
Arthur memasuki ruangan inkubator dengan cepat, pria itu panik saat perawat memberitahunya tentang keadaan putra kecilnya. Didalam sudah ada Ryan yang menggendong bayi itu. Arthur segera mendekati Ryan dan melihat dengan jelas ekpresi bayi nya.
" Dia sakit?"
" Suhu tubuhnya meningkat drastis Arthur"
" Apa dia salah obat atau bagaimana?"
" Aku sudah memeriksa obatnya dan semuanya baik"
" Lalu dia kenapa?"
" Coba kau gendong dulu, barangkali dia akan berhenti menangis"
" Kemarikan"
Ryan memberikan bayi itu dengan perlahan pada Arthur. Arthur meraihnya dengan hati-hati ia pun memeriksa tubuh bayi nya dan memang panas dari sebelumnya.
" Apa yang harus kita lakukan Ryan?"
" Kami akan memberikannya obat"
Arthur menganggukan kepalanya menjawab ucapan Ryan, dan tak lama terdengar dering ponsel dari saku celana Arthur.
Arthur menahan bayi itu dengan satu tangannya sedangkan tangan lainnya meraih ponsel dan memeriksa si penelpon, Brian.
" Ya, ada apa Brian?"
" Arthur!" Ucap Brian dengan nada panik.
" Ada apa? Kenapa nada suaramu terdengar panik?"
"Tabitha"
" Ada apa dengan Tabitha?"
" Dia..." Brian menjeda ucapannya dan terdengarlah tangisan seseorang diseberang sana, Arthur semakin kalut.
" BRIAN!"
" Lebih baik kau segera kesini Arthur"
Arthur langsung bergegas keruangan Tabitha dengan menggendong bayi kecilnya yang terus menangis, suara tangisan seorang wanita terdengar dari luar ruangan Tabitha, Arthur segera membuka pintu ruangan dengan kasar dan pandangan yang pertama ia lihat adalah tubuh istrinya yang bersih dari alat medis yang menopang hidupnya selama dua minggu ini.
Kaki Arthur melemas, ia berjalan dengan gontai mendekati brangkar sang istri dan menatapnya lekat, wajah yang begitu ia cintai terlihat pucat pasih dan Arthur semakin panik, ia menyerahkan bayi nya pada Brian dan menjalankan kakinya perlahan mendekati Tabitha.
Arthur menatap lekat pada wajah pucat sang istri, Arthur menelan salivanya kasar berusaha mengenyahkan pikiran buruk yang menghinggapi pikirannya. Matanya beralih menatap Brian.
" Arthur"
" Ada apa dengannya Brian? Kenapa alat medisnya dicopot?" Ucap Arthur dengan bergetar.
" Arthur, dia_"
" Dia apa!" Sentak Arthur seketika memotong ucapan Brian.
" Arthur dia sudah tiada" ucap Brian seraya memeluk bayi Arthur.
" Tidak!" Arthur membelai pelan pipi Tabitha dan ia segera berbalik menghadap Brian mencengkram kerah kemeja Brian.
" JANGAN MAIN-MAIN BRIAN! KATAKAN KAU BERBOHONG" Teriak Arthur meraung.
Renata yang mengerti akan keadaan segera mengambil alih bayi didekapan Brian kedalam dekapannya dan memeluk bayi itu erat dengan tangis yang sesegukkan.
" Arthur aku tak bohong"
" TIDAK! DIA TAK BOLEH MATI!"
"Arthur" Jonathan mendekati Arthur dan memisahkan Arthur dengan Brian.
" DIA TAK BOLEH MATI" Arthur meluruhkan tubuhnya kelantai dingin rumah sakit seraya menutup wajahnya.
" Bukan kau saja yang terluka Arthur, dia juga putriku. Kami semua disini terluka, tapi kau harus mengikhlaskannya"ujar Jonathan menenangkan.
" Dia tak boleh mati!" Desis Arthur tajam.
