My Lady Is The Mafia 1&2

My Lady Is The Mafia 1&2
64


__ADS_3

"Bibi tolong rapikan kamar saya," ucap Mark mengendong Yuki.


"Papa bawa mama Dara?" tanya Alex


"Siapa dia? Dia bukan Dara," sahut Leon.


"Jaga ucapanmu Leon," ketus Henry.


Mark memang belum menikah tetapi dia sudah memiliki tiga anak lelaki yaitu Henry, Leon dan si bungsu Leon. Ke tiga anaknya tersebut adalah anak angkatnya, Mark mengambil mereka dari jalanan, mereka tidak memiliki orang tua tetapi tidak mau tinggal di panti asuhan jadi Mark membawa dan menjadikannya anak.


Mark adalah pengusaha sukses di usia mudanya umurnya 26 tahun tetapi sudah memiliki kekayaan yang cukup untuk tiga generasinya. Mark anak yatim piatu, orang tuanya meninggal karena serangan jantung. Dahulu perusahaan Mark adalah milik orang tuanya karena di tipu oleh saudaranya sendiri kedua orang tuanya mengalami kebangkrutan yang sangat parah.


Kebangkrutan tersebut membuat syok yang sangat berat hingga merenggut nyawa ke dua orang tuanya. Untung saja saat itu Linetta memahami dan mengetahui kisah Mark, kemudian Linetta membantu Mark hingga sekarang jadilah perusahaan penghasilan yang cukup besar untuk keluarga Cosa.


"Mengapa kalian belum tidur?" tanya Mark.


"Kami mendengar suara mobilmu, kau sangat jarang pulang ke rumah. Kami tau kau memiliki kekasih, tetapi kami ini anakmu juga membutuhkanmu!!" ucap dingin Henry.


"Baiklah maafkan aku. Aku akan lebih sering pulang ke rumah."


"Siapa dia? Tentu saja bukan Dara, kau tidak pernah membawanya ke rumah ini," tanya Leon.


"Dia cucu keluarga Cosa, perusahaan yang membantuku menjadi seperti ini."


"Papa.." panggil Alex.


Mark mengambil Alex dari gendongan Henry. "Ho'oh.. Anak papa semakin besar muahh.." Mark menciumi pipi Alex yang sangat bulat tersebut.


"Apakah kalian suka dengan pengasuh yang sekarang?" tanya Mark.


"Lumayan, walaupun sering meninggalkan kami. Kau tidak perlu mencarikan kami pengasuh, kami sudah besar," ucap Henry.


"Kalian memang sudah besar lantas Alex mau kalian tinggal sendrian di rumah jika kalian sekolah hah? Bibi tidak bisa mengutus Alex dia sibuk dengan rumah dan umurnya sudah tidak muda lagi. Apa kalian tega?"


"Baiklah. Terserah kau saja!! Aku sudah mengantuk. Sini Alex kami akan tidur," ucap Henry.


"Tidurlah. Alex akan tidur bersamaku."


Henry dan Leon kembali ke kamar mereka masing-masing sedangkan Alex sudah tertidur dalam dekapan Mark. Mark menaruh Alex di sebelah Yuki, dia mengganti pakaiannya lalu menelpon Linetta memberitahukan kalo Yuki ada di rumahnya.


Karena sedang badai hujan jalanan ditutup sementara, banyak pepohonan yang tumbang serta kecelakaan di mana-mana. Mark mengambil kursi mendekati kasurnya, dia tidur semalaman duduk di kursi tersebut.


Hujan masih berlanjut hingga pagi hari, tetapi tidak sederas tadi malam hingga terjadi badai petir.


"Anda ingin kopi?" tanya bibi.


"Tidak Bibi. Saya belum boleh meminum kopi, jus saja Bi," ucap Mark.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Leon.


"Jika tidak hampir mati mungkin saja dia masih merokok," sahut ketus Henry.

__ADS_1


"Tuan Henry. Anda tidak boleh berkata kasar seperti itu kepada ayah kalian. Bibi tidak pernah mengajarkannya!!"


"Tidak apa-apa Bibi."


"Dimana Alex?" tanya Leon.


"Dia masih tidur, biarkan saja."


"Bagaimana dengan gadis itu? Bukannya dia harus pergi ke kampus?" ucap Henry.


"Bagaimana kau mengetahuinya?" tanya Mark.


"Aku melihat wajahnya tadi malam seperti tidak asing, saat kembali ke kamar aku baru ingat dia satu kampus denganku."


"Ohh.. Dia tidak ada kelas pagi. Aku menelpon mamanya tadi malam."


