
1 tahun kemudian...
Tabitha menggendong tubuh Artha yang semakin berat, putranya itu sudah tumbuh cepat dan tingkat kelucuannya pun semakin membuat Tabitha gemas, tingkahnya dan semua hal-hal yang berhubungan dengan Artha membuat Tabitha tak bisa menahan untuk mencium dan memeluk putranya selalu.
Tak lama sebuah tangan besar ikut memeluknya dengan Artha dari belakang, Tabitha paham milik siapa tangan itu, bahkan tangan kekar pria dibelakangnya mulai meraba dengan tidak sopan bagian depan tubuh Tabitha.
" Diam Arthur"
" Apa?"
" Kendalikan tanganmu itu"
" Apa salahnya?"
" Kita harus menyiapkan pernikahan Diana dan Brian sekarang"
" Masih bisa besok, pernikahannya kan masih seminggu lagi"
" Tapi persiapannya dari sekarang Arthur"
" Tapi aku kan ingin_"
" Hentikan, kau sudah dewasa jangan merengek lagi tak pantas dengan umurmu"
" Jangan bawa-bawa umur di dalam pembicaraan kita" ucap Arthur sewot.
" Baiklah maafkan aku" ujar Tabitha lalu berbalik menghadap suaminya.
" Jaga Artha dulu"
" Kau mau kemana?"
" Aku ingin ke butik Jady untuk melihat rancangan gaun pernikahan Diana"
" Lalu?"
" Apa lagi, aku tak ingin membawa Artha, itu akan membuatnya lelah"
" Jadi?"
" Kau harus menjaganya hari ini"
" Tapi aku harus bekerja Ta"
" Sekali saja, apa kau tak bisa lakukan ini untukku?" Ujar Tabitha memohon dengan puppy eyes nya.
" Apa lagi yang harus aku lakukan jika kau sudah menunjukkan puppy eyes mu" ujar Arthur lalu memindahakan tubuh Artha dalam gendongannya.
" Hallo boy" Sapa Arthur dan bayi itu membalasnya dengan senyum lebarnya.
" Baiklah, aku mandi dulu jadi kau harus menjaganya"
" Kenapa tidak sekalian kau memandikan Artha juga?"
" Arthur? Kau tidak ikhlas?"
" Aku ikhlas"
" Bagus, jadi kau saja yang mandikan Artha, sekali-sekali kau harus lakukan kewajibanmu sebagai Daddy jangan sibuk mengurus Regnarok dan perusahaan saja"
" Iya" lirih Arthur lumayan kesal.
" Hilangkan wajah malasmu Arthur"
Tabitha memasuki kamar mandi dan mulai ritual mandinya, sedangkan Arthur pria itu bermain dengan Artha ia sesekali mencium pipi gembul bayinya, ia begitu sangat mencintai Artha, putranya.
Setelah beberapa menit berlalu akhirnya Tabitha keluar dari dalam kamar mandi dengan bathrobe yang melilit tubuhnya. Arthur menatap Tabitha dengan tatapan tanya ia hanya sedikit takut merawat Artha biar bagaimanapun ini pertama kalinya ia menjelma sebagai seorang ayah yang dekat dengan anaknya ia sadar selama setahun ini masih menyibukkan dirinya dengan urusan lain. Dan mungkin inilah saatnya ia lebih dekat dengan anaknya.
Tabitha keluar dari walk in closet dengan menggunakan dress selutut yang cukup anggun digunakan olehnya. Wanita itu merias dirinya dimeja rias sesekali matanya menangkap pandangan Arthur yang menatapnya.
" Apa?"
" Aku hanya takut"
" Kenapa?"
" Aku takut tak bisa menjaganya, apalagi sekarang madam Rose sedang pergi"
" Kau Daddy terbaik untuknya, jangan takut. Percayalah Arthur"
Tabitha memoles wajahnya natural, setelah selesai wanita itu menyisir rambutnya rapih dan membiarkan surainya tergerai indah. Wanita itu membalikkan tubuhnya berhadapan dengan Arthur, ia mendudukan tubuhnya sesekali membelai pipi Artha menciumnya lembut dan berusaha menghibur bayi itu.
