
Tabitha dan Arthur mengelilingi Mall dengan senyuman yang merekah, sesekali wanita itu menarik lengan Arthur karena jalan pria itu yang begitu terlampau santai. Hingga akhirnya mereka pun mengunjungi restoran Italy disalah satu mall itu.
" Kau mau pesan apa?"
" Terserah" ucap Tabitha acuh. Arthur menjentikkan jarinya dan sesaat setelah itu seorang pelayan datang.
" Dimana pemilik restoran ini?"
" Maaf tuan belia_"
" Katakan saja Tuan Arthur ingin menemuinya" sela Arthur angkuh terdengar sombong. Sedangkan Tabitha memutar bola matanya malas dengan ucapan yang dilontarkan Arthur.
" Tentu" pelayan itu pun pergi.
" Kau, kenapa tidak langsung memesan saja?" Bisik Tabitha.
" Well, mereka tau aku orang seperti apa"
" Dasar sombong"
" Kuanggap itu pujian"
" Mr. De Lavega? Senang sekali anda bisa berkunjung ke tempat saya yang sederhana ini" ucap si pemilik restoran.
" Ya tentu"
" Apa yang anda perlukan tuan?"
" Beri aku makanan yang paling mahal disini"
" Baiklah"
" Tidak tuan, bisa kau masakkan lasagna untuk kami?" Tanya Tabitha, sedangkan Arthur menaikkan satu alisnya.
" Tentu nyonya, aku sendiri yang akan memasaknya"
" Terimakasih" Tabitha melemparkan senyum manis dibibirnya sedangkan Arthur hanya memperlihatkan wajah datarnya.
Kini tinggalah Arthur dan Tabitha disana.
" Kenapa kau merusak segalanya wife"
" Karena kau terlalu sombong, dan aku tak menyukainya"
" Well, ini sifatku"
" Berisik!" Desis tajam dari Tabitha tak lama setelah itu si pemilik restoran pun datang dengan membawa lasagna pesanan Tabitha.
" Ini nyonya, semoga anda suka"
" Terimakasih"
" Kau bisa pergi" seru Arthur.
" Baik tuan"
" Kenapa kau sangat menjengkelkan?"
" Dan bisakah kau hentikan raut wajah datarmu, senyumlah sedikit" lanjut Tabitha cenderung memohon.
" Aku tak yakin bisa"
" Diamlah" wanita itu menyerah menghadapi suaminya yang angkuh dan keras kepala, lagi dengan tingkat kesombongan yang lumayan tinggi juga.
Setelah memakan pesanannya mereka pun pulang menuju Mansion. Saat di Mansion sudah ada Brian dan Diana yang tengah mengobrol di ruang tengah Mansion.
" Brian ikut aku" perintah Arthur sembari melenggang.
" Sesuai perintahmu" ujar Brian pasrah.
" Dari mana?" Tanya Diana sarkas.
" Seperti yang kau tau, belanja"
" Kau memang luar biasa"
" Apanya?"
" Ya, pria seperti Arthur bisa kau taklukan. Aku bangga"
" Hanya keberuntungan" Tabitha mengajak Diana ke taman dimana sudah ada Exter dan Exie. Ya, singa betina yang baru Arthur beli dinamai olehnya Exie.
" Aku baru sadar nada bicara kita berubah"
" Ya, tak apa cukup menyenangkan" ujar Diana menjeda.
" Arthur mengasuh dua singa itu?" Lanjut Diana.
" Iya dan satu anjing, namanya Kal"
" Dia pencinta binatang?"
" Tidak kurasa, karna dia ternyata alergi bulu kucing"
" Apa? Kau yakin?" Tanya Diana sedikit terkekeh dengan yang diucapkan Tabitha.
" Ya, dia akan bersin terus"
" Luar biasa seorang Arthur De Lavega lemah dihadapan Kucing hahaha" Diana tertawa lebar sedangkan Tabitha membalasnya dengan senyuman miringnya.
🔫🔫🔫
" Bagaimana pengirimannya?"
" Ada sedikit masalah Arthur, jalan kita untuk ketempat klien di blockade oleh polisi"
" Dimana letaknya?"
" Tepat ditengah jalan satu kilometer dari gudang klien"
" Apa tak ada celah untuk kita lolos?"
" Tak ada Arthur. Kita buntu"
" Bisa aku bergabung?" Suara halus terdengar disuasana hening antara Arthur dan Brian.
" Tabitha?"
__ADS_1
" Brian bisakah kau tunjukkan aku petanya?"