"Kapan kau akan membawa Dara menemui kami? Kalian sudah pacaran selama empat tahun, tapi kau belum pernah membawanya kemari," ucap Henry.


"Aku.."


Ucap Mark terhenti karena suara bel rumahnya berbunyi terus menerus.


"Biar Leon bukakan," ucap Leon segera bergegas ke luar.


"Mau cari siapa?" tanya Leon.


Ternyata Dara mendatangi rumah Mark, karena mendapat berita dia membawa wanita lain kerumahnya, sedangkan dia pacar Mark belum pernah menginjakkan rumah tersebut.


"Siapa kamu? Di mana Mark?" ucap Dara ketus.


"Papa? Kau sudah gila!! Minggir.." Dara mendorong Leon hingga terjatuh.


"Aww!!.." Tangan Leon berdarah karena bergesekan dengan batu kerikil.


"Kau apakan adikku!!" Henry mendorong Dara saat hendak memasuki rumah, dia melihat saat Dara mendorong Leon.


"Kau!! Siapa lagi kau!! Minggirlah aku sedang mencari Mark!!"


"Papa tidak ada di rumah dan Papa tidak suka dengan wanita kasar dengan anak-anaknya," ucap ketus Henry.


"Anak? Papa? Apa kalian sudah gila? Mark belum menikah dan aku calon istrinya belum memberikannya anak, tapi kau mengaku-ngaku sebagai anaknya hmm.. Apa yang sedang kau harapkan?"


"Ohh.. Kau Dara?"


"Iya aku Dara calon istri Mark. Mengapa terkejut?"


"Kami tidak akan merestuimu dengan papa kami camkan itu!!" Henry sangat kesal.


"Henry.. Leon.. Siapa yang datang?"


Henry memperlihatkan Dara dengan menggeserkan badannya.

__ADS_1


"Dara!!" ucap Mark.


"Mark!!" Dara berlari dan langsung memeluk Mark.


"Papa!!" ucap Henry dengan nada marah.


"Kami tidak ingin memiliki ibu, Papa saja sudah cukup untuk kami. Baru saja menginjakkan kaki di rumah kita dia sudah melukai Leon. Kami tidak menyukainya," sambung Henry sembari memperlihatkan luka di tangan Leon.


"Apa betul kau melukai Leon, Dara?" tanya Mark melepaskan Dara dari pelukannya.


"Aku tidak sengaja. Dia menghalangi aku masuk Mark hiks.."


"Air mata buaya!!" ucap Henry.


"Mengapa mereka memanggilmu papa, Mark?" tanya Dara.


"Mereka memang anak-anakku, anak angkatku tapi sudah menjadi darah dagingku. Aku tidak suka melihat anak-anakku di sakiti oleh orang lain, karena aku saja tidak pernah menyakiti mereka," ucap Mark membuat Dara merasa takut karena tadi berkata kasar.


"Papa kami saja tidak pernah membentak kami, tapi kau baru pacarnya saja sudah berani memarahi kamu!!" ucap Henry.


"Mark..," Dara membuat wajah imut dengan mata berkaca-kaca.


Di kamar Mark.


"Papa.. Papa.." Alex memukul wajah Yuki dengan tangan mungilnya tersebut.


Yuki terbangun dan terkejut melihat ada bayi di sampingnya, Yuki langsung menggendong Alex dengan wajah bahagia. Yuki dangat menyukai anak kecil karena dia tidak memiliki adik.


"Hei.. Siapa namamu? Ututu... Tembem banget pengen ku makan rasanya. Arghh!!" Yuki tidak kuasa dengan ke imutan Alex tersebut.


"Papa.. Papa.."


"Kau mencari papamu? Ayo kita cari papa," Yuki membawa Alex keluar turun ke bawah. Saat Yuki di tengah tangga dia melihat di depan pintu sangat ribut tetapi tidak mengenal karena sinar matahari menyilaukan matanya.


"Pap.."


"Papa.. Papa.." ucap Alex membuat perkataan Henry terhenti.


Semua mata tertuju dengan suara Alex, Dara melihat Yuki turun dari lantai atas membawa seorang bayi membuat amarahnya membabi buta.


"Gadis ******!! Teriak Dara.


Dara dengan sergap menghampiri Yuki dari kejauhan Dara sudah mengancang-ancang tangannya yang gatal ingin melayangkan sebuah tamparan kepada Yuki.


PLAAKK!!!... Suara tamparan terdengar sangat keras.


*


*


Jangan lupa tinggalkan jejaknya kak πŸ˜ŠπŸ™

__ADS_1


*


*


__ADS_2