
Setelah selesai dengan pestanya Arthur dan Tabitha memasuki kamar mereka, pun dengan tamu penting seperti sahabat Tabitha, Diana dan kedua orang tua Tabitha. Di dalam kamar Arthur langsung mengganti bajunya dengan yang lebih simpel hal yang sama pun dilakukan oleh Tabitha, wanita itu mengganti bajunya dengan kimono tidur yang lumayan tipis.
Tabitha membaringkan tubuhnya menyamping seraya menidurkan Artha yang masih setia membuka matanya, hingga akhirnya ia pun menutup matanya.
Arthur keluar dari walk in closet dan melihat sang istri yang sudah tertidur, pria itu memperbaiki posisi Tabitha agar lebih nyaman dan matanya melirik kearah Artha yang masih bangun.
" Kau belum tidur baby boy?" Tanya Arthur memelankan sedikit suaranya.
Arthur meraih Artha dengan perlahan lalu menggendongnya seraya menepuk pelan punggungnya, sepertinya bayi itu suka diperlakukan seperti itu oleh Daddy nya. Terbukti sekarang bayi mungil itu terlihat memejamkan matanya. Arthur melirik kearah wajah Artha dan sadar kalau bayi nya sudah tertidur, Arthur dengan perlahan menurunkan bayinya ke box bayi tepat disamping ranjang sebelah kiri.
Setelah meletakkan bayinya Arthur pun kembali keranjang merebahkan tubuhnya disana tepat disamping Tabitha dan ternyata wanita itu melah menyambutnya dengan langsung memeluk tubuh Arthur erat.
" Good night love" bisik Arthur pelan.
🔫🔫🔫
Pagi hari yang cerah memaksa Tabitha membuka matanya, wanita itu menggeliat pelan dan mendudukan tubuhnya bersender dikepala ranjang, ia melirik kearah samping dan kosong, tidak ada Arthur disana.
Tabitha menurunkan kakinya menghampiri box bayi tapi Artha tak ada di dalam sana, wanita itu sedikit panik ia melarikan tubuhnya kearah kamar mandi dan kosong, ia segera menuruni tangga dengan sedikit berlari seraya memanggil-manggil Arthur.
Tak berselang lama Madam Rose yang merasa panik melihat Tabitha langsung menghampiri wanita itu.
" Ada apa nak?"
" Madam, dimana Artha?"
" Ya Tuhan kukira apa" ujar Madam Rose mengelus dadanya lega.
" Kau tau dimana Artha?"
" Dia bersama Daddy nya"
" Dimana?"
" Ditaman"
Tabitha mencerna ucapan Madam Rose, ditaman! Di dalam taman ada Exter dan Exie! Sial!!
" Shit!" Tabitha langsung berjalan tergesa kearah taman dan benar saja disana sudah ada Arthur yang duduk seraya menggendong bayinya yang terlihat tersenyum bahagia.
" Arthur!" Sentak Tabitha dan pria itu hanya tersenyum dibalik kaca.
" Keluar dari sana!"
" Kenapa? Disini indah" Ujar pria itu.
" Kau berupaya membunuh putraku?"
" Tidak"
" Lalu kenapa masuk ke kandang singa?"
" Aku hanya mengajak Artha bermain dengan Exter dan Exie"
" Mereka hewan buas Arthur" Geram Tabitha seraya menghentakkan kakinya.
" Tak apa, lagi pula mereka sudah jinak"
" Keluar sekarang juga Arthur!"
Pria itu tak menjawab ucapan istrinya ia lebih memilih bermain dengan Artha didalam sana tepat dihadapan Exter dan Exie yang menggeram.
" ARTHUR HENRY DE LAVEGA! KELUAR SEKARANG JUGA!!" Teriak Tabitha menggelegar dengan menyebut nama lengkap suaminya itu. Tabitha akan menyebut nama lengkap Arthur jika dia sudah benar-benar kesal dengan tingkah pria-nya.
Arthur yang paham dengan panggilan sang istri malah tersenyum geli.
" Aku tak mau" ujar nya tenang.
" Keluar sekarang juga!!"
" Tidak" tolak Arthur dan Artha malah tersenyum geli.
" Lihat dia senang berada didalam sini"
" Keluar Arthur!!"
" Jika kau ingin Artha keluar, kemarilah ambil sendiri"
" Arthur!"
Tabitha menggeram tertahan akhirnya ia pun membuka kasar pintu kaca yang membatasi ruang belakang dengan taman yang sudah diisi oleh kedua singa Arthur.
Arthur tersenyum senang kala kaki jenjang Tabitha mengarah kearahnya. Tabitha berdiri dengan gugup disamping Arthur, sebenarnya wanita itu takut kedua singa milik pria disampingnya akan menerkamnya, biar bagaimanapun mereka tetaplah hewan buas.
