
Tabitha membuka matanya perlahan dan pemandangan yang dia lihat adalah wajah Arthur yang berjarak hanya beberapa senti bahkan nafas Arthur pun bisa dirasakanya.
" Pagi"
" Kau mau apa?" Tanya Tabitha.
" Aku hanya ingin menjadi yang pertama saat kau membuka matamu"
" Bodoh!"
" Terserah"
" Menyingkir dari hadapanku!"
" Kau bisakah berkata lembut seperti semalam?"
" Tidak" jawab Tabitha ketus lalu wanita itu memasuki kamar mandi dan berusaha menormalkan degub jantungnya.
" Kau ingin makan apa?"
" Terserah!"
" Tidak ada makanan yang namanya terserah honey"
" Dasar bodoh!"
Setelah beberapa menit ia membersihkan diri, Tabitha pun keluar dan ia menemukan Arthur tengah menyajikan berbagai makanan di atas meja mini dalam kamar hotelnya.
" Kau sudah selesai?"
" Hm"
" Baiklah ayo kita makan"
" Aku tidak lapar"
" Kau harus makan"
" Baiklah, tapi kau keluar"
" Ha?"
" Kau keluar Arthur!"
" Baiklah"
Arthur melirik kearah istrinya berharap wanita itu mau menerimanya namun Tabitha malah memberikan tatapan dinginnya sebagai balasan. Arthur keluar dari kamar Tabitha dan berakhir dihadapan kamar Brian. Arthur mengetuk pintunya dan tak lama Brian pun membukanya.
" Kau?"
" Ya, aku ingin sarapan disini"
" Bukanya kau dan Tabitha_"
" Dia mengusirku"
" Baiklah, ayo masuk dulu"
Arthur mengikuti langkah kaki Brian, pria itu merasa kesal sebenarnya namun ia tak ingin memperlihatkan itu semua pada Tabitha.
" Baiklah ceritakan apa yang terjadi?"
" Aku memasak untuknya tapi dia tak ingin aku berada disana"
" Lalu?"
" Apalagi aku kesini lah"
" Baiklah"
" Apa? Hanya itu? Brian aku kesal sekarang, aku sudah berusaha bersikap manis padanya tapi dia menolakku mentah-mentah!"
" Arthur baru semalam kau diperlakukan begini oleh istrimu dan kau sudah kesal bagaimana dia yang diperlakukan seenaknya olehmu selama dua minggu?"
" Ya, tapi aku tak sadar waktu itu"
" Sadar tak sadar kau tetap salah"
" Baiklah aku lapar boleh aku sarapan disini?"
" Tentu aku sudah memesan beberapa makanan mungkin akan segera datang"
" Oke"
Arthur sibuk selama beberapa jam di kamar Brian, pria itu membahas masalah pekerjaannya yang selama dua hari ini tidak serius dia kerjakan. Setelah selesai Arthur membuka knop pintu kamar Tabitha hal pertama yang ia lihat adalah sesosok pria yang duduk dengan senyum miring yang sangat Arthur benci.
" Bagaimana bisa kau disini bedebah!" Sentak Arthur mendekati pria itu.
" Hai Arthur"
" Katakan bagaimana bisa kau disini!"
" Aku hanya bertamu"
" Pergi kau sialan!"
" Arthur calm down"
" Keluar atau kutembak kau!"
" Ini Macau Arthur, aku yang berkuasa disini"
" PERGILAH DAMIAN!"
" Aku tak bisa pergi, aku diundang seseorang disini" ucap Damian tenang tanpa ada rasa takut sedikitpun.
Arthur mencengkram kerah kemeja Damian dan menghentakkan tubuh pria itu ke dinding.
" SIAPA YANG MENGUNDANGMU!"
" Arthur tenanglah"
" Katakan!"
" Aku yang mengundangnya" Arthur melirik keasal suara yang ternyata adalah Tabitha yang baru saja masuk ke kamar itu.
" Kau?"
" Ya"
" Damian duduklah" ujar Tabitha lalu menuju pantry membuatkan teh dan menghantarkannya ke hadapan Damian. Sedangkan Arthur terlihat mengetatkan rahangnya marah.
