MY HUSBAND CEO IS MAFIA

MY HUSBAND CEO IS MAFIA
MHM 2.8: CHANGE


__ADS_3

Attention! Dari part ini kalian bakal emosi sama Arthur.Jadi Author mon maap yh klo bikin kalian kesel.. tapi semoga nggak🙏


Tabitha masih terisak, wanita itu terlalu terkejut dengan perlakuan yang diberikan Arthur tanpa alasan. Wanita itu berdiri dan mengusap air matanya. Ia berjalan keluar mencoba kembali berbicara dengan suaminya.


Tabitha menuruni tangga berakhir ke ruang tengah menemukan Brian disana.


" Brian"


" Ada apa?"


" Kau tau dimana Arthur?"


" Dia tadi berjalan kearah ruang kerjanya"


" Baiklah"


" Tabitha tunggu, ada yang ingin aku bicarakan"


" Apa?" Ujar Tabitha mendudukan tubuhnya ke sofa.


" Kau bertengkar dengan Arthur?"


" Tidak"


" Jangan membodohiku, aku tidak sengaja mendengar sentakan Arthur"


" Ya"


" Kau tau apa alasanya?"


" Tidak"


" Hm, kau tau Ta. Arthur tak pernah marah sebesar ini"


" Maksudmu?"


" Selama aku mengenal Arthur, pria itu memang marah jika kami melakukan kesalahan dalam menjalankan tugas contohnya saat penyerangan mansion waktu itu. Tapi kemarahanya tidak sebesar ini."


" Apa yang harus ku lakukan?"


" Aku tak tau"


" Aku akan bicara padanya"


" Jaga bicaramu saat Arthur dalam mode ini Tabitha" saran Brian disambut anggukan dari Tabitha.


Wanita itu berjalan dengan langkah cemas, jari-jarinya menaut ia gugup dan takut saat akan menghadapi Arthur yang sedang marah. Ia sampai didepan pintu rang kerja Arthur. Wanita itu memegang knop pintu dengan tangan yang gemetar. Ia memutarnya lalu mendorong pintu itu.


Ruang kerja Arthur sangat berantakan seperti kapal pecah. Tabitha mengedarkan pandangannya mencari sosok pria yang dicintainya. Wanita itu menghela napasnya lembut saat menemukan sosok Arthur tengah tertidur di kursi panjang di dalam ruangan itu. Tabitha mendekati suaminya dan berjongkok mensejajarkan badanya untuk melihat wajah Arthur dengan lebih jelas.


Tanganya terulur saat membelai lembut surai hitam Arthur. Wanita itu kembali terisak mengingat perlakuan yang diberikan Arthur padanya.


" Apa yang terjadi Arthur?"


" Aku sangat takut saat kau memperlakukan ku seperti tadi"


" Aku benar-benar takut kau tau, selama ini kau selalu memberikan perlakuan yang istimewa untukku. Seakan-akan aku adalah duniamu. Tapi sekarang kau bahkan mengataiku sebagai wanita murahan" lirih Tabitha diikuti tetesan air matanya.


Tabitha mengecup pelan kening Arthur lalu membelai lembut kening pria itu. Tabitha pergi ke kamarnya mengambil selimut untuk Arthur. Ia pun menyelimuti pria itu. Tak lupa ia pun membereskan kekacauan yang diciptakan Arthur.


Tabitha menghela napasnya lelah saat semua kekacauan yang dibuat Arthur telah terselesaikan olehnya. Ia menatap Arthur yang masih tertidur, ia hanya tersenyum tipis dan berdoa semoga suaminya bisa kembali seperti semula. Ia berjalan keluar dari ruang kerja Arthur dan berakhir berbaring dikamarnya. Ia mencoba tertidur menggapai mimpi walau masih diiringi rasa takut akibat ulah Arthur.


🔫🔫🔫


Arthur menggeliat dari tidurnya, matanya terbuka perlahan. Ia mengedarkan pandanganya melihat ruanganya sudah tertata rapih sama seperti sebelum ia mengacaukan ruang itu. Pria itu memutar bola matanya saat melihat selimut yang menghangatkan tubuhnya semalam. Arthur dengan kasar menyibakkan selimut itu dan berjalan keluar dengan langkah cepat menuju kamarnya.


