
Seminggu telah berlalu, Yuki menjalankan hari-harinya dengan kesibukan yang dia buat sendiri. Linetta semakin khawatir dengan kelakuan Yuki yang semakin hari semakin tidak ada waktu untuknya di rumah.
"Aku tidur di luar lagi, Mah!!" Yuki berjalan cepat menuju luar.
"Yuki!!" panggil Linetta.
"Ketua, biar saya saja," sahut Irin.
"Tolong jaga dia untukku."
Irin mengejar Yuki, saat sampai di depan halaman Irin menarik tangan Yuki untuk masuk ke dalam mobil.
"Irin lepaskan aku. Kubilang lepaskan!!" Yuki menarik tangannya dari genggaman Irin.
Irin tidak mendengar perkataan Yuki, dia tetap memaksa Yuki untuk masuk ke mobil.
"Mau kau bawa ke mana aku?" Irin tidak menjawab perkataan Yuki.
"Irin!!" seru Yuki.
Irin memberhentikan mobilnya di pinggir jalan secara tiba-tiba.
"Kapan kau terus begini, Yuki?" tanya Irin. Yuki membuang wajahnya.
"Yuki, jawab aku!!"
"Yuki!!"
"Aku harus jawab apa? Apa yang mau kau dengar dariku?" pekik Yuki.
"Yuki... Hmm... Aku tidak tau harus berbuat apa sekarang dengan dirimu."
"Aku cape dengan semua ini, aku hanya cape hiks..."
Yuki menarik napas lalu menghapus air matanya yang menetes. "Tapi semua akan baik-baik saja. Ayo kita latihan."
"Yuki..."
"Aku bilang aku tidak apa-apa, Rin."
"Baiklah jika begitu. Ayo kita latihan."
Irin memutar balik mobilnya lalu menunju ke gym untuk melakukan latihan Yuki lagi.
_________________
"Keadaan Reno semakin membaik, mungkin beberapa hati ke depan dia akan bangun," ucap Dokter Park.
"Jika Yuki bertanya kepada kalian tentang Reno jangan di beritahukan, karena ini baru perkiraan."
"Baik, Dok." sahut perawat.
Kemudian Dokter Park Dan beberapa perawat keluar, saat di depan pintu Dokter Park dikagetkan oleh Anna yang sedari tadi menguping.
"Apa dia segera bangun?" tanya Anna.
"Anna!! Sejak kapan kau ada di sini?"
"Aku tanya, apa Reno akan bangun seperti perkataanmu?" pekik Anna.
"Anna, tenanglah, itu semua hanya baru perkiraan." Anna menatap tajam Dokter Park sekejap, lalu masuk ke dalam dengan sedikit menyenggol Dokter Park.
Di sisi lain Yuki telah usai dengan latihannya, semakin hari kemampuannya meningkat pesat.
__ADS_1
"Kau mau ke mana lagi? Biar kuantarkan," tanya Irin sembari membukakan pintu mobil.
"Tidak perlu. Aku hanya ingin pulang."
"Apa kau ingin makan sebelum pulang?"
"Aku hanya ingin pulang, aku sangat lelah, Irin."
"Baiklah." Irin melihat Yuki belum memakai sabuk pengamannya.
"Yuki sabuk pengamanmu." Yuki hanya diam karena sedang melamun hingga tidak mendengar perkataan Irin.
Irin mendekati Yuki untuk memasangkan sabuk pengamannya, wajahnya dengan Irin sangat dekat mungkin hanya sejengkal dan itu membuat Yuki terkejut.
"Apa yang kau lakukan?"
"Kau tidak mendengar perkataanku untuk memasang sabuk pengamanmu."
Napas Yuki menyentuh kulit Irin hal itu membuat Irin terhenti menarik sabuk pengaman Yuki dan menatap Yuki. Aroma tubuh Yuki masih harum walau dia habis berkeringat, bibir Yuki yang mungil dan pink tersebut membuat Irin menelan salivanya.
Irin berusaha tidak memikirkan hal tersebut tetapi tubuhnya tidak bisa menolak hal itu. Irin dikit demi sedikit mendekati bibir Yuki.
"Irin.." panggil Yuki dengan suara kecil.
Irin menutup matanya dan menelan salivanya lagi. "Maafkan ak.."
"Cup.." Yuki mengecup bibir Irin, lalu membuang wajahnya.
"Anggap saja ucapan terima kasihku untuk selama ini," ucap Yuki.
"Apa yang sudah kau lakukan Yuki!!" Gumam Yuki dalam hati.
