MY HUSBAND CEO IS MAFIA

MY HUSBAND CEO IS MAFIA
MHM 2.5: MISSION


__ADS_3

Arthur berjalan kearah mobil sport miliknya, pria itu dengan tenang menghidupkan mesin mobil dan menjalankan kendaraan itu. Arthur bergegas untuk ke markas Regnarok untuk bertemu dengan Brian,  Menyiapkan segala keperluan untuk jalannya misi.


Sekitar lima menit Arthur mengendarai mobilnya, akhirnya ia pun sampai pada tujuannya pria itu memasuki markas dengan meninggalkan sidik jarinya ke mesin fingerprint.


" Arthur"


" Sudah kau siapkan semuanya?"


" Ya, rompi anti peluru, senapan, dan dua pistol beserta pelurunya di masing masing saku celana"


" Granat?"


" Ah, ya aku lupa" ucap Brian lalu bergegas mengambil pesanan Arthur.


" Berapa?" Tanya Brian.


" Tiga"


" Oke" Brian menyimpan granat itu ke saku di dalam rompi anti peluru Arthur.


" Masukkan semua itu, lalu kita pergi ke Italy"


" Siap"


Arthur mengambil cerutunya, menghidupkannya lalu menyesap dan menghembuskan pelan ke udara. Tak lama suara bising helikopter mengganggu telinga Arthur. Pria itu mematikan cerutunya lalu berjalan mendekati helikopter yang sudah mendarat tepat di hadapannya.


" Alexander"


" Ya, boss. Semua sudah kupersiapkan, aku juga sudah mengurus duplikatmu"


" Bagus"


" Duplikat apa?" Tanya Brian yang baru saja bergabung.


" Boss, meminta aku untuk membuat topeng wajah yang mirip dengannya, untuk dipakai oleh salah satu mafioso."


" Untuk?" Tanya Brian masih penasaran.


" Agar musuh mengira boss masih berada di New York"


" Tak kusangka kau sangat cerdas Alexander. Aku bangga padamu" ucap Brian menepuk pelan bahu Alexander. Lalu Arthur berdehem pelan.


" Emm, sebenarnya ini semua adalah ide dari boss Brian"


" Oh, jadi ini idemu Arthur, buruk sekali" sindir Brian.


" Dasar penjilat!" Desis Arthur lalu menaiki Helikopternya.


" Sebenarnya aku sudah bosan bekerja dengannya kau tau? Tapi aku sangat menghormati sahabatku" ucap Brian diikuti anggukan Alexander.


" Baiklah aku pergi dulu" pamit Brian lalu mengikuti Arthur. Pria itu pun memasuki helikopter namun tetap Arthur lah yang mengendarainya. Brian hanya diam sesekali terkekeh geli dengan wajah Arthur yang dinilai terlampau tegang.


" Kenapa?" Tanya Arthur merasa risih dengan kekehan Brian.


" Tidak"


" Dasar bodoh!"


" Bisakah kau tidak mengumpat terus Arrhur?"


" Lalu bisakah kau hentikan tawa konyol mu Brian?"


" Baiklah"


" Bagus. Lebih baik kau diam saja"


" Iya, aku akan diam"


" Itu kau bicara"


" Aku hanya menjawab ucapanmu"


" Itu artinya kau bicara"


" Sudah hentikan Arthur. Perdebatan macam apa ini!" Ucap Brian kesal. Sedangkan Arthur masih dalam mode datarnya.


🔫🔫🔫


Arthur menginjakkan kakinya ke tanah kelahiran pria itu. Arthur membenahi pakaiannya lalu berjalan memasuki markas besar Regnarok. Pria itu meninggalkan Brian yang tengah mengumpat kesal. Pasalnya Brian disuruh untuk mengangkut semua barang bawaan Arthur.


Arthur memasuki Markas dan berjalan kearah Matthew


" Matt"


" Ya, boss"


" Sudah kau teliti tempat itu?"


