MY HUSBAND CEO IS MAFIA

MY HUSBAND CEO IS MAFIA
MHM 3.1: ANEH


__ADS_3

1 minggu kemudian...


Tepat dua minggu perubahan sikap Arthur pada Tabitha, selama itu pula Arthur selalu bertindak sesukanya, ia sama sekali tidak memperdulikan Tabitha bahkan saat rekan kerjanya mengundangnya untuk berpesta Arthur tidak membawa Tabitha, kenyataan itu ia dengar dari Brian.


Tabitha hanya menghela napasnya, ia tak ingin memancing kemarahan Arthur dengan membalas semua ucapannya, biarkan pria itu berkata semaunya. Toh, nanti ia akan berhenti jika lelah kan? Batin Tabitha.


Tabitha selalu menyiapkan sarapan, tapi suaminya selalu saja pergi lebih pagi, ia sudah sabar selama ini. Tapi perubahan yang ia harapkan dari Arthur tak kunjung ia dapat, ia lelah menunggu Arthur kembali haruskah ia menyerah?


Di tengah lamunannya itu Tabitha mendengar suara aneh dari kamar Arthur, wanita itu segera bergegas ke kamar suaminya. Ia memegang knop pintu lalu memutar dan mendorong pintu itu. Ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Arthur tapi sosok pria itu tak kunjung ia dapatkan.


" Arthur?"


" Kau dimana?"


Tak lama kemudian terdengar suara aneh dari kamar mandi, Tabitha langsung melangkahkan kakinya ke sana dan mendapati pria itu terduduk lemas di lantai dingin kamar mandinya.


" Arthur!" Tabitha segera mendekati pria itu dan merengkuhnya.


" Ada apa denganmu?"


" Aku tak tau" jawabnya lemas.


" Ayo kita ke ranjang, jangan disini. Kau bisa berdiri?"


" Tolong papah aku, aku sangat lemas"


" Baiklah"


Tabitha bersusah payah memapah tubuh besar Arthur, wanita itu dengan gerakan pelan menurunkan tubuh pria itu ke ranjang.


" Apa yang terjadi?"


" Tidak"


" Kau yakin?"


" Ya, aku hanya lemas"


" Pasti ada sebabnya"


" Maksudmu?"


" Tidak, maksudku kau lemas kenapa? Kau salah makan atau bagaimana?" Tanya Tabitha membelai pelan surai Arthur.


" Cerewet!" Desis Arthur membuat Tabitha kembali menghela napasnya.


" Kau sudah kubantu malah begini!" Ujar Tabitha tajam lalu hendak keluar namun pria itu malah mencekal tanganya mambuat tubuh Tabitha terhuyung menimpa tubuh Arthur, jarak mereka sangat dekat. Tabitha membeku saat bertatapan sedekat ini dengan Arthur. Sedangkan pria itu terlihat datar.


" Jangan pergi, disini saja temani aku" lirih Arthur.


Tabitha tersadar, ia mengerjabkan matanya mencari kesadaran, dengan cepat Tabitha menarik tubuhnya memberi jarak antara dirinya dan sang suami.


" Aneh!"


" Apa?"


" Kau aneh, selama dua minggu ini kau bertindak seolah tak ingin aku mendekatimu tapi sekarang kau sendiri yang ingin berada didekatku!" Desis Tabitha tajam.


" Aku hanya ingin melihatmu apa tidak boleh?" Sontak saja Tabitha mendongak kan kepalanya menatap Arthur benarkah suara itu berasal dari bibir pria dihadapanya.


Tanpa persetujuan Tabitha, Arthur berbaring kesamping lalu menjadikan paha Tabitha sebagai bantalnya, pria itu menghadap keperut Tabitha dan menenggelamkan wajahnya disana.


" Arthur! Geli!"


" Aku tak tau mengapa sangat menginginkan posisi ini" ujar Arthur cenderung tidak jelas karena pria itu masih menenggelamkan wajahnya.


" Terserah!"


" Aku suka aroma tubuhmu"


" Kenapa?"


" Ntahlah" ujar Arthur lalu kembali menenggelamkan wajahnya bahkan sudah menutup matanya.


