
Tabitha sibuk menikmati keindahan taman belakang milik Arthur, sesekali wanita itu menyesap teh hangat yang tersaji di meja tepat disamping kananya. Tabitha memakai kacamata bacanya dan mulai membaca majalah yang sudah disiapkan.
Baru beberapa menit Tabitha melakukan aktifitasnya, ponselnya berdering menandakan sebuah panggilan masuk. Tabitha mengulurkan tanganya menggapai ponsel itu dan melihat si penelpon, Clark.
Tabitha ragu untuk menjawab telpon Clark, namun akhirnya wanita itu memutuskan untuk menjawab panggilan itu.
" Ya?"
" Lo, lagi apa?"
"Nggak usah berbelit-belit, maksud lo apa nelpon gue?"
" Sebenernya gue nelpon lu, mau ngasih penawaran"
" Penawaran apa?"
" Lo mau nggak jadi istri gue?"
" Lo kalo ngomong nggak usah ngaco!"
" Oke kalau lo nggak mau Diana jadi korban"
" Maksud lo apa?"
" Diana lagi sama gue sekarang, kalo lo nggak dateng ke apartemen gue sekarang. Diana bakal mati ditangan gue"
" Jangan lo berani nyakitin sahabat gue!" Desis Tabitha tajam.
" Lo tinggal milih Ta, lo kesini atau Diana mati ditangan gue!" Ucap Clark lalu menutup sambungan teleponnya sepihak.
Tabitha mengkerutkan dahinya berpikir, haruskah ia mendatangi Clark dan pergi menyelamatkan Diana. Atau ini semua adalah siasat pria itu.
Tabitha berusaha menghubungi Diana, namun Diana sama sekali tidak meresponya, Tabitha kalut sekarang. Yang ia pikirkan sekarang adalah keselamatan sahabatnya.
Tabitha segera mengambil kunci mobil Arthur dan berjalan dengan tergesa keluar dari mansion. Namun tepat selangkah sebelum membuka pintu mansion Alexander menghalanginya.
" Nyonya mau kemana?"
" Aku ada urusan"
" Biar saya temani"
" Tidak usah"
" Ini perintah tuan"
" Alexander aku bilang aku bisa sendiri dan jika kau berusaha untuk mengikutiku. Maka aku tak segan-segan membunuhmu saat itu juga" ancam Tabitha.
Alexander bingung, ia harus mengikuti perintah tuanya, atau malah nyonya nya. Jika ia menuruti kemauan Tabitha itu artinya ia dibunuh Arthur, tapi jika dia melakukan perintah Arthur maka ia dibunuh Tabitha. Alexander bingung sekarang.
Sedangkan Tabitha sudah memasuki salah satu mobil mewah Arthur, wanita itu segera menuju alamat yang sudah dikirimkan oleh Clark, Tabitha mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi sesekali berusaha menghubungi Diana. Namun hasilnya nihil.
Setelah sampai di apartemen Clark, Tabitha berlari menuju unit apartemen pria itu. Tabitha menelpon Clark untuk segera menemuinya di depan unit apartemen Clark. Dan tak lama Clark pun membuka pintu apartemen nya dengan senyum yang merekah.
" Dimana Diana?"
" Masuk dulu Ta"
" Gue bilang dimana Diana!"
" Okey, kita masuk dulu" ujar Clark tenang menggiring Tabitha memasuki apartmennya.
Clark mendudukan Tabitha di sofa, lalu Clark pergi menuju pantry. Tak lama pria itu kembali membawa secangkir coklat hangat di tanganya.
" Clark gue tanya sama lo! Dimana Diana?" Ucap Tabitha tajam.
" Sabar"
" Jangan-jangan lo mainin gue, Iya!"
" Udah, ini minum dulu coklatnya"
Clark memberikan coklat itu namun tidak dihiraukan Tabitha, ia sesekali menolak coklat yang disodorkan pria itu. Sialnya, coklat itu tumpah mengenai setengah bajunya dan rok yang tengah ia pakai.
" Makanya kalo dikasih tau tuh nurut"
" Clark gue nggak main-main ya, Dimana Diana?" Desis Tabitha tajam.
