MY HUSBAND CEO IS MAFIA

MY HUSBAND CEO IS MAFIA
MHM 6.2: NO!


__ADS_3

Tabitha menggeliat perlahan kala sepasang tangan mungil mengguncang tubuhnya. Wanita itu membuka matanya dan menangkap sosok pria kecil yang begitu ia cintai, Leonardo.


" Ada apa Leo?" Tanya Tabitha dengan suara serak khas orang yang bangun tidur.


" Ayo bangun Mom, Daddy sudah menunggu kita diluar"


" Memangnya kenapa?"


" Daddy bilang, Daddy sedang membuat kejutan untukku. Tapi itu hanya akan Daddy tunjukkan saat Mommy juga ada disana"


" Baiklah Mommy mandi dulu"


" Oke Leo tunggu"


Tabitha pun tersenyum tipis, ia menggelengkan kepalanya menanggapi sikap keras kepala yang sangat dominan pada putranya. Ia pun perlahan menuruni ranjang dan ia memulai ritual mandinya.


Lima belas menit berlalu Tabitha pun sudah menyelesaikan acara mandinya. Ia pun keluar dari kamar mandi dan menjalankan kakinya kearah walk in closet. Wanita itu mengganti pakaiannya dengan pakaian yang formal. Setelah dirasa sudah siap ia pun keluar dan mendudukan tubuhnya di depan meja rias. Wanita itu memoles wajahnya dengan riasan yang natural hal itu pun tak luput dari pandangan sepasang mata kecil yang terus memperhatikannya.


" Mom, kenapa wanita harus berdandan?"


" Agar mereka cantik"


" Tapi Mommy cantik walaupun tanpa berdandan"


" Dasar perayu"


" Leo tak merayu, Leo serius Mom"


" Iya, terserah"


Leonardo tersenyum tipis dengan balasan yang diucapkan oleh Mommy nya. Sedangkan Tabitha meneggakkan tubuhnya lalu berjalan mendekati Leonardo.


" Sudah, ayo kita keluar"


" Ayo!" Anak itu dengan cepat menuruni ranjang dan menyambar tangan Mommy nya sedikit menarik kearah keluar Villa.


Leonardo terlihat sangat antusias dan ia pun selelu menyunggingkan senyum manisnya. Saat mereka sudah diluar mata ibu dan anak itu terlihat sama-sama melebar. Bagaimana tidak kaget, mereka melihat Arthur tengah berpacu dengan kuda hitam ditengah-tengah halaman Villa.


" DADDY!" Teriak Leonardo kencang.


Arthur yang mendengar teriakan Leonardo pun langsung memelankan laju kudanya. Pria itu menjalankan kudanya mendekati Tabitha dan Leo.


" Good Morning boy" Sapa Arthur pada Leonardo yang sudah menatap takjub pada Daddy nya. Pun dengan Tabitha yang seakan kehilangan kata-kata saat melihat Arthur sekarang.


" Daddy, kudanya sangat tinggi"


" Ya, dan tunggu dulu" Arthur menjeda kalimatnya ia mengedarkan pandangannya mencari Paul. Saat melihat orang yang dicarinya Arthur pun langsung memanggil pengurus kudanya itu.


" PAUL!"


Paul menghentikan laju kudanya, ia pun mendekati Arthur dan berdiri dengan kudanya tepat disamping Arthur.



" Hallo tuan muda" Sapa Paul ramah menatap Leonardo dengan tatapan yang tak kalah ramahnya.


" Ini, Cycle kudamu" Ucap Arthur mengenalkan kuda yang sedang dinaiki Paul pada Leonardo yang tengah menganga mendengar ucapan Daddy nya.


" Apa Dad?"


" Ini adalah kudamu"


" Dad are you kidding?"


" No"


" Oh my god! Im very happy now" Ujar anak itu berjingkrak riang.


" Kau ingin menaikinya?" Tanya Paul disambut anggukan antusias oleh Leonardo.


" Ya!"