" Ya, ada di Venesia boss. Kau lihat titik ini" ucap Matthew menunjuk titik merah di komputernya.


" Ini adalah rumah keluarga Pattison"


" Jadi itu adalah alamat yang dikirimkan oleh pemerintah Amerika?"


" Ya boss, selama ini keluarga Pattison memang mengcover rumahnya sebagai hunian untuk para turis dan merubah hak milik tanah itu dengan nama lain. Sehingga pemerintah Italy cukup kesulitan untuk mencari tau dimana tempat tinggal keluarga Pattison"


" Bagaimana pemerintah Amerika mengetahuinya"


" Mereka membayar intel untun mencari tau dimana Jack berada. Dan lokasi inilah yang ditemukannya"


" Kau akan diam disini Matt, aku dan Brian yang akan kesana"


" Baik"


" Siapkan kamarku dulu, aku ingin tidur sebelum nanti malam membobol rumah itu"


" Sesuai perintahmu boss"


Arthur hanya tersenyum simpul lalu menatap titik merah di komputer Matthew. Ia agak curiga saat melihat sebuah keanehan didekat rumah itu. Arthur men zoom gambar didepannya dan melihat sebuah gudang tua didekat rumah itu. Dan entah mengapa Arthur merasa ada yang aneh dengan gudang tersebut.


🔫🔫🔫


Italy 09.00 PM

__ADS_1


Arthur memakai rompi anti pelurunya, memasang beberapa peluru kedalam saku celana disamping kanan dan kirinya. Tak lupa Arthur menggantung tiga granat di ikat pinggangnya untuk berjaga-jaga.


Hal yang sama pun dilakukan Brian, namun Brian hanya menyimpan sebuah senapan dan pisau lipat yang ia simpan di saku celananya. Setelah dirasa siap. Arthur segera menaiki mobil yang akan menuju ke Venesia, tujuannya yaitu rumah keluarga Pattison.


Arthur memasang earphone di telinga kanan nya dan mulai menghubungi seseorang.


" Hallo"


" Kau dimana?"


" Di Italy"


" Kau sudah sampai sejak kapan?"


" Tadi sore"


" Kenapa baru menghubungiku sekarang?"


" Aku sibuk"


" Alasan"


" Maaf"


" Baiklah, kau sedang apa?"


" Duduk di dalam mobil"


" Kau hendak pergi?"


" Ya, bagaimana mansion?"


" Baik, semuanya aman. Dan kau tau Alexander mengawalku beberapa jam ini dan itu cukup memmbuatku sesak"


" Itu demi kebaikanmu Ta" ucap Arthur pada seseorang diseberang telepon, Tabitha.


" Ya, memang"


" Berikan salam dari Brian untuk Diana" ucap Arthur yang dihadiahi tatapan membunuh dari Brian.


" Akan ku beritahu"


" Baiklah, aku akan sampai, jadi kita akhiri dulu"


" Baiklah"


" Ada yang ingin kau sampaikan?"


" Ku pikir kau yang akan mengatakannya"


" Memangnya apa yang ingin kau dengar?"


" Kau yakin tak mengerti?"


" Ya"


" Dasar!" Desis Tabitha tajam.


" Maaf"


" Sepertinya kau merona boss"


" Diamlah!"


" Sial, aku kena lagi"


" Kau terlalu banyak bicara Brian!"


" Ya kau benar"


Brian menolehkan kepalanya ke kaca mobil menikmati pemandangan yang tersaji apik dari Kota Venesia.


" Boss, kita sudah sampai"


" Baiklah"


Tanpa banyak bicara Arthur menurunkan tubuhnya dan berjalan mendekati rumah yang tampak lama namun masih terawat dengan baik. Brian menyusul dan berdiri berdampingan dengan Arthur.


" Kita masuk sekarang?"


