MY HUSBAND CEO IS MAFIA

MY HUSBAND CEO IS MAFIA
MHM 6.4: AGAIN


__ADS_3

Note: Author jujur sedih banget pas nulis part ini cause ini adalah satu part sebelum akhir dan ada rasa seneng juga akhirnya story ini bisa author tamatin. So, thank you so much buat Readers yang terus ikutin dari awal. Tapi tenang masih ada satu part lagi setelah ini byeee...


Tiga bulan kemudian...


Arthur masih sibuk dengan pekerjaanya seharian ini, pria itu sedikit tidak fokus. Entahlah tapi seperti ada yang mengganggunya hari ini. Tadi sebelum berangkat ia merasa seperti tak ingin meninggalkan Tabitha dan kedua anaknya tapi karena ada agenda dengan klien salah satu perusahaan besar dari Eropa akhirnya ia pun tetap bekerja hari ini.


" Aku tak bisa tenang!" Rutuk Arthur tajam.


Arthur membuka ponselnya dan menelpon Tabitha.


" Hallo?"


" Ya?"


" Sedang apa?"


" Aku sedang jalan menjemput Leo"


" Kau tak apa?"


" Ya aku baik"


" Ta, kau bersama bodyguard kan?"


" Arthur tenang lah aku baik, Alexander bahkan ada di depanku"


" Baiklah"


" Ada apa?"


" Entahlah, aku hanya sedikit merasa tak enak"


" Tenanglah aku baik"


" Fio?"


" Bersama Madam Rose, putrimu itu sangat baik dia sangat tenang"


" Ya, baguslah"


" Aku sudah sampai, aku tutup dulu Arthur"


" Ya"


" Bye, i love you"


" Love you too" Arthur menutup ponselnya lalu meletakkannya di atas meja. Pria itu menyenderkan kepalanya ke kursi kebesarannya.


Arthur memejamkan matanya lalu memijit pelan pelipisnya pria itu merasa sedikit pening. Tak lama suara derap kaki dari luar mendekatinya dan Arthur paham siapa itu.


" Arthur?"


" Brian"


" Kenapa wajahmu tampak murung?" Tanya Brian meneliti ekspresi wajah Arthur.


" Aku tak tau tapi aku merasa perasaanku tak enak Brian"


" Sudahlah jangan pikirkan"


" Ya"


Brian berdiri di hadapan Arthur dan langsung mengaktifkan layar hologram mencari data dan tak lama terlihat sebuah gedung yang cukup besar dan tinggi yang sedang dalam proses pembangunan.


" Hotelmu dengan Mr. Xavier sudah rampung dibangun Arthur, ini adalah gambaran gedungnya. Kita tinggal meresmikannya saja"


" Apa Mr. Xavier sudah diberitahu masalah ini?"


" Sudah, dan kita akan melakukan pertemuan bisnis dengannya besok"


" Baiklah"


Tak lama layar hologram menunjukkan sebuah panggilan, Damian.


" Arthur, Damian menghubungi kita" Lapor Brian cepat.


" Hubungkan" Titah Arthur dan dengan cepat Brian mengklik tombol enter dan tak lama wajah Damian terpampang jelas disana.


" Hallo Arthur" Sapa Damian dengan senyum miring yang menghiasi wajahnya.


" Apa maumu?" Tanya Arthur tanpa basa-basi.


" Kenapa terburu-buru, aku baru saja menghubungimu setelah bertahun -tahun tidak menghubungimu"


" Bisa kau katakan apa tujuanmu menghubungiku Mr. Ford?" Tanya Arthur mulai geram dengan ucapan Damian.


" Wow, baiklah kau sangat garang Arthur"


" Katakan atau aku matikan"


" Baiklah" Damian menjeda kalimatnya dan menatap Arthur tajam sama hal nya Arthur pun terus memandang layar hologram yang menunjukkan musuh bebuyutannya.


" Begini, kau pikir aku tak tau misi yang kau jalani lima tahun yang lalu?"


" Misi apa?" Ucap Arthur seraya mengetuk dagunya pelan.


" Misi disk yang langsung diberi oleh wakil president Amerika, Arthur"


" Dari mana kau tau masalah misi ini!"


" Arthur, aku mengetahui segala sesuatu yang kau lakukan, walaupun kau mengecoh seluruh musuhmu di dunia dengan mengirim anak buahmu yang menyamar dengan menggunakan topeng wajahmu. Tapi aku tau itu bukanlah kau yang asli. Dan benar dugaanku karena memang kau sedang menjalankan misi ini kan?"


