
Arthur dengan gagahnya mempresentasikan gagasannya mengenai resort mewah dihadapan klien pentingnya dari tiga negara. Ya, pria itu berencana untuk membangun resort mewah di tiga negara, itu adalah salah satu keinginannya.
Para klien menatap Arthur dengan tatapan takjub, mereka kagum dengan gagasan yang Arthur berikan, mereka tertarik dengan proyek yang Arthur ajukan.
" Kita bisa membantu orang lain, dengan memberikan setengah keuntungan kita untuk Unicef dan daerah-daerah tertinggal di dunia" ujar Arthur sembari memasukkan tangan kanannya ke saku celananya.
" Mr. De Lavega bukanya itu malah mengurangi keuntungan kita?"
" Tentu, tapi itu hanya awalan saja, karena setelah kita memberikan donasi kita akan dipandang oleh banyak orang di dunia. Dan mereka pasti tertarik dengan resort kita"
" Maksudmu kita gunakan jalur donasi untuk mendobrak kesuksesan resort ini?"
" Ya kau benar"
" Ku rasa itu bagus Mr. De Lavega"
" Terimakasih"
" Jadi bagaimana apa kalian bersedia menerima ajakanku?" Tanya Arthur lalu tak lama ponsel Arthur berdering. Pria itu mengabaikannya ia menunggu keputusan dari klien nya.
" Mr. De Lavega ponselmu berdering"
" Ah, mungkin tidak penting"
" Baiklah, jadi keputusan kami_"
Ucapan salah satu klien Arthur terpotong karena ponsel Arthur yang kembali berdering. Arthur berdecak ia meraih ponsel dan melihat siapa yang menelponnya, Tabitha.
" Maaf, istriku menelpon"
" Silahkan"
" Terimakasih"
Arthur keluar dari ruang rapat, lalu ia pun mengangkat telpon istrinya itu. Ia hendak memperingati Tabitha, namun suara cemas istrinya membuat ia ikut cemas juga.
" Ta, ada apa?"
" Arthur pulanglah" Suara Tabitha terdengar serak seperti menangis.
" Kau menangis?"
" Ku mohon pulanglah sekarang Arthur"
" Ada apa? Katakan"
" Aku ingin kau pulang jika tidak..."
" Jika tidak apa?"
" Pokoknya kau pulang sekarang!"
" Baiklah aku pulang"
Arthur menutup sambungan teleponnya, ia segera memasuki ruang rapat itu dan menarik Brian untuk berdiri.
" Maafkan aku, aku ada urusan sangat penting, tapi masalah ini aku percayakan pada asistenku"
" Ada apa Mr. De Lavega?"
" Istriku memintaku pulang, sekali lagi maafkan aku"
" Tidak papa Mr. De Lavega kami mengerti"
" Terimakasih"
" Kupercayakan proyek ini padamu Brian" ucap Arthur menepuk bahu Brian pelan.
" Baiklah" Brian menyahuti Arthur dan dengan cepat Arthur keluar dari ruang rapat dan memasuki mobil nya yang sudah siap melaju membelah jalanan padat New York.
Saat sampai Arthur sangat khawatir ia mengambil langkah labar memasuki mansion. Saat sampai diruang tengah ia melihat punggung Tabitha bergetar. Arthur semakin kalut ia mendekati istrinya. Dan menepuk pelan bahu sang istri dan Tabitha pun mendongakkan kepalanya.
Arthur semakin khawatir saat melihat wajah Tabitha yang tergenang air mata, pria itu langsung memutari sofa dan langsung disambut pelukan erat dari Tabitha, bahkan Arthur belum meletakkan tas kerjanya.
Arthur membalas pelukan Tabitha, ia meletakkan tasnya ke meja, dan mengelus pelan puncak kepala sang istri lembut.
" Ssstt, ada apa?"
" Arthur"
" Ya, kau kenapa?" Ujar Arthur membingkai wajah sang istri.
