MY HUSBAND CEO IS MAFIA

MY HUSBAND CEO IS MAFIA
MHM 3.5: SEARCH


__ADS_3

Brian menatap kearah Arthur yang sibuk berkutat dengan dokumen-dokumen di meja nya, Brian tau Arthur selama dua hari ini menyibukkan dirinya dengan urusan kantor, terlihat sekali Arthur membohongi dirinya, ia terlihat acuh dengan kepergian Tabitha, tapi di dalam hatinya Arthur tersakiti karena kepergian istrinya itu.


" Arthur"


" Ya?"


" Aku mendapat undangan dari Mr. Xavier"


" Lalu?"


" Kau bisa pergi kan?"


" Ya"


" Baiklah, akan ku siapkan"


Brian duduk di sofa ruangan Arthur dan tak lama seorang staf datang menemui Arthur dan menyerahkan beberapa dokumen. Brian tak menanggapi ia hanya fokus pada ponselnya namun sentakkan Arthur membuat Brian mendongakkan kepalanya.


" Bagaimana data tidak valid! Apa yang terjadi!"


" M-maaf boss, tapi aku sudah memperbaikinya dua kali"


" Tetap salah! Kau bodoh!"


" Saya akan perbaiki lagi boss"


" Lima belas menit, jika kau belum datang dengan laporan yang benar kau kupecat!"


" B-baik boss"


Staf itu pun keluar, Brian menghentikannya sedangkan Arthur beridiri di balkon dan menyugar rambutnya.


" Berikan, aku akan lihat"


" Tapi boss bilang ini salah"


" Berikan"


" Baik" Staf itu pun memberikan laporan keuangannya pada Brian dan pria itu pun memeriksanya.


" Ini sudah benar"


" Tapi boss bilang_"


" Aku yang akan menghadapinya"


" Terimakasih"


" Kau kembalilah"


" Baik"


Brian mendekati Arthur dan menepuk pelan pundaknya.


" Aku memeriksa laporannya, dan itu sudah benar Arthur"


" Tidak itu salah"


" Kau yang salah"


" Apa maksudmu?"


" Kau yang salah Arthur, ada apa denganmu? Aku tau kau khawatir pada istrimu tapi kau membohongi dirimu sendiri. Lihatlah kau luapkan semuanya pada pekerjaanmu Arthur"


" Pergilah Brian, aku ingin sendiri"


" Terserah"


Brian melangkah menjauhi Arthur lalu tak lama ponselnya berdering.


" Brian?"


" Ya, ada yang ingin kau butuhkan?"


" Kapan kau kesini?"


" Sore ini"


" Baiklah terimakasih"


" Sama-sama"


" Ehm Brian, bisa aku minta tolong padamu?"


" Ya?"


" Bisakah kau bawakan jas atau kemeja Arthur yang sedang dipakai?"


" Memangnya ada apa?"


" Aku merindukannya"


" Baiklah"


" Terimakasih"


" Ya, kau jaga diri disana"


" Baiklah sekali lagi terimakasih Brian"


" Ya sama-sama"


Brian mematikan sambungan teleponnya, Brian membalikkan tubuhnya ia bingung bagaimana caranya untuk mengambil jas yang sedang dipakai oleh Arthur, ia akan memikirkan itu nanti.


Sore hari Brian mendatangi mansion Arthur ia akan izin untuk menemui keluarganya agar Arthur tidak mengganggu nya selama pria itu berada di Macau. Brian segera memasuki mansion megah Arthur pria itu bertanya pada Madam Rose dimana keberadaan Arthur dan setelah itu Brian segera menemui Arthur yang tengah bersiap untuk pergi ke pesta.


" Arthur"


" Ya"


" Aku ada urusan malam ini mungkin baru pulang besok, jadi maaf aku tak bisa menemanimu ke pesta"


" Ya, tak apa"


" Baiklah terimakasih"


" Ya"


Arthur membalikkan tubuhnya lalu berjalan menuju walk in closet. Begitupun Brian, pria itu membalikkan badanya lalu matanya menangkap sebuah jas yang dipakai Arthur tadi siang, Brian mengulas senyum tipis ia pun mengambil jas itu dan segera meninggalkan kamar Arthur.


Brian memasuki mobilnya dan segera menuju bandara, ia pun pergi menuju Macau.