" Apa mau mu Damian?!" Sentak Arthur mulai emosi.


" Tenang, yang ku inginkan adalah disk itu Arthur. Bawa disk itu ke hadapanku"


" Sampai mati pun aku tak akan menyerahkan disk itu untukmu Sialan!"


" Kau yakin?"


" Iya dan aku tak akan berusan lagi dengan pemerintahan"


" Sekalipun jika seseorang menemukan nuklir pertama?"


" Apa maksudmu?!"


" Sekilas info Arthur, aku menemukan nuklir pertama dan aku membutuhkan disk itu untuk penyempurnaanya"


" Dan aku tak akan membiarkan itu terjadi"


" Aku sudah bisa menebak kau akan menolaknya oleh karena itu aku membawa senjata yang paling ampuh untuk membuatmu menuruti kemauanku"


" Aku tak perduli"


" Baiklah"


Sedikit demi sedikit layar hologram dipindahkan dan mata Arthur melebar seketika saat melihat seseorang dilayar hologramnya. Disana Tabitha tengah memeluk Leonardo dengan erat, Arthur langsung menggenggam jarinya hingga menunjukkan buku-buku jarinya. Rahangnya mengeras, kejadian itu kembali lagi dan Arthur sangat membencinya.


" Lepaskan istri dan anakku Brengsek!!" Arthur bangkit dari duduknya dan mendekati layar hologram sedangkan Brian juga terlihat cemas saat melihat Tabitha dan Leo bersama dengan Damian.


" Aku tau kau pasti tak akan menolakku jika aku membawa kelemahanmu"


" Sialan kau Damian!!"


" Daddy" Tangis Leo meraung di ujung sana sementara Tabitha menangis dengan sedikit tersedu seraya memeluk Leonardo erat.


" Sangat menyedihkan sekali jika kau tak kesini dengan disk itu Arthur, bayangkan bagaimana jika kau tak bisa melihat istri dan anakmu lagi untuk selamanya"


" Damian!!" Arthur melempar vas bunga diatas mejanya kelantai dengan keras. Pria itu mengepalkan tanganya bahkan sudah terlihat uratnya di batang leher Arthur.


Melihat Tabitha disana dengan Leo yang menangis membuat dada Arthur terasa diremas sangat kencang seakan ada ribuan anak panah yang menusuknya, sakit dan sesak. Arthur menelan ludahnya susah payah disisi lain ia tak ingin melibatkan Regnarok lagi dengan pemerintah tapi disisi lain ia tak bisa membiarkan Tabitha dan Leo terluka. Tapi Arthur juga masih memikirkan tanah kalahirannya jika Damian sampai menyempurnakan nuklir itu sudah pasti nuklir kedua yang ada di Italy akan meledak juga.


" Damian! Lepaskan istri dan anakku!"


" Arthur walaupun anak istri mu tiada kau masih memiliki satu orang putri"


Arthur langsung mengepalkan tanganya saat Damian dengan entengnya bicara hal itu.


" DAMIAN!! KAU KELEWAT BATAS!!"


" Apa? Bukanya sangat menyenangkan melakukan semua ini Arthur?"


" Kau tak pernah menyerang keluarga ku kenapa kau lakukan itu!"


" Dengar sebenarnya aku juga tak ingin melibatkanmu Arthur, tapi ambisiku untuk membumi hanguskan Amerika mendorongku dan aku tau kau adalah kunci untukku mendapatkan disk itu"


" Kenapa?"


" Aku dendam dengan Amerika! Ayahku mati karena menjalankan tugas! Dia dibunuh tapi Amerika sama sekali tak menghormati kematiannya bahkan mereka sama sekali tak mengusut kematian ayahku! Aku membenci negara itu!!"


" Damian, ini sama sekali tak ada urusannya denganku"


" Ya aku tau! Tapi kau bodoh dengan mengikuti keinginan wakil presiden dengan mengikuti misi ini! Kau mencegah jalanku mendapatkan disk itu Arthur! Andai kau tak ikut campur aku sudah dari dulu mendapatkan disk itu"


" Damian!"


" Kemari dan bawa disk itu jika tidak kau tak akan melihat anak istri mu lagi selamanya"


" Bagaimana bisa kau menemukan nuklir itu?! Bukankah nuklir itu sudah ada ditangan Amerika?!" Tanya Arthur berusaha mendapatkan informasi walaupun dalam matanya masih tersimpan kecemasan yang mendalam saat melihat manik mata Tabitha dan Leo yang membuatnya menahan nafas beberapa saat.