Arthur berdiri menegakkan tubuhnya dan mendekati Tabitha, pria itu menopangkan dahinya pada dahi Tabitha dan kilasan kisahnya dengan Tabitha pun berkeliaran didalam ingatannya, tak terasa satu air mata menetes dari mata Arthur, tangisan yang selama ini ia pendam dan ia berjanji untuk tidak menumpahkannya selama 16 tahun tumpah sudah, ia menangis saat orang tuanya mati dan sekarang air mata itu tanpa diundang kembali menetes.
" Kumohon bangunlah" lirih Arthur.
Hening hanya ada suara tangisan Renata dalam ruangan itu, Arthur menarik wajahnya dan menatap wajah Tabitha.
" Ku mohon, kau sudah berjanji tidak akan meninggalkanku, buktikan sekarang Ta" lirih Arthur.
" Arthur, biarkan dia" ujar Jonathan pasrah menarik tubuh besar Arthur walaupun tubuh itu tak bergerak sedikitpun dari posisi awalnya.
" Biarkan aku bicara dengannya" peringat Arthur tajam dan semua diruangan itu pun diam.
" Kau akan meninggalkanku? Kau juga akan meninggalkan bayi mu? Bukankah kau sudah berjuang untuknya? Lalu kenapa kau malah meninggalkannya?"
" Seseorang tak bisa hidup tanpa jiwanya Ta, aku tak bisa hidup jika kau tiada" Arthur membelai surai Tabitha.
Arthur menegakkan badanya dan merebut bayinya dalam dekapan Renata dan membawanya pada sang istri menempatkan bayi itu disamping kanan Tabitha.
" Lihat dia, kau akan meninggalkannya sendirian?"
" Dia membutuhkanmu Ta"
Jonathan menghapus satu air mata yang mengalir dipipinya sedangkan Renata hanya memeluk Jonathan seraya menangis sesegukkan.
" AKU MENAGIH JANJIMU TABITHA! KAU TAK BISA PERGI DARIKU, AKU JUGA BELUM MENEPATI JANJIKU!"
Brian mendekati Arthur dan meletakkan satu tanganya di bahu Arthur.
" Ikhlaskan dia Arthur"
Arthur dengan cepat menatap Brian, dan mengetatkan rahangnya.
" Untuk apa? Dia akan sadar"
Tangis Renata semakin meraung mendengar penuturan yang keluar dari bibir Arthur.
" Arthur cukup" peringat Brian.
" Dia tak bisa meninggalkanku Brian!" Sentak Arthur membuat bayinya semakin kencang menangis.
Arthur menatap bayi kecil itu dan beralih menatap wajah Tabitha.
" Dia menangis, kau harus menenangkannya Ta"
" Arthur enough"
" BRIAN!"
" Kita harus melepasnya Arthur" ucap Ryan.
Arthur melirik kearah Ryan dan mencengkram kerah pria berjas putih itu bahkan mengangkat tubuhnya sampai sedikit melayang dari lantai.
" AKU SUDAH MEMBAYARMU LALU KENAPA INI TERJADI!"
" Maafkan aku Arthur"
Brian segera memisahkan Arthur dari Ryan.
" Kau menganggapnya adikmu kan Brian? Minta dia untuk membuka matanya!" Suruh Arthur pada Brian.
" Arthur itu tak mungkin"
" Dad, kumohon buat dia bangun"
" Arthur sudahlah"
Arthur kembali meneteskan air matanya ia begitu sesak mendengar Tabitha dinyatakan tiada.
Arthur mengambil langkah lebar dan mendekati Tabitha, menatapnya lekat dan membelai pelan pipi kanan Tabitha.
" JIKA KAU MENCINTAIKU BANGUNLAH, KAU MASIH HARUS MENUNAIKAN JANJIMU!"
" BAGUNLAH TABITHA!!" Teriak Arthur lalu air matanya kembali tumpah membentuk sungai kecil yang membelah pipinya.