Tabitha hanya tersenyum lalu melenggang mendekati Arthur dan Brian. Sedangkan Brian melirik kearah Arthur yang dengan tenang duduk di kursi kebesaranya sambil melipat tanganya didepan dada. Arthur mengangguk setuju pada Brian. Pria itu pun mengeluarkan sebuah peta berukuran sedang yang isinya adalah peta New York.
" Dimana letak klien kalian?"
" Disini" Brian menunjuk sebuah gedung lumayan besar cukup jauh dari kediaman Arthur.
" Polisi menghadang kalian di?"
" Tepat satu kilometer sebelum tempat klien"
Tabitha menarik nafasnya dan menghembuskannya perlahan. Ia mencermati peta dihadapanya, dan ia menengadahkan wajahnya bertemu dengan tatapan Brian.
" Apa ini?" Tanya Tabitha.
" Sebuah gedung yang dibangun layaknya lorong" jelas Brian Singkat.
" Kalian ingin mengirim apa dan medianya?"
" Senapan, dan sebuah mobil box anti peluru"
" Well, sebenarnya kalian ini siapa? Mengapa mengirim senapan?"
" Kam_"
" Sudahlah, toh nanti juga aku akan tau bukan begitu Arthur?" Tanya Tabitha dengan nada mengejek yang dibalas senyum miring Arthur.
Tabitha memutari meja yang telah diletakkan peta ditengahnya.
" Apa lorong itu bisa dimasuki sebuah mobil?"
" Iya kurasa bisa"
" Maka kalian bisa mengirimkannya lewat sana, kalau kita lihat polisi meghadang kalian tepat diantara lorong itu disamping kanan dan sungai di samping kiri. Mereka memang berniat menjebak kalian" ujar Tabitha menyilangkan tanganya.
" Ya Tuhan, kenapa aku tak memikirkan nya?" Brian tersenyum lembut dengan penuturan yang diberikan Tabitha.
" Sudahlah, aku kesini untuk mengatakan kalian tidak ingin makan siang?"
" Ya, kami akan turun. Kau duluan saja" kini Arthur membuka suaranya dan berjalan menghampiri istrinya.
" Kau memang istriku"
" Siapa bilang aku istri Brian, Bodoh!"
Tabitha berjalan dengan kesal karena celetukkan Arthur yang dinilai tidak memiliki otak. Sedangkan Arthur ia hanya tersenyum simpul menanggapi istrinya itu.
" Kita berdua akan mengawasi pengiriman malam ini. Tapi dengan jarak yang aman"
" Pasti boss"
" Bagaimana dengan kau dan Diana?"
" Dia gadis yang baik"
" Semoga kau menyukainya Brian"
" Hei, kenapa berkata begitu?"
" Aku tak ingin asistenku terus melajang hingga dia mati nanti" ucap Arthur menepuk pundak Brian dan pergi dari ruang kerjanya. Meninggalkan Brian dengan umpatan kesal yang masih dilontarkan pria itu pada boss nya.
🔫🔫🔫
" Iya, kau tau wajahnya sangat menyedihkan saat aku meminta izin agar Kitty dirawat olehku. Antara ikhlas dan tidak ikhlas hahaha" Tabitha terkekeh geli namun ia menghentikan tawanya saat melihat perubahan raut wajah dua orang dihadapanya.
" Ada apa?" Tanya Tabitha sembari meminum teh nya.
" Kau membicarakan ku wife" Tabitha tersentak saat merasa bisikan di telinga kanan nya, ia segera menolehkan kepalanya.
" A-Arthur..."
" Ya?" Ucap pria itu dengan alis kanan nya yang terangkat.
" Kau mendengarnya?"
" Kami pergi dulu" pamit Madam Rose dengan menarik lengan Diana.
Tabitha merasa sangat gugup saat Arthur menatapnya seakan-akan hendak memakannya. Wanita utu menelan salivanya sembari menatap mata biru cerah Arthur.
" Apa yang sudah kau beberkan pada mereka?"
" Katakan Ta" ujar Arthur lembut namun serat akan makna.
" Aku hanya mengatakan kau alergi bulu kucing, itu saja" wanita itu menunduk takut.
" Ayo ikut aku"
" Kemana?"
Arthur tidak menjawab ucapan Tabitha, ia menarik Tabitha ke ruang kerja Arthur. Saat tepat ditengah ruang kerja Arthur. Pria itu berjalan kearah rak buku, ia mengambil sebuah buku dan menekan sesuatu hingga sebuah dinding bergerak menunjukkan sebuah pintu baja dengan alat fingerprint disamping kanannya lalu setelah Arthur menempelkan ibu jarinya pintu itu pun terbuka menampilkan ruangan yang bernuansa hitam pekat.