__ADS_1


" FBI bodoh! Mereka memang menemukannya dan mereka sudah memindahkannya di pulau terpencil dan disinilah aku sekarang Arthur"


" Dimana?"


" Akan ku kirimkan jika kau sudah mendapatkan disk nya"


" Aku akan membawanya"


" Bagus, dan katakan pada wakil presiden bersiaplah untuk kehancuran Amerika"


Sambungan terputus, Arthur menggebrak meja kerjanya dengan keras hingga menimbulkan bunyi, Brian tersentak ia juga bingung mencari jalan keluarnya.


" Kita harus bagaimana Arthur?"


" Hubungi wakil presiden!"


" Baik"


Brian segera menghubungi wakil presiden Amerika, Anders Vucherlein.


" Arthur"


" BAGAIMANA BISA DAMIAN MENDAPATKAN NUKLIR PERTAMA!"


" Arthur tenanglah" Brian menepuk pelan pundak Arthur berusaha menenangkan bossnya.


" Dengarkan aku Arthur, kami juga tak mengerti sistem kami dibobol dan FBI juga kewalahan menghadapi Mafia itu. Kami sekarang tengah berusaha melacak nuklir kedua"


" SIALAN! KALIAN BELUM MENEMUKANNYA!!"


" Maafkan kami Arthur, isi disk itu diluar dugaan. Kami cukup kesusahan mengungkap dimana letak nuklir kedua"


" Arthur setidaknya mereka belum menyempurnakan nuklir pertama" Ucap Brian berusaha menenangkan Arthur yang masih mengetatkan rahangnya.


" Ya dan jika saja kau lakukan itu aku akan menembakmu" Ancam Arthur melupakan sedang bicara dengan orang penting di Amerika. Ia tak takut jika sudah menyangkut masalah keluarganya.


" Maafkan kami, kami juga tak tau Damian akan menyerang. Mereka datang dengan jumlah yang besar oleh karena itu agen FBI sampai kalah"


" Lemah!" Arthur mengejek dengan suara lantang ia sama sekali tak takut dengan Anders.


" Kau bisa salahkan kami Arthur, karena memang dari awal ini memang salah kami. Jika saja Amerika tak terobsesi untuk menjadi negara terhebat dan menciptakan nuklir itu sudah pasti ini tak akan terjadi"


" Sekarang aku ingin disk itu"


" Arthur itu tak mungkin, ini terlalu berbahaya. Jika Damian sampai menyempurnakan nuklir itu dan meledakkan nuklir pertama sudah pasti Italia akan luluh lantak. Dan ini bisa menjadi awal perang antara Amerika dengan Italia"


" Aku tak perduli, masalahnya ini sudah melebar sampai Damian menangkap keluargaku!"


" Arthur, beri kami waktu jika dalam 24 jam belum bisa memperbaiki keadaan kami akan menyerahkan disk itu padamu tapi kau harus menjamin nuklir itu tak disempurnakan apalagi diaktifkan"


" Baiklah, tapi ingat kau hanya punya waktu 24 jam, jika itu tak berhasil aku akan bergerak sendiri!!"


" Iya, dan FBI akan mengawasimu"


" Aku tak butuh!"


" Aku tau, itu hanya penjagaan jika kau tak berhasil membawa disk itu maka kami akan mengirimkan rudal untuk membunuh Damian"


" Kau berupaya membunuhku juga?"


" Bukan begitu_"


" Pasti begitu!"


" Arthur kami hanya berusaha menyelamatkan dunia"


" Terserah! Waktumu dimulai dari sekarang!"


Arthur menekan enter dan wajah Anders pun hilang dari layar hologram, Arthur langsung meraih ponselnya dan menelpon Matthew.


" Matt?"


" Boss?"


" Lacak keberadaan Tabitha" Ucap Arthur sedikit keras, memang setelah kejadian Dominic Arthur memasangkan microchip di sela ibu jari Tabitha. Arthur hanya takut kejadian seperti ini akan terulang dan benar saja sekarang hal itu terjadi.


" Baik"


" Berapa menit?"


" Sebentar boss"


Cukup lama hingga suara Matthew membuat Arthur tersenyum senang.


" Nyonya masih dekat dengan wilayah Amerika, dia ada di pulau terpencil yang tak berpenghuni"


" Teliti dengan baik wilayahnya kita akan lakukan penyerangan"


" Ya, siapakan pasukan"


" Baik"


Arthur membalikkan tubuhnya dan menatap Brian yang baru saja mengangkat telepon.


