
Jam menunjukkan pukul 10 malam, Tabitha terbangun dari tidur nyenyak nya, wanita itu meraih gelas di atas nakas namun gelasnya kosong. Ia beridiri tapi sedetik kemudian badan nya terhuyung, ia pun berpegangan pada kepala ranjang, wanita itu merasa kepalanya pusing. Ia memijit pelan pelipisnya berharap pusing itu segera hilang.
Ia melangkahkan kakinya perlahan lalu saat sampai didepan kamar tamu yang Arthur tempati wanita itu menyempatkan untuk memeriksa keadaan Arthur. Saat pintunya terbuka ia mendapati kamar itu kosong dan dingin seperti tak terjamah.
Ia menggelengkan kepalanya mungkin Arthur lembur atau pergi ada urusan dengan Regnarok bukan? Batin Tabitha.
Ia kembali melanjutkan jalan nya, namun kepalanya semakin pusing saat menuruni tangga. Dan sayup-sayup terdengar suara Arthur. Wanita itu segera bergerak cepat walau kepalanya terasa mau pecah, hingga saat di anak tangga ketiga tubuhnya terhuyung bahkan gelas yang sedari tadi ia bawa sudah jatuh mengenaskan di lantai. Ia menahan napasnya lalu menghela napas lega saat mendapati lengan besar menyangga tubuhnya.
Wanita itu mendongakkan kepalanya bertemu dengan manik biru terang Arthur. Ia tersenyum berterimakasih namun berbanding terbalik dengan ekpresi yang diberikan Arthur.
" Ceroboh! Bagaimana kau bisa terhuyung begitu! Bagaimana kalau tidak ada aku tadi!"
" Maaf"
" Kau tidak apa-apa Mrs. De Lavega" ucap seorang wanita dibelakang tubuh tegap Arthur dengan nada yang terdengar sangat menjijikan.
" Arthur siapa dia?"
" Dia teman kencanku"
" Apa!" Tabitha menatap Arthur dengan tatapan tidak percaya ia membeku ditempat.
Arthur menarik tubuh Tabitha sampai ke bawah dan mendudukannya di sofa ruang tengah. Sedangakan Tabitha air matanya kembali menetes.
" Masuklah kekamar yang pintunya berwarna hitam" suruh Arthur lalu wanita itupun mulai menaiki tangga menuju kamar utama yang ditempati Tabitha.
" Tidak! Jangan Arthur, kumohon"
" Apa yang kau mohonkan?" Tanya Arthur tenang, bahkan pria itu hanya mengangkat alisnya.
" Jangan jadikan kamar itu sebagai tempatmu dan jalangmu melakukanya"
" Memangnya kenapa?"
" Kau bisa melakukanya dimanapun, tapi ku mohon jangan dikamar kita" pinta Tabitha dengan nada gemetar, sungguh wanita mana yang rela jika suaminya tidur dengan wanita lain.
" Kau melupakan sesuatu Ta, kau lupa ini adalah mansionku, seluruh kamar ini adalah milikku jadi terserah dimana pun aku ingin melakukanya maka itu akan terjadi"
" Arthur ku mohon padamu" lirih Tabitha.
" Aku harus pergi"
" Bisakah kau hargai aku sedikit saja sebagai istrimu Arthur?"
Arthur yang hendak melenggang pun terpaksa membalikkan badanya untuk kembali menatap istrinya.
" Lalu bagaimana jika pertanyaan itu aku balik padamu Ta?"
" Maksudmu?"
" Bisakah kau menghargaiku sebagai suamimu Tabitha" ucap Arthur dengan penekanan disetiap kalimatnya.
" Aku selalu menghargaimu"
" Seriuosly?"
" Ya"
" Lalu bagaimana dengan kejadian dua minggu yang lalu?"
" Kejadian apa?"
" Kau berbohong padaku!"
" Katakan dengan jelas Arthur"
" Kau wanita cerdas, tak mungkin kau tak mengerti ucapanku!"
" Sungguh Arthur"
Arthur mengetatkan rahangnya kesal, ia menahan untuk tidak menyakiti wanita dihadapannya namun ego nya kembali berkata jika ini lah saatnya membongkar kebusukan istrinya.
Arthur berjalan mengikis jarak antara dirinya dan Tabitha, pria itu meraih ponsel di saku jas nya, lalu memberikannya pada Tabitha.
" Apa?"
" Bukalah"
Tabitha menelan salivanya, ia gugup. Apa yang hendak Arthur tunjukkan padanya? Batin Tabitha.
Wanita itu membuka ponsel Arthur dan ternyata ponsel itu sudah dalam galeri, yang ia lihat pertama kali adalah fotonya dan Clark di sofa apartemen pria itu.
Tabitha merasa lututnya sangat lemas tubuhnya seakan tak bisa bergerak, badanya kaku seketika.