" Jangan tidur, kau harus kekantor"


" Telpon Brian, katakan aku sakit jadi tidak bisa ke kantor"


" Kau sakit? Ayo kita rumah sakit"


" Tidak!" Arthur menjawab dengan nada ketus lagi, hal itu membuat Tabitha kembali mendengus. Dasar pria plin plan, batin Tabitha.


" Kau ingin dipanggilkan dokter Ryan?"


" Tabitha aku hanya mual dan lemas saja tidak perlu memanggil dokter kau mengerti?"


" Baiklah, maaf"


" Aku hanya ingin bersamamu, entah mengapa saat bersamamu aku merasa badanku lebih baik"


" Lalu sampai kapan begini terus?"


" Sampai aku tidur"


" Gila!" Umpat Tabitha.


Tabitha menyenderkan badanya ke kepala ranjang, wanita itu sesekali memeriksa Arthur sudah tidur apa belum, ia harus segera menemui Clark karena ia sudah bertanya pada Alexander mengenai kejadian di apartemen Clark, tapi pria itu mengatakan ia tidak memberi tau Arthur, jika benar perubahan Arthur selama dua minggu ini adalah karena Clark, pasti hanya Clark lah yang memberitahu Arthur.


" Arthur?"


Tabitha menjauhkan kepala Arthur dari perutnya dan mendapati pria itu sudah menutup matanya. Tabitha menggeser tubuhnya dan memberi Arthur bantal di kepalanya. Setelah Arthur sudah nyaman di posisinya. Wanita itu bergegas keluar dari kamar.


Ia segera memasuki kamar utama, berjalan ke walk in closet dan memakai pakaian kasual nya untuk bertemu dengan Clark. Ia membiarkan rambutnya terurai dipadukan dengan make up natural yang menambah kecantikan wanita itu.


Ia menuruni tangga lalu berakhir di halaman mansion.


" Alexander"


" Ya, nyonya"


" Tolong antar aku ke purple cafe's sekarang"


" Baik"


Tabitha memasuki mobil yang sudah disiapkam Alexander, wanita itu mengecek ponselnya mencari nama Clark dan menghubungi pria itu.


" Aku sudah dijalan"


" Baiklah, aku akan berangkat sekarang"


Tabitha langsung memutuskan sambungan teleponya secara sepihak lalu kembali menatap jalanan padat New York.


" Nyonya kita sudah sampai"


" Terimakasih Alexander"


" Haruskah aku menemanimu?"


" Tidak, tolong awasi saja aku"


" Baik"

__ADS_1


Tabitha melangkahkan kakinya memasuki purple cafe's tempat ia bertemu dengan Clark, ia mengedarkan pandangannya dan menemukan Clark duduk disudut cafe itu sendirian.


Wanita itu mengikis jarak antara dirinya dan Clark, ia mendudukan tubuhnya berhadapan dengan Clark.


" Apa yang ingin kau tanyakan Ta? Apa kau akan menerima tawaranku untuk menjadikanmu istriku?"


" Jangan bodoh!"


" Lalu ada apa?"


" Kau memberitahu Arthur tentang aku yang mendatangi apartemen mu kan?"


" Tidak"


" Jangan bohong!"


" Tidak Tabitha"


" Jika aku menemukan fakta kau yang memberitahu suamiku, aku tidak akan memaafkanmu Clark!"


" Terserah"


Tabitha mendengus ia pun meninggalkan Clark sendiri lalu memasuki mobilnya dan menjauhi cafe itu.


" Tidak salah maksudnya honey" gumam Clark diikuti serigaian liciknya.


Tabitha menatap kosong jalanan New York, ia buntu sekarang. Siapa lagi yang harus ia curigai?


🔫🔫🔫


De Lavega Group's


" Jadi bagaimana Mr. De Lavega?"


" Kita bisa saja menanam saham untuk perusahaanmu tapi apa keuntungan bagi perusahaan kami Mr. Valens?"