" Arthur" Brian menutup telepon dan menatap Arthur dengan tatapan cemas.


" Ada apa?"


" Alexander tertembak"


" Sudah kuduga"


" Dia ada dirumah sakit sekarang"


" Kondisinya parah?"


" Tidak terlalu dia tertembak di lengan. Tapi itu cukup dalam"


" Alexander tak bisa mengikuti kita kali ini" Ujar Arthur memasukan satu tanganya.


" Apa kita perlu menghubungi kaki tanganmu untuk misi ini?"


" Ya, hubungi Thomas minta dia kirimkan senjata terbaru untuk kita"


" Baik"


Brian memutar haluan, ia pun menjalankan kakinya keluar dari ruangan Arthur. Pria itu meraih ponselnya dan berjalan keluar dari ruanganya ia segera bergegas pulang ke mansion.


🔫🔫🔫


Tabitha keluar dari mobilnya, wanita itu menjalankan kakinya mendekati sang anak yang masih bergerumbul dengan teman sebayanya. Tabitha mendekati Leo dan menepuk pelan bahu putranya lembut.


" Leo?"


" Mommy" Leo langsung menghambur kepelukan Mommy nya.


" Ayo pulang"


" Mom tunggu aku harus mengucapkan selamat pada Gia"


" Kenapa?"


" Gia juara satu menggambar Mom"


" Serius? Lalu Leo juara apa?"


" Leo juara dalam pengetahuan Mom" Ucapnya bangga.


" Baiklah Mommy tunggu disini"


" Okey" Leo mengecup singkat pipi Tabitha lalu berlari kearah Gia.


Tabitha memainkan ponselnya sebentar lalu saat matanya melirik kearah Leo, putranya sudah tak ada. Wanita itu panik ia segera mencari Leo namun hasilnya nihil. Tabitha kembali kearah mobil meminta bantuan pada Alexander.


" Alex!!"


" Ada apa?"


" Leo hilang"


" Apa!" Alexander langsung turun dari mobil dan mencari Leo dan terdengar teriakan dari arah yang berlawanan.


" Itu suara Leo" Gumam Tabitha berlari keasal suara. Hal yang sama pun dilakukan Alexander pria itu menembak ban mobil yang diisi oleh seseorang berpakaian serba hitam yang menculik Leo.


Suara ban pecah pun langsung terdengar ditelinga Tabitha wanita itu berlari menghampiri mobil itu namun tiba-tiba tangannya ditarik dan dimasukan kedalam mobil lain. Ia panik dan secepat kilat orang itu memasukan Leo juga kedalam mobil yang sama.


Tak lama mobil itu mulai berangkat sementara Alexander dan bodyguard milik Arthur sudah adu jotos dibelakang mobil hingga suara tembakan membuat Tabitha sedikit tersentak, wanita itu langsung menutup kedua telinga Leo dan melirik kebelakang. Ia melihat Alexander yang sudah terduduk ditanah pria itu tertembak. Tabitha menatap nyalang pada penculiknya.


" Apa mau kalian!!"


" Diam!" Sentaknya.


Leonardo menengadahkan wajahnya dan menatap Tabitha lekat tangan kecilnya terulur menghapus satu air mata yang menetes di pipi kanan Mommy nya.


" Daddy akan menolong kita Mom" Ucapnya dengan tegas memberi kekuatan untuk Tabitha. Wanita itu langsung memeluk erat putranya ia begitu sangat takut membayangkan hal yang lima tahun terjadi. Apakah akan terulang lagi sekarang?


🔫🔫🔫


Arthur memasuki mansion dengan rasa cemas yang menghimpit dadanya. Ia tak bisa diam dan menunggu 24 jam. Ia tak bisa tenang Arthur berjalan menaiki tangga memasuki kamarnya dan di dalam kamar sudah ada Madam Rose yang terlihat sedang menenangkan Fio yang menangis.

__ADS_1


" Ada apa?"


" Dia dari tadi menangis, aku sudah mencoba menenangkannya tapi aku tak bisa"


" Tolong hangatkan susunya, biar aku yang menjaganya"


" Baiklah" Madam Rose keluar dari kamar Arthur.


