
"... The King" ujar Petter.
" The King? Siapa itu?" Tanya Arthur.
" Aku tak tau, aku hanya seorang penembak biasa yang dibayar untuk membunuhmu" ucap Petter.
" Kau pernah bertemu dengan The King sialan itu?"
" Tidak, selama perencanaan penyerangan ini tak ada yang bertemu The King kami hanya diberi intruksi lewat e-mail dan anak buah The King yang mengintruksikan penyerangan ini, dia tidak pernah dilihat oleh kami percayalah Arthur"
" Sialan! Siapa yang berusaha mengibarkan bendera perang denganku" Tanya Arthur.
" Brian! Alexander!" Teriak Arthur.
Tak lama setelah teriakan boss nya Brian dan Alexander memasuki ruang penyekapan.
" Ada apa Boss"
" Alexander apakan saja pria ini, mau kau cincang tubuhnya dan diberikan ke Exter juga boleh, tapi jika mood mu sedang baik, lepaskan saja dia." Ucap Arthur melenggang pergi diikuti oleh Brian mereka memasuki ruang pribadi Arthur. Arthur duduk dikursi Kejayaannya dan mengangkat satu kakinya tak lama kesayangan pria itu datang dan duduk disampingnya, dengan sayang Pria itu mengelus kesayanganya yang ia rindukan.
" Hallo Kal, Miss with your Dad?" Ujar Arthur sembari mendekatkan wajahnya dan disambut oleh Kal, Anjingnya.
" Bisakah kau lebih dewasa Arthur, kau tau kita baru saja diserang dan kau terlihat tenang?" Tanya Brian.
" Kal, kau tau Daddy mu ini sangat bahagia, hmm.." ujar Arthur menghiraukan pertanyaan Brian dan malah memanjakan anjing kesayanganya.
" Sinting!" Umpat Brian.
" Aku mendengarmu Brian, jika aku mau kau bisa saja diincar oleh Kal, benar tidak Kal?" Ucap Arthur kembali mengelus anjingnya.
" Bisakah kau singkirkan anjing sialanmu itu aku ingin bicara penting!" Ujar Brian.
" Baiklah, Kal kau kesana dulu okey nanti Daddy akan bermain denganmu" titah Arthur, seakan mengerti yang dikatakan Arthur anjing itu pun berjalan menjauhi tuannya sedangkan Arthur melambaikan tangan kananya dan senyum sumringah dibibirnya.
" Wow pertunjukan yang amat menyenangkan dari seorang Daddy dan anak nya, Gila!" Ujar Brian memutar matanya malas.
" Katakan" ucap Arthur.
" Petter bilang The King, apa kau berfikiran sama denganku Arthur?"
" Kau mengira The King dan Damian adalah orang yang sama?"
" Ya, satu satunya orang gila yang menjadikan kau sebagai Rival abadinya adalah Damian." Ucap Brian menyilangakan tangannya didepan dada.
" Aku juga awalnya mengira ini perbuatan Damian..." ucap Arthur menjeda.
" Tapi aku melihat ditubuh Petter tak ada simbol tengkorak disana artinya ia bukan bagian dari Black World dan bukan kaki tangan Damian" ujar Arthur berdiri dan memandang pemandangan malam kota New York.
" Kau benar, lagi pula kita juga tak menemukan simbol Black World di helikopternya."
" Mereka juga dari Italy bukan dari Macau" ucap Arthur.
" Pertanyaan nya siapa The King?" Ucap Brian.
" Kita buntu Brian, Petter tak pernah menemui The King"
" Kita bisa jika kita melepaskan Petter dan memintanya untuk berbicara pada kaki tangan The King dan setelah itu kita akan mengawasinya kalau perlu kita minta Petter untuk memberi pelacak pada orang itu" lanjut Arthur.
" Dengan begitu kita akan tau markasnya dan kita akan semakin mudah mengetahui siapa The King sebenarnya?" Tanya Brian.
" Ya" jawab Arthur singkat.
" Boss, kau memang Briliant otakmu memang sangat licik tapi kau gegabah itu yang kusayangkan"
" Bungkam mulutmu Brian, aku ingin pulang periksa Alexander minta dia untuk tidak membunuh Petter dan pasangakan pelacak pada Petter" ucap Arthur dan melenggang pergi.
" Perlukah kita mencoba melacak informasi The King oleh Matthew?" Tanya Brian.
" Lakukan saja semau mu Brian" ucap Arthur menjauh.
" Kau memang menyebalkan Arthur" ucap Brian mendengus.
🔫🔫🔫
__ADS_1
Arthur kembali ke mansion nya dan disambut oleh Madam Rose pengasuhnya.
" Hallo Madam" ucap Arthur mencium pipi kanan pengasuhnya itu.
" Putraku, kau tau aku sangat mencemaskanmu, selama ini kau tak pulang dan setelah pulang kau memberikanku seorang menantu?"
" Maafkan aku Madam" ucap Arthur.
" Apa dia sudah bangun?" Lanjut Arthur.
" Kau mengerjainya?"
" Ya"
" Kau memang nakal Arthur"
" Maafkan aku Madam, dan Karin akan pulang siang ini"
" Baiklah terimaksih" ucap Madam Rose.
" Aku naik dulu" ucap Arthur diikuti anggukan dari pengasuhnya.