" Kami akan memberikan 25% keuntungan dari total keuntungan yang akan kita dapatkan Mr. De Lavega"


" Berapa banyak penanam saham di perusahaanmu Mr. Valens"


" 2 orang Mr. De Lavega"


" Pembagiannya?" Tanya Brian


" Aku 35%, dua orang lainya masing-masing 20%. Dan 25% nya akan menjadi milik De Lavega Group"


" Bagaimana Arthur?" Tanya Brian.


" Bagaimana kalau 30% untuk kami?" Tawar Arthur.


" Itu artinya perusahaanku hanya menerima 30% keuntungan?"


" Kau bisa berpikir kan Mr. Valens?" Ujar Arthur dingin.


" Arthur sudah memberikan tawarannya, bagaimana denganmu Mr. Valens?"


" Apa tidak bisa dipertimbangkan lagi Mr. De Lavega?"


" Aku memberikan suntikan dana yang besar untuk usahamu Mr. Valens jadi_" Arthur menghentikan ucapannya. 


Brian dan tamu Arthur melirik kearah Arthur, pria itu menutup mulutnya, sial ia mual lagi. Dengan cepat Arthur memasuki kamar mandi di ruanganya dan mengeluarkan semua isi perutnya di wastafel, pria itu mencuci mulutnya dan berkumur. Ia keluar dari kamar mandi dan mendudukan dirinya di kursi kerjanya. Pria itu memijit pelipisnya, kepalanya sangat pusing dan ia mual dari tadi.


Tak lama Brian, memasuki rungan Arthur.


" Ada apa Arthur?"


" Aku pusing"


" Sepertinya"


" Ingin kupanggilkan dokter Ryan?"


" Jangan, panggil saja Tabitha"


" Apa urusannya dengan Tabitha"


" Kemarikan ponsel mu"


" Untuk?"


" Aku pinjam, dan katakan pada Mr.Valens, penawaranku sudah final"


" Baik"


🔫🔫🔫


Mobil BMW i8 yang dipakai Tabitha memasuki halaman mansion, wanita itu memasuki kamarnya untuk berganti pakaian, namun ia memilih untuk memeriksa keadaan Arthur terlebih dahulu, akhirnya ia pun memasuki kamar tamu yang ditempati suaminya mencari keberadaan pria itu namun tidak menemukan batang hidungnya.


Tabitha mencari Madam Rose untuk menanyai tentang Arthur, ia pun menemukan ibu angkat Arthur tengah menyiapkan makan siang di meja makan.


" Madam"


" Ya, kau butuh sesuatu nak?"


" Kemana Arthur?"


" Bocah itu bilang katanya ada meeting penting jadi dia pergi ke kantor"


" Bukannya Arthur sedang sakit?"


" Iya, tapi dia bilang meeting nya sangat penting"


" Baiklah terimakasih"


" Kau mengkhawatirkannya?"


" Sedikit, ada yang bisa aku bantu Madam?"


" Tidak, semuanya sudah siap"


" Baiklah, aku keruang tengah dulu"


" Baiklah"


Tabitha berjalan keruang tengah, mendudukan tubuhnya di sofa, menyalakan TV dan menontonya dengan tenang. Baru sepuluh menit ia menikmati acara TV, ponsel wanita itu berbunyi. Ia mengulurkan tanganya meraih ponsel itu dan melihat siapa yang menghubunginya.


" Ya, Brian?"


" Ini aku Arthur"


" Kenapa kau memakai ponsel Brian?"


" Kalau aku yang menelpon kau tidak akan mau mengangkatnya!"


" Kenapa kau berpikir begitu?"


" Pasti begitu kan?"


" Sinting!"


" Tolong aku"

__ADS_1


" Apa? Kau kenapa?" Ucap Tabitha dengan nada cemas.


" Badanku lemas lagi"


" Sudah tau sedang sakit kenapa berangkat kerja!"


" Urgent"


" Lalu kau mau apa?"


" Datang ke kantor sekarang"


"Untuk?"


" Mengurus ku lah!"


" Baiklah"


" Ya, satu lagi"


" Apa?"


" Buatkan aku sup ikan"


" Apa!"


" Jangan menolak!"


" Kau memaksaku!"


" Waktumu 20 menit"  ujar Arthur menutup teleponnya meninggalkan raut kusut wajah Tabitha.


