
Arthur membuka pintu kamarnya dan melihat Tabitha dengan menggunakan tanktop tanpa kimono tidurnya. Arthur mengerti arti tatapan yang diberikan istrinya. Pria itu berjalan mendekati Tabitha yang terlihat membaca majalah tepat disamping ranjang.
" Kenapa?" Tanya Arthur membuka jas kerjanya.
Tabitha menaikan penglihatanya menatap Arthur lekat.
" Apanya?"
" Kenapa kau hanya memakai tanktop dan hotpants?"
" Tak boleh?"
" Boleh, hanya saja kau..." Arthur menggantung kalimatnya dan duduk disamping Tabitha.
" Apa? Kau pikir aku berniat untuk menggodamu?"
" Ya kurasa"
" Pervert!"
Arthur menjatuhkan kepalanya di bahu Tabitha, mengecup singkat batang leher wanita itu. Tabitha dengan cepat menolehkan kepalanya menatap Arthur.
" Arthur" Peringat Tabitha seraya menutup majalahnya.
" Hm?" Tanya Arthur masih sibuk menciumi leher Tabitha.
Tangan Arthur sudah berada tepat di paha Tabitha pria itu meremasnya pelan.
" Arthur" Tabitha semakin mendongak saat Arthur sedikit memainkan batang lehernya. Hingga menimbulkan bekas.
" Aku mencintaimu" Ujar Arthur lalu meraih wajah Tabitha membelai pelan pipi wanita itu dan mendekatkan wajahnya dengan sang istri.
Tabitha menutup matanya dan merasakan bibir Arthur yang menyapu tepat dibibirnya. Ia sedikit melenguh kala tangan nakal Arthur mulai naik kebagian atas tubuhnya. Tak lama terdengar suara ketukan pintu. Mereka menghentikan aktifitasnya dan saling menatap dengan nafas yang saling bersahutan.
" Mommy?" Teriak seseorang diluar kamar, Artha.
Tabitha dan Arthur saling pandang namun yang paling lucu adalah ekspresi wajah Arthur yang terlihat sangat kesal akibat gangguan dari putranya itu.
" Artha datang" Ujar Tabitha masih menatap Arthur.
" Biarkan"
" Tapi_" ucapan Tabitha menggantung kala Arthur kembali memungutnya namun suara ketukan pintu semakin kencang. Membuat Arthur terpaksa memutus pungutannya dan menempelkan dahinya di dahi Tabitha.
" Mom, Dad apa kalian sudah tidur?" Teriak Artha kembali namun kali ini nada suaranya sudah bergetar.
" Arthur?"
" Biarkan, dia sudah besar. Lagi pula tanggung" Ujar Arthur malas.
" Tapi dia nanti menangis"
" Pura-pura tidak dengar" Ujar Arthur masih menatap Tabitha lekat.
" Arthur" Arthur menutup mulut Tabitha dengan jarinya dan mengecup pipi wanita itu singkat.
" Mom please open the door, i scared" Lirih Artha terdengar dengan suara seraknya. Anak itu mulai menangis.
" Arthur, dia menangis" Lapor Tabitha.
" Ta"
" Im coming honey" Ujar Tabitha lalu beranjak membuka pintu kamarnya membuat Arthur langsung menghela napasnya kasar.
Tabitha meraih kimono tidurnya dan langsung memakainya. Wanita itu membuka pintunya dan terlihatlah putranya yang sudah mengeluarkan air mata dari matanya. Tabitha langsung berjongkok dan menatap Artha membelai pelan kepala anak itu.
" Yes honey, what happen?" Tanya Tabitha lembut.
" Mom aku mimpi buruk, aku takut" Ujarnya memeluk Tabitha dan wanita itu pun memeluk Artha seraya menghadiahi ciuman singkat disisi kepalanya.
" Sudah jangan menangis itu hanya mimpi okey"
Artha mengangguk mengerti, anak itu kembali menatap mommy nya dengan tatapan penuh harap.
" Mom aku ingin tidur disini" Pintanya polos.
Tabitha menolehkan kepalanya kebelakang dan menatap Arthur yang terlihat menggelengkan kepalanya berusaha membuat Tabitha menolak pintaan dari anaknya itu tapi yang terjadi malah wanita itu menganggukan kepalanya.
" Iya kau boleh tidur disini, kenapa tidak?" Ujarnya dan langsung membuat Arthur menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang.
Artha langsung menghambur kedalam dekapan mommy nya dan Tabitha pun menggendong putranya sampai mereka pun menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang ikut bergabung dengan Arthur yang terlihat wajahnya memerah akibat gairah.