" Aku_"
" Katakan jangan membuatku khawatir"
" Aku hanya"
" Hanya apa?"
" Merindukanmu" ucap Tabitha membuat Arthur langsung menghela napasnya, ia kira terjadi sesuatu pada istrinya ternyata wanita itu hanya merindukannya. Arthur berdecak kesal.
Ia memberi jarak antara dirinya dan sang istri, ia sedikit kesal Tabitha sangat manja dan ia keterlaluan. Ia sampai meninggalkan rapat penting dengan klien nya.
" Kau hanya merindukanku?"
" Ya" ucap Tabitha bersemangat dengan senyum yang mengembang lebar.
" Ya Tuhan, Tabitha asal kau tau. Aku sampai meninggalkan meeting penting tadi hanya karena aku mendengar suaramu yang terisak. Aku kira terjadi sesuatu yang buruk padamu tapi kau hanya merindukanku? Itu sangat sepele sekali Tabitha." Arthur berdiri dan menghadap Tabitha seketika senyum lebar wanita itu hilang.
" Maaf" lirih Tabitha menunduk.
" Kau tau, meeting itu sangat penting untukku. Itu salah satu proyek terbesar yang ingin sekali aku wujudkan. Dan aku harus meninggalkannya karena hal sepele ini? Kau berlebihan Tabitha"
Tabitha semakin menunduk ia terisak. Arthur berdiri dari duduknya, ia menyugar rambutnya dan berjalan mondar mandir memarahi Tabitha persis seorang guru yang memarahi muridnya. Sedangkan Tabitha masih saja terisak.
__ADS_1
" Aku tau kau sedang hamil, tapi apa kau tau. Kau sedikit merepotkanku" ujar Arthur tanpa sadar, dan Tabitha menengadahkan wajahnya menatap Arthur.
" Aku sampai meminta Alexander untuk cepat-cepat sampai ke sini, aku sangat cemas mendengar suaramu. Kau tau jantungku rasanya berhenti, dan ternyata kau hanya merindukanku? Kau berlebihan Ta"
" Sekali lagi maafkan aku Arthur, aku juga tak mengerti kenapa sangat ingin berdekatan terus denganmu. Maaf jika memang aku merepotkanmu" lirih Tabitha.
Arthur seakan baru tersadar, pria itu membalikkan tubuhnya dan menatap sang istri yang sudah menumpahkan tangisannya. Arthur segera berjongkok untuk lebih jelas melihat wajah Tabitha, ia nyeri saat menyadari setiap ucapannya. Ia salah.
" Ta, bukan begitu. Sungguh aku_"
" Tidak, kau benar aku memang berlebihan dan merepotkan"
" Tabitha jangan bicara begitu, aku tidak keberatan direpotkan olehmu"
" Arthur kau tak salah, aku yang salah. Sekali lagi maafkan aku, aku sudah menahannya tapi aku tak bisa rasanya aku ingin selalu berada didekatmu tapi jika itu membuatmu kerepotan aku minta maaf"
Arthur mengangkat wajah Tabitha agar menatap manik matanya. Ia sadar segala ucapanya sekali lagi menyakiti hati wanita dihadapannya.
" Jangan berkata begitu, aku tak sadar saat mengatakannya tadi"
" Arthur, terkadang ucapan dari alam bawah sadar adalah kejujuran, aku tau kau kerepotan. Maaf"
" Tabitha ku mohon hentikan, aku sangat menyesal."
