
Karena asik melihat linetta dan miko jari laura teiris pisau.
Akkhhh... Linetta,miko dan quita langsung melirik ke arahnya. Miko langsung mengambil plester.
"Mengapa tidak hati-hati." Ucap quita.
"Maaf." Sahut laura.
"Duduklah biar aku yang lanjutkan." Sambung quita.
"Hmm.. Sudah... Duduklah dulu." Ucap miko.
"Terimakasih." Sahut laura. Lalu miko kembali duduk di samping linetta. Sedangkan laura duduk di hadapan mereka.
"Mau ku bantu?" Linetta menawarkan dirinya membantu quita.
"Biar aku saja oke." Miko menyahut.
"Memang kau bisa memasak." Ujar quita.
"Tentu saja." Miko menghampiri quita. Mereka pun memasak makanan buat linetta. Beberapa saat kemudian makanannya sudah jadi linetta langsung menghampiri miko dan quita.
"Wahh... Wanginya hmmmm... Aku jadi lapar." Linetta tersenyum manis.
"Sini.. Coba.. Huff.. Huf..." Miko mendinginkan makanan tersebut lalu menyuapi linetta. "Enak?" Tanya miko.
"Hehehe.. Enak banget." Jawab linetta.
"Wahhh miko kau hebat juga yaa.." Pujian quita. "Laura sini cobain." Sambung quita. Laura pun menghampiri mereka.
"Hmm... Wangi banget.. Hmmm.. Enaknya." Ucap laura. Linetta hanya memasang wajah datar melihat laura membuat suasana menjadi canggung. Lalu quita memberi kode kepada miko dengan menyentuh pinggang miko.
"Hahaha.. Enakkan." Ucap quita agar suasana tidak canggung.
"Kau mau makan sekarang? Atau kita kekamar dulu?" Sahut miko.
"Ahhh.. Sembarang saja." Linetta berhenti menatap laura.
"Wahh.. Siapa yang sedang memasak, harumnya sampai kamar mami loh." Ujar mami dari kejauhan menuju dapur.
"Itu loh mi.. Calon menantu mami yang buat." Gurauan quita.
"Wah.. Miko pintar masak ya. Coba sini mami rasain." Mami menyicipi makanan tersebut. "Hmmm.. Enak loh mami suka." pujian mami.
__ADS_1
"Apa ini ribut-ribut." Ucap geano baru pulang kerja.
"Aku mencium aroma masakan yang sangat lezat dari kejauhan." Ujar cenzo dari kejauhan sembari mengendus-ngedus.
"Geano dan cenzo sudah pulang. Ayo kita makan malam keburu dingin nanti masakan miko tidak sedap lagi." Ucap mami.
"Mami sudahlah. Lihat mukanya memerah kalian puji terus hahah..." Linetta dan lainnya tertawa. "Geano cuci tanganmu dulu." Sambung linetta.
"Kakak... Orang mamakannya pake swndok juga." Geano merengek.
"Biar pake sendok. Nanti jatuhan kebawah kumannya." Sahut linetta.
"Ishhh... Kakak ini. Memangnya kuman bisa jatuh apa?" Tanya geano sedang mencuci tangan.
"Kalau mereka tidak bisa jatuh, biarpun di apakan paati tetap lengketkan. Itu kau mencuci tangan kumannya akan hilangkan bearti mereka berjatuhan." Jelas linetta.
"Kakak dapat materi seperti itu dari mana?" Tanya geano dengan wajah datar.
"Tentu saja kakak yang buat hahaha....." Linetta tertawa terbahak-bahak.
Krikk.. Krikk.. Krik.. Krikk... Yang lainnya hanya memperhatikan linetta dengan tatapan datar. Mereka antara terkejut dan tidak percaya linetta bisa melawak walaupun tidak lucu.
"Tertawa cepat tertawa." Bisik quita kepada cenzo.
"Kenapa kalian? Dimana lucunya?" Sahut geano dengan muka polosnya.
Plakk.... Quita memukul bokong geano.
"Aaakhh... Sakit loh kak." Ucap geano.
"Tertawa saja jika kau tidak ingin mati." Bisik quita. Seketika geano langsung ikut tertawa bersama yang lainnya.
Mereka semua menghabiskan makan malam dengan sangat riang.
Malam hari di kamar linetta
"Besok aku ikut ke kantor ya." Pinta linetta yang sedang berbah di atas dada miko.
"Iya sayang iyaa." Jawab miko. Linetta langsung mengangkat kepalanya lalu menatap miko.
"Kenapa? Ada apa lagi?" Sambung miko.
"Sejak kapan kamu manggil aku sayang?" Tanya linetta dengan wajah memerah karen malu.
__ADS_1
"Sayang.. Sayang.. Sayang.." Miko merayu linetta.
"Aaa... Jangan begitu nahh." Linetta tertawa. Mereka tertawa sangat bahgia.
Tok.. Tok.. Tok... Laura mengetok pintu.
"Siapa? Buka saja." Ucap linetta yg berada di atas badan miko. Laura pun membuka pintu.
Ia terkejut melihat keromantisan linetta dan miko lalu ia menundukkan.
"Ada apa?" Tanya linetta dingin lalu turun dari badan miko.
"I.. Itu.. Sekretaris jang memanggil nona." Jawab laura yang gugup.
"Ohh.. Baiklah.. Aku akan turun." Sahut linetta. "Aku turun dulu." Sambungnya bicara dengan miko. Miko menganggukan kepalanya dan tersenyum.
Saat turun linetta di depan sedangkan laura berada di belakangnya. Linetta berhenti tiba-tiba membuat laura terkejut dan berhenti dengan spontan.
"Lain kali panggil aku linetta saja." Ucap linetta hanya kepalanya saja yang menoleh.
"Hah.. Ahh iya-iya." Jawab laura yang tidak percaya lalu tersenyum. Lalu mereka lanjut turun kebawah.
Sesampainya kebawah sekretaris jang langsung menuju ke ruang tamu yang sudah ada mami dan geano.
"Ada apa ini?" Tanya linetta heran. Sekretaris jang membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah berkas-berkas.
"Ini surat wasiat dari bos." Ucap sekretaris jang. "Silahkan dibaca dulu." Sambungnya lagi.
Merekapun membawa seksama. Laura mendengar surat wasiat perlahan pergi.
"Tung.."
"Tunggu laura. Diam disitu." Ucap sekretaris jang terhenti oleh linetta.
"Kenapa?" Tanya laura.
"Kau juga dapat beberapa harta dari papi." Ucao linetta masih membaca surat tersebut.
"Apa?" Ucap mami dan geano bersamaan.
"A... Aku.." Ucap laura tidak percaya.
"Aku dapat warisan. Bagaimana bisa?" Gumam laura dalam hati.
__ADS_1