Pria itu menjalankan kakinya ke arah box bayi dan meraih perlahan tubuh kecil Fiorella menggendongnya dan mengecup singkat pipi bayi kecil itu. Kepala Arthur langsung memanas jika ingatannya kembali jatuh pada kondisi Tabitha dan Leonardo. Setelah Fiorella berhenti menangis Arthur membaringkan kembali putrinya ke box bayi ia berganti pakaian dan hendak keluar namun langkahnya bersamaan dengan Madam Rose yang memasuki kamar.


" Madam, aku titip Fio, ku mohon selama aku pergi tolong jaga dia"


" Memangnya kau mau kemana Arthur?"


" Leo dan Tabitha diculik. Aku harus menyelamatkan mereka."


" Apa! Bagaimana bisa!"


" Ceritanya panjang, aku harus pergi sekarang"


" Baiklah hati-hati Arthur"


" Ya"


Arthur keluar dari kamarnya dan langsung menghubungi Brian.


" Brian"


" Ya Arthur?"


" Ada informasi yang kau dapatkan?"


"Ya, FBI akan bergerak sebentar lagi. Pemerintah Amerika sudah mengirimkan pasukannya mengepung pulau itu"


" Berkumpul di markas sekarang Brian"


" Sesuai perintahmu"


Arthur mematikan sambungan teleponnya. Ia segera menginjak pedal gasnya dan melaju dengan kencang menuju markas Regnarok hingga akhirnya ia pun sampai. Arthur menurunkan kakinya dan berjalan dengan tegap dan cepat memasuki markas. Arthur menjalankan kakinya keruang pertemuan dan disana sudah diisi beberapa kaki tanganya dan juga teman-temannya termasuk Thomas.


" Laura?" Sapa Arthur setelah duduk dikursi kebesaranya dan menatap lekat kearah Laura.


" Ya boss?"


" Kau akan bergerak dengan Matthew. Dengar aku akan mengejar Damian dan aku akan fokus ke pria biadab itu, jadi setelah aku membebaskan Tabitha dan Leonardo kau dan Matthew harus segera melindungi mereka"


" Dimengerti boss" Ucap Matthew lantang.


" Thomas senjata apa yang kau bawa?"


" Aku membawa granat yang ledakannya tiga kali lebih besar dari pada granat pada umumnya Arthur. Ku kira kau akan membutuhkannya"


" Baiklah, kau menyimpan berapa senapan dan pistol?"


" Aku membawa lima peti untukmu"


" Bagus"


Tak lama Brian datang dengan beberapa anak buah Arthur lainnya.


" Kau yakin Arthur?"


" Ya, awasi aku dari atas"


" Baik"


Semua orang disana seakan sudah siap berperang melawan Damian. Dan Arthur tak akan diam dan menunggu selama 24 jam, tidak akan!


🔫🔫🔫


Suara rentetan senjata yang berasal dari helikopter memborbardir sebuah gedung tua ditengah pulau terpencil. Agen FBI dengan tanggap menuruni helikopter dan mulai menyisir mencari nuklir pertama. Tak disadari seorang yang berpakaian FBI lainya keluar jalur, ia tak menyisir pulau untuk menemukan nuklir tapi ia berjalan kearah gedung dan memasukinya, ya dia adalah Arthur. Pria itu menyamar menjadi salah satu FBI dan bergerak sendiri.


Arthur menendang pintu gedung dengan keras, ia tak perduli lagi dengan apa yang terjadi selanjutnya yang didalam pikiranya sekarang adalah menemukan anak istrinya. Dan benar saja setelah pintu terbuka Arthur langsung disambut dengan delapan orang berpakaian serba hitam yang sudah dapat dipastikan anak buah Damian.


Arthur dengan tanggap menembak mereka dengan dua pistol ditangannya. Ia menembaknya tepat sasaran yaitu jantung dan kepala mereka. Arthur kembali berjalan namun baru beberapa langkah saja ia kembali dihadang oleh enam orang dan pria itu sadar jumlah pelurunya tinggal enam sepadan dengan jumlah musuhnya.


Arthur berlari dan pria itu dengan cepat melepas pelurunya dengan sasaran jantung ketiap-tiap musuhnya dan benar musuh-musuh itu terkapar dengan bersimbah darah. Arthur melirik kearah kiri dan sial, ternyata ada sekitar tujuh orang yang tengah berlari kearahnya dan sialnya lagi peluru di pistol Arthur habis ia tak sempat mengisi lagi.


" Shit!"


Arthur berlari dan langsung menghadiahi bogeman mentah kesalah satu musuhnya mencengkram erat kerah kemejanya lalu melemparkannya kearah kawanan musuh itu dan itu berhasil, mereka kesakitan. Arthur melirik kearah kiri dimana musuhnya masih berusaha bangkit lagi. Arthur dengan cepat melompat kearah dinding lalu tiga kali melangkah keatas dan bersalto lalu menendang tepat kearah wajah musuhnya hingga musuhnya pun limbung.