Sedangakan di tempat lain, Arthur terlihat kebingungan ia sudah meletakkan jas nya di ranjang, tapi kenapa sekarang menghilang. Arthur memang berencana untuk memakai jas itu ke pesta Mr. Xavier karena Arthur sudah memasang michrochip pada jas nya. Itu semua ia lakukan untuk antisipasi penjagaan karena Brian tak menemaninya. Namun sekarang jas nya hilang.


🔫🔫🔫


Macau


Tabitha menautkan jari tanganya, ia mengigit bibir dalam nya, entah mengapa ia sangat merindukan Arthur tapi ia tak bisa untuk menemui pria itu. Jadi ia meminta Brian agar membawa jas atau kemeja yang sedang Arthur pakai untuk mengobati rasa rindunya.


Tak lama pintu hotel diketuk, Tabitha membuka pintunya dan terpampanglah Brian disana.


" Brian"


" Ya"


" Masuklah"


Brian menuruti perintah Tabitha, pria itu mendudukan dirinya ke kursi kecil didalam hotel sederhana yang ditempati Tabitha.


" Kau membawanya?" Tanya Tabitha sembari meletakkan teh hangat untuk Brian.


" Ya"


Brian mengeluarkan jas milik Arthur. Dan segera disambut oleh Tabitha, wanita itu mengulas senyum dengan cepat Tabitha memakai jas milik Arthur ia sangat bahagia setidaknya rasa rindunya sudah terobati walaupun sedikit.


" Mengapa kau tiba-tiba menginginkan jas atau kemeja milik Arthur?"


" Entahlah, mungkin bayi ini merindukan daddy nya"

__ADS_1


" Sayang sekali Arthur sangat bodoh!"


" Ya semoga dia cepat sadar"


" Tak lama lagi, aku sudah menemukan buktinya"


" Kau yakin?"


" Ya, dua hari kurasa itu sudah cukup. Kau tau selama dua hari ini suamimu itu terlihat sangat berantakan, ia selalu berangkat pagi dan pulang kerja sampai jam 11 malam hanya untuk mengenyahkanmu dari pikirannya."


" Sebenarnya aku juga tak tega tapi harus bagaimana lagi?"


" Ya, kau benar"


" Baiklah aku akan pindah ke kamar sebelah, jika ada apa-apa segera hubungi aku"


" Baik"


🔫🔫🔫


Arthur segera menghubungi Matthew, pria itu mengetatkan rahangnya dan tak lama suara Matthew pun terdengar.


" Ada apa boss?"


" Lacak michrochip yang kupasang"


" Baik"


Setelah kurang dari lima menit Arthur menunggu akhirnya Matthew pun bersuara.


" Macau"


" Apa?"


" Sebuah hotel di Macau boss"


" Baiklah"


Arthur mematikan sambungan teleponnya dan segera menghubungi Alexander.


" Siapkan helikopter sekarang"


" Baik tuan"


" Segera Alexander"


" Baik"


Arthut segera melihat cctv mansion untuk mencari siapa yang telah mengambil jas miliknya dan ternyata asisten pribadinya lah yang mengambil jas pria itu. Arthur heran untuk apa Brian mengambil jas miliknya?


Tak lama suara helikopter terdengar di depan Mansion, Arthur bergegas menaiki lift dan menuju lantai dasar pria itu berjalan cepat menuju helikopter dan segera menghidupkan mesin-mesinnya dan tak lama helikopter pun terbang mengudara.


🔫🔫🔫


Brian memasuki kamar hotelnya setelah pria itu keluar sebentar untuk membeli beberapa keperluan nya. Namun baru beberapa langkah ia memasuki kamar itu terdengar deheman dari seseorang. Brian segera membuka saklar listrik disana dan terpampanglah Arthur duduk dengan mengangkat satu kakinya serta dengan kedua tangan yang dilipat didepan dada.


" Arthur"


" Ya, kau terkejut melihatku disini?"


" Bagai_"


" Kau telah salah mengambil jas Brian, jas yang kau ambil itu ada michrochipnya jadi aku bisa melacakmu"


" Apa?"


" Ya? Kau pikir aku tidak mengetahui bahwa kau yang mengambil jas ku?"


" Arthur itu_"


" Untuk apa kau mengambil jas ku Brian?" Arthur berdiri dari duduknya dan ia pun mengambil segelas sampanye di nakas dan meneguknya sampai tandas.