" Apa benar-benar harus pergi?" Tanya Arthur lagi.
" Tak akan terjadi apapun pada kau dan Artha, percayalah Arthur"
" Tapi_"
" Saat pertama kali aku menggendong Artha, aku juga takut aku tak bisa merawatnya tapi aku yakin aku bisa, hingga aku belajar banyak dari madam Rose dan hal itu bermanfaat sekarang"
" Tapi madam Rose kan tidak ada"
" Arthur_"
Ucapan Tabitha terpotong dengan ketukan pintu dari luar, Tabitha pun segera menjalankan kakinya kearah pintu dan membukanya.
" Ada apa?" Tanya Tabitha pada maid dihadapannya.
" Tamu nyonya susah datang"
" Siapa?"
" Nona Diana"
" Baiklah, katakan padanya aku akan turun"
" Baik"
Maid itu berlalu dengan sopan dari hadapan Tabitha, sedangkan wanita itu kembali memasuki kamarnya meraih tas slempangnya dan memakai tas itu, terakhir ia meraih Artha mencium bayi itu di pipi kiri dan kananya. Lalu ia pun sedikit membelai pipi gembulnya.
__ADS_1
" Mom pergi dulu, jangan nakal dengan Daddy oke" titah Tabitha lalu menyerahkan kembali Artha ketangan Arthur.
" Aku pergi" Pamit Tabitha lalu berjalan hendak keluar dari kamar, namun.
" Tunggu" Suara Arthur menghentikan langkah kaki Tabitha, wanita itu membalikkan badan nya menatap Arthur dengan tatapan pertanyaan.
Arthur berjalan mendekati Tabitha lalu melayangkan satu kecupan lembut di dahi wanita itu.
" Hati-hati"
" Baiklah"
" Ada bodyguad yang mengawalmu"
" Baiklah"
" Cepat pulang"
" Iya" Tabitha mencium pipi Arthur dan terakhir ia kembali mencium pipi Artha.
Arthur masuk kembali ke dalam kamarnya sementara Tabitha, wanita itu berjalan dengan wajah bahagia karena akhirnya sahabatnya Diana akan menikah dengan Brian minggu depan.
" Maaf lama"
" Tidak papa"
" Kita berangkat sekarang?"
" Artha nggak ikut?"
" Aku tak ingin membuatnya lelah jadi aku menitipkanya pada Arthur"
" Tapi bukanya Arthur kerja?"
" Aku memintanya cuti hari ini"
" Dia setuju?"
" Iya"
Tabitha sedikit terkekeh jika mengingat wajah malas Arthur saat diminta untuk cuti tapi pria itu tetap menuruti kemauan istrinya.
" Ayo pergi"
" Ayo"
Diana dan Tabitha pergi beriringan memasuki mobil Diana dan mereka pun melaju membelah jalanan padat New York diiringi dengan dua mobil bodyguard Arthur.
🔫🔫🔫
Brian memasuki mansion dan bertanya pada beberapa maid dimana keberadaan si pemilik mansion dan mereka mengatakan Arthur belum keluar sejak Tabitha pergi, dan disinilah Brian berdiri. Pria itu berdiri tepat didepan pintu kamar Arthur.
" Arthur?"
" Ya" Sahut Arthur dari dalam.
" Sedang apa kau?"
Disana diatas ranjang Artha sudah bersih dan wangi karena baru saja dimandikan oleh Daddy nya. Walaupun berantakan terlihat dari t-shirt Arthur yang basah karena air.
" Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Brian.
" Mengganti pakaian Artha"
" Kau baru saja memandikanya?"
" Iya, kau buta?"
" Maaf"
" Bantu aku"
" Caranya?"
" Ambilkan minyak bayi dilaci" Perintah Arthur dan Brian dengan patuhnya menurut saja dengan perintah Arthur.
Brian melangkahkan kakinya kearah nakas mengambil minyak bayi dan memberikanya pada Arthur.
" Bagaimana bisa Artha bersamamu?"