Brian tak kuasa menahan tangisnya melihat Arthur yang kuat kini rapuh dan ia pun menepuk pelan bahu Arthur.
" A-Arthur jarinya" Brian yang melihat pergerakan kecil dari jari tengah Tabitha langsung melapor pada Arthur.
Arthur yang mendengar ucapan Brian segera mengalihkan pandangannya pada jari Tabitha yang memang bergerak perlahan, dan suara alat medis pun kembali seperti semula yang menandakan jantung Tabitha yang kembali berdetak.
" Tabitha" Arthur bergumam saat menyadari hal yang terjadi, pria itu mengulas senyum tipis dan meraih tubuh bayi kecilnya menepatkannya dalam dekapan hangat pria itu.
Ryan segera memanggil perawat dan memeriksa keadaan Tabitha. Arthur dan yang lainnya melihat saat Tabitha diperiksa oleh Ryan dan tak lama mata indah wanita itu terbuka perlahan manik matanya seakan menyesuaikan dengan cahaya diluar, Arthur mengulas senyum tipis melihat itu.
__ADS_1
" A-Arthur..." Lirih Tabitha pelan.
Arthur menyerahkan bayi nya pada Renata dan ia pun berjalan mendekati Tabitha yang sudah diperiksa oleh Ryan.
" Ini keajaiban Arthur, kondisinya sudah baik, istrimu berhasil melewati masa kritisnya"
Arthur menganggukan kepalanya dan meraih tangan Tabitha menciumnya lama menyalurkan rasa cinta pada wanita itu.
" Jangan begini lagi"
" Miss you" ujar Tabitha pelan.
" I know"
Pendengaran Tabitha menajam saat mendengar suara tangisan bayi, ia pun melirik keasal suara dan melihat Renata menggendong seorang bayi.
" I-itu?"
" Ya, dia putra kita" ujar Arthur dan Tabitha langsung mengulas senyum.
Tabitha membelai pelan pipi Arthur dan ia baru sadar pria nya bermata sembab.
" Kau menangis?"
Arthur menangkap tangan Tabitha dan menciumnya lembut, dan ia pun mengangguk pelan.
" Untukku?"
" Aku takut kau meninggalkanku"
" Tak akan"
" Ya, karena kau sudah berjanji"
" Tentu"
Arthur membelai pelan surai Tabitha.
" Boleh aku duduk Ryan?" Tanya Tabitha meminta izin.
Ryan menganggukan kepalanya dan ia pun mendudukan tubuh Tabitha dibantu oleh Arthur.
" Mom, Dad" Sapa Tabitha dan kedua orang tuanya pun mendekati putrinya, membelai pelan pipinya.
Renata memeluk Tabitha perlahan dan mengelus pelan surai putrinya sayang.
" Jangan membuat kami gila dengan tingkah mu" peringat Renata.
" Maaf"
" Aku bahagia kau kembali Ta"
" Terimakasih Brian"
" Kau tau, suami mu ini seperti orang bodoh dua minggu ini"
" Biarkan" ujar Tabitha terlihat Acuh.
Arthur hanya terkekeh dan mendudukan tubuhnya disamping sang istri, Tabitha bersender di samping tubuh Arthur.
" Mom, aku ingin menggendongnya"
" Sure, kau ibunya"
Renata menyerahkan bayi itu pada Tabitha dengan gerakan pelan dan Tabitha pun menerimanya dengan hati-hati.
Bayi itu berhenti menangis saat berada didalam dekapan Tabitha dan ia pun mulai tenang.
" Dia berhenti menangis" lapor Arthur dan Tabitha langsung menolehkan kepalanya mengangkat satu alisnya memastikan.
" Memangnya dia terus menangis tadi?"
" Ya, bahkan suhu tubuhnya tinggi"
" Ya Tuhan" Tabitha langsung memeriksa tubuh bayi nya dan mendekap tubuh kecil itu erat.