" Ntar" ucap Clark lalu pergi meninggalkan Tabitha. Tak berselang lama Clark kembali membawa kemeja putih sedikit transparan ditangan kirinya.
" Ni, pakai"
" Gue nggak sudi!"
" Terserah kalo lo emang mau badan lo lengket"
" Gue nggak mau!"
" Udahlah"
Clark tanpa basa-basi membopong tubuh Tabitha kearah kamar mandi dan menurunkan tubuh itu pelan. Membuka tangan Tabitha dan memberikan kemejanya.
" Pakai" ujar Clark lalu melenggang pergi.
Wanita itu terlihat bingung, bahkan ia sangat tidak ingin memakai kemeja Clark. Tapi apa yang diucapkan pria itu memang benar, badanya mulai lengket akibat tumpahan coklat. Akhirnya ia pun memutuskan untuk mengganti bajunya dengan kemeja Clark.
__ADS_1
Setelah menunggu beberapa saat, Clark melirikkan matanya saat Tabitha kini berdiri tepat disamping kananya. Pria itu menolehkan kepalanya matanya bertemu dengan manik hazel milik Tabitha. Clark meneguk salivanya susah payah, melihat wanita yang dicintainya terlihat sangat sexy mengenakan kemeja yang bahkan tidak cukup menutup seluruh paha putihnya.
" Nggak usah berfantasi lo!" Sentak Tabitha.
" Kalo gue mau gimana?"
" Jangan nggak-nggak gue udah punya suami!"
" Gue nggak peduli"
" Clark! Dimana Diana?"
" Oke gue bakal bawa Diana kesini" ujar Clark pergi meninggalkan Tabitha.
Saat kepergian Clark, wanita itu mendudukan tubuhnya menghela nafas lembut. Tapi ia merasa sangat haus hingga ia melihat segelas jus jeruk dimeja. Tabitha berpikir pasti Clark yang membuatkan untuknya. Wanita itu pun meneguk habis jus itu. Tak lama ia pun merasa kantuk yang amat sangat. Dan ia pun akhirnya tertidur.
🔫🔫🔫
Tabitha terbangun dari tidurnya dan mendapati dirinya masih di sofa Clark. Ia memeriksa ponselnya dan melihat jam. Pukul 4 sore, sedangkan ia datang kerumah Clark tepat jam 2 siang itu artinya ia sudah tertidur sekitar 2 jam yang lalu.
Tabitha segera menghubungi Diana dan tersambung.
" Halo Di?"
" Iya Ta, maaf tadi nggak angkat telpon lo. Abis tadi HP gue mati"
" Lo sekarang dimana?"
" Gue sekarang masih di kantor Arthur Ta"
" Jadi lo nggak di apartemen nya Clark?"
" Tata, gue apartemen Clark aja kagak tau. Gimana bisa ada di sana"
" Berarti gue di boongin dong?"
" Emang ada apa sih?"
" Nggak papa"
" Yaudah deh. Eh, udahan dulu yah, gue masih sibuk nih"
" Oke"
Tabitha mulai ketakutan sekarang, ia segera menuju pintu apartemen Clark dan benar saja pintunya terkunci. Tabitha mulai panik ia berusaha menghubungi Clark namun ponsel pria itu tidak aktif. Tabitha merasa sangat panik, ia terjebak sekarang. Pasti Clark berusaha untuk menyekapnya dengan alasan Diana bersama pria itu. Ia merasa bodoh, karena tidak menghubungi kantor Arthur terlebih dahulu dan memastikan Diana berada disana.
Tabitha mulai menangis, badanya bergetar ketakutan. Ia takut Clark akan melakukan hal yang tidak-tidak pada dirinya. Tabitha membuka ponselnya menelpon Alexander.
" A-Alex" lirih Tabitha.
" Nyonya kau dimana?"
" Apa!"
" Tolong aku Alex, aku tak tau harus bagaimana" ujar Tabitha nyaris terisak.
" Aku akan membebaskanmu nyonya."