Arthur yang paham dengan ketakutan sang istri langsung menarik tangannya hingga Tabitha terpaksa duduk disamping Arthur.
" Tenanglah, mereka hanya ingin tau siapa nyonya nya"
" M-maksudmu?"
" Kau istriku jadi mereka harus dekat juga padamu"
" Aku tak mau"
" Baiklah, Artha saja"
" Jangan!"
" Ayo lah sentuh mereka"
" Tidak"
" Baiklah, kau siap boy?" Tanya Arthur mengarahkan tangan mungil Artha untuk membelai surai Exter, dan gilanya singa itu seakan seperti kucing kecil yang sedang bermain dengan tuannya.
" Jauhkan tangan putraku dari hewan mu Arthur!"
" Dia tak akan berbuat macam-macam"
" Jauhkan!"
" Baiklah, tapi sentuh Exter dulu" Pinta Arthur.
" Tidak"
Tiba-tiba Exter berdiri, singa itu semakin mendekati Tabitha, sontak wanita itu merasa badanya kaku seketika, tanganya berupaya menggenggam jemari Arthur, dan sialnya pria itu malah tertawa melihat ekspresi ketakutan Tabitha.
" Sialan kau Arthur!" Desis Tabitha.
" Nikmati saja dulu honey"
Tubuh Tabitha semakin bergetar kala Exter semakin merapatkan jaraknya dengan wanita itu, Tabitha berusaha menggapai Arthur tapi pria itu hanya menatapnya dengan tatapan mengejek.
" Singkirkan dia Arthur!"
" Jika kau ucapkan sendiri mungkin dia akan mengerti" Ujar Arthur tak perduli dan Artha? Bayi itu malah terkekeh geli melihat penyiksaan yang dialami oleh Tabitha. Sial! Sepertinya putranya memang persis seperti daddy nya! Batin Tabitha.
" Arthur!"
Tabitha menelan salivanya kasar wanita itu memejamkan matanya dengan tangan yang memegang erat lengan keras Arthur, wanita itu semakin panik kala Exter menggeram tepat ditelinga kanannya.
" Exter No!" Suruh Arthur tapi singa albino itu tetap menggeram pada Tabitha.
" Exter!"
Arthur memperingati singa itu dan benar saja, tatapan liar yang tadi ditunjukkan oleh Exter perlahan berubah. Singa itu menatap Tabitha ramah sama seperti menatap Arthur dan Exter mendekati wajah Tabitha lalu menjulurkan sedikit lidahnya untuk menggapai pipi mulus wanita itu.
Hal tersebut membuat Tabitha kalut, ia mengundurkan wajahnya dan menenggelamkannya pada lengan Arthur.
" Usir dia!" Desis Tabitha tajam.
" Dia melakukan itu artinya dia menyayangimu."
" Aku tak perduli"
Tubuh Tabitha semakin meremang kala Exter bermanja dengan menggerakan kepalanya tepat di kepala Tabitha.
" TATA!!"
Suara teriakan dua wanita membuat Tabitha membuka matanya, wanita itu langsung menengok kedalam mansion dan ternyata sudah ada Amel dan Fitry yang berdiri dengan wajah cemasnya. Ditambah lagi terlihat Renata dan Jonathan yang berlari kecil menghampiri mereka.
__ADS_1
" TATA!"
Tabitha melirik kearah Arthur dengan tatapan bak pedang yang siap menghunus lawannya.
" Ini semua karena kau! Kau harus menjelaskan pada mereka!" Desis Tabitha.
" Suruh Exter pergi" pinta Tabitha melembut.
" Baiklah" Arthur menjawab sang istri dengan senyum mengembang, pria itu sedikit menikmati hiburan dari hewan dan juga istrinya.
Arthur berdiri sedangkan Tabitha masih lemas untuk menggunakan kakinya. Arthur yang paham pun langsung membantu wanita itu, pria itu berbalik dan melihat penjaga Exter dan Exie.
" Beri mereka makan"
" Baik tuan"
Setelah itu Arthur menggendong Artha dengan satu tangannya satu tanganya lagi menarik Tabitha pelan keluar dari kandang Exter.
Saat mereka keluar Tabitha langsung disambut oleh kedua sahabatnya dan orang tuanya.
" Lo nggak papa?"
" Kau tak apa nak?"
" Ta?"
Tabitha diam membisu ia bingung menjawabnya jadi wanita itu hanya menggelengkan kepalanya. Arthur tersenyum simpul ia pun memberikan Artha pada Tabitha.
" Aku harus pergi kerja, jaga dia" pinta Arthur lalu mengacak-acak rambut Tabitha.
Pria itu pergi menaiki tangga dan menghilang dari pandangan menyisakan pertanyaan yang masih belum terungkap dari orang tua Tabitha dan sahabatnya.