" Terimakasih Ms. De Lavega"
" Ya"
" Kau mengundang bedebah ini?"
" Ya"
Arthur menarik pelan tubuh Tabitha keluar kamar.
" Apa?"
" Bagaimana bisa kau mengundang bedebah itu kemari?"
" Memangnya kenapa?"
" Kau ingin balas dendam?"
" Terserah kau mengganggapnya seperti apa"
" Apa maksudmu mengundangnya kemari?"
" Ini kamar hotelku dan aku berhak mengundang siapapun kemari"
" Tabitha"
" Apa? Kau ingin marah padaku?"
" Tidak"
" Kalau begitu pembicaraan ini selesai"
Tabitha melenggang pergi dan mendudukan tubuhnya disofa berhadapan dengan Damian yang sedang meminum teh nya. Tak lama Arthur datang dengan wajah kusut nya. Pria itu mendudukan dirinya disamping Tabitha.
" Jadi ada apa Ms. De Lavega?"
" Aku ingin kau dan Arthur melakukan sesuatu"
" Maksudmu?"
" Apa?" Tanya Arthur dengan alis yang menaut tak mengerti.
" Damian aku ingin kau dan Arthur berdamai dihadapanku"
" WHAT THE_"
__ADS_1
" Jangan mengumpat Arthur!"
" Tapi kau tau kan dia rival ku!"
" Ya, dan seluruh dunia juga tau itu"
" Lalu kenapa kau memintaku untuk berdamai dengannya, menyentuhnya saja aku jijik!"
" Arthur!" Desis Tabitha tajam sedangkan Damian malah terkekeh mendengarkan ucapan Arthur.
" Ini bukan kemauanku!"
" Lalu?"
" Ini kemauan anakmu!"
" Wow jadi kau hamil Ms. De Lavega?"
" Ya"
" Congratulation kalau begitu"
" Terimakasih Damian"
" Ck" Arthur berdecak malas mendengar percakapan antara istrinya dan sang rival abadi, Damian.
" Aku tak bisa melakukan itu"
" Baiklah terserah"
" Tabitha"
" Kau ingin maaf dariku kan? Inilah yang kuminta"
" Tapi tidak dengan kaparat ini!"
" Baiklah terserah"
" Tabitha kumohon kau boleh minta yang lainnya, mobil, mansion, apartemen, panthouse, atau kau ingin pulau pribadi? Aku akan memberikannya. Tapi ku mohon jangan memintaku untuk melakukan itu."
" Arthur aku tak butuh semua itu, aku hanya ingin kau dan Damian berdamai"
" Bagaimana bisa kau memintaku untuk berdamai dengan pria sialan ini!"
" Arthur jangan mengatainya terus! Ingat dia tamu kita!"
" Apa yang diucapkan istrimu benar Arthur, kau payah sekali jadi tuan rumah"
" DIAM KAU SIALAN!"
" Arthur!"
" Tabitha dia sangat licik pasti setelah ini dia meminta sesuatu"
" Aku tak peduli, aku hanya ingin kau memeluknya!" Ujar Tabitha.
Arthur menatap manik mata hazel sang istri. Ia lalu mengalihkan pandangannya pada Damian yang terlihat sangat tenang bahkan pria itu terlihat sedang membaca majalah dan mengacuhkan perdebatan antara Arthur dan istrinya.
" Aku juga tak tau Arthur, saat melihat Damian kemarin di mall aku sangat ingin kau memeluknya"
" But it's impossible"
" Baiklah, kalau kau tak mau. Aku tak akan pulang ke New York"
Arthur menghela napasnya kasar, ia tak bisa melihat Tabitha merajuk seperti itu.
" Baiklah"
" Apa?"
" Baiklah aku akan melakukan apa yang kau minta"
" Bagus"
Tabitha mengalihkan pandangannya pada Damian.
" Damian, kau mau kan melakukan apa yang ku mau?"
" Ms. De Lavega jujur saja sebenarnya sedari tadi aku sangat ingin membungkam mulut suamimu itu."
" Ku mohon Damian"
" Tabitha jangan memohon pada siapapun terutama dia!" Peringat Arthur namun tidak digubris Tabitha.
