MY HUSBAND CEO IS MAFIA

MY HUSBAND CEO IS MAFIA
MHM 5.9: PROBLEM 2


__ADS_3

Arthur menjalankan kakinya kedalam De Lavega Group, sudah lumayan lama ia bekerja dari rumah dan Arthur paham betul wajah pegawainya yang terlihat kaget saat kedatangannya tadi. Arthur berjalan dengan tegap memasuki ruangan kerjanya namun ia berhenti sebentar tepat di depan Lisa.


" Lisa"


" Iya boss?" Tanya wanita itu menunduk dalam.


" Bawa berkas yang bermasalah termasuk laporan keuangan kita beberapa bulan ini" Arthur berbicara namun ia sama sekali tidak melihat wajah Lisa ia hanya menatap pintu ruangannya dingin.


" Baik boss"


Setelah mendapat jawaban ia pun memasuki ruangannya. Pria itu pun mendudukan tubuhnya ke kursi kebesarannya. Ia memeriksa data-data di dalam laptopnya. Tak lama Lisa datang dengan setumpuk berkas.


" Ini beberapa perusahaan yang mulai merasa terancam dan meminta kompensasi atas uang mereka yang hilang Boss"


" Taruh saja"


Lisa meletakkan profil perusahaan-perusahaan itu, setelah selesai Lisa pamit undur diri. Arthur dengan cepat memeriksa profil dan data keuangan perusahaan selama empat bulan ini dan ternyata perusahaan sudah merugi senilai 10 juta dollar. Arthur berdecak, bagaimana bisa perusahaannya merugi sebanyak itu! Sialan sekali orang yang berusaha bermain-main dengannya! Batin Arthur kesal.


Arthur menautkan alisnya paham dengan apa yang terjadi dengan perusahaannya ada orang dalam yang memanipulasi keuangan perusahaan dan membawanya kabur lalu menjelekkan *i*mage dari perusahaan dan sekarang yang harus ia lakukan adalah mencari orang itu dan memulihkan keuangan perusahaan.


Arthur sibuk dengan pekerjaannya seharian ini ia bahkan hampir melupakan makan siangnya jika Tabitha tidak mengingatkannya. Tak lama terdengar suara dering ponsel Arthur, pria itu pun meraih ponselnya dan menggeser tombol hijau saat mengetahui si penelpon.


" Ya?"


" Dimana kau?"


" Masih di kantor"


" Arthur tapi ini sudah pukul sepuluh malam, kau lembur tapi ini sudah sangat malam"


" Sepuluh?"


" Ya!"


Arthur memeriksa jam tangan di pergelangan tangan kanannya dan benar ini sudah pukul sepuluh malam. Ia sudah terlambat pulang. Arthur memijit pelipisnya lembut mengurangi rasa sakit kepala yang tiba-tiba menderanya.


" Aku akan pulang sebentar lagi"


" Apa masalahnya sangat rumit? Sampai kau lupa untuk pulang?"


" Lumayan"


Dulu Arthur akan bekerja dari pagi sampai malam sebelum menikah dan sekarang ia melakukan hal itu lagi, pikirannya berkecamuk, pasti putranya menunggunya pulang malam ini.


" Leo sudah tidur?" Tanya Arthur pelan.


" Sudah, tadi dia sebenarnya merengek untuk kau pulang. Putramu itu keras kepala dia memaksaku untuk menghubungimu tapi aku tolak"


" Kenapa?"


" Aku takut mengganggu pekerjaanmu"


" Maafkan aku"


" Tak apa, apa kau akan pulang sekarang?"


" Ya, aku akan pulang sekarang"


" Baiklah, aku menunggumu"


" Baiklah"


Arthur mematikan sambungan teleponnya, ia segera membereskan dokumen di atas mejanya. Pria itu menegakkan tubuhnya dan merapihkan jas yang melekat ditubuhnya kemudian ia pun melenggang keluar dari gedung perusahaan.


Lima belas menit Arthur menjalankan mobilnya sekarang ia pun sudah sampai di halaman mansion. Pria itu menurunkan kakinya dari mobil dan melenggang memasuki mansion.


" Ta?" Arthur memanggil nama istrinya sesaat setelah pintunya ia buka. Pria itu sangat merindukan istri kecilnya.


" Iya" Tabitha menyahuti Arthur dari arah pantry, wanita itu tengah menghangatkan makanan untuk Arthur.