Mendengar jawaban Leonardo, Paul pun menurunkan kakinya dan mengangkat tubuh anak itu menaiki Cycle, dan Paul pun ikut menaiki kuda itu. Paul menatap Arthur seolah meminta izin untuk membawa putra boss nya berkeliling. Arthur pun tanpa pikir panjang langsung menganggukan kepalanya setuju.


" Come on, Daddy mu sudah memberi izin"


" Ayo jalan uncle" Ucap Leonardo tak sabar.


Tak lama Paul pun menjalankan Cycle dengan langkah yang cukup pelan.


" Arthur!" Sentak Tabitha dengan tatapan kesal pada Arthur.


" Apa?"


" Kenapa kau memberikan putramu yang berusia lima tahun seekor kuda?!"


" Hei, tak masalah dia bisa belajar nanti"


" Masalahnya bagaimana jika Leo meminta untuk membawa Cycle ke mansion?"


" Itu tak mungkin, disana Leonardo akan bermain dengan Exter dan Exie"


" Arthur! Bagaimana jika putraku jatuh!"


" Itu tak akan terjadi, Paul sudah lama menjaga kuda-kuda ku jadi dia sudah pasti bisa menjaga Leonardo."


" Aku tak mau tau! Kau harus mengawasinya!"


" Iya, kita akan mengawasinya"


" Apa! Kita! Tidak aku tak mau menaiki kudamu!"


" Hei, dia punya nama. Namanya Max"


" Terserah aku tak perduli cepat kejar Leo!"


" Tidak sampai kau mau mengejarnya bersamaku"


" Aku tak sudi"


Arthur yang geram dengan istrinya pun turun dari kudanya ia dengan cepat mendekati Tabitha dengan senyum yang terlihat sangat mengesalkan. Tak terduga tiba-tiba Arthur mengangkat tubuh mungil Tabitha keatas dan mendudukan tubuh wanita itu diatas Max.


" Apa-apaan kau! Kau lupa aku sedang hamil!" Sentak Tabitha dengan nada tertahan.


" Tenanglah Honey"


Arthur menaiki Max dan memeluk tubuh Tabitha dari belakang. Pria itu menempatkan lengan kirinya diperut sang istri sedangkan tangan kanannya mengendalikan Max.


" Jangan lari" Peringat Tabitha tajam.


" Kenapa?"


" Aku sedang hamil Arthur!"


" Oh iya aku lupa" Ujar Arthur tenang seraya terkekeh geli.


" Aku mau turun"


" Tak bisa"


" Kenapa?"


" Nanti kau jatuh, apa kau ingin terjadi sesuatu dengan anak kita?"


" Sialan!"


" Jangan mengumpat Ta"


Arthur semakin mengeratkan pelukannya, mereka mengikuti Cycle yang membawa Leo, Sedangkan Arthur tersenyum bahagia karena berhasil memboyong istrinya menaiki Max.


Arthur membelai pelan perut Tabitha ia masih tidak percaya akan ada seorang bocah lagi yang memanggilnya dengan sebutan Daddy. Arthur menumpukan dagunya di bahu Tabitha sesekali pria itu mencuri ciuman singkat di pipi Tabitha.

__ADS_1


" Arthur"


" Hm?"


"  Aku bingung"


" Kenapa?" Tanya Arthur seraya menjaga kecepatan Max agar tetap aman dinaiki oleh Tabitha.


" Bagaimana caraku memberi tahu Leo masalah ini"


" Memangnya kita punya masalah? Masalah apa?"


" Kehamilanku Arthur"


" Itu bukan masalah honey"


" Iya tapi masalahnya adalah Leo tak mau memiliki adik, dan bagaimana cara kita memberi tahunya?"


" Kita tinggal bicara saja padanya"


" Kau pikir putramu itu tidak keras kepala, dia mencetak dengan persis sikap burukmu Arthur"


" Tapi itu yang akan membuatnya menang melawan apapun"


" Terserah aku tak perduli. Sekarang kita harus bicara pada Leo"


" Iya tunggu sebentar biarkan anak itu bermain dulu dengan kuda barunya"


" Berapa banyak kuda yang kau punya?"