" Maksudmu?"
" Dimana Tabitha?"
Arthur menegakkan tubuhnya dan melipat tangannya didepan dada menatap Brian seraya berdecak.
" Kalian memang pasangan serasi" Sindir Arthur.
" Apa maksudmu?"
" Yang wanita membawa ibu bayi ini hingga ayahnya yang mengurus segala keperluan anaknya, sedangkan yang pria berpura-pura bodoh disini"
" Maksudmu?"
" Ya! Diana yang mengajak Tabitha keluar dan sekarang aku disini harus mengurus Artha sendirian" Desis Arthur tajam.
" Baiklah maaf"
" Oke, tapi kau harus membantuku"
" Apa lagi Arthur?"
" Ambilkan bedak bayi disana" Ucap Arthur dengan menunjuk perlengkapan bayi diatas laci disamping box bayi Artha.
Brian berjalan dan mengambil sesuatu disana dan memberikannya pada Arthur tanpa melihat apa yang ia ambil. Arthur menerima barang yang Brian berikan saat Arthur menuangkannya pada telapak tanganya ia baru sadar yang Brian berikan adalah shampo bayi.
" Brian!" Desis Arthur kesal.
" Apa?"
__ADS_1
" Aku bilang bedak bayi, bukan shampo!"
" Aku salah ambil?"
" Kau masih bertanya? Dasar bodoh!" Rutuk Arthur.
" Baiklah maaf"
Brian akhirnya memilih perlengkapan bayi disana dan ia pun menemukan apa yang dicarinya, bedak bayi. Ia memberikanya pada Arthur dan Arthur langsung menerimanya.
Arthur menuangkan bedak bayi itu ditanganya namun karena masih kesal dengan Brian alhasil bedak bayi yang keluar terlalu banyak, Arthur merutuki kebodohannya. Ia tak ambil pusing, akhirnya ia memoleskan semuanya di perut Artha dan bedak itu seakan mengotori seluruh permukaan ranjang.
" Itu terlalu banyak Arthur"
" Aku tau"
Arthur kali ini kembali menuangkan bedak bayinya namun hasilnya sama, kebanyakan!
Brian yang kesal akhirnya merebut bedak bayi ditangan Arthur dan menuangkannya di telapak tanganya dan itu berhasil, Brian menyapukan bedak itu merata pada tubuh Artha dan setelah selesai ia pun berbalik menatap Arthur dengan tatapan mengejek.
" Urus bayi saja tidak bisa!"
" Kau pikir mengurus bayi mudah!"
" Alah, kau hanya bisa bertarung!"
" Jelas, aku kepala mafia jika kau lupa!" Arthur kali ini merebut bedak bayi Artha yang belum tertutup dan alhasil seluruh isi bedak bayi itu tumpah ruah mengisi kamar Arthur.
" Dasar bodoh!" Rutuk Brian.
" Diam kau!"
" Sekarang bagaimana?"
Tak lama Artha menangis kencang, itu membuat Arthur panik. Dengan cepat Arthur membawa tubuh Artha kedalam gendonganya dan menepuk punggung bayi itu perlahan.
" Hangatkan susunya, mungkin Artha lapar"
" Aku?"
" Ya"
" Tapi aku tak tau dimana susunya"
" Ada dilemari pendingin kau hanya perlu memanaskannya"
" Baiklah"
Brian sekali lagi menurut pada Arthur pria itu berjalan dengan cepat kearah pantry mengambil susu dilemari pendingin dan menyalakan kompor untuk menghangatkannya.
Sementara ditempat lain Arthur berjalan kesana-kesini hanya untuk membuat Artha tenang, namun Artha sama sekali tak mau tenang. Hingga akhirnya Brian datang dengan membawa sebotol susu untuk Artha.
" Sstt, tenanglah kau lapar kan? Ini minun susunya dulu oke" Ucap Arthur menyodorkan susu itu kemulut Artha. Dan bayi itu dengan cepat melahapnya.
Arthur duduk namun saat ia duduk Artha kembali menangis dan sekarang Arthur harus terus berdiri sampai Artha tidur.