Arthur yang mendengar sahutan dari sang istri pun akhirnya berjalan kearah pantry. Disana ia melihat Tabitha yang sibuk berkutat dengan berbagai alat masak. Arthur mengulas senyum tipis ia pun melepaskan jas yang melekat di tubuhnya dan meletakkannya di kursi. Arthur memeluk Tabitha dari belakang, tubuh wanita itu sedikit tersentak karena mendapati lengan besar Arthur yang merengkuh perutnya posessive.


" Aku merindukanmu" Arthur mencerukkan wajahnya di leher Tabitha.


" Aku tau"


Arthur menumpukan dagunya di bahu sang istri mengecup pelan pipi kanannya.


" Arthur besok hari apa?"


" Besok rabu" Ujarnya polos.


" Maksudku apa tidak ada yang spesial besok?"


" Kurasa tidak"


" Kau yakin?"


" Iya" Ucap Arthur pasti.


" Baiklah, ayo makan" Tabitha melepas pelukan Arthur sedikit kasar, sampai lengan kanan Arthur mengudara.


Wanita itu berjalan kearah meja makan menyiapkan makanan disana, dan Arthur pun mendudukan tubuhnya mulai memakan makanan yang tersaji di depannya.


Tabitha menatap Arthur kesal, ia marah karena Arthur melupakan momen bahagianya besok tapi pria itu apa benar-benar melupakannya atau tidak?


" Arthur"


" Hem?"


" Kau yakin tak ada yang spesial besok?" Tanya Tabitha lagi memastikan.


" Iya"


Tabitha menghela napasnya berat, ia kesal bukan main. " Aku ngantuk" Ujarnya lalu pergi menaiki tangga meninggalkan Arthur yang termenung sendiri. Tapi pria itu memilih melanjutkan acara makannya yang tertunda.


🔫🔫🔫

__ADS_1


Tiga hari sudah Arthur pulang tengah malam, pria itu seakan mengabaikan keberadaan sang istri, ia melewatkan sarapan dan makan siangnya. Walaupun Arthur selalu mewanti-wanti Tabitha untuk tidak menunggunya nyatanya wanita itu masih menunggu kedatangan suaminya di ruang tamu. Tabitha melirik kearah jam dinding yang menunjuk pukul sebelas malam. Wanita itu menggeram dan ia pun bengun dari duduknya. Tabitha segera membuka ponselnya mencari nama Arthur dan menghubungi pria itu.


Tiga kali Tabitha mencoba tapi Arthur sama sekali tidak merespon, wanita itu semakin kalut ia menggigit kukunya cemas dan tak lama terdengar suara bariton milik Arthur.


" Apa!" Sentaknya diseberang sana yang langsung membuat Tabitha terhentak seketika.


" K-kau membentakku?"


" Kau tau kau mengganggu pekerjaanku!"


" Maafkan aku, aku hanya ingin memastikan keadaanmu"


" Aku baik" Ucap Arthur dingin yang sukses membuat Tabitha mengingat sisi gelap Arthur. Wanita itu merinding seketika saat mengingat bagaimana Arthur memperlakukannya dengan kejam saat seperti ini.


" Arthur"


" Tidur saja jangan menungguku, aku sibuk!"


" Aku tau, kau sudah makan?"


" Ta, aku sedang pusing. Lebih baik tutup teleponnya agar aku segera pulang"


" Arthur"


" Apa lagi?" Nada suara Arthur mulai kesal pun mengalir dengan mudahnya ditelinga Tabitha yang sukses membuat wanita itu mengeluarkan air matanya.


" Tidak, baiklah aku tutup. Aku menc_" Ucapan Tabitha tergantung saat Arthur mematikan sambungan teleponnya dari seberang sana.


Tubuh Tabitha melemas seketika, apa salahnya? Apa dia telah melakukan kesalahan pada Arthur sampai pria itu membetaknya sekarang?


" Ada apa denganmu Arthur? Kau mengabaikanku dua hari ini? Lalu sekarang kau membentakku? Apa yang kulakukan? apa aku membuat kesalahan?" Tabitha melirih dengan suara yang berusaha menahan tangisnya namun tetap saja cairan bening itu tetap mengalir dari pelupuk matanya.


" Bahkan kau melupakan ulang tahun pernikahan kita" Lirihnya lagi namun kali ini ia memegang kuat dadanya berusaha menghentikan rasa sesak yang menghimpit dadanya sekarang.