Artha langsung duduk diatas perut keras Arthur dan merebahkan tubuhnya di atas dada bidang milik Daddy nya.
" Dad, tubuh daddy bau" Ujarnya seraya menutup hidungnya membuat Arthur langsung mengapit dagu Artha dan mencium hidung putranya singkat.
" Kenapa? Daddy memang belum mandi" Ujar Arthur tenang.
Artha langsung bangun dari tubuh Arthur dan duduk disamping Tabitha yang sudah mendudukan tubuhnya bersender dikepala ranjang.
" Mom Daddy jorok belum mandi!" Sentak Artha mengadu.
" Iya Daddy jorok" Tabitha menimpali dan mendekap Artha lebih erat.
Arthur menegakkan tubuhnya dan menatap anak dan ibu yang tengah saling berpelukan itu, Tabitha menaikkan satu alisnya sedangkan Artha menutup hidungnya dengan telapak tangannya memberi kode seakan-akan tubuh Arthur bau.
" Kalian memang sama saja" Rutuk Arthur lalu berdiri melenggang memasuki kamar mandi dan mulai ritual mandinya. Pria itu melucuti kain yang melekat di tubuh atletisnya dan mulai mengguyur tubuhnya dengan air dingin berusaha menurunkan gairah yang masih menelingkupinya.
Artha masih menatap Mommy nya yang terlihat menatap pintu kamar mandi dengan sedikit mengulas senyum.
" Mom"
" Ya?" Tabitha menjatuhkan tatapannya pada Artha yang terlihat menatapnya bingung.
" Daddy kenapa?"
" Kenapa apanya?"
" Mengapa Daddy wajahnya merah?"
" Daddy hanya sedang lelah"
" Oh, jadi kalau kita lelah wajah kita akan memerah?"
" Tidak semua Artha"
" Tapi mom_"
" Artha ngantuk?" Sela Tabitha cepat menutup pertanyan konyol yang akan dikatakan oleh putranya lagi.
" Sedikit"
" Yasudah ayo tidur"
" Tapi Artha mau dibacakan cerita oleh Daddy"
" Baiklah, tunggu sebentar ya"
Lima belas menit berlalu Arthur keluar dengan menggunakan bathrobe dan ia pun menjalankan kakinya masuk kedalam walk in closet mengganti bathrobe dengan kaos biru tua dan juga celana training nya.
Setelah selesai ia pun keluar dari walk in closet dan disambut dengan Artha yang duduk ditengah ranjang sementara Tabitha yang duduk dibahu ranjang sebelah kiri. Arthur mendekati mereka dan masuk kedalam selimut itu lalu duduk ditepi ranjang sebelah kanan. Ia menatap Tabitha yang tersenyum tipis pria itu pun membalasnya.
Artha melirikkan matanya kearah leher sang Mommy yang terlihat memerah, bocah itu dengan cepat menelitinya. Sedangkan Tabitha mulai menautkan alisnya ia gugup setengah mati, dan parahnya Arthur hanya diam dan memperhatikan tindakan Artha.
" Ini apa Mom?" Tanya bocah itu polos dengan menyentuh leher Tabitha yang merah.
" Em, ini bukan apa-apa"
" Tapi kenapa merah?"
" Mommy digigit semut" Jawab Tabitha asal yang langsung membuat Arthur terkekeh.
" Masa?"
" Iya, semutnya gede nakal lagi" Ujar Tabitha menyindir Arthur pelan.
" Tapi Artha kalo kegigit semut nggak semerah ini, paling cuman bentol doang"
" Artha, udahan yah nanya nya. Artha ngantuk kan?"
" Iya"
" Yaudah tidur ya"
__ADS_1
" Tapi kalo nanti ketemu sama semutnya bilang ya Mom"
" Kenapa?"
" Artha mau injek biar nggak bikin Mommy sakit lagi"
Arthur melebarkan matanya kala bibir mungil Artha bicara hal itu, yang benar saja bagaimana bisa ia diinjak oleh putranya sendiri.
" Boleh, mau diinjak atau diapain aja boleh kok"
" Iya Mom, Artha nggak suka sama semutnya! Semutnya nakal gigit Mommy"
" Yaudah sekatang tidur yah" Putus Arthur, pria itu tak kuat mendengar ancaman atas dirinya yang dilayangkan oleh putra kecilnya, sedangkan Tabitha sudah terkekeh geli melihat ekspresi Arthur.