" Tujuh"


" Dan mana yang lainnya?"


" Ada disamping villa, Paul yang mengurusnya"


" Kenapa kau memilih kuda?"


" Entahlah, aku hanya ingin hewan yang bisa menenangkanku"


" Lalu gunanya tiga hewanmu di New York apa?"


" Exter dan Exie itu moodku, dan Kal adalah asistenku di Regnarok"


" Apa maksudmu dengan Regnarok?"


" Kal sudah dilatih untuk jadi anjing penjaga, dia akan membantuku dalam misi-misi tertentu contohnya jika ada seseorang yang membayarku untuk mengungkap penyelundupan narkoba di jaringan internasional maka aku akan membawa Kal"


" Ya Tuhan"


" Kenapa?"


" Entahlah, sepertinya aku akan menjauhkan Leo dari Kal"


" Justru Kal yang akan menjaga Leo dari musuh"


" Terlalu banyak musuh didalam hidupmu Arthur"


Arthur tersenyum geli dengan jawaban yang diberikan Tabitha.


" Ucapanmu semakin pedas saja Sweetheart"


" Aku haus"


" Oke, kita turun"


Arthur menghentikan langkah Max, pria itu turun terlebih dahulu dan ia pun menurunkan tubuh Tabitha dengan hati-hati. Setelah wanita itu menginjakkan kakinya diatas tanah ia langsung bergegas kesamping villa.


" Mau kemana kau?"


" Melihat kudamu yang lain"


Arthur memberikan senyum simpul, pria itu memasuki villa dan mengambil segelas air dingin untuk sang istri, setelah itu ia pun keluar mendekati Tabitha yang terlihat tengah bercengkrama dengan salah satu kuda milik Arthur.



" Aku takut"


  Tabitha yang mendengar Arthur pun langsung mendongakkan kepalanya menatap pria itu.


" Apa?"


" Aku takut, kau semakin cantik dan aku rasa pasti banyak pria diluar sana yang tertarik denganmu sedangkan aku semakin tua, dan sudah pasti kau akan memilih mereka yang jauh lebih muda dari pada aku" Ujar Arthur dengan tatapan kosongnya.


Tabitha yang mendengar ucapan Arthur pun langsung menatap pria itu dengan kesal lalu.


Plak!


" Aduh" Arthur memegangi pipi kanan nya yang pedih karena tamparan dari istrinya itu.


" Apa?" Tanya Tabitha tanpa dosa.


" Kenapa kau menamparku?"


" Kau bodoh! Kenapa bicaramu seperti itu!"


" Aku_"


" Kau yang membuatku seperti ini! Kau yang mengajariku dunia ini! Kau yang memberiku kebahagiaan selama lima tahun! Dan karena mu jugalah aku mendapatkan Leo, bahkan sekarang aku juga sedang membawa bagian dari dirimu 'lagi'! " Ucap wanita itu tanpa jeda dengan menekankan kata 'Lagi'.


" Ta aku_"


" Bodoh jika kau berpikir aku akan meninggalkanmu demi pria lain! Jika memang itu terlintas dalam pikiranku sudah sejak dulu, sejak Clark mengejarku aku akan meninggalkanmu, tapi apa! Aku tetap bertahan disampingmu kan! Saat kau menyakitiku aku tetap bersamamu kan! Lalu kenapa aku harus memilih pria lain jika hatiku sudah memilihmu!" Sentak wanita itu dengan cepat yang langsung membuat Arthur terdiam bak patung.


" Kau pikir aku tak setia! Kau yang tak setia dengan membawa ****** ke mansion waktu itu lalu kenapa sekarang mhpp_"  Arthur membungkam bibir wanita itu yang terus berucap, Arthur sedikit tersinggung saat ucapan sang istri menyinggung kebodohannya dimasa lalu.


" Im sorry" Ujarnya disela-sela ciuman itu.


Arthur melepaskan pungutannya, pria itu menatap Tabitha yang masih memejamkan matanya. Perlahan wanita itu membuka matanya menatap manik biru terang milik Arthur.