" Aku hanya_"


" Jangan membuatku marah Brian, jika kau menginginkan jas dari ku kau tinggal memintanya."


" Maksudmu?"


" Itu untuk Tabitha"


" Tabitha?"


" Ya, dia memintaku untuk mengambil jas yang dipakai olehmu"


" Itu artinya kau mengetahui keberadaan Tabitha?"


" Ya"


Arthur yang mendengar jawaban Brian segera mendekati pria dihadapannya. Arthur mencengkram erat kerah kemeja Brian.


" Dimana dia!"


" Aku tak ingin mengatakannya"


" DIMANA ISTRIKU!"


" Istri mana yang kau maksud?"


" Tabitha"


" Kau yakin?"


" Tak usah bertele-tele Brian!"


" Istri yang sudah kau sia-sia kan? Istri yang sudah kau campakkan? Istri yang kau sebut sebagai seorang ******? Istri yang kau pandang derajatnya lebih rendah dari wanita penghibur? Itu yang kau maksud 'istri'?"


" KATAKAN SAJA DIMANA TABITHA!"


" Aku tak akan memberitahu jika kau berniat untuk menyakitinya lagi"


" BRIAN!"


" Sudah cukup dia tersiksa Arthur! Andaikan kau mau menerimanya kembali bersama bayi nya mungkin kalian akan hidup bahagia"


" Jangan bermimpi Brian! Aku bisa menerima kembali Tabitha"


" Tapi tidak dengan anak sialan itu!" Desis Arthur tajam.


" Kau keterlaluan Arthur!"


" Aku tak bisa jika hidup dengan bayi haram istriku sendiri Brian!"


" Wanita itu mengandung bayi haram!"


" ENOUGH ARTHUR! BAYI YANG KAU SEBUT SIALAN ITU ADALAH BAYI MU SENDIRI! DIA ANAK MU! ANAK PERTAMA MU!" teriak Brian berapi-api sembari mencengkram kerah kemeja Arthur.


" Aku tak percaya! Kau lupa aku memercayai bukti bukan ucapan! Selagi bayi itu belum jelas siapa ayahnya akan kusebut dia bayi haram!"


" Kau adalah ayahnya kaparat!"


" BRIAN!"


" Kau ingin bukti kan?"


" Ya!"


" Maka sudah kusiapkan!"


Brian berjalan dengan cepat mengambil ponselnya dan Arthur pun mendengarkan rekaman suara yang Brian berikan.


" Jadi kau tidak melakukan apapun pada Tabitha?"


" Ya, aku hanya memberinya obat tidur yang aku campurkan pada orange jus nya"


" Lalu?"


" Dia tertidur lah apalagi!"


" Tapi foto itu?"

__ADS_1


" Setelah satu jam aku meninggalkan nya aku yakin Tabitha pasti sudah tertidur dan ternyata aku benar aku menemukannya tertidur di sofa"


" Tapi di foto itu kau_"


" Pasti kau bertanya mengapa aku shirtless sedangkan Tabitha masih mengenakan underwear nya?"


" Ya"


" Aku melucuti kemeja yang dia pakai lalu aku melepas kaos yang kugunakan"


" Setelah itu kau memfoto nya?"


" Ya, jujur saat itu aku ingin mengklaim nya, tapi aku pikir aku tak bisa melakukan itu! Aku tak sudi menebar kepemilikanku disaat wanita itu mungkin baru saja melakukannya dengan Arthur sialan itu!"


" Jadi menang kau tak melakukannya?"


" Ya!"


" Tapi aku yakin Arthur akan marah besar pada Tabitha oleh karena itu aku mengirimkan foto kami pada si kaparat itu!"


" Kau melakukannya? Untuk apa?"


" Untuk menghancurkan pernikahan mereka apalagi!"


" Jadi kau benar-benar terobsesi pada Tabitha?"


" Aku mencintainya dan Arthur merebutnya dariku"


" Bagaimana jika Arthur mengetahui semua ini?"


" Aku sudah mematikan cctv apartemen ku waktu itu jadi Arthur tetap akan berpikiran bahwa aku dan Tabitha telah melakukan hal lain. Lagi pula aku juga sudah menyuap para pegawai apartemen untuk berbohong dan membuat drama seolah-olah aku dan Tabitha adalah sepasang kekasih. Dan benar saja besoknya Arthur datang dan dia pun terjebak"


" Kau memang cerdas"


" Ya aku tau"


Brian mematikan rekaman pada ponselnya dan sekarang Arthur berdiri dengan tatapan kosongnya.