" Tapi sekarang tubuhnya normal"
" Karena dia sudah mendapatkan mommy nya" ujar Arthur memeluk Tabitha.
Wanita itu menngulas senyum tipis dan kembali menatap lekat wajah bayinya.
" Kau sudah memberinya nama?" Tanya Tabitha palan pada Arthur.
" Kenapa?"
" Aku menunggumu"
" Baiklah apa kau punya ide?"
" Aku bingung"
" Bagaimana dengan Artha?"
" Kenapa Artha?"
" Karena Arthur tak akan bisa hidup tanpa Tabitha" celetuk Brian dan langsung dihadiahi tatapan tajam dari orang tua Tabitha termasuk Arthur dan Tabitha.
" Kurasa dia benar" ujar Tabitha melirik Arthur.
" Tapi itu terdengar feminim"
" Tidak, kurasa ada saja pria yang bernama Artha" sanggah Tabitha tak terima dengan asumsi Arthur.
" Bagaimana dengan Leonardo"
" Jangan bilang kau terinspirasi dari singa Arthur"
" Kau benar, dia akan jadi raja dan pemenang disetiap kisah hidupnya sama seperti singa, bahkan aku akan mengenalkannya pada Exter dan Exie"
" Kau berupaya membunuhnya?"
" Exter itu hewanku Ta"
" Tapi dia tetaplah hewan buas Arthur"
" Tapi_"
" Tidak! Pokoknya Artha!" Sentak Tabitha mulai mendebat Arthur.
" Leonardo kurasa" ucap Arthur tetap tak mau mengalah.
Jonathan yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya.
" Sudah, kalian ini. Kau baru sadar tapi sudah mendebat suamimu"
" Maaf Dad"
" Baiklah karena dua-duanya keras kepala kita gabungkan saja"
" Maksud Mommy?"
" Kau ingin putramu dinamai Artha bukan?"
" Ya" balas Tabitha semangat.
" Sedangkan Arthur ingin putranya bernama Leonardo right?"
" Ya"
" Kita gabungkan jadi Artha Leonardo De Lavega bagaimana?" Usul Renata diikuti anggukan dari Jonathan, Ryan dan juga Brian.
" Artha Leonardo De Lavega, kurasa itu bagus" ucap Arthur menyetujui.
" Aku setuju"
" Hai Artha, kau sangat tampan"
" Sama sepertiku"
" Bodoh tentu kau ayahnya" rutuk Tabitha.
" Aku merindukan rutukanmu honey"
Arthur membelai pelan Artha dengan sayang seraya memeluk tubuh sang istri.
" Jangan lagi membuatku takut Ta"
" Aku janji" ujar Tabitha lalu mengecup pelan rahang tegas Arthur.
__ADS_1
" Baiklah, suasana makin intim. Lebih baik kami keluar" ujar Jonathan.
" Ya, entahlah aku merindukan kekasihku" ucap Brian menimpali.
" Ayo kita keluar" ajak Renata dan mereka pun keluar dari ruangan Tabitha namun.
" Arthur ingat diantara kalian ada seorang bayi, tolong ingat itu" ucap Jonathan mengintip dari sela pintu ruangan.
" Pasti" ucap Arthur dengan kekehannya.
" Daddy!" Peringat Tabitha, wanita itu merona dan akhirnya ia tersenyum simpul.
" Enjoy Arthur" ucap Jonathan dengan tawa yang tak lagi terbendung dan ia pun menutup pintu itu.
" Baiklah kita sendiri"
" Sendiri? Lalu aku dan Artha apa?" Ujar Arthur merajuk.
" Oh ya, maafkan aku"
" Kau harus mencukur bulu disekitar rahangmu Arthur, aku tak suka melihatnya"
" Kenapa?"
" Tak terurus, seperti orang yang kekurangan uang"
" Hei, ini akan terlihat lebih dewasa"
" Kau mau dikatai sebagai ayah atau pamanku?"