Tabitha mendekati ruangan itu dimana Arthur sudah ada didalamnya dengan segan wanita itu berjalan mendekati pria nya.
" Tempat apa ini?"
" Ada sesuatu yang ingin aku beritahu"
" Apa?"
Arthur menarik lengan Tabitha pelan dan menutup mata nya dengan satu tanganya serta menggiring wanita itu menuju salah satu ruangan ditempat tersembunyi itu.
" Berjanjilah, setelah aku mengatakan yang sebenarnya kau tidak akan meninggalkanku"
" Ada apa ini Arthur" suaranya mulai bergetar saat Arthur mengatakan hal itu.
" Kau akan tau siapa aku sebenarnya" dengan gerakan lambat pria itu membuka mata Tabitha. Wanita itu mengerjapkan pelan matanya menyesuaikan matanya dengan cahaya yang merasuki matanya.
Hal pertama yang ia lihat adalah etalase yang berbaris rapih menutupi dinding dengan berbagai macam pistol didalamnya. Tabitha membatu ia terkejut dengan pemandangan yang ia lihat sekarang sedangkan Arthur, pria itu mendekati istrinya.
" Kemarilah" pinta Arthur mengulurkan tangannya namun tak disambut oleh Tabitha wanita itu terlalu terkejut dengan apa yang dilihatnya. Arthur menarik pelan tangan Tabitha hingga memasuki ruangan yang penuh dengan pistol dan senapan disana, sesekali mata bermanik hazelnut itu melihat granat yang tersusun rapih bagai tak terjamah oleh siapapun.
" Ruangan apa ini?"
Arthur menghembuskan nafasnya lembut saat Tabitha menanyakan hal yang sudah diduganya. Pria itu tetap menuntun Tabitha berjalan kearah sebuah etalase yang terpisah diujung ruang itu.
" Kau lihat pistol ini?" Ucap Arthur sembari mengeluarkan pistol yang dimaksudnya.
__ADS_1
" Apa itu?"
" Ini Dessert Eagle dan peluru ini" Arthur menjeda ucapanya serta mengambil dua peluru disamping pistol tersebut.
" Peluru inilah yang menancap tepat dijantung kedua orang tuaku, mereka mati karena pistol ini. Dan anehnya aku juga menyukai pistol ini" Arthur menundukkan wajahnya lalu menarik nafasnya dalam menetralisir rasa sesak yang menghimpit dadanya.
" Gila seorang anak berumur 8 tahun mengambil sumpah untuk membunuh orang yang sudah melenyapkan kedua orang tuannya dengan pistol dan peluru yang sama."
" Dan anak itu adalah aku" Tabitha membeku saat Arthur mulai menjelaskan siapa dirinya, lidahnya kelu tak bisa berucap yang bisa ia lakukan adalah mendengarkan apapun yang dikatakan oleh suaminya.
" Tiba-tiba paman Sam datang saat umurku 16 tahun, aku dibawa ke Italy dengan alasan akan liburan. Tapi bohong semua itu tidak benar, aku dibawa olehnya kesebuah gedung bawah tanah yang sangat menggangguku karena tatapan tidak suka dari orang-orang didalamnya"
" Aku dibawa kesebuah ruangan gelap dan mereka mulai memberitahuku bahwa yang membunuh orang tuaku adalah seorang mafia yang menjadi rival daddy ku. Aku terkejut saat paman Sam berkata tentang mafia, karena jujur daddy tak pernah terlihat seperti seorang mafia dimataku dia menjadi seorang pahlawan untukku"
" Aku mendengar apapun yang dikatakan paman Sam dan terakhir dia mengatakan bahwa aku harus jadi penerus daddy ku, seorang pemimpin bukan dalam sebuah kelompok suci yang tak mengenal dosa, namun aku malah sebaliknya. Aku adalah pemimpin dari Regnarok"
" Sebenarnya apa itu Regnarok?" Wanita itu mulai berani mengungkapkan pertanyaan nya pada pria dihadapanya.
" Gembong mafia terbesar di Italy bahkan Eropa" Tabitha menganga saat mendengar penuturan Arthur, wanita itu bahkan sudah mundur beberapa langkah menjauhi Arthur.