Arthur tak menjawab ucapan Brian, ia lebih tertarik untuk berjalan kearah pintu utama di rumah tersebut. Arthur memegang knop pintunya, lalu memutarnya perlahan. Tapi pintunya tidak terkunci dan langsung terbuka menyajikan rumah yang sedikit berantakan.


" Kita berpencar apapun yang kau temukan laporkan padaku" ucap Arthur mengomandoi.


" Oke" Brian bergegas memasuki sebuah kamar. Arthur berjalan kesebuah kamar yang tertata lebih rapih.


Arthur menyibakkan kain putih yang menutupi bebrapa barang yang berada dikamar itu. Arthur melihat sebuah ukiran nama 'J&A'. Arthur menerka maksud dari ukiran itu. Dan ia pun mendekati ukiran itu yang ternyata adalah sebuah kotak yang tertanam di dinding.


Arthur mengelap sedikit kotak itu dan ia mencoba untuk mengambil kotak itu dari dinding. Arthur berusaha mengeluarkan kotak itu dan ia pun berhasil mengambilnya. Dengan gerakan cepat Arthur menghubungi Brian, menguruhnya untuk segera mendatangi Arthur dan tak lama Brian pun datang.


" Kau menemukan kotak?"


" Ya, ini sangat aneh, aku menemukan ukiran ini" ucap Arthur menunjuk ukiran di tengah kotak tersebut.


" Kotaknya digembok"


" Dan ini sudah berkarat. Sulit kita membukanya" lanjut Brian.


" Tak sulit jika kita menembaknya" ucap Arthur diakhiri dengan tembakan di gembok tersebut dan sedetik kemudian gembok itupun terbuka.


" Arthur kau memang cerdas"


Arthur tak membalas ucapan Brian. Ia lebih memilih untuk membuka kotak itu dan menemukan sebuah hologram mini disana.


" Hologram nya disandi"


" Kita bisa meretasnya" ucap Arthur lalu menghubungi Matthew.


" Ya boss?"


" Matt, aku ada masalah"


" Katakan boss"

__ADS_1


" Aku menemukan sebuah hologram mini tapi itu tersandi"


" Bisa kau kirimkan datanya padaku boss?"


" Tunggu"


" Bisakah kau ambilkan komputernya di mobil Brian?" Ucap Arthur dan Brian pun mengganggukan kepalanya lalu bergegas menuju mobil Arthur.


Tak lama Brian pun datang, ia membawa komputernya dan mengirimkan data-data di dalam hologram itu.


" Sudah kukirimkan"


" Bagus" ucap Arthur menyambut ucapan Brian.


" Kau bisa mengerjakannya sekarang Matthew"


" Tentu Sir"


" Bagaimana?"


" Tunggu boss, sandi nya agak rumit tapi aku akan menyelesaikannya"


" Bagus"


Arthur menunggu hampir 10 menit dan akhirnya suara Matthew kembali terdengar.


" Boss, kau bisa mencoba untuk menggunakan hologramnya"


" Baiklah" ucap Arthur dan mulai menyusun hologramnya.


" Kau memang berbakat Matthew."


" Terimakasih boss"


" Baiklah nanti kuhubungi lagi"


Arthur segera menekan tombol aktif di hologramnya. Dan tak lama sebuah tayangan terpampang di layar hologram.


" Jack Pattison" lirih Brian.


" Banyak negara menginginkan untuk melanjutkan misi ini. Dan jika itu terjadi peperangan antar negara tak akan bisa terelakkan. Atas dasar janji aku memanipulasi semua kejadian yang terjadi. Aku tidak membawa disk itu dan aku pun tak membawa nuklir itu. Aku hanya memberikan drama itu agar perhartian negara terpacu padaku. Sengaja ku beberkan semua ini agar aku bisa tenang dan kuharap siapapun yang menemukan rekaman ini bisa menjaga rahasianya agar negara-negara tidak saling bermusuhan dan saling memperebutkan disk itu"


" Aku sama sekali tidak membawa nuklir itu ke negara ku. Alessandro sendiri lah yang membawa nuklir itu ke Italy, karena aku dan Alessandro memang sepakat tidak membicarakan masalah peletakkan nuklir pada Sean dan Henry. Alessandro sebenarnya sudah mengetahui kebusakan dua orang itu. Ia pun bergegas untuk menyembunyikan dua nuklir itu salah satunya memang ke Italy. Ia percaya bahwa aku bisa menjaga nuklir itu. Tapi dia pun tidak memberitahuku. Saat detik-detik kematian Alessandro, ia membuatku terikat janji untuk memanipulasi keadaan oleh karena itu aku melakukan drama ini."