Sepuluh menit berlalu akhirnya Artha berhasil tidur dengan tenang, Arthur merebahkan perlahan tubuh Artha ke tengah ranjang dan bayi itu terlihat sudah lebih baik.
" Ada apa kau kesini?"
" Tak apa, aku hanya heran kau tak ke kantor hari ini"
" Kau sudah tau jawaban nya jadi pergilah"
" Kau sudah ku tolong malah begini"
" Aku lelah, dari tadi mengurus Artha"
" Sama aku juga" ujar Brian lalu kedua pria itu pun terduduk lemas disamping ranjang dengan Arthur yang memijit pelipis sedangkan Brian yang memijit pangkal hidungnya.
" Aku ingin tidur sebentar"
" Aku juga"
Arthur berdiri dan berbaring tepat disamping kanan Artha, ia tak perduli jika ranjangnya penuh dengan bedak bayi milik Artha, yang ia inginkan adalah istirahat sebentar saja.
Brian ikut berdiri dan merebahkan tubuhnya kesofa panjang disudut ruangan dekat balkon, pria itu meletakkan lengannya tepat dikepalanya menutup kedua matanya. Dan ketiga pria itu pun terlelap.
🔫🔫🔫
Tabitha pulang ke mansion pukul 12 siang, wanita itu cukup banyak mengurus keperluan pernikahan Diana dan Brian. Ia berjalan kearah pantry mengambil air dingin dan meneguknya, wanita itu sedikit merasa tenang sebab seluruh mansion terlihat rapih mungkin Arthur baik menjaga Artha.
Tabitha menjalankan kakinya kearah tangga dan berakhir di depan kamar, Tabitha memegang knop pintu dan ia mendorongnya perlahan. Tabitha membulatkan matanya saat melihat seisi kamarnya begitu kacau, baju kotor Artha yang dipakai tadi pagi oleh bayi nya sekarang berada tepat diatas meja sofa, sementara peralatan mandi Artha sudah tidak lagi berada ditempatnya semula.
Tabitha semakin menjalankan kakinya mendekati ranjang, dan matanya menangkap sosok pria yang tengah tertidur diatas sofa, Brian. Bagaimana bisa Brian disini? Batin Tabitha, ia menggelengkan kepalanya mengenyahkan segala pikiran nya, ia hanya ingin melihat bayinya dan sang suami.
Tabitha mendekati ranjang dan melihat punggung Arthur, Tabitha yakin pria itu pasti sudah tidur. Dan saat ia duduk ditepi ranjang ia baru sadar ranjang sudah dipenuhi dengan bedak bayi, Tabitha melirik kearah Artha. Baju Artha sudah berganti tapi kenapa wajah bayi nya terlihat aneh karena bedak yang dioles tidak merata di wajah Artha. Dan saat Tabitha membalikkan tubuh Arthur jelas sudah siapa pelakunya.
Arthur, kedua telapak tangannya dipenuhi dengan bedak, Tabitha menggelengkan kepalanya dan akhirnya ia berdiri menatap kamarnya yang sudah berubah sangat memprihatinkan hanya karena tindakan suaminya dan juga Brian pastinya. Tabitha mengedarkan pandangannya keseluruh sudut kamar semuanya berantakan dan lantai kamar juga sudah terkotori dengan bedak bayi milik Artha, entah apa yang baru saja suaminya lakukan pada bayinya tapi yang pasti dari kejadian ini satu hal yang dapat Tabitha simpulkan.
" Meninggalkan Artha pada Arthur sendirian dirumah adalah kesalahan besar" Gumam Tabitha menggelengkan kepalanya.
Tabitha segera memindahkan tubuh Artha kedalam box bayi nya, sebelum merebahkan tubuh Artha, Tabitha menciumnya sebentar. Dan ia pun harus memanggil maid untuk membantunya membereskan hasil dari tindakan suaminya itu.
To Be Continue...
Vote Please...
Artha Leonardo De Lavega
Tabitha De Lavega
__ADS_1
Arthur De Lavega