemu sama kita" Ucap Amel.


" Gue nggak bisa"


" Kenapa?"


" Ada sesuatu hal yang menurut gue aneh dari Arthur dan gue harus cari tau sendiri. Dan caranya yah gue harus ikutin dia ke New York"


" Aneh apa maksudnya?" Timbrung Fitry.


" Gue bakal cerita klo nanti udh dipastiin semuanya"


" Guys gue tutup dulu yah, soalnya disini udah malem gue ngantuk mau tidur" Ucap Tabitha.


" Okey, okey yang udah punya suami mah enak bisa tidur dikelonin" Canda Amel.


" Bacot lo, gue ditinggal sendiri tau"


" Yaudah gih lo tidur ntar kita ngobrol-ngobrol lagi" ujar Diana.


" Yaudah bye guys." Putus Tabitha.


  Setelah mematikan panggilan Vidio nya dengan sahabatnya Tabitha pun membaringkan tubuhnya keranjang dan mulai memejamkan matanya.


🔫🔫🔫


Markas Regnarok


Arthur berjalan kearah ruang meeting di markas Regnarok ia berjalan dengan angkuh dan menyalami tamunya lalu mendudukan tubuhnya ke kursi kebesarannya.


" Mr. De Lavega maaf mengganggu waktumu" ujar Pria itu.


" Ya katakan ada apa?" Tanya Arthur to the point.


" Perkenalkan aku James Walker seorang agen dari pemerintah Amerika"


" Aku disini untuk menawarkan sebuah kerja sama denganmu Mr. De Lavega" lanjut James pasalnya Arthur hanya diam.


" Maksudmu?" Tanya Brian.

__ADS_1


" Begini kau kenal dengan Alessandro Roberto?"


" Ilmuwan nuklir?" Tanya Brian.


" Iya, kami mengutus dia untuk membuat sebuah nuklir sebagai senjata andalan kami namun saat proses pembuatan nuklir yang sudah 90% Alessandro meninggal karna serangan jantung, namun seorang agen dari negara lain yang bekerja sama membuat nuklir itu mengcopy data rancangan dan tempat nuklir itu disimpan dalam sebuah disk, dan menghapus seluruh data yang ada dalam pembuatan proyek nulklir itu. Itu semua dilakukan agar negara-negara lain tidak mempergunakanya untuk hal yang salah"


" Lalu apa yang kau inginkan? Langsung saja keintinya" desis Arthur.


" Bantu kami untuk menemukan disk itu"


" Mr.Walker sepertinya kau saja bisa melakukan itu dengan mudah karna kau tinggal mencari orang itu dan bertanya dimana disk nya dia simpan? Atau ada masalah yang lebih besar?" Tanya Arthur.


" Kau benar Mr. De Lavega, sayangnya setelah kematian Alessandro, pria satu-satunya yang mengetahui data-data itu meninggal karna pembunuhan" ucap James yang diikuti tatapan tajam dari Arthur.


" Kau tau aku bekerja didunia gelap?" Tanya Arthur.


" Ya dan aku juga tau kegigihan mu dalam menjalankan sebuah tugas Arthur"


" Terbukti dari setiap kejahatanmu semuanya tak ada yang terendus polisi"  lanjut James.


" Aku tak ingin berurusan dengan instansi pemerintah Mr. Walker jadi saya mohon maaf karna tak bisa memenuhi keinginanmu" ujar Arthur berdiri dan membenahi jasnya hendak pergi.


" Tunggu Mr. De Lavega" ucap James yang menghentikan lagkah Arthur.


" Bagaimana jika kukatakan pria itu adalah dari negara mu?" Lanjut Brian.


Arthur membalikan tubuhnya menghadap pria yang kini berdiri di hadapanya.


" Pria itu adalah Jack Pattison seorang agen resmi dari Italy yang bekerja sama dengan Alessandro membuat sebuah nuklir untuk Amerika"


" Apa masalahnya dengan negara ku?" Tanya Arthur.