" Bisa kau jelaskan apa itu?"
" I-ini_"
" Kau pasti bertanya, bagaimana aku mengetahuinya?"
" Kau melupakan satu hal Tabitha, disetiap kau pergi maka disitu akan ada bodyguard pilihanku"
" Arthur ini tidak seperti yang kau kira"
" Memangnya apa yang ku kira?"
" Arthur?"
__ADS_1
" Semua orang akan berpikir hal yang sama saat melihat fotomu hanya menggunakan underwear dan bedebah itu yang hanya bertelanjang dada" ujar Arthur sinis.
" Sungguh Arthur, aku tak tau"
" Bagaimana kau bisa tak tau Tabitha!"
" Arthur"
" Foto ini adalah dirimu! Kau sendiri lalu mengapa kau tak tau!"
"..."
" Kau pikir apa alasanku selama dua minggu ini mengabaikanmu? Ini lah alasanya!"
"..." Tabitha tak mampu menjawab, lidahnya keluh ia hanya mampu menatap Arhur yang marah dihadapanya dan air matanya pun tak lagi bisa dicegah.
" Kau adalah seorang istri! Seharusnya kau berpikir sebelum melakukan itu Tabitha!"
" Aku tak melakukan apapun dengan Clark, aku dijebak Arthur!"
" Dijebak? Kau saja yang bodoh! Sudah kuperingatkan, jangan keluar mansion sebelum kau mendapat izin dariku, tapi apa. Kau melanggarnya kan?"
" Aku bingung waktu itu. Clark mengancam akan menyakiti Diana, jadi aku tanpa pikur panjang langsung menemuinya"
" Terserah apapun alasanmu Tabitha aku tidak perduli"
" Arthur kita bisa bicarakan ini baik-baik"
" Selama dua minggu ini aku tersiksa kau tau! Aku selalu saja merasa menjadi pria terbodoh karena mencintai seorang gadis kecil yang bahkan mencintai orang lain!"
" Aku tak memiliki rasa apapun pada Clark!"
" Tapi foto itu buktinya Tabitha!"
" Arthur cukup!" Tabitha merasa pusing dikepalanya menjadi-jadi, sedangkan Arthur tidak berhenti meluapkan amarahnya.
" Kau dan ****** itu tidak ada bedanya! Sama-sama murahan. Bedanya dia lebih terhormat karena aku yang menjemputnya dan membawanya kemari, sedangkan kau. Kau dengan muruhanya mendatangi pria itu ck"
" Arthur cukup" lirih Tabitha bertumpu pada sofa.
" Kau adalah istri seorang De Lavega! Kau wanita terhormat! Tapi mengapa kau melakukan ini Tabitha! Jawab aku!"
Tabitha hanya diam, ia benar-benar tersiksa dengan ucapan Arthur dan rasa sakit dikepalanya.
" Seorang wanita dan pria dewasa dalam sebuah apartemen dengan keadaan begitu. Kira-kira apa yang telah mereka lakukan?"
" Aku tak melakukan apapun" ujar Tabitha terbata-bata
" PEMBOHONG!" Arthur mendekati istrinya.
" Kau sudah sangat mengecewakanku Tabitha! Aku memberimu dunia ini tapi kau dengan kejamnya membalasku dengan penghianatanmu?"
" Arthur"
" Ak_"
" Kau berkata sendiri bukan? Kau sangat benci pada kebohongan, tapi kau sendiri melakukan itu!"
" Arthur" lirih Tabitha.
" Ku mohon hent-ikan_" lirih Tabitha lalu tubuhnya meluruh kelantai dingin Arthur, pria itu membalikkan badanya melihat istrinya sudah terbaring lemas tak berdaya, hatinya berkata untuk menolongnya tapi pikirannya menolak.
" ARTHUR! APA YANG KAU LAKUKAN!" Teriak Brian panik saat melihat Tabitha lemas tak berdaya di lantai.
Brian dengan cepat berlari menghampiri Tabitha, menumpukan kepala wanita itu ke paha nya dan menepuk pelan pipi kanan nya.
" Arthur cepat angkat dia"
" Tidak"
" Arthur dia istrimu!"
" Kau peduli padanya?"
" Iya"
" Kalau begitu kau saja yang mengangkatnya, tapi jangan dikamar utama. Ada temanku disana" Brian mengerti maksud dari 'teman' yang diucapkan Arthur pria itu menggeram dan melepas pelan kepala Tabitha menghampiri Arthur dan menarik kerah kemeja yang Arthur pakai.
" Dengar! Kau sudah bukan Arthur yang kukenal! Kau memang kejam tapi tidak pada wanita!"
" Terserah"
" Dia istrimu lihat keadaannya!" Ujar Brian sembari menunjuk kearah Tabitha.