" Jangan berpikir tentang itu lagi Arthur"


" Iya, maafkan aku" Ujar Arthur tulus seraya membelai perlahan pipi Tabitha.


" Mommy! Daddy! Pervert!!" Teriak Leo yang sedang menutup kedua matanya di samping mereka.


Arthur tertawa geli sedangkan Tabitha langsung mendorong tubuh Arthur memberi jarak.


" Leo" Tabitha mendekati putranya dan membelai perlahan surai Leo.


" Buka matamu" Titah Arthur yang langsung diikuti anak itu.


" Maaf sedikit mengintip" Cicit Leonardo pelan yang langsung dihadiahi ciuman singkat dipipi oleh Mommy nya.


Leo tertawa dan ia mengedarkan pandanganya lalu melihat segelas air, dengan cepat ia pun meraih air itu dan menguknya sampai tandas.


" Hah" Leo mengusap sisa air yang tersisa disudut bibirnya ia pun terkekeh geli.


" Itu untuk Mommy" Ucap Arthur langsung membuat Leo murung dan menatap Tabitha dengan tatapan penyesalan.


" Iya Mom?"


" Iya"


" Maafkan Leo, tadi Leo haus" Ucapnya dengan nada yang menggemaskan.


" Tak apa"


Leonardo duduk di kursi lalu ia pun menatap Mommy nya seakan tau dengan yang dipikirkan Tabitha, anak itu pun menggenggam tangan Mommy nya erat.


" Ada apa Mom?"

__ADS_1


" Leo"


" Iya?"


" Ada yang ingin Mommy bicarakan, tapi Leo janji Leo tak akan marah"


" Katatakan saja Mom"


" Baiklah"


Tabitha balik menggenggam tangan kecil putranya lalu ia pun menatap manik mata Leonardo.


" You'll become a big brother" Ucap Tabitha lembut yang langsung membuat Leo melebarkan matanya lalu menatap Tabitha dan Arthur silih berganti.


" Apa?"


" Kau akan jadi seorang kakak Leo" Ucap Arthur lembut.


" No! I don't want" Ucapnya dengan nada yang bergetar dan benar saja sedetik kemudian cairan bening dari pelupuk mata anak itu keluar tak terbendung.


" Leo, dengarkan Mommy"


" NO!"


Anak itu langsung berlari memasuki villa dan ia pun langsung membaringkan tubuhnya diatas ranjang dengan tangis yang masih sesegukkan.


" Arthur" Tabitha melirih ia pun menatap Arthur.


" Tenanglah, aku akan bicara padanya"


" Jelaskan padanya Arthur"


" Pasti"


Arthur membelai pelan surai Tabitha lalu mengecup singkat dahi wanita itu ia pun melangkahkan kakinya memasuki villa dan ia berjalan mendekati kamar Leo.


Arthur melihat anak itu sesegukkan diatas ranjang, Arthur mengetuk tiga kali pintu kamar Leo yang terbuka.


" Boleh Daddy masuk?" Tanya Arthur lembut yang langsung diangguki oleh anak itu.


Arthur yang mendapatkan izin dari Leo pun langsung menjalankan kakinya mendekati putra kecilnya. Arthur duduk ditepi ranjang dan membelai pelan puncak kepala Leo.


" Kenapa?"


" Daddy" Leo langsung meneggakkan tubuhnya dan memeluk Arthur dalam. Anak itu bahkan menumpahkan tangisanya di kaos Arthur.


Arthur pun mengelus pelan punggung putranya lembut.


" Sst, bicara pada Daddy kenapa kau menangis?"


" Leo tak mau adik kecil Dad"


" Kenapa? Bukanya mereka lucu"


" Tidak!" Balas Leonardo cepat.


" Kenapa?"


" Mereka menyusahkan!"


" Jangan berkata begitu"


" Leo tak mau Dad" Anak itu semakin mengeratkan pelukannya pada Arthur.


