
Tabitha berjalan mondar-mandir didalam kamarnya, wanita itu menelpon Arthur berkali-kali seraya menggigit kukunya kesal menunggu pria itu mengangkat teleponnya.
" Dimana kau Arthur!" Rutuk Tabitha kesal dan menghentakkan kakinya.
Tak lama terdengar suara ketukan pintu. Tabitha segera membuka pintu kamarnya dan terlihatlah Jady dan Diana disana.
" Hallo Ms. De Lavega" sapa Jady girang.
" Belum siap-siap?" Tanya Diana melihat pakaian Tabitha yang masih mengenakan kemeja dan hot pants dengan riasan wajah yang natural.
" Em sebenarnya_"
" Dimana suamimu?" Tanya Jady dengan raut wajah girang jika bicara mengenai Arthur.
" Dia..."
" Dimana Arthur Ta?" Tanya Diana mulai penasaran.
" Dia bersama dengan Brian" sahut Tabitha pelan.
" Pantas aku tak melihatnya sore ini"
" Hello! Kita harus cepat ini sudah jam enam, apa kalian tak ingin berdandan dan tampak memukau malam ini?" Ucap Jady dengan gemulai.
" Baiklah, ayo masuk"
Tabitha memasuki kamarnya dengan Jady dan Diana mengekorinya. Jady menghentikan kakinya dan mendekati Artha yang terlihat masih pulas dalam tidurnya.
" Oh hai, little boy" sapa Jady dengan senyum yang mengembang, pria setengah gemulai itu pun memainkan pipi gembul Artha.
" Jady jangan mengganggunya nanti dia bangun"
" Baiklah, hot mommy" lirih Jady.
" Dia sangat menggemaskan" ucap Diana.
" Jadi siapa dulu yang ingin kusulap?" Tanya Jady seraya menik turunkan alisnya.
" Bahasa macam apa itu?" Tanya Tabitha mengejek.
" Sudahlah Ms. De Lavega tinggal ikuti saja, dan jika diperhatikan setelah memiliki anak ucapanmu tampak lebih pedas"
" Terimakasih pujiannya Jady" ungkap Tabitha dengan senyum yang dibuat-buat.
" Sama-sama, baiklah kau saja dulu"
" Aku?" Tanya Diana.
" Ya"
" Tidak Tata aja dulu"
" Kenapa?"
" Kau harus menyulapnya sangat cantik malam ini, karena dia akan jadi primadonanya"
" Kau berlebihan Di"
" Hai, ini pestamu dan aku yang mengurusnya jadi kau hanya diam okey"
" Baiklah"
Akhirnya Tabitha mengganti bajunya dengan long dress tanpa lengan berwarna pink sifon dengan renda yang menambah kemewan dress itu yang sudah disiapkan oleh Jady.
Setelah selesai mengganti bajunya, Tabitha pun duduk di meja rias dengan Jady yang merias wajahnya tentu saja. Wanita itu sesekali mencuri pandang kearah jam dan ternyata jam mununjuk pukul enam malam dan Arthur sama sekali belum datang, sementara Diana mengganti bajunya dengan dress lebih selutut dengan hiasan sederhana dipinggangnya namun cukup elegan.
Jady memoles wajah Tabitha dengan riasan yang cukup mewah, pria setengah gemulai itu menyepol rambut Tabitha namun masih menyisahkannya sedikit dan sisa itu ia kepang lalu dirangkai hingga membentuk seperti bunga yang indah di rambut Tabitha, tak lupa Jady menyisahkan sedikit rambut dipipi kanan kiri Tabitha menambah kecantikan wanita itu.
Setelah Tabitha selesai, giliran Diana yang disulap oleh Jady, rambut Diana dibiarkan terurai namun Jady mengepang sedikit rambut dari sisi kanan dan kirinya lalu disatukan ditengah uraian rambutnya, tampak sangat mengangumkan seorang pria bisa melakukan itu, tapi memang kemampuan Jady tak diragukan lagi.