" Maksudmu?"
" Kau lupa istrimu berumur 19 tahun Arthur sedangkan umurmu sudah 29 tahun?"
" Kau menghinaku?"
" Aku hanya bertanya, apa kau mau dikatai sebagai ayahku?"
" Baiklah, aku kalah"
" Nice"
" Akan kubersihkan"
" Bagus"
" Kau tak mau memberikannya asi?"
" Kau berupaya mencari kesempatan Mr. De Lavega? Ingatkah dirimu istrimu ini baru saja bangun dari koma?"
" Aku sama sekali tidak berpikir kearah situ Ta"
" Serius?"
" Ya"
" Menarik" ujar Tabitha.
Wanita itu pun melepas dua kancing atas seragam pasien nya lalu mulai memberi asinya pada Artha. Terlihat bayi itu dengan lahap menyusu pada buah dada Tabitha dan itu membuat Tabitha terkekeh geli.
" Kenapa?"
" Menggelikan, tapi menyenangkan" ucap Tabitha polos.
" Dia tersenyum"
" Apa perawat disini memberikannya asi?"
" Aku tak tau"
" Kenapa tak tau?"
" Sebenarnya aku baru menengoknya hari ini" aku Arthur seraya membelai pelan pipi gembul Artha.
" Apa!"
" Maaf"
" Jadi selama ini kau belum menemuinya?"
" Iya"
" Ya Tuhan Daddy macam apa kau"
" Aku terlalu fokus pada keadaanmu"
" Bodoh!"
" Sekali lagi maafkan aku"
" Ya tak apa, lagi pula sekarang aku sudah disini" ujar Tabitha seraya menyunggingkan senyum tipis dibibirnya.
" Aku mencintaimu jadi tolong jangan pernah membuatku menangis lagi"
" Ayolah, itu hanya tangisan, aku sering menangis"
" Tangisan itu sudah aku jaga selama 16 tahun"
" Tidak mungkin"
" Terakhir aku menangis saat kedua orang tuaku mati didepanku"
" Kau serius?"
" Ya, dan rasa takut itu kembali datang saat aku melihatmu tadi"
Tabitha melirik kearah Arthur dan membelai pelan rahang tegas pria nya.
" Aku tak akan pergi, percayalah. Lagi pula kau belum menepati janjimu untuk membawaku belanja"
" Tentu, setelah kita pulang kau bisa membeli apapun yang kau mau"
" Dan aku tak sabar untuk itu"
Arthur mencium kening Tabitha dan kembali membelai Artha.
" Arthur"
" Hem"
" Kau merindukanku?"
" Tentu" Arthur menegakkan tubuhnya dan menghadap kearah sang istri.
Hal tak terduga pun terjadi dengan cepat Tabitha menubrukkan bibirnya pada bibir Arthur. Pria itu menaikkan satu alisnya sedikit terkejut dengan apa yang terjadi. Tabitha sedikit menyesapnya memainkan bibir Arthur dan jujur jiwa laki-laki Arthur dengan tidak sopannya datang, namun pria itu cukup sadar dengan apa yang terjadi ia hanya menikmati apapun yang dilakukan istri kecilnya.
Tabitha melepas pungutan itu dan menatap Arthur dengan tatapan sayu nya.
" Aku mencintaimu"
" Aku juga"
Arthur kembali mendekatkan wajahnya pada sang istri, Tabitha pun memejamkan matanya namun suara tangisan bayi membuyarkan semuanya.
" Ck dia mengganggu"
" Arthur" peringat Tabitha seraya memukul pelan lengan pria disampingnya.
" Semua sudah lengkap"
" Ya"
Arthur kembali memeluk Tabitha dari samping dan mengecup keningnya.
" Love you wife"
" Love you more husband"
To Be Continue...
Vote Please...
Arthur De Lavega
Tabitha De Lavega
__ADS_1
Artha Leonardo De Lavega