Arthur berjalan menuju lift mansionnya dan menuju lantai 4 dimana letak kamarnya berada. Ia berjalan kearah pintu kamarnya dan membukanya ia melihat punggung polos Tabitha yang tak tertutupi selimut tanganya pun tergerak untuk membenahinya. Arthur memperhatikan wajah Tabitha yang sangat damai Arthur pun mencium kening Tabitha. Arthur berjalan kearah Walk in closet dan mengganti celana kainnya dengan celana training.
🔫🔫🔫
Tabitha terbangun dan mendudukan dirinya di kepala ranjang ia kembali teringat kejadian semalam dan sukses membuatnya tersipu namun ia baru sadar Arthur tak ada dikamarnya ia hendak beranjak namun pintu kamar terbuka menampilkan Arthur membawa sebuah nampan ditanganya.
" Kau sudah bangun?"
" Ehm... I-iya" ucap Tabitha.
" Mau sarapan?" Tanya Arthur.
" Om duluan aja, Tata mau mandi" ujar Tabitha.
" Om? Kamu masih panggil saya om gitu? "
" Eh, jadi panggilnya apa?"
" Udah ah mau mandi"
Tabitha hendak berdiri namun ia meringis merasa nyeri diselangkanganya dengan cepat Arthur menggendong tubuh Tabitha dan membawanya ke kamar mandi dan mendudukan Tabitha ke Bathtub.
" Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu mandi dan untuk mengurangi rasa sakitnya maafkan aku samalam" ucap Arthur.
" Nggak papa, makasih Arthur" ucap Tabitha tersipu.
" Aku harus pergi sarapanmu ada di nakas jangan lupa habisakan" ucap Arthur mengecup pipi Tabitha dan berlalu pergi.
" Hua... Oksigen mana... Oksigen" teriak Tabitha yang masih didengar sang suami, Arthur tersenyum dan menggelengkan kepalanya mendengar teriakan istrinya.
Ia pun segera bangkit dan turun ke lantai satu, disana ia bertemu madam Rose.
" Madam, aku titip Tabitha dulu, hari ini ada beberapa meeting penting jadi mungkin akan pulang lambat" ujar Arthur.
" Baiklah Hati-hati" ucap Madam Rose.
Arthur pergi dan disambut supirnya dan tentu saja sudah ada Brian disana, ia pun melesat menuju De Lavega Group dengan mobil Bugatti La Voiture Noire.
🔫🔫🔫
Tabitha keluar dari kamarnya hanya menggunakan turtleneck kuning dan celana jeans saja ia sedikit kebingungan untuk kelantai dasar amun seoramg maid menunjukan lift untuk kelantai bawah Tabitha tercengang pasalnya ia baru tau kalau mansion ini memiliki lift, ralat bahkan Tabitha belum mengetahui mension ini sepenuhnya.
Setelah sampai di lantai bawah Tabitha berjalan kearah Pantry namun seseorang memegang lenganya.
" Mrs. De Lavega?"
" Iya"
" Saya Madam Rose kepala Maid di Mansion ini" ujarnya menudukan tubuhnya.
__ADS_1
" Owh, hai... Ehm.. sebenarnya aku ingin membuat Cookies tapi bingung memilih bahan-bahan nya boleh kuminta bantuan mu Madam?"
" Dengan senang hati nyonya"
" Terimakasih" ujar Tabitha berjalan dibelakang Madam Rose.
" Kau tau Tuan Arthur benar kau sangat cantik"
" Oh ya, terimakasih kau juga" ucao Tabitha sambil memilih bahan-bahannya.
" Jadi kau ibunya Karin?" Tanya Tabitha.
" Iya, nyonya mengenalnya?"
" Madam bisakah kau memanggilku dengan nama seperti Tabitha atau Tata saja sebenarnya sudah cukup" ujar Tabitha memasang wajah cemberutnya.
" Baiklah maafkan aku"
" Hey, tidak papa aku hanya bercanda"
" Well, kau akan terkejut oleh beberapa hal yang akan kau ketahui tentang Arthur"
" Oh ya?"
" Ya, jadi siapkan saja mentalmu"
" Aku bahkan sudah terbiasa mengahadapi sikap menjengkelkannya" ujar Tabitha mulai membuat Cookies.
" Dia memang sangat menjengkelkan"
" Memang" ujar Tabitha tertawa diikuti oleh tawa dari Madam Rose.
" Baiklah adonannya sudah siap tinggal di oven setelah itu selesai" ucap Tabitha.
" Baguslah, kuharap rasanya manis seperti dirimu"
" Madam Rose bisa saja, Terimakasih sudah membantu"
" Sama-sama"
" Dimana Arthur?"
" Dia dikantor tadi pagi dia bilang akan pulang terlambat karna akan banyak meeting hari ini"
" Baiklah aku ditinggal lagi" ucap Tabitha diikuti kekehanya.
" Bersabarlah"
Ting
" Cookies nya sudah matang, mari kita angakat" ujar Tabitha mengangkat Cookies matang dari oven.
" Wow, sepertinya kezat"
" Iya"
Tabitha mengambil Cookies itu dan meniupnya sebentar lalu memasukanya kedalam mulutnya, tindakan yang sama pun dilakukan Madam Rose.
" Kau benar ini Lezat" ucap Madam Rose.
" Untung saja Arthur tidak disini jadi kita bisa menghabiskannya berdua saja" ucap Tabitha.
" Ekhm..."
To Be Continue...
Vote Please...
Tabitha De lavega
Arthur De Lavega
__ADS_1