" Kau brengsek Arthur! Dengar jika terjadi apa-apa padanya kau akan menyesal!"
" Kau mencintainya?"
" BODOH KAU! DIA SUDAH KUANGGAP SEBAGAI ADIKKU SENDIRI!" teriak Brian dihadapan Arthur ia sangat berapi-api sekarang sedangkan Arthur masih dalam mode diamnya.
" Ku pikir kau pelan-pelan akan memperbaiki hubunganmu dengan Tabitha tapi nyatanya tidak!" Desis Brian lalu melepas kerah kemeja Arthur mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang.
" Dokter Ryan, bisakah kau kemansion Arthur sekarang?"
" Ya Brian ada apa?"
" Tabitha pingsan, kau cepatlah kesini"
__ADS_1
" Baik"
Brian menutup telpon itu sepihak, dan memasukkan kembali ponselnya ke saku celananya dan ia pun membawa tubuh Tabitha ke kamar tamu. Ia sangat jijik dengan wanita yang ada di dalam kamar Arthur.
Setelah membaringkan tubuh lemah Tabitha, Brian mondar mandir di depan kamar. Ia khawatir jujur saja saat melihat pertama kali wajah Tabitha ia merasa kalau gadis itu sangat manis, Brian menyayanginya sebagai seorang adik. Ia ingin melindungi wanita itu dari siapapun yang menyakitinya termasuk Arthur sekalipun.
Tak lama Dokter Ryan datang.
" Dimana dia?"
" Mari saya tunjukkan" Ujar Brian membuka kamar san mereka berdua pun masuk.
" Bagaimana bisa seperti ini dok?"
" Aku akan memeriksa nya dulu"
" Baiklah"
Brian keluar dari kamarnya dan menemui wanita dikamar utama. Pria itu membuka pintu kamar Arthur dan terlihatlah wanita yang Arthur sebut 'teman kencannya'. Brian dengan cepat melangkah mendekati wanita itu.
" Nona, maaf sebaiknya kau pergi saja dulu"
" Tidak"
" Jangan keras kepala"
" Arthur sendiri yang menjemputku, lalu mengapa aku harus menuruti perintahmu?"
" Pergilah sekarang juga, lihatlah keadaan istri Arthur dia pingsan karena ulah kalian"
" Dia saja sangat lemah" Brian menghela napas mendengar penuturan wanita dihadapanya.
" Pergilah akan kubayar kau tiga kali lipat dari bayaran yang Arthur berikan"
" Baiklah"
" Cepat enyah lah dari sini!"
" Iya, tuan tampan"
Brian sedikit bergidik, ia sangat tidak menyukai wanita yang cenderung agresif seperti wanita dihadapanya.
Setelah wanita itu keluar Brian mendatangi Arthur ia melihat Arthur duduk dengan tenang, dan jangan lupakan cerutu yang terselip di bibirnya. Walau wajah Arthur mengisyaratkan ketidak pedulian, Brian yakin di mata, pria itu tidak bisa berbohong. Ia yakin Arthur khawatir dengan keadaan Tabitha.
" Pergilah, lihat keadaan istrimu"
" Tidak"
" Jangan turuti egomu Arthur"
" Siapa yang menuruti ego"
" Kau! Siapa lagi!"
" Diamlah Brian"
" Kau mencintainya Arthur tapi ego mu menutup semua itu. Bisakah kau hilangkan ego mu sebentar saja. Pergilah temui Tabitha"
" Aku bilang, aku tidak ingin Brian!"
" Baiklah, jangan salahkan aku saat semuanya sudah jelas, dan Tabitha tak bisa memaafkanmu. Karena memang sikapmu tidak termaafkan Arthur!" Desis Brian tajam dan meninggalkan Arthur dengan tatapan kosong pria itu.
Arthur mencerna ucapan Brian, apa maksud Brian dengan semuanya sudah jelas. Ada apa ini?
Ditengah lamunannya ia melirik kesamping kanannya dan terlihat lah Dokter Ryan disana.
" Ryan"
" Ya, Arthur"
" Bagaimana kondisinya?" Akhirnya Arthur menanyakan kalimat itu, kali ini egonya kalah.
" Dia lemah dan sedikit stress"
" Tapi dia tak apa kan?"
" Dia tak apa sekarang, tapi jika terjadi terus menerus. Aku tak yakin dia tidak akan kenapa-napa"
" Baiklah aku akan menjaganya"
" Ya, kau tidak hanya menjaganya ada nyawa lain ditubuhnya Arthur"
" Maksudmu?" Tanya Arthur penuh selidik.
" Kau melupakan satu hal, wanita itu tidak boleh stres. Itu akan berpengaruh pada janinnya"
" Tabitha hamil?" Tanya Arthur dengan nada yang gemetar.
To Be Continue...
Vote please...
Arthur De Lavega
__ADS_1
Tabitha De Lavega