" Sebenarnya niatku saat masuk Regnarok hanya satu, yaitu membunuh pelaku yang melenyapkan orang tuaku. Dan itu berhasil kucapai sesuai dengan sumpahku. Namun aku merasa Regnarok adalah hidupku, dan ini adalah peninggalan daddy ku. Maka aku harus menjalankannya"
" Kau seorang Mafia?"
" Ya, aku Mafia kelas kakap, suami mu ini adalah pria penuh dengan dosa. Maafkan aku selama ini menyeretmu dalam pusaran kegelapan yang telah aku bawa" Arthur mendekati Tabitha yang terlihat masih shock.
" A-aku ta_"
" Kau sudah janji padaku Ta, kau tak akan meninggalkanku. Ku mohon setelah kepergian kedua orang tuaku, kau hadir ditengah-tengah dunia gelapku. Aku membutuhkanmu untuk hidup Ta, tolong jangan tatap aku dengan tatapan kebencian seperti itu" ujar Arthur terdengar lirih.
" Kenapa" Arthur mengernyitkan dahinya saat mendengar pertanyaan Tabitha.
" Kenapa Baru sekarang kau mengatakannya?"
" Aku terlalu mencintaimu hingga takut kau pergi disaat ku mengatakan hal yang sebenarnya." Arthur membalikkan tubuhnya tak tahan dengan tatapan yang diberikan oleh istrinya.
" Kau tau, dalam dunia ini aku benci kebohongan."
" Tapi aku tak yakin bisa membencimu" lanjut Tabitha memeluk Arthur dari belakang.
Arthur tersentak saat wanita itu menubruk kan badannya yang mungil ke punggung keras miliknya, pria itu langsung memutar tubuhnya menatap manik istrinya yang sudah berair.
" Kau tau, aku takut saat kau mengatakan bahwa kau adalah mafia kelas kakap, aku takut sekali. Tapi aku tak bisa membohongi diriku sendiri. Aku terlalu mencintaimu sampai aku tak bisa menemukan jalan untuk membencimu" Wanita itu menenggelamkan wajahnya ke dada bidang Arthur, sedangkan Arthur ia tersenyum saat istrinya mau menerimanya.
" Terimakasih"
" Untuk"
" Karena kau sudah mau menerimaku"
Tabitha melepaskan pelukannya menatap manik biru terang yang dimiliki suaminya.
" Mengapa kau menyimpan banyak sekali senjata disini?"
" Ini semua adalah senjata pribadiku, sedangkan yang Brian dan kau gunakan adalah senjata dari markas Regnarok"
" God, jadi kau menyimpan senjata lain?"
" Ya"
" Kau menyesal masuk ke dunia gelap?"
" Tidak"
" Kenapa?"
" Karena dari sana aku dilatih untuk menjadi seorang pemenang dan aku suka itu" ucap Arthur menaikkan satu alisnya dan tersenyum miring.
" Sudahlah"
" Boleh aku memelukmu lagi Mr. Sweet Mafia?"
" Sure Madam" Arthur terkekeh geli saat istrinya menyebutnya dengan sebutan itu, pun dengan Tabitha yang tersenyum bahagia dipelukan Arthur namun.
" Arthur o-ops maaf" Brian masuk dan langsung menutup matanya. Sedangkan Tabitha ia melepaskan pelukan Arthur dengan segera.
" Ku pikir kau sendirian boss"
" Hentikan Brian, ada apa kau kemari?"
" Emm, sebenarnya aku ingin mengajakmu melakukan rencana kita tadi siang, kau lupa?"
" Tidak"
" Yasudah, bisa kita lakukan sekarang klien terus menerus menelponku"
" Oke, kau keluarlah siapkan segalanya" Brian mengangguk patuh dengan perintah yang diberikan Arthur.
" Aku akan pergi" pria itu sudah menuntun istrinya keluar dari ruangan penuh senjata itu dan mendudukan istrinya ke kursi kebesaran nya.
" Kemana?"
" Mengirim barang"
" Pulang jam?"
" Aku tak tau, jangan menungguku. Aku tak ingin istriku memiliki kantung mata di pagi hari."
" Baiklah"
Arthur mengambil Coat miliknya dan berdiri tepar dihadapan Tabitha sekarang.
" Aku mencintaimu" ucap Arthur dengan senyuman manisnya.
" Aku tau"
" Aku pergi" pamit Arthur mencium puncak kepala istrinya.
" Take care husband" wanita itu tersenyum melepas suaminya itu. Ia pun bergegas ke lantai bawah untuk makan malam.
To Be Continue...
Vote Pleaseee🙏🙏
Tabitha De Lavega
__ADS_1
Arthur De Lavega