Renata menuntun Tabitha kearah sofa memberikannya minum sementara Jonathan yang menggendong Artha mereka semua panik, sedangkan Tabitha kesal gara-gara tingkah sinting suaminya sendiri.
" Aku tak apa"
" Tapi kau hampir diterkam singa tadi"
" Bagaimana bisa ada singa di mansion?"
" Ada pemiliknya" ujar Tabitha menjawab pertanyaan dari Daddy nya.
" Siapa?"
" Siapa lagi kalau bukan menantu Daddy" Cetus Tabitha tajam.
" Ha?" Jonathan melebarkan matanya mendengar penuturan dari Tabitha.
" Maksudmu Arthur yang memelihara dua singa itu?" Tanya Renata memastikan.
" Iya, dan satu anjing. Namanya Kal"
" Tapi bukanya disini tak ada anjing?"
" Mungkin sekarang ada ditempat lain"
" Dimana maksudmu?" Tanya Fitry tak mengerti ucapan Tabitha.
" Suatu tempat"
Tak berselang lama Diana datang dengan Brian.
" Ada apa? Kenapa wajah kalian tegang?" Tanya Brian seraya memasukkan satu tanganya.
" Tabitha hampir diterkam singa" Jawab Amel sekenanya.
" Bukan diterkam, bermain" Ucap Brian membenarkan.
" Tapi_"
" Singa itu adalah Exter dan Exie mereka milik Arthur" Tambah Brian semakin menciptakan kerutan di dahi Jonathan.
" Tapi bagaimana bisa Arthur memiliki singa dimansionnya"
" Menantumu itu sedikit memiliki jiwa psikopat jadi wajar jika hewan peliharaannya berbeda dari biasanya" Tutur Brian tenang.
" Apa!"
Arthur ikut bergabung dan duduk disamping sang istri.
" Are you okey?"
" Ya"
" Nice, aku pergi" Pamit Arthur dengan diikuti anggukan dari Tabitha.
Arthur berdiri dan melangkah keluar dari pintu utama mansion dengan Brian yang mengekori langkah kaki pria itu.
Setelah kepergian Arthur suasana hening seketika, akhirnya orang tua Tabitha pun memasuki kamar mereka menyisahkan Amel dan Fitry disana.
" Laki lo kalo pake pakaian formal ganteng banget yah" Ujar Amel.
" He! Lo Ryan apa kabar!" Sentak Fitry gemas.
" Eh iya, gue lupa"
" Fi, lo kan tinggal di New York masa lo selama ini nggak mau nyempetin kesini buat main sih?" Tanya Tabitha.
" Sebenernya gue juga pengen main kesini, tapi kan gue nggak tau kalo mansion lo disini, ini pertama gue kesini"
" Serius lo nggak tau?"
" Kalo iya gue tau, gue sedikit nggak berani buat main kesini"
" Kenapa?"
" Gue takut sama bodyguard laki lo"
" Alah apaan sih"
" Eh gue masuk dulu yah, ada tugas" pamit Amel diikuti anggukan dari Tabitha dan Fitry bersamaan.
" Ta" panggil Fitry pelan.
" Ya?"
" Gue udah tau masalah lo sama Clark"
" Maksud lo?"
" Gue tau yang dilakuin Clark salah tapi apa nggak sebaiknya Arthur nggak matiin karier nya?"
" Fi, itu bukan urusan gue"
" Gue tau, tapi lo tau nggak aparteman gue sama Clark itu deket, dan setiap hari gue lihat dia berantakan Ta, dia dibenci ayahnya sendiri"
" Lo nggak tau apa yang gue lewatin selama ini hanya gara-gara Clark Fi"
" Iya gue ngerti, tapi apa nggak sebaiknya Arthur ngebuka lagi karier Clark, kasian dia Ta"
" Gue nggak mau ikut campur"
" Gue tau lo orang baik Ta, dan lagian kejadian itu udah lama banget"
" Gue_"
" Kalo lo liat dia, lo juga pasti kasihan"
" Gue nggak akan mau lihat dia lagi"
" Okey, seenggaknya biarin dia hidup selayaknya Ta"
" Lo suka sama Clark?"
Fitry langsung tertunduk setelah mendapat pertanyaan itu dari Tabitha, ia menelan salivanya kasar. Pertanyaan Tabitha telak ia rasakan, benar memang, ia sudah menyukai Clark jauh sebelum Tabitha menyukai Clark. Fitry hanya mengagumi Clark dari jarak jauh, dia hanya takut Clark akan menjauh darinya jika dia jujur tentang perasaanya.
" Lo suka sama Clark?" Tanya Tabitha lagi.