Setelah semua sudah siap Jady pun memberikan sebuah baju bayi yang terbuat dari Cotton Viscose (CVC), kain itu sangat lembut dan nyaman jika dipakai oleh bayi, dan berhubung Artha sudah bisa menggunakan kain untuk bajunya. Jady pun merangkai sendiri kain CVC membentuknya menjadi baju memberi aksen ukiran mewah dengan campuran emas dibagian dada dan tentu saja itu hanya dibuat satu didunia. Sebenarnya Jady hanya ingin memberi hadiah pada putra tunggal De Lavega itu, akhirnya ia pun memutuskan membuat baju tersebut.
" Jady ini berlebihan"
" Apanya yang berlebihan? Putramu itu penerus De Lavega, emas saja tidak ada artinya"
" Ya Tuhan"
" Ini gila, baju bayi dengan emas?" Tanya Diana dengan mata membola.
" Ku mohon jangan tolak pemberianku"
" Baiklah, sekali lagi terimakasih"
" Yeah, sama-sama" ucap Jady gembira.
Tabitha pun menerima baju bayi itu dan memakaikannya hati-hati pada Artha, bayi itu terlihat tak perduli dia hanya diam dengan mata terpejam sepertinya pangeran tak perduli dengan sekitarnya, hal itu membuat Tabitha gemas, wanita itu pun mencium hidung sang anak dan bayi itu menggeliat perlahan. Setelah bajunya sudah terpasang rapih Tabitha masih berupaya menghubungi suaminya karena jam sudah menunjuk pukul tujuh malam.
Tak berselang lama terdengar ketukan pintu.
" Tata, udah siap belum? Itu para tamu udah pada datang" lapor seseorang diluar kamar.
" Iya tunggu mom" sahut Tabitha.
" Cepat keluar ya"
" Iya mon"
Renata melenggang dan turun kelantai dasar menyalami serta menyambut tamu undangan.
" Ini gimana sih! Kok mereka belum pulang!" Sentak Diana tertahan kesal.
" Aku sudah berusaha menghubunginya tapi belum ada respon"
" Kita keluar aja dulu" saran Diana diikiti anggukan Tabitha.
Tabitha meraih perlahan Artha dan menggendongnya erat, wanita itu tetap menjaga agar Artha tak terganggu dalam tidurnya, anaknya itu sepertinya memang suka tidur terbukti dari tadi dia hanya terdiam walaupun sesekali menggeliat terganggu karena perbincangannya tadi.
Tabitha, Diana dan Jady pun berjalan keluar kamar, mereka menuruni tangga dan berakhir ditengah-tengah lantai dasar. Tabitha langsung disambut dengan tatapan berbinar dari para klien dan tamu undangan, ia hanya membalasnya dengan senyum kikuk.
Jonathan menghampiri putrinya dan berdecak karena tak menyangka putrinya bisa secantik itu.
" Kau sangat cantik"
" Terimakasih Dad"
Tak lama Madam Rose datang.
" Kemarikan Artha kau sambutlah tamu terlebih dahulu"
" Ah iya, terimakasih madam"
" Sama-sama"
Tabitha pun memindahkan Artha dari pelukannya ke gendongan Madam Rose, setelah itu madam Rose berdiri tepat dibelakang Tabitha.
" Dimana suamimu?"
__ADS_1
" Em, Arthur..." Tabitha tergagap menanggapi pertanyaan sang daddy, ia tak tau harus menjawab apa.
" Mereka akan segera bergabung" Sela Diana yang mengerti sahabatnya kesusahan mencari alasan.
" Mereka masih bersiap?"
" Tid_" Ucapan Jady berhenti seketika saat Tabitha memelototinya hingga membuat pria itu tersenyum meminta maaf.