Artha menepuk pelan lengan Arthur, pria itu langsung menatap Artha dengan tatapan pertanyaan dan anak polos itu malah menyerahkan buku Harry Potter pada Arthur.
" Bacakan Dad" Pinta anak itu dengan menunjukkan wajah imutnya.
Arthur menganggukan kepalanya dan mengambil buku itu membuka halamanya sementara Tabitha membantu Artha untuk berbaring diantara mereka.
Arthur mulai membacakan cerita harry potter yang diinginkan putranya. Anak itu mulai memejamkan matanya dan Tabitha pun membelai pelan kepala Artha mencoba untuk membuat anak itu tertidur dan menggapai alam mimpinya.
Setelah sepuluh menit Arthur membaca buku itu terlihat Artha sudah terlelap dengan membawa tangan mommy nya tepat didepan dada anak itu. Arthur menutup bukunya dan menatap Tabitha.
" Dia sudah tidur" Lapor Tabitha dengan suara yang pelan namun masih bisa didengar Arthur. Pria itu menganggukan kepalanya dan meletakkan buku itu diatas nakas.
Tabitha merebahkan tubuhnya. Arthur dengan sigap menarik selimut yang tadi berada ditengah tubuhnya keatas untuk membalut tubuh ketiga orang itu. Tabitha memiringkan tubuhnya menatap Arthur. Hal yang sama pun dilakukan pria itu. Mereka saling menatap Arthur meraih tangan kanan Tabitha menciumnya lembut dan meletakkan tangan mereka diperut Artha, mereka pun memejamkan matanya meraih mimpinya masing-masing.
🔫🔫🔫
Tabitha memasuki mobilnya setelah lelah berbelanja bulanan, sebenarnya ini adalah tugas Madam Rose. Tabitha sadar wanita itu semakin tua dan ia tak tega membiarkan Madam Rose bekerja seharian penuh di dalam mansion. Dan sekarang ia harus berbelanja keperluan mansion yang tidak sedikit dan sudah pasti sangat melelahkan berkeliling mall untuk mencari keperluannya, akhirnya Tabitha memutuskan untuk ikut membantu Madam Rose berbelanja walaupun Arthur masih tetap memberi pengawalan ketat untuk menjaga keselamatannya.
" Kira-kira apa yang sedang dilakukan suamimu?" Tanya Madam Rose sesaat setelah mobil mereka melaju menuju mansion.
" Mungkin dia sedang bermain dengan Artha"
" Jika itu terjadi sudah dipastikan ia membawa Artha ketaman untuk bermain dengan Exter" Ujar Madam Rose.
" Aku terkadang tak menyukai saat Arthur bermain dengan Exter"
" Kenapa?"
" Aku hanya takut"
" Exter tak akan menyakiti Artha, lagi pula Exter sudah bersama dengan Arthur sejak singa itu kecil. Jadi kecil kemungkinan Exter menyerang Arthur"
" Itu kan Arthur bukan Artha"
" Aku paham"
" Aku hanya takut Madam Rose"
" Wajar kau seorang ibu" Ujar Madam Rose mengelus pelan bahu Tabitha, wanita itu menatap tangan keriput Madam Rose dan beralih menatap Madam Rose.
" Terimakasih sudah mengerti"
" Nyonya kita sudah sampai" Ujar supir membuat Tabitha dan Madam Rose menghentikan obrolannya.
" Ah iya, bawakan barangnya" Perintah Tabitha yang langsung diangguki oleh supir itu.
Tabitha dan Madam Rose turun dari mobil, wanita paruh baya itu menunggu Tabitha yang berjalan memutari mobilnya, setelah Tabitha berdiri disamping Madam Rose ia pun segera memberi kode untuk berjalan. Ditengah perjalan Bodyguard Arthur sedikit merunduk saat Tabitha berjalan melewatinya bak seorang prajurit yang menghormati ratunya.
Tabitha membuka pintunya dan matanya mencari keberadaan Arthur dan putranya. Ia melirik kearah taman, dan kosong taman itu terlihat lenggang hanya ada Exie yang terlihat tengah berjemur. Wanita itu menjalankan kakinya kearah ruang keluarga. Matanya membelalak bahkan seperti hendak keluar dari sarangnya saat melihat tontonan yang sedang ditonton seseorang di hadapanya. Tabitha segera melihat kearah sofa dan mendapati Artha tengah duduk dengan snack ditangan kanannya dan terlihat fokus melihat tayangan Victoria's Secret di TV.
