
Tabitha terbangun setelah aktifitasnya semalam dengan Arthur, bahkan wanita itu masih bergelung dengan selimut yang menutupi tubuh telanjangnya. Ia melirik kearah Arthur yang masih tertidur dengan lengan dibawah kepalanya.
Tabitha sedikit tidak nyaman dengan perutnya, ia merasa perutnya keram. Wanita itu sedikit meringis saat keram diperutnya semakin menjadi-jadi, ia ingin membangunkan Arthur tapi ia urungkan karena takut merepotkan suaminya lagi. Alhasil wanita itu menahanya, ia bahkan sempat meneteskan air matanya karena keram diperutnya yang menyiksa.
Tak lama sebelah ranjang yang Arthur tempati bergerak, Tabitha yang merasakan pergerakan Arthur langsung menutup matanya ia tak ingin Arthur tau rasa sakit yang mendera perutnya.
Arthur terbangun ia melirik kearah Tabitha dengan dahi yang membentuk lipatan, ia yakin terjadi sesuatu dengan istrinya. Arthur menyenderkan tubuhnya di kepala ranjang dan membalikkan tubuh sang istri agar menghadapnya.
Tabitha masih enggan membuka kelopak matanya, ia hanya mengerutkan dahinya bahkan keringat dingin mulai terlihat diwajah cantiknya.
Arthur yang melihat ekpresi istrinya mendadak kalut, sontak ia menepuk pelan pipi Tabitha.
" Ta, ada apa? Apa yang kau rasakan?"
" Ta, hentikan. Aku tau terjadi sesuatu padamu"
Wanita itu menyerah rasa keram diperutnya membuat dia meringis ia pun membuka matanya bertemu dengan manik milik Arthur.
" Aku_"
" Kau kenapa?"
Arthur menjatuhkan tangannya dibantal yang dipakai Tabitha, ia semakin panik saat melihat bantal itu basah karena air mata istrinya Arthur yakin itu. Arthur kalap, pria itu langsung membingkai wajah sang istri dan menatapnya lekat.
" Kau kenapa? Ada apa?"
" Arthur"
" Ya?"
" Perutku keram" lirih Tabitha.
" Kenapa tak membangunkanku?"
" Aku tak mau mengganggu tidurmu"
" Kau ini!" Arthur berdecak kesal dengan pemikiran istrinya itu, bagaimana bisa ia merasa direpotkan jika memang istrinya kesakitan seharusnya dia membangunkanya kan?
Arthur menggelengkan kepalanya berusaha menyingkirkan apapun pikiran yang mengganggunya sekarang yang jadi prioritasnya adalah kesembuhan sang istri. Pria itu bergegas menyibak selimutnya meraih bathrobe dan memakainya.
" Kau pakailah piyama dulu, aku akan menelpon Ryan"
" Arthur, perutku sakit aku tak bisa berjalan ke walk in closet" adu Tabitha dengan raut wajah kesakitan.
Tanpa pikir panjang, Arthur mengambil panties Tabitha dan meraih kemeja yang semalam pria itu gunakan. Dengan cepat Arthur memakaikanya pada tubuh sang istri. Arthur begitu risau dengan mimik wajah Tabitha yang terlihat sangat tersiksa.
" Tunggu sebentar"
Tabitha menjawab Arthur dengan anggukan kecil, ia memejamkan matanya berupaya menahan rasa sakit diperutnya, semoga tak terjadi apa-apa pada bayinya.
Arthur meraih ponselnya dan nenghubungi Ryan.
" Ryan"
" Ya, Arthur ada masalah apa kau menelponku malam-malam begini?"
" Istriku sakit, perutnya mendadak keram. Bisakah kau kemansionku sekarang?"
" Baiklah, aku akan kesana"
Arthur mematikan sambungan teleponnya, ia langsung duduk disamping sang istri dan menenangkannya.
Hampir lima belas menit Arthur menenangkan istrinya, tak lama suara deru mobil terdengar dihalaman mansion. Dan akhirnya dokter Ryan pun datang.
" Arthur" panggil Dokter Ryan diambang pintu.
" Periksalah dia"
Dokter Ryan mengeluarkan alat-alat medisnya, pria dengan setelan jas putih itu mulai memeriksa Tabitha dimulai dengan stetoskopnya dan mulai memeriksa perut wanita itu.