" Ah, aku ingin makan" ujar Jady dan pergi melarikan diri dari tatapan menghunus milik Tabitha.
" Ta, kapan suamimu selesai? Para tamu sudah menunggu" ujar Renata menghampiri.
" Sebentar lagi mom"
" Memangnya mereka bersiap dimana?" Tanya Renata lagi yang sukses membuat Diana dan Tabitha terdiam.
" Ta, dimana?" Tanya Renata mendesak.
" Di..."
" Mereka di..." Tabitha dan Diana sama-sama tergugup menjawab pertanyaan Renata.
" Disini" Suara bariton milik Arthur membuat Tabitha dan Diana bernapas lega.
Sontak mereka pun menolehkan kepalanya menatap asal suara yang ternyata dari arah tangga, disana sudah ada Arthur dengan setelan jas mewahnya begitupun Brian yang terlihat menggunakan turtleneck plus blazer hitamnya.
Arthur mendekati Tabitha mencium pelipisnya dan mendekati Artha, membelai pelan pipi gembul bayinya sayang.
" Maaf terlambat"
" Tidak papa" ujar Jonathan maklum.
" Aku baru tau ternyata seorang pria bisa lebih lama berdandan" sindir Jonathan pelan.
" Ladies first Dad"
" Oh baiklah" ujar Jonathan seraya menganggukan kepalanya.
" Kita mulai pestanya?" Tanya Brian.
" Silahkan" ujar Arthur tanpa menoleh pada Brian dan hanya sibuk bermain dengan putra kecilnya.
Brian mendentingkan gelas yang dipegang olehnya mencari perhatian dan benar saja, para tamu undangan silih berganti mulai menatap sumber suara.
" Atenttion please..."
" Okey, jadi ada beberapa hal yang ingin Arthur sampaikan pada kalian malam hari ini, jadi silahkan Arthur"
Arthur mengalihkan perhatiannya dari Artha dan kemudian menghadap kedepan dimana para tamu menatapnya dengan tatapan memuja.
" Jadi saya ingin berterimakasih atas kehadiran kalian dalam pesta ini, saya sendiri sangat bersyukur karena kehadiran bayi mungil ini ditengah-tengah keluarga kami dan saya akan menjaganya apapun yang terjadi"
Tabitha menatap sang suami yang sibuk berpidato dari samping, entahlah ada rasa bangga yang menghinggapinya.
" Dan tentu saja saya sangat berterimakasih pada istri saya karena telah menghadirkan malaikat kecil untuk hidup saya yang monoton menjadi berwarna" ujar Arthur menjeda dan menatap Tabitha tatapan mata mereka bertemu, Tabitha mengulas senyum manisnya untuk Arthur.
" Thank you my beloved wife" ucap Arthur dengan mennghadiahi wanita itu kecupan lembut di puncak kepalanya.
" So, perkenalkan putraku Artha Leonardo De Lavega" ujar Arthur bangga disambut tepuk tangan dari para tamu.
Tabitha mengambil alih Artha karena bayi itu sedikit terganggu dengan riuhnya tepuk tangan dan wanita itu pun mencoba menenangkan Artha.
Para tamu mulai memberi selamat pada Arthur dan Tabitha, diantara mereka pun ada yang memuji kelucuan bayi mereka dan tak tahan untuk tidak menyentuhnya. Setelah suasana mulai tenang akhirnya mereka pun duduk dimeja yang sudah disiapkan untuk menonton pertunjukkan musik disana.
Arthur menarik kursi untuk Tabitha tapi ia masih berdiri untuk berbincang dengan klien nya. Tak berselang lama ada seseorang yang menepuk bahu Tabitha.
" Hai" sapa orang itu.
" Kalian" Tabitha sontak berdiri saat melihat orang yang menepuk bahunya adalah Amel dan Fitry serta disampingnya ada Diana dengan senyum yang mengembang pada Tabitha.