Arthur dan Brian masih setia menatap layar hologram didepanya. Kening mereka berkerut menunjukkan keingintahuan yang tinggi.


" Sebenarnya disk itu masih tetap berada ditangan pemiliknya yang sah. Masih aman bersama dengan pemiliknya. Dan ia pun menyandi ruangan dimana tempat disk itu disimpan. Aku selalu menanyakan apa sandi nya. Tapi Alessandro hanya mengatakan bahwa yang berhak lah kuncinya. Sampai sekarang aku pun tak tahu apa sandi ruangan itu. Aku sudah membeberkan semuanya. Sekarang masa depan ada digenggaman anda sebagai orang yang menemukan rekaman ini"


Lalu layar hologram itu pun mati. Arthur menolehkan kepalanya berhadapan dengan Brian. Pria itu mengetatkan rahangnya.


" Sial, kita ditipu"


" Arthur, lihat sisi baiknya. Setidaknya kita sudah tau bahwa disk itu masih bersama Alessandro. Yang artinya mungkin saja disimpan di lab Alessandro. Kita tinggal meminta dimana tempat lab Alessandro pada Amerika."


Arthur melihat memeperhatikan kotak itu, dan matanya menangkap sebuah benda kecil yang seperti kunci, Arthur mengambil kunci itu dan mengangkatnya ke udara.


" Kunci?"


" Apa itu, mengapa sangat kecil?" Tanya Brian.


" Aku tak tau"


" Kita bawa saja, barangkali penting"


Arthur menggangguk lemah. Lalu pria itu teringat dengan kejanggalan gudang di samping rumah Jack Pattison.  Arthur berlari kearah luar rumah. Dan segera memasuki gudang disamping rumah. Ia segera mengedarkan matanya menerka kejanggalan apa yang ada di gudang itu.


Manik biru terang milik Arthur menemukan sebuah peti mati ditengah-tengah gudang itu. Arthur segera menghampiri peti itu dan menelan salivanya kasar. Arthur melihat ukiran nama Jack Pattison disana. Mungkinkah ini peti mati pria itu?


Arthur segera membuka peti mati dihadapanya. Dan terpampanglah sisa tulang berulang disana. Arthur berdecak kesal.


" BRIAN!" teriak Arthur lantang.


" Apa boss, what the hell!" Umpat Brin kala mendapati sebuah peti mati plus dengan sisa tengkorak manusia disana.


" Siapa dia Arthur?" Tanya Brian.


" Jack Pattison"


" Apa!"


" Lihat ukiran itu" seru Arthur menunjuk ukiran di peti mati Jack.


" Siapa bedebah yang melakukan ini?"


Desis Brian tajam. Pasalnya walaupun ia seorang mafia, ia tak pernah memperlakukan mayat korbanya sekejam ini.


" Brian ini" ujar Arthur mengambil jam tangan di dalam peti mati itu.


" Mungkinkah itu jam tangan si pelaku?"


" Mungkin"


" Kita bawa"


" Tapi_"


" Jangan mendebatku. Segera kita pulang ke Roma. Lalu kita hubungi pemerintah Amerika."


" Baiklah"


To Be Continue...


Vote Please... Please...


Bantuan Vote amat dibutuhkan...


Selamat menunaikan ibadah puasa...



Arthur De Lavega


__ADS_1


Tabitha De Lavega


__ADS_2