" Apa masih sakit?"
" Ya, sedikit"
" Keram seperti ini tidak terlalu berbahaya bagi ibu hamil, tapi aku akan meresepkan obat pereda nyeri jika keram itu datang lagi"
" Apa itu akan membahayakan bayi nya?"
" Tergantung suamimu"
" Maksudmu?"
" Aku tau terjadi sesuatu denganmu dan Arthur malam ini" bisik Dokter Ryan yang sukses membuat Tabitha merona, sial ia serasa ingin menenggelamkan tubuhnya kelautan yang paling dalam.
" B-bagaimana kau tau?" Cicit Tabitha pelan.
" Lihatlah sekeliling kamar Ta, dan lihat juga kondisimu"
" Jangan menggodanya Ryan" ujar Arthur pelan menelak ucapan Dokter itu.
" Baiklah, maafkan aku"
" Minumlah obat ini, setelah itu mungkin rasa nyeri nya akan cepat hilang"
" Terimakasih"
" Ya, sekarang aku harus berbicara penting dengan suamimu itu" bisik Ryan seraya membereskan alat medisnya.
" Tentang apa?"
" Aktifitas kalian"
Ryan tersenyum penuh arti pada Tabitha yang lagi-lagi mengeluarkan semburat merah dikedua pipinya.
" Aku perlu bicara padamu Arthur"
" Apa?"
" Jangan disini"
" Oke"
Ryan keluar begitupun dengan Arthur, pria itu mengekori Ryan hingga didepan pintu kamar Tabitha ia berhenti.
" Katakan"
" Arthur, sudah kubilang janin istrimu itu masih rentan"
" Lalu?"
" Aku tau kau seperti apa Arthur"
" Seperti apa?"
" Sial! Tak mungkin kau tak mengerti maksudku!"
" Baiklah, lalu apa yang terjadi dengan Tabitha"
" Perutnya keram karena aktifitas kalian semalam, seharusnya kau bisa mengontrol nafsu hewanmu Arthur" sindir Ryan tapi Arthur hanya menampilkan wajah tenang sembari menaikkan satu alisnya.
" Dia sendiri yang memintanya"
" Terserah, berhubung sekarang dia sudah merasa keram. Kau harus mengurangi aktifitas itu beberapa hari kedepan Arthur"
" Apa tak bisa diperpendek?"
" Kau bisa menyewa ****** jika kau tak bisa menahannya"
__ADS_1
" Jaga ucapanmu!"
" Damn! Just kidding, calm down Arthur"
" Whatever"
" Baiklah, intinya kau harus bisa menjaganya lebih ketat"
" Oke"
" Aku pergi"
" Ya"
" Arthur?"
" Ya"
" Dasar pelit bicara!" Rutuk Ryan tak digubris Arthur sama sekali.
Ryan pergi melenggang dari hadapan Arthur, pria itu pun kembali memasuki kamarnya. Ia melirik kearah Tabitha dan mendudukan tubuhnya disamping sang istri.
" Bagaimana?"
" Apanya?"
" Rasanya?"
" Masih sedikit sakit"
" Maaf"
" Kenapa?"
" Karena ku kau jadi begini"
" Aku yang meminta, kau tidak salah"
" Apa kau mau tidur lagi?"
" Ya, kurasa"
" Apa kau sudah meminun obatnya?"
" Ya"
" Baiklah, ayo kita tidur"
Tabitha membalas ucapan Arthur dengan anggukan pelan, saat Arthur sudah merebahkan tubuhnya wanita itu berbaring terlentang menghadap langit kamar Arthur yabg berwarna hitam. Jika diperhatikan kamar Arthur didominasi warna hitam dan jujur Tabitha sedikit tidak nyaman karenanya.
" Ta?"
" Apa?"
" Sudah tidur?"
" Belum"
Arthur memiringkan tubuhnya, pria itu membawa tangan kananya keatas perut Tabitha yang sedikit membuncit, ia pun mengelusnya pelan.
" Jangan nakal didalam sana, kasihan mommy mu"
Arthur menarik kembali tangan nya, sesuatu yang aneh dirasakan Tabitha saat Arthur meletakkan tanganya diperutnya ia merasa sakit diperutnya mereda, sedangkan saat Arthur menarik tanganya sakit itu kembali menyapanya.