" Kau dengar, itu suaraku dan Clark!"


" Ta_"


" Selama dua minggu ini aku menyamar sebagai pelayan di apartemen bedebah itu!"


" Kau?"


" Ya, itu alasannya mengapa aku tak pergi kekantor"


" Brian"


" Clark memanipulasimu Arthur! Kau sudah terjatuh pada ego mu sendiri! Andai kau mau melihat kenyataan dan kejujuran di mata wanita itu sudah pasti ini semua tidak akan terjadi!"


" Selama ini aku terus menahan untuk tidak memukulmu setiap kau memperlakukan Tabitha dengan begitu kejam! Tapi aku butuh bukti karena aku tau sifatmu! Oleh karena itu aku memutuskan untuk menyamar"


" Aku selalu memancing Clark untuk membongkar kebusukannya tapi pria itu nyatanya juga cerdas, hingga aku akhirnya mencekokinya dengan vodka lalu dia mabuk"


Brian mendudukan dirinya disamping Arthur yang juga terduduk lemas, ia menyesal selama ini memperlakukan Tabitha dengan sangat keji. Mengatainya sebagai seorang ****** bahkan ia dengan teganya berniat membunuh anaknya sendiri! Arthur menangkup wajahnya dengan telapak tanganya ia menyesal, sangat menyesal.


" Dengar, kau tau setelah aku mematikan rekamannya aku lakukan apa pada bedebah itu?"


" Kau membunuhnya?"


" Tidak, itu akan menjadi urusanmu. Tapi yang kulakukan sebagai seorang kakak adalah mematahkan dua tulang rusuknya"


" Kenapa tak kau bunuh saja Brian!"


" Aku memberimu kesempatan untuk melakukannya Arthur! Tapi kusarankan jangan, karena istrimu sedang hamil, kau tak ingin kan nasib Clark menimpa anakmu?"


" Dari mana kau dapatkan pikiran itu?"


" Nenek ku yang bilang, sudahlah jangan dipikirkan"


" Aku tidak peka Brian, itu artinya waktu itu aku mual dan muntah karena aku mengalami Morning Sickness tapi bukanya itu terjadi pada ibunya?"


" Mungkin anakmu dendam padamu karena kau jadi ayah yang durhaka!"


" Kenapa begitu?"


" Kau menyakiti ibunya jadi anaknya yang membalas dendam"


" Ah ya, bisa saja"


" Sekarang kau ingin apa?"


" Aku ingin menemui istriku dan menyelesaikan masalah ini"


" Lalu?"


" Aku ingin meminta maaf pada anakku karena meragukannya"


" Sekalian kau minta maaf padanya karena sudah berniat untuk membunuhnya"


" Ya aku akan lakukan itu"


" Kau siap bertemu Tabitha?"


" Ya"


" Sebenarnya istrimu itu sangat dekat Arthur, dia begitu sangat merindukanmu tapi dia bilang mustahil untuk bisa menemuimu kembali. Dia terlalu takut kau menyakiti bayinya"


" Aku memang bodoh"


" Memang"


" Terimakasih kau telah menjaganya Brian"


" Ya, sama-sama"


" Baiklah kau ingin menemuinya?"


Arthur menghela napasnya untuk menetralisir rasa takut yang menghambat dadanya.


" Dia disini, tepat kamar sebelah kiri. Kau akan menemukan istrimu disana"


" Jadi?"


" Ya, dia disini Arthur"


" Terimakasih Brian"


" Ya, kau hadapi dia dengan tenang, dia sudah cukup tertekan selama ini"


" Baiklah terimakasih sekali lagi"


Arthur menepuk pelan bahu Brian, ia segera melangkah keluar dari kamar Brian dan berdiri dikamar yang Brian maksudkan.


Tok..tok..tok..


Arthur mengetuk pintu tiga kali, ia menutup matanya dan tak lama terdengar suara langkah kaki yang sangat dikenalinya.


" Brian ada ap_" ucapan Tabitha berhenti saat ia membuka pintu dan terpampanglah wajah yang selama dua hari ini ia rindukan.


" Miss me honey?"


To Be Continue...


Vote Please...



Arthur De Lavega



Tabitha De Lavega



Brian Aldhiano

__ADS_1


__ADS_2