" Artha!" Sentak Tabitha membuat tubuh kecil anak itu sedikit tersentak.
Artha segera berdiri dan menatap Mommy nya.
" Mommy sudah pulang?"
" Apa yang kau tonton Artha?"
" Model" Balas anak itu polos.
" Ya Tuhan kau menonton wanita setengah telanjang tanpa pengawasan"
" Memangnya kenapa mom? Aku juga akan telanjang saat akan mandi"
" Artha itu berbeda"
" Sudahlah, siapa yang memberikanmu izin menonton itu?" Tanya Tabitha mulai kesal.
" Aku..."
" Artha"
" Mom don't call like that, just call me Leo"
" Namamu Artha"
" My name is Leonardo"
" Aku tau tapi kau dipanggil Artha"
" No! I want mommy call me Leo"
" Why?"
" Because im the winner mom, my name is Leo like Exter"
" Exter hewan dan kau manusia Artha"
" Mommy" Rengek anak itu menghentakkan kakinya.
" Ya Tuhan, aku lupa dia anak siapa" Gumam Tabitha seraya menggelengkan kepalanya.
" Baiklah, Leo kau anak baik kan?"
" Tentu saja" Ujar anak itu semangat.
" Baiklah, siapa yang memberikanmu izin menonton tayangan itu?"
" Memangnya kenapa?"
" Katakan saja"
" Daddy"
" Apa!"
" Ya, Daddy bilang aku bisa menonton apapun yang aku ingin. Termasuk menonton wanita-wanita itu"
" Ya Tuhan, Arthur!" Rutuk Tabitha tajam.
Tabitha menatap putranya dan ia pun merundukan tubuhnya untuk lebih jelas menatap wajah polos putranya.
" Leo, kau ingin jadi anak baik kan?"
" Iya"
" Kau tak ingin mommy cari anak lagi kan?"
" Tentu saja"
" Baiklah sekarang tutup telingamu sebentar"
" Untuk apa mom?"
" Tutup saja"
Anak itu menganggukan kepalanya dan ia pun menutup kedua telinganya dengan kedua telapak tangannya, sementara Tabitha sudah menegakkan tubuhnya dan menatap ruang kerja suaminya.
" ARTHUR!!!" Teriak Tabitha menggelegar membuat maid yang ada disana sedikit tersentak.
Arthur mendengar teriakan dari sang istri, pikirannya berkecamuk.
" Shit! Tabitha sudah pulang" lirih Arthur menutup dokumen nya.
" Leo sedang mononton... Double shit! Semoga Tabitha tidak melihatnya" Pinta Arthur membereskan berkas-berkasnya dan menatanya diatas meja kerja pria itu.
Arthur segera menjalankan tubuhnya keluar dari pintu ruang kerjanya. Ia menuruni tangga dengan cepat, ia melihat Tabitha yang sudah berdiri dengan melipat tanganya didepan dada sedangkan Leo terlihat sedang menutup telinganya.
"Im coming, what happen hone_" Ucapan Arthur terhenti seketika saat matanya menangkap acara televisi yang memperlihatkan model-model Victoria's Secret yang sedang catwalk dengan bikini.
__ADS_1
Arthur memelankan langkah kakinya, ia paham sekarang mengapa Tabitha sampai berteriak.
" Ada apa?" Tanya Arthur masih berusaha menutup rasa gugupnya dan berdiri disamping Leo.
" Ada apa? Kau masih tanyakan itu?" Tanya Tabitha menatap intimidasi pada ayah dan anak itu.
" Daddy" Lirih Leo memepetkan tubuhnya dibelakang Arthur.
" Jawab, kau yang memberikan izin untuk Leo menonton tayangan seperti ini?"
" Maaf, aku hanya membebaskannya menonton apa yang dia inginkan"
" Arthur tapi itu belum pantas ditonton anak berusia lima tahun"
" Apa salahnya lagi pula dia pria Ta"
" Ya Tuhan, kenapa kalian ini!" Rutuk Tabitha tajam.
Arthur melihat kebawah menatap putranya yang terlihat ketakutan.
" Kenapa keu memberitahu mommy mu?" Bisik Arthur.
" Mommy seram Leo takut" Cicit Leo pelan.
" Kau benar" Bisik Arthur lagi.
" Maaf sudah mengingkari perjanjiannya Dad"
" Iya kau ini bagaimana, perjanjian kita hancur karena mu" Bisik Arthur lagi.
" I'm Sorry Dad" Cicit Leo penuh penyesalan.