Tabitha meraih tangan Arthur dengan kasar dan menempatkannya diatas perutnya. Arthur mengerutkan dahinya saat tiba-tiba Tabitha meraih tangannya.
" Ada apa?"
" Gerakkan Arthur" pinta Tabitha.
" Apanya?"
" Ha?"
" Gerakkan saja" ucap Tabitha yang langsung dikabulkan oleh Arthur.
Tabitha tersenyum dengan hal seperti ini, ia merasa anaknya tak bisa jauh dari ayahnya, tapi tentu itu hanya spekulasinya saja.
" Ada apa?"
" Aneh"
" Aneh kenapa?"
" Saat tanganmu disini" Tabitha menunjuk perutnya yang masih ada tangan kanan Arthur yang bergerak pelan.
" Rasa sakitnya hilang"
" Apa?"
" Ya, kurasa obatnya adalah tanganmu Arthur"
" Jangan bicara sembarangan mungkin itu efek obatnya"
" Tidak aku_"
" Sudah sekarang tidurlah"
" Oke, tapi kau tetap meletakkan tanganmu diperutku"
" Baiklah"
Tabitha memiringkan tubuhnya, Arthur merapatkan tubuhnya dengan Tabitha, ia benar-benar menggerakkan tanganya diatas perut Tabitha sampai wanita itu tidur, dan jujur saja lengannya terasa sakit karena terlalu lama bergerak, bahkan ia tak bisa tidur. Ia hanya tidur setelah Tabitha benar-benar tidur.
🔫🔫🔫
Tabitha menggeliat pelan, matanya langsung tertuju pada lengan seorang pria yang masih menggantung dipinggangnya. Dan telapak tangan besar Arthur masih berada diperut Tabitha.
Tabitha melirik kearah jam yang menunjukkan pukul 8 pagi. Tabitha membalikkan tubuhnya berhadapan dengan Arthur. Ia menatap wajah suaminya yang begitu damai di alam tidurnya, ia iseng mencium kening pria itu tak ada respon hanya saja hidung pria-nya berkedut kecil hal itu membuat Tabitha gemas, ia kembali mencium pipi kiri Arthur dan ternyata tidak ada respon. Wanita itu makin gemas dengan wajah suaminya ia pun mencium hidung mancung milik Arthur namun hal tak terduga terjadi, kepala pria itu sedikit terangkat dan alhasil bibir Tabitha mendarat tepat dibibir Arthur.
Tabitha melebarkan matanya, jantungnya seakan berdetak lebih kencang, tak lama kelopak mata Arthur terbuka perlahan. Manik mereka bertemu tak ada diantara mereka yang berniat memutus kontak mata mereka, Tabitha terlalu terkejut dengan apa yang terjadi.
Arthur sebenarnya sudah bangun saat Tabitha mencium pipi kirinya, pria itu sengaja sedikit mengangkat kepalanya untuk menjebak istri kecilnya itu. Dan ternyata jebakannya berhasil Arthur mengulas senyum tipis. Tabitha mengerjabkan matanya saat menyadari keadaan, ia pun langsung menarik kepalanya menjahui Arthur.
Tabitha merasa pipinya memanas, ia merona lagi sekarang bahkan rona merah itu merambat sampai daun telinganya. Arthur tersenyum miring melihat istrinya yang salah tingkah. Tabitha langsung memasuki kamar mandi.
" ARTHUR KELUAR! TATA LAGI MALES LIAT ARTHUR!" Teriak Tabitha dengan memegang dadanya yang masih berdetak kencang.
" Malas atau kau tak mau terlihat salah tingkah didepanku?"
" ARTHUR KELUAR! MANDI SAJA DIKAMAR TAMU!" Teriak Tabitha kembali membuat Arthur terkekeh geli.
Pria itu berjalan kearah walk in closet, ia mengambil segala keperluannya setelah selesai ia pun keluar dari kamar tapi sebelum itu.
" TERIMAKASIH MORNING KISS NYA SWEETHEART" Teriak Arthur kembali membuat pipi Tabitha memanas.