" Dengar boy, punya adik kecil itu sangat menyenangkan kau bisa bermain dengannya. Kau akan dipanggil kakak dan kau bisa melakukan apapun dengannya kau juga akan selalu menjaganya seperti kau menjaga Mommy lalu kalian akan berangkat sekolah bersama atau melakukan apapun bersama"


" Tapi Leo takut Dad"


" Apa yang kau takutkan?" Tanya Arthur melembut dengan membingkai wajah Leonardo yang penuh dengan lelehan air mata.


" Leo takut Daddy dan Mommy tidak sayang lagi pada Leo"


" Astaga, itu tak akan terjadi. Percayalah Daddy akan selalu menyayangi Leo. Mommy juga akan menyayangi Leo walaupun nanti ada adik bayi"


" Serius Dad?"


" Iya, dengarkan Daddy apapun yang terjadi Mommy dan Daddy akan selalu menyayangi Leo. Karena Leo adalah anak Mommy dan Daddy"


" Tapi Daddy janji kan akan tetap menyayangi Leo walaupun ada adik bayi nanti?" Tanya anak itu memastikan.


" Iya pasti"


" Yasudah Leo tak apa jika ada adik bayi"


" Bagus itu baru anak Daddy"


" Yes" Leo tertawa girang.


" Who are you?" Tanya Arthur dengan menaik turunkan alisnya.


" Im Leo like Exter, and im the winner" Ucapnya bangga lalu menenggelamkan kembali tubuhnya di dada bidang Arthur.


Arthur selelu mengucapkan itu sebagai motivasi untuk putranya. Dan hal itu pun terbukti sekarang Leo sudah tersenyum seperti semula. Tanpa ayah dan anak itu sadari sepasang mata mengawasi dari balik dinding, Tabitha. Wanita itu menghapus air matanya melihat perlakuan lembut Arthur terhadap Leo, pantas saja Leo terlihat lebih dekat dengan Arthur karena memang suaminya bertindak sangat manis didepan putranya. Tabitha dengan segan menghembuskan napasnya lalu bergerak memasuki kamar itu.


" Boleh Mommy masuk?" Tanya Tabitha membuat kedua orang yang saling berpelukan itu melepas pelukannya.


" Ya" Ujar Arthur pelan dengan senyum manisnya.


Tabitha melangkahkan kakinya mendekati ranjang dan mendudukan tubuhnya tepat disamping kanan Leo, wanita itu membelai pelan surai putranya sayang.


" Leo masih marah pada Mommy?" Tanya Tabitha lembut namun anak itu masih diam enggan menjawab.


" Leo" Kali ini Arthur kembali bersuara dan benar saja Leo yang tadinya menatap ke kiri perlahan menatap ke kanan dimana Tabitha berada.


" Maafkan Leo Mom" Ucapnya dan menubrukan tubuhnya ke tubuh Tabitha sedikit kasar hal itu pun sedikit membuat Tabitha tersentak kebelakang.


" Awas!" Arthur langsung memegang lengan Tabitha saat wanita itu sedikit kehilangan keseimbangan.


Tabitha menatap Arthur lekat dan ia pun tersenyum lega seraya menatap Arthur dengan tatapan terimakasih.


" Mommy! Im so sorry"


" Ya tak apa"


" Adik bayi nya tak apa kan?" Tanya Leo dengan mata yang mulai mencermati tubuh Tabitha dengan teliti.


" Tidak papa, tapi kak Leo harus hati-hati" Ucap Arthur membelai lagi puncak kepala Leonardo.


Leo yang namanya disebut dengan panggilan 'kakak' pun langsung merona. Anak itu mencerukkan wajahnya dileher Tabitha.


" Kak Leo... Leo mau punya adik, nanti kalo adiknya perempuan Leo bakal jagain. Leo bakal jagain adik Leo dari laki-laki jahat disekolah" Ucapnya semangat lalu tersenyum manis. Hal yang sama pun dilakukan oleh Arthur dan Tabitha, mereka saling berbalas senyum seraya menggenggam tangannya diantara mereka.


To Be Continue...


Vote Please...




Arthur De Lavega




Tabitha De Lavega



__ADS_1


Artha Leonardo De Lavega


__ADS_2