Arthur mengelap cepat pelipisnya yang berkeringat, lalu tersenyum miring.


" Well, aku belum berolahraga lima tahun, ku kira kemampuanku akan berkurang ternyata tidak" Arthur kembali tersenyum miring.


Pria itu meraih satu granat di ikat pinggangnya dan meletakkannnya di dinding sebelah kanan untuk mengecoh lawan dan benar saja saat granat meledak dan banyak musuh yang berkerumun disitu Arthur dengan cepat meraih pelurunya dan mengisinya kedalam dua pistol deagle miliknya. Dan tanpa kata Arthur memborbardir mereka dengan cepat kurang dari lima menit Arthur berhasil membunuh kerumunan musuh.


" Damian, kau melatih manusia atau semut!" Hina Arthur senang.


Arthur mendekati kerumunan musuh yang sudah dipastikan mati itu ia meraih senapan milik salah satu musuhnya, ia tak punya pilihan lain. Pasalnya ia mengira Damian hanya membawa sedikit pasukan oleh karena itu ia hanya membawa dua deagle dan beberapa peluru.


Arthur kembali berjalan kearah sudut ruangan yang paling kecil dimana sebuah tangisan terdengar menggema dari sana dan Arthur paham betul tangisan siapa itu.


Arthur sedikit membuka pintu dan mengintip dari sana. Terlihat Damian tengah duduk dengan sebotol vodka ditanganya. Tak lama suara tembakan dari belakang terdengar, Arthur langsung menolehkan kepalanya kebelakang dan mendapati sekitar dua puluh orang tengah berlari kearahnya.


" Shit!! Sebenarnya berapa banyak pasukanmu Damian!!" Arthur langsung memasangkan pengedap suara di senapanya dan langsung memborbardir musuhnya terlihat darah keluar dari musuhnya dan Arthur malah tersenyum melihat itu semua.


Disisi lain Damian yang mendengar sebuah tembakan pun langsung berdiri dari duduknya.


" Sudah kubilang, suamiku pasti akan datang dan membunuhmu!" Ucap Tabitha lanatang tanpa ada rasa takut sedikit pun.


" Uncle, Daddy Leo itu hebat. Daddy pasti akan mengalahkan uncle, iya kan Mom?" Ucap anak itu menatap Tabitha, wanita itu langsung menganggukan kepalanya.


Damian membanting gelas ditangannya dan ia pun langsung mendekati Tabitha, mencengkram erat dagu wanita itu.


" Suamimu itu bodoh! Dan aku pasti akan menang melawannya!"


" UNCLE DON'T TOUCH MY MOTHER!!" Leo berteriak tepat disamping Damian bahkan anak itu berusaha mendorong tubuh besar Damian kebelakang.


" Well, putramu sama persis seperti ayahnya sangat menjengkelkan!!" Damian berkata sinis dan langsung menghentakkan wajah Tabitha kesamping.


" Mommy, are you okey?"


" Im okey boy, Daddy will come and save us"


" Yeah, and uncle you'll lose" Ucap Leonardo dengan nada sombongnya bahkan anak itu sudah berkacak pinggang menatap Damian.


Damian mendekati Leo dan Tabitha dengan cepat menarik tubuh kecil putranya.


" Dengar, jika saja kau bukan anak kecil sudah aku remukan kau!"


" Leo tak takut!!" Ucapnya lantang.


" Kau pasti akan kalah Damian!! Kau hanyalah remahan jika dibandingkan dengan Arthur suamiku!!"


Plak!


Damian dengan cepat menampar Tabitha sampai wajah wanita itu terlempar kesamping dan sudah ada darah segar yang keluar dari sudut bibirnya.


" Mommy!"


" Jaga bicaramu wanita! Aku adalah pemenangnya! Dan Arthur akan mati ditanganku!"


" Kita lihat saja!!" Ucap Tabitha menatap Damian tanpa takut dan pria itu pun meninggalkan Tabitha dan Leonardo dengan beberapa orang yang masih ada didalam ruangan itu.


To Be Continue...


Vote Please...




Arthur De Lavega




Tabitha De Lavega




Artha Leonardo De Lavega




Fiorella Fransisca De Lavega



Brian Aldhiano


__ADS_1


Damian Ford


__ADS_2