Saat sampai dikamar Arthur segera memasuki kamar mandi tanpa ada keinginan sedikit pun untuk melihat wajah damai Tabitha seperti kebiasaannya setiap pagi. Setelah beberapa saat ia keluar dengan menggunakan bathrobe dan memasuki walk in closet berganti pakaian disana. Hingga saat semuanya sudah selesai ia hendak keluar namun tanganya dicekal oleh tangan putih Tabitha.


" Kau bersiap sendiri? Kenapa tidak membangunkanku?"


" Aku bisa sendiri"


" Baiklah, kau ingin sarapan apa? Biar aku masakkan untukmu" ujar Tabitha dengan lembut diiringi senyum tipis untuk pria dihadapanya.

__ADS_1


" Aku tak lapar"


" Arthur, ku mohon jangan begini"


" Apa maumu?"


" Kau sarapan disini ya" pinta Tabitha.


" Tidak"


" Baiklah aku akan mengirimkan makan siang untukmu"


" Tidak"


" Kau akan pulang jam berapa?"


" Tak tau"


" Ar_"


" Jika kau hanya memberi pertanyaan tidak penting, lebih baik sudahi saja aku ingin berangkat kerja"


" Baiklah maaf"


Arthur tidak menjawab ucapan Tabitha, ia langsung keluar dari kamar nya. Tabitha hanya menatap punggung Arthur yang mulai menghilang ia kembali menumpahkan tangisnya.


🔫🔫🔫


Tabitha masih merenungi semua ucapan Arthur, ia begitu terkejut saat suaminya mengucapkan kata-kata pedas seperti itu. Ia bangkit dari duduknya menuju pantry menyiapkan berbagai makanan untuk ia kirimkan ke kantor Arthur, wanita itu berusaha memperbaiki hubungannya dengan Arthur.


Setelah siap dengan berbagai jenis makanan. Tabitha memasuki kamarnya mengganti pakaiannya dengan menggunakan hoodie dan jeans hitam miliknya, wanita itu memoles wajahnya natural dengan mengikat rambutnya rapih. Setelah selesai Tabitha menuju meja makan, mengambil makanan yang sudah ia siapkan dan keluar dari mansion lalu meminta Alexander mengantarkannya menuju perusahaan Arthur.


Di perjalanan ia meneguhkan hatinya untuk menghadapi sikap Arthur, wanita itu meremas jari-jarinya ia gugup sekarang. Hingga suara Alexander membuyarkan lamunannya.


" Nyonya?"


" Ya?"


" Kita sudah sampai"


" Baiklah"


Tabitha membeku saat melihat pemandangan dihadapanya. Suaminya duduk dengan tenang memandang seorang wanita yang hampir ***** dihadapanya. Wanita itu meneteskan air matanya kembali bahkan makanan yang sudah ia siapkan sudah berada dilantai dingin perusahaan Arthur dengan mengenaskan.


Tabitha dengan tegas berjalan mendekati wanita itu, lalu melirik Arthur tajam.


" Kau!" Sentak Tabitha menarik lengan wanita itu agar menghadap padanya.


" Pakai pakaianmu lalu keluar dari sini!" Sentak Tabitha tajam seraya menunjuk wajah wanita itu.


" Atas dasar apa saya menuruti anda?" Tanya si wanita tanpa ada rasa takut.


Plak


Tabitha menapar pipi kiri wanita itu dengan keras, si wanita memegang pipi kirinya yang terasa panas akibat tamparan yang diberikan Tabitha.


" KELUAR DARI SINI!" Teriak Tabitha dengan air mata yang kembali membelah pipinya.


Wanita itu tak bergeming, Tabitha berdecak ia sangat marah sekarang. Dengan cepat Tabitha mendekati Arthur yang sialnya hanya memberikan tatapan datar dengan segelas vodka ditangan kanan nya.


" APA YANG KAU LAKUKAN! CEPAT USIR DIA ARTHUR!" teriak Tabitha berapi-api.


" Jika aku masih menginginkan dia disini bagaimana?" Tanya Arthur tenang, sedangkan Tabitha air matanya sudah tak terbendung.


" Kau mengingkan ****** seperti dia berada didekatmu?" Tanya Tabitha tegas.


" Benarkah? Apa bedanya dengan mu?" Tanya Arthur penuh sindiran.


" Apa maksudmu?"