" Pengatur!" Desis kesal Tabitha.


Ia berjalan ke pantry dan mulai memasak pesanan Arthur, untung dia pernah diajari oleh Madam Rose jadi ia tak perlu mengganggu para maid untuk membantunya. Ia sibuk menyiapkan sup ikan. Setelah masakannya matang, Tabitha segera bersiap untuk pergi ke perusahaan Arthur.


Tabitha memasuki mobil nya kembali dengan Alexander yang menyupirnya.


Tak lama ia pun sampai, Tabitha sedikit trauma saat mendatangi perusahaan Arthur karena kejadian terkahir yang ia lihat waktu itu. Tapi ia harus kuat, suaminya sedang sakit sekarang. Tabitha menghembuskan nafasnya lalu melenggang memasuki perusahaan Arthur.


Ia tersenyum ramah pada staf kantor Arthur, wanita itu tak ingin mengulang kesalahan yang sama. Akhirnya ia bertanya terlebih dahulu pada sekertaris Arthur.


" Arthur didalam?"


" Iya, nyonya tuan ada didalam"


" Apa ada tamu?"


" Tidak nyonya, setelah rapat tuan meminta ku untuk tidak menerima tamu siapapun, kecuali kau"


" Baiklah terimakasih"


" Sama-sama"


Tabitha tersenyum lalu berjalan kearah pintu ruangan Arthur, ia menarik napasnya dan menghelanya lembut. Wanita itu memegang knop pintu dan mendorongnya.


" Lama sekali!" Suara Arthur dengan cepat mengintruksi saat melihat Tabitha berdiri diambang pintu.


" Maaf"


" Kemarilah" Tabitha mengganggukan kepalanya dan menutup pintu ruangan Arthur.


"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Tabitha lalu duduk di sofa panjang dalam ruangan itu.


" Lebih baik" balas Arthur dan berjalan dengan lemah kearah Tabitha. Pria itu menatap wajah istrinya yang sibuk menyiapkan makanannya.


" Baguslah" ujar Tabitha pelan lalu menatap Arthur sedetik manik mereka bertemu tapi wanita itu memutusnya.


" Apa sup nya enak?"


" Kau belum mencobanya"


" Baiklah"


" Ini" ujar Tabitha memberikan sup ikan nya pada Arthur.


" Baunya sangat menyengat"


" Kau sendiri yang menginginkan ku memasaknya!"


" Tapi baunya membuatku mual"


" Lalu?"


" Kau saja yang memakannya" ujar Arthur.


Tabitha membalas ucapan Arthur dengan memutar bola matanya, sedangkan Arthur pria itu terkekeh pelan.


" Sialan"


" Jangan mengumpat dihadapanku Tabitha!" Peringat Arthur.


Tabitha dengan cepat merebut sup ikan ditangan Arthur dan memakannya namun.


" Suapi aku"


" Apa lagi sekarang?"


" Suapi aku" ujar Arthur tenang sedangkan Tabitha kembali memutar bola matanya malas.


Tabitha menyuapi sup itu pada Arthur dan pria itu pun menelannya dengan susah payah, sedetik kemudian.


" Huek" Arthur berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan makanannya disana.


Tabitha melihat Arthur segera menyusul pria itu. Dan memijit tengkuk Arthur pelan.


" Kau tak apa?"


" Sangat menyiksa!"


" Jadi kau mau apa?"


" Aku hanya ingin dirimu"


" Kemarilah" ujar Tabitha merentangkan tanganya dan Arthur pun memeluk tubuh istrinya.


Wanita itu menggiring tubuh Arthur ke sofa dan pria itupun membaringkan tubuhnya dan menjadikan paha istrinya menjadi bantalnya. Tabitha sesekali memijit pelipis Arthur lembut berharap mengurangi rasa pusing yang mendera suaminya. Arthur pun terlihat nyaman akhirnya pria itu memejamkan matanya.


To Be Continue...


Vote Please...


Note: Makasih atas saran readers yh...



Tabitha De Lavega



Arthur De Lavega

__ADS_1


__ADS_2