
" Arthur kau sudah pulang nak?" Sambut Madam Rose yang dibalas kecupan singkat dipipi oleh Arthur.
Arthur mendekat kearah Tabitha, sedangkan Tabitha sedikit tersentak pasalnya ia baru saja membicarakan suaminya itu.
" Nak, kurasa aku harus pergi. Aku harus membersihkan taman belakang" ujar Madam Rose menepuk bahu Tabitha pelan.
Tabitha hanya mampu menelan salivanya dan menatap horor pada Arthur yang semakin mendekatinya, langkah Arthur semakin dekat dan mengikis jarak antara Tabitha dan Arthur hingga, Tabitha harus mundur beberapa langkah untuk menghindari Arthur. Namun pria itu malah mengurung Tabitha dan hampir memeluknya, Tabitha hanya mampu menutup matanya.
" Kau membuat cookies? Kukira kau tak bisa masak" ejek Arthur.
Tabitha tersadar dan menatap nyalang pada Arthur pasalnya ia berpikir akan dicium atau setidaknya dipeluk oleh pria itu, tapi nyatanya Arthur hanya mengambil cookies dibelakang tubuh mungil Tabitha.
" Kau merona? Apa kau berharap aku mencium mu?" Tanya Arthur sarkas.
" Tidak" sanggah Tabitha hendak pergi namun Arthur mencekal tangannya.
" Cookies nya manis sama seperti mu" ucap Arthur mengecup kening Tabitha samar.
" Thanks " ujar Tabitha menyembunyikan rona merah dipipinya.
" Aku ingin ganti baju dulu"
" Mau Tata siapin air hangat buat Arthur mandi?" Ujar Tabitha tanpa menggunakan 'om' panggilan keramatnya pada suaminya itu.
" Aku senang kau mau menghilangkan panggilan sialan itu, tapi terimakasih aku sedang tak ingin" ujar Arthur melenggang pergi.
Tabitha menatap punggung Arthur yang mulai menghilang dan ia pun berjalan kearah Madam Rose berada. Sebuah taman yang sangat luas untuk ukuran taman.
" Madam" panggil Tabitha.
" Iya, ada yang kau butuhkan?"
" Tidak, bisakah kau ceritakan tentang masa kecil Arthur?"
" Pria itu memiliki masa kecil yang kelam, orang tuanya meninggal saat dia masih berumur 6 tahun, sepeninggalan orang tuanya Arthur menjadi anak yang pendiam ia hanya bicara seperlunya saja, dan dia lebih suka berdiam diri dikamar hanya membaca buku atau malah bermain gedget"
" Cukup mengagumkan seorang anak berusia 10 tahun bisa mempelajari bisnis yang notabenya tidak diajarkan disekolahnya, ia bisa menguasai semua itu dengan mudah. Bahkan sebelum ayahnya wafat beliau mengajarkan Arthur untuk menembak, dan terbukti pistol seperti mainan nya sekarang" lanjut Madam Rose.
" Saat 12 tahun Arthur bahkan sering memukuli teman sebayanya hanya karna teman-teman nya mengejeknya" ujar seseorang dibelakang Tabitha. Refleks wanita itu pun menolehkan kepalanya kebelakang, Brian.
" Hai, Ta bagaimana kabarmu?" Tanya Brian.
" Aku baik, kau?"
" Selalu begitu"
" Kau tau masa kecil Arthur"
" Aku bersahabat dengannya semenjak kami di Junior Higschool"
" Pantas, Arthur terlihat sangat dekat denganmu Brian" ucap Tabitha yang dibalas anggukan oleh Brian.
" Ada apa kau kemari?" Lanjut Tabitha.
" Aku dipanggil Arthur untuk menyiapakan segala keperluan untuk kepindahan anak-anaknya" ucap Brian yang sukses membuat mata Tabitha melebar.
" APA!!" Sentak Tabitha.
" Bukan na__"
" Kau baru tau? Kasihan sekali" ucap Brian menyela ucapan Madam Rose.
" I hope you still virgin" Ucap Brian bagai petir disiang bolong untuk Tabitha.
" Sialan pria itu!" Sentak Tabitha berjalan cepat menuju ruang kerja Arthur.
" Arthur!"
" Ya" ucapnya menaikan satu alisnya seolah berucap 'ada apa?'.
" Jawab jujur! Kau sudah pernah menikah?" Tanya Tabitha dengan raut wajah kesal.
" Ya" jawab Arthur yang menciptakan urat yang terlihat dileher Tabitha.
" Katakan siapa wanita itu!"