" Perjanjian apa?" Tanya Tabitha yang sontak membuat Arthur menatapnya lekat.
" Bukan apa-apa"
" Serius?" Tanya Tabitha memastikan.
" Iya serius" Ujar Arthur.
Tabitha menjongkokkan tubuhnya menatap Leo yang berada dibelakang tubuh Arthur.
" Leo"
" Ya Mommy"
" Leo mau Mommy cari anak lagi?"
" Jangan"
" Baiklah, katakan perjanjian apa?"
" Em, sebenarnya Leo dan Daddy membuat perjanjian. Leo bisa menonton apapun yang ada di TV asalkan Leo tidak mengganggu Daddy saat Daddy bekerja" Ujar Leo yang sukses membuat Arthur menepuk jidatnya.
Tabitha menegakkan tubuhnya dan menatap Arthur.
" Jadi kau membebaskan putramu menonton acara seperti itu Arthur?"
" Ta"
" Jawab saja"
" Iya, maafkan aku"
" Arthur!" Tabitha mendesis dan sedikit menyentak Arthur.
Arthur yang mengerti keadaan langsung menatap Leo dan merundukan tubuhnya.
" Leo masuk ya, Daddy ingin bicara dengan Mommy"
" Tapi Daddy_"
" Masuk ya" Pinta Arthur lagi yang langsung disambut anggukan patuh dari anak itu.
Leo berjalan meniki tangga dan memasuki kamarnya sedangkan Tabitha sudah berkacak pinggang seraya menatap Arthur.
" Sekarang apa?"
" Aku minta maaf, lagi pula itu hal yang biasa" Ucap Arthur tanpa dosa yang sukses membuat telinga Tabitha yang mendengarnya kembali memanas.
" Arthur! Kau tau kau membiarkan anak berusia lima tahun menonton acara dimana wanita-wanita itu berlenggok dengan bikini! Dan kau sebut itu adalah hal yang biasa!" Sentak Tabitha berapi-api.
" Baiklah ralat, itu hal yang luar biasa" Ucap Arthur tanpa dosa yang membuat Tabitha menggelengkan kepalanya kesal.
" Ta, maafkan aku. Aku hanya sedikit sibuk dengan pekerjaanku."
" Kenapa kau selalu sibuk dengan pekerjaan Arthur?"
" Aku_"
" Jika kau tidak mau mengurusnya katakan saja!"
" Kenapa aku tak mau, dia putraku"
" Kau lebih mementingkan pekerjaanmu kan?"
" Ta bukan begitu maksudku"
" Katakan sudah berapa kali?"
" Sebenarnya ini sudah yang ketiga kalinya" Ujar Arthur gugup.
" Ya Tuhan, kau!" Tabitha berdecak dan sedikit meremas rambutnya frustasi dengan kelakuan pria dihadapanya. Bagaimana bisa dia membiarkan putranya menonton tayangan seperti itu.
" Maafkan aku" Arthur meraih lengan Tabitha tapi wanita itu dengan cepat menghentakkan tangan Arthur.
Tak lama Leo datang berlari dan memeluk paha Tabitha dan menumpahkan tangisanya disana.
" Mom please forgive me" lirihnya.
Tabitha langsung melihat kearah Leo yang sudah menangis tersedu-sedu.
" Jangan seperti Mom dan Dad nya Clarissa" lirih Leo pelan membuat Tabitha langsung mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh pendek Leo.
" Maksud Leo apa?"
" Clarissa bilang Mommy dan Daddy nya selalu bertengkar setiap hari, dan sekarang Daddy Clarissa pergi"
" Jadi?"
" Mommy jangan seperti mereka yah, maafkan Daddy" Ujar anak itu penuh harap.
Tabitha luluh, bagaimana bisa ia menolak keinginan putranya, ia juga tak ingin hal yang sama menimpa Leo.
" Tak akan terjadi apapun pada kami" Arthur ikut mensejajarkan tubuhnya dengan Leo dan Tabitha.
Pria itu merangkul pundak sang istri dan menatap Leo.
" Daddy dan Mommy tak akan berpisah"
" Serius?"
" Iya"
Leo langsung menghambur kedalam pelukan Daddy dan Mommy nya. Ia mencium pipi Arthur dan Tabitha silih berganti.
" Aku cinta kalian" Ungkap anak itu kembali menenggelamkan tubuhnya dalam pelukan Arthur dan Tabitha.
To Be Continue...
Vote Please...
Artha Leonardo De Lavega
Tabitha De Lavega
__ADS_1
Arthur De Lavega