Tabitha menangis ditengah heningnya malam, ia harus kuat mungkin suaminya memang sedang sibuk dan ia mengganggunya jadi dia marah, Tabitha menghapus air matanya yang menetes membentuk sungai kecil di pipi putihnya. Ia segera berdiri dan menjalankan kakinya menaiki tangga dan berakhir merebahkan tubuhnya di ranjang, ia menutup tubuhnya dengan selimut tebal dan air matanya pun kembali mengalir.


Tanpa diketahui oleh Tabitha ada sepasang mata kecil yang terus mengawasinya, ia menggeram tertahan.


🔫🔫🔫


Arthur membuka pintu mansion dengan sedikit kasar, ia masih menahan emosinya saat mengetahui keberadaan si pelaku yang memanipulasi keuangnya tapi sialnya pelaku itu gagal ia tangkap, pria itu menggeram ia sangat kesal sekarang. Tak lama suara langkah kaki kecil terdengar mendekatinya.


" Dad" Sapa anak itu polos, dan seperti keajaiban emosi yang sedari tadi Arthur tahan seakan menguap saat mendengar ucapan polos putranya, Leonardo.


" Kau belum tidur?" Tanya Arthur mendekat kearah Leo yang memberikan tatapan tajam bak elang yang siap menerkam mangsanya, di dalam manik mata bocah itu sangat pekat dan dingin. Arthur sempat takut saat melihatnya.


" Leo ingin bicara pada Daddy"


" Katakan"


Arthur mendudukan tubuhnya disamping Leo yang memang sudah mendudukan tubuhnya di sofa dua menit yang lalu.


" Ada apa?" Tanya Arthur pelan mengelus pelan punggung Leo.


" Seharusnya aku yang bertanya pada Daddy, ada apa?" Ucap anak itu menatap Arthur tajam.


" Kenapa Daddy suka pulang terlambat tiga hari ini?"


" Daddy sibuk bekerja untuk Leo dan Mommy"


" Serius?"


" Iya"


" Lalu kenapa Mommy menangis?"


" Kapan?"


" Tadi setelah menelpon Daddy"


" Kau mendengarnya?"


" Dad, Leo tak meminta apapun pada Daddy. Leo tak apa jika Daddy tak menemani Leo dan membacakan buku untuk Leo sebelum tidur seperti biasanya. Tapi Leo keberatan jika Daddy membuat Mommy menangis" Ucapnya bijak seakan ia lebih tua dari Arthur.


" Leo Daddy_"


" Daddy tau, Mommy selalu menunggu Daddy pulang"


" Itu tak mungkin. Mommy selalu tertidur jika Daddy pulang"


" Iya karena Mommy berbohong"


" Leo, apa maksudmu?"


" Dad, Mommy selalu menunggu kepulangan Daddy bahkan Mommy sering ketiduran di sofa untuk menunggu Daddy. Saat Daddy pulang Mommy bangun dan ia pindah ke kamar lalu bertingkah seakan Mommy sudah tidur sedari tadi" Leo berbicara panjang lebar menceritakan kegiatan Mommy nya tiga hari ini.


" Leo_"


" Bahkan Daddy melupakan hari pernikahan Daddy dan Mommy"


Deg! Arthur melupakan itu, benar kemarin adalah ulang tahun pernikahannya yang ke lima tahun dengan Tabitha, inilah alasannya wanita itu menanyainya kemarin. Arthur menangkup wajahnya menyesal. Apa yang sudah ia perbuat bahkan ia dengan bodohnya membentak wanita itu.


" Daddy?"


Arthur hanya menolehkan kepalanya menatap Leo yang beralih posisi dan mendudukan tubuhnya di pangkuan Arthur.


" Tolong hentikan air mata yang Mommy keluarkan" Pinta anak itu polos.


" Maafkan Daddy"


" Daddy jangan minta maaf pada Leo, minta maaf pada Mommy"


" Kau benar"


" Dad"


" Ya?"

__ADS_1


" Tak masalah Daddy sibuk dengan pekerjaan tapi jangan mengesampingkan kami Dad" Ucap anak itu dengan wajah yang sangat menggemaskan tapi hal itu malah membuat Arthur tertampar akan kenyataan.


Benar tiga hari ini ia bekerja tiada habisnya, sampai ia mengesampingkan keberadaan anak istrinya. Ia terlalu fokus pada urusan kantor.


" Dad, Leo mengantuk bisakah Daddy bacakan cerita untuk Leo?" Tanya anak itu polos.