" Kau"
" Jangan bohong"
__ADS_1
" Aku tak bohong, kau bertanya aku pernah menikah? Ya ku jawab iya karna memang faktanya aku sudah menikah denganmu" terang Arthur melipat tanganya ke depan Dada.
" Selain denganku?"
" Tidak"
" Lalu kenapa Brian bilang ingin menyiapkan keperluan untuk kepindahan anak mu? Itu artinya kau sudah pernah menikah bukan? Karna tak mungkin seorang anak hadir hanya oleh ayahnya saja!" Sentak Tabitha mendekati Arthur, pasalnya Arthur hanya memasang wajah datarnya bahkan menarik sedikit sudut bibirnya.
" Katakan!"
" Baiklah kau ingin apa sekarang?" Tanya Arthur lembut.
" Temukan aku dengan anakmu"
" Kau yakin? "
" Iya"
" Kalau begitu bersiap lah mereka akan datang sebentar lagi"
" Kau... benar-benar__" ucap Tabitha hampir menangis.
" Kenapa kau tak mengerti aku?"
" Setelah apa yang kau lakukan padaku semalam kau malah memberikanku kenyataan yang seharusnya sudah kuketahui sejak lama" lanjut Tabitha terisak.
" Tabitha kau sendiri yang ingin menemui mereka, lalu sekarang kenapa kau yang menangis?" Tanya Arthur sambil berjalan mendekati istrinya.
Arthur merengkuh tubuh Tabitha kepelukannya dan mengusap punggungnya lembut. Sedangkan Tabitha air matanya sudah tak lagi terbendung ia menangis di dada bidang Arthur dan sesekali memukulnya.
" Arthur jahat! Tata nggak suka!" Tangis Tabitha mengeluarkan bahasa manjanya.
" Aku suka melihatmu merajuk" gumam Arthur hampir tak terdengar.
" Boss" panggil seseorang diambang pintu. Arthur pun melepaskan pelukannya pada Tabitha yang masih terisak. Dan berjalan menghampiri Brian.
" Ini semua karna mu Brian, tapi aku suka" ujar Arthur berbisik saat tepat disamping Brian
" Terimakasih"
" Ayo kita pergi menjemput anak-anakku" ujar Arthur namun serasa mencubit hati Tabitha, dadanya sesak kala Arthur tanpa dosa mengatakan hal itu.
Tabitha turun kelantai dasar dengan menggunakan lift dan duduk di sofa dengan tatapan kosongnya, ia bahkan belum berhenti menangis.
" Madam..." Ucap Tabitha memeluk tubuh wanita yang tak lagi muda itu.
" Kenapa Arthur jahat banget sih sama Tata"
" Sudah ku bilang ada hal yang nanti akan membuat mu terkejut mengenai Arthur dan aku juga sudah memintamu untuk menyiapakan mentalmu kan?"
" Tapi__"
" Sudahlah jangan dipikirkan, setelah melihat anak-anak Arthur kau akan sangat gemas melihatnya."
" Siapa namanya?"
" Exter dan Kal" ucap Madam Rose sembari terkekeh geli namun tidak disadari Tabitha.
Setelah lama memeluk Madam Rose Tabitha mendengar suara gaduh di tamanya, sontak ia berlari kecil menuju taman. Saat sampai ia melihat beberapa bodyguard Arthur membuka sebuah box kayu yang ukurannya sangat besar, dan Tabitha pun mendekatinya. Namun hal itu ia pendam saat Brian membuka Box itu dan terlihatlah sebuah kandang besar dengan sebuah singa albino disana. Tabitha berjalan mundur namun ia menabrak sesuatu dibelakang.
" Kenapa? Ayo mendekat" ujar Madam Rose.
" Tapi itu singa" cicit Tabitha.
" Ayo jangan takut" ucap Madam Rose menarik lengan Tabitha.
Setelah jarak yang cukup dekat Tabitha mulai berjalan mendekati Brian.
" Dimana Arthur?"
" Ada dibelakang sedang bersama anak kesayangannya" ucap Brian datar.
Hati Tabitha mencelos saat mendengar penuturan Brian. Ia melihat kearah pagar hingga ia mengernyit kan dahinya saat melihat Arthur dengan senyum sumringah menarik seekor anjing yang cukup besar. Arthur semakin mendekati istrinya yang terdiam membisu. Hingga saat tepat didepanya Arthur jongkok dan menyamakan tingginya dengan anjing itu.
" Kal, hari ini dan mulai sekarang kau akan tinggal dengan Daddy, dan wanita yang ada dihadapanmu adalah istriku yang artinya mommy mu"
" Wait, let me thingking. Tadi kata Madam, Kal adalah anak Arthur dan Daddy? Itu artinya anjing ini adalah anak mu?" Tanya Tabitha.