" Tapi karena kau sedang hamil dan ini adalah keinginan bayi mu jadi aku setuju"
" Terimakasih Damian" Tabitha tersenyum bahagia berbanding terbalik dengan raut wajah Arthur yang tampak sangat kesal.
" Apa maksudmu?"
" Sebuah perjanjian"
" Sudah kuduga" ujar Arthur sembari memutar bola matanya.
" Aku akan menuruti kemauanmu tapi sebagai gantinya jika anakmu laki-laki aku tak masalah"
" Bagaimana jika perempuan?" Tanya Tabitha.
" Kau harus mau menyerahkan anakmu padaku untuk kujadikan pasanganku"
" SIALAN KAU KAPARAT!" Bentak Arthur bahkan pria itu sudah mengangkat tubuh Damian hingga kaki pria itu melayang sedikit dari lantai.
Tabitha menelan salivanya, ia takut jika memang anaknya perempuan tapi ia sangat menginginkan Arthur dan Damian berdamai.
" SAMPAI KAPANPUN AKU TAK AKAN MEMBIARKAN ANAK-ANAKKU BERURUSAN DENGAN MU SIALAN!"
Tabitha melihat kilatan kemarahan Arthur tapi Damian malah terkekeh pelan mengabaikan setiap kata yang Arthur ucapkan.
" Kan aku sudah bilang, jika anakmu laki-laki dia akan selamat aku tak akan mengganggunya. Tapi jika perempuan kau harus menyerahkannya"
" BRENGSEK!" Arthur mencekik Damian kencang.
" K-kau tak bisa membunuhku Arthur!"
" Diam kau!"
Tabitha masih menimbang, ia membelai pelan perutnya meminta persetujuan sang anak, semoga keputusannya tepat, dan semoga Tuhan memberikan dia kemudahan.
" Arthur hentikan!" Sentak Tabitha namun Arthur semakin kuat mencekik Damian.
" STOP ARTHUR!"
Arthur yang mendengar teriakkan Tabitha akhirnya melepaskan cekikanya dari leher sang rival, pria itu mengepalkan erat tanganya sempurna.
" Aku menerima tawarannya" ujar Tabitha.
Deg! Arthur segera melirik kearah sang istri. Dan dengan cepat menarik Tabitha keluar.
" Apa yang kau ucapkan!"
" Aku hanya ingin menuruti kemauan anakku"
" Kau mempertaruhkam kehidupannya Tabitha!"
" Aku hanya ingin memenuhi keinginannya Arthur"
" Dia juga anakku!"
" Aku tau!"
" Lalu kenapa kau menyetujui permintaan gila Damian!"
" Aku percaya pada takdir Arthur"
" Bagaimana jika anak kita perempuan?"
" Lalu bagaimana jika anak kita laki-laki?"
" Tabitha jika anak kita perempuan dia akan membenci kita"
" Kita tidak tau bayi ini laki-laki atau perempuan Arthur"
" Baiklah terserah"
" Maaf"
" Mungkin saat kita mengetahui jenis kelaminya dan ternyata dia perempuan aku akan segera membunuh Damian"
" Terserah apapun yang kau lakukan"
" Setelah ini jangan minta macam-macam lagi"
" Ya, semoga"
Arthur berjalan beriringan dengan sang istri dan menatap Damian yang tengah sibuk membaca majalah.
" Jadi bagaimana?"
__ADS_1
" Kami setuju"
" Bagus"
" Ayo, kau ingin kami berdamai kan?"
" Ya"
Arthur mendekati Damian dengan tatapan kebencian sedangkan Damian mengulurkan tanganya. Arthur menyambut uluran tangan Damian dan Damian pun menarik Arthur hingga mereka berpelukan. Tabitha tersenyum ia senang saat keinginannya terpenuhi.
Damian merangkul Arthur dengan senyum yang mengembang. Sedangkan Arthur hanya menampilkan wajah malas dan tidak ikhlasnya.
" Jangan menunjukkan wajah malasmu calon ayah mertua"
" Diam kau!"
" Kau sangat kejam ayah"
" Dengar, aku akan berdoa semoga anakku bukan perempuan jika memang itu terjadi mungkin aku akan menghabisimu"
" Kau sangat jahat sekali"
" Baiklah Damian silahkan kau pulang" ucap Arthur dengan nada lembut namun penuh kebencian.