" Nuklir itu dibuat secara sepasang yang artinya ada dua nuklir disini Mr. De Lavega satu nuklir tidak diketahui keberadaan nya dan hanya ada dalam disk itu dan satu lagi konon dibawa oleh Jack ke Italia. Nuklir itu disusun saling berkaitan yang artinya jika satu nuklir meledak maka yang satunya akan meledak pula"


  Mendengar pernyataan James Arthur mengikis jaraknya dengan agen Amerika itu.


" Aku tau kau seorang pria yang amat mencintai tanah kelahiranmu Mr. De Lavega oleh karna itu aku meminta bantuan mu untuk mencari disk itu dan membebaskan negaramu dari kehancuran"


" Aku bisa mencari nuklir yang ada di Italy tanpa mencari disk nya"


" Nuklir itu dipegang oleh Jack Arthur. Pria itu dengan bodohnya membawa sebuah nuklir ke negara padat penduduk seperti Italy, dan hanya Jack yang tau dimana nuklir itu disimpan. Kami sudah mencoba mencari tau dimana nuklir itu namun hasilnya selalu nihil. Hanya ada satu cara menemukan nuklir yang berada di Italy."


" Apa? " Tanya Arthur.


" Cari disk nya dan temukan nuklir pertama lalu kita bisa melacak nuklir kedua Arthur"


" Bagaimana jika nuklir itu ternyata di rebut oleh orang yang tidak semestinya?" Tanya Brian.


" Maka dengan hitungan menit dua negara akan luluh lantak, Amerika dan Italia. "


" Kami akan mencoba untuk melacak dimana nuklir kedua disembunyikan namun itu pasti cukup sulit mengingat bagaimana cara pikir Alessandro yang cerdik ia pasti membentuk jaringan yang sulit dipecahkan dalam disk itu. Tapi kami akan terus mencobanya dan menyelamatkan negaramu Mr.De Lavega"


" Lalu dengan pembangunan nuklir itu?" Tanya Brian.


" Kami akan hentikan, karena kami tak ingin mengambil resiko dengan membuat nuklir" balas James.


" Kenapa tidak musnahkan saja seluruh data dalam disk itu?" Tanya Brian.


" Kita akan kehilangan petunjuk kalau disk itu dihancurkan dan jika dimasa depan ada yang menemukan salah satu nuklir itu dan menyempurnakannya, maka kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Semua kemungkinan bisa terjadi disini."


" Ku harap kau pertimbangkan ini Mr. De Lavega" lanjut James dan mengelurkan tanganya kepada Arthur dan disambut pria itu.


" Nice to meet you Mr. De lavega. I hope you join in this mission" ujar James dan berlalu pergi.


" Arthur jangan ikuti dia, terlalu berbahaya untuk regnarok bila berurusan dengan pemerintah"


" Aku tak akan biarkan seorang pun merusak negara ku Brian!" Sentak Arthur.


" Lalu kau mau apa sekarang?"


" Setujui apa yang diminta James, kita akan ikut dalam misinya"


" Lalu masalah nuklir itu?"


" Nuklir itu hanya akan meledak bila disempurnakan Brian, sedangkan jika disk nya disimpan oleh pihak kita maka penyempurnaan itu tak akan terjadi"


" Tapi__"


" Kau meragukan kemampuan ku Brian" sela Arthur.


" Tidak" ujar Brian.


" Minta pada Jamea untuk mengirimkan data-data mengenai proyek pembuatan nuklir itu dan profil ilmuwan yang terlibat didalamnya kita butuh informasi yang cukup untuk misi inu Brian"


" Sesuai maumu boss"


Arthur mengangguk dan berjalan menjauhi Brian yang membatu pasalnya ia sedikit ragu dengan keputusan yang diambil Arthur. Menampakan Regnarok dengan pemerintahan akan membuat Regnarok tercium oleh para pemerintah negara lainnya. Namun Brian menepis semuanya dan menanamkan keyakinan boss nya bisa menyelesaikan itu.


Arthur berjalan kearah ruang penyekapan yang disana sudah ada Alexander dengan Petter yang masih diberi arahan untuk bertemu dengan anak buah The King.


" Alexander"

__ADS_1


" Yes, Sir"


" Sudah kau pasangkan microchip pada pria ini?"


" Sudah bos"


" Apa yang kau inginkan Arthu?" Desis Petter.


" Aku ingin kau melakukan sesuatu Petter" ujar Arthur.