Tabitha membalikkan tubuhnya menghadap Arthur yang juga tengah menatapnya dengan mengangkat satu alisnya.
" Tolong gendong Artha dulu" pinta Tabitha.
" Tapi_"
" Ku mohon Arthur" Pinta Tabitha lagi namun kali ini diiringi puppy eyes nya.
" Baiklah"
Arthur mengambil alih Artha menempatkan kepala bayi itu pada pundaknya dan menepuk pelan punggung Artha agar bayi itu merasa nyaman.
" Terimakasih"
Arthur hanya mengangguk sebagai jawaban, pria itu sibuk menimang bayinya yang terlihat sangat menggemaskan.
Tabitha memeluk kedua sahabatnya itu dan mereka pun duduk di meja bundar yang sudah diisi dengan makanan dan hiasan mewah dengan bunga ditengahnya.
" Baby nya lucu banget sih" ujar Fitry.
" Iya, maklum lah bapak ama ibunya aja kan cantik ama ganteng pasti anaknya lucu lah" timpal Amel.
" Apaan sih" ujar Tabitha menahan semburat merah dikedua pipinya.
Arthur memiringkan tubuhnya pada Tabitha tepat ditelinga wanita itu.
" Aku pergi dulu"
Tabitha yang tiba-tiba mendapat bisikan langsung menolehkan kepalanya.
" Kemana?"
" Kesana" tunjuk Arthur pada Brian.
" Bawa Artha?"
" Bukanya tadi_"
" Iya maaf, yaudah jangan lama-lama" Peringat Tabitha cepat menyela ucapan Arthur.
Arthur mengangguk patuh dan pria itu pun menjalankan kakinya kearah Brian dengan tetap menepuk punggung Artha.
" Laki lo cool banget sih" Ujar Amel dengan tatapan memuja bahkan wanita itu sudah menumpukan dagunya pada kedua tangannya.
" Heh, enak aja lo. Laki orang mau disosor juga?" Ucap Tabitha sedikit menoyor kepala Amel.
" Ish, yaudah sih. Abis laki lo ganteng gitu masa dianggurin"
" Diem coba!" Sentak Fitry tertahan menghentikan aksi konyol Amel.
" Eh iya gue denger ada yang kepincut ama Dokter ganteng nih" Sindir Diana.
" Serius? Siapa?" Tanya Tabitha menggebu-gebu.
" Itu tadi yang muji-muji Arthur" timpal Diana lagi.
" Apaan sih kalian!" Desis Amel tajam.
" Tapi bener kan?" Ucap Fitry menambahi.
" Iya sih, tapi gue belum dapet nomernya"
__ADS_1
" Siapa sih?" Tanya Tabitha lagi.
" Namanya Dokter Ryander Colins" ucap Amel malu-malu.
" Shit! Maksud lo Dokter Ryan?"
" Lo kenal?"
" Kenal lah, dia dokter pribadi Arthur dan dia juga yang jadi dokter gue selama gue hamil"
" Apa!"
" Gila dunia sempit banget yah" Komen Diana menyimak obrolan dua sahabat itu.
" Lo kenal dimana?"
" Jadi gini, lo emang tau kan gue kuliah kedokteran nah pas itu ada seminar dan ternyata Dokter itu yang ngisi, gue udah usaha buat dapet nomernya tapi nggak ada hasil" Ujar Amel sedih.
" Unch kasian banget sahabat kita" Ujar Fitry menepuk bahu Amel pelan.
" Padahal Dokter itu ganteng banget" Ujar Amel lagi.
" Tapi kayaknya Ryan diundang deh sama Arthur atau Brian"
" Serius?" Tanya Amel bersemangat setelah mendengar ucapan Tabitha.
" Iya, soalnya liat kesana" Ujar Tabitha menunjuk tiga pria disudut ruangan yang satu membawa bayi, yang satu melipat tangan di depan dada, dan yang terakhir memunggungi mereka seraya memasukkan satu tangannya ke saku celana.