" G-gue_"
__ADS_1
" Kalo lo suka sama dia, gue bakal coba ngomong sama Arthur, tapi ini bukan karena gue udah maafin Clark, ini semua gue lakuin demi lo Fi"
Fitry mengangkat wajahnya menatap Tabitha dengan tatapan berterimakasih yang terdalam.
" Makasih Ta"
" Tapi gue nggak janji Arthur bakal wujudin itu"
" Iya nggak papa"
 Diana yang baru selesai membuat teh dari pantry pun bergabung dengan Tabitha dan Fitry.
" Ada apa nih?"
" Nggak papa" Ujar Tabitha menutupi apa yang dirasakan sahabatnya Fitry, wanita itu cukup paham dengan apa yang dimaksudkan oleh Fitry dari pembicaraan tadi.
" Kapan nikah sama Brian?" Tanya Tabitha mendadak yang sukses membuat Diana tersedak teh yang diminumnya.
" Eh sorry" ujar Tabitha menepuk pelan punggung Diana.
" Kalo mau ngomong intro dulu napa" ujarnya sewot.
" Emang Diana sama Brian?"
" Iya" balas Tabitha menjawab ucapan Fitry.
" Wah selamat yah, tapi Brian dingin gitu emang lo tahan?" Tanya Fitry lagi.
" Tahan nggak tahan yah harus tahan" Ujarnya kembali meminum teh.
" Yaudah deh kalo ada kabar tentang rencana nikahan bilang yah"
" Iya"
Tabitha melirik kebawah melihat Artha yang tertidur dipangkuannya, wanita itu membelai pelan bayi kecilnya ia pun berdiri.
" Mau tidurin Artha dulu yah"
" Eh iya"
Setelah mendapat anggukan dari Diana dan Fitry, wanita itu pun berjalan kearah lift dan berakhir didepan kamarnya, ia pun memasuki kamar itu dan merebahkan tubuh Artha ditengah ranjang.
Tak lama terdengar ketukan pintu yang cukup keras, Tabitha pun langsung berjalan dan membuka pintunya.
" Ta"
" Mom sama Dad, ada apa?"
" Kita mau pamit"
" Loh mau pulang?"
" Iya, perusahan daddy ada sedikit masalah, jadi kita harus pulang sekarang"
" Tapi Arthur belum pulang"
" Nanti salamin aja yah"
" Yaudah, ayo Tata anter"
" Iya"
Mereka berjalan beriringan keluar dari mansion dengan bodyguard yang menarik koper milik orang tua Tabitha, hingga di pelataran mansion. Tabitha memeluk mommy nya.
" Jagain Artha yah, sekarang kamu udah punya baby. Jadi kamu harus bisa jagain dia"
" Pasti mom"
" Bilangin sama Arthur anaknya jangan dideketin sama singa" Titah Jonathan menepuk pelan bahu Tabitha.
" Iya Dad"
" Kamu baik-baik disini yah"
" Iya Dad, kalian kalau ada waktu mampir yah." Ujar Tabitha merengek.
" Eh udah punya anak, nggak boleh ngerengek lagi"
" Iya iya"
Mereka pun akhirnya berpelukan, setelah itu kedua orang tua Tabitha memasuki mobil dan mobil itu pun beranjak menuju bandara.
Tabitha membalikkan tubuhnya meraih ponselnya dan menghubungi Arthur. Cukup lama hingga akhirnya suara bariton milik suaminya menyapanya.
" Ya?"
" Mom dan Dad sudah pulang"
" Kenapa tidak menungguku dulu?"
" Urgent perusahaan Daddy ada masalah, aku takut terjadi sesuatu dengan perusahaan Daddy"
" Jadi?"
" Bisa kau tolong mereka?"
" Aku akan menyuruh orang kepercayaanku untuk mengusut masalah orang tuamu"
" Baiklah, terimakasih Arthur"
" Ya"
" Ada lagi?"
" Bagaimana dengan Artha?"
" Dia baik, sekarang sedang tidur"
" Bagus"
" Kau sedang tidak sibuk? Kalau sibuk aku tutup teleponya"
" Tidak"
" Ya tentu kau pemiliknya, jadi kerjamu hanya tanda tangan pada kertas dengan berbagai macam perjanjian di dalamnya"
" Kau tau, baguslah"
" Pulang cepat?"
" Aku usahakan"
" Baiklah, sudah yah"
" Iya, Tunggu"
" Apa lagi?"
" Ti amo" ungkap Arthur diseberang sana dan langsung menutup panggilan teleponnya. Ia tak tau dampak yang terjadi atas ucapannya pada Tabitha, wanita itu mengulas senyum menawan dengan kedua pipi yang dihiasi rona merah.
To Be Continue...
Vote Please...
Tabitha De Lavega
Arthur De Lavega
Fitry Caroline
Amelia Calissta
__ADS_1
Fransisca Diana