" Apa lagi yang kau mau dariku kaparat" rutuk Petter namun ia hanya bisa diam karena kedua tanganya diborgol.


" Temui kaki tangan The King lalu pasangkan microchip padanya"


" Selama kau melakukan semua itu kami akan slalu memantaumu Petter" ujar Alexander.


" Setelah kau berhasil memasangkan microchip nya kau akan bebas"


" Bagaimana jika aku menolak?"


" Kau akan mendapat kiriman dari kami kedua kepala putrimu yang sudah dipenggal" desis Arthur.


" Jangan pernah kau sentuh putriku bedebah!" Sentak Petter.


" Kehidupan putrimu ada padamu Petter, jika kau melakukan kesalahan akan kubuat putrimu menetap disini selamanya bersama anak buahku" ucap Arthur dengan smirk nya.


" Kau benar-benar kejam Arthur!"


" Terserah kau ingin bicara apa sialan! Aku tak peduli"


" Baiklah aku melakukannya KAU PUAS!" ucap Petter dengan berteriak diujung kalimatnya.


" Bagus kalau begitu" Ucap Arthur menghidupkan cerutunya.


" Kau hanya perlu menghubungi kaki tangan The King lalu pasangkan Microchip ke tubuhnya, setelah itu kau bebas. Mudah bukan?" Terang Alexander.


" Jika kau coba kabur sniper ku tak segan menembakkan pelurunya tepat dikepalamu Petter." Ujar Arthur tenang namun cukup membuat Petter takut.


" Kapan aku bisa menemuinya?" Tanya Petter.


" Alexander akan mengurus semuanya. Dan Alexander aku percaya padamu. Aku hanya ingin kabar baiknya"


" Tentu boss"


Arthur keluar dari ruang penyekapan dan bertemu Brian di ruang tengah Markas Regnarok yang di desain layaknya sebuah club bintang lima. Arthur sengaja mendesainya seperti itu untuk menutupi kedok markas Regnarok menjadi sebuah club. Arthur berjalan dengan gagah, bersama Brian disamping kanannya dan membuka pintu mobil sport miliknya diikuti oleh Brian yang menyupirnya.


Mereka melesat kearah mansion Arthur, setelah sampai Arthur segera menaiki lift untuk ke kamarnya. Setelah sampai ia membuka pintu dan mendapati Tabitha tengah tertidur. Ia mendekati istrinya itu dan mencium pelipisnya. Namun hal itu membuat tidur Tabitha terganggu, Mata bermanik coklat itu terbuka senpurna Arthur hanya menatapnya datar dan duduk disamping ranjang berhadapan dengan Tabitha.


" Maaf mengganggu tidurmu" ujar Arthur.


" Tidak, kau baru pulang?"


" Iya"


" Kau meninggalkan istrimu sendirian di kamar ini dan baru kembali pukul 2 malam, sungguh luar biasa Arthur"


" Maafkan aku, ada tamu penting dari pemerintah, aku harus menemuinya"


" Baiklah, Kau lapar?"


" Sedikit"


" Aku akan buatkan makanan kau mandi saja dulu okey" ujar Tabitha membelai lembut pipi Arthur.


" Okey" ucap Arthur menangkap tangan Tabitha dan mengecupnya lembut.


Arthur berbalik dan melihat istrinya hendak pergi.


" Besok malam aku diundang untuk ikut pesta pebisnis, kau ingin ikut?"


Tabitha memberhentikan langkahnya dan menatap Arthur dan mengganggukan kepalanya.


" Okey nanti akan kukirimkan Fashion Staylist dan Make up Artis kesini untuk menberikanmu gaun dan mendadanimu"


" Arthur itu tidak perlu aku bisa berdandan sendiri?" Ucap Tabitha.


" Aku ingin istriku terlihat cantik dan mempesona besok malam"


" Dan membuatku dilirik pria lain"


" Tak akan kubiarkan"


" Pergilah aku akan masak" ucap Tabitha meninggalkan Arthur yang menyunggingkan senyum tipis dibibirnya.


To Be Continue...


Please Votee....



Tabitha De Lavega

__ADS_1



Arthur De Lavega


__ADS_2