" Hei, kau tak salah ini sepenuhnya salahku. Tak seharusnya aku mengganggumu saat bekerja"
" Tidak kau salah paham"
" Sungguh Arthur aku tau maksudmu, pergilah aku sudah lebih baik. Kau harus menemui klien mu kan? Aku tak apa"
" Tidak"
" Arthur jangan begini, pergilah dan aku akan mencoba untuk menahannya. Aku pasti bisa"
" Tabitha"
" Pergilah Arthur, jangan sampai klien mu pergi"
" Tidak sudah ada Brian"
" Sekali lagi maafkan aku karena merepotkanmu, aku minta maaf jika di masa kehamilanku selalu menyusahkanmu. Sungguh, aku benar-benar minta maaf. Kau tau rasanya saat aku jauh darimu aku merasa aku sendiri dan aku selalu merasa takut saat berjauhan denganmu. Dan aku juga tak tau apa ini memang karena aku yang parno atau memang efek bayinya sungguh tapi jika itu mengganggumu aku akan mencoba untuk menahannya mhpp_"
Arthur membungkam bibir Tabitha dengan bibirnya. Ia gemas dengan sang istri yang bicara panjang seakan tidak bernapas.
" Kau banyak bicara wife" ujar Arthur saat melepas bibirnya dan membelai ujung bibir Tabitha dengan ibu jarinya.
Tabitha sontak melebarkan matanya, ia shock saat Arthur menciumnya. Ia menempelkan jari telunjuknya pada bibir bawah yang sempat Arthur gigit gemas.
" Aku hanya sedikit terobsesi pada proyek itu, hanya itu sungguh kata-kata tadi seakan keluar begitu saja. Sekali lagi maafkan aku"
"..."
" Tabitha?" Ujar Arthur menepuk pelan pipi Tabitha.
" Ya?"
" Tidak" Tabitha merasa pipinya memerah, ia merona sekarang.
" Kenapa diam?"
" Tidak papa"
" Baiklah, kau merindukanku kan? Sekarang kau ingin memelukku?"
" Ya"
" Baiklah"
Arthur mendudukan tubuhnya disamping tubuh sang istri, ia kemudian merangkul tubuh Tabitha dan memasukkannya kedalam dekapan Arthur. Tabitha menyenderkan kepalanya dengan nyaman didada bidang Arthur, ia bingung tadi dia merasa sedih tapi kenapa sekarang ia merasa sangat bahagia. Entahlah ia hanya ingin menikmati semuanya.
" Kau sudah makan siang?"
" Belum"
" Baiklah, aku akan memasakanya."
" Kau yakin?"
" Ya"
Arthur menuntun Tabitha dan menggenggam tangan kanan wanita itu mendudukanya di meja pantry. Tabitha mengayunkan kakinya perlahan sambil menikmati pemandangan sang suami yang sibuk berkutat dengan berbagai peralatan dapur bahkan pria itu belum melepaskan jas nya.
" Bisa kau lepaskan jas itu?"
" Aku tak bisa"
" Kenapa?"
" Kau tak lihat aku sedang apa?" Ujar Arthur sembari menunjukkan pekerjaanya yang sedang sibuk memotong bagian-bagian ayam dengan kasar.
" Kau saja yang lepaskan"
" Oke"
Tabitha menuruni meja dengan perlahan wanita itu mendekati Arthur dan berdiri tepat dibelakang pria itu. Ia menarik pelan tubuh Arthur. Arthur yang paham pun menghadap Tabitha dan membiarkan istrinya melepas satu per satu kancing jas miliknya.
" Kenapa kau tak cuci dulu tanganmu, lalu kau lepas sendiri jas nya."
" Salah jika aku bermanja padamu?"
" Kurasa dengan tubuh sebesar ini kau tak pantas berlaku manja Arthur"
" Biarkan aku dipandang sebagai iblis di luar sana, tapi aku tetap suamimu yang perlu perhatian di dekatmu"
" Dari mana kau dapatkan kata-kata seperti itu?" Ucap Tabitha melepas jas Arthur dari tangan kanan dan kirinya lalu melipat jasnya.
__ADS_1
" Entahlah"
" Baiklah, lanjutkan masaknya"
" Kau mau duduk di meja lagi?"
" Ya"
" Okey tunggu"
Arthur mencuci tangannya dengan bersih dan mengangkat tubuh kecil Tabitha keatas meja.
" Kau bisa mencucinya kenapa tidak dari tadi?"
" Aku sudah mengatakan alasanya honey"
" Sinting!"