Irin memakaikan sabuk pengaman Yuki lalu menyetir, sepanjang jalan di dalam mobil sangat Mencengkeram mereka berdua tidak berbicara mau pun bertatapan.
______________
"Semuanya berjalan lancar kecuali bagian selatan," sahut Sekertaris Jang.
"Apa mereka berulah lagi?"
"Iya Ketua, mereka masih bersikeras menawarkan hal itu."
"Katakan pada mereka besok aku akan ke sana dan siapkan senjata dan beberapa pengawal untukku."
"Tapi, Ketua mereka sangat berbahaya dan pengedaran tersebut sudah cukup luas."
Linetta tersenyum. "Aku memang sudah tua tetapi, keahlianku masa seperti dulu,"
"Baiklah Ketua. Saya akan menyiapkan semuanya malam ini dan sen.."
Tok.. Tok.. Tok.. "Mah.." Suara Yuki membuat Sekertaris Jang berhenti berbicara.
"Nanti kita lanjutkan," ucap Linetta.
Sekertaris Jang menganggukkan kepalanya lalu segera membukakan pintu untuk Yuki. Yuki tersenyum saat melewati Sekertaris Jang.
"Kau sudah pulang, Sayang." ucap Linetta.
"Iya." Yuki menghampiri Linetta.
"Mama, Yuki boleh tidur sama mama malam ini?"
"Tentu saja, Sayang. Tidak ada yang melarangmu."
__ADS_1
"Baiklah. Yuki mandi dahulu baru ke kamar mama."
Linetta kembali ke kamarnya untuk membersihkan tempat tidurnya setelah selesai dia duduk di ujung kasur. Dokter Park keluar dari kamar mandi dengan handuk yang di lilitkan di pinggangnya.
Beberapa air mengalir dari rambut ke badan Dokter Park. Linetta tersenyum tipis melihat hal itu.
"Apa kau sedang menggodaku?" tanya Linetta.
"Kapan aku menggodamu?" Dokter Park duduk di samping Linetta sembari mengeringkan rambutnya menggunakan handuk.
Linetta mengambil handuk Dokter Park. "Duduk di bawah." Linetta membantuk mengeringkan rambut Dokter Park.
"Fuu..." Linetta meniup leher Dokter Park. Dokter Park tersenyum.
Linetta memeluk Dokter Park sembari memainkan jarinya di dada Dokter Park. Lalu berkata, "Malam ini Yuki akan tidur bersama kita."
Dokter Park menghela napas. "Baiklah. Aku akan mengenakan pakaian dahulu." Dokter Park dengan pasrah segera berdiri dan menuju lemari baju.
Linetta mengikuti Dokter Park lalu berdiri dan meletakan tangannya di bahu Dokter Park.
"Kau ini kenapa?" tanya Dokter Park.
Linetta memegang leher Dokter Park lalu menciumnya.
"Cup.. Hanya sebentar," ucap Linetta.
Dokter Park langsung membalas ciuman Linetta, belum puas di bibir Linetta. Dokter Park mulai turun ke leher Linetta, Linetta sedikit merasa sakit dan meremas rambut Dokter Park.
"Mmph..."
"Ahh..."
Tok... Tok... Tok... "Mama," panggil Yuki.
Dokter Park mendorong dirinya sendiri menjauh dari Linetta. Linetta membuka matanya dan menghela napasnya, lalu mereka berdua tersenyum bersama.
Yuki tidur di tengah Linetta dan Dokter Park. Yuki memeluk Dokter Park.
"Yuki. Apa kau tidak mau memeluk mama?" tanya Linetta.
"Tidak. Pelukan papa lebih nyaman. Yuki akan tidur dengan pelukan papa."
"Baiklah putri papa. Sekarang tutup mata Yuki karena, sudah malam," ucap Dokter Park.
Yuki menambah erat memeluk Dokter Park sedangkan, Dokter Park menggenggam erat tangan Linetta. Malam itu seperti malam yang telah lama tidak mereka rasakan lagi.
Di sisi lain Anna datang ke rumah sakit membawakan beberapa bunga untuk Reno karena bunga di ruangan tersebut sudah layu.
Saat membuka pintu Anna membulatkan matanya dan bunga yang dia bawa terjatuh ke lantai. Matanya hanya tertuju ke arah Reno dan seketika mata Anna mulai berair dan memerah.
"Re.. Reno!!".
*
*
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya kak๐๐
Mohon maaf beberapa hari tidak up karena authornya kurang sehat๐
*
*
__ADS_1