Arthur dengan cepat menganggukan kepalanya ia langsung menggendong tubuh Leonardo kearah kamarnya membaringkan tubuh anak itu ke atas ranjang, Arthur menyelimuti anaknya dengan perlahan lalu memilih buku-buku cerita yang ada disamping ranjang.


" Apa cerita yang ingin kau dengar?"


" Leo mau cerita Robin Hood"


Arthur dengan cepat meraih buku Robin Hood dan mulai membacanya. Anak itu mulai memejamkan matanya dengan tangannya yang meremas tangan Arthur. Arthur sesekali memeriksa putranya sudah tidur atau belum, ia harus segera ke kamar untuk meminta maaf pada Tabitha.


Setelah sepuluh menit membaca buku, Arthur memeriksa Leo yang ternyata sudah pulas tertidur. Ia dengan gerakan pelan menuruni ranjang dan merapihkan selimut untuk menelingkupi putra kecilnya yang berpikir tidak pada umurnya, tapi Arthur bangga mengenai hal itu.


Arthur langsung keluar dari kamar Leo dan memasuki kamar nya, terlihat sang istri yang memunggungi pintu, dan Arthur pun menutup pintu itu lalu ia berjalan mendekati Tabitha, pria itu mendudukan tubuhnya disamping sang istri dan merasakan punggung Tabitha yang bergetar, Tabitha tengah menangis sekarang.


" Maaf" Lirih Arthur pelan namun tidak mendapatkan respon apapun dari sang istri.


" Aku tau aku bodoh dengan membentakmu tadi, tapi itu sama sekali bukan kesalahanmu"


" Aku sangat bodoh dengan membuatmu menjadi pelampiasan atas kemarahanku"


" Kau boleh menghukumku, kau bisa memakiku jika kau mau Ta. Tapi kumohon jangan mendiamiku seperti ini"


Tabitha membuka matanya perlahan, wanita itu mendengarkan segala kalimat yang terucap dari bibir Arthur. Ia pun mendudukan tubuhnya dan bersender di kepala ranjang dengan menatap Arthur lekat.


" Maafkan aku" Sesal Arthur meraih tangan kanan Tabitha.


" Aku hanya kaget saat kau membentak ku tadi" Ucap wanita itu dengan lelehan air mata yang kembali turun.


" Iya maafkan aku, aku melampiaskan kekesalanku padamu. Seharusnya aku tak melakukan itu"


" Iya tak apa"


" Maafkan aku karena melupakan ulang tahun pernikahan kita"


" Kau?"


" Iya, aku mengingatnya sekarang"


" Aku sudah memaafkanmu"


Hening, Arthur hanya menatap sang istri yang sudah menghentikan tangisannya.


" Kau berbohong?"


" Apa?" Tanya Tabitha tidak mengerti.


" Kau menungguku pulang kan dua hari ini?"


" Aku tidak menunggumu. Kau lihatkan aku sudah tidur saat kau pulang"


" Kau masih berbohong padaku?"


" Arthur aku tak berbohong"


" Kau tau, ada seorang anak yang menegurku karena menyakiti mommy nya"


" Maksudmu Leo?"


" Iya, dia melihatmu selama tiga hari ini Ta"


" Jadi dia?"


" Dia juga melihatmu saat kau menungguku dan saat kau menangis tadi"


" Ya Tuhan"


" Aku sudah bicara padanya"


" Lalu?"


" Lupakan semua sudah selesai, sekarang jawab aku kenapa kau berbohong?"


" Aku hanya khawatir jika kau belum pulang"


" Oleh karena itu kau menungguku?"


Tabitha menganggukan kepalanya sebagai jawaban. Ia menundukkan kepalanya takut menatap manik biru terang milik Arthur.


" Jangan menunduk" Peringat Arthur dan dengan patuhnya Tabitha menatap mata Arthur.


" Kau sangat mencintaiku, sampai mengkhawatirkanku seperti ini?" Tanya Arthur yang sukses membuat Tabitha merona.


" Iya"


Arthur semakin menatap Tabitha dengan senyum yang mengembang ia pun memungut istrinya lembut dan dibalas oleh Tabitha. Arthur melepaskan sebentar pungutannya dan menatap wajah merona Tabitha dengan nafas yang bersahutan.


" Happy anniversary wife" ujarnya lalu kembali menempelkan bibirnya dengan bibir Tabitha.


To Be Continue...


Vote Please...



*Tabitha De L**avega*



Arthur De Lavega



Artha Leonardo De Lavega

__ADS_1


__ADS_2