" Kenapa mood mu berubah-ubah tadi kau menangis lalu merona, dan sekarang kau berubah lagi jadi tukang umpat"
" Arthur!" Tabitha langsung menghadiahi Arthur dengan pukulan kecil di perutnya tapi Arthur tak bergeming sedikitpun malah pria itu memamerkan senyum simpul sebagai balasan.
Arthur kembali sibuk dengan berbagai peralatan dapur pria itu memasakkan Ayam Parmigiana untuk Tabitha, Arthur menyajikan makanannya dihadapan Tabitha. Ia menurunkan tubuh itu dan mendudukannya di kursi makan. Arthur kembali lagi ke pantry untuk mengambil botol whiskey.
" Kau yakin akan memberikan whiskey pada wanita hamil Arthur?" Tanya Tabitha saat melihat Arthur kembali dengan menenteng sebotol whiskey ditangan kanan nya.
" Bukan, ini untukku"
" Oh, ku kira_"
" Aku tak mungkin menyajikan minuman beralkhol untukmu"
" Bagus"
Arthur mendudukan dirinya berhadapan dengan Tabitha, ia membuka botol whiskey itu dan menuangkannya kedalam gelas. Sedangkan Tabitha mulai memakan masakan yang dihidangkan Arthur, rasanya aneh tapi lezat perpaduan antara ayam, spageti dan keju membuat Tabitha sangat bersemangat untuk menghabiskannya.
" Sudah kenyang?" Tanya Arthur saat melihat piring Tabitha yang habis.
" Ini enak"
" Siapa dulu yang masak"
" Kau memang multitalenta Arthur"
" Kau baru tau"
" Hentikan kau sombong lagi"
" Baiklah. Sekarang kau mau apa? Menonton film? Atau keluar mansion?"
" Aku_"
" Tunggu" Arthur berjalan menuju lemari pendingin. Ia mengambil air putih disana untuk menetralkan rasa whiskey yang masih terasa dilidahnya.
Saat ia sedang menenguk minumanya, sebuah lengan kecil melingkari perutnya. Sontak Arthur menghentikan acara minumnya dan meletakkan kembali botol air putih itu ke lemari pendingin.
" Apa yang kau inginkan?"
" Aku_"
" Kau ingin apa? Belanja? Jalan-jalan? Atau berlibur?" Tawar Arthur masih membelakangi Tabitha.
" Bukaaan, aku ingin..."
" Ingin?"
" I want you"
" I don't understand"
" Stupid, I want everything you have!"
" Really?" Tanya Arthur sembari menaikkan satu alisnya ia tak percaya istri kecilnya meminta hal itu. Ia tersenyum miring menanggapi. Ia membalikkan badanya dan menatap wajah Tabitha yang merah padam.
" I don't know but i feel, i'm very want you now" ucap Tabitha cenderung tidak jelas sembari memainkan kancing kemeja Arthur yang teratas. Ia hanya tersenyum penuh arti dan mengecup pelan leher Arthur. Arthur menegang ada apa dengan istrinya yang polos? Kenapa bisa jadi seperti rubah?
" You got it"
Arthur membawa tubuh istrinya menaiki lift dan mereka memasuki kamar. Tabitha segera mendorong tubuh Arthur hingga pria itu berakhir di ranjang.
" Let me to be a dominant in this game, husband"
" As you wish, wife"
Tabitha tersenyum dan ia pun melepas satu persatu kancing kemeja Arthur.
" I don't know what happened to you now. But i'm happy you're like this, very naughty and fierce"
Tabitha hanya tersenyum senang saat Arthur mengatakan itu.
" Maybe because of pregnancy hormones"
Arthur hanya tersenyum dan ia hanya bisa menikmati apa yang dilakukan istrinya. Entahlah apa yang terjadi demgan gadis polosnya. Tapi yang pasti ia menyukai itu.
To Be Continue...
Vote Please...
Monmaap, jan kebawa emosi please...
*Arthur De l**avega*
__ADS_1
Tabitha De Lavega