Sedangkan dikerumunan itu Arthur menatap Brian dengan tatapan pertanyaan.
" Bagaimana kondisi Matthew?"
" Hai prince" Sapa Brian pada Artha tak menghiraukan ucapan Arthur.
" Brian, bagaimana dengan Matthew?"
" Oh dia baik" ujar Brian lagi tanpa menatap Arthur.
Arthur berdecak kesal dan ia pun menatap Ryan.
" Dia sudah lebih baik, lagipula dia tertembak dikaki bukan dibagian pentingnya. Mungkin tiga sampai empat hari dia akan keluar dari rumah sakit dan menjalani tahap pemulihan" Terang Ryan yang paham arti tatapan Arthur.
" Bagus"
" Kau belum menengoknya?" Tanya Ryan.
Arthur menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, pria itu menimang Artha kembali saat mimik wajah Artha seperti ingin menangis.
Disisi lain, para kerumunan wanita terlihat sangat antusias setelah Tabitha menunjuk kearah Arthur dan Brian.
" Wah, itu beneran dokter Ryan?"
" Coba panggil Ta" Suruh Amel semangat.
" Okey coba ya" Tabitha berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri ketiga pria dewasa itu.
" Ryan" sapa Tabitha pada pria yang membelakanginya, satu detik kemudian pria itu membalikkan badanya dan benar, itu Ryan.
Tabitha mengulas senyum tipis.
" Ryan, ada yang mau ketemu"
" Siapa?"
" Ada aja, ayok ikut"
" Kemana?"
" Ayok aja"
Ryan mengekori Tabitha yang berjalan menuju meja sahabatnya, sementara disana Amel sudah senyum-senyum sendiri.
" Kamu kenal dia?" Tanya Tabitha pada Ryan menunjuk Amel.
" Dia..."
" Aku mahasiswa yang di Korea waktu Dokter ngasih seminar bulan lalu" ujar Amel langsung berdiri.
" Oh kamu"
Arthur dan Brian pun menyusul mendekati keempat wanita itu.
" Ada apa ini?" Tanya Arthur pada Tabitha, sedangkan Brian hanya mengangkat satu alisnya bertanya pada Diana. Memang benar sepertinya Diana harus belajar bahasa isyarat jika bersama Brian.
" Amel naksir sama Ryan" bisik Tabitha pada Arthur. Sedangkan Arthur hanya ber'oh' saja.
" Nice to meet you again Amel" ujar Ryan mengulurkan tangannya namun Amel hanya menatap tangan pria itu.
Fitry yang mengerti pun menepuk pelan bahu Amel hingga wanita itu sadar dan menerima uluran tangan Ryan dan Amel pun tak bisa membendung senyumnya.
" Ayo duduk" saran Tabitha dan mereka pun duduk dimeja itu saling bertukar informasi dan mengobrol walaupun Arthur lebih banyak diam dan lebih tertarik bermain dengan Artha sedangakan Brian lebih parah lagi, Pria itu malah sibuk dengan urusan dalam ponselnya Diana sampai kesal dibuatnya.
Disisi lain Amel dan Ryan tampak seperti orang yang sedang kasmaran, ralat. Amel sendiri, karena Ryan terlihat dingin tapi tetap menawan.
" Aku bahagia Arthur" bisik Tabitha yang sukses membuat pria itu menolehkan kepalanya dan menatap sang istri.
" Aku juga"
To Be Continue...
Vote Please...
Tabitha De Lavega
Arthur De Lavega
Artha Leonardo De Lavega
Brian Aldhiano
Fransisca Diana
Fitry Caroline
Dr. Ryander Collins
__ADS_1
Amelia Calista
Note: Cast diatas sepenuhnya hanya imajinasi author jika kalian kurang setuju atau kurang sreg diperbolehkan mengimajinasikan cast lain... Terimakasih...✌🙏