" Ya kau benar oleh karna itu aku tak bergeming saat kau menegurku, malah aku sedikit terhibur dengan aksi merajukmu" ucap Arthur tenang.
__ADS_1
" Brian, bawa Kal dulu" titah Arthur yang langsung dilaksanakan Brian.
" Alexander, buka kandangnya" suruh Arthur.
Saat kandang singa itu terbuka dengan kalap Tabitha mundur menjauhi Arthur yang terlihat tersenyum bahkan meregangkan kedua tanganya seakan menyambut singa albino itu. Dan benar singa itu meloncat kearah Arthur.
" ARTHUR!!" seru Tabitha menutup matanya dengan kedua telapak tangan namun setelah sepersekian detik tak ada suara gaduh, akhirnya Tabitha membuka matanya.
Pemandangan pertama yang ia lihat adalah Arthur tertidur diatas rumput dan diatasnya singa Albino itu tengah menjilati wajahnya. Bahkan sesekali Arthur tertawa puas, mengacak-acak rambut singa itu. Tabitha merasa rahanganya jatuh ketanah saat melihat suaminya begitu dekat dengan hewan buas itu.
" Itu Exter" bisik Madam Rose.
" Apa!"
" Jadi aku menangis hanya karna seekor anjing dan singa?" Tanya Tabitha polos.
" Ya sepertinya begitu"
" ARTHUR KAU SANGAT MENYEBALKAN!!!" Teriak Tabitha dan berlalu pergi.
Sedangkan Arthur masih bermain dengan Exter tapi Madam Rose mendekatinya.
" Pergilah tenang kan istrimu, kasian dia Arthur" ucap Madam Rose.
" Baiklah"
Arthur melepaskan Exter dan melenggang pergi menuju kamarnya, namun saat didepan pintu ia mendengar teriakan Tabitha.
" Kenapa Arthur bohong! Kenapa tak mengatakan nya dari tadi! Kalau dia mengatakannya aku pasti tak perlu menangis seperti tadi! Dan bodohnya aku menangisi seekor anjing dan singa!" Racau Tabitha.
" Dan kenapa dia memasang wajah tanpa dosa itu, dan dia dengan tenangnya bermain dengan singa sialan itu! Sinting! " Rutuk Tabitha.
Arthur memegang knop pintu dan memutarnya. Ia mendorong pembatas antara dirinya dan sang istri yang sedang marah itu.
" Kau marah?" Tanya Arthur halus.
" Kau pikir" ketus Tabitha.
" Maafkan aku"
" Pegilah aku sedang ingin sendiri"
" Kau yakin, padahal aku pulang lebih awal hanya untuk segera bertemu dengan mu"
" Kau pikir aku perduli, pergi saja lagi dengan anak-anakmu" ujar Tabitha masih dengan nada ketus dan berbalik badan memunggungi Arthur.
" Baiklah aku akan pergi, dan mungkin tak kan kembali sebelum kau memaafkanku, aku tau aku salah aku hanya ingin melihatmu merajuk seperti tadi dan mengeluarkan nada manja mu itu"
" Tapi jika aku salah maaf" lanjut Arthur mulai melenggang pergi.
Tabitha menengok kebelakang dan hatinya terasa tergerak saat Arthur berjalan menjauhinya.
" Shit" rutuk Tabitha.
Wanita itu berlari dan menubrukan dirinya di punggung Arthur melingkarkan tangannya pada perut Arthur.
" Jangan pergi lagi"
Arthur tak bergeming seakan menunggu kata apalagi yang akan diucapkan Tabitha.
" Aku memaafkanmu"
Arthur berbalik memeluk Tabitha erat dan mengelus kepala Tabitha sesekali menciumi wangi rambut Tabitha yang beraroma lavender. Perlahan Arthur menengadahkan kepala Tabitha agar manatapnya dan mendekatkan bibirnya ke bibir ranum Tabitha. Arthur melumatnya dengan lembut tanpa nafsu seakan itu adalah ciuman permintaan maafnya pada istri kecilnya.
" love you honey" ucap Arthur di saat melepaskan bibir Tabitha.
Tabitha hanya menyembunyikan wajahnya didada bidang Arthur. Sudah dipastikan pipinya merona lagi sekarang.
To Be Continue..
Vote pleasee...
Arthur De Lavega and Kal
Tabitha De Lavega and Kitty
__ADS_1
The Lion of De Lavega EXTER