Arthur masuk kekamar tamu, ia pun langsung bergegas mandi. Setelah selesai Arthur memakai pakaian formalnya, kali ini ia memakai dasinya sendiri. Setelah selesai Arthur kembali kekamar untuk mengambil ponselnya saat pria itu memutar knop pintu terlihat Tabitha tengah memegangi perutnya.
Arthur menghampiri Tabitha dengan gerakan cepat, ia membelai pelan surai istrinya lembut.
" Ada apa?"
" Sakit"
" Lagi?"
" Ya"
__ADS_1
" Bukanya sudah minum obat?"
" Sebenarnya aku tak meminum obat itu semalam"
" Apa!"
" Aku hanya_"
" Apa?"
" Aku takut minum obat Arthur"
" Kenapa?"
" Aku tak mau minum obat itu!"
" Baiklah, dengar kau harus meminumnya agar sakit perutmu hilang"
" Berikan tanganmu"
" Apa?"
" Berikan tanganmu Arthur"
" Tapi untuk ap_"
Ucapan Arthur terpotong saat Tabitha meraih kasar tangan Arthur dan meletakkannya diperut wanita itu.
" Lebih baik"
" Tapi bagaimana bisa?"
" Aku tak tau"
" Ta, aku harus pergi ada meeting penting hari ini"
" Lalu bagaimana denganku?"
" Kau minumlah obat itu terlebih dahulu"
" Tapi obatnya itu tanganmu Arthur"
" Ta, kumohon mengertilah ini rapat penting"
" Baiklah"
" Bagus"
" Ya"
" Aku akan cepat pulang"
" Ya"
Arthur mengecup pelan puncak kepala Tabitha sedangkan wanita itu hanya menampilkan wajah masamnya.
" Arthur"
Arthur menghentikan langkah kakinya saat mendengar panggilan istrinya.
" Kau yakin ingin pergi meninggalkanku?"
" Maaf"
" Pergilah, pergilah pergi!" Usir Tabitha.
" Ta_"
" Tapi ingat, saat kau menginjakkan kakimu keluar dari pintu itu. Lupakan kau memiliki seorang istri yang sedang hamil sekarang"
Arthur membeku ditempatnya, pria itu langsung membalikkan tubuhnya menatap istrinya yang hampir menangis.
" Pergilah"
Arthur berjalan mendekati istrinya dan berdiri dihadapan Tabitha pria itu meraih ponsel di saku jasnya dan mulai menghubungi seseorang.
" Lisa, berapa jadwal meetingku hari ini?"
" Ada tujuh jadwal meeting boss, termasuk dengan klien kita kemarin"
"Â Cancel jadwal meetingku hari ini"
" Tapi boss, klien kita akan pergi besok"
" Besok kan? Artinya kita punya waktu sampai besok Lisa"
" Jadi boss"
" Undurkan"
" Baik"
Arthur memasukkan kembali ponselnya ke saku celana bahan nya, ia menatap Tabitha yang tersenyum bahagia sekarang.
" Aku tak pergi"
" Kau tak ikhlas?"
" Aku ikhlas sungguh"
" Tapi wajahmu begitu"
" Lalu harus bagaimana?"
"Â Senyum"
Arthur tersenyum manis dihadapan istrinya, ia pun mendekati Tabitha dan meletakkan tangan nya diatas perut istrinya.
" Dengarkan Daddy, jangan nakal didalam sana mommy mu kesakitan, kau anak baik kan? Jadi turuti perintah daddy oke"
" Daddy akan memberikan apapun yang kau inginkan asal kau tak membuat mommy mu kesakitan"
" Yes Daddy" balas Tabitha pelan.
Arthur mendonggakkan kepalanya menatap manik coklat Tabitha. Ia pun merundukkan kepalanya dan mencium perut sang istri.
" Terimakasih Arthur"
" Untuk?"
" Karena kau mau menemaniku disini dan mengundurkan jadwal meetingmu"
" Aku bekerja untuk kalian, jadi apapun untuk kalian"
Tabitha tersenyum dan menyenderkan kepalanya ke dada bidang suaminya. Arthur pun mengelus pelan rambut Tabitha tak lupa ia pun menghadiahi nya dengan ciuman pelan.
To Be Continue...
Vote Please...
Arthur De Lavega
Tabitha De Lavega
__ADS_1