" Pergilah, aku ingin bersenang-senang dengan wanita ini" ucap Arthur tenang.


" ARTHUR!" Teriak Tabitha ia sangat kecewa pada suaminya itu.

__ADS_1


" Kemarilah" titah Arthur pada wanita itu, dan wanita itu dengan lancang mendudukan dirinya dipangkuan Arthur bahkan sudah membelai lembut rahang tegas Arthur.


Tabitha merasa sangat sesak, ia tidak kuat melihat pemandangan dihadapanya. Ia mengalihkan tatapannya kesamping kanan dan kembali menumpahkan tangisanya.


" Jika kau hanya menangis disini dan merusak suasana, lebih baik kau pergi" ucap Arthur.


Tabitha dengan cepat menolehkan wajahnya, manik mata hazel itu bertemu dengan manik biru terang Arthur tapi dengan cepat Arthur memutus kontak mata mereka. Tabitha mengigit bibir dalamnya keras, mungkin sudah sedikit berdarah. Wanita itu mendekati Arthur dan berusaha mengacuhkan tatapan sinis dari wanita dipangkuan Arthur.


" Kau berubah!"


" Lalu?"


" Mr.De Lavega istrimu ini sangat cerewet, bisakah kau singkirkan dia segera?" Tanya wanita itu dengan nada yang menjijikan.


" Pergilah jangan rusak kesenanganku!" Sentak Arthur tajam.


Tabitha menutup matanya menghela napasnya menetralisir rasa sesak di dadanya. Wanita itu dengan cepat menghapus air matanya, ia harus kuat.


" Aku kecewa padamu Arthur" ucap Tabitha lirih lalu membalikkan tubuhnya berjalan keluar ruangan itu namun suara Arthur menghentikan langkahnya.


" Hai, lain kali tak usah membawa makanan, dan ya saat kau keluar panggilkan OB untuk keruanganku" Seru Arthur.


Tabitha menangis dalam diam, apa yang sebenarnya terjadi?.


Wanita itu berjalan dengan tergesa keluar dari perusahaan Arthur dengan air mata yang masih mengalir ia sesekali menghapusnya namun tetap saja air matanya turun. Tabitha memasuki mobil dengan cepat.


" Kita pulang Alex"


" Nyonya? Kenapa kau menangis?"


" Lakukan saja perintahku"


" Baiklah"


Tabitha terisak mengingat tindakan Arthur dengan wanita itu. Ia sangat kecewa apa yang sebenarnya terjadi?


Wanita itu melepas ikat rambutnya membiarkan rambutnya tergerai lalu menolehkan wajahnya kearah jendela mobil memandangi jalanan New York. Ia kembali merenungi nasibnya dan tak terasa air matanya kembali menetes.


Alexander sesekali melirik kearah kaca yang menunjukkan wajah nyonya nya yang terlihat kacau. Alexander dengan cepat mengendarai mobilnya menuju mansion. Setelah sampai tanpa kata Tabitha keluar dari mobil dan memasuki kamarnya ia mengacuhkan pertanyaan dari Madam Rose dan juga Brian.


Tabitha melempar tas slempang nya, ia berteriak sekencang-kencangnya. Menumpahkan segala sesak di hatinya. Ia sakit saat Arthur dengan kejamnya mempertontonkan keromantisannya dengan wanita itu. Tabitha lunglai badanya terlalu lemah. Ia meluruhkan tubuhnya dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tanganya. Ia begitu sakit sekarang.


Tak berselang lama pintu kamarnya terbuka, Brian.


" Ta, ada apa?"


" A-Arthur" lirih Tabitha.


" Katakan apa yang dilakukan Arthur sampai kau seperti ini?"


" Dia bersama jalangnya di kantor" lirih Tabitha sesegukan.


" Apa!"


" Brian, dia mempertontonkan semuanya dihadapanku. Apa aku kurang baik dari ****** itu?"


" Arthur bodoh! Kau lebih segalanya dari mereka! Aku akan kesana" Brian dengan cepat keluar dari kamar Tabitha menyisahkan wanita itu dengan seribu luka.


To Be Continue...


Vote Please...


***Satu kata buat Arthur...


so, hari ini adalah ultah nya Henry as Arthur.. jadi author up deh buar kalian seneng...


Happy Birthday for you***...



Arthur De Lavega


__ADS_1


Tabitha De Lavega


__ADS_2