" Cepatlah Alexander"
Tabitha menutup sambungan teleponya, ia memeluk erat lututnya ketakutan. Ia menangis tertahan, wanita itu sesekali bergumam menyebut nama Arthur berharap suaminya datang dan menolongnya. Tapi ia tak bisa menghubungi Arthur, ia takut pria itu akan berpikir macam-macam melihat istrinya memakai kemeja transparan milik pria lain didalam apartemen pria itu. Tabitha merutuki kebodohannya karena termakan ucapan Clark.
Ditengah penyesalannya pintu apatemen terbuka menampilkan sosok Alexander disana.
" Nyonya, kau tidak papa?"
" Aku baik" ucap Tabitha seraya berdiri.
Alexander menatap tubuh Tabitha yang hanya berlapisi kemeja putih transparan pun akhirnya mengkerutkan keningnya. Ia melepas jas nya memakaikan nya pada Tabitha.
" Pakai ini nyonya, jika kau keluar dengan keadaan seperti ini aku tak yakin media tak mengendusnya"
" Terimakasih"
Alexander menggiring Tabitha pelan keluar apartemen, dan Tabitha pun memasuki mobil yang sudah disiapkan Alexander. Pria itu sendiri yang mengemudikannya.
" Alex"
" Ya, Nyonya ada yang ingin kau butuhkan?"
" Tolong rahasiakan ini pada Arthur, aku tak ingin Arthur mengetahui kejadian ini"
" Tap_"
" Ku mohon Alex, jika Arthur tau ini semua maka ia akan marah besar padaku"
" Baiklah nyonya"
" Terimakasih" ucap Tabitha lirih sesekali menghapus air mata yang menggenang di pipinya.
🔫🔫🔫
Arthur menurunkan kakinya dari mobil mewahnya. Pria itu berjalan dengan angkuh sembari melepaskan kacamata hitam yang bertengger dihidungnya.
" Mr. Vice President"
__ADS_1
" Ya, Mr. De Lavega"
" Ini" ucap Arthur memberikan disk pada Anders.
" Terimakasih banyak atas kontribusimu dalam menjalankan misi ini"
" Tidak masalah"
" Aku tak tau harus bagaimana membalas perbuatanmu kali ini Mr. De Lavega"
" Kau tak perlu memikirkan itu"
" Apa yang kau inginkan Mr. De Lavega"
" Tidak ada, aku hanya ingin kau menjamin keselamatan negaraku"
" Tentu, kami akan menjamin itu"
" Baiklah kalau begitu kurasa kita sudah selesai dengan misi ini. Jadi aku akan pergi" ucap Arthur.
" Ya, sekali lagi terimakasih Mr. De Lavega"
Arthur mengganggukan kepalanya, lalu berjalan menjauhi Anders namun baru beberapa langkah ponselnya berdering. Arthur menghentikan langkahnya lalu membuka pesan yang ia dapat di ponselnya, sebuah gambar.
Arthur menggeram saat melihat gambar yang dikirimkan oleh nomor yang tidak dikenal, pria itu bahkan sudah mengepalkan tanganya menunjukkan buku-buku jarinya. Arthur menggenggam erat ponselnya hingga suara retakan pun terdengar. Pria itu segera mengambil langkah lebar melewati Brian yang akan membukakan pintu penumpang namun Arthur malah mendudukan tubuhnya dibangku supir. Brian dengan cepat menaiki mobil itu saat mengetahui perubahan mimik wajah Arthur.
Arthur mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh, pria itu sesekali memukul stir mobilnya. Brian tidak bisa berbicara jika Arthur sudah mengeluarkan wajah garangnya. Brian tau Arthur sedang marah sekarang tapi apa penyebabnya?
Arthur dengan cepat menuruni mobil saat ia sudah sampai di pekarangan mansion De Lavega. Arthur menutup pintu mobilnya dengan kencang hingga menimbulkan suara bedebum yang memekakan telinga. Brian sempat terlonjak, ia berlari menyusul Arthur tapi boss nya itu memasuki kamarnya. Yang ada dalam pikiran Brian hanya satu, apa penyebab Arthur marah?
Tabitha tersenyum dengan lebar saat melihat suaminya sudah pulang dengan tergesa, pasti Arthur sangat merindukanya sampai ia mengambil langkah tergesa seperti itu, batin Tabitha.