" Baiklah, kau tak ingin mengantarku ayah"
" DAMIAN!"
" Oke, maaf"
Damian segera melenggang keluar dari kamar Tabitha menyisahkan Arthur dan sang istri dikamar itu.
Tabitha mengelus pelan perutnya, ia berharap semoga anaknya laki-laki.
Tiba-tiba sebuah lengan besar memeluknya dari belakang, ikut membelai perut wanita itu.
" Apa aku sudah bisa memanggil diriku Daddy?"
" Ya, kau ku ijinkan"
" Baiklah terimakasih"
" Ya"
" Daddy berharap kau laki-laki, karena jujur aku juga ingin anak pertamaku laki-laki"
" Semoga"
" Kita pulang?"
" Mungkin nanti malam"
" Baiklah"
" Kau sudah memaafkanku?"
" Tiga perempat" ujar Tabitha dengan terkekeh.
" Apa? Setelah mempertaruhkan kehidupan anakku kau masih belum memaafkanku?"
" Tidak, aku berbohong"
" Jadi?"
" Aku memaafkanmu"
" Terimakasih"
Arthur menopangkan dagu terbelahnya ke pundak sang istri dan menghadiahi wanita itu kecupan lembut dipipi kiri nya.
" Aku mencintaimu"
" Aku tau"
" Aku berjanji takkan melakukan kesalahan yang sama"
" Jika kau lakukan lagi, akan aku jamin kau takkan menemukanku lagi"
" Aku janji honey"
" Sekarang apa yang akan kau lakukan pada Clark?"
Arthur melepas pelukannya dan duduk ditepi ranjang. Tabitha membalikkan tubuhnya menghadap sang suami yang sudah mengetatkan rahangnya. Tabitha berjalan mendekati Arthur membelai pelan rahang tegas Arthur yang mengetat.
" Aku bertanya Arthur, apa kau akan menyakitinya?"
" Aku mungkin akan melepas peluruku tepat dijantung pria sialan itu jika aku berada di New York sekarang"
Tabitha mendudukan tubuhnya bersampingan dengan sang suami dan menggenggam erat tangan Arthur.
" Aku juga membencinya karena ulah dia kita jadi salah paham dan berujung kau yang menyakitiku. Aku tau itu salahnya jadi aku tak punya alasan untuk membencimu oleh karena itu aku tak membencimu setelah kau menyakitiku"
" Maafkan aku" Arthur menghadap Tabitha dan memeluk wanita itu erat dan mengecup pelan kepalanya.
" Ya"
" Kau sangat baik Ta"
" Dan mungkin sedikit polos" lanjut Arthur.
" Jadi apa yang akan kau lakukan?"
" Brian sudah mematahkan dua tulang rusuk pria bedebah itu. Dan mungkin aku akan mematahkan kaki dan tangannya."
" Bagus"
" Kau sangat membencinya?"
" Ya"
" Dasar"
" Aku mau pulang" ujar Tabitha mengadahkan kepalanya menatap sang suami.
" Kau bilang nanti"
" Aku rindu Madam Rose"
" Baiklah"
Arthur segera meraih ponselnya di saku celana pria itu.
" Brian"
" Ya"
" Siapkan jet pribadiku sekarang"
" Kau akan pulang?"
" Ya"
" Baiklah"
" Secepatnya Brian"
" Ya"
Arthur memutus sambungan teleponnya dan kembali memeluk erat istri kecilnya.
" Kita harus bersiap"
" Ya, tapi aku malas" ujar Tabitha.
" Aku yang akan membereskannya."
" Terimakasih husband"
" Ya"
Arthur segera mengepak baju-baju sang istri dan memasukkannya ke dalam koper lalu mereka pun menunggu Brian.
To Be Continue...
Vote Please...
Note: Author minta maaf karena nggak sesuai ekspetasi, tapi Author kasian bikin mereka berantem terus.. 🙏🙏
Arthur De Lavega and
Damian Ford
(Muka Arthur nggak ikhlas
banget yah wkwkw)
__ADS_1
Tabitha De Lavega