Saat ia hendak memutar tubuhnya, badanya bergetar saat Arthur menutup dengan kencang pintu kamarnya sampai vas bunga dekat pintu terjatuh saking kerasnya Arthur menutup pintu itu. Tabitha mengkerutkan keningnya bingung. Ada apa dengan suaminya?
Batin Tabitha
Wanita itu berjalan mendekati Arthur dan melayangkan tanganya berusaha membelai rahang tegas Arthur yang mengetat, namun dicegah oleh tangan besar Arthur.
" Apa yang kau lakukan hari ini?" Tanya Arthur lembut namun diiringi seribu asassin yang mempu membuat nyali Tabitha mengkerut.
" Aku di mansion" dusta Tabitha.
Arthur dengan cepat menarik tubuh Tabitha dan melemparkannya ke ranjang king size milik pria itu. Arthur mendekati Tabitha dan menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Tabitha yang mendapatkan perlakuan kasar dari Arthur pun bersusah payah menahan tangisanya. Ia baru pertama kali melihat langsung sisi gelap Arthur.
" Pembohong!" Sentak Arthur.
Arthur mendekatkan wajahnya hingga tersisa jarak yang sangat dekat dengan wajah cantik istrinya. Tabitha memejamkan matanya berharap Arthur menciumnya. Namun yang ia dapat malah decakan tajam dari pria dihadapanya.
" Kau mendambakan sentuhanku?" Tanya Arthur membuat mata Tabitha yang tadi terpejam membelalak tajam.
" Apa maksudmu?"
" Setelah mendapat kepuasan dengan kekasih gelapmu, kau masih mengharap sentuhan suamimu?" Tanya Arthur dengan nada mengejek.
" Apa yang kau bicarakan?" Ucap Tabitha dengan gemetar karena ucapan pedas yang dilayangkan Arthur.
" Kau pikir aku mau menyentuh bekas orang lain?"
" Kau menyamakanku dengan barang bekas?"
" Ya! Itu memang kenyataanya"
" Aku tak mengerti Arthur" lirih Tabitha dengan terisak.
" Aku sangat membenci wanita murahan, dan kau menjelma menjadi salah satu diantara mereka"
" Arthur!" Sentak Tabitha tidak terima.
" Jangan kau pikir aku mau menyentuhmu wanita murahan!" Desis Arthur tajam membuat hati Tabitha mencelos ke relung yang paling dalam. Benarkah suaminya yang mengatakan semua itu. Tabitha meremas dadanya yang terasa sesak akibat ucapan yang dilontarkan pria didepanya.
" Aku sangat membencimu! Apapun ku berikan untukmu! Tapi kau malah bersenang-senang dengan kekasihmu! Dasar *******!" Sentak Arthur berapi-api.
Setelah mengucapkan itu Arthur melenggang pergi meninggalkan Tabitha dengan seribu luka yang menghimpit dadanya.
" Apa yang terjadi Tuhan?" Lirih Tabitha meremas dadanya kuat merasa sesak yang teramat akibat sebutan yang diberikan Arthur padanya.
Setelah lama ia menunggu kepulangan suaminya, inikah yang ia dapatkan. Apa yang terjadi sebenarnya?
Tabitha menangis tersedu-sedu. Ia mengacak-acak rambutnya frustasi. Apa yang sebenarnya terjadi? Pertanyaan itu terus terngiang di pikirannya.
" *******!" Umpatan Arthur masih tercetak jelas diingatan Tabitha, air matanya tak lagi bisa tercegah nendengar umpatan Arthur untuknya. Ia tak percaya suaminya bisa berkata sekejam itu padanya.
" Apa yang terjadi pada suamiku Tuhan?" Tanya Tabitha menegadahkan wajahnya menatap langit kamarnya. Ia memeluk lututnya erat menghilangkan sesak yang menghimpit perasaanya. Ia terlalu sakit mendengar pernyataan yang diberikan Arthur.
To Be Continue...
Vote Please...
Satu kata buat Arthur?
Tabitha De Lavega
__ADS_1
Arthur De Lavega